Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh


ketersediaan dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu
Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki fisik tangguh, mental yang
kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa
hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik, dan status gizi yang baik
ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Masalah gizi
kurang dan gizi buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan
dan penyakit infeksi. Sedangkan, secara tidak langsung dipengaruhi juga
oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial-ekonomi, budaya dan
politik (Unicef, 1990). Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat
menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional.
Berdasarkan data Bappenas tahun 2011-2015, saat ini diperkirakan
sekitar 50% penduduk Indonesia atau lebih dari 100 juta jiwa mengalami
beraneka masalah gizi, yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Masalah gizi kurang
sering luput dari penglihatan atau pengamatan biasa dan seringkali tidak
cepat ditanggulangi, padahal dapat memunculkan masalah besar. Selain gizi
kurang, secara bersamaan Indonesia juga mulai menghadapi masalah gizi
lebih dengan kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Dengan kata lain saat ini Indonesia tengah menghadapi masalah gizi ganda.
Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka
kematian ibu, bayi, dan balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Selain
itu, dampak dari masalah gizi tersebut dapat terlihat juga pada rendahnya
partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan
ekonomi.
Tingginya prevalensi Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) akibat
tingginya prevalensi Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. Berat
Bayi Lahir Rendah (BBLR) dapat meningkatkan angka kematian bayi dan
balita, gangguan pertumbuhan fisik dan mental anak, serta penurunan
kecerdasan. Anak bergizi buruk (pendek/stunted) mempunyai risiko
kehilangan IQ 10-15 poin. Gangguan kekurangan yodium pada saat janin
atau gagal dalam pertumbuhan anak sampai usia dua tahun dapat berdampak
buruk pada kecerdasan secara permanen (Bappenas, 2012).
Kekurangan zat besi (Anemia gizi besi) pada ibu hamil dapat
meningkatkan risiko kematian pada waktu melahirkan, meningkatkan risiko
bayi yang dilahirkan kekurangan zat besi, dan berdampak buruk pada
pertumbuhan sel-sel otak anak, sehingga secara konsisten dapat mengurangi
kecerdasan anak. Pada orang dewasa dapat menurunkan produktivitas
sebesar 20-30%. Selain itu, kekurangan vitamin A pada anak balita dapat
menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan risiko kebutaan, dan
meningkatkan risiko kematian akibat infeksi.
Meluasnya masalah gizi yang terjadi pada anak balita dan ibu hamil
akan meningkatkan pengeluaran rumah tangga maupun pemerintah untuk
biaya kesehatan, karena banyak warga yang mudah jatuh sakit akibat dari
masalah gizi yang dialami tersebut. Di samping itu, hal ini juga akan
menyebabkan menurunnya produktivitas.
Dari uraian di atas, tampak bahwa adanya ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga terutama pada ibu hamil
dan anak balita akan berakibat pada berbagai masalah gizi yang berdampak
pada lahirnya generasi muda yang tidak berkualitas. Dalam jangka pendek,
Indonesia akan sulit meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia).
Apabila masalah ini tidak diatasi maka dalam jangka menengah dan panjang
akan terjadi kehilangan generasi yang dapat mengganggu kelangsungan
kepentingan bangsa dan negara.
Masalah gizi, khususnya anak pendek, menghambat perkembangan
anak muda, dengan dampak negatif yang akan berlangsung dalam kehidupan
selanjutnya. Studi menunjukkan bahwa anak pendek sangat berhubungan
dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama pendidikan yang menurun dan
pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa. Anak-anak pendek
menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi orang
dewasa yang kurang berpendidikan, miskin, kurang sehat, dan lebih rentan
terhadap penyakit tidak menular. Oleh karena itu, anak pendek merupakan
prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang diterima secara luas,
yang selanjutnya menurunkan kemampuan produktifitas suatu bangsa di
masa yang akan datang.
Malnutrisi yaitu gizi buruk atau Kurang Energi Protein (KEP) dan
defisiensi mikronutrien merupakan masalah yang membutuhkan perhatian
khusus terutama di negara-negara berkembang, yang merupakan faktor
risiko penting terjadinya kesakitan dan kematian pada ibu hamil dan balita.
Di Indonesia, Kurang Energi Protein (KEP) dan defisiensi mikronutrien juga
menjadi masalah kesehatan penting dan darurat di masyarakat terutama pada
anak balita. Kasus kematian balita akibat gizi buruk kembali berulang,
terjadi secara masif dengan wilayah sebaran yang hampir merata di seluruh
tanah air. Sejauh pemantauan yang telah dilakukan, temuan kasus tersebut
terjadi setelah anak-anak mengalami fase kritis. Sementara itu, perawatan
intensif baru dilakukan setelah anak-anak itu benar-benar tidak berdaya. Hal
itu, berarti sebelum anak-anak itu memasuki fase kritis, perhatian terhadap
hak hidup dan kepentingan terbaiknya terabaikan.
Secara nasional, prevalensi berat-kurang pada tahun 2013 adalah
19,6%, terdiri atas 5,7% gizi buruk dan 13,9% gizi kurang. Jika
dibandingkan dengan angka prevalensi nasional tahun 2010 (17,9 %) terlihat
persentase meningkat. Perubahan terutama pada prevalensi gizi buruk yaitu
4,9% pada tahun 2010, dan 5,7% tahun 2013. Kenaikan prevalensi gizi
kurang naik sebesar 0,9% dari 2007 sampai 2013. Untuk mencapai sasaran
MDGs (Millenium Development Goals) tahun 2015 yaitu 15,5% maka
prevalensi gizi buruk-kurang secara nasional harus diturunkan sebesar 4.1%
dalam periode 2013 sampai 2015 (Bappenas, 2012).
Data riskesdas tahun 2010, didapat prevalensi balita gizi buruk di
Provinsi Jawa Barat menurut indikator BB/U sekitar 3,1% dan pada gizi
kurang 9,9%. Pada tahun 2013, mengalami peningkatan menjadi 4,4% pada
gizi buruk, dan gizi kurang sebesar 11,3%. Untuk prevalensi balita sangat
pendek menurut indikator TB/U pada tahun 2010 sebanyak 16,6% dan balita
pendek sebanyak 17,1%. Sedangkan, pada tahun 2013 prevalensi balita
sangat pendek sebanyak 16,9% dan balita pendek sebanyak 18,4%.
Data Riskesdas 2013, di Provinsi Jawa Barat menurut indikator TB/U
prevalensi balita sangat pendek sebanyak 16,9% dan balita pendek sebanyak
18,4% (Riskesdas, 2013). Sedangkan pada tahun 2010, di Provinsi Jawa
Barat persentase prevalensi balita sangat pendek sebanyak 16,6% dan pada
balita pendek sebanyak 17,1% (Riskesdas, 2010). Jika disimpulkan kembali
dari kedua data di atas, terdapat peningkatan di tahun 2013 pada prevalensi
balita dengan kategori pendek yaitu sebesar 1,3%.
Berdasarkan data Riskedas tahun 2013 didapatkan bahwa ada
prevalensi risiko Kurang Energi Protein (KEK) wanita hamil umur 1549
tahun, secara nasional sebanyak 24,2%, prevalensi risiko Kurang Energi
Protein (KEK) Jawa Barat 20%. Prevalensi wanita hamil berisiko tinggi di
Indonesia sebesar 31,3%, sedangkan di Kabupaten Jawa Barat mencapai
35%. Hal ini menandakan bahwa prevalensi Kurang Energi Protein (KEK)
dan ibu hamil resiko tinggi di Jawa Barat masih tergolong tinggi.
Sasaran utama dalam pembangunan kesehatan tahun 2010-2015, yaitu
meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat, menurunnya angka
kesakitan akibat penyakit menular, menurunnya disparitas status kesehatan
dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender,
meningkatnya penyediaan anggaran publik untuk kesehatan dalam rangka
mengurangi risiko finansial akibat gangguan kesehatan bagi seluruh
penduduk, terutama penduduk miskin.
Berdasarkan data profil kesehatan Kabupaten Cianjur, di Kecamatan
Mande pada tahun 2013 tercatat total populasi ibu hamil pada Kecamatan
Mande sebesar 1.711 orang, dan jumlah total populasi balita sebesar 6.915
orang dan kejadian (Berat Bayi Lahir Rendah) BBLR sebanyak 19 orang.
Dalam tiga tahun terakhir persentase bayi lahir dengan berat badan
rendah di Kabupaten Cianjur mengalami penurunan. Pelayanan kesehatan
yang baik serta pola hidup yang sehat pada ibu hamil menentukan kondisi
bayi pada saat lahir. Balita yang mengalami gizi buruk pada tahun 2013
sebanyak 1,87%, mengalami peningkatan dari tahun 2012 sebanyak 0,22%.
Prevalensi Balita gizi kurang dan gizi buruk di Kecamatan Mande adalah
sebesar 0,9% dan 9,5%. Menurut PHI (Public Health Institute) prevalensi
gizi buruk dan gizi kurang di Kecamatan Mande termasuk dalam kategori
rendah.
Di Kabupeten cianjur, angka kematian balita pada tahun 2013 tercatat
sebanyak 243 jiwa, dimana kematian neonatal menyumbang 71,6% dari
total kematian balita, kematian antara usia 1 bulan hingga 1 tahun sebanyak
24,7%, dan kematian antara usia 1 tahun hingga 5 tahun sebanyak 3,7%.
Kematian balita usia 1 tahun hingga 5 tahun paling banyak terjadi karena
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) atau pneumonia. Cakupan
penemuan kasus pneumonia adalah 43,55%, meningkat bila dibandingkan
dengan tahun 2012 yaitu sebesar 27,27%. Sedangkan angka kematian ibu
pada tahun 2013, meskipun tidak begitu signifikan terjadi penurunan
dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni sebanyak 45 jiwa pada tahun
2013 dan 48 jiwa pada tahun 2012. Kematian ibu paling banyak terjadi pada
saat ibu bersalin yaitu 42% pada tahun 2013, dan 62,5% pada tahun 2012
(Profil Kesehatan Kabupaten Cianjur, 2013).
Angka kematian ibu di Kecamatan Mande pada tahun 2013
menyumbang sebanyak 3 jiwa dan temuan kasus pneumonia di Kecamatan
Mande adalah sebanyak 692 jiwa dari total balita sebanyak 6915 jiwa balita
(10%).
Berdasarkan data-data di atas, kami akan melakukan Praktik Belajar
Lapangan (PBL) di Desa Mande, Murnisari, Mulyasari, Kademangan,
Jamali, Cikidang Bayabang, Bobojong, dan Sukamanah, Kecamatan Mande,
Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Dalam Praktik Belajar Lapangan
(PBL) tersebut, kami akan melakukan pengambilan data dasar kesehatan
yang berhubungan dengan masalah gizi dan kesehatan, selain itu kami juga
ingin mengetahui lebih lanjut dan meneliti tentang masalah gizi dan
kesehatan yang terjadi di delapan Desa tersebut. Hal ini bertujuan agar
didapatkan data yang konkret untuk meminimalisasi masalah gizi utama di
Kabupaten Cianjur tersebut sehingga bisa mencapai angka yang diharapkan
oleh pemerintah.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas. maka perumusan masalahnya
adalah masalah gizi apa saja yang terjadi pada ibu hamil dan balita yang
terdapat di Desa Mande, Murnisari, Mulyasari, Kademangan, Jamali,
Cikidang Bayabang, Bobojong, dan Sukamanah, Kecamatan Mande,
Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat serta faktor-faktor apa saja yang
berhubungan dengan status gizi.

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui data dasar gizi pada ibu hamil dan balita,
serta faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah gizi di Desa
Mande, Murnisari, Mulyasari, Kademangan, Jamali, Cikidang
Bayabang, Bobojong, dan Sukamanah, Kecamatan Mande,
Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat tahun 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus


1.3.2.1 Data Umum (Kecamatan, Puskesmas, Kelurahan/Desa, dan
Posyandu)
a. Mendapatkan data umum dari Kecamatan, yang
meliputi struktur organisasi, letak geografis, jumlah
penduduk, pendapatan, tingkat pendidikan, sarana dan
prasarana (kesehatan dan non-kesehatan), mata
pencaharian, lembaga kemasyarakatan, dan peta
wilayah.
b. Mendapatkan data umum dari Puskesmas Kecamatan,
meliputi: nama puskesmas, struktur organisasi,
program pelayanan kesehatan, sarana dan prasarana,
jumlah dan jenis tenaga kesehatan, cakupan target
program gizi, dan fasilitas kesehatan.
c. Mendapatkan data umum dari setiap desa yang akan
dilakukan pengambilan data yaitu Desa Mande,
Murnisari, Mulyasari, Kademangan, Jamali, Cikidang
Bayabang, Bobojong, dan Sukamanah yang terdiri
atas: struktur organisasi, letak geografis, jumlah
penduduk, pendapatan penduduk, tingkat pendidikan,
sarana dan prasarana (kesehatan dan nonkesehatan),
mata pencaharian penduduk, lembaga kemasyarakatan,
dan peta wilayah.
d. Mendapatkan data umum dari setiap Posyandu yang
ada, terdiri atas: nama posyandu, struktur organisasi,
strata posyandu, jumlah posyandu, program posyandu,
jumlah kader, SKDN (D/S), sarana dan prasarana.
1.3.2.2 Ibu Hamil
a. Mendapatkan data karakteristik ibu hamil, yang terdiri
dari: nama, umur, tempat tanggal lahir, alamat, jenis
pekerjaan ibu hamil dan suami, pendidikan ibu hamil,
usia kehamilan, paritas, dan jarak kehamilan.
b. Menganalisis status gizi ibu hamil, terdiri dari: LILA
(Lingkar Lengan Atas).
c. Mendapatkan data asupan gizi ibu hamil, terdiri dari:
karbohidrat, protein, lemak, energi, zat besi, asam folat,
vitamin B12.
d. Mendapatkan data tingkat ekonomi keluarga yang berupa
pendapatan keluarga.
e. Mendapatkan data pengetahuan gizi ibu hamil.
f. Mendapatkan data riwayat penyakit infeksi, meliputi :
Saluran kemih, Herpes, TBC (Tuber Culosis).
g. Mendapatkan data kesehatan lingkungan ibu hamil,
meliputi kebersihan WC, kualitas air, sirkulasi udara.
h. Menganalisis hubungan antara asupan karbohidrat dengan
status gizi ibu hamil.
i. Menganalisis hubungan antara asupan protein dengan
status gizi ibu hamil.
j. Menganalisis hubungan antara asupan lemak dengan
status gizi ibu hamil.
k. Menganalisis hubungan antara asupan energi dengan
status gizi ibu hamil.
l. Menganalisis hubungan antara asupan Fe dengan status
gizi ibu hamil.
m.Menganalisis hubungan asupan Asam Folat dengan status
gizi ibu hamil.
n. Menganalisis hubungan asupan Vitamin B12 dengan
status gizi ibu hamil.
o. Menganalisis hubungan antara pendidikan ibu dengan
status gizi ibu hamil.
p. Menganalisis hubungan antara pendapatan keluarga
dengan status gizi ibu hamil.
q. Menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi ibu
hamil dengan status gizi ibu hamil.
r. Menganalisis hubungan antara riwayat penyakit infeksi
dengan status gizi ibu hamil.
s. Menganalisis hubungan antara kesehatan lingkungan
keluarga dengan status gizi ibu hamil.

1.3.2.3 Balita

a. Medapatkan data karakteristik orang tua balita, terdiri


atas: nama ayah, nama ibu, umur ayah dan ibu, pekerjaan
ayah dan ibu, jenis pekerjaan ayah dan ibu, pendidikan
ayah dan ibu, dan alamat.

b. Mendapatkan data karakteristik balita, terdiri atas: nama


balita, umur (bulan penuh), tempat/ tanggal lahir, jenis
kelamin.
c. Menganalisis status gizi balita secara antropometri
dengan indeks BB/U, TB/U, IMT/U.

d. Mendapatkan data asupan energy dan zar gizi balita,


terdiri dari: karbohidrat, protein, lemak, dan energi.
e. Mendapatkan data riwayat penyakit infeksi balita dan
penyakit infeksi yang diderita balita dalam kurun waktu
satu bulan terakhir, meliputi diare, campak, dan flu.
f. Mendapatkan pengetahuan gizi ibu balita/wali balita.
g. Mendapatkan data mengenai kesehatan lingkungan
balita, meliputi WC, kualitas air (sumber dan
penggunaan air untuk konsumsi), dan sirkulasi udara.
h. Mendapatkan data ekonomi keluarga yang berupa
pendapatan orangtua balita.
i. Menganalisis hubungan antara asupan karbohidrat
dengan status gizi balita.
j. Menganalisis hubungan antara asupan protein dengan
status gizi balita.
k. Menganalisis hubungan antara asupan lemak dengan
status gizi balita.
l. Menganalisis hubungan antara asupan energi dengan
status gizi balita.
m.Menganalisis hubungan antara riwayat infeksi dengan
status gizi balita.
n. Menganalisis hubungan pengetahuan gizi ibu balita
dengan status gizi balita.
o. Menganalisis hubungan tingkat pendidikan orangtua
balita dengan status gizi balita.
p. Menganalisis hubungan tingkat pendapatan ekonomi
dengan status gizi balita.
q. Menganalisis hubungan antara kesehatan lingkungan
balita dengan status gizi balita.
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Masyarakat
Diharapkan dari kegiatan Praktek Belajar Lapangan (PBL) ini
dapat memberikan informasi tentang masalah gizi serta dapat
menjadi bahan rujukan dalam perbaikan gizi masyarakat di
Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

1.4.2 Bagi Mahasiswa


Sebagai sarana pembelajaran dalam melakukan penelitian ilmiah,
diharapkan bisa menjadi acuan bagi mahasiswa untuk
melaksanakan kegiatan selanjutnya serta mengaplikasikan ilmu
yang sudah didapatkan selama perkuliahan dan menambah
pengalaman mengenai masalah gizi yang ada di masyarakat.

1.4.3 Bagi Instansi yang Terkait


Hasil pengumpulan data menjadi data dasar untuk program
penanggulangan masalah gizi di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa
Barat.