Anda di halaman 1dari 60

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Masalah Gizi Utama Balita dan Ibu Hamil


2.1.1 Gizi Buruk pada Ibu Hamil
a. Kurang Energi Kronik (KEK)
Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana
ibu menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung
menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan
kesehatan pada ibu (Depkes RI, 1995). K EK merupakan
gambaran status gizi ibu di masa lalu, kekurangan gizi kronis pada
masa anak-anak baik disertai sakit yang berulang, akan
menyebabkan bentuk tubuh yang kuntet (stunting) atau kurus
(wasting) pada saat dewasa. Ibu yang memiliki postur tubuh
seperti ini berisiko mengalami gangguan pada masa kehamilan
dan melahirkan bayi BBLR (Soetjiningsih, 2009 dalam Pratiwi,
2012).
Gizi ibu pada waktu hamil sangat penting untuk
pertumbuhan janin yang dikandungnya. Angka kejadian BBLR
lebih tinggi di negara-negara yang sedang berkembang daripada
negara- negara yang sudah maju. Hal ini disebabkan oleh
keadaan sosial ekonomi yang rendah mempengaruhi diet ibu. Pada
umumnya, ibu hamil dengan kondisi kesehatan yang baik, dengan
sistem reproduksi yang normal, tidak sering menderita sakit, dan
tidak ada gangguan gizi pada masa pra-hamil maupun pada saat
hamil, akan menghasilkan bayi yang lebih besar dan lebih sehat.
Ibu yang kondisinya seperti ini sering melahirkan bayi
BBLR, validitas yang rendah dan kematian yang tinggi, lebih-
lebih bila ibu tadi juga menderita anemia. Terhadap hubungan
antara bentuk tubuh ibu, sistem reproduksi dan sosial ekonomi
terhadap pertumbuhan janin (Soetjiningsih, 2009 dalam Pratiwi,
2012). Wanita hamil yang berumur 15-49 tahun, berdasarkan
indikator Lingkar Lengan Atas (LiLA). Untuk menggambarkan
adanya risiko (KEK) dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi
pada wanita hamil dan WUS digunakan ambang batas nilai rerata
LILA <23,5 cm (Riskesdas, 2013).
Prevalensi risiko KEK wanita hamil umur 1549 tahun, secara
nasional sebanyak 24,2 persen. Prevalensi risiko KEK terendah di
Bali (10,1%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (45,5%).
Sebanyak 13 provinsi dengan prevalensi risiko KEK diatas
nasional, yaitu Maluku Utara, Papua Barat, Kepulauan Riau,
Banten, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat,
Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua
dan Nusa Tenggara Timur (Riskesdas, 2013).

2.1.2 Gizi Buruk pada Balita


Terdapat 3 tipe gizi buruk adalah marasmus, kwashiorkor, dan
marasmus- kwashiorkor. Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciri-
ciri atau tanda klinis dari masing-masing tipe yang berbeda-beda.

1. Marasmus
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan
karbohidrat. Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua
(berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan
tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan
gangguan kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati
dan sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis
meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Berikut adalah
gejala pada marasmus menurut (Depkes RI, 2000):
a. Anak tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar
lemak dan otot-ototnya, tinggal tulang terbungkus kulit.
b. Wajah seperti orang tua.
c. Iga gambang dan perut cekung.
d. Otot paha mengendor (baggy pant).
e. Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa
lapar.

2. Kwashiorkor
Penampilan tipe kwashiorkor seperti anak yang gemuk (suger
baby), bilamana dietnya mengandung cukup energi disamping
kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh lainnya terutama
dipantatnya terlihat adanya atrofi. Tampak sangat kurus dan atau
edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh, gejalanya
sebagai berikut:
a. Perubahan status mental : cengeng, rewel, kadang apatis
b. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan
mudah dicabut, pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat
terlihat rambut kepala kusam.
c. Wajah membulat dan sembab.
d. Pandangan mata sayu.
e. Pembesaran hati, hati yang membesar dengan mudah dapat
diraba dan terasa kenyal pada rabaan permukaan yang licin
dan pinggir yang tajam.
f. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan
berubah menjadi coklat kehitaman dan terkelupas.

3. Marasmik-Kwashiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa
gejala klinik kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari
tidak cukup mengandung protein dan juga energi untuk pertumbuhan
yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya berat
badan < 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda
kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit,
sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula (Depkes RI, 2000 dalam
Y. Hasaroh, 2010).

2.1.6 Anemia Gizi Besi Pada Balita dan Ibu Hamil


Anemia gizi besi adalah suatu keadaan dimana terjadi
penurunan cadangan besi dalam hati, sehingga jumlah hemoglobin
darah menurun dibawah normal. Sebelum terjadi anemia gizi besi,
diawali lebih dulu dengan keadaan kurang gizi besi (KGB). Apabila
cadangan besi dalam hati menurun tetapi belum parah, dan jumlah
hemoglobin masih normal, maka seseorang dikatakan mengalami
kurang gizi besi saja (tidak disertai anemia gizi besi). Keadaan kurang
gizi besi yang berlanjut dan semakin parah akan mengakibatkan
anemia gizi besi, dimana tubuh tidak lagi mempunyai cukup zat besi
untuk membentuk hemoglobin yang diperlukan dalam sel- sel darah
yang baru (Soekirman, 2000 dalam EY Aritonang, 2010).
Masalah anemia gizi besi ini tidak hanya dijumpai dikalangan
rawan seperti anak-anak, ibu hamil, dan ibu yang sedang menyusui,
tetapi juga diantara orang dewasa terutama golongan karyawan dengan
penghasilan rendah (Djojosoebagio, et al. 1986 dalam EY Aritonang,
2010). Ibu hamil dianggap sebagai salah satu kelompok yang rentan
mengalami anemia, meskipun jenis anemia pada kehamilan
umumnya bersifat fisiologis. Anemia tersebut terjadi karena
peningkatan volume plasma yang berakibat pengenceran kadar Hb
tanpa perubahan bentuk sel darah merah. Ibu hamil dianggap
mengalami anemia bila kadar Hb-nya di bawah 11,0 g/dL. Sementara
itu, laki-laki berusia 15 tahun dianggap mengalami anemia bila kadar
Hb <13,0 g/dL dan wanita usia subur 15-49 tahun mengalami anemia
bila kadar Hb <12,0 g/dl (Riskesdas, 2013).
Berdasarkan pengelompokan umur, didapatkan bahwa
anemia pada balita cukup tinggi, yaitu 28,1 persen dan cenderung
menurun pada kelompok umur anak sekolah, remaja sampai dewasa
muda (34 tahun), tetapi cenderung meningkat kembali pada
kelompok umur yang lebih tinggi. Berdasarkan jenis kelamin
didapatkan bahwa proporsi anemia pada perempuan lebih tinggi
dibandingkan pada laki-laki. Jika dibandingkan berdasarkan tempat
tinggal didapatkan bahwa anemia di perdesaan lebih tinggi
dibandingkan dengan perkotaan (Riskesdas, 2013).
Kelompok ibu hamil (bumil) merupakan salah satu kelompok
yang berisiko tinggi mengalami anemia, meskipun anemia yang
dialami umumnya merupakan anemia relatif akibat perubahan
fisiologis tubuh selama kehamilan. Anemia pada populasi ibu hamil
menurut kriteria anemia yang ditentukan WHO dan pedoman
Kemenkes 1999, adalah sebesar 37,1 persen dan proporsinya hampir
sama antara bumil di perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%).

2.2. Institusi dan pelayanan kesehatan


2.2.1 Kecamatan
Kecamatan adalah sebuah pembagian administratif negara
Indonesia di bawah Daerah Tingkat II. Sebuah kecamatan dipimpin oleh
seorang camat dan dipecah kepada beberapa kelurahan dan desa-desa.
Kabupaten Cianjur mempunyai 32 Kecamatan.

2.2.2 Kelurahan
Kelurahan adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia
di bawah kecamatan. Dalam konteks otonomi daerah di Indonesia,
Kelurahan merupakan wilayah kerja Lurah sebagai Perangkat Daerah
Kabupaten atau kota. Kelurahan merupakan unit pemerintahan terkecil
setingkat dengan desa. Kecamatan Cianjur memiliki 360 kelurahan yang
terdiri dari 354 desa.
2.2.3 Rumah Sakit
Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah
sakit, yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat. Rumah Sakit Umum mempunyai misi memberikan
pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat
dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
2.2.4 Puskesmas
Puskesmas merupakan suatu kesatuan organisasi kesehatan
fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat
yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan
pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah
kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Berikut adalah fungsi dari
puskesmas, antara lain :
a. Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di
wilayah kerjanya
b. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya
dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat
c. Memberikan layanan kesehatan secara menyeluruh dan
terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya

Kecamatan Mande memiliki jumlah puskesmas sebanyak 2


buah. Puskesamas non DTP 1 buah, puskesmas DTP 1 buah. Jumlah
tempat tidur 15 buah dan jumlah puskesmas pembantu ada 4 buah.

2.2.5 Posyandu
Menurut DepKes RI 2006, Posyandu merupakan salah satu
bentuk Upaya Kesehatan bersumber Daya Manusia (UKBM) yang
dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat
dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam
memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Yang paling utama adalah
untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Menurut
DepKes RI 2006, tujuan diselenggarakan posyandu adalah :
a. Menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia
melalui upaya pemberdayaan masyarakat.
b. Meningkatkan peran masyarakat dalam penyelenggaraan
upaya kesehatan dasar, terutama yang berkaitan tentang
penurunan AKI dan AKB.
c. Mempercepat penerimaan NKKBs.
d. Meningkatnya peran lintas sektoral dalam penyelenggaraan
posyandu, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI
dan AKB.
e. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan dasar,
terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
2.2.6 Dokter, Bidan, dan Perawat gigi
Jumlah dokter gigi sebanyak 2 orang. Jumlah dokter umum
sebanyak 2 orang dan dokter umum PTTD sebanyak 1 orang. Jumlah
perawat gigi sebanyak 2 orang. Jumlah pegawai sanitarian sebanyak 3
orang. Jumlah bidan sebanyak sebanyak 15 orang, sedangkan bidan
PTT sebanyak 17 orang (BPSK Cianjur 2013).

2.2.7 Nutritionist, Apoteker, dan Keperawatan


Jumlah pelaksana gizi sebanyak 1 orang. Jumlah apoteker
sebanyak 1 orang. Jumlah analis lab sebanyak 1 orang. Tidak memiliki
penyuluh kesehatan. Jumlah tenaga keperawatan sebanyak 26 orang.

2.3. Penilaian Status Gizi


Penilaian status gizi adalah upaya menginterpretasikan semua
informasi yang diperoleh melalui penilaian antropometri, konsumsi makanan,
biokimia dan klinik. Informasi digunakan untuk menetapkan status kesehatan
per-orangan atau kelompok penduduk. Informasi yang didapat sangat penting
dalam menentukan besaran masalah gizi disuatu tempat yang selanjutnya akan
dilakukan program peningkatan status gizi masyarakat.
Tujuan penilaian status gizi adalah memberikan gambaran secara
umum mengenai metode penilaian status gizi, memberikan penjelasan
mengenai keuntungan dan kelemahan dari masing masing metode yang ada,
memberikan gambaran singkat mengenai pengumpulan data, perencanaan,
dan implementasi untuk penilaian status gizi.
Dalam melakukan penilaian status gizi diperlukan validitas, presisi dan
akurasi. Validitas merupakan kevalidan data hasil pengukuran yang dilakukan
dengan metode atau alat yang mampu mengukur apa yang seharusnya diukur.
Presisi adalah hasil pengukuran yang dilakukan pada subyek yang sama
secara berulang kali yang menghasilkan nilai yang sama atau kesalahan yang
minimum. Akurasi adalah hasil pengukuran yang yang mendekati hasil
penyelia sebagai rujukan. Penilaian status gizi terdiri dari dua jenis, yaitu:
1. Penilaian Langsung
a. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia.
Ditinjau dari sudut pandangan gizi, maka antropometri gizi
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Penggunaan antropometri secara umum digunakan untuk melihat
ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini
terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh
seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.

b. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk
menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-
perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat
gizi. Hal ini dapat dilihat pada jarigan epital (supervical epithelial
tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-
organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara
cepat (rapid clinical survey). Survei ini dirancang untuk mendeteksi
secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau
lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat
status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda
(sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.

c. Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai
macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain:
darah, urine, dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
Metode ini digunakan untuk sesuatu peringatan bahwa kemungkinan
akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala
klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih
banyak menolong untuk menentukan kakurangan gizi yang spesifik.
d. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan
status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan)
dan melihat perubahan struktur dan jaringan. Umumnya dapat
digunakan dalam situasi tertantu seperti kejadian buta senja epidemik
(epidemic of night blindnes). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi
gelap.

2. Penilaian Tidak Langsung


a. Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi
secara tidak langsung dengan melihat jumah dan jenis zat gizi yang
dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan
gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat,
keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan
dan kekurangan zat gizi.

Metode yang digunakan untuk mengetahui informasi konsumsi


makanan seseorang secara kuantitatif, yaitu:
1. Metode Recall 24 jam
Prinsip dari metode recall 24 jam ini, dilakukan dengan cara
mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode
24 jam yang lalu. Dalam metode ini, responden (ibu atau pengasuh)
diminta menceritakan semua yang dimakan dan diminum selama 24 jam
yang lalu (kemarin). Biasanya dimulai sejak ia bangun pagi kemarin
sampai istirahat tidur malam harinya, atau dapat juga dimulai dari waktu
saat dilakukan wawancara mundur ke belakang samoai 24 jam penuh.
Langkah-langkah pelaksanaan recall 24 jam, yaitu:
a. Petugas melakukan konversi dari URT ke dalam ukuran
berat (gram). Dalam menaksir atau memperkirakan
kedalam ukuran berat (gram) pewawancara menggunakan
alat bantu seperti contoh ukuran rumah tangga (piring,
gelas, sendok, dll) atau model dari makanan (food model).
Makanan yang dikonsumsi dapat dihitung dengan alat
bantu ini atau dengan menimbang langsung contoh
makanan yang akan dimakan berikut informasi tentang
komposisi makanan jadi.
b. Menganalisis bahan makanan kedalam zat gizi dengan
menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan
(DKBM).
c. Membandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG)
2012 untuk Indonesia.
d. Pengelompokkan bahan makanan dibagi menjadi 8
golongan, yaitu karbohidrat, protein hewani, protein
nabati, sayuran, buah, gula, susu, dan minyak.

Metode Recall 24 jam memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.


Berikut adalah kelebihan dan kekurangan dari metode recall 24 jam:
a. Kelebihan
a) Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani responden
b) Biaya relative murah karena tidak memerlukan peralatan khusus
dan tempat yang luas untuk wawancara
c) Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden
d) Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf
e) Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi
individu sehingga dapat dihitung intake atau asupan zat gizi sehari-
hari
b. Kekurangan
a) Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari, bila
hanya dilakukan recall satu hari
b) Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat yang baik
responden. Oleh karena itu responden harus memiliki daya ingat
yang baik, sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pada anak
usia di bawah 7 tahun, orang tua berusia di atas 70 tahun dan orang
yang hilang ingatan atau orang yang pelupa.
c) The Flat Slope Syndrome, yaitu kecenderungan bagi responden
yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over
estimate) dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan
lebih sedikit (under estimate)
d) Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil
dalam menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat bantu
yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat.
e) Reponden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan dari
penelitian
f) Untuk mendapat gambaran konsumsi makanan sehari-hari recall
jangan dilakukan pada saat panen, hari besar, hari akhir pekan,
pada saat melakukan upacara-upacara keagamaan, selamatan dan
lain-lain.

2. Metode Food Frequency Quetionaire (FFQ)


Metode FFQ adalah cara untuk memperoleh data
tentang frekuensi konsumsi bahan makanan atau makanan jadi
selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulanan, tahun. FFQ
adalah salah satu metode dietary assessment dalam konteks
individu yang mencatat frekuensi individu terhadap beberapa jenis
makanan (< 100) dalam kurun waktu tertentu (1 bulan terakhir/6
bulan terakhir/1 tahun terakhir). Selain itu dengan metode FFQ
dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara
kualitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dapat
membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat
gizi, maka cara ini paling sering digunakan dalam penelitian
epidemiologi gizi.
Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang
asupan energy dan atau zat-zat gizi seseorang dengan menanyakan
frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi
yang merupakan sumber utama zat-zat gizi yang diteliti. Kuesioner
memuat daftar bahan makanan/makanan atau kelompok makanan
yang merupakan kontributor penting terhadap asupan energi dan
zat-zat gizi penduduk. Kuesioner ini biasanya menggunakan
standar porsi yang diperoleh dari data populasi. Kuesioner berupa
checklist dengan memberi tanda pada kolom jawaban yang dipilih,
bukan berbentu isi. Metode ini biasanya digunakan oleh
epidemiologi untuk mencari hubungan antara kebiasaan makan
dengan penyakit. Kuesioner frekuensi makanan dapat digunakan
secara bersamaan dengan metode yang bersifat lebih kuantitatif.
Metode ini relative murah dan sederhana sehingga
dapat dilakukan sendiri. Kelemahan dari metode ini adalah tidak
bersifat kuantitatif, dibutuhkan kejujuran dan motivasi yang tinggi
dari responden, serta perlu percobaan pendahuluan untuk
menentukan jenis bahan makanan yang akan dimasukan dalam
kuesioner.
a. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan ststistik vital
adalah dengan menganalisis data beberapa ststistik
kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur,
angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertantu
dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
Penggunaan dipertimbangkan sebagai bagian dari
indikator tidak langsung pengukuran status gizi
masyarakat.

b. Faktor Ekologi
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi
merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi
beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya.
Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari
keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-
lain. Penggunan faktor ekologi dipandang penting
untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu
masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program
intervensi gizi.

2.4.1 Cara Menimbang Mengukur Berat Badan Dan Tinggi Badan


1. Menimbang berat badan balita dengan Dacin.
Periksalah dacin dengan seksama, apakah masih dalam kondisi
baik atau tidak. Dacin yang baik adalah apabila bandul geser
berada pada posisi skala 0,0 kg, jarum penunuk berada pada posisi
seimbang. Setelah alat timbang lainnya (celana atau sarung
timbang) dipasang pada dacin, lakukan peneraan yaitu dengan cara
menambah beban pada ujung tangkai dacin, misalnya plastik berisi
pasir. Dalam buku kader (1995), diberikan petunjuk bagaimana
menimbang balita dengan menggunakan dacin. Langkah-langkah
tersebut dikenal dengan 9 langkah menimbang, yaitu :
a. Gantungkan dacin pada dahan pohon, palang rumah, atau
penyangga kaki tiga
b. Periksalah apakah dacin sudah tergantung kuat. Tarik batang
dacing ke bawah kuat-kuat
c. Sebelum dipakai letakan bandul geser pada angka 0 (nol).
Batang dacin dikaitkan dengan tali pengaman.
d. Pasanglah celana timbang, kotak timbang atau sarung timbang
yang kosong pada dacin. Ingat bandul geser pada angka 0
(nol).
e. Seimbangkan dacin yang sudah dibebani celana timbang,
sarung timbang atau kotak timbangan dengan cara memasukan
pasir ke dalam kantong plastik.
f. Anak ditimbang da seimbangkan dacin.
g. Tentukan berat badan anak, dengan membaca angka di ujung
bandul geser.
h. Catat hasil penimbangan diatas dengan secerik kertas.
i. Geserlah bandul ke angka 0 (nol), letakan batang dacin dalam
tali pengaman, setelah itu bayi atau anak dapat diturunkan.

2. Cara Pengukuran Berat Badan Dengan Timbangan Digital


a. Pastikan alat timbang diletakkan di tempat yang keras dengan
permukaan yang rata. Harus ada cukup sinar untuk mengoperasikan
timbangan jika dengan energi matahari.
b. Anak-anak yang lebih tua harus ditimbang dengan pakaian
seminimal mungkin
c. Jika anak usianya kurang dari 2 tahun timbang anak dengan ibunya.
Lakukan penimbangan dengan cara membuat angka nol pada skala
penimbangan pertama (angka hasil penimbangan ibu balita).
d. Nyalakan timbangan digital. Ketika angka 0,0 tampak, timbangan
sudah siap digunakan.
e. Pertama-tama ibu diminta melepas sepatunya dan berdiri di atas
timbangan untuk menimbang sendiri. Minta orang lain memegang
bayi tanpa pakaian, hanya dibungkus dengan selimut.
f. Minta ibu untuk berdiri di tengah-tengah timbangan, kaki berdiri
tepat pada tanda jejak kaki jika ada. Pakaian ibu tidak boleh
menutup layar display atau panel solar. Ingatkan ibu untuk tetap
diatas timbangan sampai angka berat badannya muncul pada
display, sampai bayi ditimbang pada lengan ibu.
g. Dengan ibu masih di atas timbangan dan berat badannya tampak
pada layar baca, kemudian buat angka nol di layar baca dengan cara
menutup panel solar beberapa detik sampai muncul angka 0,0.
h. Serahkan bayi tanpa pakaian kepada ibunya dan minta tetap berdiri
di atas timbangan.
i. Berat badan bayi akan nampak pada layar baca (nampak angka
terdekat 0,1 kg). Catat berat badannya.

Catatan:
Jika seorang ibu sangat berat (misalkan lebih dari 100 kg) dan
berat/beban bayi relatif rendah (misalnya kurang dari 2,5 kg), berat
badan bayi tidak tercatat pada timbangan. Pada kasus ini, minta
seseorang yang mempunyai berat badan lebih ringan untuk
menggendong bayi diatas timbangan.
3. Tinggi Badan
Tinggi badan merpakan parameter yang penting bagi
keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak
diketahui dengan tetap. Disamping itu tinggi badan merupakan
ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan berat
badan terhadap tinggi badan (Quac stick), faktor umur dapat
dikesampingkan. Pengukuran tinggi badan untuk anak balita yang
sudah dapat berdiri dilakukan dengan alat pengukur tinggi
mikrotoa (microtoise) yang mempunyai ketelitian 0,1 cm. Untuk
orang dewasa pengukuran tinggi badan juga menggunakan
microtoise, dengan cara pengukuran:
a. Tempelkan dengan paku mikrotoa tersebut pada dinding yang
lurus datar setinggi tapat 2 meter. Angka 0 (nol) pada lantai
yang datar rata
b. Lepas sepatu atau sandal
c. Anak harus berdiri tegak seperti sikap siap sempurna dalam
baris berbaris, kaki lurus, tumit, pantat, punggung, dan kepala
bagian belakang harus menempel pada dinding dan muka
menghadap lurus dengan pandangn ke depan.
d. Turunkan mikrotoa sampai rapat pada bagian atasm siku-siku
harus lurus mnempel pada dinding.
e. Baca angka pada skala yang nampak pada lubang dalam
gulungan mikrotoa. Angka tersebut menunjukan tinggi anak
yang diukur.

Untuk balita yang belum dapat berdiri, digunakan alat


pengukur panjang badan, cara pengukurannya adalah :
a. Alat pengukur diletakan di atas meja atau tempat yang
datar.
b. Bayi yang ditidurkan lurus du dalam alat pengukur, kepala
diletakan hati-hati sampai menyinggung bagian atas alat
pengukur.
c. Bagian alat pengukur sebelah bawah kaki digeser sehingga
tepat menyinggung telapak kaki bayi, dan skala pada sisi
alat pengukur dapat dibaca.

Gambar 1.

2.4.2 Lingkar Kepala


Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran
anak secara praktis, yang biasanya untuk memeriksa keadaan pathologi
dari besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala. Contoh yang
sering digunkan adalah kepala besar (Hidrosefalus) dan kepala kecil
(Mikrosefalus).
Lingkar kepala terutama dihubungkan dengan ukuran otak dan
ukuran tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara tepat selama
tahun pertama, akan tetapi besar lingkar kepala tidak menggambarkan
keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimanapun juga ukuran otak dan
lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan
keadaan gizi. Dalam antropometri gizi, rasio lingkar kepala dan lingkar
dada cukup berarti dan penentuan KEP pada anak. Lingkar kepala dapat
juga digunakan sebagai informasi tambahan dalam pengukuran umur.
Alat yang sering digunakan dibuat dari serat kaca (fiberglass)
dengan lebar kurang dari 1 cm, fleksibel, tidak mudah patah.
Pengukuran sebaiknya dibuat mendekti 1 desimal. Caranya dengan
melingkarkan pita pada kepala. Masalah yang dijumpai adalah
mengenai Standart of Reference. Tulang tengkorak atau lingkar kepala
sedikit banyak dipengaruhi oleh suku bangsa dan genetik. Juga
dipengaruhi oleh kebudayaan, seperti orang Amerika Utara, dimana
kepala anak agak besar karena menderita penyakit tulang.

Gambar 3.

2.4.3 Lingkar Dada


Biasanya dilakukan pada anak umur 2 sampai 3 tahun, karena
rasio lingkar kepala dan lingkar dada sama pada umur 6 bulan. Setelah
umur ini, tulang tengkorak tumbuh secara lambat dan pertumbuhan
dada lebih cepat. Umur antara 6 bulan dan lima tahun, rasio lingkar
kepala dan dada adalah kurang dari satu , hal ini dikarenakan akibat
kegagalan perkembangan dan pertumbuhan, atau kelemahan otot dan
lemak pada dinding dada. Ini dapat digunakan sebagai indikator dalam
penentuan KEP pada anak balita.
Alat yang digunakan adalah pita kecil, tidak mudah patah
biasanya terbuat dari serat kaca (fiberglass). Pengukuran dilakukan
pada garis puting susu. Masalah yang sering dijumpai adalah akurasi
pengukuran (pembacaan), karena pernapasan anak yang tidak teratur.
Pengukuran dilakukan mendekati 1 desimal.

2.4.4. Pengukuran Lingkar Lengan Atas


LILA adalah suatu cara untuk mengetahui resiko kekurangan
Energi Protein (KEP) wanita usia subur (WUS). Pengukuran LILA
tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam
jangka pendek. Pengukuran LILA digunakan karena pengukurannya
sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Adapun tujuan dari
pengukuran ini adalah:
1) Mengetahui resiko kurang energi kronis (KEK) wanita hamil,
untuk menapis wanita yang mempunyai resiko melahirkan bayi
berat lahir rendah.
2) Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar lebih
berperan dalam pencegahan dan penanggulangan kurang energi
kronis (KEK).
3) Mengembangkan gagasan baru dikalangan masyarakat dengan
tujuan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.
4) Meningkatkan peran petugas lintas sektoral dalam upaya perbaikan
gizi wanita hamil yang menderita kurang energi kronis (KEK).
5) Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran wanita
hamil yang menderita kurang energi kronis (KEK).
Pengukuran LILA dilakukan melalui urutan-urutan yang telah
ditetapkan. Ada 7 urutan pengukuran LILA , yaitu:
1) Tetapkn posisi bahu dan siku
2) Letakan pita antara bahu dan siku
3) Tentukan titik tengah lengan
4) Lingkarkan pita LILA pada tengah lengan
5) Masukkan ujung pita di lubang yang ada pada pita
LILA.
6) Pita ditarik dengan perlahan, jangan terlalu ketat atau
longgar.
7) Baca angka yang ditunjukkan oleh tanda panah pada
pita LILA (kearah angka yang lebih besar).
8) Membaca skala yang benar dan tuliskan angka
pembacaan pada kuesioner

2.4 Indeks Penilaian Status Gizi


2.4.1 Balita

Status gizi anak balita diukur berdasarkan umur, berat badan


(BB) dan tinggi badan (TB). Berat badan anak balita ditimbang
menggunakan timbangan digital yang memiliki presisi 0,1 kg,
panjang atau tinggi badan diukur menggunakan alat ukur
panjang/tinggi dengan presisi 0,1 cm. Variabel BB dan TB/PB anak
balita disajikan dalam bentuk tiga indeks antropometri, yaitu BB/U,
TB/U, dan BB/TB.
Untuk menilai status gizi anak balita, maka angka berat badan
dan tinggi badan setiap anak balita dikonversikan ke dalam nilai
terstandar (Zscore) menggunakan baku antropometri anak balita WHO
2005. Selanjutnya berdasarkan nilai Zscore dari masing-masing
indikator tersebut ditentukan status gizi anak balita dengan batasan
sebagai berikut :
Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan untuk
mengukur status gizi balita yaitu Berat Badan menurut Umur
(BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat Badan
menurut Tinggi Badan (BB/TB).
1) Berat Badan Menurut Umur (BB/U) definisi di diet anak
BB/U merefleksikan BB relatif dibandingkan dengan
umur anak. Indeks ini sangat mudah penggunaannya, namun
tidak sesuai bila digunakan tidak diketahui umur balita dengan
pasti. Berat badan adalah salah satu parameter yang diberikan
gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap
perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena
terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau
menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan
adalah parameter antropometri yang sangat labil.

Tabel 1.5 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan
Indeks BB/U

Indeks Status Gizi Ambang Batas


Gizi Lebih > 2 SD
Berat Badan menurut Umur Gizi Baik - 2 SD sampai 2 SD
(BB/U) Gizi Kurang - 3 SD sampai < - 2 SD
Gizi Buruk < - 3SD

Kelebihan Indeks BB/U:


a) Lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat
umum.
b) Baik untuk mengukur status gizi akut atau kronis.
c) Berat badan dapat berfluktuasi.
d) Sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil.
e) Dapat mendeteksi kegemukan (overweight).

Kelemahan Indeks BB/U:


a) Dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru
bila terdapat edema maupun asites.
b) Umur sering sulit ditaksir secara tepat karena pencatatan
umur yang belum baik.
c) Memerlukan data umur yang akurat, terutama untuk anak
dibawah usia lima tahun.
d) Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, seperti
pengaruh pakaian atau gerakan anak pada saat
penimbangan.
e) Secara operasional sering mengalami hambatan karena
masalah sosial budaya setempat. Dalam hal ini orang tua
tidak mau menimbang anaknya karena dianggap seperti
barang dagangan dan sebagainya.

2) Panjang Badan atau Tinggi Badan Menurut Umur (PB/U atau


TB/U)
PB/U atau TB/U menggambarkan pertumbuhan tinggi
atau panjang badan menurut umurnya. Panjang badan atau
tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan
keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi
badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan
tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif
terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek.

Tabel 1.6 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan
Indeks PB/U atau TB/U
Indeks Status Gizi Ambang Batas
Tinggi Badan Menurut Tinggi > 2 SD
Umur (TB/U) Normal - 2SD sampai 2 SD
atau Pendek -3 SD sampai < - 2 SD
Panjang Badan Menurut
Sangat pendek <-3SD
Umur (PB/U)

Kelebihan Indeks PB/U atau TB/U:


a) Baik untuk menilai status gizi masa lampau.
b) Ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah
dibawa.

Kelemahan Indeks PB/U atau TB/U:


a) Tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun.
b) Pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus
berdiri tegak, sehingga diperlukan dua orang untuk
melalukannya.
c) Ketetapan umur sulit dipakai
Pengukuran tinggi badan untuk anak balita yang sudah
dapat berdiri dilakukan dengan alat pengukur tinggi
microtoa (microtoise) yang mempunyai ketelitian 0,1 cm.

3) Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)


Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan
tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat
badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan
kecepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indikator yang
baik untuk menilai status gizi saat ini. Indeks BB/TB adalah
merupakan indeks yang independen terhadap umur.

Tabel 1.7 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan
Indeks BB/TB

Indeks Status Gizi Ambang Batas


Berat Badan menurut Tinggi Normal - 2 SD sampai + 2SD
Badan Kurus (wasted) < -2SD sampai -3 SD
(BB/TB) Kurus Sekali < - 3SD

Kelebihan Indeks BB/TB :


a) Tidak memerlukan data umur.
b) Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal dan
kurus).

Kelemahan Indeks BB/TB :


a) Tidak dapat memberikan gambaran,apakah anak tersebut
pendek, cukup tinggi badan atau kelebihan tinggi badan
menurut umurnya, karena faktor umur tidak
dipertimbangan.
b) Dalam praktek sering mengalami kesulitan dalm
melakuksan pengukuran panjang/tinggi badan pada
kelompok balita.
c) Membutuhkan dua macam alat ukur.
d) Pengukuran relatif lebih lama.
e) Membutuhkan dua orang untuk melakukannya.
f) Sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil
pengukuran, terutama bila dilakukan oleh kelompok non-
profesional.
Berat kurang : istilah untuk gabungan gizi buruk dan gizi kurang
Pendek : istilah untuk gabungan sangat pendek dan pendek (stunting)
(underweight)
Kurus : istilah untuk gabungan sangat kurus dan kurus (wasting)

2.4.2 Ibu Hamil


a. LILA
Ambang batas lingkar lengan atas wanita hamil dengan resiko
kurang energi kronis (KEK) di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila
ukuran lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm atau dibagian merah
pita lingkar lengan atas artinya wanita tersebut puya resiko kurang
energi kronis (KEK), dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi
lahir rendah. Berat bayi lahir rendah punya resiko kematian, gizi
kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak.

b. Kelebihan LILA:
1) Alat ukur mudah, murah, sangat ringan dan sederhana.
2) Pengukurannya cepat, tidak rumit.
3) Interpretasi lansung dapat digunakan oleh orang yang tidak
dapat membaca dan menulis dengan memberi kode warna
untuk menentukan tingkat keadaan gizi.

c. Kelemahan LILA:
1) Baku LILA yang sekarang digunakan belum mendapatkan
pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia.
2) Kesalahan pengukuran lebih besar dibandingkan pada tinggi
badan.

2.4.2.1 Cara Mengukur LILA


Pengukuran LILA dilakukan melalui urutan-urutan
yang telah ditetapkan. Ada 7 urutan pengukuran LLA , yaitu:
9) Tetapkn posisi bahu dan siku
10) Letakan pita antara bahu dan siku
11) Tentukan titik tengah lengan
12) Lingkarkan pita LLA pada tengah lengan
13) Masukkan ujung pita di lubang yang ada pada pita
LILA.
14) Pita ditarik dengan perlahan, jangan terlalu ketat atau
longgar.
15) Baca angka yang ditunjukkan oleh tanda panah pada
pita LILA (kearah angka yang lebih besar).
16) Membaca skala yang benar dan tuliskan angka
pembacaan pada kuesioner
b. IMT
Status gizi dewasa penduduk berumur >18 tahun terdiri dari.
Status gizi menurut Indeks Masa Tubuh (IMT) dan
kecenderungan komposit TB dan IMT/U dan status gizi menurut
lingkar perut (LP) (Riskesdas, 2013). Untuk mengukur status gizi
dewasa ( > 18 tahun) dapat dihitung dengan indeks masa tubuh
(IMT). Untuk mengukur IMT pada ibu hamil, berat badan yang di
gunakan adalah berat badan sebelum hamil. Dengan rumus
perhitungan dan batasan kategori sebagai berikut:

Table 1.1 Perhitungan IMT


IMT= BB(kg)
TB(m)2

Table 1.2 Kategori IMT


Kategori IMT

Kurus < 18,5 kg/m2

Normal 18,5-24,00 kg/m2

Gemuk >24,00-27,00
kg/m2
Obesitas >27,00 kg/m2
2.5. Energi dan Zat Gizi
2.5.1 Energi
Energi merupakan salah satu hasil metabolisme karbohidrat,
protein, dan lemak. Energi berfungsi sebagai zat tenaga untuk
metabolisme, pertumbuhan, pengaturan suhu dan kegiatan fisik.
Kelebihan energy disimpan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan
energy jangka pendek dan dalam bentuk lemak sebagai cadangan
jangka panjang. Untuk memelihara kesehatan yang baik suatu
penduduk, WHO (1990) menganjurkan rata-rata konsumsi energi
makanan sehari adalah 10-20% berasal dari protein, 20-30% dari
lemak, dan 50-65% dari karbohidrat. Dengan demikian, komposisi
konsumsi makanan rata-rata di Indonesia sudah mendekati komposisi
konsumsi yang dianjurkan WHO. Kecukupan energi per orang per hari
menurut kelompok umur dan jenis kelamin untuk usia 0-6 bulan adalah
550 kkal/hari. Untuk pria dewasa adalah 2725 kkal/hari dan wanita
dewasa 2250 kkal/hari.

Pangan sumber energi adalah lemak, karbohidrat, dan protein.


Pangan sumber energy yang kaya lemak antara lain lemak atau gajih
dan minyak, buah berlemak (alpukat), biji berminyak (minyak wijen,
bunga matahari dan kemiri), santan, cokelat, kacang-kacangan dengan
kadar air rendah (kacang tanah dan kacang kedelai) dan aneka pangan
produk turunannya. Pangan sumber energy yang kaya karbohidrat
antara lain beras, jagung, oat, serealia lainnya, umbi-umbian, tepung,
gula, madu, buah dengan kadar air rendah (pisang, kurma, dll) dan
aneka produk turunannya. Pangan sumber energi yang kaya protein
antara lain daging, ikan, telur, susu, dan aneka produk turunannya.
2.5.2 Karbohidrat
Karbohidrat adalah senyawa organic yang mengandung atom
karbon, hydrogen dan oksigen. Karbohidrat memegang peranan penting
dalam alam karena merupakan sumber energy utama bagi manusia dan
hewan. Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-tumbuhan. Umumnya
menu makanan Indonesia mempunyai kandungan karbohidrat yang
tinggi sebagai makanan pokok yaitu sekitar 70-80% karbohidrat.
Sumber karbohidrat adalah padi-padian atau serealia, umbi-umbian,
kacang-kacang kering, dan gula. Hasil olah bahan-bahan ini adalah
bihun, mie, roti, tepung-tepungan, selai, sirup, dan sebagainya.

2.5.3 Lemak
Istilah lipid meliputi senyawa-senyawa heterogen, termasuk
lemak dan minyak yang umum dikenal di dalam makanan, fosfolipida,
sterol dan ikatan lain sejenis yang terdapat di dalam makanan dan tubuh
manusia. Lipida mempunyai sifat yang sama, yaitu larut dalam pelarut
nonpolar, seperti etanor, eter, kloroform, dan benzene. Lemak
merupakan zat gizi yang terdiri dari 3 unsur sama pada karbohidrat,
namun unsur karbon dan hidrogen pada lemak lebih banyak dan
mengandung unsur oksigen yang sedikit, sehingga memberikan unsur
energi yang lebih banyak dibandingkan karbohidrat. Satu gram lemak
mengandung 9 kalori, sedangkan karbohidrat dan protein hanya 4
kalori.
Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan
(minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, kacang kedelai, jagung dan
sebagainya), mentega, margarin, dan lemak hewan (lemak daging dan
ayam). Sumber lemak lain adalah kacang-kacangan, biji-bijian, daging
dan ayam gemuk, krim, susu, keju, dan kuning telur, serta makanan
yang dimasak dengan lemak atau minyak. Sayur dan buah (kecuali
alpukat) sangat sedikit mengandung lemak.
2.5.4 Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan
bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah
protein, ada di dalam otot, tulang dan tulang rawan, di dalam kulit dan
selebihnya di dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Semua enzim,
berbagai hormone, pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks
intraseluler dan sebagainya adalah protein. Di samping itu asam amino
yang membentuk protein bertindak sebagai precursor sebagian besar
koenzim, hormone, asam nukleat, dan molekul-molekul yang esensial
untuk kehidupan. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat
digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel
dan jaringan tubuh. Bahan makanan hewani merupakan sumber protein
yang baik, dalam jumlah maupun mutu seperti telur, susu, daging,
unggas, ikan, dan kerang. Sumber protein nabati adalah kacang kedelai
dan hasilnya seperti temped an tahu serta kacang-kacangan lain.
2.6. Ibu Hamil
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan
didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan
ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari
saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan.
Kehamilan adalah masa terpenting untuk pertumbuhan janin.
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu kehamilan
adalah gizi. Status gizi ibu pada waktu pembuahan dan selama hamil
dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Status
gizi pada trimester pertama akan sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan embrio pada masa perkembangan dan pembentukan
organ. Status gizi ibu hamil di pengaruhi terhadap faktor resiko, diet,
pengukuran antropometri dan biokimia. Penilaian tentang asupan
pangan dapat diperoleh melalui ingatan 24 jam (recall 24 jam). Maka
gizi ibu yang kurang baik perlu diperbaiki keadaan gizinya atau yang
obesitas mendekati normal, yang dilakukan sebelum hamil. Sehingga
mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk mendapatkan bayi
lahir sehat, serta untuk mempertahankan kesehatannya sendiri
(Arisman, 2005).

2.6.1 Karakteristik Ibu Hamil


2.6.1.1 Usia Kehamilan
Usia kehamilan atau usia gestasi (gestational age)
adalah ukuran lama waktu seorang janin berada dalam rahim.
Usia janin dihitung dalam minggu dari hari pertama menstruasi
terakhir (HPMT) ibu sampai hari kelahiran. Masa Kehamilan
Menurut (Anggraini,2010 dalam ayupratika, 2013), masa
kehamilan umumnya akan dilalui selama 40 minggu terbagi
dalam 3 trimester kehamilan:
1. Kehamilan trimester I : dimulai usia 0 sampai 12 minggu
2. Kehamilan trimester II : dimulai usia 13 sampai 27 minggu
3. Kehamilan trimerter III : dimulai usia 28 sampai minggu

2.6.1.2 Usia Ibu Hamil


1. Usia Remaja Atau Di Bawah 20 Tahun
Kehamilan pada usia ini merupakan kehamilan
usia muda karena wanita tersebut berumur di bawah 20
tahun. Dan pada usia ini memiliki resiko yang lebih tinggi
untuk kesehatan wanita tersebut. Karena pada usia dibawah
20 tahun masih memiliki organ reproduksi yang belum siap
dan beresiko tinggi mengalami kondisi kesehatan yang
buruk saat dirinya sedang hamil. Bahkan kondisi sel telur
pun belum dapat sempurna sehingga dikhawatirkan akan
menggangu perkembangan janinnya. Masalah kehamilan
yang dapat di derita pada kehamilan usia muda yakni
adanya tekanan darah tinggi dan kelahiran prematur. Akan
tetapi masalah yang paling berat dan dikhawatirkan pada
kehamilan usia muda yakni mengalami depresi postpartum,
yaitu suatu rasa kecemasan setelah melahirkan. Selain itu
ada juga yang sangat berbahaya yakni kematian ibu yang
tingi dikarenakan terjadinya pendarahan dan juga infeksi.

2. Usia 21 Sampai 35 Tahun


Usia 21 sampai dengan 35 tahun merupakan
kehamilan dengan resiko gangguan kesehatan yang paling
rendah yakni hanya sekitar 15%. Jika dilihat dari
perkembangan kematangan, maka wanita pada kelompok
umur ini telah memiliki kematangan reproduksi, emosional
maupun aspek sosial. Dan jika di lihat secara umum maka
usia ini adalah usia yang cukup ideal untuk seorang wanita
dapat hamil dan melahirkan. Hal ini juga di dukung oleh
pernyataan para ahli yang menyatakan bahwa seorang
wanita yang berusia 24 tahun yaitu dimana seorang wanita
sedang mengalami puncak kesuburan dan pada usia
berikutnya akan mengalami penurunan kesuburan namun
masih tetap dapat hamil.

3. Usia Lebih Dari 35 Tahun


Seorang wanita yang sudah berada di atas 35
tahun biasanya bermasalah pada diabetes gestational.
Diabetes Gestational sendiri yakni diabetes yang muncul
saartseorang wanita sedang hamil yang mana akan
mengalami tekanan darah tinggi dan juga gangguan pada
kandung kemih dan fibrid uterine atau pertumbuhan otot
atau jaringan lain yang berada di uterus yang memicu
timbulnya tumor dan rasa nyeri.

2.6.1.3 Jarak Kehamilan


Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) menyatakan, menjaga jarak kehamilan
merupakan salah satu cara untuk menghindari tingginya kasus
angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
Perempuan berisiko tinggi mengalami kelahiran prematur jika
sebelumnya ia sudah melahirkan prematur. Jarak kehamilan
bisa meningkatkan risiko bayi lahir satu atau dua minggu lebih
awal, meskipun di waktu seperti itu belum bisa disebut lahir
prematur. Dalam studinya, DeFranco dan koleganya
menganalisis catatan kelahiran di Ohio tahun 2006-2011 dan
menemukan jarak kehamilan pada sekitar 450.000 bayi. Sekitar
11% wanita memiliki jarak kehamilan 12-18 bulan dan 2%
wanita memiliki rentang waktu di bawah 12 bulan. Peneliti
menemukan 53% wanita yang hamil kurang dari 12 bulan
setelah kehamilan berikutnya, melahirkan sebelum usia bayi 39
minggu. Sebanyak 20% wanita dengan jarak kehamilan
terpendek dilaporkan melahirkan prematur, sebelum usia
kandungan 37 minggu.

2.6.1.4 Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan.
Paritas merupakan faktor penting yang menunjang
keberhasilan kehamilan dan persalinan. Persalinan yang
pertama sekali biasanya mempunyai risiko relatif tinggi
terhadap ibu dan anak, kemudian risiko ini menurun pada
paritas kedua dan ketiga, dan akan meningkat lagi pada paritas
keempat dan seterusnya. Ibu yang sering melahirkan memiliki
risiko mengalami komplikasi persalinan pada kehamilan
berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi.
Pada paritas lebih dari empat keadaan rahim biasanya sudah
lemah yang dapat menimbulkan persalinan lama dan
pendarahan saat kehamilan, jumlah paritas lebih dari 4 keadaan
rahim biasanya sudah lemah. Hal ini dapat menimbulkan
persalinan lama dan perdarahan saat kehamilan (Depkes RI,
2003)

Paritas dapat dibedakan menjadi primipara, multipara


dan grandemultipara. Klasifikasi paritas ada tiga yaitu:
1) Primipara
Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang
anak, yang cukup besar untuk hidup di dunia luar;
2) Multipara
Multipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang
anak lebih dari satu kali;
3) Grandemultipara
Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5
orang anak atau lebih.

Kondisi ekonomi keluarga yang tinggi


mendorong ibu untuk mempunyai anak lebih karena keluarga
merasa mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup. Makin
tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah dalam
memperoleh menerima informasi, sehingga kemampuan ibu
dalam berpikir lebih rasional. Ibu yang mempunyai pendidikan
tinggi akan lebih berpikir rasional bahwa jumlah anak yang
ideal adalah 2 orang. Pengetahuan juga merupakan domain dari
perilaku. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, maka
perilaku akan lebih bersifat langgeng. Dengan kata lain ibu
yang tahu dan paham tentang jumlah anak yang ideal, maka
ibu akan berperilaku sesuai dengan apa yang ia ketahui
(Friedman, 2005).

2.6.3. Pengetahuan Gizi Ibu Hamil


Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata,
telinga dan sebagainya). Ada beberapa hal yang harus ibu hamil ketahui
terkait kehamilannya seperti:
1. Penimbangan Berat Badan dan Tinggi Badan
Tinggi badan diperiksa sekali pada saat ibu hamil
datang pertama kali kunjungan, dilakukan untuk mendeteksi tinggi
badan ibu yang berguna untuk mengkategorikan adanya resiko
apabila hasil pengukuran < 145 cm. Berat badan diukur setiap ibu
datang atau berkunjung untuk mengetahui kenaikan BB atau
penurunan BB. Kenaikan berat badan ibu normal rata-rata antara
6,5 kg sampai 16 kg.
2. Pengukuran Tekanan Darah
Tekanan darah diukur dan diperiksa setiap kali ibu
datang atau kunjungan anc (Atenatal Care). Pemeriksaan tekanan
darah sangat penting untuk mengetahui standar normal, tinggi atau
rendah. Deteksi tekanan darah yang cenderung naik diwaspai
adanya gejala kearah hipertensi dan preeklampsi.
3. Pemberian Tablet Tambah Darah (tablet Fe)
Tablet ini mengandung 200 mg sulfat ferosus 0,25 mg
asam folat yang diikat dengan laktosa. Tujuan pemberian Fe adalah
untuk memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamil dan nifas, karena
pada kehamilan kebutuhannya meningkat seiring dengan
petumbuhan janin. Pemeberian selama 90 tablet (3 bulan). Ibu
dinasehati agar tidak meminumnya bersama susu teh atau kopi
agar tidak mengganggu penyerapan tablet Fe dan menyarankan
minum tablet zat besi menggunakan air putih atau air jeruk.
4. Pemberian Imunisasi Tetanus Toxsoid (Imunisasi TT)
Tujuan pemberian imunisasi TT adalah untuk
melindungi janin dari tetanus neonatorum. Efek samping vaksin
TT yaitu nyeri, kemerah-merahan dan bengkak untuk 12 hari
pada tempat penyuntikan.
2.6.4. Status Gizi Ibu Hamil Menurut Lingkar Lengan Atas
Lingkar Lengan Atas mencerminkan tumbuh kembang jaringan
lemak dan otot yang tidak berpengaruh banyak oleh cairan tubuh.
Pengukuran ini berguna untuk skrinning malnutrisi protein yang
biasanya digunakan oleh Depkes untuk mendeteksi ibu hamil dengan
resiko melahirkan BBLR bila LILA <23,5 cm (Wirjatmadi B, 2007).
Adapun tujuan dari pengukuran ini adalah:
1. Mengetahui resiko kurang energi kronis (KEK) wanita hamil,
untuk menapis wanita yang mempunyai resiko melahirkan bayi
berat lahir rendah.
2. Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar lebih
berperan dalam pencegahan dan penanggulangan kurang energi
kronis (KEK).
3. Mengembangkan gagasan baru dikalangan masyarakat dengan
tujuan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.
4. Meningkatkan peran petugas lintas sektoral dalam upaya perbaikan
gizi wanita hamil yang menderita kurang energi kronis (KEK).
5. Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran wanita
hamil yang menderita kurang energi kronis (KEK).
Tabel 1.3 Ambang Batas Pengukuran LILA
Klasifikasi Batas Ukur
Wanita Usia Subur
KEK < 23,5 cm
Normal 23,5 cm
Bayi Usia 0-30 hari
KEP < 9,5 cm
Normal 9,5 cm
Balita
KEP < 12,5 cm
Normal 12,5 cm
Sumber: Sirajuddin, 201
Ibu hamil merupakan kelompok yang cukup rawan gizi.
Kekurangan gizi pada ibu hamil mempunyai dampak yang cukup besar
terhadap proses pertumbuhan janin dan anak yang akan dilahirkan. Bila
ibu hamil mengalami kurang gizi maka akibat yang ditimbulkan antara
lain keguguran, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacad bawaan,
anemia pada bayi dan bayi lahir BBLR.
Masalah gizi kurang pada ibu hamil ini dapat dilihat prevalensi
kekurangan energi kronis atau KEK dan anemia. Untuk memperkecil
resiko BBLR diperlukan upaya mempertahankan kondisi yang baik
pada ibu hamil. Upaya yang dilakukan berupa pengaturan konsumsi
makanan, pemantauan berat badan, pemeriksaan kadar Hb dan
pengukuran LILA sebelum dan saat hamil. Salah satu tanda dari energi
kronis adalah berat bdan kurang dari 40 kg atau tampak kurus dan
ukuran LILA kurang dari 23,5cm.

2.6.5. Kebutuhan Energy dan Zat Gizi Ibu Hamil


Menteri Kesehatan telah menetapkan AKG bagi Bangsa
Indonesia yang terbaru melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 75
tahun 2013. Peraturan ini mencakup : berat dan tinggi badan, kelompok
umur, energi dan zat Gizi : protein, lemak, karbohidrat, serat, air,
vitamin dan mineral. Angka Kecukupan Gizi (AKG) bagi ibu hamil
terus bertambah seiring dengan berbagai perubahan yang menyertainya.
Ketidakmampuan seorang ibu hamil mencukupi kebutuhan gizinya
akan berdampak berat bayi yang akan dilahirkan. Mengingat ibu hamil
memerlukan nutrisi lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu
dan janin.
a. Energi
Menurut angka kecukupan energi yang dianjurkan
AKG 2012, pada ibu hamil trimester pertama penambahan energi
sebesar 180 kkal, trimester kedua dan trimester ketiga penambahan
energi sebesar 300 kkal. Kebutuhan energi pada trimester pertama
tambahannya sedikit. Semakin tumbuhnya janin kebutuhan energi
akan meningkat pada trimester kedua dan trimester ketiga.
Kebutuhan energi ini terus meningkat sampai akhir kehamilan.
b. Karbohidrat
Menurut angka kecukupan karbohidrat yang dianjurkan
AKG 2012, pada ibu hamil pada trimester pertama penambahan
karbohidrat sebesar 25 gram, trimester kedua dan trimester ketiga
penambahan karbohidrat 41 gram. Karbohidrat memberi tambahan
energi lebih cepat meskipun tidak dapat bertahan lama. Ibu hamil
lebih baik mengkonsumsi makanan berkarbohidrat pati lebih
banyak daripada makanan berkadar gula tinggi jika energi menjadi
kebutuhan utama.
c. Protein
Menurut angka kecukupan protein yang dianjurkan
AKG 2012 pada ibu hamil pada trimester pertama, trimester kedua
dan trimester ketiga penambahan protein 20 gram. Protein
dibutuhkan ibu hamil untuk pertumbuhan jaringan-jaringan baru,
plasenta, serta mendukung pertumbuhan dan diferensiasi sel.
Kekurangan asupan protein selama kehamilan menyebabkan janin
gagal untuk mencapai pertumbuhan optimal sesuai fungsi
genetiknya.
d. Lemak
Menurut angka kecukupan lemak yang dianjurkan AKG
2012, pada ibu hamil pada trimester pertama penambahan lemak 6
gram, trimester kedua dan trimester ketiga penambahan lemak 10
gram.
e. Folat
Menurut angka kecukupan folat yang dianjurkan AKG
2012, pada ibu hamil pada trimester pertama, trimester kedua
dan trimester ketiga penambahan folat 200 gram.

f. Fe
Menurut angka kecukupan Fe yang dianjurkan AKG 2012,
pada ibu hamil pada trimester kedua 9 gram dan trimester
ketiga penambahan Fe 13 gram.
g. B12
Menurut angka kecukupan B12 yang dianjurkan AKG
2012, pada ibu hamil pada trimester satu, trimester dua, dan
trimester tiga adalah 0,2 gram.

Pada Tabel berikut diuraikan Angka Kecukupan Energi, Protein,


Lemak, Karbohidrat, Serat dan Air yang dianjurkan untuk ibu hamil Indonesia
(perorang perhari) :

Table 1.4 Penambahan energi pada ibu hamil

Hamil Energi Protein Lemak (g) Karbohidrat Serat Air


(+an) (kkal) (g) total n-6 n-3 (g) (g) (ml)

Trimester
+180 +20 +6 +2,0 +0,3 +25 +3 +300
1
Trimester
+300 +20 +10 +2,0 +0,3 +40 +4 +300
2
Trimester
+300 +20 +10 +2,0 +0,3 +40 +4 +300
3

Kebutuhan gizi ibu hamil menurut Arisman (2005) adalah :


1. Makanan padat kalori dapat membentuk lebih banyak jaringan tubuh
tetapi bukan lemak
2. Cukup kalori dan zat gizi untuk memenuhi pertambahan berat
badanselama hamil
3. Perencanaan perawatan gizi yang memungkinkan ibu hamil untuk
memperoleh dan mempertahankan status gizi optimal sehingga
menjalani kehamilan dengan aman dan berhasil
4. Perawatan gizi yang dapat mengurangi atau menghilangkan reaksi
yang tidak diinginkan seperti mual muntah
5. Perawatan gizi yang dapat membantu pengobatan penyulit yang
terjadiselama kehamilan misalnya diabetes mellitus, hipertensi dll
6. Mendorong ibu hamil sepanjang waktu untuk mengembangkan
kebiasaan makan yang baik

2.7. Balita
Balita adalah kelompok anak yang dibawah lima tahuan. Kelompok
anak ini menjadi istimewa karena menuntut curahan perhatian yang intensif
untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya. Lima tahun
pertama dari kehidupan seorang manusia yang berkualitas baik fisik, psikis,
maupun intelegensinya berawal dari balita yang sehat balita adalah anak
dibawah lima tahun yang berumur 0-4 tahun 11 bulan (Depkes, 2005). Usia
dan jenis kelamin balita mempengaruhi asupan konsumsi zat gizi, Karena
kebutuhan gizi menurut umur dan jenis kelamin berbeda tetapi umur dan jenis
kelamin tidak mempengaruhi status gizi. Status gizi balita dipengaruhi oleh
tingkat pendidikan orangtua dan pendapatan orangtua.

2.7.3. Status Gizi Balita Menurut Antropometri


2. Indeks Antropometri
Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan
untuk mengukur status gizi balita yaitu Berat Badan menurut
Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat
Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB).

2.7.2 Angka Kecukupan Energi dan Zat Gizi Bagi Balita


Makanan balita seharusnya berpedoman pada gizi yang
seimbang, serta harus memenuhi standar kecukupan gizi balita. Gizi
seimbang merupakan keadaan yang menjamin tubuh yang memperoleh
makanan yang cukup dan mengandung semua zat gizi dalam jumlah
yang dibutuhkan. Dengan gizi seimbang maka pertumbuhan dan
perkembangan balita akan optimal dan daya tahan tubuhnya akan baik
sehingga tidak mudah sakit.
Penggunaan energi di luar AMB bagi bayi dan anak selain
untuk pertumbuhan adalah untuk bermain dan sebagainya. Pada usia
remaja (10-18 tahun), terjadi proses pertumbuhan jasmani yang pesat
serta perubahan bentuk dan susunan jaringan tubuh, di samping
aktivitas yang tinggi. Besar kecilnya angka kecukupan energi sangat
dipengaruhi oleh lama serta intensitas kegiatan jasmani
tersebut.Berikut adalah tabel Angka Kecukupan Energi untuk bayi,
anak, dan remaja.

Table 1.7
Faktor Aktivitas (x AMB)
Laki-laki Perempuan
Umur (tahun)
0-3 1,8 1,8
3-10 1,9 1,7
10-12 1,75 1,69
13-15 1,66 1,56
16-18 1,60 1,52
Sumber: FAO/WHO/UNU,1985.
a. Energi
Menurut angka kecukupan energi yang dianjurkan
AKG 2012, pada balita uisa 1-3 tahun adalah 1125 kalori
sedangkan pada usia 4-6 tahun 1600 kalori. Seiring dengan
pertumbuhan balita kebutuhan energy akan meningkat untuk
menunjang kebutuhan balita.
b. Karbohidrat
Menurut angka kecukupan karbohidrat balita yang
dianjurkan AKG 2012, 1-3 tahun adalah 155 gram sedangkan pada
4-6 tahun 220 gram. Karbohidrat adalah sumber utama energy
yang mudah dipecah oleh tubuh.
c. Protein
Menurut angka kecukupan protein yang dianjurkan
AKG 2012 pada balita 1-3 tahun 26 gram sedangkan 4-6 tahun 35
gram. Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan jaringan-jaringan
baru, mendukung pertumbuhan dan perkembangan balita.
d. Lemak
Menurut angka kecukupan lemak yang dianjurkan AKG
2012, pada balita 1-3 tahun 44 gram sedangkan 4-6 tahun 62 gram

2.7 Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Balita


2.8.1 Kesehatan Diri Balita
Kesehatan diri balita dan ibu balita merupakan upaya ibu balita
untuk menjaga derajat kesehatan diri balita yang meliputi:
a. Memandikan
1) Tidak disarankan menggunakan bak mandi yang lebar karena
sangat berbahaya khususnya untuk batita
2) Menggunakan spon untuk memandikan
b. Merawat kuku
1) Memotong dan merapikan semua kukunya untuk mencegah
anak mencakar dirinya sendiri
c. Membersihkan telinga
1) Mencuci telinga hanya bagian luar dan pintu masuk lubang
telinga saja
2) Gunakan cuuton bud untuk membersihkan lubang telinganya
d. Membersihkan hidung
1) Jika anak sedang pilek, bersihkan lender yang terkumpul dalam
hidung anak untuk mencegah hambatan pernahasan anak
2) Bersihkan kotoran yang ada di hidung anak

2.7.2 Pengetahuan Ibu Balita atau Wali Balita


Sering dikatakan bahwa ibu adalah jantung dari keluarga,
seorang ibu sebagai tokoh sentral dan sangat penting untuk
melaksanakan kehidupan. Pentingnya seorang ibu terutama terlihat
sejak kelahiran anaknya (Gunarsa, 1993). Agar pola hidup anak bisa
sesuai dengan standar kesehatan, disamping harus mengatur pola
makan yang benar pengetahuan ibu tentang pola makan dan jenis
makanan harus tepat. Seorang ibu yang memiliki pengetahuan dan
sikap gizi yang kurang akan sangat berpengaruh terhadap status gizi
balitanya dan akan sukar untuk memilih makanan yang bergizi untuk
anaknya dan keluarganya. Gizi yang baik adalah gizi yang seimbang,
artinya asupan zat gizi harus sesuai dengan kebutuhan tubuh. Gizi
kurang pada anak di usia balita membawa dampak pertumbuhan otak
dan tingkat kecerdasan terganggu, hal ini disebabkan karena
kurangnya produksi protein dan kurangnya energi yang diperoleh dari
makanan dan pengetahuan juga sikap ibu sangat penting untuk
mencegah terjadinya angka gizi kurang pada balita (Nainggolan,
2013).
Pengetahuan gizi ibu sangat berhubungan dengan status gizi
balita. Pola asuh gizi pada balita terdiri dari praktek pemberian
makanan atau minuman. Pola asuh dan pengetahuan ibu yang tidak
tepat dapat menyebabkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan
makanan seimbang, dan juga dapat memudahkan terjadinya penyakit
infeksi yang kemudian dapat berpengaruh terhadap status gizi anak.
Ibu yang berpengetahuan rendah sangat berhubungan dengan status
gizi keluarga dan balita (Nainggolan, 2013).

2.7.3 Penyakit Infeksi Balita


Penyakit infeksi aalah penyakit yang disebabkan oleh masuknya
bibit penyakit. Penyakit ini menular dari satu orang ke orang lain.
Infeksi terjadi karena masuknya kuman atau mikroorganisme ke
dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan
gejala penyakit.
Infeksi dapat menyebabkan anak tidak merasa lapar dan tidak
mau makan. Penyakit infeksi juga menghabiskan protein dan kalori
yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan.Berikut adalah penyakit
infeksi pada balita:
a. Infeksi oleh bakteri: TBC, Tetanus, Diare, Pneumonia
b. Infeksi oleh virus: Campak, ISPA
Penyakit infeksi yang sering menyerang balita dan
menimbulkan penurunan status gizi adalah diare dan ISPA. Menurut
Riskesdas 2013 di indonesia kejadin ISPA pada balita sebesar 18,5%.
Infeksi saluran pernapasan akut adalah penyakit yang disebabkan oleh
mikroorganisme dan dapat mengenai setiap lokasi disepanjang saluran
nafas. ISPA merupakan salah satu penyebab utama dari tingginya
angaka kematian dan angka kesakitan pada balita dan bayi di
Indonesia.
Diare yang menyerang balita di Indonesia menurut Riskesdas
2013 adalah 6,7%. Diare adalah buang air besar yang lebih sering dari
biasanya ( umumnya 3 kali atau lebih) perhari dengan bentuk cair.
Penyebab diare yaitu gerakan lambung yang berair yang sering
disebabkan bakteri, virus, keracunan makanan atau parasit yang
menginfeksi perut atau usus. Diare dan muntah dapat menghalangi
penyerapan makanan.

2.8 Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Ibu Hamil


2.8.1 Kesehatan Diri Ibu Hamil Dan Anjuran Pemeriksaan Kehamilan
Kesehatan diri ibu hamil merupakan upaya memelihara dan
mempertinggi derajat kesehatan dirinya. Kesehatan diri ibu hamil
meliputi:
a. Mandi 2 kali sehari dengan sabun
b. Gosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur
c. Kurangi kerja berat
d. Istirahat berbaring minimal 1 jam di siang hari. Posisi tidur
sebaiknya miring.

Anjuran Pemeriksaan Kehamilan Menurut (Depkes 1993,


dalam Marissa) pemeriksaan kehamilan dianjurkan dilakukan oleh ibu
hamil minimal 4 kali selama kehamilan, yaitu:
1) Pemeriksaan pertama atau kunjungan pertama dilakukan sebelum
saat usia kehamilan mencapai 4 bulan atau antara 0-3 bulan
(trimester I);
2) Pemeriksaan kedua atau kunjungan kedua dilakukan pada usia
kehamilan 4-6 bulan (trimester II);
3) Sedangkan pemeriksaan ketiga dan keempat dilakukan pada usia
kehamilan 7-9 bulan (trimester III).

2.8.2 Pendidikan Ibu Hamil


Tingkat pendidikan wanita pra-konsepsi mempengaruhi
kejadian KEK. Wanita yang memiliki tingkat pendidikan baik dapat
mencegah terjadinya KEK. Pendidikan merupakan salah satu ukuran
yang digunakan dalam status social ekonomi, pendidikan merupakan
factor utama dalam peningkatan sumber daya manusia. Ibu yang
memiliki status pendidikan yang baik memiliki pengetahuan dan
informasi ynag baik tentang gizi untuk dirinya. Pendidikan pada ibu
hamil dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas gizinya. Semakin
tinggi tingkat yang dimiliki wanita, maka kualitas gizi dan informasi
tentang kecukupan gizinya akan baik. Sehingga dapat memenuhi
kebutuhan nutrisinya saat hamil (Tenri Puli, 2013).

2.8.3 Pengetahuan Gizi Ibu Hamil


Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata,
telinga dan sebagainya). Ada beberapa hal yang harus ibu hamil ketahui
terkait kehamilannya seperti:
1. Penimbangan Berat Badan dan Tinggi Badan
Tinggi badan diperiksa sekali pada saat ibu hamil
datang pertama kali kunjungan, dilakukan untuk mendeteksi tinggi
badan ibu yang berguna untuk mengkategorikan adanya resiko
apabila hasil pengukuran < 145 cm. Berat badan diukur setiap ibu
datang atau berkunjung untuk mengetahui kenaikan BB atau
penurunan BB. Kenaikan berat badan ibu normal rata-rata antara
6,5 kg sampai 16 kg.
2. Pengukuran Tekanan Darah
Tekanan darah diukur dan diperiksa setiap kali ibu
datang atau kunjungan anc (Atenatal Care). Pemeriksaan tekanan
darah sangat penting untuk mengetahui standar normal, tinggi atau
rendah. Deteksi tekanan darah yang cenderung naik diwaspai
adanya gejala kearah hipertensi dan preeklampsi.
3. Pemberian Tablet Tambah Darah (tablet Fe)
Tablet ini mengandung 200 mg sulfat ferosus 0,25 mg
asam folat yang diikat dengan laktosa. Tujuan pemberian Fe adalah
untuk memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamil dan nifas, karena
pada kehamilan kebutuhannya meningkat seiring dengan
petumbuhan janin. Pemeberian selama 90 tablet (3 bulan). Ibu
dinasehati agar tidak meminumnya bersama susu teh atau kopi
agar tidak mengganggu penyerapan tablet Fe dan menyarankan
minum tablet zat besi menggunakan air putih atau air jeruk.
4. Pemberian Imunisasi Tetanus Toxsoid (Imunisasi TT)
Tujuan pemberian imunisasi TT adalah untuk
melindungi janin dari tetanus neonatorum. Efek samping vaksin
TT yaitu nyeri, kemerah-merahan dan bengkak untuk 12 hari
pada tempat penyuntikan.

2.8.4 Penyakit Infeksi Pada Ibu Hamil


Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh
masuknya bibit penyakit. Penyakit ini menular dari satu orang ke
orang lain. Infeksi terjadi karena masuknya kuman atau
mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak
sehingga menimbulkan gejala penyakit.
Infeksi yang sering terjadi pada ibu hamil adalah infeksi
saluran kemih, infeksi saluran kemih yang asimptomatik dalam
kehamilan angka kejadiannya 4-10%, sedang di Indonesia berkisar
antara 20-25% dan sekitar 10-20% diantaranya dapat menyebabkan
partus prematurus.
Infeksi saluran kemih pada ibu hamil disebabkan oleh
Bakteriuria asimptomatik, terdapat 100.000 bakteri atau lebih per
milliliter urin dari penderita tanpa keluhan infeksi saluran kemih.
Bakteriuria asimptomatik ditemukan pada 4-12 % dari wanita hamil
dan angka ini bervariasi tergantung pada suku bangsa, varitas, dan
keadaan sosioekonomi penderita. 30% dari bakteriuria asimptomatik
tersebut berkembang menjadi bakteriuria yang simptomatik dalam
kehamilan yakni berupa sistitis atau pielonefritis akut.

2.9 Sosial Ekonomi dan Sanitasi Kesehatn Lingkungan


2.9.1 Pola Konsumsi
Pola konsumsi adalah berbagai informasi yang memberikan
gambaran mengenai jumlah dan jenis bahan makanan yang dimakan
setiap hari oleh satu orang dan mempunyai ciri khas untuk suatu
kelompok masyarakat tertentu. Pola makan adalah cara seseorang atau
sekelompok orang (keluarga) dalam memilih makanan sebagai
tanggapan terhadap pengaruh fisiologi, psikologis, kebudayaan dan
sosial.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi rumah
tangga antara lain tingkat pendapatan rumahtangga, jumlah anggota
rumahtangga, pendidikan kepala rumahtangga dan status pekerjaan
kepala rumahtangga. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk
membuktikan hubungan antara tingkat pendapatan dan pola konsumsi
rumahtangga. Teori Engels menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat
pendapatan rumahtangga semakin rendah persentase pengeluaran
konsumsi makanan (Sumarwan, 1993 dalam Muchlis Sjirat, 2012).
Berdasarkan teori klasik ini maka suatu rumahtangga bisa
dikategorikan lebih sejahtera bila persentase pengeluaran untuk
makanan jauh lebih kecil dari persentase pengeluaran untuk bukan
makanan. Artinya proporsi alokasi pengeluaran untuk pangan akan
semakin kecil dengan bertambahnya pendapatan rumahtangga, karena
sebagian besar dari pendapatan tersebut dialokasikan pada kebutuhan
non pangan.

2.9.2 Tingkat Pendidikan


Tingkat pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan
berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan
dicapai dan kemauan yang dikembangkan. Tingkat pendidikan
berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat.
Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan sesorang atau
masyarakat untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya
dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal
kesehatan. Pendidikan formal membentuk nilai bagi seseorang terutama
dalam menerima hal baru. Tingkatan pendidikan di Indonesia meliputi:
a. Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan Anak Usia Dini atau disingkat PAUD
adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir
sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
b. Sekolah dasar
Sekolah Dasar dalah jenjang paling dasar pada
pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam
waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Lulusan sekolah
dasar dapat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah
Pertama (atau sederajat). Pelajar sekolah dasar umumnya berusia
7-12 tahun.
c. Sekolah Menengah Pertama
Sekolah Menengah Pertama yang disingkat dengan
SMP merupakan jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal
di Indonesia setelah lulus sekolah. Sekolah menengah pertama
ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9.
Saat ini Sekolah Menengah Pertama menjadi program Wajar 9
Tahun (SD, SMP). Lulusan sekolah menengah pertama dapat
melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas atau sekolah
menengah kejuruan (atau sederajat). Pelajar sekolah menengah
pertama umumnya berusia 13-15 tahun.
d. Sekolah Menengah Atas
Sekolah Menengah Atas merupakan lanjutan dari
jenjang pendidikan dasar. Sekolah Menengah Atas
(disingkat SMA) adalah jenjang pendidikan menengah pada
pendidikan formal di Indonesia setelah lulus dari Sekolah
Menengah Pertama (SMP atau sederajat). Sekolah menengah atas
ditempuh selama 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai 12.
e. Perguruan Tinggi
Perguruan Tinggi merupakan kelanjutan pendidikan
menengah yang diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta
didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademis dan profesional yang dapat menerapkan,
mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi
dan kesenian. Pendidikan tinggi adalah pendidikan pada jenjang
yang lebih tinggi dari pada pendidikan menegah di jalur
pendidikan sekolah.

Dalam kaitannya dengan pola konsumsi masyarakat, Survey


Biaya Hidup (SBH) yang dilakukan BPS (1993) menyebutkan bahwa
semakin tinggi rata-rata pendidikan kepala rumah tangga semakin besar
persentase pengeluaran untuk konsumsi makanan. Cara lain yang
melekat pada rumah tangga miskin adalah tingkat pendidikan kepala
rumah tangga yang rendah (SD dan SMP) sedangkan kepala rumah
tangga atau ibu yang memiliki pendidikan setara SMA memperlihatkan
rumah tangga menengah dengan taraf kehidupan baik. Data yang
disajikan BPS memperlihatkan bahwa 72,01% dari rumah tangga
miskin di pedesaan dipimpin oleh kepala rumah tangga yang tidak
tamat SD, dan 24,32% dipimpin oleh kepala rumah tangga yang
berpendidikan SD. Kecenderungan yang sama juga dijumpai pada
rumah tangga miskin di perkotaan. Sekitar 57,02% rumah tangga
miskin di perkotaan dipimpin oleh kepala rumah tangga yang tidak
tamat SD, dan 31,38% dipimpin oleh kepala rumah tangga
berpendidikan SD. Ciri ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan
kepala rumah tangga miskin di perkotaan dan pedesaan relatif hampir
sama (Muchlis Sjirat, 2012).
2.9.3 Jumlah Anggota Keluarga
Rumah tangga sebagai jumlah seluruh anggota yang menjadi
tanggungan dalam rumahtangga tersebut. Ukuran rumahtangga dapat
memberikan indikasi beban rumahtangga. Semakin besar ukuran
rumahtangga berarti semakin banyak anggota rumahtangga yang pada
akhirnya akan semakin berat beban rumahtangga untuk memenuhi
kebutuhan sehari-harinya.
Menurut (Sediaoetama, 1985 dalam Muchlis Sjirat, 2012),
kebutuhan sehari-hari dalam suatu rumahtangga tidak merata antar
anggota rumahtangga, karena kebutuhan setiap anggota rumahtangga
tergantung pada struktur umur mereka. Artinya, setiap anggota
rumahtangga memerlukan porsi makanan yang sesuai dengan tingkat
kebutuhannya yang ditentukan berdasarkan umur dan keadaan fisik
masing-masing. Dilain pihak pola konsumsi juga dapat dipengaruhi
oleh tinggi rendahnya pendapatan rumahtangga. Semakin membaiknya
pendapatan rumahtangga, biasanya akan diiringi dengan alokasi
pengeluaran untuk keperluan pangan yang cenderung menurun dan
sebaliknya pengeluaran untuk keperluan non makanan cenderung akan
meningkat.
Besar kecilnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh
terhadap pembagian pangan pada masing-masing anggota keluarga
(Chaterine Lee 2006). Pada keluarga yang memiliki balita atau wanita
yang hamil, dengan jumlah anggota keluarga yang besar bila tidak
didukung dengan seimbangnya persediaan makanan di rumah maka
akan berpengaruh terhadap pola asuh yang secara langsung
mempengaruhi konsumsi pangan yang diperoleh masing-masing
anggota keluarga.
Terbukti dengan masih banyaknya keluarga yang memiliki
jumlah anggota keluarga yang banyak. Hal ini lebih banyak dilihat pada
keluarga yang tinggal di pedesaan. Menurut (Maryati Sukarni 2004,
dalam Neny 2014) penelitian di suatu Negara Colombia menunjukan
bahwa dengan kenaikan jumlah anak, jumlah makanan per orang akan
menurun sehingga terjadi pertambahan kasus kurang gizi pada anak-
anak dibawah lima tahun dan ibu hamil. Ada pengaruh status gizi anak
dan masyarakat pada jumlah keluarga.

2.9.4 Pengetahuan Gizi


Pengetahuan gizi merupakan pengetahuan tentang makanan
dan zat gizi, sumber-sumber zat gizi pada makanan, makanan yang
aman dikonsumsi sehingga tidak menimbulkan penyakit dan cara
mengolah makanan yang baik agar zat gizi dalam makanan tidak hilang
serta bagaimana hidup sehat (Notoatmojo, 2003: 98, dalam Nurjannah
2012). Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap
dan perilaku dalam pemilihan makanan yang pada akhirnya akan
berpengaruh pada keadaan gizi yang bersangkutan.
Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap
sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan yang pada akhirnya akan
berpengaruh pada keadaan gizi yang bersangkutan. Pengetahuan gizi
yang tidak memadai, kurangnya pengertian tentang kebiasaan makan
yang baik, serta pengertian yang kurang tentang kontribusi gizi dari
berbagai jenis makanan akan menimbulkan masalah kecerdasan dan
produktifitas. Peningkatan pengetahuan gizi bisa dilakukan dengan
program pendidikan gizi yang dilakukan oleh pemerintah. Program
pendidikan gizi dapat memberikan pengaruh terhadap pengetahuan,
sikap, dan perilaku anak terhadap kebiasaan makannya (Soekirman,
2000:55, dalam Nurjannah 2012).
Menurut (Almatsir, 2002:4, dalam Nurjannah 2012)
Pengetahuan gizi adalah sesuatu yang diketahui tentang makanan dalam
hubungannya dengan kesehatan optimal. Pengetahuan gizi meliputi
pengetahuan tentang pemilihan dan konsumsi sehari-hari dengan baik
dan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal
tubuh. Pemilihan dan konsumsi bahan makanan berpengaruh terhadap
status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi
apabila tubuh memperoleh cukup zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
Status gizi kurang terjadi apabila tubuh mengalami kekurangan satu
atau lebih zat gizi essential. Sedangkan status gizi lebih terjadi apabila
tubuh memperoleh zat gizi dalam jumlah yang berlebihan, sehingga
menimbulkan efek yang membahayakan.

2.9.5 Tingkat Ekonomi


Berdasarkan tingkat kesejahteraannya. Biasanya, tingkat
kesejahteraan seseorang bisa dilihat dari tingkat pendapatan ataupun
tingkat pengeluarannya. Namun kita kerap akan menemui kesulitan bila
menanyakan orang tentang berapa besar pendapatan yang diperoleh.
Dapat lebih mudah mengungkapkan berapa besar pengeluaran rutin
sehari-harinya. Oleh karena itu, akan lebih mudah mengetahui tingkat
kesejahteraan seseorang dengan melihat dari sisi pengeluarannya.
Untuk menentukan seseorang keluarga masuk kelompok ekonomi
kurang apabila memiliki tingkat pengeluaran per bulan Rp 500.000
Sedang keluarga yang masuk kategori ekonomi menengah bila
memiliki tingkat pengeluaran antara Rp 1.250.000 1.750.000.
Kelompok menengah ke atas jika tingkat pengeluaran Rp 3000.000
5000.000.
Tingkat pengeluaran dapat menggambarkan pola konsumsi
suatu keluarga. Semakin besar tinggkat pengeluaran yang di habiskan
dalam satu bulan, maka pola konsumsinya baik. Tetapi sebaliknya, jika
tingkat pengeluaran dalam satu bulan kecil makan pola konsumsinya
terbatas.
Berdasarkan tingkat pendapatan rendah < Rp.1.000.000 per
bulan balita memiliki status gizi kurang. Sedangkan yang
berpendapatan tinggi >1.250.00 per bulan, balita memiliki status gizi
baik. Menurut (Sarah, 2008 dalam Rolavensi, 2012) pendapatan
keluarga berpengaruh terhadap status gizi balita. Dengan pendapatan
keluarga yang besar maka balita akan mendapatkan gizi yang baik. Hal
ini disebabkan pada keluarga dengan pendapatan tinggi, baik dalam
mengatur belanja keluarga.
Penghasilan keluarga merupakan salah satu tema penting
dalam mengelola
keuangan keluarga, karena besarnya uang masuk akan mempengaruhi
besarnya uang yang akan dikeluarkan. Penghasilan adalah gaji tetap
yang
diterima setiap bulan. Penghasilan akan erat kaitannya dengan
kemampuan
orang untuk memenuhi kebutuhan gizi, perumahan yang sehat, pakaian
dan
kebutuhan lain yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan. Status
ekonomi yang rendah menjadi penyebab tidak langsung terjadinya
kematian perinatal.Keluarga yang berpenghasilan kurang kesulitan
dalam mencukupi kebutuhan gizinya sehari-hari. Ibu hamil tidak dapat
memenuhi
kebutuhan gizinya padahal gizi ibu hamil sangat penting. Setiap hari
makan
seadanya saja, yang penting makan tanpa mengetahui makanan yang
dikonsumsi tersebut mengandung nilai gizi atau tidak. Keluarga yang
berpenghasilan rendah juga rata-rata berpendidikan rendah sehingga
tidak
mengerti akan kesehatan pada saat kehamilan, tidak tahu kebutuhan
gizi ibu
hamil dan tidak memeriksa dan merawat kehamilan dengan baik.

2.9.6 Sanitasi Dan Kesehatan Lingkungan


Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik
beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia
(Widyati, 2002). Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara
memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan dari subyeknya.
Misalnya menyediakan air yang bersih untuk keperluan mencuci
tangan, menyediakan tempat sampah untuk mewadahi sampah agar
tidak dibuang sembarangan (Depkes RI, 2004).

2.9.7 Rumah Sehat


Rumah adalah struktur fisik atau bangunan sebagai tempat
berlindung, dimana lingkungan dari struktur tersebut berguna untuk
kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk
kesehatan keluarga dan individu (WHO dalam Keman, 2005).
Rumah sehat merupakan bangunan tempat tinggal yang
memenuhi syarat kesehatan yaitu rumah yang memiliki jamban yang
sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana
pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, kepadatan hunian rumah
yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah (Depkes RI,
2003). Dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat
berlindung dan beristirahat yang menumbuhkan kehidupan sehat secara
fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat
memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Beberapa faktor yang
mempengaruhi keadaan lingkungan sekitar rumah (Azwar, 1996) :
1. Lingkungan di mana masyarakat itu berada, baik fisik,
biologis, lingkungan sosial, seperti adat, kepercayaan dan
lainnya, banyak memberikan pengaruh pada bentuk rumah
yang didirikan.
2. Tingkat sosial ekonomi masyarakat, ditandai dengan
pendapatan yang dipunyai, tersedianya bahan-bahan bangunan
yang dapat dimanfaatkan dan atau dibeli. Suatu masyarakat
yang makmur, secara relatif akan mempunyai perumahan yang
lebih baik, dibanding dengan masyarakat miskin.
3. Tingkat kemajuan teknologi yang dimiliki, terutama teknologi
bangunan. Masyarakat yang telah maju teknologinya, mampu
membangun perumahan yang lebih komplek dibandingkan
dengan masyarakat yang masih sederhana.
4. Kebijaksanaan pemerintah tentang perumahan menyangkut
tataguna tanah, program pembangunan perumahan (Rumah
Sederhana, Rumah Susun (Rusun), Rumah Toko (Ruko),
Rumah Kantor (Rukan)

2.9.8 Kriteria Rumah Sehat


Perumahan sehat merupakan konsep dari perumahan sebagai
faktor yang dapat meningkatkan standar kesehatan penghuninya.
Konsep tersebut melibatkan pendekatan sosiologis dan teknis
pengelolaan faktor risiko dan berorientasi pada lokasi, bangunan,
kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan dan pemeliharaan rumah
dan lingkungan di sekitarnya, serta mencakup unsur apakah rumah
tersebut memiliki penyediaan air minum dan sarana yang memadai
untuk memasak, mencuci, menyimpan makanan, serta pembuangan
kotoran manusia maupun limbah lainnya (Komisi WHO Mengenai
Kesehatan dan Lingkungan, 2001).
Komponen yang harus dimiliki rumah sehat (Ditjen Cipta
Karya, 1997) adalah :
1. Fondasi yang kuat untuk meneruskan beban bangunan ke tanah
dasar, memberi kestabilan bangunan, dan merupakan
konstruksi penghubung antara bagunan dengan tanah
2. Lantai kedap air dan tidak lembab, tinggi minimum 10 cm dari
pekarangan dan 25 cm dari badan jalan, bahan kedap air, untuk
rumah panggung dapat terbuat dari papan atau anyaman bambu
3. Memiliki jendela dan pintu yang berfungsi sebagai ventilasi
dan masuknya sinar matahari dengan luas minimum 10% luas
lantai
4. Dinding rumah kedap air yang berfungsi untuk mendukung
atau menyangga atap, menahan angin dan air hujan,
melindungi dari panas dan debu dari luar, serta menjaga
kerahasiaan (privacy) penghuninya
5. Langit - langit untuk menahan dan menyerap panas terik
matahari, minimum 2,4 m dari lantai, bisa dari bahan
papan,anyaman bambu, tripleks atau gipsum
6. Atap rumah yang berfungsi sebagai penahan panas sinar
matahari serta melindungi masuknya debu, angin dan air hujan.

2.9.9 Syarat Rumah Sehat


Rumah sehat menurut Winslow dan APHA (American Public
Health Association) harus memiliki syarat, antara lain:
1. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan,
penghawaan (ventilasi), ruang gerak yang cukup, terhindar dari
kebisingan/suara yang mengganggu.
2. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain cukup aman dan
nyaman bagi masing-masing penghuni rumah, privasi yang cukup,
komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni
rumah, lingkungan tempat tinggal yang memiliki tingkat ekonomi
yang relatif sama.
3. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar
penghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja
dan air limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus,
kepadatan hunian yang berlebihan, cukup sinar matahari pagi,
terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran.
4. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik
yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah. Termasuk
dalam persyaratan ini antara lain bangunan yang kokoh, terhindar
dari bahaya kebakaran, tidak menyebabkan keracunan gas,
terlindung dari kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya.
Adapun aspek komponen rumah yang memenuhi syarat rumah
sehat adalah :
1. Langit-langit
Adapun persayaratan untuk langit-langit yang baik adalah
dapat menahan debu dan kotoran lain yang jatuh dari atap, harus
menutup rata kerangka atap serta mudah dibersihkan.
2. Dinding
Dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat dinding
sendiri, beban tekanan angin dan bila sebagai dinding pemikul
harus dapat memikul beban diatasnya, dinding harus terpisah dari
pondasi oleh lapisan kedap air agar air tanah tidak meresap naik
sehingga dinding terhindar dari basah, lembab dan tampak bersih
tidak berlumut.
3. Lantai
Lantai harus kuat untuk menahan beban diatasnya, tidak licin,
stabil waktu dipijak, permukaan lantai mudah dibersihkan.
Menurut Sanropie (1989), lantai tanah sebaiknya tidak digunakan
lagi, sebab bila musim hujan akan lembab sehingga dapat
menimbulkan gangguan/penyakit terhadap penghuninya. Karena
itu perlu dilapisi dengan lapisan yang kedap air seperti disemen,
dipasang tegel, keramik. Untuk mencegah masuknya air ke dalam
rumah, sebaiknya lantai ditinggikan 20 cm dari permukaan
tanah.
4. Pembagian ruangan / tata ruang
Setiap rumah harus mempunyai bagian ruangan yang sesuai
dengan fungsinya. Adapun syarat pembagian ruangan yang baik
adalah :
a) Ruang untuk istirahat/tidur Adanya pemisah yang baik
antara ruangan kamar tidur orang tua dengan kamar
tidur anak, terutama anak usia dewasa. Tersedianya
jumlah kamar yang cukup dengan luas ruangan
sekurangnya 8 m2 dan dianjurkan tidak untuk lebih dari
2 orang agar dapat memenuhi kebutuhan penghuninya
untuk melakukan kegiatan.
b) Ruang dapur Dapur harus mempunyai ruangan
tersendiri, karena asap dari hasil pembakaran dapat
membawa dampak negatif terhadap kesehatan. Ruang
dapur harus memiliki ventilasi yang baik agar
udara/asap dari dapur dapat teralirkan keluar.
c) Kamar mandi dan jamban keluarga Setiap kamar mandi
dan jamban paling sedikit memiliki satu lubang
ventilasi untuk berhubungan dengan udara luar. Gb.
Sketsa rumah 3 dimensi yang Dapat dihuni Oleh 2-3
oran
5. Ventilasi
Ventilasi ialah proses penyediaan udara segar ke dalam suatu
ruangan dan pengeluaran udara kotor suatu ruangan baik alamiah
maupun secara buatan. Ventilasi harus lancar diperlukan untuk
menghindari pengaruh buruk yang dapat merugikan kesehatan.
Ventilasi yang baik dalam ruangan harus mempunyai syarat-syarat,
diantaranya :
a) Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai
ruangan. Sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat
dibuka dan ditutup) minimum 5%. Jumlah keduanya
menjadi 10% kali luas lantai ruangan.
b) Udara yang masuk harus udara bersih, tidak dicemari oleh
asap kendaraan, dari pabrik, sampah, debu dan lainnya.
c) Aliran udara diusahakan Cross Ventilation dengan
menempatkan dua lubang jendela berhadapan antara dua
dinding ruangan sehingga proses aliran udara lebih lancar.
6. Pencahayaan
Cahaya yang cukup kuat untuk penerangan di dalam rumah
merupakan kebutuhan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh
dengan pengaturan cahaya alami dan cahaya buatan. Yang perlu
diperhatikan, pencahayaan jangan sampai menimbulkan kesilauan.
Pencahayaan alamiah Penerangan alami diperoleh dengan
masuknya sinar matahari ke dalam ruangan melalui jendela, celah
maupun bagian lain dari rumah yang terbuka, selain untuk
penerangan, sinar ini juga mengurangi kelembaban ruangan,
mengusir nyamuk atau serangga lainnya dan membunuh kuman
penyebab penyakit tertentu (Azwar, 1996).
7. Luas Bangunan Rumah
Luas bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di
dalamnya, artinya luas bangunan harus disesuaikan dengan jumlah
penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah
penghuninya akan menyebabkan kepadatan penghuni
(overcrowded). Hal ini tidak sehat, disamping menyebabkan
kurangnya konsumsi oksigen, bila salah satu anggota keluarga
terkena penyakit infeksi akan mudah menular kepada anggota
keluarga yang lain. Sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat,
dikatakan memenuhi syarat jika 8 m2 / orang.

Dilihat dari aspek sarana sanitasi, maka beberapa sarana


lingkungan yang berkaitan dengan perumahan sehat adalah sebagai
berikut :

1) Sarana Air Bersih Air bersih adalah air yang digunakan untuk
keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan
dan dapat diminum apabila telah dimasak. Di Indonesia standar
untuk air bersih diatur dalam Permenkes RI No.
01/Birhubmas/1/1975 (Chandra, 2009). Dikatakan air bersih jika
memenuhi 3 syarat utama, antara lain :
a. Syarat fisik Air tidak berwarna, tidak berbau, jernih
dengan suhu di bawah suhu udara sehingga
menimbulkan rasa nyaman.
b. Syarat kimia Air yang tidak tercemar secara berlebihan
oleh zat kimia, terutama yang berbahaya bagi
kesehatan.
c. Syarat bakteriologis Air tidak boleh mengandung suatu
mikroorganisme. Misal sebagai petunjuk bahwa air
telah dicemari oleh faces manusia adalah adanya
E.colli.
2) Jamban (sarana pembuangan kotoran) Pembuangan kotoran yaitu
suatu pembuangan yang digunakan oleh keluarga atau sejumlah
keluarga untuk buang air besar. Cara pembuangan tinja,
prinsipnya yaitu :
a. Kotoran manusia tidak mencemari permukaan tanah.
b. Kotoran manusia tidak mencemari air permukaan / air
tanah.
c. Kotoran manusia tidak dijamah lalat.
d. Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
e. Konstruksi jamban tidak menimbulkan kecelakaan.

Ada 4 cara pembuangan tinja (Azwar, 1996), yaitu :


a) Pembuangan tinja di atas tanah
Pada cara ini tinja dibuang begitu saja diatas
permukaan tanah, halaman rumah, di kebun, di tepi sungai
dan sebagainya. Cara demikian tentunya sama sekali tidak
dianjurkan, karena dapat mengganggu kesehatan.
b) Kakus lubang gali (pit privy)
Dengan cara ini tinja dikumpulkan kedalam lubang
dibawah tanah, umumnya langsung terletak
dibawah tempat jongkok. Fungsi dari lubang adalah
mengisolasi tinja sehingga tidak memungkinkan
penyebaran bakteri. Kakus semacam ini hanya baik
digunakan ditempat dimana air tanah letaknya dalam.
c) Kakus Air (Aqua pravy)
Cara ini hampir mirip dengan kakus lubang gali, hanya
lubang kakus dibuat dari yang kedap air yang berisi air,
terletak langsung dibawah tempat jongkok. Cara
kerjanya merupakan peralihan antara lubang kakus
dengan septic tank Fungsi dari tank adalah untuk
menerima, menyimpan, mencernakan tinja serta
melindunginya dari lalat dan serangga lainnya.

d) Septic Tank Septic Tank


Merupakan cara yang paling dianjurkan. Terdiri dari
tank sedimentasi yang kedap air dimana tinja dan air
masuk dan mengalami proses dekomposisi yaitu proses
perubahan menjadi bentuk yang lebih sederhana
(penguraian).
3) Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah
tangga, industri, dan tempat umum lainnya dan biasanya mengandung
bahan atau zat yang membahayakan kehidupan manusia serta
mengganggu kelestarian lingkungan (Chandra, 2007). Menurut Azwar
(1996) air limbah dipengaruhi oleh tingkat kehidupan masyarakat,
dapat dikatakan makin tinggi tingkat kehidupan masyarakat, makin
kompleks pula sumber serta macam air limbah yang ditemui. Air
limbah adalah air tidak bersih mengandung berbagai zat yang bersifat
membahayakan kehidupan manusia ataupun hewan, dan lazimnya
karena hasil perbuatan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, sumber
air limbah yang lazim dikenal adalah :
1. Limbah rumah tangga, misalnya air dari kamar mandi dan
dapur.
2. Limbah perusahaan, misalnya dari hotel, restoran, kolam
renang.
3. Limbah industri.
4) Sampah
Sampah adalah semua produk sisa dalam bentuk padat, sebagai
akibat aktifitas manusia, yang dianggap sudah tidak bermanfaat.
(Entjang, 2000) berpendapat agar sampah tidak membahayakan
kesehatan manusia, maka perlu pengaturan pembuangannya, seperti
tempat sampah yaitu tempat penyimpanan sementara sebelum sampah
tersebut dikumpulkan untuk dibuang (dimusnahkan). Syarat tempat
sampah terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga
tidak mudah bocor, kedap air. Harus ditutup rapat sehinga tidak
menarik serangga atau binatang- binatang lainnya seperti tikus, kucing
dan sebagainya.