Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Vulnus laceratum adalah luka robek (1) dengan tepi tidak rata disertal

kerusakan epidermis dan jaringan yang diakibatkan trauma tumpul yang

keras sehingga mengganggu elastisitas kulit. (2)

Vulnus laceratum dapat kita jumpai pada kejadian kecelakaan lalu

lintas sehingga kontinuitas jaringan terputus dengan bentuk luka tidak

beraturan dan kotor, kedalaman luka bisa menembus lapisan mukosa

hingga lapisan otot. (3)

Cedera mendudukl peringkat 8 dar 15 penyebab kematian. Seain itu

kematian akibat cedera dan 5,1 juta meningkat hingga 8,4 juta. Proporsi

pada cedera-cedera tersebut ialah 59.6% cedera akibat jatuh, 27% akibat

kecelakaan, dan 18.3% akibat terluka benda tajam/turnpuI. (4) Di Amerika

angka kejadian vulnus laceratum masih sangat tinggi yaitu 7,3 juta kasus

per tahun. (5) Di Indonesia prevalensi kejadian luka robek sebesar 23,2%.(6)

Di Maluku angka kejadian vulnus laceratum pada tahun 2012 sebesar 327

kasus. (7)

Komplikasi dan penyembuhan luka timbul dalam manifestasi yang

berbeda-beda. Komplikasi yang luas timbul dan pembersihan luka yang

tidak adekuat, keterlambatan pembentukan jaringan granulasi, tidak

adanya reepitelisasi dan juga akibat komplikasi post operatif dan adanya
2

infeksi. (3) Beberapa komplikasi yang mungkhtejadi adalah: hematoma,

keloid, jaringan parut hipertrofik, infeksi, dan kontraktur yang kadang-

kadang pembentukannya terletak di suatu tempat tertentu sehingga

menyebabkan gangguan fungsi yang menetap. (9)


3

BAB II

Tinjauan Pustaka

Landasan Teori

1. Vulnus Laceratum

a. Definisi

Vulnus laceratum adalah luka robek (1) dengan tepi tidak rata disertai

kerusakan epidermis dan jaringan yang diakibatkan trauma tumpul yang

keras sehingga mengganggu elastisitas kulit. (2)

b. Anatomi Kulit

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan yang membatasi

dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2 dengan

berat kira-kira 15% berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan

vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat

kompleks, elastis dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks,

ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh. Warna kulit berbeda-beda, dan

kulit yang berwarna terang (fair skin), pirang dan hitam, warna merah muda

pada telapak kaki dan tangan bayi, serta wama kecokiatan pada genitalia

orang dewasa. Demikian pula kulit bervariasi mengenai lembut, tipis dan

tebalnya, kulit yang elastis dan longgar terdapat pada palpebra, bibir, dan

preputium, kulit yang tebal dan tegang terdapat di telapak kaki dan tangan

dewasa. Kulit yang tipis terdapat pada wajah, yang lembut pada leher dan

badan, dan yang berambut kasar terdapat pada kepala. 10


4

Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu:

1. Lapisan Epidermis atau kutikel,

2. Lapisan Dermis (korium, kutis vera, true skin)

3. Lapisan subkutis (hipodermis).

Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis

ditandai dengan adanya jaringan ikat Ionggar dan adanya sel dan jaringan

Iemak.10

1) Lapisan Epidermis terdin atas: Stratum Korneum, Stratum Lusidum,

Stratum Granulosum, Stratum Spinosum, dan Stratum Basale.

a) Stratum Komeum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit yang paling

luar dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak

berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat

tanduk).

b) Stratum Lusidum terdapat langsung di bawah lapisan komeum,

merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma

yang berubah menjadi protein yang disebut eleiden. Lapisan

tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki.

c) Stratum Granulosum (lapisan keratohialin) merupakan 2 atau 3

lapis selsel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat

inti di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin.

Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini. Stratum granulosum

juga tampak jelas di telapak tangan dan kaki.10


5

d) Stratum Spinosum (stratum Maiphigi) atau disebut pula prickle cell

layer (lapisan akanta) terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk

poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya prosese

mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung

glikogen, dan inti terletak di tengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat

ke permukaan makin gepeng bentuknya. Diantara sel-sel stratum

spinosum terdapat jembatan-jembatan antar sel (intercellular

bridges) yang terdirl atas protoplasma dan tonofibril atau keratin.

Perlekatan antar jembatanjembatan ini membentuk penebalan

bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero. Di antara sel-sel

spinosum terdapat pula sel Langerhans. Sel-sel stratum spinosum

mengandung banyak gIikogen.10

e) Stratum Basale terdiri atas sel-sel berbentuk kubus (kolumnar)

yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris

seperti pagar (palisade). Lapisan ini merupakan lapisan epidermis

yang paling bawah. Sel-sel basal ini mengadakan mitosis dan

berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdirl atas dua jenis sel yaitu: sel-

sel yang berbentuk kolumnar dengan prtoplasma basofihik inti

lonjong dan besar, dihubungkan satu dengan yang lain oleh

jembatan antar sel serta sel pembentuk melanin (melanosit) atau

clear cell merupakan sel-sel berwama muda, dengan sitoplasma

basofihik dan inti gelap, dan mengandung butir pigmen

(meIanosomes).11
6

2) Lapisan Dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih

tebal dan pada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastis dan

fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara

garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni:

1) Pars Papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi

ujung serabut saraf dan pembuluh darah.

2) Pars Retikulare, yaitu bagian di bawahnya yang menonjol ke arah

subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang

misalnya serabut kolagen, elastin, dan retikulin. Dasar (matriks)

lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan kondroitin

sulfat, di bagian ini terdapat pula fibroblas. Serabut kolagen

dibentuk oleh fibroblas, membentuk ikatan (bundel) yang

mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda

bersifat lentur dengan bertambahnya umur menjadi kurang larut

sehingga makin stabil. Retikutin mirip kolagen muda. Serabut

elastin biasanya bergelombang, berbentuk amoif dan mudah

mengembang serta Iebih eIastis.11

3) Lapisan Subkutis adalah kelanjutan dermis, terdiri atas janngan ikat

longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak merupakan

sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak

yang bertambah. Sel-sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan

satu dengan yang lain oleh trabekula yang fibrosa Lapisan sel-sel

lemak disebut panikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan


7

makanan. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh

darah, dan getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama

bergantung pada Iokalisasinya. Di abdomen dapat mencapai

ketebalan 3 cm, di daerah kelopak mata dan penis sangat sedikit.

Lapisan lernak mi juga merupakan bantalan (11)

Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang terletak

di bagian atas dermis (pleksus superfisial) dan yang terletak di subkutis

(pleksus profunda). Pleksus yang di dermis bagian atas mengadakan

anastomosis di papil dermis, pleksus yang di subkutis dan di pars retikulare

juga mengadakan anastomosis, di bagian ini pembuluh darah berukuran

lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat saluran getah

bening.11

Adneksa kulit terdirl atas kelenjar-kelenjr kulit, rambut, dan kuku.

1) Kelenjar kulit terdapat di lapisan dermis, terdiri atas:

a) Kelenjar Keringat (Glandula Sudorifera)

Ada dua macam kelenjar keringat, yaltu kelenjar ekrin yang kecil-kecil,

terletak dangkal di dermis dengan sekret yang encer, dan kelenjar apokrin

yang Iebih besar, terletak Iebih dalam dan sekretnya lebih kental. Kelenjar

ekrin telah dibentuk sempuma pada 28 minggu kehamilan dan baru

berfungsi 40 minggu selelah kelahiran. Saluran kelenjar ini berbentuk spiral

dan bermuara Iangsung di permukaan kulit. Terdapat di seluruh permukaan

kulit dan terbanyak di telapak tangan dan kaki, dahi, dan aksita. Sekresi
8

bergantung pada beberapa faktor dan dipengaruhi oleh saraf kolinergik,

faktor panas, dan stres emosional. Kelenjar apokrin dipengaruhi oleh saraf

adrenergik, terdapat di aksila, areola mame, pubis, labia minora, dan

saluran telinga luar. Fungsi apokrin pada manusia belum jelas, pada waktu

lahir kecil, tetapi pada pubertas mulai membesar dan mengeluarkan sekret.

Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan glukosa. Biasanya pH

sekitar 4 - 6,8.(11)

b) Kelenjar Palit (Glandula Sebasea)

Terletak di seluruh permukaan kulit manusia kecuali di telapak tangan

dan kaki. Kelenjar palit disebut juga kelenjar holokrin karena tidak berlumen

dan sekret kelenjar ini berasal dan dekompensasi sel-sel kelenjar. Kelenjar

palit biasanya terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat

pada lumen akar rambut (folikel rambut). Sebum mengandung trigliserida,

asam lemak bebas, skualen, wax ester, dan kolesterol. Sekresi dipengaruhi

oleh hormon androgen, pada anak-anak jumlah kelenjar palit sedikit, pada

pubertas menjadi lebih besar dan banyak serta mulai berfungsi secara

aktif.(11)

c) Kuku

Adalah bagian terminal lapisan tanduk yang menebal. Kuku antara lain

terbentuk dan keratin protein yang kaya akan sulfur. Pada kulit di bawah

kuku terdapat banyak pembuluhkapiler yang memiliki suplai darah kuat

sehingga menimbulkan warna kemerah-merahan. Seperti tulang dan gigi,


9

kuku merupakan bagian terkeras dan tubuh karena kandungan airnya

sangat sedikit. Pertumbuhan kuku jari tangan dalam satu minggu rata-rata

0,5 - 1,5 mm empat kali lebih cepat dan pertumbuhan kuku jan kaki. (11)

d) Rambut

Merupakan struktur berkeratin panjang yang berasal dari invaginasi

epitel epidermis. Rambut ditemukan diseluruh tubuh kecuali pada telapak

tangan, telapak kaki, bibir, glans penis, klitoris dan labia minora.

Pertumbuhan rambut pada daerah-daerah tubuh sepenti kulit kepala, muka,

dan pubis sangat dipengaruhi tidak saja oleh hormon kelamin-terutarna

androgen-tetapi juga oleh hormon adrenal dan hormon tiroid. Seliap rambut

berkembang dan sebuah invaginasi epidermal, yaitu folikel rambut yang

selama masa pertumbuhannya mempunyai pelebaran pada ujung disebut

bulbus rambut. Pada dasar bulbus rambut dapat dilihat papila dermis.

Papila dermis mengandung jalinan kapiler yang vital bagi kelangsungan

hidup folikel rambut. Ada dua macam tipe rambut, yaitu rambut lanugo dan

rambut terminal. Komposisi rambut terdiri atas karbon 50,60%, hidrogen

6,36%, nitrogen 17,14%, sulfur 5,0%, dan oksigen 20,80%. Rambut dapat

dibentuk dengan mempengaruhi gugus disulfida misalnya dengan panas

atau bahan kimia. (11)


10

Gambar I. Skin Anatomy

Sumber : WHO, Skin Anatomy, 2012

c. Fisiologi Kulit

1) Pengaturan Suhu Tubuh

Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh :

a) Kecepatan metabolism basal

Kecepatan metabolism basal tiap idividu berbeda-beda. Hal ini memberi

dampak jumlah panas yang diprodiksi tubuh menjadi berbeda pula.


11

Sebagaimana disebutkan pada uralan sebelumnya, sangat terkait dengan

laju metabolisme.(12)

b) Rangsangan saraf simpatis

Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan

metabolisme menjadi 100% Iebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf

simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk

dimetabolisme. Hampir seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi

panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stres individu

yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang

meningkatkan metabolisme.(13)

c) Hormon pertumbuhan

Hormon pertumbuhan (growth hormone) dapat menyebabkan

peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi

panas tubuh juga meningkat.(12)

d) Hormon tiroid

Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hampir semua reaksi

kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat

mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal. (12)

e) Hormon kelamin

Hormon kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme

basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan pen ing katan prod
12

uksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dan pada laki-

laki karena pengeluaran hormon progesteron pada masa ovulasi

meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 0,6C di atas suhu basal. (12)

f) Demam (peradangan)

Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan

metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10C. (12)

g) Status gizi

Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme

20-30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang

dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang

mengalami malnutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh

(hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung

tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang

cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan

sepertiga kecepatan jaringan yang lain. (12)

h) Aktivitas

Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme,

mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan

energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga

38,3-40,0 C. (12)
13

i) Gangguan organ

Iewsakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus,

dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami

gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saat terjadi infeksi

dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah

kelenjar kenngat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme

pengaturan suhu tubuh terganggu. (12)

j) Lingkungan

Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya

panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat Iingkungan yang lebih

dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh

manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi

sebagian besar melalui kuIit.(12)

Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas

diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke plexus

arten kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak

otot. Kecepatan abran dalam plexus artenovenosa yang cukup tinggi

(kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi

panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit

merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh. (12)

Mekanisme Kehilangan Panias Melalui Kulit


14

1) Radiasi

Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk

gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan

dan tubuh memiliki panjang gelombang 5 - 20 mikrometer. Tubuh manusia

memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi

merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%)

atau 15% dan seluruh mekanisme kehilangan panas. (12)

Panas adalah energi kinetik pada gerakan molekul. Sebagian besar

energi pada gerakan ini dapat di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih

dingin dari kulit. Sekah suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara

menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya

proses pergerakan udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin

dan suhu tubuh. (12)

2) Konduksi

Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit

dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses

kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan

dengan benda umumnya membeni dampak kehilangan suhu yang kecil

karena dua mekanisme, yaltu kecenderungan tubuh untuk terpapar

langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dan pada paparan dengan

udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan panas

tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus. (12)


15

3) Evaporasi

Evaporasi (penguapan air dari kulit) dapat memfasilitasi perpindahan

panas tubuh. Seliap satu gram air yang mengalami evaporasi akan

menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilo kaloni. Pada

kondisi individu tidak berkeningat, mekanisme evaporasi benlangsung

sekitar 450 - 600 mI/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus

menerus dengan kecepatan 12 - 16 kalon perjam. Evaporasi ini tidak dapat

dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus

menerus melalui kulit dan sistem pernafasan. (12)

Selama suhu kulit lebih tinggi dan pada suhu lingkungan, panas hilang

melalui radiasi dan konduksi. Namun ketika suhu Iingkungan lebih tinggi

dan suhu tubuh, tubuh memperoleh suhu dan lingkungan melalui radiasi

dan konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh melepaskan

panas adalah melalui evaporasi. (12)

Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh, sebenamya

suhu tubuh aktual (yang dapat diukur) merupakan suhu yang dihasilkan dan

keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan proses kehilangan

panas tubuh dan lingkungan. (12)

4) Usia

Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh akibat mekanisme

hormonal sehingga memben efek tidak langsung terhadap suhu tubuh.

Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas melalui


16

pemecahan (metabolisme) lemak cokiat sehingga terjadi proses

termogenesis tanpa menggigil (non-shivering thermogenesis). Secara

umum, proses ini mampu meningkatkan metabolisme hingga lebih dari

100%. Pembentukan panas melalui mekanisme ini dapat teijadi karena

pada neonatus banyak terdapat lemak cokiat. Mekanisme ini sangat penting

untuk mencegah hipotermi pada bayi. (12)

Menurut Tamsuri Anas (2007), suhu tubuh dibagi menjadi:

Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dan 36C

Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36- 37,5C

Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 - 40C

Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dan 40C

d. Histologi Kulit

Integumen atau kulit merupakan jaringan yang menutupi permukaan

tubuh yang terdiri atas 2 lapisan yaitu epitel yang disebut epidermis dan

Jaringan pengikat yang disebut dermis atau corium. (14)

Epidermis berasal dan ektoderm dan dermis berasal dan mesoderm.

Dibawah kulit terdapat lapisan jaringan pengikat yang lebih longgar disebut

hipodermis yang pada beberapa tempat banyak mengandung jaringan

lemak. (14)
17

Pada beberapa tempat kulit melanjutkan menjadi tunica mucosa

dengan suatu perbatasan kulit-mukosa (mucocutaneus junction).

Perbatasan tersebut dapat ditemukan pada bibir, lubang hidung, vulva,

preputium, dan anus. Kulit merupakan bagian dan tubuh yang meliputi

daerah luas dengan berat sekitar 16% dan berat tubuh. Fungsi kulit selain

menutupi tubuh, juga mempunyal beberapa fungsi lain, maka selain struktur

epitel dan jaringan pengikat tersebut masih dilengkapi bangunan tambahan

yang disebut appendix kulit, dimana meliputi : glandula sudorifera (kelenjar

keringat), glandula sebacea (kelenjar minyak), folikel rambut, dan kuku.

Permukaan bebas kulit tidaklah halus, tetapi ditandai adanya alur-alur halus

yang membentuk pola tertentu yang berbeda pada berbagai tempat.

Demikian pula permukaan antara epidermis dan dermis tidak rata karena

adanya tonjolan-tonjolan jaringan pengikat ke arah epidermis. (14) Walaupun

batas antara epidermis dengan janngan pengikat /corium dibawahnya jelas,

tetapi serabut jaringan pengikat tersebut akan bersatu dengan serabut

jaringan pengikat di bawah kulit. Ketebalan kulit tidaklah sama pada

berbagai bgian tubuh. Tebalnya kulit tersebut dapat disebabkan karena

ketebalan dua bagian kulit atau salah satu bagian kulit. Misalnya pada

daerah intraskapuler kulitnya sangat tebal sampai Iebih dan 0,5 cm,

sedangkan di kelopak mata hanya selebal 0,5 mm. (14) Rata-rata tebal kulit

adalah 1-2 mm. Berdasarkan gambaran morfologis dan ketebalan

epidermis, kulit dibagi menjadi kulit tebal dan kulit Tipis. Walaupun kulit

tebal mempunyai epidermis yang tebal, tetapi keseluruhan kulit tebal belum
18

tentu ebih tebal dan kulit tipis. Kulit tebal ini terdapat pada volar manus dan

plantar pedis yang tidak memiliki folikel rambut. Pada permukaan kulit

tampak garis yang menonjol dinamakan cnsta cutis yang dipisahkan oleh

alur-alur dinamakan sulcus cutis. (14)

Gambar II. Skin Histology

Sumber : Eroschenko , 2010

Pada mulanya cutis tadi mengikuti tonjolan corium di bawahnya tetapi

kemudian dan epidermis sendiri teriadi tonjolan ke bawah sehingga

terbentuklah papilla corii yang dipisahkan oleh tonjolan epidermis. Pada

tonjolan epidermis antara dua papilla coril akan berjalan ductus excretorius

glandula sudorifera untuk menembus epidermis. (14)


19

Gambar III. Skin Histology

Sumber : Eroschenko , 2010

1) Epidermis

Dalam epidermis terdapat dua sistem: sistem malpighi, bagian

epidermis yang sel-selnya akan mengalami keratinisasi dan sistem

pigmentasi, yang berasal dan crista neuralis dan akan memberikan

melanosit untuk sintesa melanin. Disamping sel-sel yang termasuk dua

sistem tersebut terdapat sel lain, yaitu sel Langerhans dan sel Markel yang

belum jelas fungsinya. Struktur histologis pada epidermis dapat dibedakan

5 stratum, yaitu: (14)


20

Gambar IV. Skin Histology

Sumber : Eroschenko , 2010

a) Pigmentosum atau stratum germinativum

Karena pating banyak tampak adanya mitosis sel-sel. Sel-sel lapisan ini

berbatasan dengan janngan pengikat corium dan berbentuk silindris atau

kuboid. Di dalam sitoplasmanya terdapat butir-butir pigmen. (14)

b) Stratum spinosum

Lapisan ini bersama dengan stratum basale disebut pula stratum

malpighi atau stratum germinativum karena sel-selnya menunjukkan

adanya mitosis sei Sel-sel dan stratum basale akan mendorong sel-sel di

atasnya dan berubah menjadi poIihedrat. (14)


21

c) Sratum spinosum

Terdin atas beberapa lapisan sel-sel yang berbentuk polihedral dan

pada pemeriksaan dengan mikroskop cahaya pada tepi sel menunjukkan

tonjolan-tonjolan seperti duri-duri. Semuta tonjolan-tonjolan tersebut

disangka sebagai jembatan interseluler dengan di dalamnya terdapat

tonofibril yang menghubungkan garis sel yang satu ke sel yang Iain. (14)

d) Stratum granulosum

Lapisan ini terdiri atas 2-4 sel yang tebalnya di atas stratum spinosum.

Bentuk sel seperti betah ketupat yang memanjang sejajar permukaan. Sel

yang terdalam berbentuk seperti sel pada strarum spinosum hanya

didalamnya mengandung butir-butir. Butir-butir yang terdapat sitoplasma

Iebih terwama dengan hematoxylin (butir-butir keratohialin) yang dapat

dikelirukan dengan pigmen. Adanya butir-butir keratohyatin semula diduga

berhubungan dengan proses keratinisasi, tetapi tidak selalu dijumpai dalam

proses tersebut, misalnya pada kuku. Makin ke arah permukaan butir-butir

keratin makin bertambah disertal inti sel pecah atau tarut sama sekali,

sehingga sel sel pada stratum granulosum sudah dalam keadaan mati.14

e) Stratum lucidum

Tampak sebagal garis bergelombang yang jemih antara stratum

granulosum dan stratum corneum. Terdiri atas beberapa lapisan sel yang

telah gepeng tersusun sangat padat. Bagian yang jernih ini mengandung

zat eteidin yang diduga merupakan hash dan keratohiatin. (14)


22

f) Stratum Corneum

Pada volar manus dan plantar pedis, lapisan ini sangat tebal yang terdiri

atas banyak sekali lapisan sel-sel gepeng yang telah mengalami komifikasi

atau keratinisasi. Hubungan antara sel sebagai duri-duri pada stratum

spinosum sudah tidak tampak lagi. Pada permukaan, lapisan tersebut akan

mengelupas (desquamatio) kadang-kadang disebut sebagai stratum

disjunctivum. (14)

e. Epidemiologi

Perbandingan angka kejadian vulnus laceratum yang teqadi di dunia,

Indonesia, dan kota Palu adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Angka Kejadian Vulnus laceratum di Dunia

NO PENULIS THN LOKASI KEJADIAN AKIBAT

1 Singer & 2008 Amerika 7,3 juta

Dagum Serikat

2 Diligence 2009 Amerika 20,40 juta

Serikat

3 WHO 2011 Dunia 12,8% 8,4 juta

Di Amenka Serikat angka kejadian vulnus laceratum pada tahun 2008

sebesar 7,3 juta, (5) sedangkan pada tahun 2009 sebesar 20,40 juta. (15) Di
23

dunia prevalensi vulnus laceratum sebesar 12,8% dengan angka kecacatan

sebesar 8,4 juta. (4)

Tabel 2. Angka Kejadian Vulnus laceratum di Indonesia

NO PENULIS THN LOKASI KEJADIAN

1 Wijanarko 2005 Jogjakarta 41%

2 Angela, dkk 2010 Manado 38 kasus

3 Angela, dkk 2011 Manado 55 kasus

4 Dinkes Maluku 2012 Maluku 214 kasus

5 Kementerian 2013 Indonesia 23,2%

Kesehatan RI

Di Jogjakarta angka kejadian vulnus Iaceratum sebesar 41%. (16) Di Manado

Sulawesi utara sebesar 38 kasus pada tahun 2010, dan 55 kasus pada

tahun 2011. (17) Di Maluku sebesar 214 kasus, (7) sedangkan di Indonesia

prevalensi luka robek pada tahun 2013 sebesar 23,2%. (6)

Tabel 3. Angka Kejadian Vulnus laceratum di Palu

NO PENULIS THN LOKASI KEJADIAN

1 RSU 2014 Palu 200 kasus

Anutapura
24

Dari catatan pasien dan Bagian Bedah RSU Anutapura Palu tahun 2014

angka kejadian vulnus laceratum sebesar 212 kasus. (8)

f. Etiologi

Vulnus laceratum dapat disebabkan oleh karena terjadi kekerasan

benda tumpul, goresan, jatuh, serta kecelakaan sehingga kontinuitas

janngan terputus. (3)

g. Manitestasi Klinis

1) Rubor (kemerahan) dan kalor (panas) diakibatkan oleh respon jaringan

yang rusak dan sel mast melepaskan histamin dan mediator lain seperti

bradikinin, prostaglandin, dan leukotrien sehingga menyebabkan

vasodilatasi dan pembuluh darah sekellling yang masih utuh serta

meningkatnya penyediaan darah ke daerah yang mengalami

kerusakan.

2) Dolor (nyeri) akibat serat-serat otot atau tendon yang jumlahnya

terbatas mengalami robekan.

3) Tumor (bengkak) dan functio laesa (hilangnya fungsi) diakibatkan oleh

peningkatan permeabilitas kapiler-kapiler darah dan cairan yang kaya

akan protein mengalir kedalam spasium interstisial sehingga

menyebabkan edema lokal dan hilangnya fungsi dan daerah yang

mengalami kerusakan.

4) Kekakuan dan adanya pembatasan gerak sendi serta berkurangnya

kekuatan pada daerah yang mengalami kerusakan. (3)


25

h. Diagnosis

Diagnosis pasti vulnus laceratum dapat dtegakkan berdasarkan hal-hal

sebagal berikut:

Pertama-tama dilakukan pemeriksaan secara teliti untuk memastikan

apakah ada perdarahan yang hams dihentikan. Kemudian, tentukan jenis

trauma, tajam atau tumpul, luasnya kematian jaringan, banyaknya

kontaminasi, serta berat nngannya luka. (18)

i. Penatalaksanaan

Dalam management perawatan luka ada beberapa tahap yang

dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan antiseptik pembersihan luka,

penjahitan luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antibiotik dan

pengangkatan jahitan.

1) Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan

eksplorasi).

2) Tindakan Antiseptik, pnnsipnya untuk mensucihamakan kulit. Untuk

melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan

atau larutan antiseptik seperti: larutan yodium povidon 1% dan larutan

klorheksidin %. Larutan yodium 3% atau alkohol 70% hanya

digunakan untuk membersihkan kulit di sekitar luka. Kemudian daerah

sekitar lapangan kerja ditutup dengan kain steril dan secara steril

dilakukan kembali pembersihan luka dan kontaminan secara mekanis.

Misalnya pembuangan jaringan mati dengan gunting atau pisau


26

(debrideman) dan dibersihkan dengan bilasan guyuran atau semprotan

cairan NaCL. Akhirnya dilakukan penjahitan dengan rapi. Bila

diperkirakan akan terbentuk atau dikeluarkan cairan yang berlebihan

perlu dibuat penyaliran (drainase). (19) Luka ditutup dengan bahan yang

dapat mencegah Iengketnya kasa, misalnya kasa yang mengandung

vaselin, ditambah dengan kasa penyerap. Dan dibalut dengan

pembalut elastis.

j. Komplikasi

Komphkasi dalam penyembuhan luka timbul dalam manifestasi yang

berbeda-beda. Komplikasi yang luas timbul dan pembersihan luka yang

tidak adekuat, keterlambatan pembentukan janngan granulasi, tidak

adanya reepitelisasi dan juga akibat komplikasi post operatif dan adanya

infeksi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah: hematoma,

keloid, jaringan parut hipertrofik, infeksi, dan kontraktur. (3)

1) Hematoma

Hematoma timbul dini akibat kegagalan pengendalian pembuluh darah

yang berdarah dan dapat timbul lanjut pada pasien hipertensi atau cacat

koagulasi. Biasanya hematoma dapat dibiarkan hilang spontan tetapi

hematoma yang meluas membutuhkan operasi ulang dan pengendalian

perdarahan.
27

2) Keloid dan janngan parut hipertrofik

Keloid dan jaringan parut hipertrofik timbul karena reaksi serat kolagen

yang berlebihan dalam proses penyembuhan luka. Serat kolagen di sini

teranyam teratur. Keloid yang tumbuh berlebihan melampaui batas luka,

sebelumnya menimbulkan gatal dan cenderung kambuh bila dilakukan

intervensi bedah. Parut hipertrofik hanya berupa parut luka yang menonjol,

nodular, dan kemerahan, yang menimbulkan rasa gatal dan kadang-kadang

nyeri. Parut hipertrofik akan menyusut pada fase akhir penyembuhan luka

setelah sekitar satu tahun, sedangkan keloid justru tumbuh. (3)

3) lnfeksi

lnfeksi luka tetap merupakan komplikasi tersering. Dewasa ini infeksi

luka sering tidak fatal, tetapi dapat menimbulkan cacat. Dua faktor penting

yang jelas berperan pada patogenesis infeksi adalah dosis kontaminasi

bakteri dan ketahanan pasien.

lnfeksi luka terjadi jika luka yang terkontaminasi dijahit tanpa

pembilasan dan eksisi yang memadal. Pada keadan demikian, luka harus

dibuka kembali, dibiarkan terbuka dan penderita diberi antibiotik sesuai

dengan hasil biakan dan cairan luka atau nanah. (3)

4) Kontraktur

Kontraktur jaringan parut di bekas luka atau bekas operasi kadang

sangat mencolok, terutama di wajah, leher, dan tangan. Kontraktur dapat


28

mengakibatkan cacat berat dan gangguan gerak pada sendi, misalnya pada

luka bakar. (3)


29

DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland W. A Newman, editor: Mahode Albertus Agung, dkk. Kamus


Kedokteran Dorland. Edisi 31. Jakarta: EGG: 2010. Hal 2416
2. R Ziemba. First aid in cases of wounds, fractures, as well as thermal
chemical burns. Military Pharmacy and Medicine, 2012
3. De Jong W, Sjamsuhidajat R. Luka: Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3.
Jakarta: EGC; 2011. Hal 95-103.
4. WHO. World Report On Disability. Avalaible from: http://www.who.
int/disabilities/world report/2011/report. pdf. Diakses 3 Februari 2016.
5. Singer Adam J, Dagum Alexander B. Current Management of Acute
Cutaneous Wounds. N Engi J Med 2008; 359:1037-1046.
6. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian
Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). Penerbit
Kementerian Kesehatan RI. Jakarta. 2013. Hal 10
7. Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. Profil Kesehatan Maluku Tahun
2012. Penerbit Departemen Kesehatan RI. 2012. Hal 32
8. RSU Anutapura Palu. Catatan pendenta vulnus laceratum. Palu. 2013-
2014.
9. Robbmns, at al. Penyembuhan Luka: Buku Ajar Patologi. Edisi 7
volume
1. Jakarta; EGG. 2012. Hal 80-84.
10. Djuanda, Adhi, et al. Anatomi Kulit: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Edisi 6. Jakarta: FKUI; 2010. Hal 3-5
11. Buranda Theopilus. dkk. Buku Ajar Anatomi Umum. Makassar: Bagian
Anatomi FK Unhas; 2011.
12. Sherwood L. Fisiologi Kulit: Fisiologi Manusia. Edisi 6. Jakarta: EGC;
2011. Hal 485-488
13. Robbins, at al. Kulit: Buku Ajar Patologi. Edisi 7 volume 2. Jakarta: EGC;
2012. Hal 881-882
30

14. Eroschenko V.P. Histologi Kulit: Atlas Histologi diFiore. Edisi 11.
Jakarta: EGC; 2010. Hal 223-241
15. Diligence, MedMarket. Advanced Medical Technologies. 2009. Diunduh
tanggal 15 Oktober 2011 dan http://medihgence.com
16. Angela Zella Anggy, Tomuka Djemmy Ch, Siwu James. POLA LUKA
PADA KASUS KECELAKAAN LALU LINTAS Dl BLU RSU PROF. DR.
RD KANDOU MANADO PERIODE 2010-2011. Jumal e-Biomedik 1.1.
Manado. 2013.
17. Wongput, Sangrawee, and Vichairat Kamda. The Correlation Between
Duration of Complete Scab Extraction and Size of Graze. Department
of Forensic Medicine, Faculty of Medicine, Chiang Mai University.
Thailand. 2012. Hal. 81-88.
18. Durai Rajaraman. Surgical Vacuum Drains: Types, Uses, and
Complications. 2010. Diakses tgl. 23-07-2014 dari:
isgweb.aorn.org/isgweb//cea10007-4000.pdf
19. Ganesan, S. Wound Healing ACtIVItY of Hemidesmus Indicus
Formulation. Department of Pharmacology, Jawaharlal Institute of
Postgraduate Medical Education and Research. India. 2012. Hal 66-67.