Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

PROSEDUR PERENCANAAN TES


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum.Wr.Wb
Puji syukur saya (penyusun) panjatkan kepada Allah
SWT, karena atas rahmat-Nya yang berlimpah, kami dapat
menyusun makalah ini dengan baik sesuai dengan
kemampuan kami. Tidak lupa pula kami ucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan
kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini. Untuk
selanjutnya kami mengharapkan semoga makalah ini dapat
menambah wawasan bagi kami sendiri dan juga mahasiswa
yang sedang menempuh materi ini.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini jauh
dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan saran dan
kritik agar makalah ini mendekati sempurna, kami sadar
bahwa kesempurnaan hanya milik NYA.
Akhir kata, semoga makalah yang kami susun ini berguna
bagi kita semua.
Amin-amin yarabbal alamin.

Wassalamualaikum.Wr.Wb

Hormat kami,
Tim Makalah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Perencanaan Tes
Tes berasal dari bahasa latin testum yang berarti alat
untuk mengukur tanah. Dalam bahasa kuno , kata tes berarti
ukuran yang dipergunakan untuk membedakan antara emas
dengan perak serta logam lainya.
Sedangkan Sumadi Surybrata, mengartikan Tes adalah :
pernyataan-pernyataan yang harus dijawab dan atau
perintah-perintah yang harus dijalankan, yang mendasarkan
harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan
atau melakukan perintah-perintah itu, penyelidiki mengambil
kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar
atau testee lainya (Sumadi Surybrata, 1984:22)[1]

Tes adalah alat yang direncanakan untuk mengukur


kemampuan, keahlian atau pengetahuan .
Setiap kegiatan belajar harus diketahui sejauh mana
proses belajar tersebut telah memberikan nilai tambah bagi
kemampuan siswa. Salah satu cara untuk melihat
peningkatan kemampuan tersebut adalah dengan melakukan
tes. Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan
yang akan diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban
dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk
tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes
tindakan).[2]

1. Ketentuan Pokok dalam Perencanaan Test


Guru harus memahami tentang pendidikan anak yang
akan dites, kondisi di mana tes akan dilaksanakan dan
sebagainya. Pendek kata, hampir seluruh kepribadian guru
terlibat di dalamnya,bukan hanya diperlukan keterampilan
saja. Itu sebabnya banyak ahli yang mengatakan, bahwa
mengkonstruksi tes lebih bersifat
sebagai Seniatau Art daripada sebagai ilmu pengetahuan
atau science.
Karena itu, jika guru ingin berhasil mengkonstruksi tes,
maka dia harus membuat perencanaan tes dengan teliti.
Dalam hubungan ini ada empat ketentuan pokok yang perlu
diikuti, yakni:
a. Evaluasi dilakukan terhadap semua hasil pengajaran yang
penting
Hasil pengajaran tergambarkan dalam tujuan
instruksional yang hendak dicapai.Itu sebabnya, tujuan
instruksional itu harus dirumuskan secara jelas, spesifik,
dapat diamati dan dapat diukur.Tujuan instruksional
dijabarkan berdasarkan tujuan sekolah (tujuan
instruksional).Tujuan instruksional umum yang telah
digariskan dalam Garis-garis Progam Pengajaran (GBPP)
pada hakekatnya adalah tujuan pelajaran atau bidang
studi.Tujuan-tujuan ini harus dirumuskan menjadi tujuan
instruksional khusus (TIK). Berdasarkan TIK inilah kita
dapat menggariskan dan menunjukkan jeni-jenis tingkah laku
yang perlu dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses
instruksional tertentu. Tercapai tidaknya tujuan-tujuan itu
atau perubahan tingkah laku yang diharapkan itu, baru dapat
ketahui setelah dilakukan serangkaian tes.Jadi perumusan
tujuan yang spesifik bukan saja penting bagi pembinaan
kurikulum yang menentukan prosedur dan alat instruksional,
melainkan juga penting dalam rangka evaluasi hasil
pengajaran.
b. Tes harus merefleksikan hal-hal yang menurut perkiraan
mendapat tekanan tertentu dalam pelajaran.
Tekanan dalam pelajaran dapat dilihat dalam proporsi yang
direncanakan dalam perencanaan tes.Jika bahan terlalu luas
sedangkan waktu yang tersedia singkat, maka perlu
mengadakan sampel terhadap isi bahan. Selain dari itu perlu
ada keseimbangan antara banyaknya pertanyaan dilihat dari
segi isi pelajaran yang akan dites dan tujuan pembelajaran
yang dicapai. Untuk itulah maka sebaiknya guru atau
pembuat tes terlebih dahulu melakukan analisa tugas (Job
analysis).
c. Hakekat tes harus merefleksikan tujuan yang hendak
dicapai oleh tes itu.
Sebenarnya tujuan kita dalam hal ini adalah untuk
menentukan kedudukan tingkah laku siswa sekarang dalam
hubungan standar khusus, bukan dalam hubungan dengan
siswa lain dalam kelompoknya. Tetapi, jika tujuan kita ialah
untuk membandingkan prilaku (performance) siswa dengan
lainnya dalam kelompok yang sama, dengan menggunakan
ukuran relative, maka kita harus menyediakan item-item
yang akan mendistribusikan skor dari tingkat yang tinggi ke
tingkat yang rendah.
Tes itu akan valid jika secara nyata mengukur apa yang
direncanakan untuk diukur. penggunaan ukuran relative
adalah salah satu cara yang terbaik untuk memperbaiki
releabilitas tes, karena itu item-item hendaknya
menimbulkan rentang skor yang luas.
d. Hakekat tes harus mer
efleksikan kondisi-kondisi administrasi di mana tes akan
diadministrasikan.Pertama, kita harus memutuskan beberapa
kali tes akan dilakukan. Kalau kita berpijak pada system
instruksional, maka jelas bahwa penilaian terhadap perilaku
siswa harus dilakukan sepanjang proses instruksional sampai
dengan akhir pelajaran. Kedua, kita harus memutuskan
berapa banyak item yang akan diperlukan sesuai dengan
waktu yang tersedia, banyaknya tujuan yang harus dicapai,
dan banyaknya bahan pelajaran.Ketiga, kita harus
memutuskan bentuk format tes yang akan digunakan.
Apakah akan menggunakan tes essay atau tes objektif,apakah
kita menggunakan bentuk item B-S, pilihan berganda,
menjodohkan dan sebagainya.[3]

2. Perencanaan dalam Menyusun Tes (Langkah-langkah


dalam menyusun tes)
Tes untuk mengukur hasil belajar siswa, memiliki prinsip-
prinsip serta langkah-langkah perencanaan tersendiri. Dalam
merencanakan penyusunan achievement test diperlukan
adanya langkah-langkah yang harus diikuti secara sistematis
sehingga dapat diperoleh tes yang lebih efektif. Dengan
adanya hal ini, diharapkan suatu tes benar-benar dapat
menjadi instrumen yang dapat mengukur apa yang
sebenarnya harus diukur .Para ahli penyusun tes maupun
para pengajar (classroom teacher) umumnya telah
menyepakati langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan atau merumuskan tujuan tes.
2. Mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning outcomes)
yang akan diukur dengan tes itu.
3. Menentukan atau menandai hasil-hasil belajar yang
spesifik
4. Merinci mata pelajaran atau bahan pelajaran yang akan
diukur dengan tes itu.
5. Menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint).
6. Menggunakan tabel spesifikasi tersebut sebagai dasar
penyusunan tes.
Untuk merumuskan tujutn penyusunan tes dengan
baik,seorang guru atau pengajar perlu memikirkan apa tipe
dan fungsi tes yang akan disusunya sehingga selanjutnya ia
dapat menentukan bagaimana karakteristik soal-soal yang
akan dibuatnya. [4]
2. Prinsip-prinsip Dasar Tes Hasil Belajar
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan di dalam
menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut benar-benar
dapat mengukur tujuan pembelajaran. Ada pun prinsip-
prinsip tersebut yaitu:.
1. Tes tersebut dapat mengukur secara jelas hasil belajar
(learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai denga
tujuan instruksional.kejelasan mengenai pengukuran hasil
belajar yang dikehendaki akan memudahkan bagi guru dalam
menyusun butir-butir soal tes.
2. Mengukur sampel yang representatif dari hasil belajar dan
bahan pelajaran yang telah diajarkan.
3. Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-
benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan
sesui dengan tujuan.
4. Di desain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh
hasil yang diinginkan
5. Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah
dinterpretasikan dengan baik
6. Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan
cara mengajar guru.[5]

B. Prosedur Pengembangan Tes


Sebelum menentukan teknik dan alat penilaian, penulis
soal perlu menetapkan terlebih dahulu tujuan penilaian dan
kompetensi dasar yang hendak diukur.
Langkah-langkah penting yang dapat dilakukan sebagai
berikut:
1. Menentukan tujuan penilaian. Tujuan penilaian sangat
penting karena setiap tujuan memiliki penekanan yang
berbeda-beda. Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar,
diagnostik, atau seleksi. Contoh untuk tujuan prestasi belajar,
lingkup materi/kompetensi yang ditanyakan/diukur
disesuaikan seperti untuk kuis/menanyakan materi yang lalu,
pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas
individu/kelompok, ulangan semester, ulangan kenaikan
kelas, laporan kerja praktik/laporan praktikum, ujian praktik.
2. Memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi
dasar (KD). Standar kompetensi merupakan acuan/target
utama yang harus dipenuhi atau yang harus diukur melalui
setiap kompetensi dasar yang ada atau melalui gabungan
kompetensi dasar.
3. Menentukan jenis alat ukurnya, yaitu tes atau non-tes atau
mempergunakan keduanya. Untuk penggunaan tes
diperlukan penentuan materi penting sebagai pendukung
kompetensi dasar. Syaratnya adalah materi yang diujikan
harus mempertimbangkan urgensi (wajib dikuasai peserta
didik), kontinuitas (merupakan materi lanjutan), relevansi
(bermanfaat terhadap mata pelajaran lain), dan keterpakaian
dalam kehidupan sehari-hari tinggi (UKRK). Langkah
selanjutnya adalah menentukan jenis tes dengan menanyakan
apakah materi tersebut tepat diujikan secara tertulis/lisan.
Bila jawabannya tepat, maka materi yang bersangkutan tepat
diujikan dengan bentuk soal apa, pilihan ganda atau uraian.
Bila jawabannya tidak tepat, maka jenis tes yang tepat adalah
tes perbuatan:
kinerja (performance), penugasan (project), hasil
karya (product), atau lainnya.
4. Menyusun kisi-kisi tes dan menulis butir soal beserta
pedoman penskorannya. Dalam menulis soal, penulis soal
harus memperhatikan kaidah penulisan soal.[6]
Pengembangan Spesifikasi Tes
Spesifikasi Tes adalah suatu uraian yang menunjukan
keseluruhan kualitas tes dan ciri-ciri yang harus dimiliki oleh
tes yang akan dikembangkan.
Pengembangan spesifikasi merupakan langkah awal yang
menentukan dalam pengembangan perangkat tes, karena apa
yang menentukan pada langkah-langkah berikutnya sudah
dirancangkan dalam spesifikasi tes.
Hal-hal penting yang dibicarakan dalam
pengembangan spesifikasi tes tersebut adalah:
1. Menentukan tujuan,Untuk menentukan dan merumuskan
tujuan evaluasi dengan jelas, diperlukan kepasyian mengenai
daerah medan psikologi peserta didik yang akan
diukur,karakteristik peserta didik yang akan diukur, dan
kedudukan tujuan tersebut dalam rangka pencapaian tujuan
pendidikan yang lebih tinggi.
2. Menyusun kisi-kisi soal, tujuan penyusunan kisi-kisi
adalah merumuskan setepat mungkin ruang
lingkup,tekanan,dan bagian-bagian tes sehingga perumusan
tersebut dapat menjadi petunjuk yang efektif bagi si
penyusun tes.
3. Memilih tipe-tipe soal, ada bebrapa hal yang perlu
diperhatikan dalam memilih soal,yakni:
a) Kesesuaian antar tipe soal dengan materi pelajaran
b) Kesesuaian antar tipe soal dengan tujuan evaluasi
c) Kesesuaian antar tipa soal dengan skoring
d) Kesesuaian antar tipa soal pengolahan hasil evaluasi
e) Kesesuaian antar tipa soal dengan sdministrasi tes yaitu
penyelenggaraan dan pelaksanaan tes,dan
f) Kesesuaian antar tipa soal dengan dana dan kepraktisan.
4. Merencanakan taraf kesikaran soal, Suatu hal yang
diperhitungkan oleh perancang tes,adalah
mempertimbangkan taraf kesukaran soal. Secara umum taraf
kesukaran soal dapat diketahui secara empirik dari presentase
yang gagal dalam menjawab soal,secara rinci akan dijelaskan
pada analisis item
Kesukaran soal demikian itu hanya dapat diketahui bila
mana soal tersebut telah diujikan. Namun pada bentuk soal
tertentu seperti bentuk uraian; pemberian tugas karya tulis,
sudah dapat diperhitungkan tingkat kesukaranya,yakni
berdasarkan berat-ringanya beban penyelesaian soal tersebut.
Oleh karena itu bagi pendidik dalam merencanakan suatu
tes,sebaiknya butir-butir soal diujicobakan terlebih
dahulu,hasil ujicoba dpat dipakai untuk mengetahui tingkat
kesukaran soalnya.
5. Merencanakn banyak sedikitnya soal, ada beberapa yang
harus diperhatikan dalam merencanakan banyak sedikitnya
soal,yalni:
a) Hubungan banyak sedikitnya soal dengan reliabilitas tes,
b) Hubungan banyak sedikitnya soal dengan bobot
keseluruhan bagian
c) Hubungan banyak sedikitnya soal dengan waktu tes,dan
d) Hubungan banyak sedikitnya soal dengan ujicoba suatu
tes
(Sumadi Srybrata , 1987:18-21)

6. Merencanakan jadwal penerbitan soal, Dalam


mempersiapkan suatu tes, perlu diperhatikan wajtu untuk
menggandakan soal, apalagi jika lembaga pendidikan belum
memiliki tenaga profesional untuk keperluan ini yang
mampu bekerja secara optimal dalam waktu singkat dapat
menggandakan sdoal dalam jumlah yang besar. Disamping
faktor penggandaan menjadi pertimbangan utama bagi
perencanaan tes, perku juga dipoertimbangkkan tingkat
kerumitan soal,sebab soal yang rumit memerlukan keahlian
khusus untuk menyelesaikanya serta memaka waktu lebih
lama.[7]
C. Penulisan Soal
Secara umum, kemampuan khusus yang harus
dimiliki bagi penulis soal adalah:
1. Penguasaan pengetahuan yang diteskan
2. Kesadaran akan tata nilai yang mendasari pendidikan
3. Pemahaman akan karakteristik individu yang dites
4. Kemampuan membahas gagasan
5. Penguasaan akan teknik penulisan soal, dan
6. Kesadaran akan kekuatan dan kelemahan dalam menulis
soal (Sumadi Surybrata, 1987:28)
Fungsi tes tidak semata-mata sebagai alat ukur saja,
melainkan memiliki fungsi motivatif dan pembentukan sikap
bagi peserta didik. Oleh karena itu penulisan soal hendaknya
memahami nilai-nilai yang mendasari pendidikan, seperti
tujuan pendidikan, filsafat pendidikan , sistem pendidikan,
psikologi,garis-garis besarnya saja.
Dalam menulis soal diperlukan kemampuan untuk
membahas gagasan dalam bahasa verbal yang jelas dan
mudah difahami maksudnya, sebab soal merupakan wakil
dari pendidik yang hadir dihadapan peserta didikoleh karena
itu penulisan soal membutuhkan bahas yang lugas dan tidak
berbelit-belit.[8]
Pengembangan Instrumen Evaluasi Jenis Non-Tes
A. Observasi
Observasi adalah proses pengamatan dan pencatatan secara
sistematis,logis,objektif dan rasional menganai berbagai
fenomena , baik dalam situasi yang sebenarnya maupun
dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu.
Tujuan observasi adalah :
1) Untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai satu
fenomena baik yang berupa peristiwa maupun tindakan , baik
dalam situasi sesungguhnya maupun dalam situasi buatan.
2) Untuk mengukur perilaku kelas (baik perilaku guru
maupun perilaku peserta didik), interaksi peserta didik dan
guru,dan faktor-faktor yang dapat diamati lainya, terutama
kecakapan sosial.
Kelebihan observasi :
1) Observasi merupakan alat untuk mengamati berbagai
macam fenomena,
2) Observasi cocok untuk mengamati perilaku-perilaku
peserta didik maupun guru yang sedang melakukan kegiatan.
3) Banyak hal yang tidak dapat diukur dengan tes , tetapi
justru lebih tepat dengan observasi
4) Tidak terikat dengan laporan pribadi.

B. Wawancara (Interview)
Wawancara merupakan salah satu bentuk alat evaluasi jenis
non-tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya
jawab,baik langsung maupun tidak langsung dengan peserta
didik.
Tujuan Wawancara adalah :
1) Untu memperoleh informasi secara langsung guna
menjelaskan suatu hal atau situasi dan kondisi tertentu.
2) Untuk melengkapi suatu penyelidikan ilmiah
3) Untuk memperoleh data agar dapat mempengaruhi situasi
atau orang tertentu.

Kelebihan Wawancara :
1) Dapat berkomunikasi secar langsung kepada peserta didik
sehingga informasi yang diperoleh dapat diketahui
objektifitasnya.
2) Dapat memperbaiki proses hasil belajar
3) Pelaksanaan wawancara dinamis dan fleksibel.

C. Daftar Cek (Check list)


Daftar Cek adalah suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-
aspek yang akan diamati. Daftar cek dapat memungkinkan
guru sebagai penilai mencatat tiap kejadian yang betapapun
kecilnya, tetapi dianggap penting. Ada beberapa macam-
macam aspek perbuatan yang biasanya dicatumkan pada
daftar cek kemadian tinggal memberi tanda centang pada
setiap aspek-aspek tersebut sesuai hasil penilaianya.
Kelebihan Daftar Cek :
1) Membantu guru mengingat-ingat apa yang harus diamati
2) Dapat memberi informasi kepada stakeholder.
Contoh Daftar Cek :
1) Daftar Cek tentang keaktifan peserta didik dalam diskusi
kelompok pada mata pelajaran Pendidiksn
Kewarganegaraan.
No Nama SB B C K SK
1. Nano Waryono
2. Elin Roslina
3. Arie Apriadi
4. Angga Zalindra
5. Ardi Maulana

D. Angket (Quetioner)
Angket termasuk alat untuk mengumpulkan dan mencatat
data atau informasi,pendapat dan paham dalam hubungan
kausal. Angket hampir sama dengan wawancara,kalau angket
dilaksanakan dengan tertulis kalau wawancara dilakukan
dengan lisan.
Kelebiahan Angket :
1) Responden dapat menjawab dengan bebas tanpa
dipengaruhi dengan peneliti atau pun penilai
2) Informasi atau data terkumpul lebih mudah karena
itemnya homogen
3) Dapat digunakan untuk mengumpulkan data dari jumlah
responden yang besar.
Cara menyusun kuesioner adalah sebagai berikut
a. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan
mengisi kuesioner sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.
b. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak
salah. Kalau perlu,diberi contoh.
c. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan
identitas responden . dalam identitas ini sebaiknya tidak di
minta mengisi nama .
d. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau
bagian sesuai dengan fariabel yang diungkapkan sehingga
mudah mengelolanya.
e. Rumusan pertanyaan dibuat singkat,tetapi jelas sehingga
tidak membingungkan dan salah mengakibatkan penafsiran.
f. Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan
pertanyaan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya
dalam satu rangkaiyan yang sistematis.hindari penggolongan
pertanyaan terhadap indicator atau persoalan yang sama.
g. Usahakan kemungkinan agar jawaban kalimat atau
rumusannya tidak boleh panjang dari pada pertanyaannya.
h. Kuensioner yang terlalu panjang akan melelahkan dan
membosankan responden sehingga pengisiannya tidak
objektif lagi.
i. Ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan
pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.
E. Skala Penilaian (Rating Scale)
Daftar dalam cek penilai hanya dapat mencatat ada tidaknya
variabel tingkah laku tertentu ,sedangkan dalam skala
penilaian fenomena yang akan dinilai itu disusun dalam
tingkatan-tingkatan yang telah ditentukan.
Contoh :
Nama :
Kelas :
Umur :
Sekolah :
Hari :
Tanggal :
No
Tanggal
ST T S R SR
Aspek yang
Dinilai
1. Sopan Santun
2. Racun Dunia
3. Bersikap Ramah
4. Pemberani
5. Pemarah
6. Egois
7. Agresif

Jadi dalam Skala Penilaian tidak hanya mengukur secara


mutlak ada atau tidaknya variabel tertentu, tetapi lebih jauh
mengukur bagaimana intensitas gejala yang ingin diukur.[9]

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN:
a. Ketentuan Pokok dalam Perencanaan Test
1. Evaluasi dilakukan terhadap semua hasil pengajaran yang
penting
2. Tes harus merefleksikan hal-hal yang menurut perkiraan
mendapat tekanan tertentu dalam pelajaran.
3. Hakekat tes harus merefleksikan tujuan yang hendak
dicapai oleh tes itu.
4. Hakekat tes harus merefleksikan kondisi-kondisi
administrasi di mana tes akan diadministrasikan

b. Prinsip-prinsip Dasar Tes Hasil Belajar:


1. Tes tersebut dapat mengukur secara jelas hasil belajar
(learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai denga
tujuan instruksional.kejelasan mengenai pengukuran hasil
belajar yang dikehendaki akan memudahkan bagi guru dalam
menyusun butir-butir soal tes.
2. Mengukur sampel yang representatif dari hasil belajar dan
bahan pelajaran yang telah diajarkan.
3. Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-
benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan
sesui dengan tujuan.
4. Di desain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh
hasil yang diinginkan
5. Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah
dinterpretasikan dengan baik
6. Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan
cara mengajar guru.
c. Penulisan Soal
Secara umum, kemampuan khusus yang harus dimiliki
bagi penulis soal adalah:
1. Penguasaan pengetahuan yang diteskan
Kesadaran akan tata nilai yang mendasari pendidikan
2. Pemahaman akan karakteristik individu yang dites
3. Kemampuan membahas gagasan
4. Penguasaan akan teknik penulisan soal, dan
5. Kesadaran akan kekuatan dan kelemahan dalam menulis
soal

DAFTAR PUSTAKA

Thoha,Chabib,Teknik Evaluasi Pendidikan,2003,Jakarta :


PT.Raja Grfindo Persada
Oemar,Hamalik, Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan,
1989, Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Purwanto,Ngalim,Prinsip-prinsip dan tekhnik
pengajaran,2004,Bandung:PT Remaja Resda Karya,hlm 30
Sudijono,Anas,Pengantar Evaluasi
Pendidikan,2003,Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada
Arifin, Zainal.Evaluasi Pembelajaran.2009.Bandung:PT
Remaja Rosdakarya