Anda di halaman 1dari 37

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Maraknya kosmetik racikan dokter yang diberikan kepada pasien dinilai dapat
membahayakan konsumen. Dua zat kimia yang sering ditambahkan dalam kosmetik adalah
hidrokuinon dan merkuri, karena kemampuan zat tersebut untuk menghambat pembentukan melanin
pada permukaan kulit dan menjadikan kulit putih mulus dalam waktu yang relatif singkat (Syafnir et
al., 2011).

Kosmetik berbentuk krim yang mengandung hidrokuinon banyak digunakan untuk


menghilangkan bercak-bercak hitam pada wajah. Daya kerja pemucatan hidrokuinon sangat lambat
dan akan lebih cepat dengan kadar yang lebih tinggi, tetapi kadar yang tinggi akan memberikan efek
samping yang tidak diinginkan (Ibrahim et al., 2004).

Hidrokuinon lebih dari 2% merupakan golongan obat keras yang penggunaannya berdasarkan
resep dokter. Kadar hidrokuinon yang melebihi 5% dapat menimbulkan kemerahan dan rasa terbakar
pada kulit. Bahaya pemakaian obat keras ini tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi
kulit, kulit kemerahan, rasa terbakar, kelainan ginjal, kanker darah dan kanker hati. Pemakaian yang
berlebih dapat menyebabkan iritasi kulit, namun jika dihentikan seketika akan berefek lebih buruk.
Kadar hidroquinon dalam krim yang beredar di pasaran hanya diperbolehkan 2%, lebih dari itu
dipergunakan sebagai obat (BPOM RI, 2007).

Karena masyarakat percaya sepenuhnya kepada dokter spesialis yang menanganinya,


seringkali tidak peduli apakah kosmetik yang diberikan telah terdaftar di BPOM atau belum.
Kesadaran dokter juga diperlukan sehingga tidak hanya mendahulukan profit tapi juga keamanan.
Masyarakat yang hanya melihat hasil tanpa melihat efek juga tidak pernah tahu bahwa ternyata
kosmetik yang digunakan mengandung zat kimia yang berbahaya. Banyaknya dokter yang
memberikan kosmetik racikan untuk konsumen yang tidak diketahui dengan jelas kandungan dalam
sediaan krim kosmetik tersebut, diduga dapat membahayakan konsumen.

Hal ini diakibatkan kecenderungan penggunaan hidrokuinon dan merkuri dalam sediaan
kosmetik racikan dokter. Untuk menghindari terjadinya efek yang tidak diinginkan, maka peneliti
menguji kosmetik racikan dokter untuk dianalisis kandungan hidrokuinon dalam krimm sediaannya.
Karena \ zat tersebut dapat membahayakan kesehatan konsumen.Penetapan kadar hidrokuinon ada
beberapa metode yang dapat digunakan, diantaranya dengan Titrasi Redoks (DepKes, 1995),
Spektrofotometri UV (Pedro et al., 2007), Kolorimetri (Ibrahimet al., 2004), Thin Layer
Chromatography (Siddique et al., 2012), High Perform Liquid Chromatography (BPOM, 2005), Gas
Chromatography Mass Spectrofotometry (Saito et al., 1994), Miselar Elektro Kromatografi
(Jangseokim dan Youngseong Kim, 2005) dan Capillary Electrochromatography (Desiderio et al.,
2000).

Untuk analisis hidrokuinon menggunakan alat HPLC karena dapat dilakukan pada suhu
ruang, kolom dapat digunakan berulang, cepat, dan mudah dioperasikan secara otomatis (Harmita,
2005).
1.2 Batasan Masalah

Pada penelitian ini, masalah hanya dibatasi pada :

1. Sampel yang diteliti adalah krim malam pada beberapa merk yang diracik oleh dokter di wilayah

Cileduk, Cirendeu, Bintaro dan Depok

2. Zat yang akan ditetapkan kadarnya adalah hidrokuinon

1.3 Rumusan Masalah

1. Apakah dalam 4 sampel krim racikan dokter mengandung hidrokuinon ?

2. Berapakah kadar hidrokuinon yang terdapat dalam 4 sampel yang diuji ?

3. Apakah kadar hidrokuinon yang terdapat dalam krim racikan dokter tersebut masih berada pada

batas yang diizinkan pemerintah ?

1.4 Tujuan Penelitian

1. Menganalisis kadar hidrokuinon dalam kosmetik racikan dokter

2. Menilai apakah krim racikan dokter yang dianaisis masih dalam taraf Aman

1.5 Hipotesa Penelitian

1. Diduga beberapa krim kosmetik racikan dokter yang banyak digunakan mengandung hidrokuinon
dan atau merkuri.

2. Diduga adanya kandungan hidrokuinon yang melebihi batas yang diperbolehkan dalam krim
kosmetik racikan dokter

1.6 Manfaat Penelitian

a. Memberi informasi pada masyarakat agar berhati-hati dalam menggunakan kosmetik yang
digunakan terutama yang tidak teregistrasi di BPOM

b. Masyarakat lebih berhati-hati dalam menggunakan kosmetik racikan dokter

c. Memberi masukan kepada pemerintah supaya lebih ketat untuk mengawasi keamanan kosmetik
racikan dokter
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kosmetik

2.1.1 Definisi Kosmetik

Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang untuk digunakan

pada bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin

bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya

tarik, mengubah penampilan, memperbaiki bau badan, melindungi atau

memelihara tubuh pada kondisi baik (BPOM RI, 2011).

2.1.2 Penggolongan Kosmetik (Iswari, 2007)

Kosmetik dapat digolongkan berdasarkan kegunaan bagi kulit :

1. Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetic)

a. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser), misalnya sabun, susu pembersih wajah dan
penyegar kulit (freshner)

b. Kosmetik untuk melembabkan kulit (mouisturizer), misalnya mouisterizer cream, night cream

c. Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen foundation, sun block
cream/lotion

d. Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling), misalnya scrub cream yang berisi
butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai pengampelas (abrasiver)

e. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser), misalnya sabun, susu pembersih wajah dan
penyegar kulit (freshner).

2. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)

Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga

menghasilkan penampilan yang lebih menarik. Dalam kosmetik riasan, peran

zat pewarna dan zat pewangi sangat besar.

2.2 Krim

2.2.1 Definisi Krim

Krim merupakan suatu sediaan berbentuk setengah padat mengandung satu atau lebih bahan
kosmetik terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai, berupa emulsi kental mengandung
tidak kurang 60 % air ditujukan untuk pemakaian luar (Anief, 2000). Formulasi krim ada dua, yaitu
krim air dalam minyak (A/M), misalnya cold cream dan minyak dalam air (M/A), misalnya vanishing
cream (Yanhendri, 2012).
2.2.2 Contoh Formula Krim

Contoh krim A/M (Yahendri, 2012 dan Katsure et al., 2008)

R/ Cerae alba 5

Cetacei 10

Olei olivarum 60

Aquadest add 100

R/ liquid parafin 60

White bees wax 20

Borax 0,1

Parfum ad

Aquadest add 19 ml

Contoh krim M/A (Anief, 2000)

R/ acedi stearinici 15

Cerae albi 2

Vaselini albi 8

Triethanolamine 1,5

Propylene glycoli 8

aquadest add 65,5

2.2.3 Beberapa Data Kelarutan Komponen Dalam Krim

Cera alba : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol

95% dingin, larut dalam kloroform, eter hangat, minyak

lemak dan minyak atsiri (DepKes, 1979).

Parafin liquid : Praktis tidak larut dalam air, dan etanol 95%, larut dalam

kloroform dan eter (DepKes, 1979).

Hard paraffin : Praktis tidak larut dalam air, dan etanol 95%, larut dalam

kloroform (DepKes, 1979).

Cetaceum : Praktis tidak larut dalam air, dalam etanol 95% dingin, larut dalam 20 bagian etanol 95%
mendidih, koroform, eter, karbon disulfida, minyak lemak dan minyak atsiri (DepKes,1979).
Olive oil : Sukar larut dalam etanol 95%, mudah larut dalam kloroform dalam eter dan minyak tanah
(DepKes, 1979)

Triethanolamine : Mudah larut dalam air, kloroform dan etanol 95% (DepKes,1979)

Vaselin album : Praktis tidak larut dalam air, dan etanol, larut dalam kloroform, eter, minyak tanah
(DepKes, 1979)

Asam stearat : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagaian etanol 95%, 2 bagian klroform dan
3 bagian eter (DepKes, 1979)

Propilen glikol : Bercampur dengan air, etanol 95% dan kloroform, larut dalam 6 bagian eter, tidak
bercampur dengan minyak tanah dan minyak lemak (DepKes, 1979)

Setil alkohol : Tidak larut dalam air, larut dalam etanol dan eter, kelarutan bertambah dengan naiknya
suhu (DepKes, 1995)

Gliserin : Bercampur dengan air dan etanol, tidak larut dalam eter, koroform, minyak lemak dan
minyak atsiri (DepKes, 1995)

Gom arab : Larut dalam 2 bagian air, praktis tidak larut dalam etanol dan eter (DepKes, 1979)

Karbomer : Larut dalam air, etanol dan gliserol (DepKes, 1995)

Tokoferol : Praktis tidak larut dalam air, sukar larut dalam alkali, larut dalam etanol 95%, eter, aseton
dan miyak nabati,sangat mudah larut dalam kloroform (DepKes, 1979)

Niasin amida : Mudah larut alam air, etanol dan gliserol (DepKes, 1979)

Krim tipe A/M biasanya menggunakan surfaktan seperti, sabun polivalen, span, adeps lannae
dan cera. Sedangkan untuk krim dengan tipe M/A biasanya menggunakan sabun monovalen seperti,
trietanolamin stearat, Na stearat, kalium stearat, amonium stearat, tween, natrium lauril sulfat, kuning
telur, CMC, emulgidum, pectinum dan gelatin (Anief, 2000).

2.3 HPLC (High Performance Liquid Chromatography)

2.3.1 Definisi HPLC

Kromatografi cair berperforma tinggi (High Performance Liquid Chromatography, HPLC)


merupakan salah satu teknik kromatografi untuk zat cair yang disertai dengan tekanan tinggi. Dilihat
dari peralatannya HPLC termasuk kromatografi kolom karena fase diam terpacking dalam kolom.
HPLC digunakan untuk memisahkan molekul berdasarkan perbedaan afinitasnya terhadap zat padat
tertentu. Cairan yang akan dipisahkan merupakan fasa cair dan zat padatnya merupakan fasa diam

(stasioner). Teknik ini sangat berguna untuk memisahkan beberapa senyawa sekaligus karena setiap
senyawa mempunyai afinitas selektif antara fasa diam tertentu dan fasa gerak tertentu. Dengan
bantuan detektor serta integrator kita akan mendapatkan kromatogram. Kromatogram memuat waktu
tambat serta tinggi puncak suatu senyawa (Ketut, 2010).

2.3.2 Kelebihan HPLC (Ketut, 2010)

HPLC dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Kelebihan HPLC
dibandingkan dengan jenis kromatografi lain adalah :
a. Dapat dilakukan pada suhu kamar

b. Kolom dan pelarut pengembang dapat digunakan berkali-kali

c. Detektor HPLC dapat divariasikan dan mempunyai banyak jenis

d. Waktu analisis pada umumnya relatif singkat

e. Ketepatan dan ketelitian relatif tinggi

f. Mudah dioperasikan secara otomatis

2.3.3 Komponen HPLC (Ketut, 2010)

Secara garis besar instrumentasi HPLC terdiri dari :

a. Pelarut

Pelarut merupakan fase gerak. Pemilihan fase gerak berdasarkan pada

sampel yang digunakan.

b. Kolom

Kolom berisi fase diam. Fasa diam yang biasa digunakan adalah kolom C18 yang bersifat non polar
dan fasa geraknya bersifat polar. Jenis pemisahan ini disebut dengan kromatografi partisi fasa terbalik.

Senyawa yang polar akan keluar terlebih dahulu sehingga memiliki waktu retensi yang relatif kecil
sedangkan senyawa non polar akan ditahan lebih lama oleh fasa diamnya

c. Pompa

Pompa berfungsi untuk mengalirkan fase gerak melewati fase diam untuk membawa sampel yang ada
dalam fase diam.

d. Detektor

Detektor yang digunakan dalam HPLC adalah detektor UV, radiasi UV, fluoresens, refraktif index
dan detektor NMR yang baru dikembangkan

e. Injektor

Injektor HPLC yang dipakai secara umum adalah :

1. Injektor dengan memakai diafragma (septum injector)

2. Injektor tanpa memakai diafragma (septumless injection system)

3. Injektor dengan pipa dosis (loop valve)

4. Sistem injeksi otomatis (autoinjector)

2.5.1 IdentitasHidrokuinon

Golongan : Kuinon (BPOM, 2011)


2.5.2 Persyaratan Kadar

Bahan baku hidrokuinon mengandung tidak kurang dari 99% dan tidak lebih dari 10,5% C6H4(OH)2
dihitung terhadap zat anhidrat (Depkes, 1995)

2.5.3 Data Fisikokimia

Pemerian :Berbentuk jarum halus, putih, mudah menjadi gelap dengan adanya paparan cahaya dan
udara (DepKes, 1995)

Jarak lebur :172 - 1740 C (DepKes, 1995)

Titik didih :285 0C 287 0C (DHHS, 2009)

Kelarutan :Mudah larut dalam air, alkohol dan eter (DepKes, 1995)

Stabilitas :Stabil pada tekanan dan suhu normal stabil, tidak menyatu dengan oksidator kuat, basa
kuat, O2, Fe. Sensitif terhadap cahaya dan udara (BPOM, 2011)

Efek samping :Efek samping hidrokinon dapat menimbulkan dermatitis kontak dalam bentuk bercak
warna putih pada wajah atau sebaliknya. Menimbulkan reaksi hiperpigmentasi. Gejala awal dapat
berupa iritasi kulit ringan, panas, menyebabkan luka bakar, merah,menyengat, eritmia, gatal, atau
hitam pada wajah akibat kerusakan sel melanosit (BPOM RI, 2011).
2.5.4 Metode Analisis hidrokuinon

a. Titrasi redoks

Hidrokuinon merupakan suatu reduktor dengan potensial elektrokimia E0. +268 mV. Pada
titrasi oksidasi reduksi, hidrokuinon akan melepaskan elektron (mengalami oksidasi) sementara titran
akan mengalami reduksi karena mengikat elektron. Prosedur analisis hidrokuinon secara titrasi redoks
menurut Farmakope Indonesia edisi IV:

Timbang seksama sampel sebanyak 250 mg, larutkan dalam campuran 100 ml air dan 10 ml
asam sulfat 0,1 N, tambahkan 3 tetes difenilamin dan titrasi dengan serium IV sulfat 0,1 N hingga
warna merah lembayung. Lakukan penetapan blanko dengan 1 ml serium IV sulfat 0,1 N setara
dengan 5,506 mg C6H6O2 (DepKes, 1995).

b. Spektrofotometri UV-Vis (Garcia et al., 2007 )

Hidrokuinon memiliki gugus kromofor sehingga dapat dianalisa dengan menggunakan alat
spektrofotometri UV-Vis. Cara yang dilakukan untuk analisa hidrokuinon dengan metode ini adalah :

Diukur panjang gelombang secara spektrofotometri ultraviolet pada panjang gelombang 200 -
400 nm. Sedangkan untuk menghitung kadar hidrokuinon dalam sampel dihitung dengan
menggunakan kurva baku dengan persamaan regresi :

y = a bx

c. Kromatografi Lapis Tipis (Siddique et al., 2012)

Analisis hidrokuinon menggunakan fase diam yang bersifat polar dan fase diam yang bersifat
nonpolar. Kuantitas hidrokuinon dihitung dengan membandingkan luas puncak bercak sampel
terhadap bercak standar menggunakan alat densitometri yang diukur pada panjang gelombang
maksimumnya. Fase gerak yang dapat digunakan adalah :

1. Metanol-kloroform (50:50) (DepKes,1995)

2. Heksana-aseton (3:2) (Siddique et al., 2012)

d. HPLC (High Permormance Liquid Chromatography)

Sistem kromatografinya merupakan kromatografi fase terbalik. dimana fase diam bersifar non
polar dengan fase gerak bersifar polar. Berikut merupakan contoh kondisi kromatografi untuk
penetapan kadar hidrokuinon menggunakan HPLC :

Fase gerak : Etanol-air (55:45)

Sistem kromatografi :Detektor 295 nm, kolom ODS (Oktadesil Silika) (25cm x 4,6 mm),

laju alir 1,5 ml/menit

Kadar hidrokuinon dalam sampel diperoleh dengan membandingkan luas puncak larutan sampel
dengan standar hidrokuinon (siddique et al., 2012)
e. Misellar Electrokinetic Chromatography

Metode ini menggunakan surfaktan seperti SDS (Sodium Dodesil Sulfat) dan CTAB (Cetil
Trimetil Ammonium Bromida) untuk menigkatkan resolusi dengan interaksi hidrofobik antara inti
hidrofobik dalam misel dengan analit. Sistem kromatografinya menggunakan kolom kapiler fused
dengan detector UV (Jangseokminet al., 2005).

f. Capillary Electrochromatography (Desiderio et al., 2000)

Merupakan tekhnik analisis terbaru yang menggunakan kapiler fused silica dengan kombinasi
mekanisme elektroporetik dan kromatografi. Analit dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan partisi
dalam fase gerak dan fase diam. Metode ini dapat digunakan untuk menganalisa analit netral maupun
analit yang bermuatan.

g. Kolorimetri (Ibrahim et al., 2004)

Metode ini menggunakan pereaksi floroglusin untuk penentuan kadar hidrokuinon dalam krim
pemucat. Kondisi pengukuran dioptimumkan berdasarkan penentuan pengaruh konsentrasi natrium
hidroksida, penentuan pengaruh lama pemanasan dan suhu optimum serta penentuan pengaruh jumlah
pereaksi floroglusin. Hasil yang diperoleh kemudian diambil sebagai prosedur baku dalam reaksi
warna. Teknik kolorimetri mempunyai keunggulan karena senyawa yang bersama dengan
hidrokuinon yang mengabsorbsi radiasi didaerah ultraviolet tidak akan mengganggu pengukuran
serapan radiasi pada sinar tampak

2.7 Kulit

2.7.1 Definisi Kulit

Kulit adalah organ terbesar pada tubuh manusia dan merupakan garis pertahanan utama dari
serangan infeksi yang berasal dari luar. Merupakan organ yang paling terlihat dari tubuh (Davies,
1998)..

2.7.2 Struktur Kulit ( Sloane, 2003)

Secara garis besar kulit tersusun atas 3 lapisan :

a. Lapisan epidermis

Lapisan epidermis adalah bagian terluar kulit. Tersusun dari jaringan epitel bertingkat yang
mengalami keratinasi Berdasarkanketebalan epidermis, dapat dibedakan kulit tebal dan kulit tipis.
Turunan epidermis meliputi rambut, kuku, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Lapisan epidermis
terdiri dari stratum korneum, stratu lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum, stratum basal.

b. Lapisan dermis

Lapisan dermis dipisahkan dari lapisan epidermis dengan adanya membran dasar atau lamina
yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat yang berasal dari mesoderm, terletak di bawah lapisan
epidermis dan jauh lebih tebal dari epidermis. Lapisan ini terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa padat
dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar, lapisan dermis dibagi menjadi
dua bagian yaitu pars papilar dan pars retikular. Pada lapisan ini tedapat sel-sel saraf dan pembuluh
darah.
c. Lapisan subkutis atau hipodermis

Lapisan ini terdiri atas jaringan ikat longgar yang mengikat kulit secara longgar pada organ-
organ di bawahnya, yang memungkinkan kulit di bagian atas bergeser. Lapisan ini mengandung sel-
sel lemak.

2.7.3 Jenis Kulit (Tresna, 2010)

Kulit digolongkan menjadi 4 jenis yang pokok yaitu : kulit normal,

berminyak, kering dan campuran.

a. Kulit normal

Kulit jenis ini merupakan kulit yang sehat dimana kelenjar lemak memproduksi minyak tidak
berlebihan, sehingga tidak menimbulkan penyumbatan pada pori-pori kulit. Tanda-tanda kulit normal
antara lain : kulit lembut, halus, segar, bercahaya, sehat, poripori tidakkelihatan, tonus (daya kenyal)
kulit bagus. Kulit normal biasanya dijumpai pada anak-anak sampai menjelang remaja.

b. Kulit berminyak

Kulit berminyak disebabkan oleh sekresi kelenjar sebasea yang berlebihan. Ciri ciri kulit
berminyak adalah kulit kelihatan basah dan mengkilat, pori-pori jelas terlihat,sering terdapat jerawat
atau acne,kulit terlihat pudar dan kusam. Kulit berminyakumumnya terdapat pada usia remaja dan
dewasa.

c. Kulit kering

Kulit kering sering terdapat pada orang dewasa dan orang-orang yang telah lanjut usianya.
Penyebabnya adalah akibat ketidakseimbangan sekresi sebum. Ciri-ciri kulit kering antara lain: bagian
tengah muka normal, disekitar pipi dan dahi kering,tidak lembab dan tidak berminyak, halus, tipis dan
rapuh. Kulit kering cepat menjadi tua karena kelenjar lemak tidak berfungsi dengan baik.

d. Campuran

Jenis kulit campuran, yakni bagian tengah muka (sekitar hidung,dagu dan dahi) kadang-
kadang berminyak atau normal. Sedangkan bagian lain normal atau kering. Dapat terjadi pada semua
umur, tetapi lebih sering terdapat pada usia 35 tahun keatas.
2.7.4 Faktor Yang Mempengaruhi Jenis Kulit (Tresna, 2010)

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perubahan jenis kulit, antara lain sebagai berikut
:

1. Usia

Usia dapat mempengaruhi perubahan jenis kulit seseorang. Suatu contoh, seseorang yang pada masa
anak-anak mempunyai jenis kulit normal setelah remaja kulitnya menjadi berminyak. Demikian pula
pada masa muda mempunyai jenis kulit berminyak setelah tua kulitnya menjadi kering.
2. Makanan dan minuman

Perubahan jenis kulit, dapat disebabkan jenis makanan yang dikonsumsi. Misalnya makanan
berlemak, panas, pedas, atau minuman es dapat mengubah kulit dari normal menjadi berminyak.
Sebaliknya makan masam, minuman keras atau beralkohol dapat mengubah kulit normal menjadi
kering

3. Iklim

Iklim dapat menyebabkan perubahan jenis kulit. Pada iklim panas, kulit bisa berubah menjadi
berminyak, sedangkan pada iklim dingin kulit bisa menjadi kering

2.8 Tekhnik Sampling

2.8.1 Definisi Sampel dan Sampling

Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi sebagian dari keseluruhan objek penelitian
yang dianggap mewakili seluruh populasi. Sedangkan sampling merupakan proses dalam menyeleksi
porsi dari populasi untuk mewakili populasi (Nasution R, 2003)

2.8.2 Tekhnik Pengambilan Sampel (Setiawan, 2005)

Teknik pengambilan sampel dibagi atas 2 kelompok besar, yaitu :

1. Random sampling atau sampel acak/probability sampling

Pada pengambikan sampel secara random, setiap unit populasinya mempunyai kesempayan
yang sama untuk diambil sebagai sampel. keuntungan tekhnik ini adalah :

a. Derajat kepercayaan sampel dapat ditentukan

b. Beda penaksiran parameter populasi dengan statistik sampel dapat diperkirakan

c. Besar sampel yang akan diambil dapat dihitung secara statistik

Lima cara pengambilan sampe secara random, yaitu sebagai

berikut :

1. Sampel random sederhana

Dilakukan dengan memberi kesempatan yang sama pada setiap anggota populasi untuk
menjadi anggota sampel. Cara ini mempunyai keuntungan prosedur yang lebih mudah namun
membutuhkan daftar seluruh populasi dan biaya transportasi yang cukup besar.

2. Sampel random sistematik

Proses pengambilan sampel, setiap urutan dari titik awal yang dipilih secara random.
Pengambilan sampel dengan cara ini membutuhkan perencanaan dan penggunaan yang mudah karena
sampel tersebar pada daerah populasi namun membutuhkan daftar populasi yang lengkap.
3. Sampel random berstrata

Populasi dibagi strata-strata (sub populasi), kemudian pengambilan sampel dilakukan dalam
setiap strata baik secara simple random sampling maupun secara sistematik. Cara ini bisa
mendapatkan taksiran mengenai karakteristik populasi lebih tepat namun harus membutuhkan daftar
populasi setiap strata

4. Sampel random berkelompok

Dilakukan terhadap sampling unit, dimana sampling unit terdiri dari satu kelompok (cluster)
yang setiap individu dalam kelompok yang dipilih akan diambil sebagai sampel. Cara pengambilan
sampel ini tidak memerlukan daftar populasi namun prosedur pengambilan tergolong lebih sulit.

5. Sampel bertingkat

Proses pengambilan sampel dilakukan secara bertingkat, bertingkat dua ataupun lebih. Cara
ini hanya membutuhkan sedikit biaya transportasi namun mempunyai prosedur kerja yang sulit dan
perencanaan yang lebih cermat

2. Non probability sampling (selected sample)

Cara ini dipergunakan apabila biaya sangat sedikit, hasil yang

diminta segera, dan tidak memerlukan ketepatan yang tinggi.

Ada 3 cara sampling ini :

1. Purposive sampling

Atas dasar pertimbangan peneliti yang menganggap unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam
anggota sampel yang diambil.

2. Accidental sampling

Atas dasar perandaian, tanpa direncanakan terlebih dahulu. Jumlah sampel yang dikehendaki
tidak berdasarkan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan, asal memenuhi keperluan saja.

kesimpulan yang diperoleh bersifat kasar dan sementara.

3. Quota sampling

Berdasarkan pertimbangan peneliti, namun besar dan

kriteria sampel telah ditentukan terlebih dahulu. cara ini dilakukan

jika peneliti benar-benar mengenal daerah dan situasi dimana

penelitian akan dilakukan.

2.9 Validasi Metode (Harmita, 2004)

Validasi metoda analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap

parameter tertentu, berdasarkan percobaan laboratorium, untuk


membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk

penggunaannya.

Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam

validasi metode analisis diuraikan dan didefinisikan sebagaimana cara

penentuannya diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Kecermatan (accuracy)

Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan

hasil analis dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan

dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) analit yang

ditambahkan.

Kecermatan hasil analis sangat tergantung kepada sebaran galat

sistematik di dalam keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu untuk

mencapai kecermatan yang tinggi hanya dapat dilakukan dengan cara

mengurangi galat sistematik tersebut seperti menggunakan peralatan

yang telah dikalibrasi, menggunakan pereaksi dan pelarut yang baik,

pengontrolan suhu, dan pelaksanaannya yang cermat, taat asas sesuai

prosedur

3. Selektivitas (Spesifisitas)

Selektivitas atau spesifisitas suatu metode adalah kemampuannya

yang hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama

dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam matriks sampel.

Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan

(degree of bias) metode yang dilakukan terhadap sampel yang

mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran, hasil urai,

senyawa sejenis, senyawa asing lainnya, dan dibandingkan terhadap

hasil analisis sampel yang tidak mengandung bahan lain yang

ditambahkan

4. Linearitas dan rentang


Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan

respon yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi

matematik yang baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam

sampel. Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi

analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan,

keseksamaan, dan linearitas yang dapat diterima

5. Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang

dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan

dengan blangko. Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas

kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan

sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat

memenuhi kriteria cermat dan seksama.

6. Ketangguhan Metode (ruggedness)

Ketangguhan metode adalah derajat ketertiruan hasil uji yang

diperoleh dari analisis sampel yang sama dalam berbagai kondisi ujinormal, seperti laboratorium,
analisis, instrumen, bahan pereaksi, suhu,

hari yang berbeda, dan lain-lain. Ketangguhan biasanya dinyatakan

sebagai tidak adanya pengaruh perbedaan operasi atau lingkungan kerja

pada hasil uji. Ketangguhan metode merupakan ukuran ketertiruan pada

kondisi operasi normal antara laboratorium dan antar analis.


BAB 4

METODE PENELITIAN

1.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium kimia obat dan laboratorium penelitian II

di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berlangsung dari bulan Maret 2013

hingga bulan September 2013.

1.2 Tekhnik Pengambilan Sampel


Sampel krim kosmetik yang digunakan untuk penelitian diambil sebanyak 4

sampel secara acak. Sampel diambil dari beberapa wilayah di daerah Cirendeu,

Cileduk, Bintaro dan Depok berdasarkan kecenderungan pemakaian konsumen

yang tinggi terhadap produk tersebut.

1.3 Alat dan Bahan

1.3.1 Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Analisis hidrokuinon

HPLC Dionex yang dilengkapi dengan detektor UV, volume injeksi 20 L ,

kolom analitik ODS/C18 dengan dimensi 4,6 mm x 150 mm. waterbath

dengan temperatur 60

0 C, vortex, membran filter 0,2 m, syring filter 0,2

m, sentrifuge, spatula, pipet ukur, pipet tetes, spuit, mikro pipet 500 L 1

ml, batang pengaduk, timbangan analitik dan alat-alat gelas.

1.3.2 Bahan Analisis hidrokuinon

Standar hidrokuinon, As.stearat, TEA, cera alba, vaselin album, PG,

aquades, aquabides, metanol, 4 sampel krim racikan dokter.

1.4 Prosedur Penelitian Analisis Hidrokuinon

1. Pembuatan fase gerak

Air : metanol (40 : 60), 60 ml metanol dicampurkan dengan 40 ml air

2. Penentuan panjang gelombang maksimum

Larutan standar hidrokuinon dengan konsentrasi 10 ppm, dibuat spektrum

serapan dari panjang gelombang 200 - 400 nm dengan spektrofotometri

UV-Vis. Tentukan panjang gelombang maksimumnya (ASEAN, 2005)

3. Pembuatan standar hidrokuinon

Sebanyak 50 mg standar hidrokuinon ditimbang dan dimasukkan kedalam

labu ukur 50 mL, ditambahkan dengan 25 mL fase gerak kemudian dikocok

dan dicukupkan volumenya hingga tanda batas. Dipipet 5 mL dari larutan


induk dimasukkan dalam 50 mL labu ukur dan ditambahkan fase gerak

hingga tanda batas. Dibuat standar dengan konsentrasi 20 ppm, 30 ppm, 40

ppm, 50 ppm dan 60 ppm. Diinjeksikan kedalam alat HPLC dengan panjang

gelombang 290 nm, laju alir 1 mL/menit dan volume injeksi 20 L. Dibuat

kurva kalibrasinya dengan memplotkan peak area vs konsentrasi, dihitung

nilai LOD dan LOQ (ASEAN, 2005)

4. Pembuatan krim simulasi

R/ Hidrokuinon 12,5 mg

Asam stearat 229 mg

Cera alba 30 mg

Vaselin 122 mg

Propilen glikol 122 mg

TEA 23 mg

Aquades ad 1 g

Lelehkan asam stearat, cera alba dan vaselin diatas water bath

dengan suhu 600 C (M1) sebagai fase minyak. TEA, propilen glikol

dan aquades dipanaskan sebagai fase air (M2). Campurkan M2 pada

M1, digerus hingga homogen hingga dapat membentuk massa krim

kemudian ditambakan hidrokuinon kedalam krim dan digerus hingga

homogen. (Anief, 2000)

5. Preparasi krim simulasi

Sebanyak 12,5 mg krim simulasi ditimbang kemudian dimasukkan dalam

beaker glass 25 mL. dibilas dengan fase gerak hingga tidak ada basis yang

tersisa. Larutan dimasukkan kedalam labu ukur 50 mL, divortex selama 1

menit, diletakkan diatas water bath dengan suhu 600 C selama 15 menit,

dinginkan dalam temperatur ruangan. Ditambah fase gerak hingga tanda

batas 50 mL dalam labu ukur, kemudian dikocok hingga homogen. Larutan

disentrifuge dan disaring dengan membran filter 0,2 m kemudian


diinjeksikan kedalam alat HPLC dengan panjang gelombang 290 nm, laju

alir 1 mL/menit dan volume injeksi 20 L. hasil yang diperoleh dianalisis

dan dihitung % perolehan kembalinya (ASEAN, 2005).

6. Preparasi sampel krim racikan dokter

Sebanyak 1 g sampel krim ditimbang kemudian dimasukkan dalam beaker

glass 25 mL, ditambahkan fase gerak hingga basis tidak ada yang tertinggal

dalam beker sambil dipanaskan. Larutan dimasukkan kedalam labu ukur 50

mL, divortex selama 1 menit, diletakkan diatas water bath dengan suhu 60

0C selama 15 menit, dinginkan dalam temperatur ruangan. Ditambah fase

gerak hingga tanda batas 50 mL dalam labu ukur kemudian dihomogenkan.

Larutan disentrifuge selama 10 menit pada kecepatan 5000 rpm kemudian

disaring dengan membran filter 0,2 m. Filtrat diinjeksikan kedalam alat

HPLC dengan panjang gelombang hingga 290 nm, laju alir 1 mL/menit dan

volume injeksi 20 L. Hasil yang didapat dianalisis kadarnya. Perlakuan

tersebut dilakukan secara duplo (ASEAN, 2005).


BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil percobaan

5.1.1 Hidrokuinon

5.1.1.1 Penentuan panjang gelombang maksimum hidrokuinon


Hidrokuinon memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 290 nm.
Spektrum serapan larutan hidrokuinon 10 ppm dapat dilihat pada lampiran 5.
5.1.1.2 Pemilihan fase gerak dan kondisi optimum HPLC
Fase gerak yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan hasil orientasi yaitu
metanol : air (60 : 40), dengan laju alir 1 mL/menit, volume injeksi 20 L pada
panjang geombang 290 nm, menggunakan kolom C-18 dengan lampu detektor UV.

5.1.1.3 Pembuatan Kurva Kalibrasi Hidrokuinon

Gambar 2. Kurva Kalibrasi Standar Hidrokuinon

Keterangan : a = -0,2246

b = 0,2042

r = 0,9999

5.1.1.4 Uji Perolehan Kembali

Hasil perolehan kembali dari krim simulasi didapat 92,5 % (Lampiran 3 dan 7).

5.1.1.5 Penentuan Kadar Hidrokuinon Dalam Krim Racikan Dokter

Krim A mengandung hidrokuinon sebesar 3,51%, krim B 3,54%, krim C 3,74% dan
krim D 3,47%. (Lampiran 4 dan 8)

5.2 Pembahasan

5.2.1 Hidrokuinon
Hidrokuinon merupakan senyawa kimia berupa Kristal putih berbentuk jarum, tidak berbau,
memiliki struktur kimia C6H6O2 dengan nama kimia 1,4 benzendiol dan mengalami oksidasi
terhadap cahaya dan udara. Senyawa ini digunakan sebagai bahan pemutih dan pencegahan
pigmentasi yang bekerja menghambat enzim tirosinase yang berperan dalam penggelapan kulit
(Ibrahim et al., 2004).

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar hidrokuinon dalam kosmetik racikan dokter juga
menilai apakah krim racikan dokter mengandung kadar hidrokuinon yang melebihi batas. Analisa
ini menggunakan alat HPLC dengan sampel krim racikan dokter yang diambil dengan cara
sampling investigatif. Penggunaan alat HPLC untuk penetapan kadar hidrokuinon dalam krim ini
karena waktu analisis yang relatif cepat, mempunyai ketelitian yang tinggi dan mudah.

Kondisi optimum alat yang digunakan untuk penelitian adalah dengan menggunakan kolom ODS
C18 (Oktadesil Silica), detector UV, fase gerak air : metanol (40 : 60), dilakukan pada panjang
gelombang 290 nm, dengan laju alir 1 mL/menit, dan volume injeksi 20 L.

Penelitian dimulai dengan penentuan panjang gelombang maksimum hidrokuinon menggunakan


alat spektrofotometri UV-VIS karena hidrokuinon selain mempunyai gugus fungsi OH juga
mempunyai gugus kromofor sehingga dapat ditentukan menggunakan alat spektrofotometri UV-
VIS (Harmita, 2006).

Berdasarkan hasil pengukuran panjang gelombang maksimum hidrokuinon diperoleh 290,5 nm


dengan konsentrasi 10 ppm. Namun pada alat HPLC digunakan pada panjang gelombang 290 nm
karena alat HPLC tidak bisa menggunakan tanda koma.

Pembuatan kurva kalibrasi dibuat dengan lima konsentrasi yang berbeda, yaitu 20 ppm, 30 ppm,
40 ppm, 50 ppm dan 60 ppm. Diperoleh nilai r 0,9999 dengan menggunakan persamaan regresi
linier y = -0,2246 + 0,2042x. Nilai r 0,9999 menunjukkan bahwa nilai koofisien korelasi lebihbesar
dari 0,999 sehingga kurva kalibrasi hidrokuinon memberikan nilai linieritas yang baik, dan
penetapan kadar dengan kurva kalibrasi terjamin kebenarannya (Mulja, 2003).

Batas deteksi untuk hidrokuinon adalah 0,396 g/mL, sedangkan batas kuantitasinya adalah 1,322
g/mL. perhitungan dilakukan secara statistik melalui garis regresi linier dari kurva kalibrasi.
Batas deteksi merupakan batas minimum suatu analit yang dapat dideteksi sedangkan batas
kuantisasi merupakan batas minimum analit yang dapat dihitung kadarnya (Mulja, 2003).

Penentuan akurasi dapat ditentukan dengan uji perolehan kembali menggunakan krim yang
ditambahkan standar hidrokuinon yang telah diketahui kadarnya. Lalu uji perolehan kembali
diperoleh dengan membandingkan kadar hasil analisis dengan kadar hidrokuinon yang sebenarnya.
Persen perolehan kembali yang diperoleh adalah 92,5 %. Kriteria ini tidak masuk dalam rentang
yang diperbolehkan, namun karena pada penelitian ini menggunakan ekstraksi sehingga %
perolehan kembalinya lebih sulit didapatkan dengan sempurna. Hal ini dikarenakan zat
hidrokuinon terperangkap dalam basis yang tidak larut dalam pelarut. Kriteria penerimaan untuk
akurasi pada penetapan kadar komponen dalam sediaan farmasi adalah 98 102 %. Sehingga
hasil uji perolehan kembali yang dilakukan telah memenuhi syarat (Harmita, 2006).

Hidrokuinon merupakan senyawa polar, untuk menarik senyawa

tersebut maka dapat diekstraksi dengan menggunakan senyawa polar.

Tahap preparasi sampel krim racikan dokter adalah dengan menimbang


masing-masing sampel sebanyak 1 g kemudian dimasukkan kedalam beker

glass 25 mL dan ditambah fase gerak metanol : air (60 : 40) kedalam beker

glass, diaduk merata dengan fase gerak hingga 25 mL dan kemudian

dipindahkan kedalam labu ukur 50 mL. sampel kemudian divortex selama

1 menit hingga homogen dan dipanaskan diatas water bath dengan suhu

600 C selama 15 menit. Sehingga basis krim terpisah dengan fase gerak.

Setelah dingin larutan dicukupkan dengan fase gerak hingga 50 mL dan

dikocok. Kemudian larutan disentrifuge dengan kecepatan 5000 rpm

selama 10 menit. Diambil larutan diatas dan disaring menggunakan

membrane filter 0,45 m kemudian filtratnya diinjeksikan kedalam alat

HPLC.

Filtrat sampel diinjeksikan sebayak 20 L dengan waktu retensi

hingga 3 menit dan laju alir 1 mL/menit. Hasil analisa yang didapat dari

sampel dihitung kadarnya dengan menggunakan persamaan kurva

kalibrasi.

Hasil yang didapat dari pengukuran menggunakan HPLC didapat

nilai AUC untuk krim simulasi sebesar 46,9612. Sehingga didapat

konsentrasinya sebesar 231,189 ppm. Sedangkan konsentrasi krim

simulasi yang sebenarnya adalah 250 ppm. Sehingga didapat nilai UPK

sebesar 92,5 %.

Hasil pengukuran kadar krim racikan dokter didapat, krim A

mengadung hidrokuinon sebesar 3,499 %. Krim B mengandung

hidrokuion sebesar 3,561 %. Krim C mengadung hidrokuinon sebesar

3,754 % dan krim D mengadung hidrokuinon sebesar 3,541 %. Dari 4

sampel krim racikan dokter yang diuji semuanya masih dalam range yang

diperbolehkan selama penggunaanya dibawah pegawasan dokter (BPOM,

2007).

Hasil pengujian pada 4 sampel krim racikan dokter didapat


konsentrasi yang terlalu tinggi dari konsentrasi standar, hal ini terjadi

karena ketidaktahuan peneliti tentang kualitas dan kuantitas hidrokuinon

dalam sampel. Hasil % kadar yang didapat tersebut tidak bisa dipercayai

100 %. Sampel seharusnya diencerkan agar masuk dalam rentang kurva

kalibrasi sehingga angka bias dari hasil yang didapat relative lebih besar

dari yang sebenarnya, namun demikian tidak menutup kesimpulan jika

kadar hidrokuinon memang tinggi. Penelitian ini tidak bisa diulang karena

adanya kendala pada alat yang tidak bisa dioperasikan kembali.

Kecurangan distributor seringkali terjadi, sehingga tanpa ada izin

dari dokter konsumen dapat membeli krim secara bebas, padahal walaupun

krim yang digunakan adalah racikan dari dokter, jika penggunaannya

tanpa pengawasan dokter hal buruk dapat terjadi. Seperti kemerahan dan

rasa terbakar pada kulit karena adanya kadar hidrokuinon yang tinggi

dalam krim (BPOM, 2007).

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Hasil penetapan kadar hidrokuinon pada 4 sampel krim racikan dokter

menunjukkan adanya hidrokuinon dengan kadar 3,499 % pada krim A,

3,561 % pada krim B, 3,754 % pada krim C dan 3,541 % pada krim D

2. Dari 4 sampel krim racikan dokter yang telah dianalisis semuanya

mengandung hidrokuinon yang masih diperbolehkan penggunaanya

dalam krim (maksimal 5%)

6.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang

representatif untuk penetapan kadar hidrokuinon dalam

sediaan krim kosmetik racikan dokter.


DAFTAR PUSTAKA

Akaojicho et al., 2003. Fully Automatic Thermal Voparation Mercury Analysis

System. NIC instruments corporation : japan

Anief, M. 2000. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Gajah Mada University

Press: Yogyakarta.

ASEAN. 2005. Identification and Determination Of Hydroquinone In Cosmetic

Products By TLC and HPLC. ACM INO 03, Hal 3 5.

Badan Pengawas Obat Dan Makanan. 2004. Peraturan Perundang-Undangan di

Bidang Kosmetik : Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan

Makanan Republik Indonesia No.HK.00.05.4.1745 Tanggal 5 Mei 2003:

Jakarta.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2007. Kosmetik Mengandung Bahan

Berbahaya dan Zat Warna Yang Dilarang : Keputusan Kepala Badan

Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.

HK.00.01.432.6081, 1 Agustus 2007.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2011. Persyaratan Tekhnis Bahan Kosmetik

: Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik

Indonesia No. HK.00.03.1.23.08.11.07517.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2011. Hidrokuinon. Sentra Informasi

Keracunan Nasional : Jakarta

Davies, Tony. 1998. Mengatasi Masalah Kulit .Yayasan Spiritia.

Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia : Edisi Keempat,

Direktorat Jendral Pengawasan Obat Dan Makanan : Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia : Edisi Ketiga, Direktorat


Jendral Pengawasan Obatdan Makanan : Depkes RI.

Department of Health and Human Services. 2009. Hydroquinone . Supporting

Information for Toxicological Evaluation by the National Toxicology

Program : U.S. Food & Drug Administration.

Desiderio, Claudia. 2000. Analysis Of Hydroquinone and Some Of Its Ethers By

Using Capillary Electrochromatography. Journal of chromatography

volume 887, issues 1-2, 28 juli 2000.

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0021967399011978.

EPA. 2007. Inorganic Mercury. Unites State.at http://www.epa.gov/teach/.

Harmita. 2006. Analisa Fisikokimia .UI Press : Jakarta. 2006;17, 144-152.

Haswell, S.J. 1991. Atomic Absorption Spectrometry Theory, Design And

Applicatios. Elsevier :Amsterdam, 201-224.

Horas, Hutagalung. 1985. Raksa (Hg),Oseana, Volume X, Nomor 3 : 93-105,

1985. ISSN0216-1877.

http://adysetiadi.files.wordpress.com/2012/05/bab-9-sampling-desain.pdf

Ibrahim Slamet, dkk. 2004. Penetapan Kecermatan dan Keseksamaan Metode

Kalorimetrimenggunakan Pereaksi Floroglusin Untuk Penetapan Kadar

Hidroquinon Dalam Krim Pemucat. ITB : bandung.

Irianto , Irianto. 1998. Penentuan Kadar Raksa (II) Dalam Krim Pemutih Kulit

Dengan Metoda Aas Uap Dingin. Undergraduate thesis, FMIPA :

UNDIP.

Iswari, Retno dan Fatma, Latifa. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan

Kosmetik. gramedia pustaka utama : jakarta.

Jang Seokmin dan Yongseong Kim. 2005. Analysis of Hydroquinone and Its

Ether Derivativesby Using Micellar Electrokinetic Chromatography

(MEKC). Department of Chemistry, Kyungnam University, Kyungnam

631-701 : Korea. Korean Chem. Soc. 2005, Vol. 26, No. 5.

Judith. 1979. Isolation and Identifications of Drugs : volume 1. The


pharmaceutical press :London.

Katsure et al., 2008. Practical Pharmaceutics 1. nirali prakashan : pune.

Ketut Sari, ni. 2010. Analisa Instrumentasi. Yayasan Humaniora : Klaten

Mulja M, Hanwar D. 2003. Prinsip-prinsip cara berlaboratrium yang baik. (good

laboratory practice). Majalah Farmasi Airlangga III (2) : 71 76

Lampiran 1. Uji Linieritas dan Pembuatan Kurva Kalibrasi Standar Hidrokuinon

Y = a+bx

Keterangan : a = -0,2246

b = 0,2042

r = 0,9999

Kondisi analisis :

Fase gerak : Metanol : air (60 : 40)

Kolom : C-18

Pelarut : Fase gerak

Volume injeksi : 20 L

Laju alir : 1 mL/menit

Panjang gelombang : 290 nm


Lampiran 2. Data Parameter Uji LOD dan LOQ Standar Hidrokuinon

LOD = 3.

= 0,396 g/mL

LOQ = 10.Sb/b

= 1,322 g/mL
Lampiran 5 Penentuan panjang gelombang maksimum senyawa hidrokuinon
Lampiran 6. Kromatogram Larutan Standar Hidrokuinon

Standar 20 ppm

Standar 30 ppm
Standar 40 ppm

Standar 50 ppm
Standar 60 ppm

Lampiran 7. Kurva Kalibrasi Standar Hidrokuinon


Lampiran 8. Kromatogram Krim Simulasi Hidrokuinon

Lampiran 9. Kromatogram Sampel Krim Racikan Dokter

Sampel A1

Sampel A2
Sampel B1

Sampel B2

Sampel C1
Sampel C2`

Lampiran 10. Alat HPLC (High Perform Liquid Chromatography)

Lampiran 11. Sertifikat Analisis Standar Hidrokuinon


Lampiran 11. Sampel Krim Racikan Dokter