Anda di halaman 1dari 5

3

adalah yang masih tergolong pra-ilmiah yang berupa pengetahuan


hasil serapan inderawi yang secara sadar diperoleh, baik yang telah lama
maupun baru didapat. Di samping itu termasuk yang diperoleh secara
pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu
(oleh nabi).

1. Kajian Filsafat Ilmu


a. Ontologi
Ontologi adalah dasar untuk mengklasifikasi pengetahuan dan
sekaligus bidang-bidang ilmu. Selain itu, ontologi dapat diartikan
sebagai ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang
merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani/kongkret
maupun rohani/abstrak.
b. Aksiologi
Aksiologi merupakan kajian yang berkaitan dengan kegunaan dari
suatu ilmu, hakekat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang
didapat dan berguna untuk manusia dalam menjelaskan,
meramalkan dan menganalisa gejala-gejala alam.
c. Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai
hakikat ilmu dan ilmu sebagai proses yang merupakan usaha
sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang
terdapat pada suatu obyek kajian ilmu.

2. Karakteristik Filsafat Ilmu


a. Filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat.
b. Filsafat ilmu adalah bagian filsafat yang menelaah ilmu secara
filosofis dari sudut pandang ontologis, epistemologis, dan
aksiologis.
4

3. Objek Filsafat Ilmu


a. Objek Material
Menurut Hakim dan Beni (2008 : 19), objek material filsafat adalah
segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Selain itu, objek filsafat
ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang
bersifat alamiah, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara
sestematis dan diorganisasi sedemikian rupa sehingga memenuhi
asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif
akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga
memenuhi validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat
dipertanggungjawabkan
b. Objek Formal
Objek formal filsafat adalah hakikat ilmu pengetahuan dimana
filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap masalah-masalah
ilmu pengetahuan yang dibicarakan atas dasar tujuan filosofis dalam
landasan ilmu pengetahuan, yaitu ontologis, epistemologi, dan
aksiologis.

B. FILSAFAT KEPERAWATAN
Perawat adalah orang yang merawat orang-orang sakit. Terdapat dua
jenis perawat yaitu perawat awam dan perawat profesional. Perawat awam
adalah seseorang yang merawat orang-orang sakit tanpa ada pelatihan
sebelumnya, seperti ibu yang merawat anaknya ketika demam. Sedangkan
perawat profesional adalah perawat yang dilatih sebelum melakukan
perawatan terhadap orang sakit. Perawat profesional harus mengikuti
pendidikan keperawatan sebelum merawat orang sakit.
Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional berupa
pemenuhan kebutuhan dasar yang diberikan kepada individu yang sehat
maupun sakit yang mengalam gangguan fisik, psikis, dan sosial agar dapat
mencapai derajat kesehatan yang optimal. Bentuk pemenuhan kebutuhan
dasar dapat berupa meningkatkan kemampuan yang ada pada individu,
5

mencegah, memperbaiki, dan melakukan rehabilitasi dari suatu keadaan


yang dipersepsikan sakit oleh individu (Nursalam, 2008).
Keperawatan sebagai profesi harus memiliki konsep ilmu yang jelas,
yang menuntut untuk berfikir kritis, logis, dan analitis serta bertindak secara
rasional dan etis serta harus tanggap atas apa yang terjadi terhadap klien dan
lingkungannya atau bisa dikatakan berkaitan dengan kebenaran pada klien.
Hal ini tentu memiliki keterkaitan dengan filsafat yangmana merupakan
cara untuk mengetahui kebenaran ilmu, sehingga filsafat bagi keperawatan
akan berguna untuk memajukan keperawatan sendiri.
Filsafat keperawatan adalah sesuatu yang menyatakan pikiran kita
pada apa yang kita yakini benar tentang sifat profesi keperawatan dan
memberikan dasar untuk kegiatan Perawatan. Hal ini mendukung nilai-nilai
etika perawat sebagai dasar dan mendasarkan keyakinan perawat dalam
teori. Selain itu, filsafat keperawatan juga dapat dikatakan sebagai ilmu
yang mempelajari tentang bagaimana seorang perawat menyikapai apa yang
terjadi pada kliennya, yang berpegang pada kebenaran yang terjadi dan
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup klien.
Diketahui bahwa dalam filsafat ilmu terdapat tiga kajian, yaitu ontologi (apa
arti dari sebuah ilmu), epistemologi (bagaimana ilmu tersebut muncul) dan
aksiologi (apa manfaat dari ilmu tersebut). Dari ketiga kajian ini dapat
diambil tiga pertanyaan mengenai Ilmu Keperawatan, yaitu apa itu Ilmu
Keperawatan?, bagaimana lahirnya Ilmu Keperawatan?, dan apa tujuan
dari adanya Ilmu Keperawatan?
Dari pertanyaan ontologi mengenai keperawatan, Virginia
Henderson mendefinisikan bahwa keperawatan adalah Bantuan yang
diberikan kepadaindividu baik dalam keadaan sehat maupun sakit
dalamkegiatannya untuk mencapai keadaan sehat atau sembuh daripenyakit
sehingga ia mempunyai kekuatan, keinginan dan pengetahuan.
Selanjutnya, apa jawaban dari bagaimana Ilmu Keperawatan lahir?
Keperawatan lahir bahkan jauh sebelum Florence Nightingale lahir.
Keperawatan lahir sejak zaman purbakala, yangmana pada zaman ini
perawatan merupakan sebuah naluri keibuan (mother instinc). Dari naluri
6

keibuan ini bergeser kepada waktu dimana manusia mempercayai tentang


adanya kekuatan mistis yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia
(Animisme). Disini, manusia percaya bahwa keadaan sakit diakibatkan
adanya pengaruh gaib. Kemudian dilanjutkan dengan zaman dimana
manusia percaya pada dewa dimana pada masa ini manusia percaya bahwa
keadaan sakit mereka adalah akibat dari kemarahan dewa. Hal ini terus
berkembang sampai akhirnya Florence Nightingale yang pada saat itu
merawat pasien perang menyadari bahwa pasien yang ditempatkan pada
lingkungan bersih, proses kesembuhan lebih cepat daripada pasien yang
ditempatkan pada lingkungan kotor. Hal ini yang mendasari bahwa
lingkungan menjadi salah satu paradigma keperawatan. Sejak saat itu
muncul berbagai pemikiran baru mengenai kebenaran dalam keperawatan
seperti Johnson yang kemudian mengemukakan Behavioral System Model
yang berdasarkan pada penelitiannya mengenai adaptasi pasien terhadap
kondisi sakitnya.
Jawaban dari pertanyaan aksiologis mengenai keperawatana adalah
memelihara, mencegah infeksi, dan cedera, memulihkan dari sakit,
melakukan pendidikan kesehatan serta mengendalikan lingkungan
(Florence Nightingale, 1895). Selain itu, Ilmu Keperawatan mejadi dasar
perawat dalam melakukan tindakan keperawatan kepada klien sehingga
merubah kondisi klien menjadi lebih baik.
Hubungan antara filsafat imu dengan keperawatan adalah dimana
filsafat dalam keperawatan mengkaji apa penyebab dan hukum-hukum yang
mendasari realitas (kebenaran), serta keingintahuan mengenai gambaran
akan sesuat yang lebih berdasakan pada alasan logis daripada metode
empiris. Filsafat keilmuan harus menunjukkan bagaimana pengetahuan
ilmiah sebenarnya dapat diaplikasikan, dalam hal ini pengetahuan
keperawatan, sehingga filsafat keperawatan merupakan keyakinan dasar
mengenai Ilmu Keperawatan yang berisi tentang segi biologis manusia
(klien) dan perilakunya dalam keadaan sehat dan sakit terutama berfokus
kepada respon klien terhadap situasi yang dihadapinya.
7

Berbagai manfaat dapat diambil dari filsafat untuk ilmu keperwatan.


Berikut ini beberapat manfaat filsafat bagi Ilmu Keperawatan:
1. Memudahkan proses keperawatan
2. Perawat dapat memecahkan permasalahan yang ada pada proses
keperawatan meliputi permasalahan teknologi, sosial budaya, ekonomi,
pengobatan alternatif, kepercayaan spiritual, dan lain sebagainya.
3. Sebagai dasar menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan untuk
tindakan perawatan melalui pengalaman-pengalaman sebelumnya.
4. Seorang perawat dapat menggunakan kebijaksanaan yang diperoleh
dari filsafat sehingga perawat tersebut dapat lebih berfikir positif
(positif thinking). Dengann positif thinking ini, seorang perawat dapat
menjalankan tugasnya dengan baik dan memudahkan perawat dalam
menjalin hubungan dengan klien yang tadinya susah berkomunikasi
sehingga klien dapat menjadi lebih dapat berkomunikasi dengan baik
dan akhirnya dapat mempercepat proses penyembuhan pasien tersebut.
5. Meminimalisir terjadinya kesalahpahaman dalam pencarian kebenaran
Ilmu Keperawatan.
6. Mendapatkan kebenaran dari hal-hal yang belum pasti seperti ketika
seorang perawat akan memberikan obat kepada klien, harus mengetahui
prosedur pemberian obat sehingga perawat dapat memberikan obat
dengan baik dan benar.
Selain itu, filsafat juga memiliki peran bagi dosen-dosen dalam
meberikan pendidikan ilmu keperawatan, yaitu:
1. Mengetahui sikap yang tepat untuk diberikan kepada mahasiswa dalam
proses kuliah
2. Mengetahui bagaimana cara menemukan pengetahuan yang bersifat
ilmiah