Anda di halaman 1dari 22

Makalah Penemu Islam

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan sekarang sangat
dipengaruhi oleh para ilmuwan. Banyak ilmuwan terkemuka di muka bumi ini memberikan
kontribusi lebih dalam memajukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka
banyak ditemukan dalam buku sejarah ilmu pengetahuan, enslikopedi, dan buku pengetahuan
lainnya. Hal ini membuat siswa-siswi utamanya sekolah dasar sudah mengenal para ilmuan
seperti Alexander Graham Bell penemu pesawat telepon, Aristoteles, Galileo Galilei dan banyak
lainnya. Sehingga banyak siswa terkontaminasi akan ilmuan-ilmuan non islam yang sering
mereka pelajari dalam dunia pendidikan. Mereka memang benar-benar jarang dan bahkan tidak
mengenal ilmuan-ilmuan muslim pencetus ilmu pengetahuan sebelum ilmuan non muslim
menemukan penemuannya dalam buku-buku ajar pada pendidikan formal.
Fenomena kurang mengenal ilmuan muslim ini membuat kalangan cendikiawan muslim
mulai memperkenalkan ilmuan-ilmuan muslim dalam buku ajar pendidikan agama islam di
pendidikan formal. Upaya ini sebagai wujud terobosan bagi kalangan tokoh-tokoh islam
membuat suatu penanaman kembali tentang penemu muslim yang mampu menjadi acuan ilmuan
nasrani menemukan hasil karyanya seperti pesawat terbang, ahli bedah dan lainnya. Sebelumnya
ilmuan muslim seperti Abbas Qasim Ibnu Firnas penemu konsep dasar pesawat. Siswa-siswi
dan bahka mahasiswa banyak yang yang tidak mengenal ilmuan muslim seperti tersebut
diatas. Sehingga melalui makalah ini, diharapkan dapat memberikan suatu gambaran
akan terpuruknya popularitas penemu muslim didunia pendidikan dan masyarakat luas.

RUMUSAN MASALAH
1. Siapa penemu-penemu muslim yang mampu merubah perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi saat ini?
2. Apa saja temuan ilmuan muslim yang mampu menjadi sebuah konsep bagi kalangan ilmuan
selanjutnya?
3. Bagaimana peran hasil penemuan ilmuan muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi sekarang ini?

PEMBAHASAN

Ibnu Ismail Al Jazari


Ibnu Ismil Al Jazari adalah ahli teknik Muslim yang ternama di Diyar Bakir, Turki,
selama abad kedua belas. Ibnu Ismail Ibnu Al-Razzaz al-Jazari Al Jazari merupakan seorang
tokoh besar di bidang mekanika dan industri dan merupakan ahli teknik yang luar biasa pada
masanya. Nama lengkapnya adalah Badi Al-Zaman Abullezz Ibnu Alrazz Al-Jazari. Ia dipanggil
Al-Jazari karena lahir di Al-Jazira, sebuah wilayah yang terletak di antara sisi utara Irak dan
timur laut Syiria, tepatnya antara Sungai tigris dan Efrat Tigris dan Efrat, Irak. Ia mendapat
julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak
mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine,
crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi. Seperti ayahnya ia
mengabdi pada raja-raja Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari 1174 sampai 1200 sebagai ahli
teknik.
Pada 1206 ia menyelesaikan sebuah karya dalam bentuk buku yang berkaitan dengan
dunia teknik. Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian
gambar-gambarnya dalam buku, al-Jami Bain al-Ilm Wal Aml al-Nafi Fi Sinat at al-Hiyal
(The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Bukunya ini berisi tentang teori dan
praktik mekanik. Karyanya ini sangat berbeda dengan karya ilmuwan lainnya, karena dengan
kepiawaiannya ia membeberkan secara detail hal yang terkait dengan mekanika yaitu bagaimana
untuk merancang, merakit dan membuat berbagai mesin. Dalam tulisannya Al Jazari
memberikan gambaran yang begitu detail dan jelas, berbeda dengan ahli teknik lainnya yang
lebih banyak mengetahui teori saja dan menyembunyikan pengetahuannya dari orang lain.
Bahkan ia pun menggambarkan metode rekonstruksi peralatan yang ia temukan dan
mengilustrasikan dengan miniatur yang menakjubkan. Hal ini merupakan kontribusi yang sangat
berharga dalam sejarah teknik.
Di tahun yang sama pula (1206), Al Jazari membuat jam gajah yang bekerja dengan
tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam
interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid
automation inilah yang mengilhami pengembangan robot masa sekarang. Kini replika jam gajah
tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya
besarnya.
Dengan karya gemilangnya, ilmuwan dan ahli teknik Muslim ini telah membawa
masyarakat Islam pada abad ke-12 pada kejayaan. Ia hidup dan bekerja di Mesopotamia selama
25 tahun. Ia mengabdi di istana Artuqid, kala itu di bawah naungan Sultan Nasir al-Din
Mahmoud.
Al-Jazari memberikan kontribusi yang penting bagi dunia ilmu pengetahuan dan
masyarakat. Mesin pemompa air yang dipaparkan dalam bukunya, menjadi salah satu karya yang
inspiratif. Terutama bagi sarjana teknik dari belahan negari Barat.
Mesin pemompa air tersebut merupakan hasil eksplorasi dari Shaduf dan Saqiya. Shaduf
dikenal pada masa kuno, baik di Mesir maupun Assyria. Alat ini terdiri dari balok panjang yang
ditopang di antara dua pilar dengan balok kayu horizontal. Sementara Saqiya merupakan mesin
bertenaga hewan. Mekanisme sentralnya terdiri dari dua gigi. Tenaga binatang yang digunakan
adalah keledai maupun unta. Saqiya terkenal pada zaman Roma. Kedua alat tersebut pada zaman
dahulu digunakan untuk memompa air dari sumbernya.
Mesin pemompa air ini dirancang pada abad ketiga belas.Pada abad ini Al Jazari
merancang lima mesin sekaligus. Dua mesin pertamanya merupakan modifikasi terhadap
Shaduf, mesin ketiganya adalah pengembangan dari Saqiya di mana tenaga air menggantikan
tenaga binatang.
Satu mesin yang sejenis dengan Saqiya diletakkan di Sungai Yazid di Damaskus dan
diperkirakan mampu memasok kebutuhan air di rumah sakit yang berada di dekat sungai
tersebut. Mesin keempat adalah mesin yang menggunakan balok dan tenaga binatang. Balok
digerakkan secara naik turun oleh sebuah mekanisme yang melibatkan gigi gerigi dan sebuah
engkol. Mesin ini merupakan mesin pertama kali yang menggunakan engkol sebagai bagian dari
sebuah mesin. Di Eropa hal ini baru terjadi pada abad 15. Dan hal itu dianggap sebagai
pencapaian yang luar biasa.
Pasalnya, engkol mesin merupakan peralatan mekanis yang penting setelah roda. Ia
menghasilkan gerakan berputar yang terus menerus. Pada masa sebelumnya memang telah
ditemukan engkol mesin, namun digerakkan dengan tangan. Tetapi, engkol yang terhubung
dengan sistem rod di sebuah mesin yang berputar baru ditemukan pada masa Al Jazari.
Penemuan engkol mesin sejenis itu oleh sejarawan teknologi dianggap sebagai peralatan
mekanik yang paling penting bagi orang-orang Eropa yang hidup pada awal abad kelima belas.
Bertrand Gille menyatakan bahwa sistem tersebut sebelumnya tidak diketahui dan sangat
terbatas penggunaannya.
Pada 1206 engkol mesin yang terhubung dengan sistem rod sepenuhnya dikembangkan
pada mesin pemompa air yang dibuat Al-jazari. Ini dilakukan tiga abad sebelum Francesco di
Giorgio Martini melakukannya.
Sedangkan mesin kelima, adalah mesin pompa yang digerakkan oleh air yang merupakan
peralatan yang memperlihatkan kemajuan lebih radikal. Gerakan roda air yang ada dalam mesin
itu menggerakan piston yang saling berhubungan. Kemudian, silinder piston tersebut terhubung
dengan pipa penyedot. Dan pipa penyedot selanjutnya menyedot air dari sumber air dan
membagikannya ke sistem pasokan air. Pompa ini merupakan contoh awal dari double-acting
principle. Taqi al-Din kemudian menjabarkannya kembali mesin kelima dalam bukunya pada
abad keenam belas.

Abbas Qasim Ibnu Firnas


Abbas Qasim Ibnu Firnas (dikenal dengan nama Latin Armen Firman) dilahirkan
di Ronda, Spanyol pada tahun 810 M. Dia dikenal sebagai orang Barbar yang ahli dalam
bidang kimia dan memiliki karakter yang humanis, kreatif, dan kerap menciptakan
barang- barang berteknologi baru saat itu.
Pria yang suka bermain musik dan puisi ini hidup pada saat pemerintahan
Khalifah Umayyah di Spanyol (dulu bernama Andalusia). Masa kehidupan Ibnu Firnas
berbarengan dengan masa kehidupan musikus Irak, Ziryab. Pada saat itu ia telah
menemukan, membangun, dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu
Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon 500 tahun setelah Ibn Firnas meletakkan
teori-teori dasar pesawat terbang.Konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan setelah
kurang lebih 200 tahun setelah Bacon atau 700 tahun pasca uji coba Ibnu Firnas.
Pada tahun 852, di bawah pemerintahan khalifah baru Abul Rahman II, Ibnu Firnas
membuat sebuah prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah
bingkai kayu. Setelah menyelesaikan model pesawat layang yang dibuatnya, Ibnu Firnas
mengundang masyarakat Cordoba untuk datang dan menyaksikan uji coba hasil karyanya
tersebut dari menara Masjid Mezquita.
Warga Cordoba saat itu menyaksikan dari dekat menara tempat Ibnu Firnas akan
memperagakan temuannya. Namun karena cara meluncur yang kurang baik dan karena lalai
menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya, Ibnu Firnas terhempas ke tanah
bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat
parah.Cederanya inilah yang memaksa Ibnu Firnas tidak berdaya untuk melakukan ujicoba
berikutnya.
Cedera punggung yang tidak kunjung sembuh mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-
proyek penelitian di dalam ruangan (laboratorium). Dia melakukan serangkaian penelitian dan
pengembangan konsep serta teori dari gejala-gajala alam yang diperhatikannya. Karya-karya
baru pun bermunculan dari buah pemikiannya, di antara hasil karyanya yang monumental adalah
konsep tentang terjadinya halilintar dan kilat, jam air, serta cara membuat gelas dari garam. Ia
juga membuat rantai rangkaian yang menunjukkan pergerakan benda-benda planet dan bintang.
Selain itu, Ia pun menunjukkan cara bagaimana memotong batu kristal yang saat itu hanya bisa
dilakukan oleh orang-orang Mesir.
Namun sayangnya tidak lama setelah itu, tepatnya pada tahun 888, ia wafat dalam
keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan
ujicoba pesawat layang buatannya.

Jabir Ibnu Hayyan


Ilmuan kebanggaan umat Islam ini bernama lengkap Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan dan
dijuluki Bapak Kimia Modern. Ahli kimia Muslim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal
di dunia Barat dengan panggilan Geber ini memang sangat fenomenal. Sebab 10 abad sebelum
ahli kimia Barat bernama John Dalton (1766-1844) mencetuskan teori molekul kimia, Jabir Ibnu
Hayyan (721M 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M.Dan hebatnya lagi penemuan dan
eksperimennya yang telah berumur 13 abad tersebut masih dijadikan rujukan hingga kini.
Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tidak ternilai harganya. Sehingga tidak
heran jika ilmuwan yang juga ahli farmasi ini dinobatkan sebagai renaissance man (manusia
yang mencerahkan). Asal-usul kesukuan ilmuwan ini tidak terungkap secara jelas. Ada yang
mengungkapkan bahwa ilmuwan terkenal ini adalah seorang Arab, dan ada yang
mengungkapkan bahwa ilmuwan ini adalah orang Persia. Jabir terlahir di Tus, Khurasan, Iran
pada 721 M.
Saat dia terlahir, wilayah Iran berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah. Sang ayah
bernama Hayyan Al-Azdi, seorang ahli farmasi berasal dari suku Arab Azd. Pada era kekuasaan
Daulah Umayyah, sang ayah hijrah dari Yaman ke Kufah, salah satu kota pusat gerakan Syiah di
Irak. Sang ayah merupakan pendukung Abbasiyah yang turut serta menggulingkan Dinasti
Umayyah.
Ketika melakukan pemberontakan, Hayyan tertangkap di Khurasan dan dihukum mati.
Sepeninggal sang ayah, Jabir dan keluarganya kembali ke Yaman. Jabir kecil pun mulai
mempelajari Alquran, matematika, serta ilmu lainnya dari seorang ilmuwan bernama Harbi Al-
Himyari.
Setelah Abbasiyah menggulingkan kekuasaan Umayyah, Jabir memutuskan untuk
kembali ke Kufah. Di kota Syiah Jabir menimba ilmu dari seorang imam termasyhur bernama
Imam Jafar Shadiq. Selain itu, ia juga sempat belajar dari Pangeran Khalin Ibnu Yazid dan
Barmaki Vizier. Setelah berguru pada Barmaki Vizier ia memulai kariernya di bidang
kedokteran.
Sejak saat itu, Jabir bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan
serangkaian eksperimen. Dalam kariernya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di
Damaskus. Jabari mendasari eksperimen-eksperimen yang dilakukannya secara kuantitatif.
Selain itu, instrumen yang digunakan dibuat sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam,
tumbuhan, dan hewani.
Setelah sempat berkarier di Damaskus, Jabir pun kembali ke Kufah. Dua abad setelah
kepulangannya, dalam sebuah penggalian jalan telah ditemukan bekas laboratorium tempat sang
ilmuwan berkarya. Dari tempat itu ditemukan peralatan kimianya yang hingga kini masih
mempesona serta sebatang emas yang cukup berat.
Begitu banyak sumbangan yang telah dihasilkan Jabir bagi pengembangan kimia. Berkat
jasa beliau, ilmu pengetahuan modern bisa mengenal asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam
asetat, tehnik distilasi, dan tehnik kristalisasi. Jabir pulalah yang menemukan larutan aqua regia
(dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.
Tanpa kontribusinya, boleh jadi ilmu kimia tak berkembang pesat seperti saat ini. Ilmu
pengetahuan modern sungguh telah berutang budi kepada Jabir yang dikenal sebagai seorang sufi
itu. Jabir telah menorehkan sederet karyanya dalam 200 kitab. Sebanyak 80 kitab yang ditulisnya
itu mengkaji dan mengupas seluk-beluk ilmu kimia. Sebuah pencapaian yang terbilang amat
prestisius.
Keberhasilan penting lainnya yang dicapai Jabir adalah kemampuannya mengaplikasikan
pengetahuan mengenai kimia ke dalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta
pencegahan karat. Dan ternyata Jabir jugalah yang pertama kali mengaplikasikan penggunaan
mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca dan yang mencatat tentang pemanasan anggur akan
menimbulkan gas yang mudah terbakar. Kerena catatan Jabir inilah yang kemudian memberikan
jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.
Selain itu, Jabir juga berhasil menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan,
pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan
(fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Apa yang dihasilkannya ini merupakan teknik-
teknik kimia modern.
Sosok dan pemikiran Jabir begitu berpengaruh bagi para ahli kimia Muslim lainnya
seperti Al-Razi (9 M), Tughrai (12 M) dan Al-Iraqi (13 M). Tidak hanya itu, buku-buku yang
ditulisnya juga begitu besar pengaruhnya terhadap pengembangan ilmu kimia di Eropa. Jabir
wafat pada tahun 815 M di Kufah.

Ab Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Frbi


Ilmuan dan filsuf Islam pertama yang biasa dikenal dengan Al-Farabi atau Abu Nasir al-
Farabi atau Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi atau
Alpharabius atau Farabi atau Abunasir ini berasal dari Farab, Kazakhstan. Akan tetapi, ada yang
mengungkapkan bahwa ilmuwan ini berasal dari Turki. Al-Farabi hidup pada daerah otonomi di
bawah pemerintahan Sayf al Dawla dan di zaman pemerintahan dinasti Abbasiyyah, yang
berbentuk Monarki yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Ia lahir dimasa kepemimpinan
Khalifah Mutamid (869-892 M).
Al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles, karena
kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu
filsafat. Ayahnya adalah seorang opsir tentara Turki keturunan Persia, sedangkan ibunya
keturunan Turki asli. Sejak kecil ia telah memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk
menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari. Pada awal pendidikaknnya al-Farabi belajar al-
Quran, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmatika
dasar.
Al-Farabi tinggal di Kazakhstan sampai umur 50 th. Waktu muda ia belajar ilmu-ilmu
dan musik di Bukhara, kemudian ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu, ia di sana selama 20
tahun. Setelah kurang lebih 10 tahun tinggal di Baghdad. Kurang lebih pada tahun 920 M, al
Farabi kemudian mengembara di kota Harran yang terletak di utara Syria, dimana saat itu
Harran merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil. Ia kemudian belajar filsafat dari
Filsuf Kristen terkenal yang bernama Yuhana bin Jilad. Dan pada tahun 940M, al Farabi
melajutkan pengembaraannya ke Damaskus dan bertemu dengan Sayfal Dawla al Hamdanid,
Kepala daerah (distrik) Aleppo, yang dikenal sebagai simpatisan para Imam Syiah.
Al-Farabi adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan
menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa
dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.
Semasa hidupnya al Farabi banyak berkarya. Ia berkarya dalam bidang Logika, Ilmu-ilmu
Matematika, Ilmu Alam, Teologi, Ilmu Politik dan Kenegaraan,serta Bunga Rampai. Karyanya
yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas
tentang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang
paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam.Filsafat politik Al-Farabi,
khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama mencerminkan rasionalisasi ajaran
Imamah dalam Syi'ah.
Dalam pemikirannya tentang asal-usul negara dan warga negara, Al-Farabi berpendapat
bahwa manusia merupakan warga negara yang merupakan salah satu syarat terbentuknya negara.
Oleh karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain,
maka manusia menjalin hubungan-hubungan (asosiasi). Kemudian, dalam proses yang panjang,
pada akhirnya terbentuklah suatu Negara.
Menurut Al-Farabi, negara atau kota merupakan suatu kesatuan masyarakat yang paling
mandiri dan paling mampu memenuhi kebutuhan hidup antara lain: sandang, pangan, papan, dan
keamanan, serta mampu mengatur ketertiban masyarakat, sehingga pencapaian kesempurnaan
bagi masyarakat menjadi mudah. Negara yang warganya sudah mandiri dan bertujuan untuk
mencapai kebahagiaan yang nyata , menurut al-Farabi, adalah Negara Utama.
Sedangkan warga negara menurut al-Farabi merupakan unsur yang paling pokok dalam
suatu negara yang diikuti dengan segala prinsip-prinsipnya yaitu prinsip-prinsip mabadi, yang
berarti dasar, titik awal, prinsip, ideologi, dan konsep dasar. Keberadaan warga negara sangat
penting karena warga negaralah yang menentukan sifat, corak serta jenis negara. Menurut Al-
Farabi perkembangan dan kualitas negara ditentukan oleh warga negaranya. Warga negara
berhak memilih seorang pemimpin negara, yaitu seorang yang paling unggul dan paling
sempurna di antara mereka.
Sedangkan dalam pemikirannya tentang pemimpin al-Farabi berpendapat bahwa seorang
pemimpin negara merupakan bagian yang paling penting dan paling sempurna di dalam suatu
negara. Menurut Al Farabi, pemimpin adalah seorang yang disebutnya sebagai filsuf yang
berkarakter Nabi yakni orang yang mempunyai kemampuan fisik dan jiwa rasionalitas dan
spiritualitas.
Seseorang pemimpin meskipun kualitas lainnya sudah terpenuhi , namun kalau kualitas
seorang filsufnya tidak terpenuhi atau tidak ambil bagian dalam suatu pemerintahan, maka
Negara Utama tersebut bagai kerajaan tanpa seorang Raja. Oleh karena itu, Negara dapat
berada diambang kehancuran.
Al-Farabi meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muthi (946-974 M) dimana
periode tersebut dianggap sebagai periode yang paling kacau karena ketiadaan kestabilan politik.

Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khwarizmi


Kata algoritma berasal dari nama penulis buku Arab terkenal, yaitu Abu Abdullah
Muhammad Ibnu Musa Al-Khuwarizmi yang biasa dibaca oleh orang Barat menjadi Algorism.
Algoritma adalah langkah-langkah penyelesaian suatu masalah yang disusun secara sistematis
dan logis. Contoh sederhana adalah penyusunan sebuah resep makanan, yang biasanya terdapat
langkah-langkah cara memasak masakan tersebut. Tapi, algoritma umumnya digunakan untuk
membuat diagram alur flowchart dalam ilmu komputer / informatika.
Algoritma pertama kali ditemukan oleh seorang ahli matematika dari uzbekistan yang
bernama Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi. Abu Abdullah Muhammad Ibn
Musa al-Khwarizmi biasa dipanggil dengan sebutan Algorism. Dan panggilan inilah yang
kemudian dipakai untuk menyebut konsep algoritma yang ditemukannya.
Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa al-Khwarizmi lahir di Khwarizm (Kheva), kota di
selatan sungai Oxus (sekarang Uzbekistan) pada tahun 770 M. Kedua orangtuanya kemudian
pindah ke sebuah tempat di selatan kota Baghdad (Irak), ketika ia masih kecil. Khwarizm dikenal
sebagai orang yang memperkenalkan konsep algoritma dalam matematika, konsep yang diambil
dari nama belakangnya.
Al khwarizmi juga seorang penemu dari beberapa cabang ilmu matematika yang dikenal
sebagai astronom dan geografer. Ia adalah salah satu ilmuwan matematika terbesar yang pernah
hidup, dan tulisan-tulisannya sangat berpengaruh pada zamannya. Salah satu temuannya adalah
Teori aljabar. Nama aljabar diambil dari bukunya yang terkenal dengan judul Al Jabr Wa Al
Muqabilah. Ia juga mengembangkan tabel rincian trigonometri yang memuat fungsi sinus,
kosinus dan kotangen serta konsep diferensiasi.
Pengaruhnya dalam perkembangan matematika, astronomi dan geografi tidak diragukan
lagi dalam catatan sejarah. Pendekatan yang dipakainya menggunakan pendekatan sistematis dan
logis. Ia memadukan pengetahuan dari Yunani dengan Hindu ditambah idenya sendiri dalam
mengembangkan matematika. Khwarizm mengadopsi penggunaan angka nol, dalam ilmu
aritmetik dan sistem desimal.
Beberapa bukunya banyak diterjemahkan kedalam bahasa latin pada awal abad ke-12,
oleh dua orang penerjemah terkemuka yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah
aritmetikanya, seperti Kitab al-Jama wal-Tafreeq bil Hisab al-Hindi, Algebra, Al-Maqala
fi Hisab-al Jabr wa-al-Muqabilah, hanya dikenal dari translasi berbahasa latin. Buku-buku itu
terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh universitas-universitas di
Eropa. Buku geografinya yang berjudul Kitab Surat-al-Ard yang memuat peta-peta dunia pun
telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris.
Buah pikir Khwarizmi di bidang geografi juga sangat mengagumkan. Dia tidak hanya
merevisi pandangan Ptolemeus dalam geografi tetapi malah memperbaiki beberapa bagiannya.
Tujuh puluh orang geografer pernah bekerja dibawah kepemimpinan Al khwarizmi ketika
membuat peta dunia pertama di tahun 830 M. Ia dikisahkan pernah pula menjalin kerjasama
dengan Khalifah Mamun Al-Rashid ketika menjalankan proyek untuk mengetahui volume dan
lingkar bumi. Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khuwarizmi wafat pada tahun 840 M.

Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina
Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina yang biasa dikenal dengan
sebutan Ibnu Sina atau Aviciena dan yang dianggap banyak orang sebagai Bapak Kedokteran
Dunia ini lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara.
Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah
akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang
sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya
agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.
Oleh karena itu, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas
keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia
muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja
Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah pada tahun 366 -387 hijriyah saat jatuh sakit
memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.
Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Di
perpustakaan tersebut Ibnu Sina menemukan banyak buku yang ia inginkan, bahkan ia
menemukan banyak buku yang kebanyakan orang tidak pernah mengetahui isinya. Di sana Ibnu
Sina dengan giat membaca kitab-kitab dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Sehingga
tidak heran jika pada usianya menginjak 18 tahun ia telah berhasil menyelesaikan semua bidang
ilmu. Ia menguasai berbagai macam ilmu,di antaranya adalah ilmu hikmah, mantiq, dan
matematika dengan berbagai cabangnya.
Ketika berada di istana Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun yang
berisi tentang ilmu kedokteran dan menulis ensiklopedia filsafatnya yang diberi nama kitab Al-
Syifa . Namun ketika bepergian beliau hanya menulis buku-buku kecil yang disebut dengan
risalah. Saat berada di dalam penjarapun, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-
bait syair, dan menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.
Di antara buku-buku dan risalah yang ditulisnya, kitab al-Syifa yang berisi tentang
filsafat dan kitab Qanun yang berisi tentang ilmu kedokteran telah dikenal di sepanjang massa.
Al-Syifa ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan
ilahiyyat. Mantiq al-Syifa saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq
islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa sampai saat ini juga
masih menjadi bahan telaah.
Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi
kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu
kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan
penerjemahan pada abad ke-12 M, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam
bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan
Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan
Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas
Eropa.
Ibnu Sina memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan.
Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan.
Dalam masalah energi Beliau memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa,
cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia. Ia juga telah menulis sebuah karya tulis
dalam bahasa Latin yang berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah satu babnya
beliau membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana
beliau berpendapat bahwa gunung kemungkinan besar tercipta karena dua penyebab, yaitu
mungkin karena menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat
gempa dan mungkin juga karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir sehingga
memunculkan lembah-lembah dan menggelembungkan permukaan bumi.
Ibnu Sina memiliki logika yang kuat sehingga beliau dapat mengikuti berbagai teori
matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan. Beliau juga dikenal sebagai
filosof yang tidak tertandingi.
Selama hidupnya beliau mengalami dua periode penting yaitu peride ketika beliau
mengikuti faham filsafat paripatetik dan periode ketika beliau menarik diri dari faham paripatetik
dan memilih cenderung kepada pemikiran iluminasi.
Berkat mempelajari filsafat dari filosof sebelumnya misalnya Al-kindi dan Farabi, beliau
berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang
dilakukannya adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tidak terjawab sebelumnya.
Salah satu filsafat karyanya yaitu filsafat metafisika yang berisi ringkasan dari tema-tema
filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.
Ibnu Sina wafat pada tahun 428 hijriyah pada usia 58 tahun. Beliau wafat setelah
menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu
dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

Al-Kindi
Nama lengkap al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya`qub ibn Ishaq ibn Shabbah ibn Imran ibn
Isma`il ibn Muhammad ibn al-Asyath ibn Qais al-Kindi. Tahun kelahiran dan kematian beliau
tidak diketahui secara jelas. Yang jelas ia hidup pada masa kekhalifahan al-Amin (809-813), al-
Mamun (813-833), al-Mutasim (833-842), al-Wathiq (842-847), dan al-Mutawakkil (847-861).
Al-Kindi hidup pada masa penerjemahan besar-besaan karya-karya Yunani ke dalam
bahasa Arab. Dan sejak didirikannya Bayt al-Hikmah oleh al-Mamun, beliau sendiri turut aktif
dalam kegiatan penerjemahan. Di samping menerjemah, beliau juga memperbaiki terjemahan-
terjemahan sebelumnya. Karena keahlian dan keluasan pandangannya, ia diangkat sebagai ahli di
istana dan menjadi guru putra Khalifah al-Mutasim yang bernama Ahmad.
Beliau adalah seorang filosof berbangsa Arab dan dipandang sebagai filosof Muslim
pertama. Memang, secara etnis, beliau lahir dari keluarga berdarah Arab yang berasal dari suku
Kindah, salah satu suku besar daerah Jazirah Arab Selatan.
Salah satu kelebihan al-Kindi adalah menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum
Muslimin setelah terlebih dahulu mengislamkan pikiran-pikiran asing tersebut. Beliau juga telah
menulis hampir seluruh ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu. Tetapi, di antara
sekian banyak ilmu, ia sangat menghargai matematika. Hal ini disebabkan karena matematika
bagi beliau adalah mukaddimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukaddimah ini
begitu penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam filsafat
tanpa terlebih dulu menguasai matematika. Matematika di sini meliputi ilmu tentang bilangan,
harmoni, geometri dan astronomi.
Yang paling utama dari seluruh cakupan matematika adalah ilmu bilangan atau aritmatika
karena jika bilangan tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun. Sehingga kita bisa melihat
samar-samar pengaruh filsafat Pitagoras.
Al-Kindi membagi daya jiwa menjadi tiga: daya bernafsu (appetitive), daya pemarah
(irascible), dan daya berpikir (cognitive atau rational). Sebagaimana Plato, ia membandingkan
ketiga kekuatan jiwa ini dengan mengibaratkan daya berpikir sebagai sais kereta dan dua
kekuatan lainnya (pemarah dan nafsu) sebagai dua ekor kuda yang menarik kereta tersebut. Jika
akal budi dapat berkembang dengan baik, maka dua daya jiwa lainnya dapat dikendalikan
dengan baik pula. Orang yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu birahi dan
amarah diibaratkannya seperti anjing dan babi, sedang bagi mereka yang menjadikan akal budi
sebagai tuannya, mereka diibaratkan sebagai raja.
Menurut al-Kindi, fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran
wahyu atau untuk menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu.
Filsafat haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju
kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu. Beliau mendefinisikan
filsafat sebagai pengetahuan tentang segala sesuatu sejauh jangkauan pengetahuan manusia. Oleh
karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki keterbatasan dan bahwa ia
tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat, surga, neraka, dan kehidupan akhirat. Dalam
semangat ini pula, beliau mempertahankan penciptaan dunia ex nihilio, kebangkitan jasmani,
mukjizat, keabsahan wahyu, dan kelahiran dan kehancuran dunia oleh Tuhan.

Ibnu Haitham
Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitam yang biasa dikenal
dengan sebutan Alhazen oleh para cerdik pandai Barat, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli
dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia juga banyak
melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat
seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop.
Ibnu Haitham dilahirkan di Basrah pada tahun 354 H atau pada tahun 965 M. Ia awalnya
menimba ilmu di Basrah sebelum kemudian dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar
kelahirannya. Setelah beberapa lama mengabdi dengan pihak pemerintah di sana, beliau
mengambil keputusan untuk merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau
melanjutkan pengkajian dan menumpukan perhatian pada penulisan.
Kecintaannya kepada ilmu membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di Mesir beliau
melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran dan saliran Sungai Nil serta menyalin
buku-buku mengenai matematika dan falak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang
cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar.
Karena usahanya tersebut beliau menjadi orang yang mahir dalam bidang sains, falak,
matematik, geometri, pengobatan, dan falsafah. Tulisannya mengenai mata, telah menjadi salah
satu rujukan yang penting dalam bidang pengajian sains di Barat. Bahkan tulisannya mengenai
pengobatan mata telah menjadi asas kepada pengkajiian pengobatan modern mengenai mata.
Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penyelidikan. Ia merupakan
orang pertama yang menulis dan menemukan perbagai data penting mengenai cahaya.
Beberapa buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris, antaranya ialah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak
membahaskan mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-
bayang dan gerhana.
Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 darjah
di ufuk Timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila matahari berada di garis 19
darjah ufuk Barat. Dalam kajiannya, beliau juga telah menemukan kedudukan cahaya seperti bias
cahaya dan pembalikan cahaya.
Ibnu Haitham juga melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ kemudian
dihasilkan teori lensa pembesar. Teori iti telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk
menghasilkan kaca pembesar yang pertama di dunia.
Yang lebih menakjubkan lagi ialah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara
sebelum seorang saintis yang bernama Trricella mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian.
Ibnu Haitham juga telah menemui kewujudan tarikan graviti sebelum Issaac Newton
mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan
perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada saintis barat
untuk menghasilkan wayang gambar. Teori beliau telah membawa kepada penemuan film yang
kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang
dapat kita lihat sekarang ini.
Selain di bidang sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logik,
metafizik, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Ia turut menulis ulasan dan
ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu.
Penulisan falsafahnya banyak tertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi
pertikaian. Padanya pertikaian dan pertelingkahan mengenai sesuatu perkara berpuncak dari
pendekatan yang digunakan dalam mengenalinya.
Beliau juga berpendapat bahwa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan
kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang ada.
Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan daripada matematik, sains, dan
ketuhanan. Ketiga-tiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya
seseorang itu perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin
meningkat, kekuatan fisikal dan mental akan turut mengalami kemerosotan.
Ibnu Haitham telah menghasilkan banyak buku dan makalah. Beberrapa karyanya
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Al'Jami' fi Usul al'Hisab yang mengandungi teori-teori ilmu metametik dan metametik
penganalisaannya;
2. Kitab al-Tahlil wa al'Tarkib mengenai ilmu geometri;
3. Kitab Tahlil ai'masa^il al 'Adadiyah tentang algebra;
4. Maqalah fi Istikhraj Simat al'Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap
rantau;
5. M.aqalah fima Tad'u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak
dan
6. Risalah fi Sina'at al-Syi'r mengenai teknik penulisan puisi.
Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan falsafah sangat banyak. Karena itulah
Ibnu Haitham dikenali sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu
pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan sampai sekarang.
Namun sebagian karyanya telah "dicuri" dan "diceduk" oleh ilmuwan Barat tanpa
memberikan penghargaan yang sewajarnya kepada beliau. Sesungguhnya orang-orang Barat
patut berterima kasih kepada Ibnu Haitham dan para sarjana Islam karena tanpa mereka
kemungkinan dunia Eropa masih diselubungi dengan kegelapan.
Kajian Ibnu Haitham telah menyediakan landasan kepada perkembangan ilmu sains dan
pada masa yang sama tulisannya mengenai falsafah telah membuktikan keaslian pemikiran
sarjana Islam dalam bidang ilmu tersebut yang tidak lagi dibelenggu oleh pemikiran falsafah
Yunani.

Al-Jahiz
Al-Jahiz lahir di Basra, Irak pada 781 M. Nama aslinya adalah Abu Uthman Amr ibn
Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri. Al-Jahiz adalah orang yang berdarah Arab Negro dari Timur
Afrika. Kakek beliau adalah seorang seorang budak Negro (Zanj). Beliau adalah seorang ahli
zoologi terkemuka dari Basra, Irak. Beliau merupakan ilmuwan Muslim pertama yang
mencetuskan dan mengembangkan teori evolusi. Pencetusannya berpengaruhnya sangat luas di
kalangan ahli zoologi Muslim dan Barat. Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman
dengan Charles Darwin pernah berujar, Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih
jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi Muslim sampai meneliti berbagai hal
tentang anorganik serta mineral.
Ilmuwan dari abad ke-9 M iti mengungkapkan dampak lingkungan terhadap
kemungkinan seekor binatang untuk tetap bertahan hidup. Sejarah peradaban Islam mencatat, Al-
Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori berjuang untuk tetap hidup
(struggle for existence). Untuk dapat bertahan hidup, menurut dia, makhluk hidup harus
berjuang, seperti yang pernah dialaminya semasa hidup. Beliau dilahirkan dan dibesarkan di
keluarga miskin. Meskipun harus berjuang membantu perekonomian keluarga yang morat-marit
dengan menjual ikan, ia tidak putus sekolah dan rajin berdiskusi di masjid tentang sains. Beliau
bersekolah hingga usia 25 tahun. Di sekolah, beliau mempelajari banyak hal, seperti puisi Arab,
filsafat Arab, sejarah Arab dan Persia sebelum Islam, serta Al-Quran dan hadist.
Al-Jahiz juga merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Menurutnya,
lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni sebuah komunitas tertentu. Asal usul
beragamnya warna kulit manusia terjadi akibat hasil dari lingkungan tempat mereka tinggal.
Berkat teori-teori yang begitu cemerlang, Al-Jahiz pun dikenal sebagai ahli biologi terbesar yang
pernah lahir di dunia Islam. Ilmuwan yang amat tersohor di kota Basra, Irak iti berhasil
menuliskan kitab Ritab Al-Haywan (Buku tentang Binatang). Dalam kitab tersebut dia menulis
tentang kuman, teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang.
Al-Jahiz pun tercatat sebagai ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung
melalui migrasi. Tidak hanya itu, pada abad ke-9 M Al-Jahiz telah mampu menjelaskan metode
memperoleh ammonia dari kotoran binatang melalui penyulingan. Sosok dan pemikiran Al-Jahiz
pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini, dan ilmuwan Mesir, Al-Damiri.
Karirnya sebagai penulis diawalinya dengan menulis artikel ketika ia masih di Basra. Sejak saat
itu, ia terus menulis hingga menghasilkan dua ratus buku semasa hidupnya.
Pada abad ke-11, Khatib al-Baghdadi menuduh Al-Jahiz memplagiat sebagian
pekerjaannya dari Kitab al-Hayawan of Aristotle. Selain al-Hayawan, beliau juga menulis kitab
al-Bukhala (Book of Misers or Avarice & the Avaricious), Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (The
Book of eloquence and demonstration), Kitab Moufakharat al Jawari wal Ghilman (The book of
dithyramb of concubines and ephebes), dan Risalat mufakharat al-sudan ala al-bidan
(Superiority Of The Blacks To The Whites).
Suatu ketika, pada tahun 816 M ia pindah ke Baghdad. Beliau meninggal setelah lima
puluh tahun menetap di Baghdad pada tahun 869, ketika ia berusia 93 tahun.

PENUTUP

Simpulan
Pada zaman dahulu, ternyata orang-orang muslim mampu melakukan penemuan-
penemuan yang saat ini banyak dikembangkan. Tokoh-tokoh penemu muslim diantaranya
adalah Ibnu Ismail Ibnu Al-Razzaz al-Jazari Al Jazari yakni seorang tokoh besar di bidang
mekanika, industri, dan merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya. Kemudian Abbas
Qasim Ibnu Firnas (dikenal dengan nama Latin Armen Firman) dikenal sebagai orang
Barbar yang ahli dalam bidang kimia dan memiliki karakter yang humanis, kreatif, dan
kerap menciptakan barang- barang berteknologi baru saat itu. Masa kehidupan Ibnu
Firnas berbarengan dengan masa kehidupan musikus Irak, Ziryab. Pada saat itu ia telah
menemukan, membangun, dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu
Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon 500 tahun setelah Ibn Firnas meletakkan
teori-teori dasar pesawat terbang.
Ilmuan kebanggaan umat Islamselanjutnya bernama Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan dan
dijuluki Bapak Kimia Modern. Ahli kimia Muslim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal
di dunia Barat dengan panggilan Geber ini memang sangat fenomenal. Sebab 10 abad sebelum
ahli kimia Barat bernama John Dalton (1766-1844) mencetuskan teori molekul kimia, Jabir Ibnu
Hayyan (721M 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M.Dan hebatnya lagi penemuan dan
eksperimennya yang telah berumur 13 abad tersebut masih dijadikan rujukan hingga kini.
Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tidak ternilai harganya. Sehingga tidak
heran jika ilmuwan yang juga ahli farmasi ini dinobatkan sebagai renaissance man (manusia
yang mencerahkan). Lalu ilmuan dan filsuf Islam pertama yang biasa dikenal dengan Al-Farabi
atau Abu Nasir al-Farabi atau Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibn Uzalah
Al- Farabi atau Alpharabius atau Farabi atau Abunasir ini berasal dari Farab, Kazakhstan. Akan
tetapi, ada yang mengungkapkan bahwa ilmuwan ini berasal dari Turki. Semasa hidupnya al
Farabi banyak berkarya. Ia berkarya dalam bidang Logika, Ilmu-ilmu Matematika, Ilmu Alam,
Teologi, Ilmu Politik dan Kenegaraan,serta Bunga Rampai. Karyanya yang paling terkenal
adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tentang pencapaian
kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang paling baik menurut
pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam.Filsafat politik Al-Farabi, khususnya gagasannya
mengenai penguasa kota utama mencerminkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi'ah.
Ilmu Algoritma pertama kali ditemukan oleh seorang ahli matematika dari uzbekistan
yang bernama Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi. Abu Abdullah Muhammad
Ibn Musa al-Khwarizmi biasa dipanggil dengan sebutan Algorism. Dan panggilan inilah yang
kemudian dipakai untuk menyebut konsep algoritma yang ditemukannya. Abu Ali Husein bin
Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina yang biasa dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena
dan yang dianggap banyak orang sebagai Bapak Kedokteran Dunia. Dalam ilmu kedokteran,
kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling
otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai
macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 M, kitab
Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan
metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum
pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.
Al-Kindi yang bernama lengkap Abu Yusuf Ya`qub ibn Ishaq ibn Shabbah ibn Imran ibn
Isma`il ibn Muhammad ibn al-Asyath ibn Qais al-Kindi. Beliau adalah seorang filosof
berbangsa Arab dan dipandang sebagai filosof Muslim pertama. Memang, secara etnis, beliau
lahir dari keluarga berdarah Arab yang berasal dari suku Kindah, salah satu suku besar daerah
Jazirah Arab Selatan. Salah satu kelebihan al-Kindi adalah menghadirkan filsafat Yunani kepada
kaum Muslimin setelah terlebih dahulu mengislamkan pikiran-pikiran asing tersebut. Beliau juga
telah menulis hampir seluruh ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu. Setelah itu
ilmuan Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitam yang biasa dikenal
dengan sebutan Alhazen oleh para cerdik pandai Barat, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli
dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia juga banyak
melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat
seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Ilmuan yang
terakhir dalam makalah ini adalah Abu Uthman Amr ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri. Al-
Jahiz adalah orang yang berdarah Arab Negro dari Timur Afrika. Kakek beliau adalah seorang
seorang budak Negro (Zanj). Beliau adalah seorang ahli zoologi terkemuka dari Basra, Irak.
Beliau merupakan ilmuwan Muslim pertama yang mencetuskan dan mengembangkan teori
evolusi. Pencetusannya berpengaruhnya sangat luas di kalangan ahli zoologi Muslim dan Barat.
Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar,
Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan.
Para ahli biologi Muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral.

Saran
Makalah tentang ilmuan-ilmuan muslim ini, mungkin masih terdapat kesalahan dan
kekurangan dalam keterangan tentang ilmuan muslim. Akan tetapi, tulisan ini sudah cukup
memberikan pengatahuan pada pembaca tentang ilmuan serta penemu muslim pada zaman
dahulu. Karena dalam makalah ini juga sudah memberikan keterangan yang jelas tentang ilmuan
dan temuan atau keahlian dari hasil temuan ilmuan tersebut. Kami juga masih membuka saran
dan kritik yang membangun, agar makalah kami selanjutnya dapat lebih baik dari ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat dan dapat sebagai referensi bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

featherapocalypse. 2011. http ://featherapocalypse.wordpress.com/tag/ilmuwan-muslim-2/.


Diunduh pada hari jumat, 14 oktober 2011 pukul 14.25 WIB

Perdana, Arif. 2008. http://arifperdana.wordpress.com/2008/01/13/ibu-ismail-al-jazari-ilmuwan-


muslim-penemu-konsep-robotika-modern/. Diunduh pada hari jumat, 14 oktober 2011
pukul 14.35 WIB
http://www.blogpopuler.com/penemuan-penemuan-ilmuwan-muslim-yang-mengubah-
peradaban-dunia/ diunduh pada hari jumat, 14 oktober 2011 pukul 14.52 WIB