Anda di halaman 1dari 12

ASMA

Pendahuluan
Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran napas dengan banyak
sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan
inflamasi ini menyebabkan episode mengi berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan, dan batuk,
khususnya pada malam hari atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan
penyempitan jalan napas yang luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersifat
reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi ini juga berhubungan
dengan hiperreaktivitas jalan napas terhadap berbagai rangsangan.
Pedoman Nasional Asma Anak juga menggunakan batasan yang praktis dalam bentuk
batasan operasional yaitu mengi berulang dan atau batuk persisten dengan karakteristik sebagai
berikut: timbul secara episodik, cenderung pada malam hari atau dini hari (nokturnal),
musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisis, dan bersifat reversibel baik secara
spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien
atau keluarganya.

Prevalensi
Prevalensi asma dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain:
1. Jenis kelamin
Pada usia anak-anak, rasio prevalensi pada laki-laki mudah terkena asma dibandingkan pada
wanita (2:1) dan kemungkinan pada usia dewasa (lebih kurang 30 tahun) ratio prevalensinya
menjadi sama. Pada lansia, prevalensi pada wanita lebih banyak.

2. Umur pasien
Asma dapat diderita pada semua usia, terutama pada usia muda.serta dapat kambuh setelah
menghilang beberapa tahun. Umumnya prevalensi asma anak lebih tinggi dari dewasa, tetapi
ada pula yang melaporkan prevalensi dewasa lebih tinggi dari anak. Angka ini juga berbeda-
beda antara satu kota dengan kota yang lain di negara yang sama.
3. Faktor keturunan
4. Faktor lingkungan
Tingkat prevalensi asma di daerah atau kawasan industri lebih tinggi. Kualitas udara yang
buruk (asap, uap, dan debu) dapat menjadi penyebab meningkatnya resiko terjadinya asma.
Pemaparan alergen dan iritan saluran napas, seperti asap rokok, serbuk sari, meningkatkan
kemungkinan resiko berkembangnya resiko asma pada bayi, serta menimbulkan penderita
asma baru atau memperberat yang sudah ada.

Epidemiologi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan WHO 300 juta orang di dunia mengidap asma,
225.000 orang meninggal karena asma. Kematian akibat asma meningkat 20% dari saat ini jika
tidak dilakukan tindakan yang signifikan.
Dilaporkan bahwa sejak dua dekade terakhir prevalensi asma meningkat, baik
pada anak-anak maupun dewasa. Di negara-negara maju, peningkatan berkaitan dengan
polusi udara dari industri maupun otomotif, interior rumah, gaya hidup, kebiasaan
merokok, pola makanan, penggunaan susu botol dan paparan alergen dini. Asma
mempunyai dampak negatif pada kehidupan penderitanya termasuk untuk anak, seperti
menyebabkan anak sering tidak masuk sekolah dan total asma di dunia diperkirakan 7,2%
(6% pada dewasa dan 10% pada anak).
Penyakit asma merupakan kelainan yang sering ditemukan dan diperkirakan 4 hingga
5 persen populasi penduduk di Amerika Serikat terjangkit oleh penyakit ini. Angka yang serupa
juga dilaporkan dari negara lain. Asma bronkial terjadi pada segala usia tetapi terutama
dijumpai pada usia dini. Sekitar separuh kasus timbul sebelum usia 10 tahun dan sepertiga
kasus lainnya sebelum usia 40 tahun. Pada usia kanak-kanak terdapat predeposisi laki-
laki/perempuan 2:1, yang kemudian menjadi sama pada usia 30 tahun.

Etiologi
Asma merupakan penyakit heterogen, oleh karena itu kepentingan epidemiologi danklinis
penting untuk membuat klasifikasi asma berdasarkan rangsangan utama yang membangkitkan
atau rangsangan yang berkaitan dengan episode akut. Serangan asma timbul apabila ada
rangsangan pencetus, diantaranya :
Aspek genetik
Kemungkinan alergi
Saluran napas yang memang mudah terangsang
Jenis kelamin
Faktor lingkungan :
1. Bahan-bahan di dalam ruangan : Tungau debu rumah
2. Bahan-bahan di luar ruangan : Tepung sari bunga, Jamur
3. Makanan-makanan tertentu
4. Obat-obatan tertentu
5. Iritan (parfum, bau-bauan)
6. Ekspresi emosi yang berlebihan
7. Asap rokok dari perokok aktif dan pasif
8. Polusi udara dari luar dan dalam ruangan
9. Infeksi saluran napas
10 Perubahan cuaca

Patofisiologi
Inflamasi saluran napas yang ditemukan pada pasien asma diyakini merupakan hal
yang mendasari gangguan fungsi obstruksi saluran napas menyebabkan hambatan aliran
udara yang dapat kembali secara spontan atau setelah pengobatan. Perubahan fungsional
yang dihubungkan dengan gejala khas pada asma ; batuk, sesak dan wheezing dan disertai
hipereaktivitas saluran respiratorik terhadap berbagai rangsangan. Batuk sangat mungkin
disebabkan oleh stimulasi saraf sensoris pada saluran respiratorik oleh mediator inflamasi
dan terutama pada anak, batuk berulang bisa jadi merupakan satu-satunya gejala asma
yang ditemukan.

Mekanisme Terjadinya Kelainan Pernapasan

Pada penderita asma bronkial karena saluran napasnya sangat peka (hipersensitif)
terhadap adanya partikel udara ini, sebelum sempat partikel tersebut dikeluarkan dari tubuh,
maka jalan napas (bronkus) memberi reaksi yang sangat berlebihan (hiperreaktif), maka
terjadilah keadaan dimana:

Otot polos yang menghubungkan cincin tulang rawan akan


berkontraksi/memendek/mengkerut
Produksi kelenjar lendir yang berlebihan
Bila ada infeksi, misal batuk pilek (biasanya selalu demikian) akan terjadi reaksi
sembab/pembengkakan dalam saluran napas

Hasil akhir dari semua itu adalah penyempitan rongga saluran napas. Akibatnya
menjadi sesak napas, batuk keras bila paru mulai berusaha untuk membersihkan diri, keluar
dahak yang kental bersama batuk, terdengar suara napas yang berbunyi yang timbul apabila
udara dipaksakan melalui saluran napas yang sempit. Suara napas tersebut dapat sampai
terdengar keras terutama saat mengeluarkan napas.

Diagnosis
Wheezing berulang dan / atau batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk
menegakkan diagnosis. Termasuk yang perlu dipertimbangkan kemungkinan asma adalah
anak-anak yang hanya menunjukkan batuk sebagai satu-satunya tanda, dan pada saat
diperiksa tanda wheezing, sesak dan lain-lain sedang tidak timbul.
Sehubungan dengan kesulitan mendiagnosis asma pada anak kecil, khususnya anak
di bawah 3 tahun, respons yang baik terhadap obat bronkodilator dan steroid sistemik (5
hari) dan dengan penyingkiran penyakit lain diagnosis asma menjadi lebih definitif.
Untuk anak yang sudah besar (>6 tahun) pemeriksaan faal paru sebaiknya dilakukan. Uji
fungsi paru yang sederhana dengan peak flow meter, atau yang lebih lengkap dengan
spirometer. Uji provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan ( exercise), udara
kering dan dingin atau dengan NaCl hipertonis, sangat menunjang diagnosis. Pemeriksaan
ini berguna untuk mendukung diagnosis asma anak melalui 3 cara yaitu didapatkannya:
1. Variabilitas pada PFR atau FEVI > 15 %
Variablitas harian adalah perbedaan nilai (peningkatan / penurunan) hasil PFR dalam satu
hari. Penilaian yang baik dapat dilakukan dengan variabilitas mingguan yang
pemeriksaan berlangsung > 2 minggu.
2. Reversibilitas pada PFR atau FEVI > 15%
Reversibilitas adalah perbedaan nilai (peningkatan) PFR atau FEVI setelah pemberian
inhalasi bronkodilator.
3. Penurunan > 20 % pada FEVI (PD 20 atau PC20 ) setelah provokasi bronkus
dengan metakolin atau histamin.
Berdasakan alur diagnosis asma anak, setiap anak yang menunjukkan gejala batuk dan /
atau wheezing maka diagnosis akhirnya dapat berupa :
1. Asma
2. Asma dengan penyakit lain
3. Bukan asma

Klasifikasi Asma
1. Klafikasi asma berdasarka gejala
Asma Intermitten
Pada jenis ini serangan asma timbul kadang-kadang. Diantara dua serangan APE
(Pemantaun Arus Puncak Ekspirasi) normal, tidak terdapat atau ada hipereaktivitas bronkus
yang ringan.
Asma Persisten
Terdapat variabilitas APE antara siang dan malam hari, serangan sering terjadi dan
terdapat hiperaktivitas bronkus. Pada beberapa penderita asma persisten yang berlangsung
lama, faal paru tidak pernah kembali normal meskipun diberikan peng-obatan kortikosteroid
yang intensif.

2. Klasifikasi asma berdasarkan penyebabnya


Asma alergi
Asma alergi berhubungan dengan sejarah penyakit alergi yang diderita seseorang dan
atau keluarganya (rhinitis, urtikaria, dan eksim) memberikan reaksi kulit positif pada
pemberian injeksi antigen secara intradermal, peningkatan IgE dalam serum, serta
memberikan respon positif pada uji inhalasi antigen spesifik.
Asma non alergi
Asma dapat pula dapat terjadi pada seseorang yang tidak memiliki sejarah alergi, uji
kulit negatif, dan kadar IgE dalam serumnya normal. Asma jenis ini antara lain dapat
timbul ketika seseorang menderita penyakit saluran nafas atas
Campuran asma alergi dan non alergi
Banyak penderita asma yang tidak dapat jelas dikelompokkan pada asma alergi dan
non alergi, tapi memiliki penyebab diantara kedua kelompok tersebut.

3. Klasifikasi berdasarkan organ yang diserang


Asma bronkhial
Asma ini merupakan serangan gangguan pernapasan dan terjadi kesulitan respirasi
karena penyempitan spastik bronkhus dan pembengkakan mukosa yang disertai
pengeluaran lendir kental dan kelenjar bronkhus.
Asma kardiak
Asma ini merupakan serangan gangguan pernapasan pada penderita penyakit jantung
akibat tidak berfungsi bilik kiri jantung dan bendungan pada paru-paru.
Terapi Asma
a. Non farmakologi
Menjaga Kesehatan
Menjaga kebersihan lingkungan
Menghindari Faktor Pencetus
b. Farmakologi
Golongan obat dan contoh obat:
B2 agonist (terbutalin, salbutamol, eformeterol)
Metil xantin (teofilin, aminofilin)
Antikolinergik (atropin,ipatropium klorida)
Kromolin nodokromolin
Kortikosteroid (prednison, hidrokortison, dexametason)
Leukrotrien reseptor antagonis dan inhibitor sintesis leukotrien (zafirlukast, zileuton)
Antihistamin (ketotipen, tiazinamium)
Ekspektoran dan mukolitik (ambroksol, kalium iodide)

B2 agonist
Saraf adrenergik melakukan kontrol terhadap otot polos saluran napas secara tidak
langsung yaitu melalui katekolamin/epinefrin dalam tubuh. Mekanisme adrenergik meliputi
saraf simpatis, katekolamin dalam darah, reseptor adrenergik dan reseptor adrenergik.
Perangsangan pada reseptor adrenergik menyebabkan bronkokonstriksi dan perangsangan
reseptor adrenergik akan menyebabkan bronkodilatasi

Metil xantin
Ada dua mekanisme yang diperkirakan terjadi. Mekanisme pertama adalah pada
konsentrasi tinggi, obat ini dibuktikan dapat menghambat fosfodiesterase invitro. Enzim
tersebut menghidrolisis cyclic nucleotide sehingga menghasilkan peningkatan konsentrasi
cAMP intraseluler. Efek tersebut dapat menjelaskan terjadinya stimulasi kardiak dan relaksasi
otot polos yang disebabkan oleh obat tersebut. Mekanisme kerja lainnya yaitu terjadinya
hambatan pada reseptor permukaan sel untuk adenosine. Reseptor-reseptor tersebut
memodulasi aktivitas adenylyl cyclace dan adenosine, yang telah terbukti dapat menyebabkan
kontraksi otot polos, jalan napas terpisah, dan menyebabkan rilis histamine dari sel mast jalan
napas.

antikolinergik
Digunakan untuk pasien yang tidak tahan terhadap penggunaan agonisr adrenoreseptor
dengan mekanisme yang sama. Saraf kolinergik merupakan bronkokonstriktor saluran napas
dominan pada binatang dan manusia. Peningkatan refleks bronkokonstriksi oleh kolinergik
dapat melalui neurotransmiter atau stimulasi reseptor sensorik saluran napas oleh modulator
inflamasi seperti prostaglandin, histamin dan bradikinin.
Ipratropium bromide (Atrovent). Ipratropium memakan waktu lebih lama untuk
bekerja dibandingkan dengan beta-2 agonists, dengan keefektifan puncaknya terjadi dua jam
setelah masukan dan bertahan selama enam jam. Anticholinergic agents dapat juga sebagai
obat yang sangat membantu untuk pasien-pasien dengan emphysema.

Golongan steroid
Kortikosteroid menghalangi respon peradangan dan sangat efektif dalam mengurangi
gejala penyakit asma. Jika digunakan dalam jangka panjang, secara bertahap kortikosteroid
akan menyebabkan berkurangnya kecenderungan terjadinya serangan penyakit asma dengan
mengurangi kepekaan saluran udara terhadap sejumlah rangsangan.

Pengubah Leukotrien
Merupakan obat terbaru untuk membantu mengendalikan penyakit asma. Obat ini
mencegah aksi atau pembentukan leukotrien (bahan kimia yang dibuat oleh tubuh yang
menyebabkan terjadinya gejala-gejala penyakit asma). Contohnya montelucas, zafirlucas dan
zileuton

Cromolin nodokromolin
Cromolin nodokromolin diduga menghalangi pelepasan bahan peradangan dari sel mast
dan menyebabkan berkurangnya kemungkinan pengkerutan saluran udara. Obat ini digunakan
untuk mencegah terjadinya serangan, bukan untuk mengobati serangan. Obat ini terutama
efektif untuk anak-anak dan untuk asma karena olah raga. Obat ini sangat aman, tetapi relatif
mahal dan harus diminum secara teratur meskipun penderita bebas gejala.

Antihistamin
Obat ini memblokir reseptor histamine sehingga akan mencegah efek bronkhioli.

Mukolitik dan ekspektoran


Untuk mengurangi kekentalan dahak, mukolitik untuk merombak mukoprotein dan
ekspektoran untuk mengencerkan dahak sehingga mempermudah pengeluaran dahak.

CATATAN PERTANYAAN
Kelompok (tempat persentasi ) :2
Presenter : Nadia Nurhasanah
Co presenter : Iis ismawati

1. Annisa Nur Asri

Apakah asma dapat sembuh secara total?

Jawab : Setelah pengobatan, asma dapat terjadi kembali pada pasien, Hal itu tergantung dari
pengobatannya. Kepatuhan pasien dan cara hidup mempengaruhi hasil pengobatan.

2. Aditia astari
Patofisiologi organ yang terserang
Jawab : bronchi

Otot polos yang menghubungkan cincin tulang rawan akan


berkontraksi/memendek/mengkerut
Produksi kelenjar lendir yang berlebihan
Bila ada infeksi, misal batuk pilek (biasanya selalu demikian) akan terjadi reaksi
sembab/pembengkakan dalam saluran napas

Hasil akhir dari semua itu adalah penyempitan rongga saluran napas. Akibatnya menjadi sesak
napas, batuk keras bila paru mulai berusaha untuk membersihkan diri, keluar dahak yang kental
bersama batuk, terdengar suara napas yang berbunyi yang timbul apabila udara dipaksakan
melalui saluran napas yang sempit

3. Rizal
Stimulus asma salah satunya ada emosi bagaimana mekanisme terjadinya asma karena
emosi?
Mekanisme kafein dalam pengobatan asma ?

Jawab :
Jadi apabila stimulus asma akibat emosi itu dikarenakan keadaan atau reaksi yang
berlebih dari seseorang dalam dirinya terdapat reaksi hipersensitif sehingga pada suatu
serangan asma otot polos dari bronchi mengalami kejang dan jaringan yang melapisi
saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan
lendir.

Kelompok (tempat persentasi ) :3


Presenter : Rosi Dahlia
Co presenter : Gladys Austin

Pertanyaan:

1. Apakah asma bisa disembuhkan? (Pernah punya riwayat asma)


2. Obat-obat asma untuk pasien dengan penanganan khusus (ibu hamil, dan anak-anak)
3. Monitoring yang harus dilakukan untuk terapi pengobatan jangka panjang?

Jawaban:

1. Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan asma secara total. Namun,
beberapa prosedur pengobatan mampu mengontrol asma dengan baik, sehingga
meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Hal ini bertujuan agar penderita asma dapat
melakukan aktifitas layaknya orang normal pada umumnya. Penanganan asma akan
disesuaikan dengan tingkat keparahannya. waktu yang dibutuhkan seorang penderita asma
untuk dapat beraktifitas normal setelah mengalami serangan asma sangatlah bervariasi.
Hal ini tergantung dari tingkat keparahan asma, sistem kekebalan tubuh, kepatuhan
menjalani pengobatan, responsifitas tubuh terhadap pengobatan, kondisi lingkungan, dsb.
Asma pada penderita termasuk ke dalam asma berdasarkan gejalanya, yaitu asma
intermitten, dimana si penderita mengalami kekambuhan dalam jangka waktu yang lama
yaitu tahunan. Asma intermitten merupakan asma yang gejalanya timbul secara berkala
(dapat dalam hitungan minggu, bulan, tahun).

2. Obat pilihan pertama yang disarankan untuk ibu hamil adalah inhalasi golongan
kortikosteroid (beclamethasone, prednisone, betametason, hidrokortison), sedangkan
untuk anak-anak adalah agonis beta seperti albuterol dan terbutalin.
3. Monitoring yang harus dilakukan terutama untuk efek samping dari pengobatan asma itu
sendiri, karena pengobatan asma ini dalam jangka waktu yang lama.

OBAT EFEK SAMPING

Agonis beta adrenergik Tremor, takikardia, sakit kepala, gugup,


hipotensi.

Antikolinergik Takikardia, agitasi, retensi urin

Metil Santin Vasokonstriksi serebal

Kortikosteroid Penurunan system imun, pembengkakan


(edema)

Kromolin Iritasi, batuk, mual

DAFTAR PUSTAKA

1. Harknes R., Interaksi Obat, Penerbit ITB, Bandung.


2. Dipiro Joseph., Pharmacoteraphy a Pathophisiologic Approach, 5th edition, Mc Grow-Hill
Medical Publishing Division.
3. Mutschler E., Dinamika Obat, Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi edisi 5, Penerbit
ITB, Bandung, 2001.
4. Rahardja Kirana, Tjay Tan Hoan, Obat-Obat Penting, edisi 6, Penerbit Gramedia, Jakarta,
2007
5. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Asma, Jakarta, 2004