Anda di halaman 1dari 59
KATA PENGANTAR Kedeputian Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM) - BPPT dalam melaksanakan tugasnya, yaitu melakukan kegiatan inovasi dan layanan teknologi serta pemasyarakatan hasil-hasil teknologi di bidang Informasi, Energi dan Material, selalu didasarkan kepada sistem perencanaan program dan kegiatan yang baik dengan cascading dan terstruktur. Untuk itu, dalam rangka menjalankan tugas pokok tersebut, perlu disusun sebuah fencana strategis (Renstra) yang merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2015-2019 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025, khususnya Rencana Pembangunan Bidang Iptek serta visi dan misi BPPT yang telah ditetapkan. Renstra TIEM 2015 — 2019 hasil revisi bulan Juli 2016 disusun untuk dijadikan acuan dalam pelaksanaan program kegiatan TIEM sampai dengan tahun 2019. Renstra TIEM ini juga mencakup strategi pelaksanaan yang meliputi perencanaan anggaran. Renstra TIEM ini juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan mekanisme pelaksanaan tata kelola kedeputian yang transparan dan akuntabel. ‘Semoga dokumen Renstra ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagaimana mestinya Terima kasih. Jakarta, Juli 2016 Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material Dr. Ir. Hammam Riza Soh DAFTAR ISI BAB | PENDAHULUAN 4.1. Kondisi Umum 1.1.1, Kondisi Global 1.1.2. Kondisi Nasional 1.2. Potensi dan Permasalahan 1.2.1, Potensi Internal 1.2.2. Potensi Eksternal 1.2.3. Permasalahan 1.3. Capaian Kedeputian TIEM 2010-2014 BAB II TUJUAN DAN SASARAN PROGRAM 24 Tujuan Kedeputian TIEM 22 Kinerja Utama dan indikator 2.3. Indikator Kinerja Program Kedeputian TIEM 2.3.1 Indikator Kinerja Program Bidang Teknologi informasi dan Komunikasi 2.3.2, Indikator Kinerja Program Bidang Teknologi Elektronika 2.3.3. Indikator Kinerja Program Bidang Teknologi Kelistrikan Halaman Noacrena 16 7 17 18 18 24 27 2.3.4 Indikator Kinerja Program Bidang Teknologi Bahan Bakar & Industri Kimia 29 2.3.5 Indikator Kinerja Program Bidang Teknologi Material 2.4 Pelayanan Teknologi 24.1 Bidang TIK 2.4.2 Bidang Teknologi Elektronika 2.4.3. Bidang Teknologi Energi Kelistrikan 2.4.4 Bidang Teknologi Enegi Bahan Bakar dan Industri Kimia 2.4.5. Bidang teknologi Material BAB Ill ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULAS! DAN KERANGKA KELEMBAGAAN 3.1. Arah Kebijakan Strategi BPPT 35 40 40 40 40 at 42 43 45 re 3.2 Arah Kebijakan dan Stategi Kedeputian TIEM 3.3. Keranagka Regulasi 3.4 Kerangka Kelembagaan BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN 4.1 Target Kinerja 42 Kerangka Pendanaan BAB V PENUTUP. 46 47 48 50 50 52 58 BABI PENDAHULUAN Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun (RPJPN) 2005 — 2025 adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional periode 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2025, ditetapkan dengan maksud memberikan arah sekaligus menjadi acuan bagi seluruh Komponen bangsa (pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha) di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional sesuai dengan visi, misi, dan arah pembangunan yang disepakati bersama sehingga seluruh upaya yang dilakukan oleh pelaku pembangunan bersifat sinergis, koordinatif, dan saling melengkapi satu dengan lainnya di dalam satu pola sikap dan pola tindak. Dalam RPJPN 2005 - 2025 disebutkan bahwa persaingan yang makin tinggi pada masa yang akan datang menuntut peningkatan penguasaan dan pemanfaatan teknologi ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dalam rangka menghadapt perkembangan global menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan dan penerapan Iptek nasional, tantangan yang dihadapi adalah perlu adanya peningkatan kontribusi Iptek untuk memenuhi hajat hidup bangsa; menciptakan rasa aman; memenuhi kebutuhan kesehatan dasar, energi, dan pangan; memperkuat sinergi kebijakan Iptek dengan kebijakan sektor tain; mengembangkan budaya Iptek di kalangan masyarakat; meningkatkan komitmen bangsa terhadap pengembangan Iptek; mengatasi degradasi fungsi lingkungan; mengantisipasi dan menanggulangi bencana alam; serta meningkatkan ketersediaan dan kualitas sumber daya Iptek, baik SDM, sarana dan prasarana, maupun pembiayaan Iptek. 44. Kondisi Umum Kondisi saat ini menunjukkan, bahwa penguasaan dan pemanfaatan teknologi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berbagai hasil penelitian, kerekayasaan dan pengembangan teknologi telah dimanfaatkan oleh kelompok industri dan masyarakat, Meskipun demikian, xemampuan teknologi secara nasional dalam penguasaan dan penerapan teknologi dinilai masih belum memadai untuk meningkatkan daya saing bangsa. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh masih Lee ee een nee eed Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 1 rendahnya sumbangan teknologi terhadap sektor produksi nasional, belum efektinya mekanisme intermediasi, lemahnya sinergi_kebijakan, _belum berkembangnya budaya Iptek di masyarakat, dan terbatasnya sumber daya Iptek. Dengan adanya perkembangan global, regional dan nasional di bidang teknologi dan adanya tuntutan reformasi birokrasi tatakelola pemerintahan maka BPPT telah melakukan reorganisasi/restrukturisasi. Sebagai konsekuensinya maka perlu dilakukan penyesuaian perencanaan strategis. 4.1.4 Kondisi Global Kondisi geoekonomi global saat ini dan ke depan akan merupakan tantangan sekaligus peluang bagi perekonomian indonesia dalam lima tahun ke depan. Tantangan dan peluang terkait dengan peningkatan kapasitas inovasi dan teknologi antara lain adalah: Pusat ekonomi dunia ke depan diperkirakan akan bergeser terutama dari kawasan Eropa-Amerika ke kawasan Asia Pasifik. Harga komoditas secara umum diperkirakan menurun, namun harga produk manufaktur dalam tren meningkat. Implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 yang akan dimulai tanggal 31 Desember 2015. Kebijakan di bidang ekonomi perlu diarahkan untuk meningkatkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi dengan titik berat pada transformasi industri yang berkelanjutan, sehingga perekonomian Indonesia akan berbasis kepada nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi. Perkiraan pelemahan. harga komoditas di pasar intemasional menjadi tantangan penting bagi Indonesia untuk segera menggeser struktur ekspor Indonesia ke arah produk manufaktur. Sementara itu, peningkatan jaringan rantai suplai global dan regional pun perlu dimanfaatkan oleh Indonesia melalui kebijakan kondusif, yang dapat membuka peluang yang lebih besar bagi pengusaha domestik termasuk usaha kecil dan menengah untuk berpartisipasi dan menjadi bagian dalam rantai suplai internasional. Peningkatan daya saing perekonomian Indonesia menjadi hal utama yang perlu menjadi perhatian. Titik berat peningkatan daya saing perekonomian periu diarahkan es Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 2 pada peningkatan infrastruktur dan ketersediaan energi, peningkatan iklim investasi dan iklim usaha, serta tata kelola birokrasi yang lebih efiisien. Peningkatan daya saing perekonomian ini perlu didukung oleh kebijakan pemerintah daerah yang kondusif, yang tidak menciptakan rente ekonomi maupun ekonomi biaya tinggi Peningkatan infrastruktur akan dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan konektivitas nasional, sehingga integrasi domestik ini akan meningkatkan efisiensi ekonomi dan kelancaran arus barang dan jasa antar wilayah di Indonesia. 1.1.2 Kondisi Nasional Dalam menghadapi kondisi lingkungan strategis dan berbagai tantangan tersebut di atas, Indonesia saat ini masih mengadapi berbagai kendala. Posisi daya saing Indonesia jika diukur dengan indeks daya saing global (Global Competitiveness index GCI) berdasarkan laporan World Economic Forum pada tahun 2014-2015 meningkat dari peringkat 54 pada tahun 2009-2010 menjadi peringkat 34 pada tahun 2014-2015. Tetapi peringkat daya saing ini lebih rendah dibandingkan Malaysia (20), Thailand (31), Brunei Darussalam (26) dan lebih tinggi dibandingkan Vietnam (68), Filipina (52), Kamboja (95) dan Timor-Leste (136). Peningkatan daya saing tersebut merupakan resultan dari kinerja berbagai pilar yang menjadi penopangnya, yang meliputi 12 pilar, yaitu: Institusi, Infrastruktur, Lingkungan Ekonomi Makro, Kesehatan dan Pendidikan Dasar, Pendidikan Tinggi dan Pelatihan, Efisiensi Pasar Barang, Efisiensi Pasar Tenaga Kerja, Pasar Finansial, Kesiapan Teknologis, Ukuran Pasar, Kecanggihan Bisnis, dan Inovasi. Diantara pilar-pilar daya saing tersebut, terdapat tiga (3) pilar yang berkaitan langsung dengan daya dukung teknologi, yaitu: 1). Kesiapan Teknologi dengan indikator: Keberadaan Teknologi Terbaru, Tingkat Dayaserap Teknologi Perusahaan, PMA dan Transfer Teknologi, Pengguna Intemet, Pita Lebar Internet, Pelanggan Telpon Gerak/100 Penduduk; 2). Kecanggihan Bisnis dengan indikator: Kuantitas Pemasok Lokal, Kualitas PemasokLokal, Pengembangan Klaster Negara, Sifat Keunggulan Kompetiti, Kepanjangan Rantai Nilai, Pengendalian Distribusi_Internasionai, Kecanggihan Proses Produksi, Keluasan Pemasaran, Kesediaan Untuk Mendelegasikan Wewenang); dan ——————<—— Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 3 3) Inovasi dengan indikator: Kapasitas Inovasi, Kualitas Lembaga Penelitian limiah,Belanja Litbang Perusahaan, Kolaborasi Litbang Universitas-industri, PengadaanPemerintah untuk Produk Teknologi Maju, Ketersediaan lImuwan dan Insinyur, Utilitas Paten Per Sejuta Penduduk. Dari 12 pilar daya saing tersebut, pilar Kesiapan Teknologi, Efisiensi Pasar Tenaga Kerja dan pilar Inovasi merupakan pilar dengan nilai terendah (nilai Kesiapan Teknologi 3,6, Efisiensi Pasar Tenaga Kerja 3,8 sedangkan Inovasi 3,9 dari skala 1-7) dibandingkan dengan sembilan pilar lainnya. Hal ini mencerminkan bahwa iptek belum berperan secara signifkan dalam meningkatkan daya saing Indonesia. Kemampuan teknologi secara nasional dalam penguasaan dan penerapan teknologi dinilai masih belum memadai untuk meningkatkan daya saing bangsa. Hal ini telah mengakibatkan ongkos untuk menghasilkan suatu produk menjadi mahal, serta kualitas barang serta inovasi produk yang dihasilkan sangat terbatas sehingga daya saing usaha tidak seperti yang diharapkan. 4.2. Potensi dan Permasalahan Analisis potensi dan permasalahan di lingkungan TIEM dilakukan dengan melakukan identifkasi dan analisis lingkungan berpengaruh baik dari lingkungan internal maupun eksternal sebagai dasar untuk melakukan perencanaan strategis. 4.2.1. Potensi Internal Sesuai dengan hasil reorganisasi, Kedeputian TIEM tetap dipimpin oleh deputi kepala setingkat eselon |, yang berada dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala BPPT. Struktur organisasi kedeputian TIEM yang baru terdiri dari dari 5 unit kerja setingkat eselon I! yang terdiri dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK), Pusat Teknologi Elektronika (PTE), Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan industri Kimia (PTSEIK), Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE), dan Pusat Teknologi Material (PTM). Untuk unit kerja setingkat eselon Ill terdiri dari Balai Jaringan Informasi dan Komunikasi (BJIK), Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Disain (BTBRD), dan Balai Teknologi Polimer (BTP). Masing-masing pusat dan balai mempunyai tugas, fungsi dan kedudukannya — eT stra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 4 bersinergi rnenjalankan misi BPPT yang terkait dengan tugas dan fungsi kedeputian TIEM, 4.2.2, Potensi Eksternal Faktor-faktor eksternal yang bisa dianggap menguntungkan dan dapat menjadikan peluang adalah : * Sudah dimulainya upaya-upaya penguasaan dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, energi kelistrikan, bahan bakar dan teknologi material untuk peningkatan kemampuan daya saing industri nasional © Adanya komitmen pemerintah untuk melakukan pengembangan energi baru terbarukan, program konservasi energi dan pengembangan material maju. ‘* Terbukanya pasar bagi pemanfaatan sumber daya alam nabati, sebagai implementasi peraturan pemerintah 28/2008 tentang kebijakan industri nasional dengan adanya mandatori pembatasan ekspor bahan mentah, serta upaya penyerapan sumber nabati mentah sebagai bahan baku industri terbarukan. * Komitmen pemerintah dalam penggunaan bahan nabati sebagai bahan bakar nabati (BBN) dengan diberikannya subsidi untuk pemakaian BBN. © Adanya mandatori presiden dalam upaya memenuhi Kebutuhan energi di Indonesia dalam jangka panjang, dengan ditetapkann Perpres No. § Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, yang berisi mandat pemenuhan kebutuhan energi berdasarkan potensi sumberdaya energi di Indonesia, dengan memberikan target peningkatan penggunaan energi baru (batubara, gas alam) dan energi terbarukan (panas bumi, biofueV/bahan bakar nabati, angin, surya dll) dari 45.6 % (2003) menjadi lebih dari 80 % (2025) dan target penurunan minyak bumi 41,7 % (2003) menjadi kurang dari 20 % (2025) * Potensi pasar! pelanggan yang masih terbuka baik di dalam negeri maupun di luar negeri dalam pemanfaatan bahan polimer untuk high value, tenaga konsultan dalam penyusunan regulasi terkait aplikasi polimer di bidang pangan dan medis. 1.2.3, Permasalahan Ta rd Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 5 a. Permasalahan Internal + Sumberdaya manusia (SDM) yang berstatus sebagai PNS jumlahnya masih sangat terbatas dimana kompetensi mangjerial dan perilaku SDM masih lemah * Masih rendahnya insentif bagi pegawai dibanding beban kerjanya dan terbatasnya dana pengembangan/ investasi bagi keperluan pengembangan teknologi baik hardware dan software serta infrastruktur pendukungnya * Lokasi kedeputian TIEM sebagian besar adalah di kawasan PUSPITEK Serpong yang jauh dari pusat bisnis dan pusat pemerintahan; sehingga memakan waktu jika mau menjalin kerjasana dengan pihak di pusat Jakarta. * Peralatan laboratorium sebagian sudah tua dan masih pertu dilengkapi b. Permasalahan Eksternal * Produktivitas intelektual yang sangat rendah, daya saing industri berbasis TIK yang masih rendah, kesenjangan digital hingga pelanggaran hukum berkaitan dengan HK! bidang TIK adalah di antara persoalan/tantangan serius bidang TIK. + Penggunaan energi terbarukan masih sangat rendah, yakni hanya sekitar 3% dari energi final total yang disebabkan antara lain masih diberikannya subsidi untuk sumber energi fosil seperti BBM. Agar pemanfaatan sumber energi terbarukan dapat lebih cepat diperlukan keberpihakan dari pemerintah, baik dalam bentuk dukungan pendanaan maupun kebijakan khusus. Namun demikian, penguasaan teknologi juga penting dan menjadi syarat utama dalam rangka peningkatan kemandirian bangsa dan daya saing industri Untuk mendorong percepatan penguasaan teknologi energi baik dari segi bahan bakar maupun kelistrikan perlu juga didukung oleh kegiatan penelitian dan perekayasaan. * Iklim politik yang kurang mendukung kegiatan inovasi teknologi terutama teknologi di hulu seperti teknologi material juga menjadi permasalahan utama di bidang pengembangan material bahan baku. —S Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 6 1.3. Capaian Kedeputian TIEM 2010 dan 2014 Kondisi saat ini menunjukkan, bahwa penguasaan dan pemanfaatan teknologi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, Berbagai hasil penelitian, kerekayasaan dan pengembangan teknologi telah dimanfaatkan oleh kelompok industri dan masyarakat, Beberapa capaian BPPT selama periode 2010-2014 antara lain : BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI: E-Service (E-KTP; E-voting; E-government) Penyelenggaraan sistem elektronik untuk E-Services saat ini sangat dibutuhkan, sebagai salah satu upaya optimalisasi pemanfaatan KTP Elektronik yang telah menjadi program nasional sejak tahun 2009, dimana NIK (nomor induk kependudukan) yang unik merupakan basis utama penyaluran layanan pemerintah dan dunia usaha kepada masyarakat serfa pengembangan demokrasi. Selain itu KTP elektronik digunakan dalam otentikasi pada pemilihan mengunakan peralatan elektronik, Pada akhimya produk perangkat pembaca dan perangkat pemilu elektronik diproduksi oleh industri dalam negeri sehingga meningkatkan produktivitas industri nasional. Perisalah Perisalah adalah sistem pembuat risalah dan resume pertemuan menggunakan teknologi pengenal wicara (speech recognition) dan peringkas dokumen (document summarization) dengan bahasa Indonesia. Perisalah merekam suara percakapan manusia dan mengubahnya langsung menjadi teks secara rea! time, runut sesuai jam, menit dan detiknya Multimedia Digital Network (MDN) Kegiatan MDN mewadahi beberapa aktifitas terutama dalam hal penyelenggaraan siaran TV Digital. Dimulai tahun 2019, BPPT telah melakukan penelitian dan pengembangan Sistem Peringatan Dini (Early Warning Systems — EWS) pada siaran TV Digital di Indonesia, Dan atas usulan BPPT, Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia telah menerbitkan Keputusan Menteri yang mengatur tentang kewajiban industri perangkat penerima siaran TV digital (Set Top Box - STB maupun pesawat televisi digital) yang akan dijual di —_———— Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 7 Indonesia, diharuskan mempiliki fitur EWS. Untuk menjamin kualitas dari EWS, maka BPPT menjadi salah satu institusi yang berhak melakukan pengujian terhadap fitur ini. Automatic Dependent Surveillance - Broadcast (ADS-B) Tujuan program adalah menjaga kedaulatan atas ruang udara Indonesia dengan menyiapkan implementasi teknologi CNS/ATM yang dibutuhkan untuk peningkatan kualitas layanan bagi penerbangan sipil dengan meningkatkan keselamatan dan efisiensi penggunaan ruang udara untuk penerbangan domestik maupun intemasional serta peningkatan partisipasi berbagai institusi pemerintah, BUMN dan industri swasta nasional. Program yang telah dilaksanakan adalah Penyempurnaan platform pengujian teknologi baru CNS/ATM dengan fokus pada sub-sistem ADS-B Receiver, ADS-B data processor dan Radar display (HMI). Pengembangan, pengujian dan pemanfaatan "Sistem Pemantauan Penerbangan Berbasis ADS-B" di Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara Husein Sastranegara Bandung. Hasil program sampaidengan 2014 adalah berupa Rekomendasi Pengembangan dan Pengujian Prototipe Sistem Pemantauan Penerbangan Berbasis ADS-B di Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara Husein Sastranegara Bandung. Dan Rekomendasi Pengembangan Prototipe ADS- B Receiver berstandar RCTA DO-260A yang siap dikembangkan oleh Industri nasional.Dua (2) rekomendasi BPPT ini disampaikan kepada Dirjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan dan Perum LPPNPI (Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia). BIDANG ENERGI KELISTRIKAN: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Skala Kecil Kegiatan ini difokuskan pada pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) skala kecil hingga kapasitas 3 MW dengan menerapkan teknologi condensing turbine and binary cycle melalui kerjasama dengan industri manufaktur dalam negeri seperti PT. Nusantara Turbin dan Propulsi (manufaktur turbin), PT. Pindad (generator), PT. Boma Bisma Indra (condenser, demister, jet _————_—$—$$—— Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 8 ejector), dan lain-lain dengan target meningkatkan tingkat Komponen dalam negeri (TKDN) secara maksimal Pilot plant PLTP condensing turbine dengan kapasitas 3 MW telah dibangun di lapangan panas bumi Kamojang, Jawa Barat, melalui kerjasama dengan PT. Pertamina Geothermal Energy (suplai uap panas bumi) dan Balai Besar Konservasi ‘Sumber Daya Alam Jawa Barat (menyediakan lahan), serta PT. PLN (penyaluran listrik). Pilot plant PLTP binary cycle dengan kapasitas 100 kW dibangun di lapangan panas bumi Wayang Windu, Jawa Barat, melalui kerjasama dengan Star Energy Geothermal Ltd. (menyediakan brine dan lahan) Pada Tahun 2012 telah diselesaikan: Prototip Komponen Turbin PLTP 5 MW, Pilot Plant PLTP Binary Cycle 100 KW. Sedangkan dalam Tahun 2013 dilaksanakan: Pengujian Kinerja PLTP 3 MW, Pengujian Pilot Plant PLTP Binary Cycle 100 KW, dan Pilot Plant PLTP Binary Cycle. Audit Energi di Industri Pada kegiatan ini terdapat dua sub kegiatan yaitu perekayasaan peralatan hemat energi dan penerapan manajemen energi. Salah satu output dari kegiatan ini adalah rekomendasi teknologi salah satunya teknologi kogenerasi. Penerapan teknologi kogenerasi yang direkomendasikan oleh Balai Besar Teknologi Energi- BPPT telah diterapkan di PT. Semen Padang dimana salah satunya adalah penerapan Waste Heat Recovery Boiler yakni pemanfaatan gas panas buang dari Kiln sebagai pembangkit tenaga listrik. Proyek tersebut pada perkembangannya dilakukan bekerjasama dengan NEDO - Jepang dan selesai pada tahun 2011 yang menghasilkan penghematan di bidang energilistrik sebesar + Rp. 30 Milyar! Tahun. Dalam hal penerapan manajemen energi, pada tahun 2014 telah dipasang prototipe Sistem Informasi Managemen Energi (SIME) yang di terapkan di Gedung B2TKE, BPPT gedung 620 Kawasan Puspiptek Serpong. Dengan adanya prototipe ini, maka kegiatan ini telah membantu pemerintah dalam program penerapan teknologi efisiensi energi khususnya program konservasi energi. Pelaksanaan audit energi di Indonesia telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.79 tahun 2009 dan Peraturan Menteri (PerMen) ESDM No 14 tahun 2012 yang menyatakan bahwa pengguna energi sebesar 6000 TOE atau lebih nd Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 9 wajib melakukan audit energi secara berkala. Audit energi dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh mengenai pemakaian energi di organisasi/perusahaan dengan tujuan untuk membantu meningkatkan efisiensi penggunaan energi melalui identifikasi sumber pemborosan energi dan memberikan rekomendasi langkah-langkah penghematan energi. Tahapan proses audit energi adalah meliputi kegiatan; a) Survey b) Pengukuran/audit di lapangan ©) Analisis data 4) Identifikasi peluang penghematan energi ) Penyusunan rekomendasi penghematan energi (No Cost, Low Cost, Medium/High Cost Investment) f) Penyusunan laporan Kegiatan audit energi di industri ini difokuskan pada salah satu industri padat ‘energi seperti Industri Kimia, Industri Baja, Industri Manufaktur, Industri Pulp dan Paper, Agro Industri dan industri tekstile. Hasil kegiatan ini berupa rekomendasi langkah-langkah penghematan energi yang dapat diimplementasikan oleh industri mitra dan penyusunan benchmarking intensitas konsumsi energi di industri sebagai teferensi nasional. Smart Micro Grid Yaitu terlaksananya Pelayanan inovasi, difusi dan pengembangan kapasitas serta alin Pengembangan Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida, untuk dayasaing industri yaitu berupa rekomendasi tentang Pengembangan Teknologi Smart Micro Grid Sumba. BIDANG BAHAN BAKAR: Penerapan Pure Plant Oil (PPO) sebagai Bahan Bakar Subtitusi Solar. Penerapan PPO untuk pembangkit listrik juga telah menjadi keluaran kedeputian TIEM yaitu diterapkannya subtitusi bahan bakar solar menggunakan bahan bakar PPO untuk pembangkit listrik. Untuk penerapan pada gas turbin juga telah dilakukan di PLN Sumatra Barat aI EEEEEEESEEEEEEEEET ET Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 10 Up-grading Batubara Untuk PLTU Untuk bidang energi fosil pengujian coal up-grading dari berbagai sumber batubara telah dilakukan dalam rangka pengujian dan feknology clearing house, sehingga sudah mempunyai modal kuat untuk melakukan implementasi di masa mendatang. Program ini juga telah bekerjasama dengan mitra industri dalam degeri dan Ivar negeri. Demikian juga tentang penerapan teknologi gasifikasi untuk pembangkit listrik telah dilakukan piloting dan pengujian. Disamping itu juga telah dilakukan prototiping untuk tar upgrading yaitu pengolah limbah tar (produk gasifikasi) menjadi minyak setara dengan kerosin. Biogas Bahan bakar biogas merupakan bahan bakar yang diperoleh dengan teknologi yang relative sederhana dan telah diterapkan sebagai suatu percontohan di Propinsi Lampung. Biodiesel Biodiesel adalah bahan bakar terbarukan pengganti minyak solar/diesel yang dibuat dari minyak nabati atau lemak hewani. Biodiesel generasi pertama dibuat melalui proses transesterifikasi/esterifikasi. Sampai dengan saat ini, BPPT telah mengembangkan proses produksi biodiese! generasi pertama dan membangun setidaknya 12 pabrik biodiesel di seluruh Indonesia. Berbagai inovasi produksi biodiesel terus dilakukan, diantaranya inovasi untuk pemurnian biodiesel melalui proses pencucian kering dengan menggunakan sistem yang sederhana dan biaya operasi yang rendah. Pabrik Biodiesel yang dikembangkan BPPT ini, didisain mampu mengolah minyak dengan kandungan lemak jenuh bebas kurang dari 4%, dengan kapasitas 3 ton per hari yang. Proses komisioning sudah dilaksanakan untuk menguji kinerja balk proses maupun peralatan dengan spesifikasi biodiesel yang diproduksi sudah memenuhi target SNI 7182:2012, BPPT juga berperan aktif mendukung program pemerintah untuk mendorong pemakaian campuran biodiesel ke dalam minyak solar sampai dengan 20% (B20), melalui yj jalan dan sosialisasi pemanfaatan B-20 di seluruh Indonesia bekerjasama dengan Kementerian ESDM. BIDANG TEKNOLOGI MATERIAI ————— —— ————— Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 11 Teknologi Implant untuk Alat Kesehatan, Implan stainless steel 316L dikembangkan untuk menjawab kebutuhan implan generik murah dan berkualitas dalam rangka mendukung program BPJS Kesehatan. Implan stainless steel 316L dibuat melibatkan industri pengecoran lokal menggunakan bahan baku feronikel produk nasional (PT. Aneka Tambang) Penguatan teknologi produksi material meliputi pemurnian, pemaduan stainless stee! 346L di dapur induksi berbasis bahan baku feronikel lokal serta pembuatan implan menggunakan teknologi investment casting. Penguatan proses produksi dilakukan dengan teknologi pengecoran investment casting dalam meningkatkan kapasitas produksi implan dengan geometri produk yang presisi. Teknologi investment casting sebagai teknologi produksi masal masih bisa dioptimasikan melalui pemilinan casting lay-out, disamping peningkatan mutu kualitas produk cor. Hasil inovasi dalam skala laboratorium ini untuk selanjutnya peru ditingkatkan dalam skala produksi untuk mendapatkan outcome dan impak dari kegiatan. Pengolahan Karet Alam BPPT melalui program “Revitalisasi Sarana Produksi Kompon dan Vulkanisir Ban” berupaya mendorong peningkatan penggunaan karet sebagai bahan baku industri hilir dengan melakukan peran memperbaiki téknologi yang ada melalui peningkatan efisiensi proses dan tingkat keamanan (safety level) terhadap sarana produksi. Program ini telah memberikan impact berupa kemampuan mengolah bahan karet menjadi bahan baku kompon dan vulcanisir bahkan sampai produk hilir karet sehingga mempunyai nitai tambah yang tinggi. Keluaran dari kegiatan ini adalah beroperasinya sarana pruduksi Kompon karet yang menggunakan bahan baku karet alam lokal sebagai bahan baku industri karet. Industri hilir karet yang akan didukung oleh sarana produksi ini antara lain industri komponen otomotif dan vulkanisir ban. Dengan adanya pasokan kompon karet yang diproduksi secara lokal, diharapkan akan tumbuh industri barang jadi karet lokal. Untuk jangka panjang, inovasi pengolahan karet mentah sebagai barang baku industri hilir, termasuk barang jadi karet, perlu dilakukan febih banyak lagi agar semakin mendorong terjadinya hilirisasi penyerapan karet alam di industri Rumah Komposite /Rumah Polimer Ringan Tanggap Darurat SNE ERT Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 12 Rumah tinggal adalah kebutuhan dasar rakyat merupakan salah satu indikator kesejahteraan yang diperlukan untuk menggerakkan ekonomi. Perhatian khusus diberikan terutama untuk daerah bencana alam dan daerah yang sebagian besar penduduknya memiliki kemampuan ekonomi yang lemah, misainya daerah terpencil dan daerah pesisir. Sebagai sebuah inovasi penyediaan sarana tempat finggal secara cepat, mudah didistribusikan, dibangun, serta tahan korosi dan gempa, maka BPPT telah mengembangkan sebuah rancang bangun rumah polimer tanggap darurat yang memiliki konsep ringan dan knock down menggunakan perpaduan komponen komposit sintetis dan bahan alam. Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi kendala konektivitas di remote area akibat keterbatasan dan mahainya sistem transportasi apalagi ketika infrastruktur jalan dan jembatan rusak akibat bencana sehingga menyulitkan pengiriman bahan bangunan. Prototip rancangan rumah tinggal ini merupakan solusi teknologi. Kedepan, solusi teknologi ini akan lebih dipacu untuk industrialisasinya sehingga memberikan kontribusi bagi penyediaan kebutuhan rumah tinggal dan pemukiman. Logam Tanah Jarang (LTJ) Logam tanah jarang (LTJ) oksida merupakan bahan baku untuk pembuatan produk berteknologi canggih dan berkekuatan tinggi. Unsur-unsur LTJ oksida mempunyai citi istimewa yaitu mampu bereaksi dengan unsur-unsur lain untuk menghasilkan sesuatu yang baru. LTJ oksida mampu menghasilkan neomagnet yaitu magnet berkekuatan tinggi mencapai 10-20 kali magnet biasa sehingga memungkinkan munculnya dinamo kuat yang mampu menggerakkan mobil. LTJ dan unsur oksidanya juga mampu meningkatkan kemampuan material berupa kekuatan, kekerasan, dan ketahanan terhadap panas sehingga mineral ini dapat ditambahkan pada pembuatan baja berkekuatan tinggi. LTJ juga digunakan sebagai bahan pembuat superkonduktor, laser, optik elektronik, glass dan keramik. Mineral ini juga dibutuhkan dalam pembuatan berbagai peralatan vital militer, mulai dari sonar kapal perang, alat pembidik meriam tank, hingga perangkat pelacak sasaran pada peluru kendall. Pendek kata, hampir semua produk berteknologi tinggi saat ini, mutai dari televisi, telepon seluler, sampai mobil hibrida dan perangkat pemandu rudal nuklir membutuhkan LTJ. Keperluan LTJ dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2009, permintaan pasar LTJ dunia dan unsur oksidanya mencapai 134.000 ton, sementara kapasitas Leen ee eee ee EET Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 13, produksinya baru 124.000 ton, Tahun 2012, kebutuhan dunia mencapai 180.000 ton. Sebagai negara yang menguasai 97 persen LTJ dunia, China mampu mengoptimalkan pemanfaatan LTJ untuk menunjang perkembangan industri mereka. Dengan produksi LTJ yang besar dan kemampuan menggunakannnya, China mampu membangun industri elektronik nasional yang kuat. Saat ini China menguasai hampir semua lini industri dengan harga yang sangat kompetitif, mulai dati industri elektronik seperti komponen komputer, televisi, monitor dan handycam hingga industri manufaktur seperti industri baja, otomotif dan lainnya. Sadar akan pentingnya LTJ dalam menghasilkan produk teknologi tinggi dengan nilai tambah yang tinggi, sejak tahun 2007 China menurunkan Kuota ekspor secara bertahap sehingga pada 2010 ekspor LTJ China tinggal 50% dibanding tahun 2005 Kegiatan riset kajian telah dilaksanakan untuk mengidentifkasi tantangan penguasaan teknologi nanomaterial logam tanah jarang untuk menghasilkan material yang bernilai tambah tinggi dengan memanfaatkan bahan baku lokal sehingga dapat memacu pertumbuhan industri hilir secara bertahap seperti aplikasi untuk Solid Oxide Fuel Cell (SOFC), sensor, phosphor display, baterei, magnet, hydrogen storage, semikonduktor, superkonduktor, dan lain sebagainya. Logam Tanah Jarang adalah suatu kelompok yang terdiri dari 17 unsur dalam tabel periodik yang terdiri dari 15 unsur grup lantanida ditambah Scandium dan Yttrium. Scandium dan Yttrium dimasukan sebagai rare earth element (REE) karena cenderung hadir dalam deposit yang sama dengan grup lantanida dan memperlihatkan kesamaan sifat sifat kimia (IUPAC, International Union of Pure and Applied Chemistry). Material Energi Peluang bisnis di bidang energi pembangkit listrik tenaga surya demikian besar. Indonesia memiliki polensi energi surya sebesar 4.8 KWh/m2 setara 112,000 GWp sepuluh kali lipat dari potensi Jerman dan Eropa. Sumber energi yang mengandalkan pemanfaatan fosil tidak lama lagi bakal berakhir. Kebutuhan listrik terus meningkat sesuai dengan kemajuan masyarakat. Apabila pemerintah kurang berhasil memenuhinya keadaan menjadi masalah besar. Energi listrik yang mampu dipasok oleh PLN baru 1500-2000 MW. Oleh karena itu, PLN sering melakukan pemadaman listrik bergilir. Proyek tistrik 10.000MW yang sudah selesai dibangun belum mampu memenuhi permintaan listik yang terus melonjak tiap tahun. Diharapkan agar sumber energi alternatif tidak hanya bersifat renewable dan mudah Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 14 dikonversi menjadi energi listrik, dan juga ramah lingkungan. Energi yang paling sesuai adalah energi surya Pembangunan industri sel surya nasional sudah harus disiapkan segera, karena selain merupakan peluang bisnis yang sangat besar, juga untuk memperkuat kedaulatan energi nasional di sektor pembangkitan energi baru terbarukan. Demikian pula penyiapan industri bahan baku sel surya, yaitu industry wafer silikon polikristal yang dimodifikasi menjadi mono-like silikon sudah sangat mendesak. Pasokan industri wafer tidak hanya untuk dalam negeri namun dapat lebih luas lagi Kegiatan riset telah diawali dengan mengidentifkasi pasokan bahan baku bagi industri sel surya nasional yang dapat disediakan secara mandiri di dalam negeri dapat meningkatkan daya saing disektor industri. Kedepan, kegiatan prototyping pembuatan silikon grade photovoltaic perlu didorong untuk memicu terwujudnya industri baru dibidang energi terbarukan berbasi energi surya. BAB II TUJUAN DAN SASARAN PROGRAM ‘Sesuai dengan “Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon | Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2005", BPPT mempunyai tugas “Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku". Dalam melaksanakan tugas tersebut , BPPT mempunyai fungsi sebagai berikut; a. _ Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPPT; b. Pemantauan, pembinaan dan pelayanan tethadap kegiatan instansi pemerintah dan swasta dibidang pengkajian dan penerapan teknologi dalam rangka inovasi, difusi, dan pengembangan kapasitas, serta membina alih teknologi; Penyelenggaraan pembinaan & pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi & tatalaksana, ——_—_— Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 15 kepegawaian, keuangan, kearsipan, persandian, perlengkapan & rumah tanga. Berdasarkan tugas dan fungsi, kondisi umum, potensi dan permasalahan yang akan dihadapi ke depan sebagaimana telah dijelaskan pada Bab | sebelumnya, maka BPPT telah menetapkan visi dan misi BPPT yang akan dicapai melalui pelaksanaan kegiatan sesuai dengan RPJMN 2015-2019, visi BPPT adalah: “Pusat Unggulan Teknologi yang Mengutamakan Inovasi Dan Layanan Teknologi untuk Meningkatkan Daya Saing dan Kemandirian Bangsa” ‘Sedangkan Misi BPPT yang terkait dengan kedeputian TIEM adalah melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi yang menghasilkan inovasi dan layanan teknologi di bidang teknologi informasi, energi, industri kimia, dan material. (sesuai dengan Misi BPPT No. 4). Penyusunan Renstra TIEM 2015 - 2019 dilakukan dengan mempertimbangkan lingkungan strategis dan kondisi terkini serta mengacu pada prioritas dan strategi pembangunan yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015 - 2019 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 -2025 serta TUPOKS! BPPT. Secara khusus di dalam RPJPN 2005-2025 menyatakan bahwa penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) difokuskan pada 7 (tujuh) bidang prioritas, yaitu : () pembangunan ketahanan pangan, (ii) penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan (ii) pembangunan teknologi transportasi, (iv) penciptaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan Komunikasi, (v) pengembangan teknologi pertahanan, (vi) pengembangan teknologi kesehatan dan obat-obatan, dan (vii) pengembangan teknologi material maju 2.1 Tujuan Kedeputian TIEM Berkaitan dalam rangka mewujudkan visi dan melaksanakan misi BPPT , maka tujuan kedeputian TIEM adalah mewujudkan inovasi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa serfa mewujudkan layanan teknologi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam bidang teknologi informasi, energi. industri kimia dan material, Renstra Kedeputian TIEM 201: 2.2. Kinerja Utama dan Indikator Tujuan kedeputian TIEM adalah mewujudkan inovasi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa serta mewujudkan layanan teknologi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam bidang teknologi informasi, energi, industri kimia dan material, yang dapat dicapai dengan beberapa sasaran; yaitu: 1. Sasaran Program 1-TIEM adalah terwujudnya _inovasi di bidang Informasi, Elnergi dan Material untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa 2, Sasaran Program 2-TIEM adalah terwujudnya layanan teknologi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa Pencapaian tujuan ini diukur dengan berapa indikator yang disebut sebagai indikator kinerja utama, yaitu : 1. Jumlah inovasi yang dihasilkan adalah 20 (duapuluh) inovasi teknologt 2, Jumlah rekomendasi yang dimanfaatkan adalah 14 (empat elas) rekomendasi 3, Jumlah layanan teknologi adalah 1491 (seribu empat ratus sembilan puluh satu) layanan 4, Indeks Kepuasan Masyarakat adalah bernilai Baik 2.3 Indikator Kinerja Program Kedeputian TIEM 2.3.1, Indikator Kinerja Program Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Keppres no.4/2015 tentang RPJMN 2015 - 2019, di bidang peningkatan kapasitas inovasi dan teknologi yang bertujuan untuk mendukung peningkatan daya saing sektor produksi barang dan jasa, penyelenggaraan litbang (‘iset) di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi difokuskan pada: 1. Pengembangan infrastruktur TIK, khususnya IT security 2. Pengembangan sistem dan frameworkiplatform perangkat lunak berbasis Open source khususnya industri TIK pendukung e-Government dan e- a nnrTaTed Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 17 business Oleh karenanya, sasaran program bidang TIK adalah —meningkatnya penyelenggaraan sistem elektronik untuk e-government dan e-business berbasis identifikasi dan/atau serfifkat elektronik, Sasaran program bidang TIK yang ada di kedeputian TIEM mengikuti Cascading gambar 1 sebagai berikut 2 produkt nova dang & ‘Goverment dan e-business yangdmmantaaan inka TK Peningkatan daya saing industri dasi Kamandirian bangss. di bidang tale nologt informasi, elektronika, ener ‘Gi, industri Kimia, dan material Sertambahnya e-services berba- ‘is Identifikast dan/atau sertifi- kat elektronik (XCTP-el dan sortifikat dijteal) N72 paket enlog! Bertambahnya paryslen Garaan aistom slekronie intuk e-government dan ‘e-business berba: Sena font Gambar 1, Cascading impact, outcome dan output Bidang TIK Indikator Kinerja : + Jumlah layanan e-Goverment dan e-business berbasis identifikasi dan sertifikat elektronik, dengan target kinerja 2 layanan baru. + Jumlah infrastruktur TI berkeamanan yang dapat digunakan bersama, dengan target kinerja adalah 1 pilot project Data Center berkearanan. Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 + Jumlah inovasi teknologi intelligent computing untuk human information processing dengan target kinerja 2 inovasi teknologi. Untuk berpartisipasi dalam meningkatkan daya saing sektor produksi melalui kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan melalui sistem e-Government dan e- business, maka akan melaksanakan 4 kegiatan selama tahun 2015 - 2019 yakni : 41, Inovasi teknologi infrastruktur Data Center (DC) untuk cloud computing dan certifte authority (CA), di mana akan dikembangkan sistem layanan storage dan aplikasi (software-as-a-service/saas) yang dapat digunakan secara bersama-sama oleh lembaga pemerintah maupun swasta sehingga memudahkan konsolidasi data dan membuat lebih efisien pengelolaan perangkat keras maupun lunak. Dalam kegiatan ini juga akan dikembangkan layanan sertiikat keamanan digital bagi lembaga pemerintah maupun UKM yang memastikan keamanan tukar-menukar data antara lembagafinstitusi dengan pelanggannya 2. Inovasi dalam pengembangan layanan e-government dan e-business berbasis identifikasi dan / atau sertifikat elektronik. 3. Pengembangan perangkat lunak strategis yakni algoritma dan pendataan untuk biometrik dan korpus bahasa 4, Layanan ICT Supporting termasuk teknologi infrastruktur data center untuk cloud computing dan CA, di mana akan diterapkan berbagai layanan yang telah dikembangkan di atas bagi seluruh unsur masyarakat Indonesia yang membutuhkan dan termasuk pengujian, inspeksi dan sertifikasi perangkat lunak J keras yang digunakan dalam berbagai kegiatan e-government maupun e- business. stra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 19 Keempat kegiatan di atas adalah merupakan implementasi dari arah kebijakan program Bidang TIK 2015 ~ 2019 sebagaimana pada gambar 2 di bawah. iSecurity Infrastructure ‘Gambar 2. Arah Kebijakan Program Bidang TIK 2018-2019 CLUSTER: IT Security Infrastructure Cyber Security dan Digital Forensic 1, Kajian Infrastruktur Kritis. Pada masa yang akan datang, diperkirakan bahwa pertahanan siber (Cyber defence) akan semakin berperan, dengan adanya pergeseran pemikiran dikalangan militer bahwa cyber world merupakan matra baru pertahanan yang harus diperhatikan, bukan hanya sebagai bagian dari matra lain. Dalam perang siber (cyber war), peperangan tidak dilakukan secara fisik yang dapat dengan mudah diketahui besarya korban. Peperangan dilakukan dengan merusak sistem informasi dan komunikasi dari infrastruktur kritis dari suatu negara, sehingga mengakibatkan dampak yang sangat luas. Untuk itu kegiatan pada tahun 2016 ini melakukan kajian beberapa infrastruktur kritis. 2. Digital Forensic Security. Kegiatan ‘digital forensic security’ merupakan kegiatan untuk melakukan analisa keamanan dari suatu sistem informasi dan komunikasi dengan melakukan LS Page 20 kejadian forensik. Sedangkan Digital Forensic merupakan proses investigasi Peranti komputer/piranti sistem untuk mengetahui apakah komputer/piranti sistem tersebut dipergunakan untuk keperluan yang ilegal, tidak sah atau tidak biasa. Kegiatan ini memfokuskan pada peningkatan kapabilitas SDM dalam melakukan analisa keamanan (Security Analytic) dan juga melakukan forensic sistem informasi seperti jaringan, komputer dan lainnya yang berhubungan dengan sistem informasi dan komunikasi Inovasi Teknologi Infrastruktur Data Center untuk Cloud Computing dan Certificate Authority (CA) Peningkatan daya saing sektor produksi salah satunya disebabkan oleh peningkatan kualitas layanan sektor pemerintah seperti perijinan, bantuan teknis maupun non-teknis. Kualitas layanan tersebut akan tercapai dengan impiementasi T| yang teramankan dan efisien sehingga memungkinkan perbaikan proses bisnis pemerintahan dalam mendukung sektor produksi. Indikator untuk kegiatan ini adalah jumlah layanan teknologi infrastruktur data center untuk cloud computing. Layanan teknologi infrastruktur data center untuk cloud computing yang dimaksud dalam hal ini adalah layanan-layanan TIK berbasis komputasi awan, yang secara garis besar terdiri atas Infrastructure as a Service (laa), Platform as a Service (PaaS), dan Software as a Service (SaaS). Balai Jaringan Informasi dan Komunikasi (BJIK) sebagai salah satu unit kerja di BPPT yang fokus mendeliver layanan berbasis TIK kepada mitranya berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan-layanan tersebut sesuai dengan perkembangan teknologi. Setelah 3 (tiga) tahun terakhir menyelesaikan proses instalasi Data Center berteknologi komputasi awan, mulai dari laaS dan PaaS, mulai tahun ini fokus pengembangan akan diarahkan pada implementasi layanan Software as a Service (SaaS) Dalam rangka peningkatan efisensi terhadap investasi dan kemudahan konsolidasi data dari sistem / aplikasi e-government, Data Center BPPT yang akan istim Layanan Bersama dapat digunakan secara kolektif untuk dilengkapi dengan keperluan tersebut. Untuk menjaga keamanan data BPPT akan membangun infrastruktur Certificate of Authentication yang merupakan bagian dari IT security guna menjamin keabsahan laman web layanan pemerintah. — ee Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 21 Indikator untuk kegiatan ini adalah jumlah layanan teknologi infrastruktur data center untuk Certificate Authority (CA). Layanan teknologi infrastruktur data center untuk CA yang dimaksud dalam hal ini adalah layanan-layanan TIK berbasis /7 security. Pengembangan government CA (Gov-CA) diharapkan menjadi cikal bakal implementasi Public Key Infrastructure (PKI) di Indonesia, Bekerja sama dengan Kemenkominfo dan instansi terkait lainnya dalam konteks penyediaan solusi, IPTEKnet akan mulai membuat profotize country level root CA untuk menjawab tren kebutuhan sertifkat enkripsi yang terus meningkat akhir-akhir ini Layanan Teknologi infrastruktur Data Center untuk Cloud Computing dan Certificate Authority/CA Kegiatan ini adalah wadah untuk pelayanan teknologi yang diberikan oleh BJIK kepada seluruh masyarakat meliputi layanan teknologi infrastructure Data Center —(Infrastructure-as-a-ServicellAAS), layananpengembangan dan pemanfaatan perangkat lunak (Software-as-a-service/SAAS) maupun layanan pembuatan Certificate digital untuk pengamanan situs WEB pemerintah maupun UKM dalam rangka e-government dan e-business. Kegiatan-kegiatan ini akan dibiayai oleh mitra melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) maupun aktivitas pendampingan swakelola. Pengembangan arah bisnis baru ini diharapkan akan mengganti secara bertahap layanan pengadaan bandwidth sebagai Internet Service Provider (ISP) yang merupakan layanan balai IPTEKnet sejak awal berdirinya. Keberterimaan bisnis baru ini akan ditunjang oleh akreditasi SO 9000:2001, ISO 27001, Tier-3 Certification dari Uptime Institute, atau TIA-942 Data Center, serta sertifikasi personeinya Cluster System & Framework e-Services Innovative e-Services berbasis identifikasi dan / atau sertifikat elektronik Dalam kegiatan ini ditaksanakan pengkajian, pengembangan dan implementasi berbagai layanan pemerintah berbasis clektronik. Dengan tujuan adalah mendekatkan, mempermudah dan melaksanakan secara efisien berbagai layanan pemerintah pada masyarakat. Dalam kegiatan ini dikembangkan berbagai —————————— Renstra Kedeputian THEM 2015-2019 Page 22, perangkat lunak e-Pemerintahan, e-Pemilu, e-Kesehatan, e-Pendidikan dan berbagai aplikasi_ lainnya. BPPT melakukan kajian, pengembangan dan implementasi prototipe / pilot project yang pada sistem produksi / implementasi realnya akan dilaksanakan oleh kementrian / insfitusi yang berwenang pada sektornya dengan didampingi oleh industri nasional. System Intelligent Computing Kegiatan ini mewadahi berbagai pengkajian dan pengembangan teknologi yang tidak selalu bersifat komersial akan tetapi strategis bagi negara. Seperti pengembangan teknologi korpus bahasa yang berguna dalam pengembangan teknologi speech-to-speech translation, maupun teknologi biometrik yang digunakan dalam sistim keamanan data maupun pengamanan lokasi. Disamping itu masih juga terdapat berbagai teknologi maju baru yang penerapannya secara komersial masih membutuhkan pematangan dan waktu yang cukup lama. rue: Ger (aues 035) Gambar 3. Kurva Teknologi Maturity CLUSTER: IT Supporting Pengujian, Inspeksi dan Sertifikasi Peralatan TIK Merupakan kumpulan kegiatan untuk penguatan kelembagaan dan operasional sebagai lembaga audit / inspeksi dan laboratorium uji, termasuk di dalamnya adalah kegiatan-kegiatan untuk pengembangan Rencana Standar ————— eee Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 23 Nasional Indonesia dan sertikasi personil Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi, Akreditasi laboratorium serta Pusat. 2.3.2, Indikator Kinerja Program Bidang Teknologi Elektronika ‘Sasaran program di bidang Elektronika mengikuti cascading gambar 4 seperti terlihat di bawah : impact ‘Peningkatandaya sang duet dan kremanditan bangse at bidang feimologtinterman, leltroni, ‘snerg nein mia, dan aera uy “Tenaya cera rigs tik : ning ee s Diengkapinye 5 Pus- Sareores! Reema terpencl ng onesie dan ‘eon nvigosl untae Wanspotae!, Gambar 4. Cascading impact, outcome dan output Bidang TE Sasaran Program Bidang Elektronika adalah meningkatnya inovasi dan layanan teknologi elektronika dalam mendukung terlaksananya konektivitas/transportasi udara dan laut, pengembangan serta implementasi teknologi pemerataan layanan Kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia (telemedicine). Semua itu terlaksana sebesar mungkin dengan menggunakan peralatan dan jasa dari perusahaan- perusahaan nasional. Indikator Kinerja : © Jumlah layanan teknologi elektronika navigasi yang dimanfaatkan untuk transportasi dengan target kinerja 3 layanan teknologi Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 24 © Jumlah paket teknologi konvergensi yang dimanfaatkan untuk telemedicine dengan target kinerja 5 paket teknologi. Inovasi dan Layanan Konvergensi Teknologi Telemedicine Kumpulan kegiatan yang melakukan kajian, pengembangan, ujicoba hingga sertifikasi dan produksi bersama industri nasional di bidang peralatan-peralatan Kesehatan yang menggunakan komponen elektronika seperti USG, EKG, Haemodialisa dan sebagainya. Alkes ini masih 100% di import dan dibutuhkan di seluruh Indonesia sehingga merupakan pasar yang besar untuk industri nasional tumbuh dan berkontribusi. Inovasi teknologi elektromedika digabungkan dengan konvergensi teknologi telekomunikasi menghasilkan inovasi teknologi telemedicine yang memungkinkan layanan kesehatan spesialis secara jarak jauh. Kegiatan inovasi konvergensi teknologi telekomunikasi merupakan kumpulan kegiatan yang melakukan kajian tentang infrastruktur telematika dan telekomunikasi, pengembangan peralatan, pengujian dan pemberian rekomendasi penggunaan guna tercapainya pemerataan akses telekomunikasi multimedia di seluruh Indonesia. Akses telekomunikasi ini menjadi penting mengingat dengan cara ini dapat dilaksanakan berbagai aktivitas seperti tele-edukasi, tele-medicine, tele-governance dil dimana layanan pemerintah dapat dilakukan tanpa memerlukan kéhadiran seseorang / secara virtual sehingga dapat dilaksanakan secara merata ke seluruh rakyat Indonesia. Inovasi dan Layanan Teknologi Navigasi Udara dan Laut Merupakan kumpulan kegiatan pengkajian, pengembangan, ujicoba hingga sertifikasi dan penggunaan masal bersama industri nasional di bidang pemantauan posisi geografis suatu peralatan / kegiatan ekonomis. Teknologi ini akan berguna untuk memenuhi berbagai kebutuhan dari kebutuhan militer (radar), hingga perikanan di mana dapat dipantau posisi setiap kapal nelayan untuk menjadi dasar penegakan hukum bila nelayan mengambil ikan di daerah-daerah terlarang. Termasuk dalam kegiatan ini adalah teknologi Commmunication Navigation Surveillance / Air Traffic Management (CNS/ATM) yang digunakan untuk mengelola ruang udara Indonesia. Teknologi yang sama digunakan dengan oo Ts Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 25 ‘Automatic Vessel Information System (AVIS) dengan menerapkan untuk memantau keberadaan dan status kapal - kapal laut di perairan Indonesia. Untuk mendukung keselamatan transportasi juga dilakukan pengkajian, pengembangan, inspeksi, ujicoba, verifikasi teknologi yang dibutuhkan untuk keselamatan transportasi seperti signalling Kereta, automatic vehicle avoidance, tactical collision avoidance system. Teknologi ini digunakan untuk mencapai yang utama dalam pengembangan transportasi umum yakni keselamatan penumpangnya Standarisasi Kualitas Mutu Produk dan Jasa bidang TIE Merupakan kumpulan kegiatan untuk penguatan kelembagaan dan operasional sebagai lembaga audit / inspeksi dan laboratorium uji melalui akreditasi, termasuk di dalamnya adalah kegialan-kegiatan untuk pengembangan Rencana Standar Nasional Indonesia dan sertifikasi personil Pusat Teknologi Elektronika. ikan 2.3.3, Indikar Kinerja Program Bidang Ké Di bidang kelistrikan, program pengkajian dan penerapan teknologi, umumnya didorong untuk mendukung sasaran strategis peningkatan kemandirian bangsa. CASCADING IMPACT, OUTCOME DAJA OUTPUT BIDANG KELISTRIKAN oceans "San Page 26 Gambar 5. Cascading impact outcome dan output Bidang Kelistrikan. Dalam gambar di atas, dapat dilihat bahwa sasaran strategis bidang kelistrkan ada 2, yaitu Sasaran Strategis 15 adalah termanfaatkannya penggunaan energi terbarukan untuk pembangkit listik, dan sasaran strategis 16 adalah termanfaatkannya layanan audit energi di sektor industri untuk peningkatan efisiensi energi nasional. Untuk mewujudkan outcome kedeputian TIEM termanfaatkannya energi baru terbarukan untuk pembangkit listrik, maka bidang kelistrikan melaksanakan kegiatan techno park Energi Terbarukan di daerah pantai Baron, Kab. Gunung Kidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai sarana wisata edukasi dan demonstrasi teknologi energi baru dan terbarukan untuk pembangkit listrik. Indikator kinerja program tersebut adalah jumlah layanan kunjungan edukasi Teknopark EBT Baron sebanyak 4000 wisatawan sampai 2019. Selain itu, untuk mendukung sasaran kelistrikan tersebut di atas, dalam jangka menengah juga akan dihasilkan sebuah inovasi dan layanan teknologi smart grid ketenage-istrikan. Adapun indikator kinerjakegiatan tersebut adalah jumlah pilot plant SCADA smard grid for smart city. Disamping menghasilkan Inovasi teknologi smart grid kelistrikan, dalam jangka menengah ini kedeputian TIEM merencanakan untuk menghasilkan Inovasi Teknologi Konservasi dan Audit Energi dengan sasaran kegiatan berupa adalah termanfaatkannya rekomendasi audit energi dan terwujudnya layanan pengujian efisiensi peralatan pengguna energi listrik dan indicator Kinerja. kegiatan berupa jumlah rekomendasi audit energi yang dimanfaatkan mitra dan jumlah sertifikasi pengujian peralatan listrik berbasis standard nasional. Guna mencapai masing-masing indikator sasaran strategis sebagaimana tertulis pada sasaran strategis BPPT, maka ditentukan 2 sasaran Program di bidang kelistrikan di kedeputian TiEM, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut. Di mana 2 sasaran program merupakan program yang mendukung sasaran strategis lembaga yang mendukung program nasional, yaitu termanfaatkannya penggunaan TST Renstra Kedeputian TIEM 2035-2019 Page 27 energi terbarukan untuk pembangkit listrik dan terwujudnya pemanfaatan rekomendasi audit energi. Indikator Kinerja : + Jumlah layanan TCH PLTP binary cycle 500 kW yang beroperasi dengan target kinerja 1 layanan teknologi. « Jumlah PLTP condensing turbin 3 MW yang beroperasi, dengan target 1 unit. * Jumlah layanan kunjungan edukasi Teknopark EBT Baron, dengan target 4000 kunjungan. « Jumlah sertifikat pengujian energi terbarukan dengan target 230 sertifikat pengujian. * Prosentase peningkatan efisiensi energi di industri yang menerapkan rekomendasi audit energi, dengan target 10 % sampai dengan 2019 + Jumiah layanan pengujian peralatan pengguna listrik, dengan 20 layanan sampai dengan 2019 2.3.4. Indikator Kinerja Program Bidang Bahan Bakar dan Industri Kimia ‘Sasaran program TIEM untuk progam bidang bahan bakar dan industri kimia pada RPJMN ke-3 terdiri dari empat program yang merepresentasikan kompetensi dari masing-masing bidang dan menghasilkan outcome, yaitu eS, Page 28 Renstra Kedeputian TIE! impact eg att stn tops ego ens dom abr a ee cheno ome ae Outcome (very ein ‘epee tnt Fenn taiy (ie oven \ : Teiaten meagan mae | Sis) ES a elbueoaeteyat kere ones! Sep 1 ise rane Ta Pas oer) Srey AS sttnecitone om DUEDUY estar eee eeareey | tone | oct Sioa acid na. anc Gambar 6. Cascading impact, outcome dan output Bidang Bahan Bakar dan Industri Kimia 4. Terwujudnya Hasil inovasi dan Layanan Teknologi Bahan Bakar Nabati ‘Untuk Substitusi BBM Dalam lima tahun ke depan, hasil inovasi dan layanan teknologi dari TIEM bidang bahan bakar yang ditargetkan dimanfaatkan oleh industri (sebagai ‘outcome yang berpotensi menghasilkan dampak/impact) adalah bio-energi untuk substitus) © BBM melalui —indikator~—kegiatan biodiesel, biomethano/bioDME/biohythane yang ditargetkan akan tercapai pada tahun 2019. Permasalahan bahan bakar di sektor transportasi maupun industri juga selalu menjadi perhatian publik akibat dari pemanfaatan BBMbersubsidi yang sangat dominan di sektor ini, Krisis BBM diperkirakan akan terus terjadi mengingat kebutuhan minyak secara nasional tidak bisa dimbangi oleh penyediaannya melalui produksi dalam negeri, Dengan mempertimoangkan pentingnya keberlanjutan dalam penyediaan energi nasional dan dalam rangka meningkatkan kemandirian nasional di bidang bahan bakar, maka cipandang Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 29 sangat urgen bahwa Indonesia harus segera memberdayakan dan membangun industri nasional untuk bahan bakar cair, yakni bio-energi. Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 mentargetkan kontribusi EBT sebesar 23 % dari bauran energi nasional pada tahun 2025 mendatang, Biomassa menjadi salah satu opsi strategis penyediaan bio-energi untuk substitusi BBM, Namun, potensi yang ada saat ini belum bisa langsung dan maksimal dimanfaatkan tanpa melalui rekayasa teknologi. Program inovasi dan layanan teknologi pemanfaatan BBN diarahkan untuk menghasilkan teknologi bio-energi yang kompetitif sehingga industri dapat memanfaatkan hasil inovasi ini. Dalam lima tahun ke depan, program ini ditargetkan bisa menghasilkan 1 produk inovasi teknologi bentuk demo plant yang dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri. Program inovasi dan layanan teknologi bio-energi bertujuan untuk menghasilkan teknologi produksi bio-energi yang dapat dimanfaatkan oleh industri. Program ini mendukung program pemerintah dalam percepatan dan peningkatan mandatori pemanfaatan bio-energi. Percepatan peningkatan pemanfaatan bio-energi merupakan tindak lanjut 4 paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Pemerintah yang salah satunya adalah memperbaiki defisit transaksi berjalan dan mengurangi impor migas dengan cara meningkatkan pemanfaatan biodiesel. Mandatori bio-energi bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil khususnya BBM, Untuk pengembangan industri bio-energi dalam energi dalam negeti perlu segera dilakukan dalam rangka memberikan nilai tambah pada perekonomian, mengurangi emisi GRK akibat pembakaran energi fosil, serta untuk mengurangi impor BBM yang semakin meningkat (penghematan devisa akibat pengurangan impor BBM). Meningkatnya porsi biodiesel, maka dapat melakukan penghematan devisa dengan meningkatkan pemanfaatan biodiesel untuk kebutuhan dalam negeri. Dalam lima tahun ke depan, hasi! inovasi teknolgi yang ditargetkan dimanfaatkan oleh industri adalah biodiese! dan biomethanol. Teknologi biodiesel dari proses non katalitik ditargetkan dapat memberikan outcome pada tahun 2019, demikian juga teknologibio-methanol diharapkan dapat memberikan outcome pada tahun 2019, Lene ee ENTS Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 30 2. Terwujudnya hasil inovasi dan layanan teknologi produksi dan pemanfaatan migas dan batubara Sebagaimana disadari bahwa saat ini bahan bakar untuk pembangkit listrik yang dominan adalah batubara, demikian juga kecenderungannya kedepan adalah masih batubara. Melihat kenyataan bahwa sumber batubara Indonesia kebanyakan adalah Low Rank Coal, maka diperlukan upaya yaitu upgrading batubara sehingga batubara tersebut mempunyai kalor yang relative cukup untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Untuk mensuport program pemerintah dibidang bahan bakar cair (BBM), batubara juga bisa berkontribusi memenuhi kebutuhan BBM transportasi yaitu dengan proses pencairan batubara dengan teknologi hidrogenasi. Kedua upaya ini meningkatkan peranan secara nasional bahwa saat ini pemakalan nasional hanyalah 23% sedangkan untuk ekspor adalah 77% Untuk bahan bakar gas dimasa mendatang masin akan besar peranannya sehingga masih diperlukan upaya upaya untuk teknologi pemanfaatannya untuk transportasi, rumah tangga, industri kimia dan pembangkit listrik. Disamping itu juga perlu upaya upaya untuk memproduksi gas-gas sistesis dari bahan bakar lainnya sehingga dapat dihasilakan bahan bakar yang cukup. Untuk peningkan ketersediaan pasokan bahan bakar perlu dilakukan upaya untuk memanfaatkan potensi sumber minyak maka upaya pemanfaatan kilang mini sangat diperlukan. 3. Terwujudnya hasil layanan teknologi di bidang perencanaan dan optimalisasi sistem energi nasional Perencanaan energi nasional adalah mutiak diperlukan untuk menghasilkan perencanaan pembangunan yang optimum. Hal ini disadari karena energi memegang peranan yang cukup penting di dalamnya. Untuk itu Kajian outlook energi di BPPT berharap bisa menjadi rujukan utama nasional dan merupakan outcome kedeputian TIEM. 4, Terwujudnya hasil inovasi dan layanan teknologi industri kimia 2019 Page 31 Renstra Kedeputian TIEM 201 Permasalahan utama industri petrokimia ada pada 3 komponen yaitu teknologi, bahan baku dan katalis yang semuanya masih bergantung pada lisensi asing, ditambah dengan permasalahan penggunaan pupuk nasional yang tidak efisien menyebabkan beban subsidi pemerintah yang cukup tinggi yaitu mencapai Rp. 18 trilyun/tahun, Keppres No. 4 tahun 2010 tentang revitalisasi industri pupuk nasional ditindaklanjuti oleh pemerintandengan menyediakan dana untuk melakukan optimalisasi pabrik pupuk yang ada dan membangun pabrik pupuk baru untuk meningkatkan kapasitas produksi dari 3 juta ton/tahun menjadi 7 juta torvtahun. Dengan melihat potensi tersebut, dan modal invensi pupuk SRF/CRF yang mampu menghemat penggunaan pupuk 30-50%, Kedeputian TIEM melanjutkan kegiatan pengembangan kedepan untuk menghasilkan paten yang dimanfaatkan oleh mitrafisensi pupuk SRF/CRF kapasitas 10.000 - 100.000 ton/th dan dilengkapi dengan pupuk mikro nutrient 1.000 ~ 10.000 ton/th yang diharapkan dapatmengurangi beban subsidi sekitar Rp.5,4 trilyun per tahun. Sedangkan faktor hambatan ekstemal BPPT antara lain: banyak perusahaan yang terikat oleh peraturan prinsipal di luar negeri, serta political will pemerintah lemah (misalnya aturan tentang royalty untuk peneliti dan perekayasa). Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka perlu disusun strategi yang mencakup apa yang ingin dicapai, langkah-langkah dan tahapan untuk mencapainya, dan ‘sumberdaya yang dibutuhkan untuk mendukung pencapaian dimaksud. Formulasi Strategis Program Inovasi Teknologi Industri Petrokimia mendukung program prioritas nasional pembangunan kedaulatan pangan, terutama dalam hal peningkatan produksi padi dan pangan lainnya. Sebagai outcome dari program ini adalah dimanfaatkannya teknologi produksi pupuk SRF/CRF oleh mitra industri dengan kapasitas (10.000 — 100.000 ton per tahun). Beberapa impact yang dapat dicapai dari implementasi pupuk SRF/CRF diantaranya : menghemat penggunaan pupuk sekitar 30 — 50%, fleksibelitas formulas! pupuk yang dihasilkan menyesuaikan dengan spesifikasi lokasi (speklok) dan komoditas, memulihkan kesuburan lahan Karena matriks yang digunakan, mengurangi beban subsidi sekitar Rp. 5 - 9 (Trilyun) per tahun, meningkatkan panen rata-rata in TIEM 2015-2019 Page 32 Renstra Kedepul sekitar 10%. Sesuai dengan target yang diharapkan maka pada tahun 2017/2018 pupuk SRF/CRF sudah diproduksi dan didistribusikan oleh mitra. Mitra pengguna teknologi ini antara lain Industri Pupuk (BUMN), BUMD/Perusda, swasta. ‘Adapun untuk mengatasi shortage gas alam sebagai bahan baku petrokimia (pupuk), maka diharapkan adanya sumber gas alternative yang diperoleh melalui inovasi teknologi produksi syngas. Syngas ini dapat diproduksi dengan menggunakan bahan baku batubara maupun biomassa yang berlimpah di Indonesia. Program migas diharapkan menghasilkan penguasaan teknologi kilang mini dalam rangka mendukung program prioritas nasional pembangunan kedaulatan energy, khsususnya kegiatan pembangunan kilang minyak yang dipersiapkan untuk daerah, remote dicanangkan secara nasional. Kilang Mini area yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Indikator Kinerja : + Jumlah inovasi teknologi produksi BBN yang dimanfaatkan dengan target kinerja 1 inovasi teknologi. + Jumlah inovasi teknologi pupuk SRF/CRF yang dimanfaatkan, dengan target kinerja 1 inovasi teknologi. Indikator Kinerja Program Bidang Material Sasaran Program bidang Material, dapat dijabarkan secara cascading sebagai berikut astra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 33, 2 nora enolate bocompatibte yng Gambar 7. Cascading impact, outcome dan output Bidang Material 4. Terwujudnya inovasi Teknologi Material Biocompatible Urgensi dari kegiatan penerapan teknologi material untuk alat kesehatan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan nasional akan bahan baku biocompatible material untuk alat kesehatan (alkes) implan yang diperlukan pada penyelenggaraan jaminan Kesehatan, seiring meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas, meningkatnya usia harapan hidup manusia Indonesia dan kebutuhan implan karena kerusakan tulang lainnya (karena penyakit) Selain itu, adalah untuk meningkatkan kemandirian bangsa, khususnya dalam memenuhi kebutuhan bahan baku (biomaterial atau biocompatible materials) untuk produksi alkesimplan yang selama ini sangat bergantung pada produk impor; serta untuk meningkatkan pemanfaatan dan memberi nilai tambah padabahan baku lokal yang diperlukan dalam pembuatan alkes implan. 2. Terwujudnya Inovasi Teknologi Material Pengolahan Bahan Baku Salah satu bahan baku strategis untuk industri maju adalah Logam tanah jarang (LTJ) oksida untuk pembuatan produk berteknologi canggih dan berkekuatan tinggi. Unsur-unsur LTJ oksida mempunyai citi istimewa yaitu in TIEM 2015-2019 Page 34 stra Kedepul mampu bereaksi dengan unsur-unsur lain untuk menghasilkan sesuatu yang baru, LTJ oksida mampu menghasilkan neomagnet yaitu magnet berkekuatan tinggi mencapai 10-20 kali magnet biasa sehingga memungkinkan munculnya dinamo kuat yang mampu menggerakkan mobil. LTJ dan unsur oksidanya juga mampu meningkatkan kemampuan material berupa kekuatan, kekerasan, dan ketahanan terhadap panas sehingga mineral ini dapat ditambahkan pada pembuatan baja berkekuatan tinggi. LTJ juga digunakan sebagai bahan pembuat superkonduktor, laser, optik elektronik, glass dan keramik. Mineral ini juga dibutuhkan dalam pembuatan berbagai peralatan vital militer, mulai dari sonar kapal perang, alat pembidik meriam tank, hingga perangkat pelacak sasaran pada peluru kendali. Pendek kata, hampir semua produk berteknologi tinggi saat ini, mulai dari televisi, telepon seluler, sampal mobil hibrida dan perangkat pemandu rudal nuklir membutubkan LTJ Keperluan LTJ dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2009, permintaan pasar LTJ dunia dan unsur oksidanya mencapai 134.000 ton, sementara kapasitas produksinya baru 124.000 ton. Tahun 2012, kebutuhan dunia mencapai 180.000 ton. Sebagai negara yang menguasai 97 persen LTJ dunia, China mampu mengoptimalkan pemanfaatan LTJ untuk menunjang perkembangan industri mereka. Dengan produksi LTJ yang besar dan kemampuan menggunakannnya, China mampu membangun industri elektronik nasional yang kuat. Saat ini China menguasai hampir semua lini industri dengan harga yang sangat kompetitif, mulai dari industri elektronik seperti komponen Komputer, televisi, monitor dan handycam hingga industt manufaktur seperti industri baja, otomotif dan lainnya. Sadar akan pentingnya LTJ dalam menghasilkan produk teknologi tinggi dengan nilai tambah yarig tinggi, sejak tahun 2007 China menurunkan kuota ekspor secara bertahap sehingga pada 2010 ekspor LTJ China tinggal 50% dibanding tahun 2006. Kegiatan riset ini dlaksanakan untuk menjawab tantangan penguasaan teknologi nanomaterial logam tanah jarang untuk menghasilkan material yang bernilai tambah tinggi dengan memanfeatkan bahan baku lokal sehingga dapat memacu pertumbuhan industri hilir secara bertahap seperti aplikasi untuk Solid Oxide Fuel Cell (SOFC). sensor, phosphor display, baterel, magnet, hydrogen storage, semixonduktor, superkonduktor, dan lain $$ — + ae Page 35 Ronstra Kedeputian THEM 2015-2019 sebagainya. Logam Tanah Jarang adalah suatu kelompok yang terdiri dari 17 unsur dalam tabel periodik yang terdiri dari 15 unsur grup lantanida ditambah ‘Scandium dan Yttrium. Scandium dan Yttrium dimasukan sebagai rare earth element (REE) karena cenderung hadir dalam deposit yang sama dengan grup lantanida dan memperlihatkan kesamaan sifat sifat kimia (IUPAC, International Union of Pure and Applied Chemistry) Sementara bahan baku alam yang masih tersedia dalam bentuk komoditas adalah Karet Alam, merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup strategis dalam kegiatan perekonomian Indonesia. Karet juga salah satu ekspor Indonesia yang cukup penting sebagai penghasil devisa negara di luar minyak dan gas. Sekitar 90 persen produksi karet alam indonesia diekspor ke manca negara dan hanya sebagian kecil dikonsumsi di dalam negeri, Peranan karet terhadap ekspor nasional tidak dapat dianggap kecil, mengingat Indonesia merupakan produsen Karet nomor dua terbesar di dunia setelah Thailand dengan produks! sebesar 2,751 juta ton pada tahun 2008. Namun dari sisi luasan Indonesia memiliki luas lahan karet terbesar didunia yaitu 3,42 juta hektar dan volume ekspor 2,295 juta ton dengan nilai USS 6,06 Milyar pada tahun 2008. Walaupun telah banyak dilakukan berbagai upaya untuk menyelaraskan arah pengembangan perkaretan nasional, namun masih belum terlihat sinergis. Dengan pengembangan Advanced Rubber Technology Center, diharapkan akan lebih aktif jaringan antar pemangku kepentingan. Saat ini sudah diinisiasi dengan informasi harga karet harian per kawasan. Industri hilir yang akan berkembang banyak, memerlukan pusat perekayasaan yang dapat membantu inovasi dan standarisasi produk. Pengembangan ban pesawat menjadi penting karena penggunaan karet alam sangat dominan. Untuk program pemerintah yang penting terkait perumahan dan pemukiman diperlukan bahan baku komposit untuk konstruksi bangunan tempat tinggal, khususnya hunian khusus yang memiliki sifat ringan, mudah ditransportasi dan cepat dalam proses instalasi. Dari sisi material, tentunya diperlukan teknologi material ringan sehingga dapat dibawa dan dirakit oleh manusia. Dari sisi sistem struktur, harus dapat mengakomodasi proses instalasi yang cepat dan memiliki kapasitas yang besar. Karena itu, melalul Page 36 Renstra Kedeput penelitiah jembatan sementara, diharapkan dapat memperoleh teknologi struktur jembatan sementara yang ringan, cepat dalam proses instalasi dan ‘memiliki kapasitas yang cukup baik. Bahan Komposit yang ada di pasaran indonesia memiliki karakteristik yang getas dengan transisi antar fase leleh sehingga keruntuhan yang sangat singkat (ductilitas rendah). Hal ini tentunya sangat tidak diharapkan untuk bangunan sipil apalagi rumah dan tempat tinggal pada umumnya. Di samping itu, belum cukupnya database penggunaan bahan komposit lengkap dengan karakterisasinya sehingga diperlukannya kajian untuk —mengetahui karakteristik bahan komposit plastik untuk Konstruksi jembatan. Berdasarkan hal-hal di atas, dinarapkan kita dapat mengembangkan teknologi peningkatan kualitas komposit untuk konstruksi. Dalam hal pemenuhan kebutuhan energi terbarukan, dibutuhkan bahan baku material yang sesuai dengan pemanfaatan energi surya. Peluang bisnis di bidang energi pembangkit listrik tenaga surya demikian besar, Indonesia memiliki potensi energi surya sebesar 4.8 KWhim2 setara 112.000 GWp sepuluh kali lipat dari potensi Jerman dan Eropa. Sumber energi yang mengandalkan pemanfaatan fosil tidak lama lagi bakal berakhir. Kebutuhan listrikterus meningkat sesuai dengan kemajuan masyarakat. Apabila pemerintah kurang berhasil memenuhinya keadaan menjadi masalah besar. Energi listrik yang mampu dipasok oleh PLN baru 1500-2000 MW. Oleh karena itu, PLN sering melakukan pemadaman listrik bergilir. Proyek listrik 10.000MW yang sudah selesai dibangun belum mampu memenuhi permintaan listrik yang terus melonjak tiap tahun. Diharapkan agar sumber energi alternatif tidak hanya bersifat renewable dan mudah dikonversi menjadi energi listrik, dan juga ramah lingkungan. Energi yang paling sesuai adalah energi surya. Pembangunan industri sel surya nasional sudah harus disiapkan segera, Karena selain merupakan peluang bisnis yang sangat besar, juga untuk memperkuat kedaulatan energi nasional di sector pembangkitan energi baru terbarukan. Demikian pula penyiapan industry bahan baku sel surya, yaitu industry wafer silikon polikristal yang dimodifikasi menjadi mono-like silikon sudah sangat mendesak. Pasokan industri wafer tidak hanya untuk See EEE TPTTT Page 37 dalam negeri namun dapat lebih luas lagi. Pasokan bahan baku bagi industry sel surya nasional yang dapat disediakan secara mandiri di dalam negeri dapat meningkatkan daya saing disektor industri. 3, Layanan Teknologi Polimer Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari material ringan berupa kehidupan baik untuk plastik yang telah digunakan dalam seluruh perangkat rumah tanga, komponen elektronika, Komponen transportasi, dil. Untuk mendukung industri yang memanfaatkan material polimer, diperlukan akses teknologi oleh masyarakatindustri dalam peningkatan kualitas dan standarisasi produk. Untuk keperluan itu, disiapkan layanan teknologi polimer dan material yang memadai sesuai dengan standar internasional untuk kepentingan perdagangan global. Indikator Program: 4. Persentase penggunaan material biocompatible dalam negri di rumah sakit orthopedhi terpilih dengan target 10% sampai tahun 2019. 2. Jumlah Inovasi teknologi material pengolahan bahan baku yang dimanfaatkan oleh industri dengan target 1 inovasi teknologi 3, Jumlah layanan sertifixasi material dan/atau produk polimer yang dimanfaatkan oleh industri dengan target 5 layanan sertifikasi. 4, Jumlah Layanan Pengujian polimer dengan target 1470 pengujian. 2.4, Pelayanan Teknologi Layanan teknologi merupakan jembatan yang baik untuk implemetasi hasil inovasi teknologi kepada semua pemangku kepentingan baik pemerintah, BUMN, swasta dan rakyat. Berikut adalah target layanan teknologi yangada di kedeputian TIEM. 2.4.1. Bidang TIK Dalam melaksanakan tupoksinya yakni melaksanakan tugas pemerintah di bidang pengkajian dan penerapan teknologi di bidang teknologi informasi dan Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 38 komunikasi, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) juga melaksanakan layanan teknologi yang diminta oleh masyarakat secara langsung dengan mekanisme yang sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Mekanisme tersebut adalah melalui Pusat Layanan Teknologi BPPT dengan kontrak kerja untuk instansi pemerintah dan swasta, atau dengan mekanisme swakelola pihak pertama untuk instansi pemerintah. 2.4.2. Bidang Teknologi Elektronika Layanan di bidang teknologi elektronika terdiri dari beberapa bentuk, antara lain: Konsultansi penerapan teknologi, pendampingan teknis, studi kelayakan penerapan teknologi, kajian regulasi dan standar terkait, pengujian perangkat elektronika, sertifikasi produk dan audit teknologi. Semua layanan_teknologi elektronika dilakukan melalui Pusat Layanan Teknologi yang merupakan BLU di BPPT. 2.4.3. Bidang Teknologi Energi Kelistrikan Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015- 2019 buku Il, tertulis tentang pentingnya layanan perekayasaan dan teknologi didalam sebuah bisnis. Layanan tersebut bisa berupa jasa-jasa pengujian bahan, jasa perancangan produk dan perekayasaan, problem solving dan juga jasa pelatihan dan pendidikan Salah satu strategi yang diterapkan pemerintah untuk mencapai RPJMN tersebut adalah meningkatkan kapasitas dan pelayanan. Untuk itu dilaksanakan peningkatan Kapasitas layanan dan revitaslisasi peralatan laboratorium serta peningkatan kualitas dan jumlah SDM yang akan di biayai dari dana pemerintah. Berdasarkan buku RPJMN 2015-2019, B2TKE direncanakan berfungsi sebagai fasilitas untuk pengujian refrigerator, pendingin ruangan (AC), perancangan sistem pembangkit panas surya, laboratorium kalibrasi dan laboratorium modul surya. Untuk itu, peralatan yang telah berumur lebih dari 20 tahun perlu direvitalisasi. Disamping peningkatan fasilitas di bidang teknologi energi_kelistrikan dilakukan pula kegiatan di bidang layanan teknologi konservasi dan audit energi EE TT Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 39 serta standardisasi efisiensi penyediaan dan penggunaan energy serta Inovasi Layanan teknologi juga mencakup layanan uji batere mobil listrik. 2.4.4, Bidang Teknologi Energi Bahan Bakar dan Industri Kimia Bidang teknologi bahan bakar dan industri kimia, secara umum dapat memberikan pelayanan teknologi jasa konsultansi, rekayasa disain, jasa pengujian bahan bakar, jasa pelatinan dan alih teknologi, jasa analisa, pendampingan proses konstrusi (owner consultant). Jasa Konsultansi mencakup: studi kelayakan (feasibility study), disain dasar (basic design), disain rinci (detailed design), supervisi pembangunan (construction supervision) dan uji komisioning (comissioning tes‘). Pekerjaan yang ditangani mulai dari disain dan pemodelan untuk proses (process), peralatan (equipment), kelistrikan (electrical), instrumentas (intrumentation), sipil (civil works), pemipaan (piping), struklur (siructurs), sampai dengan manajemen proyek (project management). Untuk pelaksanaan jasa tersebut didukung software yang sesu: Jasa pengujian bahan bakar saat ini mencakup pengujian dan karakterisasi bahan bakar nabati (biofue), pengujian dan karakterisasi batubara dan uji bakar batubara, Selain itu juga menangani juga pengujian dan karakterisasi bahan bakar minyak dan gas. 2.4.8, Bidang Teknologi Material Layanan bidang material adalah alih teknologi, pengembangan teknologi, pengujian mutu kualitas produk, konsultasi dan pendampingan ———————— Renstra Kedeputiai Page 40 BAB III ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN Dalam rangka mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, maka dalam RPJMN 2015 -2019 telah dirumuskan sembilan agenda prioritas dalam pemerintahan ke depan. Kesembilan agenda prioritas itu disebut NAWA CITA. ‘Agenda Prioritas tersebut yang secara langsung dapat didukung oleh BPPT khusunya kedeputian TIEM yaitu’ Nawa Cita 1: EE eaTT Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 41 Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan ‘memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara. Nawa Cita 2: Membuat pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya Nawa Cita 5: Meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia. Nawa Cita 6 : Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya. Nawa Cita 7: Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektorsektor strategis ekonomi domestik Berdasarkan sasaran pokok Pembangunan Nasional yang sesuai dengan visi pembangunan “Terwujudnya indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong", maka pembangunan nasional 2015-2019 akan diarahkan untuk mencapai sasaran utama yang mencakup: 1). Sasaran Makro; 2) Sasaran Pembangunan Manusia dan Masyarakat: 3). Sasaran Pembangunan Sektor Unggulan; 4). Sasaran Dimensi Pemerataan; 5). Sasaran Pembangunan Wilayah dan Antarwilayah; 6). Sasaran Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan. Mengacu pada sasaran utama serta analisis yang hendak dicapai sera mempertimbangkan lingkungan strategis dan tantangan-tantangan yang akan dihadapi bangsa Indonesia ke depan, maka arah kebijakan umum pembangunan nasional 2015-2019 adalah: 1. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berketanjutan. 2. Meningkatkan Pengelolaan dan Nilai Tambah Sumber Daya Alam (SDA) yang Berkelanjutan 3. Mempercepat Pembangunan Infrastruktur Untuk Pertumbuhan dan Pemerataan 4, Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup, Mitigasi Bencana Alam dan Penanganan Perubahan Iklim. tS Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 42 Penyiapan Landasan Pembangunan yang Kokoh. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia dan Kesejahteraan Rakyat Yang Berkeadilan. Mengembangkan dan Memeratakan Pembangunan Daerah Sasaran pembangunan Iptek adalah meningkatnya kapasitas iptek yang dijabarkan sebagai berikut: 1 34 Meningkainya hasil_penyelenggaraan penelitian, pengembangan dan penerapan iptek yang mendukung daya saing sektor produksi barang dan jasa; keberlanjutan dan pemanfaatan sumber daya alam; serta penylapan masyarakat Indonesia menyongsong kehidupan global. Meningkatnya dukungan bagi kegiatan iptek termasuk penyediaan SDM, sarana prasarana, kelembagaan, jaringan. Terbangunnya 100 Techno Park di kabupaten/kota, dan Science Park di setiap provinsi. Arah Kebijakan dan Strategi BPPT Dalam upaya mewujudkan visi dan misi serta pencapaian sasaran strategis BPPT untuk mendukung arah kebijakan dan strategi nasional, arah kebijakan BPPT pada tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut: a. Melakukan pengkajian dan penerapan teknologi melalui inovasi dan layanan teknologi untuk mendukung peningkatan daya saing industri melalui : 1. Penyelenggaraan litbangyasa teknologi untuk menghasilkan inovasi dalam bidang teknologi:energi, _informasi, _elektronika, material, transportasi,maritim, hankam, permesinan, industri kimia, pangan dan pertanian, sistiminovasi untuk pembangunan taman tekno dan sains, dan inkubasi teknologi. 2. Melakukan peningkatan dukungan bagi pelaksanaan pengkajian dan penerapan melalui dukungan infrastruktur labratorium. ET Renstra Kedeputian TIEM 2025-2019 Page 43 3. Berkontribusi dalam pembangunan dan pengembangan Taman Tekno dan Taman Sains. b. Mendukung kemandirian bangsa melalui: Penyelenggaraan litbangyasa teknologi untuk menghasilkan inovasi dalam bidang teknologi: obat dan kesehatan, teknologi sumber daya alam dan kelautan, lingkungan dan kebencanaan. ¢. Meningkatnya tatakelola pemerintahan yang baik untuk mendukung inovasi dan layanan teknolog ‘Strategi pelaksanaan dari arah kebijakan tersebut diatas dilakukan melalui: 3.2. a, Melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi melalui 3 (tiga)program uutama yaitu: 4, Program Pengkajian dan Penerapan Teknologi (PPT), 2. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BPPT, 3. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur BPPT. b. Melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi melalui pembidangan teknologi yang ada di BPPT c. Melaksanakan kegiatan dengan pemanfaatan Sistem Inovasi Nasional d. Melaksanakan kegiatan dengan sistem tata kerja kerekayasaan (STTK) Arah Kebijakan dan Strategi Kedeputian TIEM Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya serta arah kebijakan dan strategi BPPT, maka kedeputian TIEM merumuskan arah kebijakan dan strategi pencapaian sas saran program yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu 2015-2019 kedepan, seperti berikut, Ren: No Arah Kebijakan Strategi stra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 44 Peningkatan daya saing industri ‘melalui inovasi dan/atau layanan teknologi TIK Pemanfaatan dan pelayanan teknologi e-services berbasis identifikasi dan/atau sertifikat elektronik (KTP-el dan sertifikat dijital) pada perusahaan Peningkatan daya saing industri melalui inovasi dan/atau layanan teknologi elektronika Pemanfaatan layanan teknologi elektronika navigasi untuk keselamatan transportasi Peningkatan kemandirian bangsa melalui inovasi dan/atau layanan teknologi energi Pemanfaatan energi terbarukan untuk pembangkit listrik Peningkatan kemandirian bangsa melalui inovasi dan/atau layanan teknologi audit energi Pemanfaatan rekomendasi audit energi Peningkatan kemandirian bangsa melalui inovasi dan/atau layanan teknologi bahan bakar nabati Pemanfaatan inovasi teknologi produksi Bahan Bakar Nabati Peningkatan kemandirian bangsa melalui inovasi dan/ atau layanan teknologi industri kimia Pemanfaatan inovasi teknologi industri kimia Peningkatan daya saing industri melalui inovasi dar/atau layanan teknologi material Pemanfaatan layanan teknologi material biocompatible dalam negri 3.3. Kerangka Regulasi + Keputusan Presiden Nomor 103 tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas , Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. + Peraturan Presiden Republik Indonesia No 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 ~ 2019. * Undang Undang republik Indonesia No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. + Undang Undang Republik Indonesia No. 1 th 2014 ttg Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil —_—_—_———_—_— ————— Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 45 Disamping itu terkait dengan Penguasaan dan Pemanfaatan Teknologi ada beberapa peraturan perundangan yaitu Undang-Undang no 18 tahun 2002 mengamanatkan penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pencapaian tujuan negara Teknologi sebagai cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan disiapkan untuk menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan, kelangsungan, dan peningkatan mutu kehidupan manusia dan dituntut penguasaannya untuk memudahkan industri memproduksi produk-produk yang dibutuhkan masyarakat. Penguasaan Teknologi untuk Pembangunan dan Penguatan Struktur Industri: Sesuai amanat UU no 3 tahun 2014, Industri merupakan sektor usaha yang terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan kondisi ekonomi baik, negara dapat membiayai pembangunan di segala bidang Industri manufaktur harus memiliki Sumber daya teknologi, SDM kompeten dan pasokan bahan baku yang aman. Struktur industri nasional harus diperkuat untuk penguasaan pasar maupun untuk Kedalaman jaringan pemnasok bahan baku dan bahan pendukung, komponen, dan barang setengah jadi bagi industri hilir. 3.4. Kerangka Kelembagaan Penyesuaian Kerangka kelembagaan BPPT (struktur_organisasi, ketatalaksanaan dan pengelolaan SDM) yang digunakan untuk melaksanakan Rencana Strategis BPPT 2015 ~ 2019 mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Meningkatkan keterkaitan dan koordinasi_pelaksanaan _bidang-bidang pembangunan yang terdapat dalam RPJMN 2015-2019, sesuai dengan fungsi dan visi/misi BPPT; 2. Mempertajam arah kebijakan dan strateg) BPPT sesuai dengan kapasitas organisasi dan dukungan sumber daya BPPT; 3. Membangun struktur organisasi yang tepat fungsi dan tepat ukuran, menghindari duplikasi fungsi dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi BPPT dalam melaksanakan program-program pembangunan nasional, 4, Memperielas ketatalaksanaan dan meningkatkan profesionalitas SDM BPPT. ET Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 46 Struktur organisasi BPPT merupakan kerangka dalam pola tetap hubungan diantara fungsi-fungsi, unit-unit, atau posisi-posisi, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda- beda dalam satu organisasi BPPT. Struktur organisasi BPPT mengandung unsur- unsur sebagai berikut: 1. Spesialisasi kegiatan, yaitu berkenaan dengan spesifikasi tugas-tugas dalam organisasi BPPT; 2. Standardisasi kegiatan, yaitu prosedur-prosedur yang digunakan untuk menjamnin terlaksananya kegiatan yang telah direncanakan; 3. Koordinasi kegiatan, —yaitu. menunjukkan —_prosedur-prosedur yang mengintegrasikan fungsi-fungsi satuan kerja dalam organisasi BPPT; 4, Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan yang menunjukkan lokasi (letak) kekuasaan pembuatan keputusan; 5. Ukuran satuan kerja yang menunjukkan level eselonisasi suatu unit kerja. Berdasarkan tujuan reformasi birokrasi untuk membentuk organisasi yang tepat fungsi maka, struktur organisasi kedeputian TIEM telah direorganisasi berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Nomor : 009 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi digambarkan pada berikut: DEPUTI BIDANG TEKNOLOGI! INFORMASY, ENERG! dan MATERIAL ‘SUS NS TATE ae PUSAT PUSAT TEKNOLOGI Texno.oat | | PENGEMBANGAN LEKTRONIKA |} SUMBER DAYA ENERG! DAN INDUSTRGRIA BALA JARINGAN BALATERNOLOGI BAA INFORMAS: DAN. ‘BAHANBAKAR DAN J | TEXNOLOG! KOMUNIKAS! PEKAYASA DESAI, POUNER Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 47 BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN 44 Target Kinerja Dalam rangka menentukan target kinerja dan kerangka pendanaan kegiatan di Kedeputian TIEM 2015-2019, ada dokumen utama yang menjadi acuan adalah Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nesional (RPJMN) Tahun 2015-2019 dan Renstra BPPT 2015-2019 termasuk revisinya yang antara lain yang termuat dalam buku 1 dan buku 2 Berdasarkan acuan diatas, kemudian dilakukan sinkronisasi_ dengan kompetensi dan sumber daya di kedeputian TIEM yang selanjutnya menghasilkan 15 (Lima Belas) Program TIEM 2015-2019 terpilih yaitu: * Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi : 1. Inovasi dan layanan teknologi Penyelenggaraan Sistem Elektronik untuk E- Pemerintahan dan E-Business 2. Inovasi dan layanan teknologi Intelligent Computing ES Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 48 3. Inovasi dan layanan teknologi Infrastruktur dan Keamanan Informasi + Bidang Teknologi Elektronika : 1. Inovasi dan layanan teknologi Elektronika Navigasi 2. Inovasi Konvergensi teknologi Elektronika dan Telekomunikasi Sistem Telemedicine + Bidang Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia: 1. Inovasi Teknologi Produksi Bio Energi 2. Inovasi Teknologi Produksi dan Pemanfaatan Migas dan Batubara 3. Layanan Teknologi Perencanaan Energi dan Optimalisasi Sistem Energi Nasional 4. Inovasi Teknologi Industri Petrokimia 5. Layanan Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Desain + Bidang Teknologi Konversi Energi: 1. Inovasi Teknologi PLTP Skala Kecil sid 5 MW 2. Inovasi Teknologi Smartgrid 3. Inovasi Teknologi Konservasi dan Audit Energi 4, Kawasan Techno Park Energi Terbarukan (Baron Techno Park) 5, Layanan Teknologi pengujian peralatan energi baru terbarukan * Bidang Teknologi Material: 1. Inovasi Teknologi Material Biocompatible 2. Inovasi Teknologi Material Bahan Baku Industri 3. Layanan sertifikasi material dan/atau produk polimer ‘A. Program Pengkajian dan Penerapan Teknologi Capaian Kinerja (Impact) BPPT merupakan kontribusi secara konvergen dan berjenjang dari capaian kinerja (oufcome) Eselon | dan capaian kinerja (output) Eselon Il Unit/Satuan Kerja sebagai hasil dari pelaksanaan program dan kegiatan.Alur Arsitektur Dan Informasi Kinerja (ADIK) untuk 15 (Lima Belas) kegiatan Program Pengkajian dan Penerapan teknologi (PPT Selanjutnya berdasarkan alur pikir seperti yang diperlihatkan pada gambar disusun formulasi strategis program Pengkajian dan Penerapan Teknologi ———————— Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 49 (PPT) Kedeputian TIEM 2015-2019 yang memuat Sasaran Program untuk mendukung Sasaran Strategis dapat diuraikan dalam indikator dan target kinerja. B. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya, dengan 5 sasaran program sebagai berikut : 1. Meningkatnya pelaksanaan Reformasi Birokrasi 2. Meningkatnya akuntabilitas kinerja. 3. Meningkatnya Kualitas Pelayanan Publik Kepada Masyarakat 4. Tercapainya transparansi, kualitas pengawasan, dan percepatan penyelesaian tindak lanjut hasil pengawasan dan memenuhi harapan pemangku kepentingan 5. Tercapainya Penerapan Manajemen Risiko pada __pelaksanaan ProgranvKegiatan. C. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur, dengan sasaran program terwujudnya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana 4.2. Kerangka Pendanaan Kerangka pendanaan dityjukan untuk mempertajam alokasi anggaran agar efektif dan efisien. Melalui mekanisme penyusunan kerangka pendanaan yang dilaksanakan yaity dengan mempertimbangkan kegiatan dan anggaran tahun sebelumnya, yang kemudian direview khususnya pada keberianjutan program tethadap agenda pembangunan dengan melakukan perbaikan-perbaikan pada outputikeluaran serta._-—-Komponer-komponen —dibawahnya. ‘Dengan mempertimbangkan lingkungan strategis dan capaian pada visi dan misi maka ditakukan review baseline yang meliputi alokasi program, kegiatan dan output serta komponen yang berlanjut maupun yang baru; volume target pada masing-masing tingkatan serta evaluasi terhadap output yang sudah tercapai menjadi hasiVoutcome. Perhitungan pada KPJM (Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah) yang melalui perhitungan khususnya sampai dengan awal 2016 yang sudah dilakukan di awal tahun baik untuk biaya operasional maupun non operasional dengan dasar mempertimbangkan hasil kegiatan dan evaluasinya terhadap capaian kinerja yang STOO art Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 50 sudah ditetapkan, Adapun perhitungannya yaitu dengan mempertimbangkan alokasi dari masing-masing program, yang merupakan kompilasi alokasi per kegiatan sebagai implikasi adanya anggaran di masing-masing output, sedangkan untuk tingkat komponen merupakan hasil perhitungan volume Komponen dikalikan dengan satuan biaya dan inflasinya. Lampiran Perpres No. 2 RPUMN 2015-2019 tentang RPUMN Tahun 2015 — 2019 menjadi acuan asumsi dasar pendanaan kegiatan-kegiatan inovasi dan layanan teknologi diatas. Alokasi baseline anggaran program kedeputian TIEM berdasarkan lampiran Perpres No. 2 / 2015 terbagi kedalam 11 (sebelas) kode/nomor program Anggaran diatas merupakan bagian terintegrasi dari pendanaan Program dan Kegiatan BPPT pada RPJMN 2015-2019 dalam rangka untuk mewujudkan kemandirian bangsa, peningkatan daya saing dan pelayanan publik. Selanjutnya berdasarkan uraian Arsitektur Data dan Informasi Kegiatan (ADIK), maka alokasi baseline anggaran diatas dioptimasi untuk mendapatkan kerangka Pendanaan Program dan Kegiatan TIEM Tahun 2015-2019 untuk pencapaian Sasaran Program Kedeputian TIEM ‘Sasaran Kegiatan Tahunan PTIK equa TRE ae aa aL aa is | ae | a a Trees Go roy Panos mgt Basten fT tT t pebstsvantsiczatu cae fay edoere ne pases engaretae \ im Tg aL apts 7 [iempiapenauanomans —ieipegpasterroas | aaa rr Iprsrantearrecie nas fui sce ase ma cy geo pL meres 7 iaiiapergian cana nag arenas ag Taare T T [pematnesonnew maton he a als t eta me Sasaran Kegiatan Tahunan PTE ee Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page S1 Sasaran Kegiatan Tahunan B2TKE PT Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 52 i novasi Teknologi | PLTPCondensing Turbine 3 MW Rp) if “peng | oval Teknologi plant PLTP Binary Cycle +00KW 7 i Inovasi Teknologi | PLIP Binary Cycle 500K Pilot prject | i -Disain Standar Inovasi Teknologi PLTP Condensing Turbine 5 MW pengujan, rekornendasi “Anggaran (M, Ro) Sasaran Kegiatan Tahunan PTSEIK Renstra Kedeputia 2015-2019 Page 53 I ms | aw [an] we [oo [rod Tamas Peake | 1 aartw woven! Lapae a fF {somes ‘Tec Onde OF i ‘oxo | tae [aa | ve [a8 Zant owe Caren —_—_|Oean ease Y “elo PPO da Gren | Perce “ath nove Uae (ese + 7 Telaceg Hyeane a Bensess lacie J wae | ome | os | ors | oe i “th ove Lay = | “Tetnlg Pres Best ok 7 | res Non aaa ie vem | ia | we | 20 | ae Ipoved Tedog Presa | — turin hove Cyaan an 7 fan Peseta gas dan | Tels Peanatan don ‘eaten Pelt Kite Babes I ie ime [as [am [ae i “Zan wed Tayo omy T 7 Tce roast an J wow | 05 | 175 | 2 (year Taig & Bing [Fran Layman Teog Bang ae ie he (ie pk es Perercanam don Ops Seen Yaw | oxvoom | carom | 10 | 1m | 1s [Novi Terk & ting [ionth iovesl youn Tasacg @ a ft [pata kar PLT Sena ikng Boho Ba ATU Boras tar | oemme | oamame |e fo |e ‘foves Toweog wast oni novel Layo Teo Peat T r deena! [Pek oF ten ORF = Tamme | amon fas | 2m | 28 i [nth ave Lyon Te Bam 0 o | syns wea re an Pecks oe r fr Fr | vas] oaonane | osmaco | 30 | a0 | 30 i ‘Sasaran Kegiatan Tahunan PTM Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 54 Target (kinorja dan anggaran) Savaran eae Setuan fears [a0ie [2072018 [20 ‘roves Tekrobogi a - | | mic insti al bisea bats {Binoos inn 7 . memaniaatcan paket oe - | ‘kesehatan ‘Anggaran (M, material Ro} 10, 4,23 45 [2 2 -Jumiah Paket Teknologi cal .- - hoo { Biokeramix dan Biopolimer | Tee che | yang direkomendasikan ke | A700%201M. Jy log |g log fa7s incusth * zi i | novesileknoiogi | Jumiah pointe |malriat pengolahan | nanomaterl LTJ, doturen ‘bahan bakuyang | sain plant dan Pio pant |cmantzean cen |_pengoishannanomalesa ‘indus “Jumlah prololip material | Karel mocks! untuk ban “Jumiah protlip dan indus Prope, eee ora fF 1 hoofs | komposit polimer untuk ‘etomendss, ' omponen bangunan rumah] "Sere | {Layanan Teknologi Prom, 4 +Jumiah Layanan Teknologi | penguin, Palme cate L 1270 —_‘|s00 Ja30 [370 | senncrisas Renstra Kedeputian TIEM 2015-2019 Page 55 BABV PENUTUP Renstra TIEM 2015-2019 merupakan acuan dalam menyusun program, kegiatan, dan anggaran serta indikator kinerja dan targetnya di lingkungan TIEM. Renstra ini selanjutnya akan menjadi bahan untuk laporan akuntabilitas kedeputian kepada stakeholders dan customers dalam perencanaan program, perencanaan sumberdaya, perencanaan kelembagaandan pengendalian pelaksanaan program serta pengawasan agar lebih berhasil dan berdaya guna dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi TIEM. Rencana strategis kedeputianTIEM merupakan cerminan dari program, kegiatan, anggaran, indikator kinerja, dan target yang lebih operasional yang disusun dan ditindaklanjuti dengan —penyusunan -Rencana_—Kegiatan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) dan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Pengukuran kinerja akan dilakukan dengan mengacu pada sistem dan prosedur pengukuran kinerja yang telah ditetapkan oleh pimpinan BPPT dan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dari Pemerintah. Pelaksanaan pengukuruan kinerja dilakukan secara berkala Page 56 Renstra Kedeputian TIEM 20: