Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

ANALISA JURNAL DENGAN PENERAPAN TEORI PEPLAU

OLEH :

Kelas A Kelompok III

Erni Forwaty (1721312018)


Gusni Fitri (1721312010)
Putri Minas Sari (1721312040)
Rahmatika Ammelda (1721312006)
Reni Febrianti (1721312033)
Tessa Olivia (1721312020)

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat allah swt yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, serta inayah-nya, karena kami masih diberi kesempatan untuk
menyelesaikan makalah mengenai Aanalisa Jurnal Dengan Pnerapan Teori.
Makalah ini ditulis sebagai tugas kelompok untuk mata kuliah Sains Keperawatan.
Makalah ini kami persembahkan kepada :
1. Vetty Priscila, Mkep,MPH
2. Serta teman teman yang telah mendukung terselesaikannya makalah ini.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam mengerjakan makalah ini, sehingga makalah ini dapat selesai pada waktunya.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan makalah ini memiliki
banyak kekurangan, oleh sebab itu kami mengharapkan kritik, saran, petunjuk,
pengarahan, dan bimbingan dari berbagai pihak.
Semoga Makalah ini bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan
ilmu pengetahuan bagi kita semua dan dapat memberikan informasi bagi pembaca.
Amin

Padang, November 2017

Kelompok VI

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B.Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 4
A. Konsep Teori Hidegard E. Peplau ............................................................... 4
1. Pengertian ............................................................................................... 4
2. Teori keperawatan Hidergard E.Peplau.. 4
3. Teori Peplau dan Proses Keperawatan .................................................... 7
4. Analisa Jurnal Dalam Aplikasi Teori Hildergard E.Peplau 8
B. Analisa Jurnal Dalam Aplikasi Teori Hildergard E.Peplau. 8
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 15
A. Kesimpulan...................................................................................... 15
B. Saran ................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsep Keperawatan dikembangkan berdasarkan filososfi dan dan
paradigm keperawatan. Pada filososfi keperawatan terdapat tiga unsur utama yang
menjadi keyakinan dan proses berpikir kritis dalam mengembangkan ilmu
keperawatan, yaitu humanism, holism, dan care. Dari ketiga unsur utama diyakini
bahwa manusia person merupakan pusat/sentral asuhan keperawatan dan care
sebagai dasar/landasan dalam praktik/asuhan keperawatan. Berdasarkan filosofi
keperawatan, maka dikembangkan empat konsep utama paradigm keperawatan
yaitu manusia, lingkungan, kesehatan, dan keperawatan. Manusia dipandang
sebagai individu yang bersifat holistic dan humanistic yang dalam kehidupannya
selalu berinteraksi dengan lingkungan, baik eksternal maupun internal yang akan
berpengaruh terhadap status kesehatannya, asuhan/pelayanan keperawatan
merupan praktik/tindakan keperawatan manidiri yang diberikan karena adanya
ketidakmampuan manusia dalam memenuhi kebutuhan dasarnya (Nursalam dan
Efendy, 2008)
Keperawatan didefeniskan oleh peplau sebagai sebuah proses yang
signifikan, bersifat terapeutik, dan interpersonal. Keperawatan merupakan
instrument edukatif, kekuatan yang mendewasakan dan mendorong keperibadian
seseorang dalam arah yang kreatif, konstryktif, produktif, personal, dan
kehidupan komunitas (Asmadi, 2008).
Hidegard E.Peplau dikenal sebagai Ibu Keperawatan Jiwa karena teori
dan pengalaman klinisnya menjadi acuan dalam pengebangan keperawatan jiwa
yang berbeda dengan area lainnya. Kontribusinya dalam dunia keperawatan
meliputi perannya sebagai pakar di bidang keperawatan jiwa, pendidik, penulis,
pemimpin perawat dan pengembangan teori (Aligood, 2017).

1
Hidegard E.Peplau punya peran yang sangat penting dalam dunia
keperawatan. Teori Hideard E.Peplau yang terkenal tentang hubungan
interpersonal perawat-pasien dan menerapkan komunikasi terapeutik, sangat baik
diterapkan dalam dunia keperawatan dimana hubungan perawat-pasien mejadi hal
yang utama dalam asuhan keperawatan pada pasien. Salah satunya Teori
Hidegard E. Peplau juga bisa diterapkan pada pasien ibu hamil yang sebelum
melahirkan.
Setiap satu jam, satu perempuan meninggal dunia ketika melahirkan atau
karena sebab-sebab yang berhubungan dengan kehamilan. Peningkatan kesehatan
ibu di Indonesia, yang merupakan tujuan pembangunan millennium (MDG)
kelima berjalan lambat dalam beberapa tahun terakhir. Rasio kematian ibu yang
diperkirakan sekitar 228 per 100.000 kelahiran hidup, tetap tinggi di atas 200
selama decade terakhir., meskipun telah dilakukan upaya-upaya untuk
meningkatkan pelayanan kesehatan ibu (Unicef, 2012).
Menurut evans et al (2017) dalam penelitiannya mengatakan menerapkan
hubungan interpersonal Hidegar E. Pepalau terhadap wanita antepartum yang
depresi/stress, setelah diterapkan anita antepartum yang mengalami depresi
mengalami penurunan kecemasan. Dari data tersebut yang sudah dijelaskan
kelompok diatas maka kelompok tertarik untuk membahas teori Hidegard E.
Peplau dan menganlisa teori pada area keperawatan berbasis jurnal.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menganilisa teori hidegard E. Peplau pada area
keperawatan berbasis jurnal.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami tentang konsep dan Teori Hidegard E.
Peplau
b. Mahasiswa mampu menganalisas teori Hidegrad E. Peplau pada area
keperawatan berbasis jurnal.

2
C. Manfaat
Makalah ini diharapkan bisa menjadi referensi untuk mahasiwa lain dalam
membuat makalah yang sama. Dan bahan perbaandingan dengan materi yang
sama.

3
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

5. Konsep Teori Hidegard E. Peplau


1. Pengertian
Teori keperawatan didefinisikan sebagai sebuah konseptalisasi dari
beberapa realitas aspek keperawatan yang dikomunikasikan untuk
mendeskripsikan fenomena, menjelaskan hubungan antara fenomena,
memprediksi konsekuensi atau memberikan proses keperawatan Meleis, Afaf
I (2007).
Teori-teori diklasifikasikan berdasarkan pada beberapa komponen,
yaitu: (1) bahwa konsep diidentifikasi dan didefinisikan, (2) bahwa klarifikasi
asumsi-asumsi mendasari suatu kebenaran yang mana dan darimana alasan
teori-teori dihasilkan, (3) darimana konteks tempat teori, dan (4) telah
teridentifikasi hubungan antara dan diantara konsep-konsep (Chin &
Kramer,1999; Higgins & Moore,2003).
Teori-teori dibedakan berdasarkan tujuan, sumber, tingkat kepentingan,
level dan cakupan. Perbedaan perbedaan tersebut digunakan untuk
mengklasifikasikan. Dasar tujuan dari teori adalah deskripsi, penjelasan,
prediksi dan atau control. Sumber sumber dalam teori keperawatan meliputi
perkembangan ilmu keperawatan itu sendiri dan dari disiplin ilmu lain yang
digunakan dalam keperawatan. Dengan demikian ada terminologi yang
digunakan untuk mencirikan antara dua sumber tersebut yaitu teori
keperawatan dan teori dalam keperawatan. Penyebutan secara umum
tingkatan teori menyebut Meta-theory, Grand theory, middle range theory,
micro theory atau practice theory.

2. Teori keperawatan Hidergard E.Peplau

Falsafah adalah keyakinan terhadap nilai-nilai yang menjadi pedoman


untuk mencapai suatu tujuan dan dipakai sebagai pandangan hidup. Falsafah

4
menjadi cirri utama pada suatu komunitas berskala besar maupun berskala
kecil, salah satunya adalah profesi keperawatan. Berdasarkan pengertian
falsafah tersebut, dapat dikatakan bahwa falsafah keperawatan adalah
keyakinan perawat terhadap nilai-nilai keperawatan yang menjadi pedoman
dalam memberikan asuhan keperawatan, baik kepada individu, keluarga,
maupun kelompok, maupun masyarakat . bebrapa falsafah (Asmaadi, 2008)`

Teori Keperawatan yang dikembangkan Hildergard E.Peplau yaitu


keperawatan psikodinamik (psychodinamik nursing), sangat dipengaruhi oleh
model hubungan interpersonal, khususnya model psikoanalitik Dimana peplau
menjelaskan hubungan Perawat-pasien sebagai sebuah proses interpersonal
yang terapeutik dan penting. Peplau juga menjelaskan empat aspek
pengalaman psiko-biologis seseorang yang dapat menyebabkan respon pasien
menjadi dekstruktif atau konstruktif; meliputi kebutuhan, frustasi, konflik, dan
kecemasan. Peplau mengidentifikasikan empat tahapan hubungan perawat-
pasien; orientasi, identifikasi, eksploitasi, dan resolusi. Pengalamannya
menjalin hubungan profesional di area kesehatan jiwa. Kedokteran,
pendidikan, dan sosiolog, hal inilah yang mempengaruhi pandangannya
tentang sebuah profesi berkembang. Peplau meminjam teori psikologi untuk
mensintesis teorinya tentang hubungan interpersonal (Aligood, 2017).
Karya peplau spesifik tentang hubungan antar perawat dan pasien ini
adalah sebuah teori untuk praktik keperawatan. Teori tentang hubungan
interpersonal perawat dan pasien tersebutlah yang mendasari teori
keperawatan yang dikemukakan oleh Hildegard E.Peplau.
Keperawatan didefeniskan oleh peplau sebagai sebuah proses yang
signifikan, bersifat terapeutik, dan interpersonal. Keperawatan merupakan
instrument edukatif, kekuatan yang mendewasakan dan mendorong
keperibadian seseorang dalam arah yang kreatif, konstryktif, produktif,
personal, dan kehidupan komunitas (Asmadi, 2008).
Konsep Mayor Teori Hildegard E. Peplau

5
Konsep mayor menurut Hildergard E.Peplau sebagai berikut :
1. Manusia, organisme yang hidup dalam keseimbangan yang tidak stabil
2. Lingkungan, sebagai bentuk diluar organisme dalam konteks kebudayaan,
dari sini kebudayaan dan kepercayaan diaktualisasikan.
3. Keperawatan adalah alat pendidikan yang kekuatannya bertujuan untuk
mendukung kekuatan seseorang dalam kreatifitas langsung, produktifitas,
dan sikap individual dari kehidupan masyarakat
4. Kesehatan, sebagai gerak progresif individu dan proses makhluk lain
secara terus mnerus dalam kelangusngan kreatifitas, produktifitas, dan
sikap individual dari kehidupan masyarakat.
Dalam hubungan perawat dan klien, ada enam peran perawat yang harus
dilaksanakan. Peran tersebut berbeda pada setiap fasenya. keenam peran
tersebut adalah:
1. Role Of Stranger (Peran Orang Asing)
Merupakan peran awal dalam hubungan Perawat-klien. Disini kedua belah
pihak merupakan orang asing bagi pihaknya. Sebagai orang asing perawat
harus memperlakukan klien sebagai tamu, dengan penuh perasaan, berlaku
sopan, tidak boleh memberikan penilaian sepihak dan menerima klien apa
adanya.
2. Role Of Resource Person (Peran Narasumber)
Perawat memberikan jawaban yang spesifik dari setiap pertanyaan terutama
mengenai informasi kesehatan. Perawat menginterprestasikan rencana
perawatan dan medis.
3. Teaching Role (Peran Pendidik)
Merupakan kombinasi dari semua peran yang lain. Perawat harus berupaya
memberikan pendidikan, pelatihan, dan bimbingan pada klien/keluarga
terutama dalam mengatasi masalah kesehatan.
4. Leadership Role (Peran Kepemimpinan)

6
Mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu
untuk berperan. Perawat harus mampu memimpin klien/keluarga untuk
memecahkan masalah kesehatan melalui proses kerja sama dan partisipasi.
5. Surrogate Role ( Peran Pengganti)
Klien mengganggap perawat sebagai walinya. Perawat membimbing klien
mengenali dirinya dan sebagai sosok yang membantunya.
6. Counseling Role (Peran Konselor)
Memiliki peran yang penting karena membantu klien mengingat dan
memahami sepenuhnya peristiwa yang terjadi pada dirinya saat inidan
diintegarasikan dengan pengalaman sebelumnya, sehingga memberikan
bimbingan terhadap pemecahan masalah akan mudah dilakukan.

3. Teori Peplau dan Proses Keperawatan


Fase-fase hubungan interpersonal perawat klien menurut teori Peplau dalam
adalah :
1. Fase orientasi
Fokusnya adalah fase menentukan atau menemukan masalah.
pertama kali perawat dan pasien bertemu masih sebagi orang yang asing
satu sama lain, pasien dan keluarganya memiliki perasaan butuh bantuan
professional walaupun kebutuhan ini kadang-kadang tidak dapat dikenali
atau dimengerti oleh mereka. Pada fase ini yang paling penting perawat
bekerja sama secara kolaborasi dengan pasien dan kelurganya dalam
menganalisis situasi yang kemudian bersama-sama mengenali,
memperjelas, dan menentukan masalah yang ada. Selanjutnya diambil
keputusan bersama untuk menentukan tipe atau jenis bantuan apa yang
diperlukan. Perawat sebagai fasilitator dapat merujuk klien ke ahli lain
sesuai kebutuhan.
2. Fase identifikasi
Fase ini fokusnya memilih bantuan professional yang sesuai. Pada
fase ini pasien merespon secara elektif ke orang-orang yang dapat

7
memenuhi kebutuhannya, setiap pasien mempunyai respon yang berbeda-
beda:
a. Berpartisipasi dan interdependen dengan perawat
b. Otonomi dan independen dari perawat
c. Pasif dan dependen pada perawat
3. Fase eksplorasi
Fase ini fokusnya adalah menggunakan bantuan professional untuk
alternative pemecahan masalah. Pelayanan yang diberikan berdasarkan
minat dan kebutuhan dari pasien, pasien mulai merasa sebagai bagian
integral dari lingkungan pelayanan pada fase ini pasien mulai menerima
informasi tentang penyembuhannya, pasien mungkin berdiskusi, bertanya,
dan mendengarkan penjelasan-penjelasan dari perawat.
4. Fase resolusi
Fokusnya adalah mengakhiri hubungan professional. Pasien dan
perawat dalam fase ini perlu untuk mengakhiri hubungan terapeutik
mereka.

6. Analisa Jurnal Dalam Aplikasi Teori Hildergard E.Peplau


Sesuai teori yang dikembangkannya Hildergard E.Peplau yaitu
keperawatan psikodinamik (psychodinamik nursing), sangat dipengaruhi oleh
model hubungan interpersonal, khususnya model psikoanalitik. Ia melihat
bahwa keperawatan adalah suatu proses interpersonal internal yang bersifat
terapeutik (significant therapeutic interpersonal process). Peplau
mendefenisikan model keperawatan psikodinamiknya (psychodynamic
nursing)), sebagai berikut: psychodynamic nursing is being able to
understand ones own behavior to help other identify felt difficulties, and to
apply principles of human relations to the problem that arise at all levels of
experience (Kusnanto, 2004).

8
Proses keperawatan yang terdiri dari empat fase yaitu orientasi,
identifikasi, eksplorasi, eksplorasi sebagai fase kerja, dan resolusi oleh Peplau
hanya dikembangkan.
Berikut ini akan dibahas beberapa jurnal yang menggunakan teori Hildergard
E.Peplau dalam aplikasi keperawatannya.

Jurnal 1 :
Hubungan Antara Dukungan Suami Dengan Tingkat Kecemasan Pada Ibu
Primigravida Trimester III Dalam Menghadapi Persalinan

Analisa berdasarkan teori Interpersonal Peplau dipandang penulis sudah


memberikan gambaran pengkajian hingga evaluasi yang menunjang dalam asuhan
keperawatan ini.
1. Orientasi
Menurut teori Peplau dalam melakukan pengkajian perawat harus melalui
tahap orientasi. Tahap orientasi merupakan fase untuk menentukan adanya
masalah. Selama fase orientasi klien merupakan seseorang yang
membutuhkan bantuan professional dan perawat berperan membantu klien
mengenali dan memahami masalahnya serta menentukan apa yang klien
perlukan.
Pada Fase orientasi seorang perawat harus mengkaji:
1) Latar belakang/ riwayat kesehatan pasien dan keluarga
2) Ras/ budaya
3) Agama
4) Harapan klien: termasuk konsep diri, model peran
Pada kasus di jurnal ini. Selama kontak awal, para perawat bertanya tentang:
1) Riwayat kehamilan sebelumnya
2) Usia kehamilan
3) Usia pasien dan usia saat menikah

9
4) Hambatan kehamilan, dan faktor kontekstual yang dapat mempengaruhi
interaksi, serta kemajuan dalam mencapai tujuan.

2. Tahap Kerja
Ini adalah tahap di mana pekerjaan utama berlangsung saat pasien mulai
memahami reaksi mereka terhadap masalah.
a. Sub Fase Identifikasi (Fase Kerja)
Fase identifikasi merupakan fase penentu bantuan yang diperlukan oleh
klien. Perawat memulai tahap identifikasi dengan membangun hubungan
baik dengan pasien; terhubung dengan mereka dan mendengarkan cerita dan
perasaan mereka. Identifikasi terbukti dalam interaksi yang menunjukkan
rasa percaya, kepentingan bersama dalam bekerja sama, dan mengejar
hubungan dengan potensi maksimalnya. Perawat dan pasien saling
memahami peran mereka, selain itu perawat dan pasien terus memiliki
kontak untuk menuju tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Pada Jurnal ini, perawat melakukan tahap identifikasi atau fase kerja :
1) Identifikasi proses kehamilan direncanakan atau tidak direncanakan
2) Permasalahan yang timbul selama masa kehamilan
3) Identifikasi dukungan
4) Persiapan persalinan secara materil

b. Sub Fase Eksplorasi (Fase Kerja)


Pada fase ini perawat memberikan layanan keperawatan berdasarkan
kebutuhan pasien. Prinsip tindakan pada fase ini adalah eksplorasi /
menggali, memahami keadaan klien, dan mencegah meluasnya masalah.
Fase eksploitasi Fase ini ditandai oleh kemauan pasien untuk memanfaatkan
layanan yang ditawarkan oleh perawat dan kemajuan menuju tujuan yang
saling terkait. Perawat akan memberikan saran, arahan, atau pembinaan yang
konkret, dengan menggunakan pengetahuan keperawatan dan keterampilan
interpersonalnya. Eksplorasi lebih dari sekedar mendengarkan, menawarkan
simpati atau berbicara tentang masalah sosial. Hal itu terjadi saat perawat

10
menawarkan keahlian dan layanan profesionalnya kepada pasien dan, dengan
menyadari nilai tambah perawat, pasien tersebut menerimanya.
Dalam jurnal ini, perawat membantu pasien dalam memproses perasaannya
dan keinginan mendapatkan dukungann dan kecemasannya dalam menjalani
kehamilan, sehingga perawat lebih mengarahkan ke tujuan yang lebih
spesifik mengenai harapan pasien tersebut. Pada Fase ini melibatkan peran
suami agar masalah yang dialami pasien tidak semakin meluas.

3. Tahap Resolusi/ terminasi


Fase resolusi merupakan fase tahap akhir, dimana perawat dan klien sudah
siap untuk mengakhiri hubungan terapeutik yang selama ini sudah terjalin. Di
fase ini dapat terjadi peningkatan kecemasan jika ada hal-hal yang belum
terselesaikan pada tiap fase. Indicator keberhasilan fase ini adalah bila klien
sudah mampu mandiri dan lepas dari bantuan perawat.

Jurnal 2.
Gambaran kasus pada jurnal yang berjudul NursePatient Interaction As a
Treatment for Antepartum Depression adalah wanita hamil yang memiliki gizi
kurang yang tinggal didaerah terpencil, dimana menggunakan komunikasi dengan
telepon untuk menerapkan hubungan interpersonal antara perawat dan pasien.
Pengarang:
Emily C. Evans, Nancy L. Deutsch, Emily, Drake, and Linda Bullock
Judul:
NursePatient Interaction as a Treatment for Antepartum Depression
Metodelogi:
mixed-methods design
Sampel:
345 women
Tujuan:

11
Studi ini meneliti intervensi dukungan telepon yang diberikan oleh perawat yang
diberikan kepada wanita hamil berpenghasilan rendah yang tinggal di
lingkungan pedesaan
Hasil:
Tahapan teori hubungan interpersonal Peplau terbukti dalam interaksi. Wanita
yang tidak memiliki gizi tinggi berisiko tinggi untuk depresi menghargai jenis
dukungan ini, Indeks Kesehatan Mental meningkat dari 45 menjadi 66.

Pengkajian
Menurut teori Peplau dalam melakukan pengkajian perawat harus melalui
tahap orientasi. Tahap orientasi merupakan fase untuk menentukan adanya
masalah. Selama fase orientasi klien merupakan seseorang yang membutuhkan
bantuan professional dan perawat berperan membantu klien mengenali dan
memahami masalahnya serta menentukan apa yang klien perlukan.
Pada Fase orientasi seorang perawat harus mengkaji:
Latar belakang/ riwayat kesehatan pasien dan keluarga
Ras/ budaya
Agama
harapan klien: termasuk konsep diri, model peran
Pada kasus di jurnal yang berjudul NursePatient Interaction As a Treatment
for Antepartum Depression Selama kontak awal, para perawat biasanya bertanya
tentang:
perilaku merokok wanita hamil
menilai risiko pasien,
sumber daya,
hambatan, dan faktor kontekstual yang dapat mempengaruhi interaksi, serta
kemajuan dalam mencapai tujuan.
Implementasi

12
Tahap implementasi adalah sama dengan tahap kerja di mana pekerjaan utama
berlangsung saat pasien mulai memahami reaksi mereka terhadap masalah.
Sub Fase Identifikasi
Fase identifikasi merupakan fase penentu bantuan yang diperlukan oleh klien.
Perawat memulai tahap identifikasi dengan membangun hubungan baik dengan
pasien; terhubung dengan mereka dan mendengarkan cerita dan perasaan mereka
melalui telepon. Identifikasi terbukti dalam interaksi yang menunjukkan rasa
percaya, kepentingan bersama dalam bekerja sama, dan mengejar hubungan
dengan potensi maksimalnya. Perawat dan pasien saling memahami peran
mereka.selain itu perawat dan pasien terus memiliki kontak untuk menuju tujuan
yang telah ditetapkan bersama.
Sub Fase Eksploitasi
Pada fase ini perawat memberikan layanan keperawatan berdasarkan kebutuhan
pasien. Prinsip tindakan pada fase ini adalah eksplorasi / menggali, memahami
keadaan klien, dan mencegah meluasnya masalah.
Fase eksploitasi ini ditandai oleh kemauan pasien untuk memanfaatkan layanan
yang ditawarkan oleh perawat dan kemajuan menuju tujuan yang saling terkait.
Sebagai tanggapan atas kekhawatiran atau masalah yang diangkat oleh pasien,
perawat akan memberikan saran, arahan, atau pembinaan yang konkret, dengan
menggunakan pengetahuan keperawatan dan keterampilan interpersonalnya.
Eksploitasi lebih dari sekedar mendengarkan, menawarkan simpati atau berbicara
tentang acara sosial; Hal itu terjadi saat perawat menawarkan keahlian dan
layanan profesionalnya kepada pasien dan, dengan menyadari nilai tambah
perawat, pasien tersebut menerimanya. Dalam kasus contoh ini, perawat
membantu pasien memproses perasaannya mengalami kehamilan yang tidak
diinginkan. Layanan ekspliotasi sangan luas jangkauannnya dimana perawat
memberikan saran dan informasi, memberikan dukungan dan dorongan,
membantu pasien mengarahkan atau membuat keputusan dalam situasi yang sulit.
Sehingga eksploitasi terbukti jauh lebih besar dalam interaksi.

13
Evaluasi
Evaluasi pada teori peplau terjadi pada Fase resolusi merupakan fase tahap akhir,
dimana perawat dan klien sudah siap untuk mengakhiri hubungan terapeutik yang
selama ini sudah terjalin. Pada fase resolusi ini kedua belah pihak merencanakan
pemberhentian konsultasi dan mulai merencanakan strategi masa depan
berdasarkan pengalaman saat konsultasi.

14
BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Teori Hildegard Peplau (1952) berfokus pada individu, keluarga, perawat
serta proses interaktif yang menghasilkan hubungan antara individu, keluarga
dan perawat. Berdasarkan teori ini klien adalah individu dengan kebutuhan
perasaan, dan keperawatan adalah proses interpersonal dan teraupetik. Tujuan
keperawatan adalah untuk mendidik klien dan keluarga dan untuk membantu
klien mencapai kemantapan pegembangan kepribadian. Teori dan gagasan
peplau dikembangkan untuk memberikan bentuk praktik keperawatan jiwa. Oleh
karena itu, perawat berupaya mengembangkan hubungan antara perawat dan
klien di mana perawat bertugas sebagai narasumber, konselor, dan wali. Dalam
makalah ini diaplikasikan proses interaksi yang baik antara perawat dengan
pasien serta keluarga sehingga meningkatkan penilaian klinis perawat mengenai
kondisi pasien. Dukungan dari keluarga dan perawat dapat menurunkan tingkat
kecemasan pada pasien. Dukungan tersebut dibutuhkan baik ketika individu
sedang menderita stres maupun dalam kondisi normal dapat menghalau atau
dapat menjadi pertahanan kemungkinan terjadinya stress pada individu.
Pengaplikasian teori Peplau dalam meningkatkan kemampuan penilaian klinik
sangat baik karena perawat dapat memutuskan masalah keperawatan yang tepat
bagi pasien. Pendekatan teori Peplau sangat efektif digunakan untuk memberikan
asuhan keperawatan pada klien dengan masalah kecemasan. Hal ini disebabkan
karena dapat memandu perawat untuk memulai interaksi secara bertahap sesuai
dengan perkembangan kemampuan klien dalam proses interpersonal.

2. SARAN
Seperti yang kita ketahui bahwa manusia dipandang sebagai sistem holistic
yang terdiri dari bio-psiko-sosial-spiritual. Pada teori Peplau ini mempunyai
kelemahan yaitu lebih menitikberatkan pada keperawatan jiwa, hal ini dapat

15
dibuktikan pada gagasan Peplau yang di kembangkan pada pemantapan
perkembangan kepribadian.

16
DAFTAR PUSTAKA

Mukhadiono, dkk. (2015). Hubungan Antara Dukungan Suami Dengan Tingkat


Kecemasan Pada Primigravida Trimester III Dalam Menghadapi Persalinan.
https://media.neliti.com/media/publications/104948-ID-hubungan-antara-dukungan-
suami-dengan-ti.pdf (diakses 4 November 2017)

Peplau, Hidegard. E. (1991). Nursing : A Conceptual Frame Of Reference For


Psychodinamik Nursing. New York : Springer Publishing Company

Alligood, Martha, R. (2014). Nursing Theorist And Their Works,Eigth Edition. St.
Louis. Missouri: Mosby Elsivier.
Adams, Lisa, Y. (2017). Peplaus Contributions To PsychiatricAnd Nursing
Knowledge. JournalOf MentalHealthAnd AddictionNursing. Vol. 1(1):E10-E18
Deane, William,H. (2016). Incorporating Peplaus TheoryOfInterpersonal
RelationsToPromote Holistic Communication Between
OlderAdultsAndNursingStudents. Journal Of Holistic Nursing. Vol. 34,
No. 1
Evans, Emily C, Nancy L Deutsch, Emily Drake, and Linda Bullock. 2017. Nurse
Patient Interaction as a Treatment for Antepartum Depression: A Mixed-
Methods Analysis.
Fawcett, Jacqueline. (2006). Contemporary Nursing Knowledge: Analysis and
Evaluation Of Nursing Models and Theories. Ed 2th. F.A Davis Company.
Philadelpia
Kozier, Erb. (1991). Fundamental of Nursing Concept, process and practice. Ed 4th.
Californi Publishing company, inc.
Siokal, Brajaksin., Patmawati., Sudarman. (2017). Falsafah dan Teori Dalam
Keperawatan. Jakarta: Trans Info Media

17

Anda mungkin juga menyukai