Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIKUM I

PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGIS AIR MINUM ISI ULANG


DI PONDOK ABDI JALAN SAHABAT 3
UNIVERSITAS HASANUDDIN

NAMA : HARTINA SAPA


NIM : K111 14 033
KELOMPOK : KELOMPOK 2 (DUA)

DEPARTEMEN KESEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM
PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGIS PADA AIR MINUM ISI ULANG
DI PONDOK ABDI JALAN SAHABAT 3
DEPARTEMEN KESEHATAN LINGKUNGAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017

NAMA : HARTINA SAPA


NIM : K111 14 033
KELOMPOK : KELOMPOK 2 (DUA)

Makassar, 22 Februari 2017

Mengetahui,

Koordinator Asisten Asisten

Deddy Alif Utama Fitriani Sudirman


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan

rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-nya penulis dapat menyelesaikan laporan

pemeriksaan bakteriologis pada air minum isi ulang di Pondok Abdi Jalan Sahabat

3ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Tidak lupa penulis

ucapkan terimash kasih yang sebesar-besarnya terhadap seluruh pihak yang

berkontribusi dalam penyusunan laporan ini baik secara langsung maupun tidak

langsung. Diantaranya kedua orang tua penulis, dosen pengampu mata kuliah, asisten

laboratorium, serta teman-teman sejawat penulis

Penulis sangat berharap laporan ini dapat berguna dalam rangka menambah

wawasan serta pengetahuan kita mengenai kualitas air bersih dan layak minum. Kami

juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini terdapat kekurangan dan

jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan

usulan demi perbaikan laporan yang telah penulis buat di masa yang akan datang,

mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Makassar, 22 Februari 2017

Hartina Sapa
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................


KATA PENGANTAR ..........................................................................................
DAFTAR ISI .........................................................................................................
DAFTAR TABEL ................................................................................................
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................
A. Latar Belakang .........................................................................................
B. Tujuan Percobaan .....................................................................................
C. Prinsip Percobaan .....................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................
A. Tinjauan Umum Tentang Air Minum ......................................................
B. Tinjauan Umum Tentang Aiu Minum Isi Ulang ......................................
C. Tinjauan Umum Tentang Bakteri Coliform .............................................
D. Tinjauan Umum Tentang Media Pertumbuhan Bakteri ............................
E. Tinjauan Umum Tentang MPN (Most Probability Number) ...................
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ..........................................................
A. Alat dan Bahan .........................................................................................
B. Waktu dan Tempat Percobaan .................................................................
1. Waktu dan Tempat Pengambilan Sampel ............................................
2. Waktu dan Tempat Pemeriksaan Sampel ............................................
C. Prosedur Kerja .........................................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................
A. Hasil .........................................................................................................
B. Pembahasan ..............................................................................................
BAB VI PENUTUP ..............................................................................................
A. Kesimpulan ..............................................................................................
B. Saran ........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................
LAMPIRAN ...........................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun

1992 tentang Kesehatan Bab 1 Pasal 1 bahwa kesehatan adalah keadaan

sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup

produktif secara sosial ekonomis. Pada bab 5 pasal 1 disebutkan bahwa upaya

kesehatan dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satunya dipoin d adalah

kesehatan lingkungan.

Kesehatan Lingkungan adalah bagian dari Ilmu kesehatan Masyarakat

yang memegang peranan penting dalam tercapainya derajat kesehatan yang

baik pada Masyarakat. Kesehatan lingkungan memiliki banyak bidang kajian

ilmu sebagai usaha penyehatan masyarakat. Dalam Undang-Undang Republik

Indonesia Tahun 1992 Tentang Kesehatan Pasal 22 menyebutkan bahwa

Kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air dan udara, pengamanan limbah

padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan, pengendalian vektor

penyakit, dan penyehatan atau pengamanan lainnya. Upaya kesehatan

lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik

fisik, kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang

mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (UU RI, 2009).


Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari

pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia, upaya mencegah

timbulnya penyakit karena pengaruh lingkungan kesehatan tersebut, serta

membuat kondisi lingkugan sedemikian rupa sehingga terjadi pemeliharaan

kesehatan. Selain itu termasuk pula upaya melindungi, memelihara, dan

mempertinggi serajat kesehatan manusia (perseorangan ataupun masyarakat)

sedemikian rupa sehingga tidak sampai menimbulkan gangguan terhadap

kesehatan (S.N, 1997).

Penyehatan air menjadi bagian yang disebutkan pertama dalam

Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1992 Tentang Kesehatan bahwa

air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat

penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta untuk memajukan

kesejahteraan umum, sehingga merupakan modal dasar dan faktor utama

pembangunan. Penyediaan air bersih saat ini masih sangat sulit, terlebih bagi

negara berkembang seperti Indonesia. Kelangkaan air bersih apalagi air

minum diakibatkan karena buruknya sanitasi dan pengelolaan lingkungan.

Selain karena air juga merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan

setelah udara. Tiga per empat bagian tubuh manusia juga terdiri dari air.

Manusia tidak dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa minum air.

Kondisi ini menjadikan manusia harus mengonsumsi air minum yang tidak

sehat pada kondisi kelangkaan air bersih. Tidak sehatnya air minum yang

dikonsumsi diakibatkan terdapatnya berbagai jenis pencemar dalam air


minum. pencemeran ini kemudian yang menyebabkan seseorang atau

kelompok terkena penyakit. Penyakit-penyakit yang menyerang manusia

dapat ditularkan dan disebarkan melalui air. Penyakit-penyakit tersebut

merupakan akibat semakin tingginya kadar pencemar yang memasuki air

(Wandrivel, dkk., 2012).

Pencemaran air oleh virus, bakteri patogen, dan parasit lainnya, atau

oleh zat kimia, dapat terjadi pada sumber air bakunya, ataupun terjadi pada

saat pengaliran air olahan dari pusat pengolahan ke konsumen. Di beberapa

negara yang sedang membangun, termasuk di Indonesia, sungai, danau, kolam

(situ) dan kanal sering digunakan untuk berbagai kegunaan, misalnya untuk

mandi, mencuci pakaian, untuk tempat pembuangan limbah kotoran (tinja),

sehingga badan air menjadi tercemar berat oleh virus, bakteri patogen serta

parasit lainnya (Said, 2010). Adanya bahan-bahan pencemar dalam air

menimbulkan berbagai jenis penyakit yang mempengaruhi derajat kesehatan

perorangan ataupun kelompok. Pencemaran air adalah masuknya atau

dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam

air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat

tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan

peruntukannya (Pemerintah RI, 2001).

Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur dengan faecal

Coliform telah terjadi dalam skala yang luas. Sarah (2013) melakukan

penelitian di Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung menunjukkan adanya


kontaminasi bakteri Coliform pada sumber air minum rumah tangga. Hasil

penelitiannya menunjukan 100% dari sampel memiliki nilai MPN >0 cfu/100

ml sampel. Nilai MPN pada semua sampel melibihi kadar maksimum yang

diperbolehkan, berdasarkan Permenkes RI No 492 tahun 2010 yaitu 0 cfu/100

ml sampel. Nilai MPN yang tinggi terjadi di beberapa sumber air minum di

negara berkembang, seperti yang terjadi di Lesotho, pada penelitian yang

dilakukan oleh Gwimbi tahun 2011 di desa Manonyane Maseru, Lesotho

diketahui 97% sumber air bersih telah terkontaminasi bakteri Coliform dan

71% diantaranya terkontaminasi oleh bakteri Escherichia coli.

Adanya penyakit-penyakit yang ditimbulkan dan ditularkan melalui air

menjadikan air memiliki baku mutu atau indeks kelayakan air tersebut dapat

digunakan Ada beberapa penyakit yang masuk dalam katagori water-borne

diseases, atau penyakit-penyakit yang dibawa oleh air, yang masih banyak

terdapat di daerah-daerah. Penyakit-penyakit ini dapat menyebar bila mikroba

penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat

untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan jenis mikroba yang dapat

menyebar lewat air antara lain, bakteri, protozoa dan metazoa (Sarah, 2013)..

Menurut Peraturan Pemeritah Republik Indonesia No.82 Tahun 2001,

baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau

komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang

keberadaannya di dalam air sedangkan status mutu air adalah tingkat kondisi

mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu
sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan baku mutu

air yang ditetapkan. Baik air digunakan dalam kehidupan sehari-hari pada

pengairan irigasi pertanian, perikanan, kebutuhan rumah tangga, ataupun

untuk pengolahan makanan dan minuman. Sementara itu, ketersediaan air

terutama air tawar di dunia hanya sekitar 3% dan 97% lainnya merupakan air

laut. Air yang dapat digunakan oleh manusia untuk keperluan sehari-hari

hanya sekitar 0,3% (Khoeriyah, 2015).

Diare atau sering disebut mencret adalah penyakit yang erat kaitannya

dengan kebersihan. Penyakit ini adalah salah satu penyakit yang paling

banyak terjadi di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Yang paling

banyak terserang penyakit ini umumnya adalah anak-anak balita, (Said, 2010).

Berdasarkan kondisi tersebut maka dilakukan pemeriksaan terhadap air untuk

mengetahui kualitas dari air tersebut. Secara teoritis pemeriksaan air yang

paling baik ialah dengan menentukan ada tidaknya bakteri-bakteri tersebut

diatas dengan isolasi, tetapi cara tersebut tidak praktis dan memerlukan waktu

yang lama. Untuk mempermudah pemeriksaan biasanya ditentukan

berdasarkan adanya dan jumlah bakteri golongan koli. (Amqam, dkk., 2017)

berdasarkan hal tersebut maka dilakukan praktikum pemeriksaan bakteriologis

pada air.

B. Tujuan Percobaan

1. Mengetahui keberadaan bakteri Coliform pada air minum isi ulang di

Pondok Abdi Jalan Sahabat 3.


2. Menghitung jumlah bakteri Coliform yang terdapat pada air minum isi

ulang di Pondok Abdi Jalan Sahabat 3.

C. Prinsip Percobaan

1. Alat harus disterilkan terlebih dahulu untuk menghindari kontaminasi.

2. Praktikan harus meminimalkan berbicara selama proses percobaan

dilakukan.

3. Lingkungan tempat kerja harus disterilkan dengan alkohol.

4. Alat dan bahan yang digunakan harus dekat dengan pembakar bunsen.

5. Semua proses pemeriksaan sampel dilakukan dekat dengan pembakar

bunsen.

6. Hindari sumber-sumber yang berpotensi mengakibatkan kontaminasi.

7. Jika dalam waktu 2x24 jam terdapat gelembung gas dalam tabung, tes

dinyatakan positif. Sebaliknya, apabila tidak ditemukan gelembung gas

pada tabung maka tes dinyatakan negatif.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Air Minum

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun

2001 disebutkan bahwa Air adalah semua air yang terdapat di atas dan di

bawah permukaan tanah, kecuali air laut dan air fosil. Selain terdapat bebas

dialam air juga menjadi komponen penyusun tubuh manusia. Sebanyak 75%

tubuh manusia tersusun atas air (Khoeriyah, 2015). Air adalah komponen

yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Akan tetapi air tak jarang

dicemari oleh aktivitas manusia sendiri. Bahaya atau resiko kesehatan yang

berhubungan dengan pencemaran air secara umum dapat diklasifikasikan

menjadi dua yakni bahaya langsung dan bahaya tak langsung (Said 2010).

Bahaya langsung terhadap kesehatan manusia/masyarakat dapat terjadi

akibat mengkonsumsi air yang tercemar atau air dengan kualitas yang buruk,

baik secara langsung diminum atau melalui makanan, dan akibat penggunaan

air yang tercemar untuk berbagai kegiatan sehari-hari untuk misalnya mencuci

peralatan makan dan lain-lain, atau akibat penggunaan air untuk rekreasi.

Bahaya terhadap kesehatan masyarakat dapat juga diakibatkan oleh berbagai

dampak kegiatan industri dan pertanian. Sedangkan bahaya tak langsung

dapat terjadi misalnya akibat mengkonsumsi hasil perikanan dimana produk-


produk tersebut dapat mengakumulasi zat-zat atau polutan berbahaya (Said,

2010).

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indoensia Nomor

492/Menkes/Per/IV/2010 menjelaskan bahwa air minum adalah adalah air

yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang

memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Air minum aman

bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimiawi,

dan radioktif yang dimuat dalam parameter wajib dan parameter tambahan.

Persyaratan kimia yaitu air minum tidak mengandung senyawa kimia yang

beracun dan setiap zat yang terlarut dalam air mempunyai batas tertentu yang

dapat ditolerir. Pemerintah daerah juga dapat menambahkat parameter

tambahan berdasarkan peraturan ini (Menkes RI, 2010).

Menurut Notoatmodjo (2007) dalam Boekoesoe (2010) Air minum

adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung

diminum. Agar air minum tidak dapat menyebabkan penyakit, air yang sehat

harus mempunyai persyaratan sebagai berikut:

1. Syarat fisik, persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening

(tidak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya.

2. Syarat bakteriologis, Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas

dari segala bakteri, terutama bakteri pathogen. Cara untuk mengetahui

apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen, adalah dengan

memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila pemeriksaan 100CC air
terdapat kurang dari 4 bakteri Escherichia coli maka air tersebut sudah

memenuhi syarat kesehatan.

3. Syarat kimia, Air minum yang mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah

yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia dalam

air, akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia.

Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum.

Berdasarkan Sumbernya air dapat dibagi menjadi:

a. Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Akan tetapi

air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat

dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium

didalamnya

b. Air sungai dan danau menurut asalnya sebagian dari air hujan yang

mengalir melalui saluran-saluran kedalam sungai atau danau. Kedua

sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air

sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai

macam kotoran maka bila akan dijadikan air minum harus diolah

terlebih dahulu

c. Mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Bila

belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum

langsung. Akan tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum

tercemar, maka alangkah baiknya air tersebut dimasak sebelum

diminum. Air sumur dangkal berasal dari lapisan air didalam tanah
yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan dari tempat

yang satu ke yang lain berbeda-beda biasanya berkisar antara 5 sampai

dengan 15 meter dari permukaan tanah

d. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat, karena kontaminasi

kotoran dari permikaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu

dimasak dahulu sebelum diminum

e. Air Sumur dalam berasal dari lapisan kedua di dalam tanah. Dalamnya

dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu,

sebagian besar air sumur kedalaman seperti ini sudah cukup sehat

untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melaui proses

pengolahan) (Notoatmodjo (2007) dalam boekoesoe (2010) ).

B. Tinjauan Umum tentang Air Minum Isi Ulang

Air merupakan senyawa yang sangat dibutuhkan bagi keberlangsungan

hidup manusia terutama air minum. Air minum tentu saja adalah air bersih

yang memenuhi syarat kualitas air minum. Air minum adalah air yang

kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Selain

dapat diperoleh dari air bersih yang dimasak untuk dijadikan air minum.

Penyelenggara Air minum adalah usaha badan usaha milik Negara/badan

usaha milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, usaha perorangan,

kelompok, masyarakat dan/atau individual yang melakukan penyelenggaraan

penyediaan air minum. Saat ini telah tersedia banyak produser dan distributor

air minum. (Menkes RI, 1990). Sumber air baku dapat diambil dari mata air,
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), mata air, sumur bor, sumur gali, dan

sumber lainnya yang telah direkomendasikan oleh Dinas Kesehatan

Kabupaten atau Kota (Khoeriyah, 2015).

Tingginya kebutuhan terhadap air minum memotifasi munculnya

berbagai usaha air minum baik air minum dalam minum (AMDK) maupun air

minum isi ulang (AMIU). Air minum dalam minum (AMDK) dari perusahaan

air minum dalam minum umumnya telah mendapat rekomendasi dari Badan

Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang tentunya sudah menerapkan

Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3553-2006) dalam pengelolaan air

minum agar tidak terkontaminasi zat ataupun bahan yang membahayakan

kesehatan tubuh.

Menurut Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik

Indonesia Nomor 651/MPP/Kep/10/2004 menyebutkan bahwa depot air

minum adalah usaha industri yang melakukan proses pengolahan air baku

menjadi air minum dan menjual langsung kepada konsumen. Air minum

adalah air baku yang telah diproses dan aman untuk diminum. air baku adalah

air yang belum diproses atau sudah diproses menjadi air bersih yang

memenuhi persyaratan mutu sesuai Peraturan Menteri Kesehatan untuk diolah

menjadi produk air minum. Penyediaan air minum yang dilakukan oleh depot

air minum melalui berbagai jenis pengolahan. Proses pengolahan adalah

perlakuan terhadap air baku dengan beberapa tahapan proses sampai dengan

menjadi air minum. Dalam pengolahan digunakan mesin dan peralatan untuk
mensterilkan air agar dapat memenuhi persyaratan kesehatan. Wadah yang

digunakan dari bahan tara pangan (food grade), tahan suhu minimal 60C dan

tidak bereaksi terhadap bahan pencuci dan desinfektan (Menteri Perindustrian

dan Perdagangan RI, 2004).

Menurut Pratiwi (2007) Skema menunjukkan proses pengolahan air

pada depot air minum isi ulang, yang mencakup delapan langkah yang

dilakukan, meliputi;

1. Air baku yang digunakan adalah air yang diambil dari sumber yang

terjamin kualitasnya.

2. Air baku ditampung dalam bak atau tanki penampungan air dan

diendapkan.

3. Setelah air baku diendapkan, selanjutnya air dilakukan pengolahan air.

4. Tabung filter yang pertama adalah menyaring partikel-partikel yang

kasar, dengan bahan dari pasir atau jenis lain yang efektif dengan fungsi

yang sama. Tabung filter selanjutnya merupakan karbon filter berfungsi

sebagai penyerap debu, rasa, warna sisa khlor dan bahan organik.

5. Tabung Catridge filter adalah sebagai saringan halus berukuran maksimal

10 (sepuluh) mikron, dengan maksud untuk memenuhi persyaratan air

minum.

6. Dilakukan desinfeksi/sterilisasi pada air yang telah diolah,

desinfeksi/sterilisasi yang digunakan dengan cara ultraviolet dengan

panjang gelombang 254 nm atau 2537A dan dengan cara ozonisasi.


7. Setelah proses desinfeksi/sterilisasi, dilakukan pembilasan wadah atau

gallon dilakukan secara higienis, agar tidak terjadi kontaminasi silang

dengan lingkungan luar.

8. Pengisian air pada wadah atau gallon konsumen secara higienis oleh

operator depot air minum isi ulang.

C. Tinjauan Umum tentang Bakteri Coliform

Dalam pemeriksaan kualitas air bakteri golongan koli menjadi salah

satu indikator yang mudah diperiksa. Bakteri golongan koli sudah lama

digunakan untuk mengetahui adanya zat pencemar dalam air. Menurut

Amqam (2017) Bakteri golongan koli adalah semua bakteri memiliki sifat

sebagai berikut :

1. Berbentuk batang

2. Bersifat aerob atau fakultatif aerob

3. Tidak membentuk spora

4. Bersifat gram negatif

5. Dapat meragikan laktosa

6. Membentuk gas dalam waktu 2x24 jam pada suhu 35C

Golongan bakteri Coliform, Coliform fekal, Escherichia coli dan

Enterobacter sakazakii merupakan bakteri bentuk batang, bersifat aerob dan

anaerob fakultatif.Golongan coliform mempunyai spesies dengan habitat

dalam saluran pencernaan dan nonsaluran pencernaan seperti tanah dan air.

Yang termasuk golongan Coliform adalah Escherichia coli, dan spesies dari
Citrobacter, Enterobacter, Klebsiella dan Serratia. Bakteri selain dari E.coli

dapat hidup dalam tanah atau air lebih lama daripada E.coli, karena itu adanya

bakteri Coliform dalam makanan tidak selalu menunjukkan telah terjadi

kontaminasi yang berasal dari tinja. Keberadaannya lebih merupakan indikasi

dari kondisi prosessing atau sanitasi yang tidak memadai dan keberadannya

dalam jumlah tinggi dalam makanan olahan menunjukkan adanya

kemungkinan pertumbuhan dari Salmonella, Shigella dan Staphylococcus.

Escherichia coli dan Coliform fekal, biasanya E.coli, merupakan indikator

dari kontaminan dengan sumber/bahan fekal. Habitat alami dari E. coli adalah

saluran pencernaan bawah hewan dan manusia. Sedangkan Coliform fekal

merupakan metode pemeriksaan untuk menunjukkan adanya E.coli atau

spesies yang sangat dekat dengan E.coli secara cepat tanpa harus mengisolasi

biakan dan melakukan test IMVIC. Sebagian besar terdiri dari E.coli tipe I

dan tipe II yang merupakan petunjuk penting dari kontaminan asal dari bahan

fekal (BPOM RI, 2008).

Bakteri golongan koli yang banyak diteliti sebagai indikator kesehatan

dari air minum adalah Escherichia coli. Dalam penelitian Pradana (2013)

kualitas air minum isi ulang ditunjang oleh cara pemeliharaan peralatan

produksi. Prosedur pemeliharaan alat dari masing-masing depot air minum isi

ulang diperoleh melalui wawancara dan penggunaan kuesioner. Hasil uji

laboratorium dari 8 depot air minum isi ulang ada yang belum memenuhi

parameter total Coliform sebanyak 5 depot.


D. Tinjauan Umum tentang Media Pertumbuhan Bakteri

Bakteri merupakan salah satu jenis makhluk hidup yang berukuran

mikroskopis. Bakteri juga memiliki media untuk bertumbuh dengan baik.

Media ialah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrisi yang dipakai untuk

menumbuhkan mikroba. Selain untuk menumbuhkan mikroba, media dapat

pula digunakan untuk isolasi, memperbanyak, pengujian sifat-sifat fisiologi

dan perhitungan jumlah mikroba.

Menurut Saparianti (2014) media dapat diklasifikasikan berdasar atas

susunan kimia, konsistensi dan fungsinya.

1. Klasifikasi media berdasar susunan kimia

a. Media anorganik yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan

anorganik

b. Media organik yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan organik

c. Media sintetik yaitu media yang susunan kimianya dapat diketahui

dengan pasti; media ini biasanya digunakan untuk mempelajari

kebutuhan makanan mikroba.

d. Media non sintetik yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat

ditentukan dengan pasti, media ini banyak digunakan untuk

menumbuhkan dan mempelajari taksonomi mikroba.

2. Klasifikasi media berdasarkan konsistensinya

a. Media cair (liquid media) yaitu media yang berbentuk cair.


b. Media padat (solid media) yaitu media yang berbentuk padat karena

mengandung bahan pembentuk gel yang berupa agar. Untuk

membentuk media yang padat diperlukan agar sebesar 1,5-1,8 %.

Berdasarkan atas keperluannya media ini dapat dibuat tegak atau

miring (misalnya media agar tegak, media agar miring)

c. Media padat yang dapat dicairkan (semi solid media) yaitu media yang

dalam keadaan panas (dipanasi) berbentuk cair tetapi dalam keadaan

dingin berbentuk padat. Media ini mengandung agar-agar atau gelatin

kurang dari 1%.

3. Klasifikasi media berdasarkan fungsinya :

a. Media diperkaya (enriched media)

Media yang ditambah zat-zat tertentu misalnya (serum, darah,

ekstrak tumbuh-tumbuhan dan lain-lain), sehingga dapat digunakan

untuk menumbuhkan mikroba heterotrof tertentu.

b. Media selektif (selektive media)

Media yang ditambah zat kimia tertentu yang bersifat selektif

untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain, misalnya media yang

mengandung kristal violet pada kadar tertentu dapat mencegah

pertumbuhan bakteri Gram positif tanpa mempengaruhi bakteri Gram

negatif.

c. Media diferensial (diferensial media)


Media yang ditambah reagensia atau zat kimia tertentu yang

menyebabkan suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau

mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat untuk membedakan

bakteri himolitik dan non himolitik.

d. Media penguji (assay media)

Media dengan susunan tertentu yang digunakan untuk

pengujian vitamin-vitamin, asam-asam amino, antibiotik dan lain-lain.

e. Media untuk perhitungan jumlah mikroba

Media spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah

mikroba dalam suatu bahan misalnya media untuk menghitung jumlah

bakteri Actinomycetes dan lain-lain.

f. Media khusus

Media untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan

kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia

tertentu.

Salah satu media untuk pertumbuhan bakteri adalah kaldu laktosa.

Kaldu laktosa digunakan dalam uji perkiraan yang merupakan tes

pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri koliform berdasarkan

terbentuknya asam dan gas disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri

golongan koli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa,

dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung Durham berupa
gelembung udara. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10%

atau lebih dari volume di dalam tabung Durham. Banyaknya kandungan

bakteri Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang

menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan

tabel MPN.

E. Tinjauan Umum Tentang MPN (Most Probability Number)

Uji MPN mengunakan media kultur spesifik dan teknik isolasi dengan

peningkatan suhu untuk mendeketeksi Coliform serta E. Coli. Metode ini juga

akan menggunakan tahap penduga dan tahap konfirmasi, dimana tahap

penduga adalah untuk mendeteksi Coliform dengan menggunakan media

Lactose broth yang diingkubasi pada suhu 37C selama 48 jam. Sedangkan

tahap konfirmasi untuk memastikan kondisi air minum tersebut serta

mendeteksi secara spesifik bakteri E. Coli dengan menanam sampel yang

positif pada agar EMB dan agar McConkey (Nugroho, 2015).

Metode MPN biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba

di dalam contoh yang berbentuk cair, meskipun dapat juga untuk contoh padat

dengan terlebih dahulu membuat suspensi 1 : 10 dari contoh tersebut. Dalam

metode MPN, pengenceran harus dilakukan sedemikian rupa agar setelah

inkubasi diharapkan terjadi pertumbuhan pada tabung yang dinyatakan

sebagai tabung positif,sedangkan tabung lainnya negatif. Kombinasi tabung

positif-negatif dicocokkan dengan tabel nilai MPN untuk 3 seri tabung atau 5
seri tabung sesuai seri yang dipakai. Kombinasi yang dipilih untuk nilai MPN

yang dimaksud dimulai dari pengenceran tertinggi yang masih menghasilkan

semua tabung positif, sedangkan pada pengenceran yang berikutnya ada

tabung yang negatif. Jika pada pengenceran yang keempat atau seterusnya

masih ditemukan tabung yang hasilnya positif tersebut harus ditambahkan

pada nilai kombinasi yang ketiga (terakhir) (Saparianti, 2014).

Jumlah tabung yang positif dari pengujian perkiraan, penegasan, dan

pengujian lengkap pada pengujian bakteri golongan koli prosedur tabung

ganda merupakan suatu kombinasi dan dinyatakan dengan istilah MPN (Most

Probable Number) atau jumlah perkiraan terdekat/JPT. Secara umum posri

yang digunakan pada pengujian tersebut ialah 10,1 dan 0,1 ml maka hasil

yang didapatkan pada tabel JPT ialah hasil tertulis didalam laporan. Apabila

digunakan porsi lain selain 10,1 dan 0,1 ml, missal digunakan kombinasi dari

porsi 1;0,1 dan 0,01 ml maka hasil JPT dikalikan 10 dari nilai JPT dalam

tabel. Bila digunakan kombinasi dari 0,1; 0,01 dan 0,001, hasil JPT dikalikan

100. Secara matematis menghitung JPT dapat ditulis sebagai berikut (Amqam,

dkk.,. 2017):

JPT 10
ml = Tabel JPT
100 Volume contoh yang terbesar diuji

Apabila digunakan lebih dari 3 pengenceran secara desimal, harga JPT

tetap dihitung hanya 3 pengenceran saja. Pemilihan ketiga pengenceran yang

akan digunakan untuk menentukan harga JPT adalah dengan memilih


pengenceran tertinggi yang semua tabungnya memberi hasil positif

(pengenceran sebelumnya tidak boleh memberi hasil negatif) dan dua

pengenceran berikutnya yang lebih tinggi secara berturut-turut (Amqam,

dkk.,. 2017).

Hasil analisis metode MPN (Most Probable Number) dilakukan

dengan cara dari mencocokkan dengan tabel MPN, yaitu tabel yang

memberikan Most Problable Number atau jumlah pendugaanterdekat, yang

tergantung dari kombinasi tabung positif (yang mengandung bakteri coliform)

dan negatif (yang tidak mengandung bakteri coliform) dari uji pendugaan.

Angka MPN tersebut mempunyai arti statistik dengan derajat kepercayaan

(level of significancy) 95%. Apabila kombinasi tabung positif terdapat pada

tabel MPN, maka jumlah coliformdihitung menggunakan tabel MPN.Apabila

kombinasi tabung positif tidak terdapat pada tabel MPN, maka jumlah

coliformdihitung dengan rumus (Natalia, 2014) :

Jumlah Bakteri (JPT/100 ml) = A X 100 : B X C

Keterangan: A = Jumlah tabung positif

C = Volume (ml) sampel dalam semua tabung

B = Volume (ml) sampel dalam tabung yang negatif

JPT = Jumlah PendugaanTerdekat

Metode MPN dapat digunakan untuk menghitung jumlah mikroba

jenis tertentu yang terdapat di antara mikroba-mikroba lainnya. Sebagai

contoh, jika digunakan Lactose broth maka adanya bakteri yang dapat
memfermentasi laktosa ditunjukkan dengan terbentuknya gas di dalam tabung

Durham. Cara ini biasanya digunakan untuk menentukan MPN Coliform

terhadap air atau minuman karena bakteri Coliform termasuk bakteri yang

dapat memfermentasi laktosa (Saparianti, 2014).


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

1. Alat

a. Autoclave 1 unit

b. Bulb 1 unit

c. Botol Sampel 1 unit

d. Inkubator 1 unit

e. Ose 1 unit

f. Pembakar Bunsen 1 unit

g. Pipet ukur 1 unit

h. Rak tabung reaksi 1 unit

i. Tabung durham 7 unit

j. Tabung reaksi 7 unit

2. Bahan

a. Alkohol secukupnya

b. Hand Scoon 1 pasang

c. Korek api 1 unit

d. Kaldu laktosa encer 10 mL/tabung

e. Kaldu laktosa pekat 6 mL/tabung

f. Kapas secukupnya
g. Label secukupnya

h. Larutan BGLB (Brilliant Green Lactose Bile Broth) 6ml/tabung

i. Sampel air minum isi ulang secukupnya

j. Tisu secukupnya

B. Waktu dan Tempat Percobaan

1. Waktu dan Tempat Pengambilan Sampel

Adapun waktu pengambilan sampel dilakukan pada pukul 08.15

WITA di Pondok Abdi Jalan Sahabat 3.

2. Waktu dan Tempat Pemeriksaan Sampel

Adapun sampel yang telah diambil diperiksa pada pukul 10.33

WITA di Labotarorium Kesehatan Masyarakat Terpadu Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.

C. Prosedur Kerja

1. Prosedur Pengambilan Sampel

a. Disiapkan satu buah botol sampel yang telah disterilisasi sebelumnya.

b. Tangan disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan hand

sanitizer.

c. Kran diputar sampai terbuka sehingga air mengalir secara maksimal

selama 30 detik sampai 1 menit, lalu tutup kembali.

d. Kran dispenser dibersihkan dari setiap benda yang menempel dan

dapat mengganggu pengambilan sampel dengan menggunakan kain

tisu bersih lalu usap kran dengan alcohol swab.


e. Tali pengikat dan kertas pelindung pada botol sampel dilepas dan

penutup botol diangkat dan diletakkan menghadap ke atas.

f. Botol sampel diisi segera dengan sampel air. Pengisian botol jangan

sampai penuh agar dapat dihomogenkan sebelum dianalisa.

g. Botol disumbat dan ditutup kembali dengan penutup yang masih

terbungkus kertas coklat lalu diikat.

2. Prosedur Pemeriksaan Sampel

a. Prosedur Uji Perkiraan

1) Tangan harus disterilkan terlebih dahulu menggunakan hand

sanitizer.

2) Meja kerja disterilkan dengan alcohol.

3) Disiapkan tabung media laktosa sebanyak 7 tabung dengan

perbandingan tabung reaksi 5 (10 ml) untuk laktosa pekat : 1 (1

ml) laktosa encer : 1 (0,1 ml) untuk laktosa encer.

4) Penutup dan pengikat botol sampel dibuka dan mulut botol sampel

diflambir menggunakan pembakaran bunsen.

5) Pipet steril dan mulut tabung media diflambir setiap hendak

memindahkan sampel.

6) Dengan menggunakan pipet steril, sampel dipindahkan ke tabung

sengan jumlah sesuai perbandingan dan tidak jauh dari

pembakaran bunsen.
7) Tabung media laktosa yang telah dicampur dengan sampel air,

dihomogenkan agar media laktosa dengan sampel tercampur rata

kemudian diratakan kembali ke rak tabung.

8) Ketujuh tabung dalam rak tabung dimasukkan ke dalam incubator

selama 2x24 jam pada suhu 35C.

b. Prosedur Uji Penegasan

1) Tangan harus disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan

hand sanitizer.

2) Meja kerja disterilkan dengan alcohol.

3) Sampel dikeluarkan dari incubator yang telah disimpan selama

2x24 jam.

4) Setiap sampel dalam tabung durham diamati, tabung yang tidak

mengandung gelembung gas dipisahkan dengan tabung yang

mengandung gelembung gas. Tabung yang mengandung

gelembung gas diambil untuk uji penegasan.

5) Disiapkan tabung yang berisi Brilliant Green Lactose Bile

(BGLB) sebanyak 6 ml setiap tabung.

6) Pembakar bunsen dinyalakan selama memindahkan sampel, ose

dan tabung BGLB tidak boleh jauh dari pembakaran bunsen.

7) Ose disiapkan.

8) Ose dan tabung BGLB diflambir, jika ose terlalu panas maka

didinginkan terlebih dahulu sebelum dicelupkan ke dalam tabung


9) Ose dicelupkan ke dalam tabung sampel kemudian dicelup ke

dalam tabung yang berisi BGLB.

10) Tabung yang berisi BGLB yang telah ditambahkan sampel positif

menggunakan ose kemudian dihomogenkan lalu disimpan dalam

rak tabung.

11) Rak tabung dimasukkan kedalam incubator dengan suhu 35C

selama 2x24 jam.

12) Setelah 2x24 jam, tabung dikeluarkan dari incubator dan diamati.

13) Tabung durham yang memiliki gelembung dinyatakan positif

dilanjutkan dengan perhitungan jumlah bakteri.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Uji Perkiraan

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, mengenai pemeriksaan

bakteriologis pada sampel air minum isi ulang di Pondok Abdi Jalan

Sahabat 3 diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 1
Hasil Uji Perkiraan Sampel Air Minum Isi Ulang
Pondok Abdi Jalan Sahabat 3
Nama Tabung Uji Perkiraan
Tabung 10 ml
I +
II +
III +
IV +
V +
Tabung 1 ml
I +
Tabung 0,1 ml
I +
Sumber : Data Primer, 2017

Keterangan : + (Positif mengandung bakteri Coliform)

- (Negatif mengandung bakteri Coliform)

Hasil uji perkiraan menunjukkan bahwa seluruh tabung ditemukan

gelembung gas yang menandakan sampel Air Minum Isi Ulang Pondok

Abdi Jalan Sahabat 3positif terdapat bakteri. Untuk menentukan jumlah


bakteri dan jenis bakteri yang ada dalam sampel tersebut akan dinyatakan

dengan uji penegasan.

2. Uji Penegasan

Uji penegasan dilakukan karena terdapat gelembung gas pada uji


perkiraan. Hasil yang diperoleh pada uji penegasan adalah sebagai berikut.
Tabel 2
Hasil Uji Penegasan Sampel Air Minum Isi Ulang
Pondok Abdi Jalan Sahabat 3
Nama Tabung Uji Perkiraan
Tabung 10 ml
I +
II +
III +
IV +
V +
Tabung 1 ml
I +
Tabung 0,1 ml
I +
Sumber : Data Primer, 2017

Keterangan : + (Positif mengandung bakteri Coliform)

- (Negatif mengandung bakteri Coliform)

B. Pembahasan

Hal yang paling utama yang harus diperhatikan adalah kondisi steril

praktikan dan alat yang digunakan. Hal ini untuk menghindari adanya

kontaminasi denngan benda-benda yang dapat mempengaruhi kondisi biologis

sampel air. Pengambilan dan pemeriksaan sampel pun harus mengikuti


prosedur kerja. hal ini agar tidak terjadi kontaminasi dengan mikroorganisme

lain.

Pengambilan sampel pemeriksaan bakteriologis pada air minum isi

ulang dilakukan di Pondok Abdi Jalan Sahabat 3 . Pengambilan sampel

menggunakan botol sampel yang telah disterilkan dengan menggunakan

autoclave. Suhu yang digunakan adalah 121C. Kertas coklat pada botol

sampel ini berfungsi untuk menghindarkan botol sampel mengalami kontak

dengan sinar matahari saat distribusi sampel menuju tempat pemeriksaan. Hal

ini dikarenakan sinar matahari dapat membunuh bakteri sehingga dapat

mempengaruhi hasil pemeriksaan. Setelah pengambilan sampel air kemudian

dibawa menuju laboratorium untuk diperiksa menggunakan motor dengan

waktu perjalanan dari lokasi pengambilan sampel menuju laboratorium sekitar

10 menit. Selanjutnya dilakukan uji perkiraan untuk menentukan apakah

sampel memiliki bakteri Coliform.

Setelah alat dan bahan telah tersedia diatas meja kerja, selanjutnya

bibir luar botol sampel diflambir menggunakan aturan 5 1 1. Aturan ini adalah

ketentuan yang menjelaskan jumlah perbandingan konsentrasi laktosa dan air

sampel. Lima tabung laktosa pekat diisi air sampel sebanyak 10 ml, 1 tabung

laktosa diisi air sampel sebanyak 1 ml, dan 1 tabung laktosa encer 0,1 ml.

Tabung durham yang berada di dalam tabung laktosa memiliki gelembung

besar sebelum dimasukkan kedalam incubator. Kondisi ini seharusnya tidak

ada agar tidak mempengaruhi pembacaan. Akan tetapi gelembung gas yang
ada pada tabung sebelum penyimpanan di incubator adalah gelembung yang

beesar dan berada pada ujung tabung durham. Pipet ukur dan tabung reaksi

juga diflambir setiap akan mengambil dan setelah memasukkan sampel

kedalam tabung. Selanjutnya setelah semua tabung terisi dengan sampel,

slanjutnya tabung disimpan dalam rak tabung kemudian dimasukkan kedalam

incubator selama 2x24 jam.

Uji perkiran pada sampel air minum isi ulang diharapkan tidak

ditemukan bakteri. Jika dalam tabung durham terdapat gelembung udara maka

pemeriksaan bernilai positif bakteri. Sebaliknya jika tidak ditemukan

gelembung udara maka pemeriksaan dinyatakan negative bakteri. Namun

pada praktiknya semua tabung positif terdapat bakteri. Selain gelembung gas

kecil yang terdapat dalam tabung durham, juga tercium bau tidak sedap dari

semua tabung. Selain bau, larutan dalam tabung juga berubah warna menjadi

lebih kotor. Kondisi ini dikarenakan adanya interaksi bakteri dalam media

laktosa. Kondisi adanya gelembung, perubahan warna, dan bau yang muncul

dari tabung reaksi menandakan adanya bakteri. Namum belum bisa dipastikan

jenis bakteri dan jumlah bakterinya. Maka dari itu dilakukan lagi uji

penegasan untuk mengetahui jenis bakteri dan jumlahnya.

Penentuan yang paling umum diperiksa adalah adanya bakteri E.coli.

Bakteri ini merupakan jenis parameter biologis indikator tercemarnya air

minum. Air minum menjadi tidak layak konsumsi apabila ditemukan bakteri
ini. Untuk itu selanjutnya dilakukan uji penegasan untuk mengetahui jumlah

bakteri golongan Coliform dalam sampel tersebut.

Uji ini dilakukan dengan menggunakan Larutan BGLB sebagai media

pertumbuhan bakteri. Pada uji ini hasil menunjukkan seluruh tabung durham

terdapat gelembung udara. Adanya gelembung udara pada tabung durham

menandakan adanya bakteri E.Coli dalam sampel. Setelah memastikan

seluruh tabung terdapat gelembung udara, selanjutnya dilakukan perhitungan

perhitungan jumlah bakteri per ml air sampel dengan menggunakan metode

MPN.

Berdasarkan tabel MPN, jika seluruh tabung bernilai positif maka total

bakterinya adalah > 240 MPN/ml. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI

tentang syarat air minum dimana E.Coli pada air minum yang memenuhi

persyaratan kesehatan adalah 0 MPN/ml. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

dengan jumlah > 240 MPN/ml yang ditemukan pada sampel, maka kualitas air

minum isi ulang Pondok Abdi Jalan Sahabat 3 tidak memenuhi persyaratan

kesehatan air minum.

Jumlah ini sangat tinggi bagi air minum isi ulang yang seharusnya

memiliki 0 MPN E.Coli. Akan tetapi banyak faktor yang bisa menyebabkan

adanya kesalahan terhadap hasil ini. Diantaranya adalah proses pengambilan

sampel dan pemeriksaan sampel tidak sesuai prosedur sehingga dapat terjadi

kontaminasi. Selain kekurangan dari praktikan, dapat dicurigai pula mesin dan
peralatan depot air minum isi ulang dari Pondok Abdi Jalan Sahabat 3 .

Selain hal-hal tersebut dapat pula dicurigai sumber air yang digunakan.

Hal tersebut dibuktikan dalam penelitian Rahayu (2012) yang

menyatakan ada hubungan yang signifikan antara kualitas mikrobiologi air

baku, proses filtrasi, proses desinfeksi dengan kualitas mikrobiologi air

produk DAMIU di depot air minum isi ulang Kabupaten Tegal tahun 2012

(nilai pvalue< 0,05). Faktor risiko pencemaran mikrobiologi air minum isi

ulang adalah air baku, kualitas filtrasi dan kualitas desinfeksi, dengan RP > 1.

Untuk menghindari kecurigaan tersebut maka dapat dilakukan

penggunaan system sterilisasi yang baik dan benar. Sesuai dengan penelitian

yang dilakukan Sistem desinfeksi/sterilisasi yang dilakukan yaitu dengan

ozonisasi, ultraviolet (UV), ozonisasi + Ultraviolet, dan Reverse Osmosis

(RO). Sterilisasi yang banyak digunakan dari 27 Depot Air Minum adalah

ozonisasi + ultraviolet sebanyak 15 depot (55,6%), dengan sistem

desinfeksi/sterilisasi ultraviolet (UV) sebanyak 11 depot (40,7%), dan dengan

sistem desinfeksi/sterilisasi lainnya yaitu Reverse Osmosis (RO) sebanyak 1

depot (3,7%) (Pratiwi, 2007).

Dari ketiga sistem desinfeksi/sterilisasi yang paling baik digunakan

adalah Reverse Osmosis (RO) dikarenakan sistem Reverse Osmosis (RO)

menggunakan membran semi permiabel yang berukuran 0,0001, dengan

ukuran tersebut diharapkan tidak ada lagi mikro organisme yang dapat lolos.

Adanya sistem desinfeksi/sterilisasi seperti ozonisasi, ultraviolet (UV),


ozonisasi + Ultraviolet, dan Reverse Osmosis (RO) sangat penting untuk

desinfeksi membunuh bakteri dalam air minum, hal ini dapat terlihat dari hasil

pemeriksaan sampel air minum isi ulang yang tidak mengandung bakteri total

Coliform dan E.coli, sehingga banyak depot air minum isi ulang yang

memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia No.907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat dan

Pengawasan Kualitas Air Minum (Pratiwi, 2007).


BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Hasil pemeriksaan yang dilakukan yaitu semua tabung yang diteliti

bernilai positif mengandung bakteri..

2. Jumlah bakteri golongan Coliform pada sampel air minum isi ulang di

Pondok Abdi Jalan Sahabat 3 adalah >240 MPN/ml.

B. Saran

1. Kepada pemerintar agar lebih memperhatikan pengawasan terhadap

banyaknya depot air minum yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

2. Kepada penyedia air minum isi ulang agar memperhatikan komponen-

komponen yang digunakan dalam penyediaan air minum isi ulang.

3. Kepada asisten agar kiranya selalu memberikan arahan dalam

penyelesaian laporan praktikum.

4. Kepada mahasiswa agar kiranya dapat mengkaji lebih dalam mengenai

persyaratan bakteriologis air.


DAFTAR PUSTAKA

Amqam, Hasnawati,. Dkk. 2017. Panduan Praktikum Mata Kuliah Praktikum


Kesehatan Lingkungan. FKM Unhas
BPOM Republik Indonesia. 2008. Vol. 9, No. 2, Maret 2008. ISSN 1829-9334
Boekoesoe L. 2010. Tingkat Kualitas Bakteriologis Air Bersih Di Desa Sosial
Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo Lintje Boekoesoe Fakultas Ilmu-
ilmu Kesehatan dan Keolahragaan Universitas Negeri Gorontalo. INOVASI,
Volume 7, Nomor 4, Desember ISSN 1693-9034
Gwimbi, P. 2011. The Microbial Quality of Drinking Water in Manonyane
Community Maserun District, Lesotho. African Health Sciences, Vol 11 hal
474-480
Khoeriyah, Ari. Aspek Kualitas Bakteriologis Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU)
di Kabupaten Bandung Barat. MKB, Volume 47 No. 3, September 2015
Menteri Kesehatan Republik Indonesia.1990. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
416/MENKES/PER/IX/1990 Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia.2002. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
907/MENKES/SK/VII/2002 Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air
Minum.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia.2010. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
492/MENKES/PER/IV/2010 Persyaratan Kualitas Air Minum.
Natalia, Lidya Ayu. 2014. Kajian Kualitas Bakteriologis Air Minum Isi Ulang di
Kabupaten Blora Melalui Metode Most Probable Number. Semarang
Nugroho, Dimas. 2015. Uji Mikrobiologis pada Berbagai Jenis Air Minum. Jakarta
Pratiwi. 2007. Kualitas Bakteriologis Air Minum Isi Ulang. Bogor
Pradana, Yoga Ardy; Bowo Djoko Marsono. 2013. Uji Kualitas Air Minum Isi Ulang
di Kecamatan Sukodono, Sidoarjo Ditinjau dari Perilaku dan Pemeliharaan
Alat. Jurnal Teknik Pomits Vol. 2, No. 2, 2013. Surabaya.
Presiden RI. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tentang
Kesehatan
Radji, Maskum., Dkk. Deteksi Cepat Bakteri Escherichia coli Dalam Sampel Air
Dengan Metode Polymerase Chain Reaction Menggunakan Primer 16e1 Dan
16e2. MAKARA, SAINS, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 39-43 39
Rakhmawati, Anna., 2012. Penyiapan Media Mikroorganisme. Pelatihan
Laboratorium Guru SMA Kab. Purworejo
Reality, Team. 2009. Kamus Biologi Edisi Lengkap. Surabaya
S.N. Gunadarma. 1997. Pengantar Rekayasa Lingkungan. ISBN-979-8382-53-6
Said, Idaman, Nusa. 2010. Pencemaran Air Minum dan Dampaknya Terhadap
Kesehatan
Saparianti, Ella. 2014. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. Jurusan
Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya
Sarah RE,. Apriliana E,. Soleha TU,. Warganegara E. 2013. Most Probable Number
(MPN) Test of Coliform Bacteria in Household Drinking Water Sources at
Sukabumi Subdistrict Bandar Lampung
Wandrivel, Rida., Netty Suharti, Yuniar. 2012. Kualitas Air Minum Yang Diproduksi
Depot Air Minum Isi Ulang Di Kecamatan Bungus Padang Berdasarkan
Persyaratan Mikrobiologi Lestari Jurnal Kesehatan Andalas : 1(3)
Wardhana, Wisnu Aria, 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan, Penerbit Andi
Offset Jogyakarta, Jogyakarta.