Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan merupakan suatu wilayah yang memiliki banyak tumbuh-tumbuhan
lebat yang terdapat pohon, semak, paku-pakuan, rumput, jamur dan lain
sebagainya yang menempati wilayah cukup luas. Hutan berfungsi sebagai
penampung karbon dioksida, habitat hewan, modulator arus hidrologi, dan
pelestari tanah serta merupakan biosfer bumi yang paling penting. Hutan adalah
bentuk kehidupan yang tersebar diseluruh dunia. Menurut undang-undang nomor
41 tahun 1999 tentang kehutanan, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa
hamparan lahan yang berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan
dalam persekutuan alam lingkungan, yang satu dengan yang lainnya tidak
dipisahkan. Eksistensi hutan sebagai subekosistem global menempati posisi
penting sebagai paru-paru dunia (Zain, 1996). Di permukaan bumi ini, kurang
lebih terdapat 90% biomassa yang terdapat di dalam hutan berbentuk kayu, dahan,
daun, akar, dan sampah hutan (serasah), hewan, dan jasad renik.
Taman Nasional Alas Purwo merupakan salah satu hutan di Indonesia yang
memiliki keanekaragaman berbagai spesies yang bervariasi. Taman Nasional Alas
Purwo setidaknya memiliki setidaknya 584 jenis spesies tumbuhan yang tercatat,
dan masih ada beberapa tumbuhan yang belum teridentifikasi. Taman Nasional
Alas Purwo merupakan jenis hutan dataran rendah, hutan bambu, hutan pantai,
hutan mangrove, padang rumput, dan hutan tanaman. Berdasarkan hal tersebut
dikarenakan Taman Nasional Alas Purwo memiliki keanekaragaman spesies yang
cukup banyak, sehingga menyebabkan banyak penelitian yang dilakukan disana.
Berdasarkan hal tersebut penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis
vegetasi dengan metode kuadrat. Analisis vegetasi menggunakan metode kuadrat
merupakan suatu metode analisis vegetasi yang didasari oleh satuan luasan petak.
Pada metode ini penutupan tajuk dihitung secara estimasi (Penaksiran) (Kusmana,
1997). Penelitian yang dilakukan dalam analisisi ini yang digunakan berupa
bentuk bujur sangkar dengan luas kuadrat 10m X 10m. berdasarkan uraian diatas
maka dilakukan penelitian yang berjudul Analisis Vegetasi Berbagai Spesies Di
Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi Dengan Metode Kuadrat
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat dijabarkan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana keanekaragaman jenis spesies tumbuhan herba yang ada di Taman
Nasional Alas Purwo Banyuwangi ?
2. Bagaimana Indeks Nilai Penting (INP) tumbuhan herba yang terdapat di
Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui keanekaragaman jenis spesies tumbuhan herba yang ada di
Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi ?
2. Untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) tumbuhan herba yang terdapat
di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi ?
1.4 Ruang Lingkup
Sesuai dengan judul dan tujuan dari penelitian, sehingga dilakuakan batasan
pada hal-hal berikut:
1. Metode analisis vegetasi merupakan teknik yang digunakan dalam melakukan
peraktikum.
2. Tumbuhan yang digunakan terbatas pada tumbuhan herba.
1.5 Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya salah penafsiran, maka perlu diberikan definisi
operasional yaitu sebagai berikut:
1. Metode kuadrat merupakan salah satu metode analisis vegetasi berdasarkan
satuan luas petak yang ukuran luasnya biasanya telah diukur berdasarkan
satuan kuadrat seperti cm2, m2, dan sebagainya (Simanung, 2009).
2. Analisis vegetasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui seberapa
besar sebaran berbagai spesies dalam suatu area melalui pengamatan
langsung dengan menggunakan plot dan mengamati morfologinya (Syafei,
1990).
3. Tumbuhan herba merupakan semua tumbuhan yang tingginya sampai dua
meter, kecuali permudaan pohon atau seedling, sapling dan tumbuhan tingkat
rendah dan berbatang lunak (batangnya tidak berkayu) atau hanya
mengandung jaringan kayu sedikit sekali (Andre, 2009).
4. Keanekaragaman jenis tumbuhan herba merupakan kondisi yang
menggambarkan jumlah dan variasi spesies tumbuhan herba yang dilakukan
dengan observasi secara langsung yang kemudian diidentifikasi dan
diklasifikasikan untuk menentukan nama spesies.
5. Kerapatan (Density) merupakan jumlah individu dan satu jenis pohon dan
tumbuhan lain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung secara kualitatif
yang dapat dibedakan menjadi jarang terdapat, kadang-kadang terdapat,
sering terdapat, dan banyak sekali terdapat (Gapala, 2010).
6. Dominasi merupakan penguasaan dari satu jenis tumbuhan terhadap jenis
tumbuhan lain, sehingga dapat dinyatakan dalam besaran banyaknya
individdu, persen penutup, volume, biomas, dan indeks nilai penting (Gapala,
2010).
7. Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya
satu jenis frekuensi yang memberikan gambaran bagaimana pola penyebaran
suatu jenis tumbuhan (Gapala, 2010).
8. Kerimbunan merupakan penutupan daerah oleh populasi jenis tumbuhan yang
dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total
area sampel yang dibuat (H), dan biasanya dalam bentuk persen (%)
(Michael, 1994).
9. Kelimpahan merupakan kelimpahan setiap spesies individu atau jenis
struktur yang biasanya dinyatakan sebagai suatu satuan persen dengan jumlah
total spesies yang ada dalam suatu komunitas (Michael, 1994).
10. INP (Indeks Nilai Penting) merupakan suatu harga yang didapatkan dari
penjumlahan nilai relatif dari sejumlah variabel yang telah diukur (Kerapatan
relatif, Kerimbunan relatif, dan Frekuensi relatif) (Odum, 1971).
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Metode Kuadrat
Analisis vegetasi menggunakan teknik sampling kuadrat (Quadrat sampling
Technique) merupakan suatu teknik survey vegetasi yang sering digunakan dalam
semua tipe komunitas tumbuhan. Petak contoh yang dibuat dalam teknik sampling
ini biasanya berupa petak tunggal maupun beberapa petak. Petak tunggal mungkin
akan memberikan informasi yang baik apabila komunitas vegetasi yang diteliti
bersifat homogen. Adapun petak-petak yang dibuat dapat diletakkan secara
random atau beraturan sesuai dengan prinsip-prinsip teknik sampling yang telah
dikemukakan (Simanung, 2009).
Menurut Kusmana (1997), menjelaskan bahwa teknik sampling kuadrat
merupakan suatu teknik survey vegetasi yang sering digunakan dalam semua tipe
komunitas tumbuhan. Salah satu metode analisis vegetasi berdasarkan suatu
luasan petak contoh Kuadrat yang dimaksud dalam metode ini adalah suatu
ukuran luas yang diukur dengan satuan kuadrat dengan besar ukuran dalam cm
dan m (Supeksa, dkk., 2012). Dalam metode kuadrat penutupan tajuk tersebut di
hitung secara etimasi (penaksiran). Bentuk petak contoh pada metode kuadrat
pada dasarnya ada tiga macam yaitu bentuk lingkaran, bentuk bujur sangkar dan
bentuk empat persegi panjang. Dari ketiga bentuk petak contoh ini masing-masing
bentuk memiliki kelebihan dan kekurangannya (Kusmana, 1997).
Sehubungan dengan efisiensi sampling banyak studi yang dilakukan
menunjukkan bahwa petak bentuk segiempat memberikan data komposisi vegetasi
yang lebih akurat dibandingkan petak berbentuk bujur sangkar yang berukuran
sama, terutama apabila sumbu panjang dari petak tersebut sejajar dengan arzh
perubahan keadaan lingkungan/habitat (sumber). Untuk memudahkan perisalahan
vegetasi dan pengukuran parameternya, petak contoh biasanya dibagi-bagi ke
dalam bentuk morfologis jenis dan lapisan distribusi vegetasi secara vertical
(stratifikasi). Dalam hal ini Oosting, (1956), menyarankan penggunaan kuadrat
berukuran 10 X 10 m untuk lapisan pohon 4 X 4 m untuk lapisan vegetasi berkayu
tingkat bawah (undergrowth) sampai tinggi 3 m, dan 1 X 1 m untuk vegetasi
bawah/lapisan herba. Dalam metode kuadrat ini parameter-parameter vegetasi
yang dapat dihitung dengan rumus-rumus berikut ini:
1. Densitas Relatif (Kerapatan)
individu spesies i
Kr = X 100%
individu

2. Kerimbunan
dominansi spesies i
Dr = X 100%
dominansi

3. Frekuensi
plot yang ada spesies i
Fr = X 100%
plot

Sehingga, nilai INP didapatkan dari INP = Kr + Dr +Fr

Indeks Nilai Penting digunakan untuk menetapkan dominansi suatu jenis


terhadap jenis lainnya, dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan
ekologis suatu jenis dalam komunitas. Indeks Nilai Penting dihitung berdasarkan
jumlah nilai Kerapatan Relatif (KR), Dominansi Relatif (DR), Frekuensi Relatif
(FR) (Ludwig & Reynold, 1988).

2.2 Tumbuhan Herba


Herba adalah semua tumbuhan yang tingginya sampai dua meter, kecuali
permudaan pohon atau seedling, sapling dan tumbuhan tingkat rendah biasanya
banyak ditemukan di tempat yang ternaungi kecuali pada tempat yang sangat
gelap di hutan (Richards, 1981). Menurut Hardjosuwarno (1990), tumbuhan herba
merupakan salah satu jenis tumbuhan penyusun hutan yang ukurannya lebih kecil
jika dibandingkan dengan semak atau pohon yang batangnya basah dan ttidak
berkayu. Tumbuhan ini memiliki organ tubuh yang tidak tetap di atas permukaan
tanah, siklus hidup yang pendek dengan jaringan yang cukup lunak. Tumbuhan
herba memiliki organ tubuh yang tidak tetap di atas permukaan tanah, siklus
hidup yang pendek dengan jaringan yang cukup lunak (Wilson & Loomis, 1962).
Menurut Soemarwoto et al (1992), herba mempunyai akar dan batang di dalam
tanah yang tetap hidup di musim kering dan akar akan menumbuhkan tajuk
barunya di permukaan pada musim hujan. Berdasarkan masa hidupnya tumbuhan
herba terbagi menjadi 3 diantaranya annual, perennial danbienial Soemarwoto
(1992):
a. Herba annual menghasilkan biji-biji dan mati seluruhnya setelah tumbuh
selama satu musim.
b. Perennial atau herba yang hidup lebih dari 2tahun dan mungkin dalam
kenyataannya hampir tidak terbatas. Beberapa jenis herba ini mungkin secara
alami berkembang biak dengan biji, tetapi sangat reproduktif dengan
potongan batang, umbi, rhizome, stolon dan daun.
c. Tumbuhan herba dua tahun atau biennial merupakan tumbuhan yang masa
hidupnya terletak antara kedua jenis tumbuhan herba annual dan perennial.
Pada tahun pertama tumbuhan ini membentuk tajuk yang kemudian pada
tahun kedua diikuti dengan alat perkembangbiakannya. Tumbuhan tersebut
mati setelah biji terbentuk dan tumbuhan.
2.3 Keanekaragaman
Keanekaragaman hayati atau biasa disebut dengan biodiversitas (bahasa
Inggris: biodiversity). Keanekaragaman adalah suatu istilah pembahasan yang
mencakup semua bentuk kehidupan yang secara ilmiah dapat di kelompokan
menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan,
hewan dan mikroorganisme serta ekosistem dan prosese-proses ekologi yang
merupakan bagian dari bentuk kehidupan. Keanekaragaman pada tingkat
ekosistem terjadi akibat interaksi yang kompleks antara komponen biotik dengan
abiotik. Interaksi biotik terjadi antara mahluk hidup yang satu dengan yang lain
(baik di dalam jenis atau antar jenis) yang membentuk suatu komunitas,
sedangkan interaksi biotikabiotik terjadi antara mahluk hidup dengan lingkungan
fisik, yaitu suhu, cahaya dan lingkungan kimiawi berupa air, mineral dan
keasaman (Indriyanto, 1993).
Kondisi lingkungan yang beranekaragam dan keaneka ragaman hayati maka,
terbentuklah keanekaragaman ekosistem. Tiap-tiap ekosistem memiliki
keanekaragaman makhluk hidup tertentu pula. Misalnya, ekosistem padang
rumput, ekosistem pantai, ekosistem hutan hujan trofik, dan ekosistem air laut.
Tiap-tiap ekosistem mempunyai ciri fisik, kimiawi, dan biologis tersendiri. Flora
dan fauna yang terdapat dsalam ekosistem tertentu berbeda dengan flora dan fauna
yang terdapat didalam ekosistem yang lain (Indriyanto, 1993).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian diskriptif eksploratif
dengan pendekatan kuantitatif dengan perhitungan kerapatan, kelimpahan,
frekuensi dan perhitungan indeks nilai penting. Penelitian dilakukan dengan
mengeksplorasi macam tumbuhan herba dan melakukan analisis vegetasi. Adapun
variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas : Plot pengambilan sampel (1,2,3,4,5,6,7-25)
2. Variabel terikat : Berbagai jenis tumbuhan herba
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dan pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 23-25 Maret
2017, di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi
3.3 Populasi dan Tempat Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah keseluruhan vegetasi yang ada di
Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
3.3.2 Sampel
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah vegetasi tanaman
herba yang terdapat di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi yang
hasilnya kemudian dianalisis dengan metode kuadrat dengan pengambilan
sampel sebanyak 25 plot.
3.4 Alat dan Bahan
Alat
1. Kuadran (Tali tampar 5. Soil analyzer
10 X 10 m) 6. Anemometer
2. Lux meter 7. Rollmeter
3. Soil thermometer 8. ATK
4. Termohygrometer
Bahan
1. Kertas label
2. Plastik
3. Tumbuahan herba di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi
3.5 Prosedur Penelitian
Penentuan Titik Pengambilan Sampel
Penentuan titik pengambilan sampel pada 24 transek dengan 25 plot
pada masing-masing transek. Sampel yang diambil sudah mewakili 10%
dari populasi yang ada di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.

Disiapkan terlebih dahulu alat dan bahan untuk melakukan


penghitungan dengan metode kuadrat

Dirangkai setiap bagian dari kuadrat.

Disebarkan 25 kuadrat dengan ukuran 10 X 10 m secara acak di


vegetasi rumput.

Dilakukan analisis vegetasi berdasarkan variabel-varibel kerapatan,


kerimbunan, dan frekuensi.

Dimasukkan kedalam tabulasi data.

Dilakukan penghitungan untuk mencari harga relatif dari setiap jenis


tumbuhan.

Dicari nilai angka penting untuk mencari harga relatif dari setiap
variabel untuk setiap tumbuhan

Diberi nama vegetasi berdasarkan 2 jenis/spesies yang memiliki nilai


penting terbesar.

3.6 Teknik Pengumpulan Data


a. Tahap pelaksanaan
Adapun langkah pengambilan sampel vegetasi yang dilakukan adalah:
dengan memasang kuadran pada titik yang telah ditentukan sebanyak 25 plot
dengan 1X ulangan pada masing-masing plot. Kemudian menghitung nili
variable kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi. Tabulasi data yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Tabel Data Pengamatan Kuadrat
No. Jenis Plot ke- Total
Tumbuhan
1 2 3 10-25

Dilanjutkan dengan perhitungan untuk mencai harga relati dari tiap


variable, sehingga didapat kan harga INP pada masing-masing jenis
tumbuhan herba yang ada di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
b. Identifikasi
Vegetasi tumbuhan herba yang ada disetiap plot hasil dari metode kuadrat
di ambil sampelnya kemudian di identifikasi di tempat penginapan Taman
Nasional Alas Purwo Banyuwangi. Pengamatan sampel tumbuha herba
dilakukan secara bersama-sama dan didampingi oleh dosen beserta asisten
dosen.
3.7 Analisis Data
Nilai dari variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, frekuensi, dan harga
relatif data yang diperoleh dari plot 1-25 di Taman Nasional Alas Purwo
Banyuwangi, dianalisis menggunakan rumus sebagai berikut:
1. Densitas Relatif (Kerapatan)
individu spesies i
Kr = X 100%
individu

2. Kerimbunan
dominansi spesies i
Dr = X 100%
dominansi

3. Frekuensi
plot yang ada spesies i
Fr = X 100%
plot

Sehingga, nilai INP didapatkan dari INP = Kr + Dr +Fr

Indeks Nilai Penting digunakan untuk menetapkan dominansi suatu jenis


terhadap jenis lainnya, dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan
ekologis suatu jenis dalam komunitas.