Anda di halaman 1dari 5

Kenapa Harga Minyak Sulit di Prediksi?

(2010)

Benny Lubiantara

Pagi itu diawal bulan September 2006 di Universitas Oxford (St. Catherine’s College),
sedang berlangsung seminar intensif selama dua minggu yang bertajuk “Oxford Energy
Seminar”. Salah satu pembicara yang paling saya tunggu adalah seorang anak muda,
bernama Arjun Murti yang bekerja di Goldman Sachs. Arjun mendadak populer
dikalangan analis harga minyak dengan teorinya super spike yang meramalkan harga
minyak akan segera mencapai 105 $/bbl, tentu saja Arjun dianggap aneh, tapi sebenarnya
banyak juga yang penasaran dengan teorinya tersebut. Pada sesi lain, Ivo Bozon dari
perusahaan konsultan yang juga terkenal (McKinsey) membuat ramalan sebaliknya,
harga minyak akan segera turun ke level 35 - 40 $/bbl. Pada saat itu, harga minyak WTI
sekitar 64 $/bbl, turun sejak mencapai puncaknya bulan Juli 2006 sebesar 76 $/bbl. Dua
bulan kemudian harga minyak terus turun ke level 55 $/bbl. Saat itu orang mulai
melupakan teorinya Arjun. Awal tahun 2008, ketika harga minyak terus meningkat dan
melejit hingga melampaui $100 per barrel, teori Arjun kembali populer.

Mingguan Petroleum Intelligence Weekly (PIW), secara rutin mengadakan semacam


kontes perkiraan harga minyak yang terdiri dari analis beken dari institusi kondang kelas
dunia. PIW edisi April 2007, memuat range forecast per kuartal dari semua analis
tersebut, hasilnya: untuk Kuartal 4, 2007 range-nya sangat lebar berkisar antara 43 - 70
$ per barrel. Apa yang terjadi kemudian? Harga minyak terus meningkat sejak April
2007, pola ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya dimana harga minyak akan
cenderung turun setelah liburan musim panas berakhir, ini ternyata tidak terjadi untuk
tahun 2007. Melihat perkembangan harga minyak, PIW edisi September menurunkan
kembali update forecast harga minyak dari para analis tersebut, untuk Kuartal 4, 2007,
berkisar antara 67 – 77 $ per barrel. Tidak satupun analis beken memperkirakan harga
minyak akan tembus ke level 80 $ per barrel. Ada joke diantara para analis, “pekerjaan
apa yang paling sia sia?”, jawabnya: “memprediksi harga minyak”.

Faktor faktor yang mempengaruhi harga minyak

Semua analisa harga minyak tentunya berangkat dari faktor faktor, seperti: pertumbuhan
ekonomi, permintaan dan penawaran minyak mentah, level persediaan (stocks) di negara
konsumen, spare capacity OPEC, tentu ditambah juga dengan: faktor musim,
kemungkinan terjadinya gangguan pasokan baik karena masalah geopolitik maupun badai
dan bencana alam lainnya.

Bisa juga terjadi ketika perkiraan permintaan vs. penawaran minyak mentah dianggap
cukup, namun terjadi masalah pasokan untuk petroleum products akibat adanya masalah
kapasitas kilang. Selain masalah kapasitas kilang, ada juga masalah kompleksitas kilang

1
sebagai akibat ketidakseimbangan permintaan produk hasil minyak mentah. Secara global,
permintaan untuk light products (gasoline, naphtha) meningkat, sebaliknya permintaan
heavy products relatif turun. Konfigurasi kilang jenis simpel tidak mempunyai
kemampuan untuk meng-upgrade crude residue menjadi light products. Maka terjadilah
“perebutan” minyak mentah jenis ringan, sementara tambahan pasokan minyak mentah
yang tersedia sebagian besar jenisnya minyak berat (heavy crude), yang terjadi akhirnya:
surplus heavy crude, defisit light crude.

Salah satu faktor non-fundamental yang tidak boleh dilupakan adalah persepsi, ada suatu
saat dimana persepsi yang timbul adalah bahwa posisi fundamental sangat ketat, yang
pada gilirannya menimbulkan kecemasan konsumen terhadap keyakinan akan
ketersediaan pasokan. Faktor faktor ini (kecemasan macetnya pasokan karena
meningkatnya ketegangan geopolitik, ketidakyakinan kinerja pasokan dari negara
produsen Non-OPEC dan kenyataan menurunnya level persediaan minyak mentah di
negara konsumen besar, seperti US) tentu mempunyai andil terhadap meningkatnya harga
minyak. Karena transaksi dilakankan dalam US$, faktor melemah atau menguatnya nilai
tukar US$ akan ikut mempengaruhi harga minyak.

Peran dan pengaruh spekulan di oil futures market.

Pada umumnya yang dimaksud spekulan dalam crude oil papers itu adalah kelompok
yang tidak ada hubungannya dengan transaksi minyak yang sesungguhnya (physical
crude). Misalnya: hedge, pension fund, dan lain lain. Transaksinya dicatat sebagai non-
commercial oleh CFTC (commodity futures trading commission). Transaksi non-
commercial ini dijadikan pendekatan untuk melihat aktivitas spekulan. Analis berusaha
mencari hubungan antara aktivitas spekulan dengan kecenderungan harga minyak,
misalkan dengan membuat plot: harga minyak (WTI) vs. transaksi non-commercial,
harga minyak vs. volume open interest (total jumlah futures contracts long atau short
yang belum di likuidasi oleh offsetting transaction atau delivery).

Mengapa spekulasi kena getahnya dan dituding ikut mendorong melonjaknya harga
minyak? Bila kita melihat pergerakan harga minyak sepanjang tahun 2002 sampai 2008
(gambar), jelas terlihat bahwa betapa besarnya volatilitas harga minyak, dari sekitar 20
$/bbl pada tahun 2002, melonjak mencapai puncaknya pada pertengahan 2008 sebesar
130 $/bbl, sebelum akhirnya anjlok akibat krisis keuangan global.

2
Harga Minyak WTI (2002 - May 2010)
140

120

100
US$ per Barrel

80

60

40

20

0
Jan-02

Jan-03

Jan-04

Jan-05

Jan-06

Jan-07

Jan-08

Jan-09

Jan-10
Sep-02

Sep-03

Sep-04

Sep-05

Sep-06

Sep-07

Sep-08

Sep-09
May-02

May-03

May-04

May-05

May-06

May-07

May-08

May-09

May-10
Source: Sekretariat OPEC

Pada periode yang sama (2002 – 2008), aktivitas transaksi di futures markets ini
meningkat secara dramatis. Beberapa studi menyebutkan bahwa hanya melihat
fundamental supply vs. demand di physical oil market tidak memberikan gambaran yang
utuh tanpa membahas pengaruh paper oil market. Peningkatan harga pada periode ini
(2002 – 2008) dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi spekulasi ini.

Pengaruh financial market terhadap harga minyak.

Akhir Desember 2006, saya menghadiri workshop dua hari di Vienna, yang berjudul: The
Impact of Financial Markets on the Price of Oil. Workshop ini penting karena saat itu isu
mengenai peran spekulan yang “menggoreng” harga minyak sedang hangat hangatnya.
Sekretariat OPEC sebagai tuan rumah mengundang pembicara dari semua pihak pihak
berkepentingan mulai dari: perusahaan minyak, investment banks, stock exchanges,
regulators, institusi riset, institusi pemerintah, hedge and pensiun funds. Tidaklah
mengherankan kalau kemudian banyak pendapat yang simpang siur.

Pada akhirnya, hal yang paling sulit itu adalah membuktikan apakah spekulasi itu
mempengaruhi kenaikan harga minyak?, Dr. Samiei dari IMF tegas dalam presentasi
studinya menyatakan bahwa spekulasi tidak secara sistematik mempengaruhi harga
minyak. Pada saat yang sama, Dr. Naini yang juga konsultan OPEC, menyatakan bahwa
ada korelasi antara kenaikan harga minyak dengan aktivitas spekulan khususnya apabila
menggunakan data tiga tahun terakhir (2004-2006). Diantara dua pendapat yang bertolak
belakang, tentu ada hal hal yang disepakati, diantaranya: semua sepakat bahwa financial
market memicu oil price volatility, bahwa struktur future market membuat terjadinya
mekanisme “price discovery” dan “price transparency”. Intinya adalah bahwa spekulan

3
memang tidak menentukan tinggi rendahnya harga minyak, tetapi tindakan spekulan
mempunyai kemampuan untuk “memperbesar” terjadinya kecenderungan harga.

Pengaruh krisis keuangan global dan harga minyak

Sebelum terjadi krisis keuangan global diakhir 2008, pada saat itu harga minyak terus
meningkat dan mencapai puncaknya pada bulan Juni 2008, yaitu pada level 130 – 140
$/bbl. Hampir semua pengamat termasuk Goldman Sachs (dan diikuti oleh pengamat di
tanah air), meramalkan harga minyak akan mencapai 200 $/bbl, bahkan ada yang lebih
ekstrim, memperkirakan harga akan mencapai 400 $/bbl.

Pada saat harga minyak mencapai level puncaknya tersebut, pada tanggal 22 Juni 2008
berlangsung “Jeddah Energy Summit” yang dihadiri 36 pemimpin negara. Pada
pertemuan tersebut Saudi Arabia berjanji akan segera meningkatkan output minyak
mentah mereka mencapai 9.7 juta barrel per hari. Komitmen Saudi ini menimbulkan
persepsi bahwa pasokan akan terjamin, akibatnya harga minyak tidak bergerak naik dan
mulai cenderung turun. Bangkrutnya Lehman Brothers (September 2008) memulai era baru,
era krisis keuangan global, perkiraan permintaan minyak dunia dikoreksi dan susut sebanyak 1.7
juta barrel per hari, yang kemudian diikuti oleh terus anjloknya harga ke level 40 $/bbl
pada bulan Desember 2008 (lihat gambar).

Harga minyak 40 $/bbl dianggap sudah mencapai dasarnya, dalam sidang luar biasa di
Oran, Aljazair, OPEC memutuskan utuk memotong produksi sebanyak 4.2 juta barrel per
hari effektif Januari 2009. Timbulnya kekhawatiran akan kurangnya pasokan ditambah
dengan persepsi akan adanya pemulihan krisis global berakibat harga minyak kembali
meningkat ke range 60 $/bbl – 80 $/bbl, suatu range yang dianggap nyaman oleh banyak
pihak (produsen dan konsumen).

Memperkirakan pasokan dan permintaan

Dalam rangka memantau apakah pasokan dan permintaan minyak sudah berimbang,
biasanya para analis menggunakan chart yang menunjukkan perbedaan harga saat ini dan
harga penyerahan kemudian. Dalam hal ini ada dua istilah penting, yaitu: Contango dan
Backwardation.

Istilah ini untuk membedakan antara harga minyak spot (saat ini) dengan harga untuk
penyerahan kemudian (future delivery), jadi kalau misalkan sekarang spot price besarnya
60 $/bbl, sementara penyerahan (missal: 3 bulan kedepan) harganya 63 $/bbl, maka
forward structure-nya disebut Contango. Sementara, kalau kejadian itu sebaliknya (harga
penyerahan kemudian lebih rendah dari harga spot), maka disebutnya: Backwardation.

Kalau strukturnya berbentuk Contango, karena harga penyerahan pada masa datang lebih
mahal, maka ada insentif buat yang punya tangki penyimpan (storage capacity) untuk
menumpuk stock atau inventory (tentu dengan catatan biaya menumpuk stock lebih
rendah dari selisih harga tersebut). Hal ini akan mengundang aksi arbitrase, karena
tindakan ini dipastikan dapat menghasilkan keuntungan, dengan cara membeli dengan

4
harga spot pada sat ini, simpan di tangki, pada saat yang sama bikin kontrak untuk
penjualan dengan harga “future delivery” yang lebih mahal.

Apa implikasi dari struktur Contango ini? adanya struktur Contango ini oleh pelaku pasar
dianggap sinyal bahwa market kelebihan pasokan (“over supplied”). Penjelasan lebih
sederhanany seperti ini: karena ada insentif untuk menumpuk stock, di pasar akan terjadi
peningkatan permintaan (untuk menumpuk stock), maka otomatis harga akan meningkat,
dengan demikian, harganya akan semakin mendekati dan akhirnya sama dengan harga
untuk penyerahan kemudian.

Untuk struktur backwardation, karena harga untuk penyerahan kemudian (future


delivery) lebih rendah, maka ada insentif bagi yang mempunyai stock untuk melepas
stock-nya (buat apa menyimpan stock karena ekspektasi harga kedepan akan turun).
Akibatnya stock menipis, oleh karena itu struktur backwardation ini dibaca oleh pelaku
pasar sebagai sinyal kekurangan pasokan (“tight market”).

Penutup

Pada sebuah milis yang saya ikuti, saya sempat tertegun ketika ada satu anggota yang
mengeluh dan mengajak untuk memperkarakan salah satu kementrian karena dianggap
sembrono memperkirakan harga minyak. Perkiraan harga minyak tidak saja penting bagi
negara dalam membuat asumsi APBN, tetapi juga untuk level perusahaan minyak, asumsi
harga minyak sangat penting untuk menentukan apakah suatu lapangan layak untuk
dikembangkan. Terlebih lagi, asumsi harga minyak ini juga penting bagi proyek yang
berhubungan dengan pengembangan energi terbarukan.

Namun demikian, seperti diuraikan diatas, proses pembentukan harga minyak


dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang mudah diukur maupun yang sama sekali tidak
bisa dikuantifikasi. Perkiraan harga minyak harus mereflesikan dinamika tersebut. Karen
begitu banyak faktor yang mengandung kepastian, membuat beberapa pilihan skenario
merupakan suatu alternatif yang disarankan. Hal ini juga dilakukan oleh banyak institusi
riset baik pemerintah maupun swasta.