Anda di halaman 1dari 3

BAB III

PEMBAHASAN

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa golongan obat keras harus diserahkan berdasarkan
resep dokter, namun ada beberapa obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dengan
syarat obat obat tersebut diserahkan oleh apoteker yang sedang melakukan pekerjaan
kefarmasian di apotek. Obat obat keras jenis ini dimasukkan ke dalam golongan tersendiri, yaitu
golongan obat wajib apotek. Pelayanan obat keras di luar obat wajib apotek tanpa resep dokter
merupakan pelanggaran dari Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Obat Keras (St. Nomor 419 tanggal
22 Desember 1949). Dalam hal terjadi suatu penyimpangan atau pelanggaran, salah satu sisi yang
menarik untuk dikaji adalah sisi pengawasannya. Pengawasan pada dasarnya diarahkan
sepenuhnya untuk menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau penyimpangan
sehingga pelaksanaan pengawasan berkorelasi dengan kejadian penyimpangan. Pengawasan yang
baik dapat meminimalkan terjadinya penyimpangan dan ketika telah terjadi penyimpangan,
pengawasan yang baik harus dapat mendeteksi sejauh mana penyimpangan terjadi dan sebab-sebab
terjadinya penyimpangan tersebut.
Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan pelayanan kesehatan
khususnya akses obat, pemerintah mengeluarkan kebijakan obat wajib apotek. Jadi, obat wajib
apotek merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) kepada
pasien tanpa resep dokter. Adapun peraturan perundang undangan yang mengatur tentang obat
wajib apotek, antara lain sebagai berikut:
1) Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 919/MenKes/PER/X/1993 tentang kriteria obat wajib
apotek (OWA).
2) Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Daftar Obat
Wajib Apotek No. 1, yang kemudian diperbaharui dengan;
3) Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 925/MenKes/PER/X/1993 tentang Perubahan
golongan obat wajib apotek (OWA) No. 1.
4) Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 924/MenKes/SK/VII/1993 tentang Daftar obat wajib
apotek No. 2.
5) Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1176/MenKes/SK/X/1999 tentang Daftar obat wajib
apotek No. 3.
Berdasarkan perundang-undangan yang ada, daftar obat wajib apotek dibagi menjadi 3 kelompok,
yaitu :

1. Daftar Obat Wajib Apotek No.1 (Peraturan Menteri Kesehatan RI No.


925/MenKes/PER/X/1993)
Obat wajib apotek yaitu obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker kepada pasien di
Apotik tanpa resep dokter yaitu Bahwa oleh karena dipandang perlu untuk mengubah
golongan beberapa jenis obat yang ditetapkan pada persetujuan pendaftarannya sebagai obat
keras menjadi obat yang dapat diserahkan tanpa resep.
2. Daftar Obat Wajib Apotek No.2 (Keputusan Menteri Kesehatan RI NOMOR :
924/MENKES/PER/1993)

Sesuai perkembangan dibidang farmasi yang menyangkut khasiat dan keamanan obat, dipandang
perlu menetapkan Daftar Obat Wajib Apotik No. 2 sebagai tambahan lampiran Keputusan Menteri
Kesehatan No. 347/Men. Kes/SK/V/1990 tentang Wajib Apotik dengan keputusan Menteri
Kesehatan. Daftar Obat Wajib Apotek No. 2 ini ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan
RI Nomor : Daftar Obat Wajib Apotik No.2 sebagai tambahan Lampiran Keputusan Menteri
Kesehatan No. 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotik sebagaimana terlampir.

3. Daftar Obat Wajib Apotek No.3 (Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/
1999)

Obat yang dapat disarankan kepada konsumen oleh apoteker untuk pengobatan sendiri adalah
Obat wajib apotek, yaitu obat-obatan yang dapat diserahkan tanpa resep dokter, namun harus
diserahkan oleh apoteker di apotek. Disini terdapat daftar obat wajib apotek yang dikeluarkan
berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan. Sampai saat ini sudah ada 3 daftar obat yang
diperbolehkan diserahkan tanpa resep dokter. Salah satunya adalah Obat Wajib Apotek No. 3
(OWA 3) yang terdapat dalam Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/ 1999
tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3.
Adapun pertimbangan pertimbangan yang mendasari dikeluarkannya peraturan perundang
undangan terkait dengan obat wajib apotek adalah pertimbangan utama yaitu meningkatkan
kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan
dengan meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional. Pertimbangn kedua
yaitu untuk meningkatkan peran apoteker di apotek dalam pelayanan obat kepada masyarakat.
Pertimbangn ketiga yaitu untuk meningkatkan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan
sendiri.
Pada penyerahan obat wajib apotek, walaupun apoteker pengelola apotek (APA) boleh
memberikan obat keras, namun ada persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyerahan obat wajib
apotek yaitu apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada
pasien, apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat,
umur) serta penyakit yang diderita, dan apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar
mencakup indikasi, kontra-indikasi, cara pemakaian, cara penyimpanan dan efek samping obat
yang mungkin timbul, serta tindakan yang disarankan bila efek tidak dikehendaki tersebut timbul.