Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR FEMUR DAN JENIS-JENIS FRAKTUR

A. DEFINISI
Fraktur adalah diskontunuitas struktur pada tulang Fraktur adalah pemisahan atau
patahnya tulang (marilynn e. Doenges, 2005 : 761).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan
oleh rudapaksa (mansjoer, arif, et al, 2005).
Sedangkan menurut linda juall c. Dalam buku nursing care plans and dokumentation
menyebutkan bahwa fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan
eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. Pernyataan ini sama
yang diterangkan dalam buku luckman and sorensens medical surgical nursing.
Didalam buku kapita selekta kedokteran tahun 2000, diungkapkan bahwa patah
tulang tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar. Pendapat lain menyatidakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu
fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi (handerson,
m. A, 1992).
Fraktur femur rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh
trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang /
osteoporosis. Ada dua tipe dari fraktur femur, yaitu : fraktur intrakapsuler terjadi di dalam
tulang sendi, panggul dan melalui kepala femur (capital fraktur), hanya di bawah kepala
femur, melalui leher dari femur. Fraktur ekstrakapsuler terjadi di luar sendi dan kapsul,
melalui trokhanter femur yang lebih besar atau yang lebih kecil pada daerah intertrokhanter
terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari dua inci di bawah
trokhanter kecil (sylvia anderson, 1995 : 261).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak
disekitar tulang akan akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak
lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak
lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.

Page | 1
Fraktur adalah diskontinuitas dari jaringan tulang (patah) atau tulang rawan yang
umumnya akibat trauma. Putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang
disebabkan oleh kekerasan.
1. Beberapa istilah yang dapat dipakai untuk menjelaskan fraktur :
a. Sudut Patah.
1) Fraktur tranfersal adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu
panjang tulang.
2) Fraktur oblik adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang.
3) Fraktur spiral timbul akibat torsi pada extrimitas.
b. Fraktur Multiple Pada Satu Tulang.
1) Fraktur segmental adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang
menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darah.
2) Comunited fraktur adalah serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan
dimana terdapat lebih dari dua fragmen tulang.
c. Fraktur Impikasi.
Fraktur kompresi terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga yang
berada diantaranya, seperti pada satu vetebra dengan dua vetebra lainnya.
d. Fraktur Patologik.
Terjadi pada daerah-daerah tulang yang menjadi lemah oleh karena tumor atau
proses patologik lainnya. Tulang seringakali menunjukkan penurunan densitas.
Penyebab yang paling sering dari fraktur semacam ini adalah tumor baik primer
ataupun tumor metastasis.
e. Fraktur Beban Lainnya.
Fraktur beban terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah tingkat
aktifitas mereka baru diterima untuk berlatih dalam angkatan bersenjata atau orang-
orang yang yang baru memulai latihan lari.
f. Fraktur Greenstick.
Fraktur tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. Kortek tulangnya
sebagian masih utuh, demikian juga perioteum. Fraktur ini akan akan segera sembuh
dan mengalami remodeling kebentuk dan fungsi normal.
g. Fraktur Avulsi.
Page | 2
Memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun
ligament. Biasanya tidak ada pengobatan spesifik yang diperlukan. Namun bila diduga
akan menyebabkan kecacatan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk membuang
atau meletakkan kembali fragmen tulang taersebut.
h. Fraktur Sendi.
Catatan kusus harus dibuat untuk fraktur yang melibatkan sendi, terutama
apabila geometri sendi sendi terganggu secara bermakna jika tidak ditangani dengan
cepat dapat menyebabkan osteoatritis pasca trauma progesif pada sendi yang cedera
tersebut.
2. Deskripsi fraktur.
Angulasi dan oposisi adalah dua istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan
fraktur tulang panjang. Derajat dan arah angulasi dari posisi normal suatu tulang panjang
dapat menunjukkan derajat keparahan fraktur dan tipe penatalaksanaan yang yang harus
diberikan. Angulasi dijelaskan dengan memperkirakan derajat devisiasi fragmen distal
dari sumbu longitudinal normal, menunjukkan apeks dari sudut tersebut. Oposisi
menunjukkan tingkat tingkat pergerakan fraktur dari permukaan asalnya dan dipakai
untuk menjelaskan seberapakah proporsi satu fragmen tulang yang patah menyentuh
permukaan tulang fragmen yang lain.
3. Tingkatan fraktur
a) Grade I : sakit jelas, dan sedikit kerusakan kulit.
b) Grade II : fraktur terbuka dan sedikit keruakan kulit.
c) Grade III : banyak sekali jejak kerusakan kulit, otot
dan jaringan syaraf, pembuluh darah serta luka sebesar 6-8 cm.
4. Fraktur terbuka dan tertutup.
a) Fraktur tertutup adalah dimana kulit tidak ditembus fragmen tulang, sehingga tempat
fraktur tidak tercemar oleh lingkungan.
b) Fraktur terbuka adalah dimana kulit dari ektrimitas yang terlibat telah di tembus.
Konsep penting yang perlu diperhatiakan adalah apakah terjadi kontaminasi oleh
lingkungan pada tempat terjadinya fraktur terbuka. Fragmen fraktur dapat menembus
kulit pada saat terjadinya cedera, terkontminasi, kenudian kembali hampir pada
posisi semula. Pada keadaan semacam ini maka operasi untuk irigasi, debridemen
Page | 3
dan pemberian antibiotika secara intravena mungkin diberikan untuk untuk
mencegah terjadinya oateomielitis. Pada umumnya operasi irigasi dan debridemen
pada fraktur terbuka harus dilakukan dalam waktu 6 jam setelah terjadinya cedera
untuk mengurangi terjadinya infeksi.

B. ETIOLOGI.
Etiologi patah tulang menurut barbara c. Long adalah
1. Fraktur akibat peristiwa trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat yang
terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya. Jika
kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat yang
jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur mungkin
tidak ada.
2. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan
Tulang jika bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak mampu
mengabsobsi energi atau kekuatan yang menimapnya.
3. Fraktur patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan tulang
akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau ostepororsis.

C. MANIFESTASI KLINIK.
1. Pada tulang traumatic dan cedera jaringan lunak biasanya disertai nyeri. Setelah terjadi
patah tulang terjadi spasme otot yang menambah rasa nyeri. Pada fraktur stress, nyeri
biasanya timbul pada saat aktifitas dan hilang pada saat istirahat. Fraktur patologis
mungkin tidak disertai nyeri.
2. Nyeri, bengkak, dan nyeri tekan pada daerah fraktur (tenderness)
3. Deformitas : perubahan bentuk tulang
4. Mungkin tampak jelas posisi tulang dan ektrimitas yang tidak alami.
5. Pembengkakan disekitar fraktur akan menyebabkan proses peradangan.
6. Hilangnya fungsi anggota badan dan persendian terdekat.
7. Gerakan abnormal.

Page | 4
8. Dapat terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan, yang mengisyaratkan kerusakan
syaraf. Denyut nadi dibagian distal fraktur harus utuh dan setara dengan bagian
nonfraktur. Hilangnya denyut nadi sebelah distal mungkin mengisyaratkan syok
kompartemen.
9. Krepitasi suara gemeretak akibat pergeseran ujung-ujung patahan tulang satu sama lain.
Tanda-tanda fraktur pasti
1. Deformitas
2. Krepitasi
3. False movement (gerakan yang tak biasa)
4. Foto roentgen,
Tanda-tanda fraktur tak pasti
1. Odema
2. Nyeri tekan
3. Nyeri gerak
4. Luka

D. PATOFISIOLOGI.
Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi dengan acetabulum bagian
dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian
terjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi
panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral
merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia.
Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur
meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk
menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan
rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak
yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan
terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian

Page | 5
tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon
inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel
darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya
(Black, J.M, et al, 1993).
Barbara c. Long menguraikan bahwa ketika tulang patah, periosteum dan pembuluh
darah di bagian korteks, sumsum tulang dan jaringan lunak didekatnya (otot) cidera
pembuluh darah ini merupakan keadaan derajat yang memerlukan pembedahan segera sebab
dapat menimbulkan syok hipovolemik. Pendarahan yang terakumulasi menimbulkan
pembengkakan jaringan sekitar daerah cidera yang apabila ditekan atau digerakkan dapat
timbul rasa nyeri yang hebat yang mengakibatkan syok neurogenik.
Sedangkan kerusakan pada system persarafan, akan menimbulkan kehilangan sensasi
yang dapat berakibat paralysis yang menetap pada fraktur juga terjadi keterbatasan gerak
oleh karena fungsi pada daerah yang cidera.
Kerusakan pada kulit dan jaringan lainnya dapat timbul oleh karena trauma atau
mecuatnya fragmen tulang yang patah. Apabila kulit robek dan luka memiliki hubungan
dengan tulang yang patah maka dapat mengakibatkan kontaminasi sehingga resiko infeksi
akan sangat besar.

E. PATHWAY.
Trauma

Kompresi tulang

Diskontinuitas tulang (fraktur)

Kerusakan rangka perubahan struktur Imobilisasi Pe saturasi O2 terputusnya sar.


Jaringan perifer

Kerusakan otot Pe tekanan neu. Tek. Area punggung Depresi sirkulasi O2 Nyeri Akut
Sensorik pinggang

Page | 6
ROM Relaksan Pe vaskularisasi Gangguan Pert. Respon nyeri

Prostaglandin Gas
Bradikinin Syok Neurogenic

Gangguan Mobilitas Spasme Iskemik


Fisik

Resiko cidera Respon Nyeri laserasi Kerusakan Integritas


Kulit
Pelepasan sitokinin Syok Neurogenik Dekubitus

Merangsang makrofag

Resiko Infeksi

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG.
1. Pemeriksaan Radiologi.
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan
menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan
dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan
lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi
untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari
bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang
dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-ray :
a. Bayangan jaringan lunak.
b. Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga
rotasi.
c. Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
d. Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:
a. Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup
yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks
dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
b. Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di
ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.

Page | 7
c. Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
d. Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari
tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.

2. Pemeriksaan Laboratorium;
a. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
b. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan
osteoblastik dalam membentuk tulang.
c. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat
Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
3. Pemeriksaan lain-lain.
a. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme
penyebab infeksi.
b. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas
tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
c. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
d. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang
berlebihan.
e. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
f. MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
(Ignatavicius, Donna D, 1995)

G. PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN.


1. Prinsip pertolongan fraktur
a. Pertolongan pertama Kalau terjadi kodisi mengancam jiwa dengan a, b, c
Kalau terjadi perdarahan jangan sampai syok.
b. Penanganan syok.
c. Penilaian awal pemeriksaan diagnosis.
2. Tujuan penangan fraktur :
a. Reposisi

Page | 8
Mengembalikan keposisi semula. Contoh : jika terjadi dislokasi dikembalikan keposisi
semula. Patah tulang kurang dari 2 jam reposisi langsung tanpa anastes. Bila lebih 2
jam anastesi ga/local. Bila gagal, deformitas ringan herreposisi, deformitas berat
..operasi.
b. Imobilisasi/fiksasi.
Membuat daerah fraktur tidak bergerak dengan fikisasi. Contoh : gibs, spalk.
c. Union.
Membuat sambungan tulang. Contoh : anak sambung 2-3 minggu,
dewasa.sambung 1-1,5 bulan.
d. Rehabilitasi.
Mengembalikan fungsinya.
3. Managemen fraktur terbuka.
a. Penanganan fraktur terbuka :
1) Berikan ATS 1500 unit untuk dewasa, anak separuhnya.
2) Berikan Antibiotic iv.
3) Debridement :
Bersihkan kotoran.
Buang jaringan mati.
Kuret tulang kotor.
Irigasi nacl 10 liter.
Jahit situsi.
Pasang imobilisasi.

H. KOMPLIKASI
1. Trauma syaraf.
2. Trauma pembuluh darah : Indikasi ischemia post trauma : pain, pulseless, parasthesia,
pale, paralise kompartemen syndrome : kumpulan gejala yang terjadi karena
kerusakan akibat trauma dalam jangka waktu 6 jam pertama, kalau tidak di bersihkan
maka sampai terjadi nekrose amputasi.
3. Koplikasi tulang :
a. Delayed union : penyatuan tulang lambat
Page | 9
b. Non unuion (tidak bisa nyambung)
c. Mal union (salah sambung)
d. Kekakuan sendi
e. Nekrosis avaskuler
f. Osteoarthritis
g. Reflek simpatik distrofi
4. Stress pasca trumatik
5. Dapat timbul embolik lemak setelah patah tulang, terutama tulang panjang.

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA.


1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis yang di tandai dengan pasien
mengeluh nyeri, muka tampak gelisah, meringis, skala nyeri 6.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif (post operasi fraktur).
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang tahu sumber-sumber informasi.

J. NIC DAN NOC


1 Nyeri akut b/d Kerusakan NOC : Pain Management
Integritas Jaringan
Pain Level, - Lakukan pengkajian
Pain control, nyeri secara
Comfort level komprehensif termasuk
Definisi : Kriteria Hasil : lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi,
Sensori yang tidak Mampu mengontrol nyeri kualitas dan faktor
menyenangkan dan (tahu penyebab nyeri, presipitasi
pengalaman emosional mampu menggunakan - Observasi reaksi
yang muncul secara aktual tehnik nonfarmakologi nonverbal dari
untuk mengurangi nyeri, ketidaknyamanan
atau potensial kerusakan
mencari bantuan) - Gunakan teknik
jaringan atau Melaporkan bahwa nyeri komunikasi terapeutik
menggambarkan adanya berkurang dengan untuk mengetahui
kerusakan (Asosiasi Studi menggunakan pengalaman nyeri
Nyeri Internasional): manajemen nyeri pasien
serangan mendadak atau Mampu mengenali nyeri - Kaji kultur yang
pelan intensitasnya dari (skala, intensitas, mempengaruhi respon
frekuensi dan tanda nyeri
ringan sampai berat yang
nyeri) - Evaluasi pengalaman
Page | 10
dapat diantisipasi dengan Menyatakan rasa nyaman nyeri masa lampau
akhir yang dapat diprediksi setelah nyeri berkurang - Evaluasi bersama pasien
dan dengan durasi kurang Tanda vital dalam dan tim kesehatan lain
rentang normal tentang ketidakefektifan
dari 6 bulan.
kontrol nyeri masa
lampau
- Bantu pasien dan
Batasan karakteristik : keluarga untuk mencari
dan menemukan
- Laporan secara verbal dukungan
atau non verbal - Kontrol lingkungan
- Fakta dari observasi yang dapat
- Posisi antalgic untuk mempengaruhi nyeri
menghindari nyeri seperti suhu ruangan,
- Gerakan melindungi pencahayaan dan
- Tingkah laku berhati- kebisingan
hati - Kurangi faktor
- Muka topeng presipitasi nyeri
- Gangguan tidur (mata - Pilih dan lakukan
sayu, tampak capek, penanganan nyeri
sulit atau gerakan (farmakologi, non
kacau, menyeringai) farmakologi dan inter
- Terfokus pada diri personal)
sendiri - Kaji tipe dan sumber
- Fokus menyempit nyeri untuk menentukan
(penurunan persepsi intervensi
waktu, kerusakan - Ajarkan tentang teknik
proses berpikir, non farmakologi
penurunan interaksi - Berikan analgetik untuk
dengan orang dan mengurangi nyeri
lingkungan) - Evaluasi keefektifan
- Tingkah laku distraksi, kontrol nyeri
contoh : jalan-jalan, - Tingkatkan istirahat
menemui orang lain - Kolaborasikan dengan
dan/atau aktivitas, dokter jika ada keluhan
aktivitas berulang- dan tindakan nyeri tidak
ulang) berhasil
- Respon autonom - Monitor penerimaan
(seperti diaphoresis, pasien tentang
perubahan tekanan manajemen nyeri
darah, perubahan nafas,
nadi dan dilatasi pupil)
- Perubahan autonomic - Analgesic
dalam tonus otot Administration
(mungkin dalam - Tentukan lokasi,
rentang dari lemah ke karakteristik, kualitas,

Page | 11
kaku) dan derajat nyeri
- Tingkah laku ekspresif sebelum pemberian
(contoh : gelisah, obat
merintih, menangis, - Cek instruksi dokter
waspada, iritabel, nafas tentang jenis obat,
panjang/berkeluh dosis, dan frekuensi
kesah) - Cek riwayat alergi
- Perubahan dalam nafsu - Pilih analgesik yang
makan dan minum diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
Faktor yang berhubungan : pemberian lebih dari
satu
Agen injuri (biologi, kimia, - Tentukan pilihan
fisik, psikologis) analgesik tergantung
tipe dan beratnya nyeri
- Tentukan analgesik
pilihan, rute pemberian,
dan dosis optimal
- Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri secara
teratur
- Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
- Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat
nyeri hebat
- Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala (efek samping)

2 Gangguan mobilitas fisik NOC : NIC :


b/d Fraktur
Joint Movement : Exercise therapy :
Active ambulation
Definisi : Mobility Level
Self care : ADLs - Monitoring vital sign
Keterbatasan dalam sebelm/sesudah latihan
Transfer performance
kebebasan untuk dan lihat respon pasien
Page | 12
pergerakan fisik tertentu Kriteria Hasil : saat latihan
pada bagian tubuh atau satu - Konsultasikan dengan
atau lebih ekstremitas Klien meningkat dalam terapi fisik tentang
aktivitas fisik rencana ambulasi sesuai
Batasan karakteristik : Mengerti tujuan dari dengan kebutuhan
peningkatan mobilitas - Bantu klien untuk
- Postur tubuh yang
Memverbalisasikan menggunakan tongkat
tidak stabil selama
perasaan dalam saat berjalan dan cegah
melakukan kegiatan
meningkatkan kekuatan terhadap cedera
rutin harian
dan kemampuan - Ajarkan pasien atau
- Keterbatasan
berpindah tenaga kesehatan lain
kemampuan untuk
Memperagakan tentang teknik ambulasi
melakukan
penggunaan alat Bantu - Kaji kemampuan pasien
keterampilan
untuk mobilisasi dalam mobilisasi
motorik kasar
(walker) - Latih pasien dalam
- Keterbatasan
kemampuan untuk pemenuhan kebutuhan
melakukan ADLs secara mandiri
keterampilan sesuai kemampuan
motorik halus - Dampingi dan Bantu
- Tidak ada pasien saat mobilisasi
koordinasi atau dan bantu penuhi
pergerakan yang kebutuhan ADLs ps.
tersentak-sentak - Berikan alat Bantu jika
- Keterbatasan ROM klien memerlukan.
- Kesulitan berbalik - Ajarkan pasien
(belok) bagaimana merubah
- Perubahan gaya posisi dan berikan
berjalan (Misal : bantuan jika diperlukan
penurunan
kecepatan berjalan,
kesulitan memulai
jalan, langkah
sempit, kaki diseret,
goyangan yang
berlebihan pada
posisi lateral)
- Penurunan waktu
reaksi
- Bergerak
menyebabkan nafas
menjadi pendek
- Usaha yang kuat
untuk perubahan
gerak (peningkatan
perhatian untuk
aktivitas lain,
Page | 13
mengontrol
perilaku, fokus
dalam anggapan
ketidakmampuan
aktivitas)
- Pergerakan yang
lambat
- Bergerak
menyebabkan
tremor
Faktor yang berhubungan :

- Pengobatan
- Terapi pembatasan
gerak
- Kurang
pengetahuan tentang
kegunaan
pergerakan fisik
- Indeks massa tubuh
diatas 75 tahun
percentil sesuai
dengan usia
- Kerusakan persepsi
sensori
- Tidak nyaman,
nyeri
- Kerusakan
muskuloskeletal dan
neuromuskuler
- Intoleransi
aktivitas/penurunan
kekuatan dan
stamina
- Depresi mood atau
cemas
- Kerusakan kognitif
- Penurunan kekuatan
otot, kontrol dan
atau masa
- Keengganan untuk
memulai gerak
- Gaya hidup yang
menetap, tidak
digunakan,
deconditioning

Page | 14
- Malnutrisi selektif
atau umum
3 Resiko infeksi b/d NOC : NIC :
pembedahan
Immune Status Infection Control (Kontrol
Knowledge : Infection infeksi)
control
Definisi : Peningkatan Risk control - Bersihkan lingkungan
resiko masuknya organisme Kriteria Hasil : setelah dipakai pasien
patogen lain
Klien bebas dari tanda - Pertahankan teknik
dan gejala infeksi isolasi
Mendeskripsikan proses - Batasi pengunjung bila
Faktor-faktor resiko : penularan penyakit, perlu
factor yang - Instruksikan pada
- Prosedur Infasif mempengaruhi penularan pengunjung untuk
- Ketidakcukupan serta penatalaksanaannya, mencuci tangan saat
pengetahuan untuk Menunjukkan kemampuan berkunjung dan setelah
menghindari paparan untuk mencegah timbulnya berkunjung
patogen infeksi meninggalkan pasien
- Trauma Jumlah leukosit dalam - Gunakan sabun
- Kerusakan jaringan dan batas normal antimikrobia untuk cuci
peningkatan paparan Menunjukkan perilaku tangan
lingkungan hidup sehat - Cuci tangan setiap
- Ruptur membran sebelum dan sesudah
amnion tindakan kperawtan
- Agen farmasi - Gunakan baju, sarung
(imunosupresan) tangan sebagai alat
- Malnutrisi pelindung
- Peningkatan paparan - Pertahankan lingkungan
lingkungan patogen aseptik selama
- Imonusupresi pemasangan alat
- Ketidakadekuatan - Ganti letak IV perifer
imum buatan dan line central dan
- Tidak adekuat dressing sesuai dengan
pertahanan sekunder petunjuk umum
(penurunan Hb, - Gunakan kateter
Leukopenia, penekanan intermiten untuk
respon inflamasi) menurunkan infeksi
- Tidak adekuat kandung kencing
pertahanan tubuh - Tingktkan intake nutrisi
primer (kulit tidak - Berikan terapi
utuh, trauma jaringan, antibiotik bila perlu
penurunan kerja silia,
cairan tubuh statis,
perubahan sekresi pH, InfectionProtection

Page | 15
perubahan peristaltik) (proteksiterhadap infeksi)
- Penyakit kronik
- Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan
lokal
- Monitor hitung
granulosit, WBC
- Monitor kerentanan
terhadap infeksi
- Batasi pengunjung
- Saring pengunjung
terhadap penyakit menular
- Partahankan teknik
aspesis pada pasien yang
beresiko
- Pertahankan teknik
isolasi k/p
- Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
- Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase
- Ispeksi kondisi luka /
insisi bedah
- Dorong masukkan
nutrisi yang cukup
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Instruksikan pasien
untuk minum antibiotik
sesuai resep
- Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
- Ajarkan cara
menghindari infeksi
- Laporkan kecurigaan
infeksi
- Laporkan kultur positif
4 Kurang pengetahuan b/d NOC : NIC :
perawatan di rumah dan
Kowlwdge : disease Teaching : disease Process
pembedahan.
process
Kowledge : health - Berikan penilaian
Behavior tentang tingkat
pengetahuan pasien
Page | 16
Definisi : Kriteria Hasil : tentang proses penyakit
yang spesifik
Tidak adanya atau Pasien dan keluarga - Jelaskan patofisiologi
kurangnya informasi menyatakan pemahaman dari penyakit dan
kognitif sehubungan tentang penyakit, kondisi, bagaimana hal ini
prognosis dan program berhubungan dengan
dengan topic spesifik.
pengobatan anatomi dan fisiologi,
Pasien dan keluarga dengan cara yang tepat.
mampu melaksanakan - Gambarkan tanda dan
Batasan karakteristik : prosedur yang dijelaskan gejala yang biasa
memverbalisasikan adanya secara benar muncul pada penyakit,
Pasien dan keluarga dengan cara yang tepat
masalah, ketidakakuratan
mampu menjelaskan - Gambarkan proses
mengikuti instruksi, kembali apa yang penyakit, dengan cara
perilaku tidak sesuai. dijelaskan perawat/tim yang tepat
kesehatan lainnya - identifikasi
kemungkinan
Faktor yang berhubungan : penyebab, dengna cara
yang tepat
keterbatasan kognitif,
- Sediakan informasi
interpretasi terhadap pada pasien tentang
informasi yang salah, kondisi, dengan cara
kurangnya keinginan untuk yang tepat
mencari informasi, tidak - Hindari jaminan yang
mengetahui sumber-sumber kosong
- Sediakan bagi keluarga
informasi.
atau SO informasi
tentang kemajuan
pasien dengan cara
yang tepat
- Diskusikan perubahan
gaya hidup yang
mungkin diperlukan
untuk mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang dan
atau proses
pengontrolan penyakit
- Diskusikan pilihan
terapi atau penanganan
- Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
Page | 17
- Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan
cara yang tepat
- Rujuk pasien pada grup
atau agensi di
komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
- Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat.

K. DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2000. Handbook of Pathophysiology. Lippincott-Raven Publishers.


Philadelphia, U.S.A
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Suparman, 1987. Ilmu Penyakit Dalam, jilid I Edisi II. Penerbit Balai FKUI Jakarta
Nanda international. 2009. Diagnosis keperawatan : Defenisi & Klasifikasi. 2009-2011.
Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta

Page | 18

Anda mungkin juga menyukai