Anda di halaman 1dari 25

Definisi

Asma adalah keadaan inflamasi kronik dengan penyempitan saluran pernafasan yang

reversible.Asma didefinisikan sebagai kumpulan tanda dan gejala mengi serta batuk

dengan karakteristik sebagai berikut ; timbul secara episodik dan atau kronik,

cenderung pada malam hari atau dini hari (nocturnal), musiman.1,3,4,5

Epidemiologi

WHO (world Health Organization) tahun 2011, 235 juta orang di seluruh

dunia menderita asma dengan angka kematian lebih dari 8% di negara-negara

berkembang yang sebenarnya dapat dicegah. National Center for Health Statictics

(NCHS) pada tahun 2011, mengatakan bahwa prevalensi asma menurut usia sebesar

9,5% pada anak dan 8,2% pada dewasa.7

Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun

2013 mendapatkan hasil prevalensi nasional untuk penyakit asma pada semua pada

semua umur adalah 4,5%. Dengan prevalensi asma tertinggi terdapat di Sulawesi

Tengah (7,8%), diikuti Nusa Tenggara Timur (7,3%), DI Yogyakarta (6,9%), dan

Sulawesi Selatan (6,7%). Dan untuk provinsi Jawa Tengah memiliki prevalensi asma

sebesar 4,3%.8

Klasifikasi

Table 1. Penilaian derajat serangan asma berdasarkan berat asma sebagai berikut :2

Parameter klinis, Ringan Sedang Berat Ancaman


Fungsi paru henti nafas
Sesak timbul Berjalan Berbicara Istirahat
Pada saat (breatless) Bayi menangis Bayi : pendek Bayi berhenti

1
keras dan lemah makan
kesulitan
makan

Bicara Kalimat Penggal kalimat Kata-kata

Posisi Bisa berbaring Lebih suka Duduk bertopang


Duduk lengan

Kesadaran Mungkin Biasanya Biasanya Kebingungan


Iritable iritable irritable
Sianosis Tidak ada Tidak ada Ada Nyata

Mengi Sedang, Nyaring, Sangat jarring, Sulit/ tidak


Sering Hanya sepanjang ekspi terdengar tanpa terdengar
pada akhir inspirasi stetoskop
ekspirasi

Sesak nafas Minimal Sedang Berat

Otot bantu nafas Biasanya tidak Biasanya ya Ya Gerakan


Paradok torako-
Abdominal

Retraksi Dangkal, sedang, ditambah Dalam, ditambah Dangkal/hilang


Retraksi retraksi nafas cuping
Intercostal suprasternal hidung

Laju nafas Meningkat Meningkat Meningkat Menurun

Tabel 2. Penilaian asma berdasarkan waktu : 2

Parameter klinis, Asma episodic Asma episodik Asma persisten


Kebutuhan obat, jarang sering
dan faal paru

1. Frekuensi serangan < 1x/ bulan > 1x/ bulan sering


2. Lama serangan < 1 minggu > 1 minggu hampir sepanjang
tidak ada remisi
3. Intensitas serangan biasanya ringan biasanya sedang biasanya berat
4. Di antara serangan tanpa gejala sering ada gejala gejala siang dan malam
5. Tidur dan aktivitas tidak terganggu sering terganggu sangat terganggu
6. Pemeriksaan fisik di normal mungkin terganggu tidak pernah normal
luar serangan
7. Obat pengendali tidak perlu perlu, non steroid perlu, steroid

2
(anti inflamasi)
8. Faal paru di luar PEF/ FEVI >80% PEF/ FEV 60-80% PEF/FEV <60%
Serangan
9. Faal paru pada saat Variabilitas >15% Variabilitas >30% Variabilitas >50%
ada gejala/ serangan

Etiologi dan faktor risiko

Asma merupakan gangguan komplek yang melibatkan faktor autonom, imunologis,

infeksi, endokrin, dan psikologis dalam tingkat pada berbagai individu. Aktivitas

bronkokontiktor neural diperantarai oleh bagian kolinergik sistem saraf otonom.

Ujung sensoris vagus pada epitel jalan nafas, disebut reseptor batuk atau iritan,

tergantung pada lokasinya, mencetuskan refluks arkus cabang aferen, yang pada

ujung cabang eferen merangsang kontraksi otot polos bronkus.1,

Adapun faktor risiko pencetus asma bronkial antara lain : 6

a. Asap rokok

b. Tungau debu rumah

c. Binatang peliharaan

d. Jenis makanan

e. Perabot rumah tangga

f. Perubahan cuaca

g. Riwayat penyakit keluarga

Patofisiologi

Reaksi imunologik yang timbul akibat paparan dengan alergen awalnya menimbulkan

fase sensitisasi. Akibatnya terbentuk Ig E spesifik oleh sel plasma. Ig E melekat pada

3
reseptor membran sel mast dan basophil. Bila ada rangsangan berikutnya dari alergen

serupa, akan timbul reaksi asma cepat.1,10

Terjadi degranulasi sel mast, dilepaskan mediator-mediator : histamine,

leukotriene C4 (LTC4), prostaglandin D2 (PGD2), tromboksan A2, trypase.

Mediator-mediator tersebut menimbulkan spasme otot bronkus, hipersekresi kelenjar,

edema, peningkatan permeabilitas kapiler, disusul dengan akumulasi sel oesinofil.

Gambaran klinis yang timbul adalah serangan asma akut. Keadaan ini akan segera

pulih kembali dengan pengobatan.1,10

Setelah 6-8 jam maka terjadi proses selanjutnya, disebut reaksi asma lambat

(late asthma reaction). Akibat pengaruh sitokin IL3, IL4, GM-CSF yang diproduksi

oleh sel mast dan sel limfosit T yang teraktivasi, akan mengaktifkan sel-sel radang

seperti oesinofil, basofil, monosit, dan limfosit. Sedikitnya ada dua jenis T-helper

(Th), limfosit subtipe CD4+ telah dikenal profilnya dalam produksi sitokin. Meskipun

kedua jenis limfosit T mensekresi IL-3 dan granulocyte-macrophage colony-

stimulating factor (GM-CSF), Th-1 terutama memproduksi IL-2, IF gamma dan TNF

beta sedangkan Th-2 terutama memproduksi sitokin yang terlibat dalam asma, yaitu

IL-4, IL-5, IL-9, IL-13, dan IL-16.1,10

Sitokin yang dihasilkan oleh Th-2 bertanggung jawab terjadinya reaksi

hipersentitivitas tipe lambat. Masing-masing sel radang berkemampuan

mengeluarkan mediator inflamasi. Eosinofil memproduksi LTC4, Eosinophil

Peroxidase (EPX), Eosinophil Cathion Protein (ECP) dan Major Basic Protein

(MBP). Mediator-mediator tersebut tersebut merupakan mediator inflamasi yang

4
menimbulkan kerusakan jaringan. Sel basofil mensekresi histamine, LTC4, PGD2.

Mediator tersebut dapat menimbulkan bronkospasme.1,10

Sel makrofag mensekresi IL-8, platelet activating factor (PAF), regulated

upon activation novel T cell expression and presumably secreted (RANTES). Semua

mediator diatas merupakan mediator inflamasi yang meningkatkan proses peradangan

mempertahankan proses inflamasi.1,10

Mediator inflamasi tersebut akan membuat kepekaan bronkus berlebihan,

sehingga bronkus mudah konstriksi, kerusakan epitel, penebalan membrane basalis

dan terjadi peningkatan permeabilitas bila ada rangsangan spesifik maupun non

spesifik. Secara klinis, gejala asma menetap, penderita akan lebih peka terhadap

rangsangan. Kerusakan jaringan akan menjadi irreversibel bila paparan berlangsung

terus dan penatalaksanaan kurang adekuat.1,10

Manifestasi Klinis

Berbagai pembagian asma pada anak telah banyak dikemukakan, diantaranya :1,2

a. Asma episodik yang jarang

Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran nafas bagian atas.

Lamanya serangan paling lama beberapa hari saja dan jarang merupakan

serangan yang berat. Gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari.

Mengi (wheezing) dapat berlangsung sekitar 3-4 hari.

b. Asma episodik sering

Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran nafas akut.

Tiap kali serangan beberapa hari sampai beberapa minggu. Umumnya gejala

5
paling jelek terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi yang dapat

mengganggu tidur.

c. Asma kronik atau persisten

Pada malam hari sering terganggu oleh batuk dan mengi. Aktivitas fisik sering

menyebabkan mengi. Kemampuan aktivitas fisiknya sangat berkurang, sering

tidak dapat melakukan olahraga dan kegiatan biasa lainnya.

Pemeriksaan Fisik

Pada inspeksi terlihat pernafasan cepat dan sukar, kadang terdapat suara wheezing

(mengi), ekspirium memanjang, pada inspirasi terlihat retraksi daerah

supraklavikular, suprasternal, epigastrium dan sela iga. Pada perkusi terdengar

hipersonor seluruh toraks, terutama bagian bawah posterior. Daerah pekak jantung

dan hati mengecil.1,2

Pada auskultasi mula-mula bunyi nafas kasar/ mengeras, tapi pada stadium

lanjut suara nafas melemah atau hampir tidak terdengar karena aliran udara sangat

lemah.

Pemeriksaan Penunjang

a. Foto thoraks

Foto ini dibuat terutama untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit

lain.1,2,4,5

b. Pemeriksaan darah, oesinofil dan uji tuberculin

6
Pemeriksaan oesinofil dalam darah, sekret hidung dan dahak dapat menunjang

diagnosis asma. Uji tuberkulin untuk memastikan kalau ada tuberkulosis dan

tidak diobati, asmanya pun mungkin sukar dikontrol.1

c. Uji imunologi

Pemeriksaan IgE atau kalau mungkin IgE spesifik dapat memperkuat

diagnosis dan menentukan pengelolaannya.1

Diagnosa Banding

Adapun diagnosa banding asma bronkial adalah :

a. Pada bayi adanya corpus alienum di saluran nafas dan esophagus

b. Bronkiolitis akut

c. Bronchitis.

d. Tuberkulosis kelenjar limfe di daerah trakeobronkial

e. Kelainan trakea dan bronkus.

Penatalaksanaan

Tabel 3. Takaran obat, cairan dan waktu nebulisasi.1,2

cairan/ obat Nebulisasi jet Nebulisasi Ultrasonik


Garam Faali (NaCl 0,9%) 5 ml 10 ml
Bisolvon solution 0,5-1 ml/ 5-10 tetes
-agonis/ antikolinergik/ lihat table 3
steroid
waktu 10-15 menit 3-5 menit

7
Obat untuk nebulisasi, jenis dan dosis.1,2

Nama generic Sediaan Dosis nebulisasi


Golongan -agonis
Fenoterol solution 0,1% 5-10 tetes
Salbutamol nebule 2,5 mg 1 nebule
Terbutalin respule 2,5 mg 1 repsule
Golongan antikolinergik
Ipratropium bromide solution 0,025% > 6 tahun :
8-20 tetes

6 tahun : 4-10 tetes


Golongan steroid
Budesonide Respule

Sediaan steroid yang dapat digunakan untuk serangan asma.1,2


Steroid oral
Nama generik Sediaan Dosis
Prednisolon tablet 4 mg 1-2 mg/ kgBB/ hari-tiap 6
jam
Prednison tablet 5 mg 1-2 mg/ kgBB/ hari-tiap 6
jam
Triamsinolon tablet 4 mg 1-2 mg/ kgBB/ hari-tiap 6
jam
Steroid injeksi

m. prednisolone vial 125 mg IV/ IM 30 mg/ kgBB dalam 30


suksinat menit (dosis tinggi)-
tiap 6 jam
Hidrokortison vial 100 mg IV/ IM 4 mg/ kgBB/ kali tiap 6
suksinat jam
Deksametason ampul 5 mg IV/ IM 0,5-1 mg/ kgBB-bolus,
Dilanjutkan 1 mg/ kgBB/
hari diberikan tiap 6-8

8
jam
Betametason ampul 4 mg IV/ IM 0,05-0,1 mg/ kgBB-tiap
6 jam

Tabel 4. Obat asma jangka panjang yang beredar di Indonesia.1,2

9
Klinik/ Ruang Gawat Darurat

Nilai derajat serangan

Tatalaksana awal
Nebulisasi -agonis 1-3 x, selang 20 menit
Nebulisasi ketiga antikolinergik
Jika serangan berat, nebulisasi 1 x (-antikolinergik)

Serangan ringan Serangan sedang Serangan berat (nebulisasi 3


(nebulisasi 1x, respon (nebulisasi 2-3 x, respon x, respon buruk)
baik, gejala hilang) parsial) Sejak awal berikan 02 saat
Observasi 1-2 jam Berikan oksigen diluar nebulisasi
Jika efek bertahan, Nilai kembali derajat Pasang jalur parenteral
boleh pulang serangan, jika sesuai Nilai ulang klinisnya, jika
Jika gejala timbul lagi, dengan serangan sesuai dengan serangan
perlakukan sebagai sedang, observasi berat, rawat di ruang rawat
serangan sedang diruang rawat sehari inap
Pasang jalur parenteral Foto rontgen thoraks

Boleh pulang Ruang rawat sehari Ruang Rawat Inap


Bekali obat agonis Oksigen teruskan Oksigen teruskan
(hirupan/ oral) Berikan steroid oral Atasi dehidrasi dan asidosis
Jika sudah ada obat Nebulisasi tiap 2 jam jika ada
pengendali, teruskan Bila dalam 8-12 jam Steroid IV tiap 6-8 jam
Jika infeksi virus sebagai perbaikan klinis stabil, Nebulisasi tiap 1-2 jam
pencetus, dapat diberi boleh pulang Aminofilin IV awal,
steroid oral Jika dalam 12 jam klinis lanjutkan rumatan
Dalam 24-43 jam control ke tetap belum membaik, Jika membaik dalam 4-6x
klinik rawat jalan, untuk rawat ke ruang rawat nebulisasi, interval jadi 4-6
revaluasi inap jam
Jika dalam 24 jam
perbaikan klinis stabil,
boleh pulang
Jika dengan steroid dan
aminofilin parenteral tidak
membaik, bahkan timbul
ancaman henti nafas, alih
rawat ke ruang rawat
intensif

Gambar 2. Penanganan asma di ruang gawat darurat.1,2

10
Alur/ tatalaksana jangka panjang asma pada anak

Gambar 3. Penanganan asma jangka panjang.1,2

11
Komplikasi

Komplikasi yang mungkin akibat asma bronkial : 1,2

a. Pneumothorax

b. Pneumomediastinum dan emfisema subkutis

c. Atelektasis

d. Gagal nafas

e. Bronkitis

Prognosis

Prognosis jangka panjang asma pada anak umumnya baik. Sebagian besar asma pada

anak hilang atau berkurang dengan bertambahnya umur. Sekitar 50% asma periodic

jarang sudah menghilang pada umur 10-14 tahun dan hanya 15% yang menjadi asma

kronik pada tahun 21 tahun.7

12
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien

Nama : Tn. F

Umur : 5 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki

BB : 18 kg

TB : 81 cm

Identitas Ibu

Nama : Ny.N

Umur : 35 tahun

Pekerjaan : IRT

Alamat : Trangula

Umur Saat Hamil : 30 tahun

Penyakit saat hamil : di sangkal

Anamnesa

1. Keluhan Utama

Sesak

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan sesak sejak 1 hari yang lalu SMRS dengan

sesak terus-menerus. Sesak timbul akibat cuaca dingin, sebelumnya pasien

sering sesak jika terpapar debu, makan makanan tertentu, dan terlalu capek.

Pada saat datang pasien mampu untuk berbicara penggalan kalimat. Pasien

13
juga mengeluhkan batuk sejak 7 hari yang lalu, batuk berdahak (-). Muntah 1

kali dengan isi muntah apa yang dimakan. Demam (-), BAB (+), BAK (+),

nafsu makan normal.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Serangan asma saat tertapar debu.

4. Riwayat Penggunaan Obat

Disangkal

5. Riwayat penyakit keluarga

Disangkal

6. Riwayat Lahir

Lahir secara spontan dibantu bidan, cukup bulan, langsung menangis.

7. Riwayat Imunisasi

Hep B :0 2 3 4

Polio :0 2 3 4

BCG :2

DPT :2 3 4 18

Hib :2 3 4 18

Campak :9

8. Riwayat Nutrisi

Asi Ekslusif , susu formula dan makanan keluarga

9. Riwayat Tumbuh Kembang

a.pertumbuhan

BB/U = 18/19 x 100% = 94 %

14
TB/U = 81/107 x 100 % = 75%

BB/TB = 18/19 x 100% = 94 % (Gizi baik)

b. Perkembangan

0-3 bulan mengangkat kepala

3-6 bulan telungkup

6-9 bulan belajar berdiri

9-12 bulan belajar berjalan

10. Pemeriksaan Fisik

Kesadaran : Compos mentis KP : Sedang KG: baik

HR : 160 x/i RR : 72 x/i T: 37 o c

Kepala : Normosefali

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) cekung (-/-) reflek cahaya (+/+)

Telinga : DBN

Hidung : bentuk normal, nafas cuping hidung (+) sekret (+)

Mulut : Sianosis(+) pucat (+) bibir kering(-) lidah kotor(-) tonsilofaring

hiperemis(-)

Leher : pembesaran KGB (-)

Thorak I : Simetris (+) retraksi (+) Jaringan parut (-)

P : Pernafasan tertinggal (-/-)

P : Sonor dikedua lapangan paru (+/+)

A : Ves (+/+) Rh (-/-) Wh (+/+)

15
Abdomen I : distensi (-) jaringan parut (-)

P : Nyeri tekan (-) hepar teraba (-) spleen teraba (-) turgor kulit

(N)

P: timpani (+) Normal

A: Peristaltik (+) Normal

Ekstremitas : sianosis - - akral dingin - - edema - -

- - + + - -

11. Pemeriksaan Penunjang

RESUME

Pasien datang dengan keluhan sesak sejak 1 hari yang lalu SMRS dengan

sesak terus-menerus. Sesak timbul akibat cuaca dingin, sebelumnya pasien

sering sesak jika terpapar debu, makan makanan tertentu, dan terlalu capek.

Pada saat datang pasien mampu untuk berbicara penggalan kalimat. Pasien

juga mengeluhkan batuk sejak 7 hari yang lalu, batuk berdahak (-). Muntah 1

kali dengan isi muntah apa yang dimakan. Demam (-), BAB (+), BAK (+),

nafsu makan normal. Sebelumnya pasien pernah mengalami serangan asma.

Pada vital sign didapatkan nadi 160 kali/ menit, frekuensi nafas 72 kali/ menit,

suhu 37 o C. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nafas cuping hidung, retraksi

dinding dada, auskultasi terdengar suara wheezing di kedua paru, dan pada

ekstremitas terdapat akral dingin di kedua kaki.

16
Diagnosa Banding

Asma bronkial

Bronchitis akut

Bronkiolitis

12. Diagnosa Kerja

Asma bronkial sedang episodik jarang

13. Penatalaksanaan

IVFD RL 58 tetes/ menit (micro)

O2 1-2 L/ i

Nebul combivent 4-10 tetes/hari (3x)

Diet : Kalori 1400 kkal/hari

Protein 36 gr/hari

Lemak 70 gr/hari

Karbohidrat 245 gr/hari

FOLLOW UP

28/5/2016 S/ sesak (+) Batuk (+) Muntah (-)

08.00 O/ HR : 160 x/i RR: 72x/i T:37 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

Hidung : nafas cuping hidung (+)

Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (+/+)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

17
A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Ivfd RL 58 tetes/ menit

Nebul combivent 4-10 tetes/hari (3x)

Ambroxol 1,5 mg/ KgBB/hari (3x)

FOLLOW UP

28/5/2016 S/ sesak (+) Batuk (+) Muntah (-)

14.00 O/ HR : 120 x/i RR: 56x/i T:36,7 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

Hidung : nafas cuping hidung (+)

Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (+/+)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Ivfd RL 58 tetes/ menit

Nebul combivent 4-10 tetes/hari (3x)

Ambroxol 1,5 mg/ KgBB/ hari (3x)

Dexamethasone 0,02-0,05 mg/ KgBB/ (3x)

FOLLOW UP

28/5/2016 S/ sesak (+) Batuk (+) Muntah (-)

20.00 O/ HR : 120 x/i RR: 34 x/i T:36,9 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

18
Hidung : nafas cuping hidung (+)

Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (+/+)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Ivfd RL 58 tetes/ menit

Nebul combivent 4-10 tetes/ hari (3x)

Ambroxol 1,5 mg/ KgBB/ hari (3x)

Dexamethasone 0,02-0,05/ KgBB/ (3x)

FOLLOW UP

29/5/2016 S/ sesak (-) Batuk (+)

08.00 O/ HR : 120 x/i RR: 32 x/i T:36,7 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

Hidung : nafas cuping hidung (-)

Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (-/-)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Ivfd RL 458 tetes/ menit

Nebul combivent 4-10 tetes/ hari (3x)

Ambroxol 1,5/ KgBB/ hari (3x)

Dexamethasone 0,02-0,05/ KgBB/ hari (3x)

19
FOLLOW UP

29/5/2016 S/ sesak (-) Batuk (+)

14.00 O/ HR : 110 x/i RR: 34 x/i T:36,5 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

Hidung : nafas cuping hidung (-)

Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (-/-)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Ivfd RL 58 tetes/ menit

Nebul combivent 4-10 tetes/ hari (3x)

Ambroxol 1,5 mg/ KgBB/ hari (3x)

Dexamethasone 0,02-0,05/ KgBB/ hari (3x)

FOLLOW UP

29/5/2016 S/ sesak (-) Batuk (+)

20.00 O/ HR : 115 x/i RR: 31 x/i T:36,3 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

Hidung : nafas cuping hidung (-)

Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (-/-)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

20
A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Ivfd RL 48 tetes/ menit

Nebul combivent 4-10 tetes/ hari (3x)

Ambroxol 1,5/ KgBB/ hari (3x)

Dexamethasone 0,02-0,05 mg/ KgBB/ hari (3x)

FOLLOW UP

30/5/2016 S/ sesak (-) Batuk (+)

08.00 O/ HR : 124 x/i RR: 35 x/i T:36,6 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

Hidung : nafas cuping hidung (-)

Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (-/-)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Nebul combivent 4-10 tetes/ hari (3x)

Ambroxol 1,5 mg/ KgBB/ hari (3x)

FOLLOW UP

30/5/2016 S/ sesak (-) Batuk (+) Bibir pucat (+)

14.00 O/ HR : 110 x/i RR: 31 x/i T:36,6 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

Hidung : nafas cuping hidung (-)

21
Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (-/-)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Nebul combivent 4-10 tetes/ hari (3x)

Ambroxol 1,5 mg/ KgBB/ hari (3x)

FOLLOW UP

30/5/2016 S/ sesak (-) Batuk (+) Bibir pucat(-)

20.00 O/ HR : 124 x/i RR: 35 x/i T:36,6 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

Hidung : nafas cuping hidung (-)

Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (-/-)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Nebul combivent 4-10 tetes/ hari (3x)

Ambroxol 1,5 mg/ KgBB/ hari (3x)

FOLLOW UP

31/5/2016 S/ sesak (-) Batuk (+)

08.00 O/ HR : 124 x/i RR: 35 x/i T:36,6 o c

Mata : anemis (-/-) ikterik (-/-) R.cahaya (+/+)

22
Hidung : nafas cuping hidung (-)

Mulut : Sianosis (-) kering (-) pucat (-)

Thorak : ves (+/+) Rh (-/-) Wh (-/-)

Abdomen : distensi (-) peristaltik (+)N timpani (+)N

A/ Asma Bronkial sedang episodik jarang

Th/ Nebul combivent 4-10 tetes/ hari (3x)

Ambroxol 1,5 mg/ KgBB/ hari (3x)

PASIEN BEROBAT JALAN

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Infomedika. Jakarta. 2007 : 1203-28.

2. Pusponegoro Hardiono D, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak.

Edisi I. IDAI. Jakarta 2005 : 335-47.

3. World Health Organization. Country Office for Indonesia. Pedoman

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO Indonesia. Jakarta 2009 :

99-104.

4. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15 vol 2. EGC. Jakarta 2012.

5. Pudjadi Antonius H. Pedoman Pelayanan Medis. Ikatan Dokter Anak

Indonesia. Jilid I Jakarta : 269-72.

6. Federico Fernandez Njevas, MD and Kanwaljeet J. S. Anand. Severe Acute

Asthma Exacerbation in Children : A Stepwise Approach : J Pediatr

Pharmacol Ther 2013 ; 18 (2) : 88104.

7. Guy Marks, Neil Pearce, David St Rachan, Innes Asher. The Global Asthma

report 2014 : 16-21.

8. Depkes. Riset Kesehatan Dasar 2013. Available at

https://www.google.co.id/search?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C5905254017

[diakses pada 28 juni 2016]

9. Jhon Wiley, Sons A/S. International consensus on (ICON) pediatric asthma :

European Journal of Allergy and Clinical Imunology 2012 ; 976-97.

24
10. Bacharier et al. Diagnosis and treatment of asthma in childhood: a

PRACTALL Journal2011 ; 63: 534

25