Anda di halaman 1dari 33

MATEMATIKA DAN PERADABAN MANUSIA

Mungkin Anda sudah tahu bahwa matematika lebih dari aritmetika, yakni
ilmu tentang kalkulasi atau perhitungan. Matematika lebih daripada aljabar, yang
merupakan bahasa lambing, relasi dan operasi. Matematika lebih daripada geometri,
yang merupakan pelajaran tentang bangun, ukuran dan ruang. Matematika lebih
daripada statistika, yaitu ilmu untuk menafsirkan data dan grafik-grafik. Matematika
lebih daripada kalkulus, yakni bidang studi tentang perubahan, limit, dan
ketakhinggaan. Matematika adalah semuanya itu bahkan lebih.

Matematika adalah cara atau metode berfikir dan bernalar. Matematika dapat
digunakan untuk membuat keputusan apakah suatu ide itu benar atau salahatau paling
tidak ada kemungkinan benar. Matematika adalah suatu medan eksplorasi dan
penemuan, disitu setiap hari ide-ide baru ditemukan. Matematika adalah metode
berfikir yang digunakan untuk memecahan semua jenis permasalahan yang terdapat
didalam sains, pemerintahan dan industri. Matematika dalah bahasa lambang yang
dapat dipahami semua bangsa berbudaya.bahkan dipercaya bahwa matematika akan
menjadi bahasa yang dipahami oleh penduduk diplanet mars dan lain-lain (jika disana
ada penduduknya!). matematika adalah seni , seperti pada music, penuh dengan
simetri, pola, dan irama yang dapat sangat menghibur. Matematika dilukiskan pula
sebagai pola. Pola adalah sejenis keteraturan, baik dalam bentuk maupun dalam ide.

Jika Anda melihat sejarah peradaban manusia pada masa lalu, Anda akan
melihat bahwa matematika selalu memainkan peran utamanya. Matematika telah
menjadi wahan untuk :

1. Pengukuran perbatasan Negara;


2. Pengambaran peta-peta;
3. Peningkatan perdagangan;
4. Pembangunan ruman dan jembatan;
5. Pemahaman gerak benda langit;
6. Navigasi kapal laut;
7. Perencanaan perang dan damai;
8. Peramalan cuaca;
9. Pembangunan persenjataan;
10. Penarikan pajak.

Sedangkan apabila Anda melihat pada masa kini (abad ini XXI), matematika
telah menjadi wahana untuk :

1. Penemuan prinsip-prinsip sains baru;


2. Pengarahan lalu lintas dan komunikasi;
3. Penemuan bijih tambang baru;
4. Penemuan mesin-mesin baru;
5. Pembuatan vaksin dan obat baru;
6. Peramalan gerak benda langit;
7. Penciptaan computer;
8. Penggunaan energy atom;
9. Peramalan pertumbuhan penduduk;
10. Pengembangan strategi pemasaran;
11. Navigasi angkasa luar;
12. Peningkatan pajak.

A. ARCHIMEDES (287-212 SM)

Archimedes dikenal sebagai ilmuan yang banyak menemukan alat-alat


mekanik. Banyak diantara alat-alat itu adalah mesin militer. Ia juga menemukan suatu
prinsip (dalam fisika) yang menyatakan bahwa objek-objek yang dimasukkan
kedalam zat cair akan mendapat tekanan keatas dengan gaya yang sama
besarnyadengan berat zat cair yang didesaknya.

Dalam matematika, Archimedes dicatat bagi penentuannya nilai bilangan


(phi). Dengan membandingkan lingkaran dengan polygon (bangun segi-banyak)
223
dengan menaikan banyaknya sisi-sisi polygon, ia menghitung sedikit lebih dari 71
220
dan sedikit kurang dari . Salah satu idenya serupa dengan kalkulus yang
70

ditemukan oleh Newton dan Leibniz.

Archimedes dianggap telah mengatakan, Jika Anda memberiku pengungkit


yang cukup panjang, saya dapat menggerakkan dunia . Tetapi sesungguhnyalah ia
lebih Berjaya menggerakkan dunia kedepan dalam matematika dan sains daripada
menggerakkannya secara fisik.

B. PENALARAN DALAM MATEMATIKA

Salah satu metode yang digunakan oleh matematikawan untuk menemukan


ide-ide baru adalah melakukan eksperimen. Metode ini serupa dengan apa yang
dilakukan oleh ilmuan lain didalam laboratorium. Metode ini disebut metode
eksperimen atau penalaran induktif. Marilah kita ihat bagaimana metode ini
digunakan dalam memecahakan persoalan.

Sebuah roti berbentuk bulat, diiris beberapa kali dengan menggunakan


sebuah pisau sedemikian rupa sehingga garis pengiris tidak memotong garis
(maksimum) potongan roti yang akan diperoleh?

Anda dpat memecahkan persolan ini dengan metode eksperimen. Anda dapat
melakukanpemotongan dengan menggambar garis-garis. Mencatat table pemotongan
yang terjadi dalam daftar dibawah ini.

Banyak garis potong 0 1 2 3 4 5 ...


Banyak potongan 1 2 4 7 11 16 ...

Bertambahnya potongan - 1 2 3 4 5 ...

Anda periksa table itu baik-baik. Bertambahnya potongan adalah: 1,2,3,4,5, . .


. Pola ini memungkinkan Anda meramal banyaknya potongan. Dengan 6 garis potong
akan terdapat 22 potongan (yakni , 16 + 6). Dengan 7 garis potong akan terdapat 29
potongan (yakni, 22 + 7) dan seterusnya.

Penalaran jenis ini, yakni membuat kesimpulan umum setelah melihat atau
memperhatikan contoh-contoh khiusus disebut penalaran induktif.

Metode berikutnya yang banyak digunakan dalam matematika adalah


penalaran deduktif. perhatikan contoh berikut ini. Gambarlah segi-6 konveks
(cembung). Pilihlah sebuah titik sudutnya. Banyaknya diagonalyang dapat ditarik dari
titik sudut ini adalah 4 buah dan banyaknya segitiga yang terbebyuk juga ada 4 buah.
Jumlah semua sudut segitiga-segitiga yang terjadi adalah sama dengan jumlah sudut-
sudut segi-6 itu. Karena jumlah sudut-sudut sebuah segitiga adalah 1800, maka
jumlah sudut-sudut segi-6 adalah 4 x 1800 = 7200.

Marilah kita analisis penalaran ini. Kita memulai dengan beberapa ide yang
diasumsikan atau dianggap benar atau terlebih dahulu diketahui kebenarannya.
Kemudian kita menggunakan kekuatan penalaran untuk memperoleh kesimpulan.
Tidak ada eksperimen apapun yang akan kita lakukan. Dengan melakukan asumsi
tentang banyaknya segitiga dalam gambar segi-6 konveks, kita peroleh kesimpuan
jumlah sudut-sudut segi-6 konveks. Metode penalaran yang demikian disebut
penalaran deduktif.
Matematika Kontemporer (1850- sekarang)

A. PERAN GANDA ARITMETIKA

Sejak tahun 1850 sampai sekarang aritmetika dapat di katakana memegang


peran ganda di dalam sejarah kebudayaan manusia.makin kenal peran aritmetika,
dan makin memesona, yakni sebagai alat bagi seni dan sains, serta perdagangan.
Pengunaan luar biasa dari perhitungan aritmetis, seperti halnya anlisis matematis
elementer telah di lukiskan dengan indahnya oleh para pakar seperti L. Hogben, H. G.
Well Herbert McKey. Dan banyak yang lain.

Barangkali perkembangan komputasi yang paling spektakuler pada lima atau


enam decade lalu adalah telah di kejutkan oleh perkembangan computer elekronik.
Perlu di yakini, baik teoritis maupun praktis bahwa apa yang di sebut otak raksasa
atau otak elekronik adalah jauh melibatkan matematika dan aritmetika. Sejarah
perkembangan mesin komputasi sangat mengejutkan, terlalu panjang untuk
dibicarakan secara rinci disini. Sangat ironis bahwa kultur manusia sebegitu jauh
seperti dalam sains dan teknologi menjadi begitu penting, dan sekarang jaman
kemajuan ini, tentu juga di dalam berbagai bidang tertentu, bahwa tidak mungkin lagi
orang berusaha sendiri secara individual, akan tetapi pamemerlukan kerja sam antar
kelompok para spesialais yang terkait jadi dalam mengembangkan semacam mesin
IBM dapat melibatkan 50 orang: terdiri dari 20 orang matematikawan, 20 orang
insinyur dan 10 teknisi. Bahwa harus terdapat seorang sebagai pemimpin tim, orang
yang mengoordinasikan kerja dan mengarahkan proyek itu memang benar, tidak ada
pilihan, bahwa tidak seorangpun dapat mengerti semua teori kelusitan dapat mesin.

Perlu dicatat, agak kurang biasa, paling tidak bagi orang kebanyakan, bahwa
peranan yang kedua yang dimainkan oleh aritmetika pada masa seratus tahun yang
lalu.Bahkan didalam banyak hal, aritmetika itu cerdik dan mendasar.Kita dapat
mengacunya bahwa peranan aritmetika sebagai katalisator pada uji komparatif
modern tentang fondasi-logik dari semua matematika, yakni pada pencarian
struktur matematika. Gelagat kehebatan yang signifikan pada abad ke 20 ini di
tandai dengan dikembangkannya aritmetika yang semakin abstrak dan rampat
(tergeneralisasi), dan kemudian menunjuk aljabar dan analitis untuk lebih
mengeraskan aritmetisasi. Hal ini akan dibicarakan secara singkat di bawah ini.

B. PENELITIAN STRUKTUR MATEMATIKA


Pythagoras diyakini pernah mengatakan bahwa semua matematika dapat
mendasarkan pada bilangan biasa 1, 2, 3, para matematikawan pada abad ke 18
dan awal abad ke 19 telah menyimpang secara drastis terhadap pandangan naf ini
dengan perluasan berturut-turut terhadap konsep bilangan-bilangan bulat positif biasa
atau bilangan asli perluasan-perluasannya ke bilangan bulat negatif dan nol, terus ke
bilangan pecah, kemudian ke bilangan irasional, dan akhirnya ke bilangan-bilangan
nyata dan kompleks.

Konsep-konsep yang tidak meragukan dan telah mencengangkan Pythagoras


sendiri yang telah memberikan doktrinnya (Modul 1). Dan ternyata pada pertengahan
abad ke-19 merupakan saksi-saksi revolusi ini : Apakah matematika telah
memenangkan kebebasan imajinasi sampai sekarang kita tidak ketahui. Telah
diantisipasi oleh adanya penemuan geometri non-euclid oleh Lobachevsky dan
adanya pendekatan abstrak pada aljabar oleh Peacock, Gregory, dan De Morgan,
semuanya dalam tahun 1930-an. Intisari penedekatan mereka ini adalah memandang
aljabar dan geometri, masing-masing berturut-turut sebagai sistem hipothetico-
deducive dengan cara Euclid. Sedosen tahun kemudian, ketika Hamilton menolak
hukum komutatif perkalian (dengan mengatakan: pandanglah satu jenis aljabar atau
aritmetika yang akan diperoleh asumsikan bahwa dengan ),
maka pintu pun terbuka lebar. Mulai saat itu , perhatian matematikawan lebihbanyak
lagi dicurahkan pada perbincangan tentang generalisasi dan abstraksi, dan
mengeplorasi sepenuhnya postulat-postulat; dan menyelidiki landasan dari
matematika (akan dibahas dalam Modul 7).

C. MATEMATIKA KONTEMPORER

Momentum menyatukan langkah gerakan.Sekitar tahun 1850, ketika Boole


memaparkan persoalan law of thought (Hukum Berpikir), membayangi logika
simbolis modern. Sekitar tahun 1875, sifat sistem bilangan diserang habis-habisan
oleh Cantor, Dedekind, Weirstrass, dan lain-lain, Dalam tahun 1899 ajal telah
diramal: fondasi logis Hilbert mengumumkan metode postulatsional. Menurutnya,
entitas geometrid dan bilangan dengan demikian, menjadi abstrak murni, dan
permasalahan penyelidikan yang penting sesungguhnya adalah sifat struktur dan
relasi antara konsep-konsep abstrak ini. Sungguh sangat mengherankan, beberapa
puluh tahun kemudian, Peano telah meletakkan postulatnya bagi aritmetika biasa dan
biasa mendeduksi darinya,terdiri dari dengan logis dan rigor, seluruh batang tubuh
aritmetika berdiri atas landasan bilangan biasa atau bilangan cacah 1,2,3,. Maka
jarum pun berputar lagi ke Pythagoras (akan di bahas dalam modul 5 ).

Dengan demikian teknik postulatsional membuktikan salah satu pengaruh


paling kuat terhadap matematika pada abad ke 20. Matematika kontemporer harus
dibedakan dari semua matematika terdahulu dalam dua aspek vital:

(1). Mendalamnya masalah abstraksi, dimana pandangan terpenting adalah bukan


sesuatu yang dikaitkan, melainkan kaitan antar mereka sendiri, dan

(2). Kehendak yang kuat akan pengujian yang sangat mendasar (ide-ide fundamental)
atas nama elaborasi superstruktur matematika dilandasi.

Validitas penalaran matematika tidak dapat dilukiskan dengan sifat dari sesuatu;
penalaran itu berada pada sifat berpikir. Tetapi rata-rata manusia tidak bias mengubah
tingkat berpikir yang melibatkan abstraksi dan genelarisasi yang demikian itu. Dari
alasan ini terutama bahwa, bagi kebanyakan orang, matematika itu menjijikkan.
Dalam konteks ini perlu diingat kata-kata mendiang Profesor C. H. Judd (dalam
Educational Psychology 1940. p. 270) yang mengingatkan kepada kita bahwa

anak-anak ketika lahir tidak membawa sistem bilangan sebagai salah satu bagian
dari bawaan fisiknya. Mereka tidak dikaruniai dengan pembawaan ide-ide bilangan
dalam bentuk mana pun.Sekolahlah yang membawa mereka ini kedalam
hubungannya dengan sistim lambang bilangan yang merupakan salah satu kreasi
paling perfect (sempurna) dalam pikiran manusia.Dalam rangka pembiasaan dengan
sistem ini, mereka belajar bagaimana berpikir abstraksi dengan tepat.Mereka belajar
bagaimana menggunakan wasiat intelektualnya yang tidak seorang pun, dan juga
tidak satu generasi pun, dapat mengembangakannya dengan tuntas.Dalam rentan
waktu yang sangat singkat, beberapa tahun, anak-anak menjadi pakar dalam
menggunakan secara perfect ide-ide yang mengespresikan kuantitas yang telah
dikembangakan dengan memekan waktu berabad-abad, ketika hal itu diketemukan.

Matematika adalah aktifitas linguistic.Tujuan utamanya adalah pada presisi


komunikasi.Kedua adalah bahasa ibu, bahasa bilangan tidak meragukan lagi
merupakan kreasi simbolik terbesar bagi manusia.Dan dalam beberapa hal bilangan
adalah agen komunikasi paling efektif dari pada bahasa asli.Singkatnya, matematika
adalah warisan besar kebudayaan, dan meskipun pada awalnya telah hilang oleh
kabut waktu, warisan itu harus kita banggakan guna mengantarkan anak-anak
generasi penerus ke dunia esok yang lebih cerah.

D. PYTHAGORAS

Tidak terlalu banyak diketahui tentang Pythagoras. Dipercayai bahwa ia


adalah murid Thales (640 SM-550 SM), filsuf Yunani yang terkenal sebagai salah
seorang dari tujuh orang bijaksana. Baik Thales maupun Pythagoras sama sekali
tidak meninggalkan tulisan atau catatan. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak pernah
menulis apa pun, tetapi jika mereka menulis hasil karyanya itu hilang. Satu hal yang
diyakini oleh sejarah ialah bahwa tanpa Thales tidak aka nada Pythagoras, dan tanpa
ad Pythagoras maka tidak aka nada plato (427 SM-347 SM) dan tanpa Plato dunia
akan tidak banyak ide-ide mengagumkaan.

Pythagoras adalah matematikawan dan filsuf Yunani yang dipercaya hidup


dalam kurun waktu 569 SM dan 500 SM. Ketika ia masih anak-anak, ia hidup dalam
suasana budaya dan seni, dan ini terjadi pada Masa Keemasan Yunani.

Ketika masih sangat muda, Pythagoras berkelana intensif dikota-kota yang


berbatasan dengan Laut Mediterania.di Pada 509 SM ia tinggal di Crotona, sebuah
kota di Yunani disebelah selatan Italia. Disini ia mengorganisasikan perkumpulan
rahasia atau kekerabatan. Anggota- anggota dari perkumpulan ini dinamai
pythagorasan.Mereka terutama berminat pada reformasi mental, tetapi mereka juga
berdiskusi secara ilmiah.Ini membawanya ke perkembangan banyak ide tentang
matematika dan astronomi.

Sains musik adalah minat lainnya dari Pythagorasan. Mereka membuktikan


misalnya, jika dua buah senar, terhdapa tegangan yang sama, mempunyai
perbandingan panjang 2 dan 1, maka apabila senar-senar itu dipetik, hasil catatan
bunyimusiknya satu oktaf.

Mereka juga yang pertama-tama mengajarkan bahwa bumi adalah bulat yang
berputar bersama-sama planet lain mengelilingi pusat matahari.
KEGIATAN 1
PERKEMBANGAN SEBELUM RENAISSANCE

A. Sejarah
Dalam sejarah waktu semua bangsa yang beradab berdaya upaya terhadap
matematika. Pada zaman prasejarah, sejarah matematika tidak tercatat seperti halnya
pada sejarah seni dan bahasa, dan bahkan sampai pada awal-mula kebudayaan hanya
dapat diterka dari tingkah laku manusia primitif pada hari ini. Apa pun sumber
asalnya, matematika sampai hari ini terbagi kedalam dua aliran yaitu bilangan dan
bangun. Yang pertama terhimpun dalam aritmatika dan aljabar, dan yang kedua
dalam geometri.Dalam abad ke-17 keduanya disatukan (ingat Rene Descartes),
membentuk sungai analisis matematika yang makin luas.

B. Lima aliran
Ke dalam dua aliran utama itu, bilangan dan bangun, mengalir banyak anak
sungai.Pada awalnya hanya kecuran kecil, yang lainnya meluncur dengan cepatnya
kedalam kuasa sungai bebas.Kedua-duanya teristimewa mempengaruhi seluruh arah
matematika dari hampir awal sejarah yang tercatat sampai abad ke dua puluh.
Perhitungan dengan bilangan alam 1, 2, 3, ... mengintroduksi matematikawan dengan
konsep kediskretan. Penemuan bilangan irasional 2, 3, 6; dalam usaha untuk
menghitung luas bidang yang dibatasi oleh kurva-kurva atau oleh garis-garis lurus
yang tidak sama ukurannya; dan demikian pula untuk luas permukaan dan volume.
Juga dalam pergulatan manusia memberikan perhitungan yang memadai untuk gerak,
pertumbuhan dan perubahan terus-menerus yang indah, memaksa matematikawan
menemukan konsep kekontinuan.
Seluruh sejarah matematika dapat diartikan sebagai pertempuran rebut-unggul
di antara ke dua konsep tadi.Konflik ini barangkali berkumandang lebih tua dari pada
pertengkaran filsafat awal Yunani kuno, pertengkaran antara satu lawan banyak.
Tetapi gambaran pertempuran ini tidak seluruhnya sesuai, di matematika paling tidak,
sebab konsep kontinu dan diskret sering kali menunjukkan kemajuan yang satu
membantu kemajuan yang lain.
Suatu jenis ide matematis lebih menyukai pada masalah yang berkaitan
dengan kekontinuan.Geometri, analisis, dan pengguna matematika untuk sains dan
teknologi adalah jenis ini.Tipe yang lainnya lebih menyukai kediskretan, biasanya
mengambil contoh teori bilangan dan semua percabangan pada aljabar, dan pada
logika matematis.Tidak ada garis tegas yang membagi keduanya, dan matematikawan
bekerja dengan kedua-duanya baik kontinu maupun diskret.
Tambahan untuk bilangan, bangun, diskret dan kontinu, aliran yang kelima
adalah terapan, telah menjadi amat sangat penting dalam sejarah matematika,
terutamanya sejak abad ke-17. Sebagia sains berwal dari astronomi, dan keteknikan
dalam zaman kuno, dan berakhir dengan biologi, psikologi, dan sosiologi di abad
modern, ilmu-ilmu ini makin lama makin menjadi eksak. Mereka ini secara ajek
meningkat kebutuhannya akan penemuan matematis dan utamanya sebagian besar
terjadi secara luas sejak 1637. Industri dan penemuan menjadi makin ilmiah setelah
revolusi industri pada akhir abad ke -18, dan awal abad ke-19.Mereka ini amat sangat
dirangsang oleh kreasi matematis yang ada.Contoh masa kini adalah masalah aliran
udara bergejolak (turbulen), bagian terpenting dalam dinamika. Disini, seperti
banyak hal lain , usaha memecahkan secara essensial masalah teknologi baru
membawa ekspsansi matemtika kerah depan.

C. Skala waktu
Akan kita bicarakan ide pendistribusian matematika menurut waktu atau
zaman, sebelum kita melihat kemajuan masing-masing. Kurva produktivitas
matematika terhadap waktu secara kasar dapat dipikirkan sebagai kurva eksponesial
pertumbuhan biologis (kira-kira: = , = , = ),
mulai menanjak yang susah dilihat pada masa lalu dan tiba tiba melonjak dengan
kecepatan yang menakjubkan pada masa sekarang. Kurva itu tentu saja tidak mulus;
sebab seperti halnya seni, matematika pun ada kalanya mengalami depresi. Terdapat
keadaan yang paling dalam pada Abad Pertengahan, karena terjadi kemunduran
matematika di Eropa yang hanya menjadi bagian keseimbangan kebudayaan islam,
matematika sendiri resesi paling tajam pada epoch besar (abad ke tiga SM)
Archimedes. Akan tetapi di samping depresi, kecenderungan secara umum dari masa
lalu adalah dalam arah menanjak dan matematika yang valid tetap meningkat.
Kita tidak mengharapakan bahwa kurva pertumbuhan matematika mengikuti
aktivitas budaya yang lain, umpamanya seni dan musik meskipun sangat dekat. Seni
pahat yang indah, sekali dihancurkan sangat sulit untuk disimpan apa lagi dingat-
ingat. Ide-ide besar matematika survive (tahan uji) dan terus dibawa berkelanjutan,
yakni, tetap dan kebal terhadap kecelakaan. Karena diekspresikan di dalam satu
bahasa universal yang bijak sebagai alat kemanusiaan, kreasi matematika tidak
terpengaruh oleh rasa nasionalisme, seperti dalam kesusastraan misalnya.
Mayoritas matematikawan setuju tentang ukuran kenaikan produktivitas ini
bahwa matematika diciptakan sejak 1800 kurva-waktunya naik dengan tajam
daripada tahun-tahun sebelumnya.Siapa pun yang pengetahuan matematikanya bukan
tangan pertama dalam kehidupan matematika diluar kalkulus percaya bahwa
matematika berkembang sangat subur pada masa lalu. Matematikawan tidak berpikir
demikian .Zaman sekarang, dimulai pada abad ke-19, biasanya di pandang sebagai
masa keemasan bagi mereka yang bergelut dengan matematika atau paling tidak dari
sejarahnya.
Agak klasik, tetapi pendapat bahwa skala-waktu perkembangan matematika
membagi seluruh sejarahnya menjadi tiga bagian yang tidak sama panjang. Masing-
masing dapat disebut masa terpencil (dahulu), masapertengahan, dan masa
sekarang.
n 1673.
Masa pertengahan dari 1638 sampai 1800.
Masa sekarang membentang dari 1821 sampai kini.
Untuk tanggal yang pasti ada alasan tertentu.Geometri menjadi analitis pada
1673 dengan terbitnya karya besar Rene Descartes.Kira-kira setengah abad kemudian
hasil karya kalkulus oleh Newton dan Leibniz, juga dinamika (bagian dari fisika)
oleh Galileo dan Newton, mulai menjadi milik umum semua matematikawan yang
kreatif.Leibniz dipastikan bertanggung jawab mengestimasi kemajuan besar ini.Ia
dicatat pernah mengatakan bahwa, semua matematikawan dari awal kejadian dunia
sampai zaman Newton, apa yang pernah dilakukan Newton separuh lebih baik.
Pada abad ke delapan belas dieksplorasi metode Descartes, Newton, dan
Leibniz di semua departemen matematika ketika departeman ini dibentuk.Barangkali
gambaran paling signifikan pada abad ini ialah dimulainya abstraksi, yang menjadi
tantangan umum.Meskipun realisasi kekuatan metode abstrak tertunda sampai abad
ke-20, perlu dicatat adanya antisipasi hasil karya Lagrange atas persamaan aljabar
dan lebih dari itu adalah dalam mekanika analisinya.Dan sampai saat ini karya ini
merupakan alat paling kuat dalam sains fisika.Sebelum Lagrange belum ada karya
serupa itu.
Yang terakhir, 1801, ditandai dengan era baru yang belum ditemukan
sebelumnya, dimulai dengan diterbitkannya karya monumental Gauss.Alternatifnya,
1821, ada masa di mana Cauchy mulai yang pertama kali memperlakukan kalkulus
diferensial dan integral dengan sangat memuaskan.
Perceatpatan produktivitas paling tinggi dalam abad ke-19, sebagai akibat
penguasaan dan pengerasan metode yang ditemukan pada periode pertengahan,
dicirikan oleh perkembangan geometri. Lima orang berikut: Lobachevsky, Bolyai,
Plucker, Riemann dan Lie, menemukan geometri baru, sebagai bagian dari hidupnya,
sebanyak (bahkan lebih) dari pada yang diciptakan dari seluruh matematikawan di
yunani di abad ke-2 atau ke-3 di masa kegiatan terbesarnya. Terdapat landasan yang
baik dari asersi yang mengatakan bahwa dalam abad ke-19 sendiri berkonstribsi kira-
kira lima kali sebanyak matematika yang diproduksi sepanjang sejarah sebelumnya.
Bukan saja dalam kuantitas akan tetapi justru yang lebih penting kualitasnya.
Bahwa matematikawan sebelum periode pertengan menemui datangnya
kesulitan bagi kepoloporannya, kita tidak perlu mempersempit prestasi besarnya pada
proporsi pengisian-semesta.Harus diingat bahwa kemajuan pada masa kini telah
memumbung ke atas dan termasuk semua matematika yang valid yang mendahului
tahun 1800, sebagai contoh khusus adalah teori dan metode umum matematika.Tentu
saja tak seorang pun yang bekerja dalam bidang matematika percaya bahwa pada
abad ini matematika telah sampai pada akhir perjalanannya.

D. Tujuh periode
Pembagian skala-waktu sejarah matematika yang lebih membaginya ke
dalam tujuh periode.
1. Dari masa awal sejarah sampai Babilonia dan Mesir Kuno
2. Dari konstribusi Yunani, sekitar 600 SM, sampai sekitar 300 SM (900 tahun),
yang terbaik adalah abad ke-4 dan ke-3 SM.
3. Masyarakat Timur yang berbahasa semit (Hindu, Arab, Cina, Persia, Islam,
Yahudi, dan sebagainya), sebagian sebelum dan sebagian lagi sesudah (2).
4. Eropa dalam masa Renaissance dan reformasi, secara kasar pada abad ke-15
dan ke-16.
5. Pada abad ke tujuh belas dan ke delapan belas.
6. Pada abad ke sembilan belas.
7. Pada abad ke dua puluh dan sesudahnya.

Pembagian secara umum ini mengikuti perkembangan kebudayaan Barat dan


ia berutang budi kepada Timur Dekat. Barangkali hanya (6) dan (7) satu-satunya yang
berkembang di Barat meskipun secara sangat signifikan kecerundangan baru menjadi
jelas setelah 1900-an.
Meskipun masyarkat timur Dekat lebih aktif dari pada orang Eropa selama
periode ke-3 dan ke-7 matematika seperti adanya sekarang ini didominasi oleh
produk kebudayaan Barat.Kemajuan-kemajuan Cina kuno, misalnya, apakah tidak
masuk dalam perdagangan belum dilacak.Bahkan teknik tertentu seperti dirakit baik
sebagai matematika yang dangkal atau ditarik dari matematikawan Eropa sampai
setelah mereka menunjukkan kemandiriannya dalam menemukannya di Eropa.
Umpamanya, metode Horner untuk solusi numerik suatu persamaan barangkali
sudah ditemukan di Cina, akan tetapi Horner tidak mengetahuinya. Dan, faktanya,
matematika tidak menjadi kerdil apakah Cina atau Horner yang pernah menemukan
metode itu lebih dahulu.
Matematika di Eropa mengikuti arah yang hampir sejajar dengan kebudayaan
umum di beberapa negara. Jadi, praktik kebudayaan yang sempit di Roma kuno tidak
berkontribusi apapun di matematika; ketika maju dalam dunia seni, ia maju pula
dalam aljabar. Ketika kejayaan era Elizabeth di Inggris, Matematika justru
berkembang di Swiss dan Prancis.Sering kali, terjadi pemunculan yang sporadis para
genius di negara-negara relatif kecil, seperti kreasi bebas geometri non-euclid di
Hongaris pada awal abad ke-19.Kemunduran daya hidup sekonyong-konyong,
biasanya dibarengi dengan meningkatnya kegiatan matematika, seperti zaman perang
Napaloen bersamaan Revolusi Prancis, juga di Jerman setelah kerusuhan 1848.Akan
tetapi Perang Dunia I, 1914-1918, telah menghentikan laju kemajuan matematika di
Eropa dam mengurang di mana-mana, seperti juga kemudian bermanifestasi
nasionalisme di Rusia, Jerman, dan Italia.Kejadian-kejadian ini mengahalangi
kemajuan pesat di mana matematika telah dijadikan ilmu sekitar 1890 di Amerika
Serikat, dan membawa negara itu ke posisi pimpinan.
Korelasi antara kehebatan dan kecemerlangan dan aspek lain dari kebudayaan
umum kadang-kadang negatif. Dapat diberikan beberapa contoh: perkembangan
paling penting terjadi pada Abad Pertengahan. Ketika arsitektur Gothic dan
kebudayaan Kristen pada puncaknya di abad ke-12 (kadang-kadang orang menyebut
pada abad ke-13), matematika di Eropa baru saja mulai merangkak dari titik rendah.
Sangat menarik bagi para sejarawan bahwa delapan abad kemudian ketika
matematika dan sains secara resmi sangat dihargai dan berkembang dinegara-negara
eropa tertentu, beberapa tahun sebelum kejayaan ideal seperti abad pertengahan
dalam september, 1939, merupakan fajar kepercayaan baru dalam memasukkan
matematika itu sendiri ke dalam kesederhanaan non matematis dari ketakilmiahnya
arsitektur.
Kontribusi paling menonjol diantara semua priode pada zaman Reinassance
adalah penemuan orang yunani tentang penalaran deduktif.Kemudian orang italia dan
prancis mengembangkan aljabar-lambang. Pada abad ke-7 dan ke-12 orang hindu
menemukan hampir semua aljabar lambang; kaum muslim kembali ke abad klasik,
yakni, ke hampir semua aljabar retorik. Kemajuan utama ketiga telah ada tanda-
tandanya, dapat ditekankan disini, pada bagian awal periode ke-5 ( abad ke-17) ketiga
cabang utama bilangan, bangun, dan kontinuitas dipadukan. Secara umum hal ini
menciptakan kalkulus dan analis matematis; perpaduan ini juga mengubah geometri
dan kemudian memungkinkan menkreasi perlunya ruang yang lebih tinggi untuk
penerapan modern matematika.Pelapornya adalah orang-orang perancis, inggris, dan
jerman.Periode kelima biasanya di pandang sebagai puncak sejarah matematika
murni modern.Periode menghimpun awal sains moderen.Kemajuan lainnya adalah
penerapan expensive pada kreasi terbaru matematika murni kedalam astronomi
dinamika, mengikuti karya Newton, dan kemudian, sains fisik mengikuti karya
Galileo dan Newton.Akhirnya, dalam abad ke-19, aliran sungai besar matematika
menggenangi tepiannya, membanjiri rimbaraya, tidak ada matematika yang tidak
subur dan menjadikannya berbuah sangat lebat.
Jika matematika pada abad ke-20 dan ke-19 berbeda secara signifkan,
mungkin perbedaan yang paling penting terletak pada makin meningkatnya
keabstrakan sebagai konsekuensi generalisasi, dan tumbuh dengan morfologi dan
anatomi komparatif dari struktur matematis; penajaman pemahaman yang dalam; dan
makin disadarinya keterbatas deduksi penalaran klasik. Jika keterbatasan
membawa kegelisahan salama 7000 tahun, maka usaha manusia dengan jelas, tentu
salah terka. Tetapi benar bahwa evaluasi kritis tentang penerimaan penalaran
matematis yang membadakan empat dekade pertama dengan pada abad ke-20
memerlukan revisi ekstensif matematika terdahulu, dan mengilhami kerja baru
tentang dasar (fundamen) yang menarik baik bagi matematika maupun
epistemologi.Mereka juga terbawa ke tujuan final matematika pada suatu teori bahwa
matematika adalah bayangan Kebenaran Abadi.
Pembagian sejarah matematika ke dalam 7 periode agak tradisional dan tidak
meragukan merupakan penjelasan, utamanya dalam hubungannya dengan fluktuasi
cahaya yang kita namakan kebudayaan. Akan tetapi pembagian kuno: periode dahulu,
pertengahan, dan sekarang, seperti dilukiskan terdahulu, tampak lebih benar dalam
menyajikan perkembangan matematika itu sendiri dan lebih jelas dari daya hidup
sesuai pembawaannya.

E. Issac Newton (1642 1722)


Meskipun Issac Newton, matematikawan dan imuwan besar bangsa inggris,
hidup kira-kira 350 tahun yang lalu, ia telah dijuluki sebagai pionir uang matematika.
Tanpa penemuannya tentang hukum-hukum matematikawan fisika yang mengatur
dunia kita, ilmuwan sekarang tidak akan mampu mengirimkan roket ke luar angkasa
atau satelit mengelilingi bumi.
Seperti matematikawan besar lainnya, bakat matematika Newton berkembang
pada saat masih muda. Ketika ia berumur 14 tahun, ia begitu berminat terhadap
matematika sehingga sering mangkir dari membantu pekerjaan di kebun pertanian
ibunya. Pada umur 24, ia telah memberikan kontribusnya yang besar pada
matematika-penemuan kalkulus yang ia sebutnya fluxion. Meskipun ia telah
melakukan penemuan besar, teoriteorinya belum sepenuhnya dikembangkan, dan
ilmu itu diperlukan waktu 10 tahun untuk mampu menyelesaikan masalah tertentu
dalam kalkulus untuk mempersiapkan karya ilmiah yang penting itu. Kita sekarang
barangkali mahasiswa semester pertama mengahadapi soal yang sama dalam kalkulus
dapat menyelesaikannya hanya dalam waktu setengah jam saja.
Kemansyuran newton sebagai matematikawan sangat luas. Sejarah
mengatakan bahwa ilmuan John Bernoulli mengajukan dua soal matematika sangat
sulit dan memberi waktu matematikawan itu hanya dalam satu sore ia telah selesai
menyelesaikannya. Bahkan dalam masa tuanya keterampilan matematikanya tidak
berkurang. Ketika ia berusia 74 tahun, ia menerima tantangan dari Leibniz untuk
menyelesaikan soal yang sulit, dan ia kerjakan dalam satu senja.
Issac Newton adalah salah satu intelektual besar disepanjang waktu.Ia disebut
ornamen dari ras manusia namun, seperti sebesar namanya, kini ide-ide besarnya
mendapat jabaran dan masih tetap dimodifikasi oleh ilmuwan masa kini.

KEGITAN 2
PERKEMBANGAN MATEMATIKA SESUDAH RENAISSANCE

A. Ciri Khas Umum Tiap Periode


Lihat kembali Kegiatan belajar 1, terutama pada pembagian perkembangan
matematika ke dalam 7 periode.Masing-masing dari 7 periode terdapat peningkatan
kematangan yang signifikan namun kemudian diikuti dengan penurunan karena
keterbatasan berpikir matematis. Pada perode Yunani, misalnya, sintetis geometri
metrik, sebagai metode, yakni, cara memperoleh apa yang secara manusiawi mungkin
di peroleh dengan alat inderawi yang ada pada kita sekarang. Masalah ini diperjelas
kembali oleh sesuatu yang baru dengan ide geometri analitik (Descartes, geometri di
pelajari melalui aljabar) di abad ke-17, dan oleh geometri proyektif pada abad ke-17
dan ke-19 (geometri di pelajari melalui matriks), dan akhirnya pada abad ke-18 dan
ke-19 dengan geometri differesial (Cauchy, geometri di pelajari melalui kalkulus).
Dalam matematika murni, banyak di antara geometri pada abad ke-19 di
kesampingkan oleh geometri ruang abstrak yang lebih kuat dan geometri non-
Riemann yang di kembangkan pada abad ke-20. Kurang dari 40 tahun setelah tutup
abad ke-19, beberapa karya monumental geometri pada zaman kejayaan geometri
sintesis telah mulai tampak kurang berguna dan di anggap kolot.Demikian pula
halnya bagi kebanyakan geometri differensial dan geometri proyektif klasik. Ketika
matematika terus maju, geometri baru (non-euclid) pada abad ke-20 tampaknya akan
menggantikan kedudukan geometri klasik, atau di kelompokkan di bawah abstraksi
yang masih jarang.
Sejumlah besar penelitian kurva dengan kekuatan dan semangat yang
mengagumkan dalam karya geometri analitis, hanyalah sebagai masalah buku teks
elementer.Barangkali makam matematis paling meluas adalah risalat yang
mengabdikan secara artifisial permasalahan sulit dalam mekanika yang telah di
kerjakan oleh Lagrange, Hamilton, dan Jacobi dan tidak pernah di hidupkan kembali.
Salah satu penemuan besar dalam abad ke-19 lainnya ; teori klasik fungsi
periodik ganda, pada abad yang sama. Yang pertama secara tak langsung
berkontribusi pemunculannya relativitas umum; dan yang keduan mengilhami banyak
karya dalam analisis dan geometri aljabar (dalam topologi).
Awal abad ke-20 dipercayai beberapa pakar bahwa keinginan unifikasi ini
dapat dicapai dalam logika matematis. Akan tetapi matematika, terlalu tak
tertahankan kreatifnya untuk mampu di pertahankan oleh kaum formalisme, yang
ternyata merucut atau terlepas. (Dua paragraf terkhir akan di bahas di Modul 4)

B. Motivasi Berkembangnya Matematika


Beberapa butir gambaran apa yang telah terjadi mengisyaratkan bahwa banyak
motivasi yang melatari perkembangan matematika adalah ekonomi. Pada dekade
ketiga da keempat abad ke-20, demi alasan politis yang jelas, usaha-usaha dilakukan
untuk menunjukkan bahwa semua matematika perlu, khususnya dalam penerapan,
adalah demi masalah ekonomi.
Terlau menekankan masalah praktisnya dalam perkembangan matematika maka
sebegitu jauh kuriositas intelektual murni meleset paling tidak pada sebagian fakta.
Bagi setiap pakar matematika moderat yang kompeten dan yang pendidikannya tidak
berhenti hanya sampai kalkulus dan penerapannya dapat menjelaskan bahwa bukan
motivasi ekonomi yang melebihi kuriositasintelektual murni (keingintahuan yang
kuat) dalam mengkreasi matematika. Hal ini berlaku juga bagi matematika praktis
yang diterapkan pada perdagangan, termaksud semua asuransi , sains dan teknologi,
seperti halnya divisi-divisi matematika yang sekarang ini secara ekonomi tak ternilai.
Contoh-contoh dapat dilipatgandakan tak terbatas, empat contoh kiranya cukup, satu
dari teori bilangan, dua dari geometri, dan satu lagi dari aljabar.
Pertama, kira-kira dua puluh abad sebelum bilangan poligon di perumum
(digeneralisasikan), dan kemudian melalui analisis dan kedua contoh ini dilakukan
melalui analisis kombinatorik, yang terdahulu dengan cara teori probabilitas
matematis, keistimewaannya yang telah mengagumkan telah diteliti oleh pakar
aritmetika dan tanpa di sangka bahwa di kemudian hari bilangan-bilangan ini terbukti
sangat bermanfaat bagi permasalahan-permasalah praktis. Bilangan poligon menarik
Pythagoras pada abad ke-6 SM dan sangat membingungkan/mencengangkan para
pengikut-pengikutnya dan memandangnya sebagai bilangan misterius. Motivasinya di
sini dapat dikatakan keagamaan.
Matematikawan berikutnya, termaksud salah satu yang terbesar, memandang
bilangan-bilangan tersebut sebagai legitimasi obyek-obyek kuriositas intelektual.
Fermat, bersama Pascal, penemu teori probabilitas matematika, dalam abad ke-17,
dan oleh karena itu di sebut kakek moyangnya asuransi, mereka penuh keheranan
terhadap bilangan poligon selama beberapa tahun baik Fermat maupun Pascal
memimpikan penemuan probabilitas secara matematis.
Kedua, dan merupakan contoh yang agak majemukan, irisan kerucut yang
secara substansi ditemukan oleh orang Yunani kira-kira abad ke-17 sebelum
penerapannya pada gerak peluru balistik dan astronomi, dan kemudian pada navigasi,
yang tidak di sangka-sangka. Penerapan-penerapan ini mungkin telah dilakukan tanpa
geometri Yunani, yakni, setelah tersedia geometri analitik Descartes dan dinamika
Newton. Akan tetapi fakta bahwa dengan mengambil perhatian berat pada irisan
kerucut Yunani jalan lapang yang pertama telah diperoleh.Lagi motivasi awal disini
adalah kuriositas.
Ketiga, Ruang berdimensi-banyak. Dalam geometri analitik, kurva bidang di
sajikan oleh persamaan dengan dua variabel (f(x,y)=0), permukaan atau luasan
dengan tiga persamaan variabel (f(x,y,z)= 0). Cayley dalam tahun 1843 mengalih
bahasakan geometri kesistem persamaan dengan lebih dari tiga variabel, jadi ia
menemukan geometri pada sebarang di mensi finit. Generalisasi ini terbawa langsung
oleh aljabar secara formal dari geometri analitik biasa, dan di perluas untuk minat
instrinsik sebelum di gunakannya yang ternyata di dapati dalam termodinamika,
mekanika statis, dan bagian sains lainnya, termaksud statistik, baik teoritis maupun
pada perindustrian seperti halnya dalam kimia terpakai. Singkatnya, dapat dicatat
bahwa suatu metode dalam mekanika statis sekoyong-koyong menggunakan teori
partisi aritmetis, yang memperlakukan masalah demikian seperti menetapakan dalam
beberapa cara bilangan positif bulat yang di ketahui sebagai jumlah bilangan-bilangan
positif. Teori ini di awali oleh Euler pada abad ke-18, dan lebih dari 150 tahun tidak
ada apa-apanya terkecuali memainkan peran bagi para pakar dalam teori bilangan,
lainnya tidak berguna sama sekali.
Keempat, berkaitan dengan aljabar abstrak seperti yang di kembangkan dalam
tahun 1910. Setiap pakar aljabar dengan mudah dapat menerangkan bahwa banyak
dari hasil karyanya mempunyai asal mula dari salah satu masalah yang tak
bermanfaat tetapi fantastis seperti pernah di bayangkan oleh insan kurions, yaitu,
asersi Fermat yang sangat terkenal pada abad ke-17, yang mengatakan bahwa +
= adalah tidak mungkin untuk bilangan bulat x, y, z, masing-masing tidak nol
jika n bilangan bulat lebih dari dua. Beberapa aljabar terbaru dengan cepat digunakan
dalam sains fisik, utamanya dalam mekanika kuantum modern.
C. Sisa-Sisa Zaman
Setiap zaman kejayaan meninggalkan hasil-hasil yang rinci, sebagian hasil
karya itu kebanyakan hanya sekarang menarik bagi para penggemar barang
antik.Selama periode lebih dahulu, daya hidup yang bertahan adalah
keingintahuan dengan spesialisasi sejarah matematika. Selama periode pertengahan
dan sekarang, (sejak dekade awal abad ke-17) tak terbilang banykanya terorema
dan bahkan perkembangan teori yang tinggi diterbitkan didalam jurnal-jurnal tekhnis
dan transaksi pembelajaran masyarakat, dan jarang jika mau dikatakan sebagai
professional. Keberadaannya yang banyak itu hanya untuk dilupakan saja, kehidupan
ribuan pekerja telah hilang pada literatur yang hampir mati.Dalam arti apakah
sesuatu yang setengah dilupakan ini hidup?dan bagaimanakah masalah ini dapat
dikatakan dengan sebenarnya bahwa pekerja yang bersusah paya ini memang tidak
sia-sia?
Bagi matematikawan, jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang agak
mengecewakan ini adalah jelas bagi setiap orang yang berkutat dalam
matematika.Diantara semua yang tidak terkordinasikan secara rinci pada masa lalu
ternyata memunculkan metode umum atau konsep.Metode atau konsep ini adalah
bagaimana bertahan hidup.dengan metode umum rincian yang sangat muskil dari
tempat dikemabangkannya diperoleh seseragaman dalam kasus komparatif. Konsep
baru tampak lebih signifikan bagi seluruh matematika daripada fenomena yang samar
dari yang abstrak. Tetapi hal yang demikian itu adalah sifat dari pemikiran manusia
bahwa orang hamper tidak berubah: mengambil jalan lingkar, dan menemukan cara
jalan ke jalan lurus menuju tujuan. Tidak ada prinsip hemat kerja dalam penemuan
ilmiah. Memang, tujuan sasaran dalam matematika sering kali tak dapat diterka
sampai beberapa peniliti bernasib baik (untung ) daripada saingannya yang tersesat
dann juga tersandung disamping menurunnya daya tahan manusia dalam mengikuti
lintasan yang berkelok-kelok. Penyederhanaan dan pengerahan biasanya merupakan
masalah terakhir untuk dicapai.
Dalam gambaran tentang fakta-fakta ini kita dapat mencuplik sakali lagi teori
invarian aljabar (algebraic invariants). Ketika teori ini pertama kali dikembangkan
dalam abad ke-19, skor( nilai) yang diberika kepada pekerja yabf tekun dan
diperbudak dengan perhitungan rinci dari invarian dan kovarian tertentu. Pekerjaan
mereka itu terkubur (terlupakan tak bermanfaat). Tetatpi justru kerumitannya itulah
menarik para pengikut aljabar untuk menyederhankan: himpunan fenomena yang
jelas terasing disusun kembali kedalam contoh-contoh yang mendasari prinsip utama.
Apakah prinsip-prinsip ini pernah dicari, sedikit ditemukan, tanpa diberikan motivasi
oleh himpunan perhitungan, masih dapat diperdebatkan (debatable).Fakta historis
menunjukkan mereka begitu ingin mencari dan menemukan.
Dalam membicarakan daftar yang hebat tentang kovarian dan invariant pada
periode awal terkuburnya, kita tidak bermaksud mengatakan bahwa hal tersebut
berarti tidak bermanfaat; bagi masadepan matematika masalah itu tak terdugan mirip
sebarang kegiatan masyarakat yang lain. Akan tetapi metode dan prinsip-prinsip pada
periode terakhir membuatnya mungkin meraih semua hasil yang diinginkan dengan
metode yang jauh lebih mudah seperti yang dikehendaki, dan ini adalah pemborosan
waktu dan usaha hari ini untuk menambahnya lagi.
Satu sisa dari semua usaha besar ini adalah konsep invarian.Sebegitu jauh
dapat dilihat pada saat ini, invariant sepertinya menyelimuti matematika murni
maupun terapan selam beberapa dekade.Bukan masalah zaman kejayaannya, tetapi
sisa-sisanya.Tidak juga, sebagai zaman yang menyusahkan masa lalu, apakah orang
yang membuat sisa itu remang-remang terhapa pekerjaan mereka yang permanen dan
bukan pribadi dengan harapannya, ketakutannya, kecerumbuannya, dan pertikainnya
yang tidak penting. Sesuatu yang sangat besar dan selalu dilakukan dalam
matematika adalah sama sekali anonim.
Kita tidak akan tahu siapa yang pertama kali memikirkan bilangan-bilangan1,
2, 3, , atau siapa yang pertama kali memikirkan bilangan-bilangan 1,2,3,., atau
siapa yang pertama kalimenegrti bahwa sebuah tiga terbebas dari apa yang rasanya
pada tiga galah, tiga lembu, tiga dewa, tiga tempat ibadah, dan tiga Orang.

D. Karl Friederich Gauss (1777-1855)


Karl Friederich Gauss, bersama-sama Newton dan Archimedes, dianggap
sebagai salah satu dari tiga mateamtikawan yang terus hidup. Gauss terlahir di Jerman
pada tahun 1977, anak orang miskin.Ia berbakat matematika sejak msa kanak-kanak.
Gauss sendiri mengatakan telah belajar berhitung sebelum ia dapat berbiacara. Ketika
ia berumur 10 thun, ia dikagumi gurunya dengan bakat matematikanya karena
menemukan jumlah dari 81.297 + 81.495 + 81.693 + .+100.899 hanya beberapa
saat setelah gurunya memberikan soal itu. Mulai saat itu dan seterusnya ia menguasai
dan berpikir sendiri dalam matematika. Aritmatika adalah bidang favorit Gauss dalam
sisa hidupnya.
Untunglah bangsawan dari Brunswick membantu keuangan sehingga Karl
dapat menjatuhkan ke perguruan tinggi pada usia 15. Ketika berusia 18 tahun, ia
menemukan hukum-hukum baru dalam teori bilangan dan menemukan metode
statistik baru yang disebut kuadrat terkecil yang digunakan untuk menentukan
bangun geometri yang akan terabatik satu perangkat data. Ia amat bahgia ketika
menemukan bahwa setiap bilangan positif adalh jumlah dari tiga bilangan segitiga,
umpamanya, 17=1+6 +10. Pada thun yang samaia juga menemukan bagaimana
mengonstruksi segi banyak teratur dengan 17 sisi.
Gauss menjadi banyak bergaul dengan para matematikawan, dan idolanya
adalah Newton. Eskipun secara priadi ia sangat ramah dan hangat, ia menunjukan
sifat ketidaksenangannya terhadap seseorang yang ingn tahu segalanya dan tidak
bertoleransi dengan kesalahan. Ia hidup sederhana dan moderat terhadap sekitarnya,
dan terus memberikan kontribusi besar pada matematika smapai kematiannya. Ia
sangat terkenal dalam penemuannya dalam aritmatika, geometri, astronomi, dan
statistik. Namun disamping kontribusinya yang mengagumkan dalam matematika,
dengan rendah hati Gauss berkata Jika orang ingn mau menengok matematika dan
percaya sedalam seperti saya dan terus tekun seperti saya, mereka pun akan
menemukan seperti yang saya temukan.
II.2 Peran Logika dalam Sistem Matematika.

A. Peranan Logika.

Komponen kedua dalam pembuatan sistem matematis adalah logika


(komponen pertama tadi adalah seperangkat aksioma). Di sini tidak dimaksudkan
untuk membicarakan prinsip prinsip logika. Akan tetapi, ada beberapa aspek logika
yang terikat begitu dekat dengan kajian matematis sehingga aspek ini harus disebut di
sini.
Adalah pada abad ke 6 SM, ketika Phytagoras menunujukkan perlunya
konsep bukti yang jelas dan semua orang harus setuju. Akan tetapi Aristoteles yang
mengumumkan hukum hukum tertentu yang diciptakannya sebagai latar belakang
berpikir rigor. Hukum hukumnya itu, saat ini biasanya disajikan sebagai berikut.
1. A adalah A. (Hukum identitas).
2. Segala sesuatu adalah A atau bukan A. (Hukum tolak tengah atau hukum
excluded middle).
3. Tidak ada sesuatu A sekaligus bukan A. (Hukum kontradiksi)

Dua hukum terakhir di atas mungkin agak sulit dipahami. Dengan cara
merakit interpretatif, biasa dipakai para matematikawan dan logikawan, hukum
hukum itu menjadi komaratif mudah. Dari pada berpikir dalam term term abstrak
suatu konsep seperti sifat yang mungkin dimiliki oleh beberapa objek secara
individual, matematikawan pada umumnya lebih suka memikirkannya dalam bentuk
himpunan objek yang memiliki sifat itu. Misalnya, jika orang harus mengatakan suatu
warna, merah, bagi matematikawan, ia tidak akan berabstraksi yang ditandakan
dengan merah, tetapi ia akan berpikir suatu himpunan yang anggota anggotanya
adalah merah. Inilah kurang lebihnya apa yang dimaksud dengan mengatakan bahwa
matematikawan berpikir relasi logis dalam bentuk perluasan dari pada dalam
pendalaman. Lebih jauh, jumlah dua himpunan adalah himpunan baru yang tersusun
atas anggota anggota satu atau yang lain atau ke dua himpunan yang diketahui. Jadi,
jika tanda minus digunakan sebagai menandakan negasi, lambang 1 digunakan
menandakan himpunan semua objek, dan lambang 0 digunakan menandakan
himpunan nol (hampa), kedua hukum terakhir logika Aristoteles menjadi :

1. (Hukum tolak tengah).


2. (Hukum kontradiksi).
Logika tradisional berkaitan dengan relasi antar term hampir eksklusif.
Masalahnya adalah menarik kesimpulan sedemikian sehingga relasi ini benar atau
salah. Hukum-hukum yang diberikan diatas bersama aturan aturan salogisme adalah
sarana membentuk keputusan ini.
Di luar pernyataan sederhana ini sistem logika yang luas telah berkembang,
berdasarkan pada hukum hukum yang berkait dengan ide ide yang diambil
sebagai dasar. Kata kata atau konsep konsep seperti kelas, semua, negasi, atau,
dan, dan sebagainya dijaga dengan cermat oleh logikawan sebagai memiliki sifatnya
sendiri. Hukum hukum dasar, termasuk ide ide ini, adalah universal dalam arti
bahwa mereka bukan berada pada dalam aplikasinya pada sebarang sains atau
subyek.
Suatu penghargaan baru adalah fakta bahwa kata kata primitif dalam logika
merupakan kata tak terdefinisikan dalam matematika dan hukum hukum dasar
dalam logika adalah aksioma dalam matematika telah dikaji dengan penuh minat oleh
para matematikawan. Memang, suatu struktur yang disebut logika, dibangun atas
fondasi aksiomatik, seperti halnya dalam matematika. Aljabar Boole makin menjadi
populer dan sistem logika dibangun dengan menggunakan bahasa lambang dan atas
basis aksiomatis benar -benar memukau matematikawan manapun. Sambil lalu, dapat
dicatat bagi kemujuran yang tak tersangka bhwa Aljabar Boole jelas jelas bersifat
Aristoteles, dan dua hukum terakhir logika Aristoteles jika dinyatakan dalam
lambang adalah ciri khas konklusi.
Jika kemudian apa yang disebut hukum hukum yang merupakan basis pada
logika tradisional,semata mata aksioma, maka tidaklah mengejutkan bahwa terdapat
kecenderungan untuk memodifikasinya atau mengganti seluruhnya terhadap berbagai
situasi. Barangkali waktunya telah sampai apabila jenis logika yang digunakan akan
ditentukan oleh sifat permasalahan yang diteliti, tepat seperti para matematikawan
sekarang memperdebatkan matematika yang diadaptasi untuk masalah yang diteliti.
Korzybski merasa terganggu oleh hukum identitas dan ia merasa bahwa penggunaan
secara umum tak menjamin. Brouwer demikian pula, menentang penggunaan secara
umum hukum tolak tengah. Memang harus dimaklumi bahwa logika tradisional
didasarkan atas suatu filsafat semesta tertentu dan sangat membimbangkan apakah
jenis doktrin ini dapat diterrapkan di manapun. Memang terdapat pertanyaan
pertanyaan yang tidak secara langsung dapat dijawab ya atau tidak. Banyak
pertanyaan demikian yang jauh di luar kemampuan manusia. Apakah kita lalu
bertanya : Apakah meskipun pertanyaan itu demikian tidak ada jawaban yang
pasti? Atau apakah harus disimpan tanpa ketentuan didalam semesta dan
mengembangkan dahulu logika sehingga bisa digunakan untuk menjawabnya?
Stimulus nyata terhadap penelitian sifat logika aktual dan sekaligus memiliki
kemungkinan logika jenis baru sebagai tambahan sistem logika tradisional Aristoteles
diberikan oleh karya monumental rincipia Mathematica oleh Whitehead dan
Russell. Dalam Principia Mathematica dikembangkan kalkulus proposisi yang
sama sekali lain dari model Aristoteles. Teknis interprestasi dan implikasi yang
digunakan dalam hassil karya ini sama sekali lain dengan makna biasa yang diberikan
kepadanya. Meskipun demikian, deduksi masih saja sama dengan yang didapati pada
metode tradisioanal.
Ada jalan mengembangkan sistem logika yang dipakai dalam Principia
dengan menggunakan metode matriks. Orang yang biasa menggunakan tabel sebagai
metode akan dapat menggunakannya dengan sederhan. Jika nilai kebenaran atau
kesalahan masing masing dari dua proposisi diketahui, sifat relasi antara kedua
proposisi dapat ditetapkan dengan sarana tabel matriks. Sifat relasi yang lain
kemudian dapat ditetapkan dengan melihat keterhubungannya yang dipilih sebagai
dasar. Dengan cara perluasan seperti ini Lukasiewicz telah berhasil menyusun sistem
logika di mana proposisi proposisi tidak perlu lagi mellihat setiap kemungkinan
benar atau salahnya masing masing proposisi, tetapi dapat mempunyai sebarang
banyak kemungkinan. Tarski telah berkontribusi lebih jauh dalam pengembangan
sistem ini.
Siginfikansi hasil hasil ini pada matematika sangat besar. Sementara telah
dihargai selama bebarapa dekade bahwa komponen aksiomatik matematika adalah
suatu variabel, sekarang pandangan matematikawan diperkuat oeh realisasi bahwa
komponen logis juga variabel. Kemudian dapatlah matematikawan memandang
logikanya sebagai tetap dan tertentu, dan bukan ia menghadapkan kenyataan bahwa
konklusinya adalah relatif terhadap jenis logika yang dipakai seperti halnya relatif
pada sistem aksioma yang terlibat.
Jadi saat ini bidang bidang matematika dan logika tidak dapat dipandang
secara terpisah. Tetapi tidak juga dianggap sama. Makin lama matematikawan makin
berkaitan dengan kegiatan logika.

B. Bimbang dan Tidak Pasti.

Yang belum dibicarakan adalah kata akhir berkaitan dengan hubungan antara
matematika dan logika. Salah satu gambaran yang mencuat dalam abad ke 20 telah
dibicarakan panjang lebar dan pengujian yang kritis pada landasan dasar bidang
matematika itu. Pada saat ini, kebimbangan dan ketidakpastian menghinggai
matematikawan. Banyak mahasiswa yang tidak setuju dengan pandangan umum yang
disajikan diatas yakni, bahwa matematika adalah resultante dari dua komponen
(seperangkat aksioma dan sistem logika). Mereka akan memandang logika hanyalah
sebagian dari wadah sangat besar yang berisi matematika. Sebaliknya, ada juga yang
berpendapat bahwa logika adalah segalanya, sedangkan matematika hanyalah
sebagian kecil dari logika.
Memang, kenyataannya, kini ada tiga aliran utama berpikir (filsafat) berkaitan
dengan landasan matematika ini. Ketiga aliran ini biasanya ditandakan sebagai
pandangan kaum Formalis, Logistik, dan Intuisions.
Kaum Formalis mengakui kepemimpinan matematikawan Jerman, David
Hilbert . Pandangan kaum formalis, dan juga pandangan matematikawan Amerika
pada umumnya, yang dipelopori oleh Oswald Veblen dan V. E. Huntington,
adalah: bahwa matematika murni adalah sains struktur formal lambang lambang .
Mereka juga dikenal sebagai aliran postulatsional. Bagi mereka matematika
bermaksud untuk mempelajari struktur objek objek dengan menciptakan sistem
lambang yang mewakilinya. Dengan demikian matematika berkaitan dengan sifat
sifat struktural sistem lambang, bebas dari maknanya. Masing masing lambang
kosong dari arti dan tidak memiliki signifikansi terkecuali jika mereka dikaitkan
dengan lambang yang lain. Ini bukan berarti bahwa matematika merupakan
permainan yang sama sekali tidak bermakna. Sebaliknya, pendekatan ini telah
membuktikan amat sangat lebat buahnya, utamanya dalam geometri. Bagaimana pun,
kaum formalis telah menghadapi kesulitan yang tak terduga, utamanya dalam
usahanya membangun validitas matematika apabila mendekati pandangannya itu.
Aliran logistik, yang dipimpin oleh Bertrand Russell dan A. N. Whitehead,
mengambil posisi bahwa matematika adalah cabang logika. Pelopornya adalah
Peano dan Frege. Puncak karya monumental Russell dan Whitehead adalah
Principia Mathematica telah dibicarakan diatas. Karya yang solid dan luas itu
sangat kompleks, dan karya besar dari keindahan logika ini, mereka berusaha
mereduksi seluruh matematika ke dalam logika. Dengan keaslian yang
mengagumkan, mereka berhasil mendefinisikan konsep matematika erlementer
(seperti bilangan ,nol, operasi penjumlahan dan perkalian, dan sebagainya) dalam
term konsep logika (seperti himpunan, negasi, atau, dan sebagainya).
Bagaimanapun, pendekatan ini akhirnya juga masuk pada kesulitan kesulitan,
utamanya berkaitan dengan teori modern tentang bilangan transfinit, dan dengan
demikiann kebimbangan muncul kira kira seperempat tahun dari kejayaan
programnya.
Aliran yang paling akhir intuisionisme, dibawah pimpinan matematikawan
Belanda L. E. J. Brouwer, yang kemudian Hermann Weyl bergabung dengannya.
Tesis mereka adalah bahwa matematika didasari atas basis iintuisi dari kemungkinan
penyusunan deret tak hingga bilangan bilangan. Brouwer mengingatkan bahwa
struktur lambang yang biasanya di identifikasi dengan matematika semata mata
pakaian luar saja dari sesuatu yang jauh lebih fundamental dalam cara berpikir. Ia
percaya behwa ketika matematikawan memanipulasi lambang disertai dengan pikiran
tanpa memandang pikiran itu sendiri, kekhawatiran pun akan menghadang.
Singkatnya, kaum intuisionis, matematika tidak akan dapat seluruhnya dilambangkan
berpikir matematis tidak tergantung bahasa tertentu yang digunakan untuk
mengungkapkannya. Pengetahuan dari proses matematis yang diberi harus
sedemikian sehingga proses itu dapat adanya kemungkinan mengkontruksi tidak
dibenarkan.
Dengan demikian terdapat iklim kebingungan. Max Black menunjuk:
Program- program kaum formalis dan logistik telah menjumpai kesulitan kesulitan
untuk dipecahkan jika mereka ingin berjaya. Bagi kaum logistik reduksi matematik
ke logika pecah ke dalam titik yang krusial, dan melengkapi bukti kaum formalis
tentang konsistensi matematika yang tampaknya tidak mungkin. Akan tetapi doktrin
kaum intuisionis mengisyaratkan matematika yang lebih besar lagi lagi harus
ditulis, menolak bukti bukti yang telah lama diterima, membuang sebagian besar
matematika murni, dan mengintroduksi kesusahan yang paling tidak praktis dan rumit
ke dalam domen yang harus mengubah model.
Masih yang terbaru, R. Carnap, dari Vienna dan Chicago, telah melakukan
program yang jauh iebih luas dari yang diatas itu, termasuk matematika, logika,
bahasa, dains, dan metafisika. Dasarnya adalah suatu analisis bahasa dan
semantiknya. Masih terlalu pagi untuk menduga akan apa hasilnya.
Apa yang dapat dikatakan pada suasana pertentangan dimana matematika
ingin mengetahui dirinya sendiri? Kita dapat mengamati, pertama, bahwa konsep
dasar dan metode matematika berada dalam suasana evolusi yang abadi. Kedua,
pengaruh setiap pandangan telah dimodifikasi secara mendalam oleh yang lain;
ketiga, matematikawan umumnya, dengan kompromi, dapat bekerja dalam satu atau
lebih jaringan kerja, dan akhirnya, bahwa di masa depan barangkali, bukan hanya satu
matematika, akan tetapi banyak. Masalah ini akan dibicarakan lebih mendalam lagi
dalam Modul 7 tentang Landasan Matematika.
SISTEM AKSIOMA PEANO SEBAGAI BASIS MATEMATIKA

A. SISTEM AKSIOMA PEANO


Sekarang marilah kita pelajari lebih dekat sebuah sistem matematika
aksiomatis atau sistem postulat yang dari sistem ini seluruh aritmetika bilangan alam
(cacah) dapat diturunkan. Sistem ini diciptakan oleh matematikawan dan logikawan
bangsa Italia G. Peano (1858-1932). Term-term takdidefinisikan dalam sistem ini
adalah: 0, bilangan, dan pengikut atau successor. Sementara itu, tentu saja,
tidak ada definisi yang diberikan kepada term-term ini didalam teorinya, lambang 0
dimaksud menandakan bilangan 0 dalam makna biasa, sedangkan term bilangan
dimkasud kepada bilangan alam 0, 1, 2, 3, ... eksklusif. Dengan pengikut suatu
bilangan alam n, yang biasa ditandakan dengan n, dimaksud bilangan alam tepat
sesudah bilangan alam n dalam urutan biasa. Sistem Peano memuat 5 postulat berikut
ini:

P1. 0 adalah suatu bilangan


P2. Pengikut sebarang bilangan adalah suatu bilangan
P3. Tidak ada dua bilangan yang mempunyai pengikut sama
P4. 0 bukanlah pengikut bilangan manapun
P5. Jika P adalah suatu sifat sedemikian sehingga (a) 0 sifat P, dan (b) apabila suatu
bilangan n bersifat P, maka pengikut n juga bersifat P, maka setiap bilangan
bersifat P.

Postulat yang terakhir ini mengandung prinsip induksi matematis dan


mengambarkan dengan cara yang sangat jelas cara memperkuat kebenaran
matematis dengan persyaratan. Kontruksi aritmetika elementer pada basis ini dimulai
dengan definisi berbagai bilangan alam. 1) didefiniisikan sebagai pengikut 0, atau
disingkat sebagai 0, 2) sebagai 1, 3) sebagai 2, dan seterusnya. Menurut P2, proses
ini dapat dilanjutkan takterbatas; sebab dengan P3 (dengan kombinasi P5), proses ini
tidak pernah kembali ke satu bilangan yang telah didefinisikan terdahulu, dan
menurut P4, proses itu tidak juga kembali ke 0.
Langakah selanjutnya kita dapat membangun definisi penjumlahan yang
dinyatakan dalam bentuk yang persis dengan suatu ide bahwa penjumlahan sebarang
bilangan alam dengan bilangan alam yang diketahui dapat dipandang sebagai
penjumlahan berulang-ulang dari 1; operasi yang terakhir ini siap dinyatakan dengan
hubungan pengikut. Definisi penjumlahan ini berjalan sebagai berikut.
D1. (a) n + 0 = n; (b) n + k = (n + k);
Kedua syarat pada definisi rekrusif ini menentukan dengan lengkap jumlah
sebarang dua bilangan. Perhatikan, umpamanya, jumlah 3 + 2. Menurut definisi
bilangan 2 dan 1, kita peroleh 3 + 2 = 3 + 1 = 3 + (0); akan tetapi menurut D1 (a),
dan menurut definisi bilangan 4 dan 5, ((3 + 0)) = (3) = 4 = 5. Bukti ini juga
menjelaskan lebih eksplisit dan persisi komentar yang diberikan terdahulu atas
kebenaran proposisi bahwa 3 + 2 = 5: di dalam sistem aritmetik Peano, kebenarannya
mengalir bukan semata-mata dari definisi konsep-konsep yang terlibat, akan tetapi
juga dari postulat-postulat yang berlaku atasnya. Dalam contoh ini postulat P1 dan
P2 dan jaminan bahwa 1, 2, 3, 4, 5 adalah bilangan-bilangan dalam sistem Peano;
bukti umum bahwa D1 menentukan jumlah sebarang dua bilangan juga menggunakan
P5. Jika postulat-postulat dan definisisi-definisisi dalam teori aksiomatis itu kita sebut
syarat-syarat yang terkait dalam konsep-konsep dalam teori itu, maka sekarang
kita dapat mengatakan bahwa proposisi-proposisi dalam aritmetika bilangan alam
adalah benar menurut persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan sejak awal untuk
konsep-konsep aritmetika. (ingat, khususnya, bahwa bukti untuk rumus 3 + 2 = 5
beberapa kali menggunakan identitas transitivitas; yang terakhir ini diterima disini
sebagai salah satu aturan dalam logika yang dapat digunakan dalam bukti sebarang
teorema dalam aritmetika; dengan demikian aturan-aturan logika ini yang termasuk
diantara postulat-postulat Peano tidak lain adalah aturan logika).
Sekarang, perkalian bilangan alam dapat didefinisikan dengan definisi rekrusif
sebagai berikut, yang dinyatakan dalam bentuk ide yang rigor bahwa hasil kali n.k
dari dua bilangan dapat dipandang sebagai jumlah k kali masing-masing sama dengan
n.

D2 (a) n .0 = 0; (b) nk = n.k+ n


Sekarang ada jalan membuktikan hukum-hukum umum untuk penjumlahan
dan perkalian, seperti hukum komutatif, asosiatif, dan distributif, [yakni: n + k = k +
n, n.k = n.k; n + (k +1) = (n + k) + 1, n.(k.1)= (n.k).1; n.(k + 1)= (n.k) + (n.1)].
Kemudian dalam term-term penjumlahan danperkalian, operasi invers pengurangan
dan pembagian dapatlah didefinisikan. Tetapi dalam masalah ini tidak selalu
dilaksanakan; umpamanya, berbeda dengan penjumlahan dan perkalian, selisih dan
hasil bagi tidak untuk setiap pasangan bilangan terdefinisikan; umpamanya, 7 10
dan 7: 10 tidak terdefinisikan. Situasi ini menyarankan perlunya suatu perluasan
sistem bilangan dengan memperkenalkan bilangan-bilangan negatif dan rasional.
Sering kali dilakukan bahwa agar perluasan itu efektif, kita harus
berasumsi atau mempostulatkan keberadaan jenis bilangan tambahan yang
diinginkan dengan sifat-sifat yang membuatnya cocok untuk mengisi kesenjangan
operasi pengurangan dan perkalian. Metode ini sederhana saja dengan
mempostulatkan apa yang diinginkan demi kemajuan-kemajuan. Sangat dihargai
bahwa bilangan negatif dan rasional yang diperoleh dari term-term primitif dalam
sistem peano dengan memasukkan defenisi ekplisit tanpa menambah satupun postulat
maupun asumsi-asumsi baru. Setiap bilangan positif dan negatif berbeda dengan
bilangan alam yang tidak mempunyai tanda dapat didefinisikan sebagai himpunan
pasangan terurut bilangan-bilangan alam; jadi, bilangan + 2 didefinisikan sebagai
semua himpunan pasangan terurut ( m,n) dari bilangan-bilangan alam dengan sifat m
= n + 2 ; bilangan -2 (negatif 2 ) adalah himpunan semua pasangan terurut bilangan
alam (m, n) dengan sifat n = m+2. Hal yang serupa, bilangan rasional dapat
didefinisikan sebagai pasangan terurut bilangan-bilangan alam. Berbagi operasi
aritmetika kemudian dapat didefinisikan dengan mengacu kepada jenis-jenis bilangan
baru ini, daripada postulat-postulat peano dan definisi-definisi dari berbagai konsep
aritmetika yang terlibat.
Sedemikian jauh perluasan yang telah kita peroleh ini masih belum lengkap
dalam arti tidak setiap bilangan didalamnya mempunyai suatu nilai akar kuadrat, dan
lebih umum lagi, tidak setiap persmaan aljabar dengan koefisien semua bilangan
dalam sistem mempunyai solusi dalam sistem. Hal ini mengisyratkan masih perlunya
memperluas lagi sistem bilangan itu dengan mengintroduksi sistem bilangan nyata
dan akhirnya sistem bilangan kompleks. Lagi dalam bebagai perluasan ini dapat
dibuat efektif hanya dengan defenisi, tanpa menambahkan sebuah postulat pun.
Berdasarkan apa yang telah diperoleh, berbagai operasi aritmetika dan aljabar dapat
didefinisikan bagi bilangan-bilangan dalam sistem baru ini, konsep-konsep fungsi,
limit, derivatir dan integral dapat di introdusir, dan teorema-teorema yang bias
dijumpai dalam konsep-konsep ini dapat dibuktikan, sehingga artinya sistem
matematika yang sangat besar itu, seperti dikatakan, disini hanya tergantung pada
basis sistem peano yang sederhana itu: setiap konsep matematika dapat didefinisikan
dengan tiga primitif peano, dan setiap proposisi metamatika dapat dideduksi dari lima
postulat yang diperkaya dengan definisi-definisi atas term-term non-primitif. Dalam
banyak kasus deduksi ini dapat dilakukan dengan menggunakan tidak lebih dari
prinsip-prinsip logika formal; bukti bebrapa teorema yang berkaitan dengan bilangan
real, bagaimana pun, mengehendaki sebuah asumsi yang biasanya tidak termaksud
diantara yang terakhir itu. Inilah aksioma yang biasa disebut aksiomapilihan (axiom
of choice). Aksioma ini berbunyi bahwa diberikan suatu himpunan terdiri atas
himpunan-himpunan ekslusif, masing-masing tidak hampa, terdaptlah sekurang-
kurangnya satu himpunan yang tepat mempunyai satu elemen bersekutu dengan
masing-masing himpunan yang diberi. Menurut prinsip ini dan aturan-aturan logika
formal, konten semua matematika dapat diturunkan dari sistem peano yang sederhana
suatu prestasi yang patut dicatat dalam mensistematisasikan konten matematika dan
klarifikasi validitas landasannya.