Anda di halaman 1dari 2

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur konsumsi makanan seseorang.

Metode tersebut bertujuan untuk mengetahui kecukupan asupan gizi, variasi/pola makan
seseorang. Metode yang digunakan harus sesuai dengan tujuan atau obyektif kita. Salah satu
metode yang dapat digunakan adalah Dietary History.

Dietary History menggambarkan konsumsi aktual dalam periode yang lama, digunakan untuk
mengestimasi prevalensi defisiensi asupan gizi pada seseorang.

Prinsip Dasar dietary history adalah menggali informasi makanan yang biasa dikonsumsi dan pola
makanan individu pada periode yang lama. Bisa 1 minggu, 1 bulan, atau bahkan 1 tahun. Namun
umumnya, dietary history ini digunakan periode untuk 1 bulan. Karena itulah metode ini bersifat
kualitatif.

Ada 3 prinsip utama dalam dietary history, yaitu

Digunakan untuk mengestimasi kebiasaan intake/asupan gizi individu dalam periode waktu yang
cukup lama (bisa 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun).
Menggunakan metode wawancara dan harus dilakukan oleh seorang pewawancara yang terlatih.
Umumnya metode ini memberikan data kualitatif karena memberikan gambaran pola konsumsi
berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama.
Berdasarkan ketiga prinsip tersebut maka metode dietary history mempunyai 3 komponen utama,
yaitu:

Pola makan (jumlah dan frekuensi) kebiasaan makan subjek pada setiap waktu makan dan
makanan selingan yang sering dikonsumsi
Jenis hidangan yang sering dikonsumsi
Ukuran porsi makan
Sama halnya dengan metode survei konsumsi lainnya. Dietary History pun memiliki beberapa
kelebihan dan kelemahan:

Kelebihan:

Dapat memberikan gambaran konsumsi pada periode yang panjang


Biaya relatif murah
Dapat digunakan di gizi klinik (anamnesa gizi)

Kelemahan:

Terlalu membebani pihak pengumpul data dan responden


Sangat sensitif, dibutuhkan tenaga yang terlatih
Tidak cocok untuk survei besar
Data hanya bersifat kualitatif
Hanya fokus pada makanan khusus saja, variasi makanan sehari-hari tidak diketahui.