Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRE PLANNING TENTANG TERAPI MUSIK KLASIK PADA

Ny. R DENGAN HIPERTENSI DI KECAMATAN KENCONG


KABUPATEN JEMBER

LAPORAN

Disusun guna memenuhi tugas Keperawatan Medikal


Dosen pembimbing Ns. Jon Hafan S,M.Kep.,Sp.Kep.MB

oleh:
ZULAIHAH
NIM 172310101226

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN


TINGGI UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
November, 2017
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Analisis Situasi


Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya dalah suatu gangguan
pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa
oleh darah terlambat sampi ke jaringan tubuh. Hipertensi sering kali disebut
sebagai pembunuh gelap (silent killer), karena termasuk penyakit yang mematikan
karena tanpa disertai dengan gejala-gejalanya terlebih dahulu sebagai peringatan
bagi korbannya. (Lanny Sustrani,dkk, 2004). Hipertensi adalah sebagia
peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau tekanan darah
diastolik sedikitnya 90 mmHg. (Sylvia A. Price dalam Nurarif dkk, 2015).
Hipertensi menjadi penyebab 45% kematian aibat serangan jantung dan 51
% kematian akibat stroke di seluruh dunia. Secara global, kematian karena
penyakit jantung dan pembuluh darah berkisar 17 juta jiwa dalam setahun dan
mendkati 1/3 dari keseluruhan kematian. (WHO)
Data WHO tahun 2000 menampilkan, di seluruh dunia, sekitar 972 juta
orang atau 26,4% penghuni bumi mengidap hipertensi dengan perbandingan
26,6% pria dan 26,1% wanita. Angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi
29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berda di negara
maju dan 639 sisanya berada di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia
(Andra,2007). Berdasakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, diketahui
hampir seperempat (24,5%) penduduk Indonesia usia di atas 10 tahun
mengkonsumsi makanan asin setiap hari, satu kil atau lebih. Sementara prevalensi
hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun ke atas.
Dari jumlah itu, 60% penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan
sisanya pada jantung, gagal ginjal, dan kebutaan. Pada orang dewasa, penigkatan
tekanan darah sistolik sebesar 20 mmHg menyebabkan peningktana 60% risiko
meningkatkan kematian akibat penyakit kardiovaskuler.
2
Hipertensi dapat menimbulkan gejala padap penderitanya seperti pusing,
lemas, keletihan, sesak nafas, gelisah, mual/muntah, epistaksis, dan kesadaran
menurun.( Nurarif, Kusuma, 2015). Hipertensi jika tidak tekendali akan
berkembang dan menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Akibatnya bisa fatal
karena sering timbul komplikasi misalnya, stroke(perdarahan otak), penyait
jantung koroner, dan gagal ginjal (Gunawan, 2001). Hipertensi perlu diwaspadai
karena merupakan bahaya diam-diam. Tidak ada gejala atau tanda khas untuk
peringatan dini bagi penderita hipertensi. Selan itu, banyak orang merasa sehat
dan energik walaupun memiliki hipertensi. Penurunan tekanan darah dapat
dilaukan dengan cara farmakologi menggunakan obat-obatan dan non famakologi
yaitu dengan cara teknik distraksi, salah satunya dengan mendengarkan musik,
khususnya musik klasik.
Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisikdan mental dengan
rangsangan suarayang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya
yang diorganisirsedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk
kesehatan fisik dan mental. Setiap musik memiliki potensi tertentu untuk
mempengaruhi kondisi psikologis dan psikis seseorang, baik musik itu adalah
musik klasik maupun bukan musik klasik. Tempo musik klasik menjadi faktor
yang paling penting, jenis musik yang direkomendasikan adalah non-lirik terdiri
dari nada rendah dengan beat 60-80 dB (Joana, 2009 dalam Romadoni, dkk,
2013).
Menuru Tuana (2011) dalam Romadoni,dkk (2013), bahwa rangsangan
musik dapat mengaktibasi jalur-jalur spesifik di dalam beberapa area otak, seperti
sistem Limbik yang berhubungan dengan perilaku emosional.

Berdasarkan hasil pengkajian di Desa gejala yang diungkapkan klien Ny.


R adalah pusing, nyeri tengkuk, dan mata berat. Ny. R mengatakan biasanya
tekanan darahnya mencapai 200/120 mmHg. Perawat merupakan bagian dari tim
kesehatan yang memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan intervensi
kepada pasien, sehingga fungsi dan peran perawat dapat dimaksimalkan dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap penderita seperti memberikan edukasi
3
kesehatan tentang pengobatan non farmakologik pada penderita hipertensi untuk
menurunkan tekanan darah. Perawat juga dapat melakukan pendekatan spiritual,
psikologis, dan mengaplikasikan fungsi edukatornya dengan memberikan latihan
terapi musik klasik untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengangkat kasus
tentang Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sistem Kardiovaskular
Hipertensi di Desa Kraton Kecamatan Kencong Kabupaten Jember.

1.2 Perumusan Masalah


Bagaimana menurunkan tekanan darah pada Ny. R dengan cara non
farmakologik?

BAB II. TUJUAN DAN MANFAAT


2.1 Tujuan
2.1.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari perencanaan untuk gangguan system kardiovaskular
khususnya hipertensi adalah untuk menurunkan tekanan darah pada
penderita hipertensi dengan cara terapi distraksi menggunakan musik
klasik.
2.1.2 Tujuan Khusus
a. Menurunkan tekanan darah klien dengan cara terapi distraksi
b. Meningkatkan status kesehatan klien dengan cara non farmaologik
c. Mengajarkan kepada lansia untuk mencegah komplikasi hipertensi

2.2 Manfaat
Diharapkan dengan adanya upaya peningkatan pemeliharaan kesehatan
memberikan manfaat:
a. Pasien dapat menurunkan tekanan darah dengan cara distraksi
4
b. Pasien dapat meningkatkan status kesehatannya dan memelihara
kesehatannya
c. Pasien dapat mencegah komplikasi hipertensi

5
BAB III
KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH

3.1 Dasar Pemikiran


Lansia adalah seseorang yang usianya 65 tahun ke atas (Setianto, 2004
dalam Efendi & Makhfudli, 2009). Lansia bukanlah penyakit, tetapi merupakan
suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk
beradaptasi dengan stres lingkungan (Pudjiasti, 2003 dalam Efendi & Makhfudli,
2009). Darmabrata & Nurhidayat (2003) membagi kelompok lansia menjadi 4,
yaitu young-old (60-69), middle age old (70-79), old-old (80-89), dan very old (90
tahun ke atas). WHO juga membaginya menjadi 4 kelompok bagian yaitu, middle
age (45-59), elderly (60-74), old (75-90), very old (>90).
Indonesia termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut
usia (aging structured population) karena mempunyai jumlah penduduk dengan
usia 60 tahun ke atas sekitar 7,18%. Peningkatan jumlah lansia antara lain
disebabkan karena tingkat sosial ekonomi masyarakat yang meningkat, kemajuan
di bidang pelayanan kesehatan, dan tingkat pengetahuan masyarakat yang
meningkat (Efendi & Makhfudli, 2009). Usia harapan hidup yang semakin
meningkat membawa konsekuensi tersendiri bagi semua sektor yang terkait
dengan pembangunan. Ada beberapa penyebab kematian pada usia lanjut di
Amerika Serikat adalah kondisi kronis seperti penyakit- penyakit yang tergolong
penyakit terminal illness yaitu penyakit jantung, stroke, lemahnya pernafasan
(Papalia,2007). Pada kenyataannya penyakit jantung, kanker dan stroke terhitung
60 persen yang menyebabkan kematian pada lansia di Amerika Serikat
(Papalia,2007). Hal ini sejalan dengan yang ada di Indonesia. Penyakit-penyakit
yang tergolong dalam terminal illness seperti jantung, stroke, diabetes merupakan
faktor utama penyebab kematian di Indonesia (Sutrisno,2006).
Hipertensi pada lanjut usia sebagian besar merupakan hipertensi sistolik
terisolasi (HST), meningkatnya tekanan sistolik menyebabkan besarnya
kemungkinan timbulnya kejadian stroke dan infark myocard bahkan walaupun
6
tekanan diatoliknya dalam batas normal (Isolated Systolic Hipertention). Isolated
Systolic Hipertention adalah bentuk hipertensi yang paling sering terjadi pada
lansia. Pada suatu penelitian, hipertensi menempati 87% kasusu pada orang yang
berumur 50-59 tahun. Adanya hipertensi, baik HST maupun kombinasi sistolik
dan diastolik merupakan faktor risiko morbiditas dan mortalitas untuk orang lanjut
usia. (Kuswardhani, 2007)

3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah


Penderita hipertensi perlu penanganan yang baik dalam hal mengontrol
tekanan darah. Penatalaksanaan hipertensi ada 2 cara yaitu dengan cara
farmakologik dan non farmaologik. Farmakologi adalah cara dengan
menggunakan obat-obatan antihipertensi seperti obat diuretik. Kemudian
penatalaksanaan non farmakologis adalah dengan memodifikasi gaya hidup yang
dianjurkan, antara lain mengurangi berat badan bila terdapat kelebihan (BMI>27),
diet rendah kalori, olahraga dan akitivitas fisik, mengurangi asupan garam, diet
rendah lemak jenuh, diet tinggi serat, tidak merokok, dan isitirahat yang cukup.
Terapi non famakologis juga dapat dilaukan dengan cara terapi distraksi yaitu
dengan mendengarkan musik klasik.
Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisikdan mental dengan
rangsangan suarayang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya
yang diorganisirsedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk
kesehatan fisik dan mental. Setiap musik memiliki potensi tertentu untuk
mempengaruhi kondisi psikologis dan psikis seseorang, baik musik itu adalah
musik klasik maupun bukan musik klasik. Tempo musik klasik menjadi faktor
yang paling penting, jenis musik yang direkomendasikan adalah non-lirik terdiri
dari nada rendah dengan beat 60-80 dB (Joana, 2009 dalam Romadoni, dkk,
2013).
Menuru Tuana (2011) dalam Romadoni,dkk (2013), bahwa rangsangan
musik dapat mengaktibasi jalur-jalur spesifik di dalam beberapa area otak, seperti
sistem Limbik yang berhubungan dengan perilaku emosional.

7
Tujuan dari terapi musik klasik adalah mengaktivasi jalur-jalur sistem
Limbik yang berhubungan degan perilau emosional agar individu tersebut menjadi
rileks. Saat keadaan rileks inilah tekanan darah menurun. Selain itu pula alunan
musik dapat menstimulasi tubuh untuk memproduksi molekul yang disebut Nitrik
Oxide (NO)

8
BAB IV
RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Realisasi Penyelesaian Masalah


Mahasiswa melakukan kegiatan pelaksanaan pelatihan terapi musik klasik
pada Ny. R khususnya terkait dengan penanganan hipertensi dengan cara
menerangkan dan mempraktikkan secara langsung serta memberikan leaflet agar
Ny. R mampu memahami dan menerapkan kegiatan pelatihan terapi musik untuk
menurunkan tekanan darahnya.
.
4.2 Khalayak Sasaran
Khalayak sasaran pendidikan kesehatan tentang terapi musik klasik
dilakukan pada Pasien kelolaan yaitu Ny. R

4.3 Metode yang Digunakan


Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan kesehatan
tentang terapi musik klasik dengan metode ceramah sekaligus mempraktekkan
pada Ny. R. Ceramah dilakukan dengan cara penyampaian materi pada keluarga
Ny. R dan dilanjutkan untuk terapi mendengakan musik pada Ny. R

9
DAFTAR PUSTAKA
Andra. 2007. Ancaman Serius Hipertensi di Indonesia. (http://www.majalah-
farmacia.com/rubric/one_news.asp?IDNews=256, diakses pada 18
september 2017

Kuswardhani, Tuty. 2007. Penatalaksanaan Hipertensi pada Lansia.

Nuraif, Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis dan NANDA. Mediaction: Yogyakarta

Romadoni, dkk. 2013. Pengaruh Terapi Musik Klasik Terhadap Penurunan


Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang. Vol. 1 Edisi 3:

10
Daftar Lampiran

Lampiran 1. Berita Acara


Lampiran 2. Daftar Hadir
Lampiran 3.SAP
Lampiran 4. SOP Pemberian Terapi Musik Klasik
Lampiran 5. Materi
Lampiran 6. Media
Lampiran 7. Foto Kegiatan

11
Lampiran 1. Berita Acara

BERITA ACARA KEGIATAN PENDIDIKAN


KESEHATAN TERAPI MENDENGARKAN MUSIK
KLASIK
PSIK UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN AJARAN 2017/2018

BERITA ACARA

Pada hari ini, ........ tanggal ... September 2017pukul .WIB s/d selesai
bertempat di Desa Kraton RT 004 RW 015 Kecamatan Kencong Kbupaten Jember
telah dilaksanakan kegiatan LatihanTerapi mendengakan musik klasik oleh
Mahasiswa PSIK Universitas Jember. Kegiatan ini diikuti oleh .. orang (daftar
telah terlampir).

Jember, November 2017

Mengetahui,

Dosen Pembimbing Mahasiswa Profesi

Ns. Jon Hafan S,M.Kep.,Sp.Kep.MB Zulaihah


NIP 19840102 201504 1 002 NIM 172310101226
12
Lampiran 2. Daftar Hadir
DAFTAR HADIR KEGIATAN PENDIDIKAN
KESEHATAN TERAPI MENDENGARKAN MUSIK
KLASIK
PSIK UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN AJARAN 2017/2018

DAFTAR HADIR
Implementasi Terapi Mendengakan Musik Klasik oleh Mahasiswa PSIK
Universitas Jember: hari ini, ........ tanggal ... November 2017 pukul . WIB
s/d selesaiTempat: Desa Kraton RT 004 RW 015 Kecamatan Kencong, Kabupaten
Jember.
No. Nama Alamat Tanda Tangan
1 1.
2 2.
3 3.
4 4.
5 5.

Jember, November 2017

Mengetahui,
Dosen Pembimbing

Ns. Jon Hafan S,M.Kep.,Sp.Kep.MB


NIP 19840102 201504 1 002
13
Lampiran 3. SAP
SATUAN ACARA PENYULUHAN PENDIDIKAN KESEHATAN
TERAPI MENDENGAKAN MUSIK KLASIK
PSIK UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN AJARAN 2017/2018

Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

Topik/materi : Terapi Mendengakan Musik Klasik


Sasaran : Ny. R
Waktu : WIB
Hari/Tanggal : , . November 2017
Tempat : Rumah Ny. R Desa Kraton RT 004 RW 015 Kecamatan Kencong
Kabupaten Jember
Standar Kompetensi
Setelah mendapatkan pelatihan terapi mendengarkan musik klasik, pasien
dapat melakukan terapi mendengarkan musik klsik secara mandiri

1. Kompetensi Dasar
Setelah mendapatkan pelatihan diharapkan Ny. R mampu:
a. Memahami konsep Latihan Terapi Mendengakan musik Klasik
b. Memahami tujuan dan manfaat mendengakan musik klasik
c. Mendemonstrasikan latihan terapi musik klasik
2. Pokok Bahasan:
Pemberian terapi musik klasik
3. Subpokok Bahasan
a. Latihan terapi mendengarkan musik klasik

4. Waktu
1 x 30 Menit

5. Bahan/Alat yang digunakan

14
Tape Music/ Handphone
Headset
CD Musik/file lagu

6. Model Pembelajaran
a. Jenis model pembelajaran : Pertemuan individu
b. Landasan Teori : Behaviorisme
c. Landasan Pokok :
1. Menciptakan suasana ruangan yang nyaman
2. Mengajukan masalah
3. Membuat keputusan nilai personal
4. Mengidentifikasi pilihan tindakan
5. Memberi komentar
6. Menetapkan tindak lanjut

7. Persiapan
Mahasiswamenyiapkan materi tentang terapi mendengarkan musik klasik
dan menyiapkan alat dan kondisi pasien.

8. Kegiatan Pendidikan Kesehatan


Tindakan
Proses Waktu
Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
Pendahuluan a. Memberikan salam, Memperhatikan dan 5 menit
memperkenalkan diri, menjawab salam
dan membuka
penyuluhan
b. Menjelaskan materi Memperhatikan
secara umum dan
manfaat bagi peserta
c. Menjelaskan TIU dan Memperhatikan

15
TIK
Penyajian a. Mengkaji adanya Kooperatif sesuai 25menit
ketidakpahaman dengan tindakan

b. Menyiapkan alat dan Klien


bahan mendengarkan
musik
c. Mulai latihan terapi
mendengarkan musik
klasik Kenny G Heart
and Soul.
Penutup a. Menutup pertemuan Memperhatikan 5 menit
dengan memberi
kesimpulan dari materi
yang disampaikan
b. Mengajukan pertanyaan Memberi saran
kepada peserta
c. Mendiskusikan bersama Memberi komentar
jawaban dari pertanyaan dan menjawab
yang telah diberikan pertanyaan bersama
d. Menutup pertemuan Memperhatikan dan
dengan memberi salam membalas salam

16
Lampiran 4. SOP

JUDUL SOP:

PEMBERIAN TERAPI MUSIK KLASIK

NO DOKUMEN: NO REVISI: I HALAMAN:


PROSEDUR
TANGGAL TERBIT: DITETAPKAN OLEH:
TETAP

1. PENGERTIAN Terapi musik adalah usaha


meningkatkan kualitas fisikdan
mental dengan rangsangan
suarayang terdiri dari melodi, ritme,
harmoni, timbre, bentuk dan gaya
yang diorganisir sedemikian rupa
hingga tercipta musik yang
bermanfaat untuk kesehatan fisik
dan mental.
2. TUJUAN Memperbaiki kondisi fisik,
emosional, dan kesehatan spiritual
pasien.
3. INDIKASI Pasien dengan hipertensi dan
gangguan depresi
4. KONRAINDIKASI
5. PERSIAPAN KLIEN 1. Berikan salam, perkenalkan diri
Anda dan identifikasi responden
dengan memeriksa identitas
responden secara cermat.
2. Jelaskan tentang prosedur
17
tindakan, tujuan dan lamanya
tindakan kepada klien dan
keluarga.
3. Atur posisi responden sehingga
merasakan aman dan nyaman.

6. PERSIAPAN ALAT Headset. Handphone, lagu

7. TAHAP KERJA:
1. Berikan kesempatan klien bertanya sebelum bekerja.
2. Menanyakankeluhan utama klien
3. Jaga privasi klien. Memulai kegiatan dengan cara yang baaik.
4. Menetapkan perubahan pada perilaku dan/atau fisiologi yang diinginkan
seperti relaksasi, stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit.
5. Menetapkan ketertarikan klien terhadap musik.
6. Berdiskusi dengan klien dengan tujuan berbagi pengalaman dalam
musik.
7. Bantu klien untuk memilih posisi yang nyaman.
8. Batasi stimulasi eksternal seperti cahaya, suara, pengunjung, panggilan
telepon selama mendengarkan musik.
9. Dekatkan tape music/handphone dan perlengkapan dengan klien.
10. Dukung dengan headphone jika diperlukan.
11. Nyalakan music dan lakukan terapi music.
12. Pastikan volume musik sesuai dan tidak terlalu keras.
13. Hindari menghidupkan musik dan meninggalkannya dalam waktu yang
lama.
14. Fasilitasi jika klien ingin berpartisipasi aktif seperti memainkan alat
musik atau bernyanyi jikan diinginkan dan memungkinkan saat itu.
15. Hindari stimulasi musik setelah nyeri/luka kepala akut.
16. Menetapkan perubahan pada perilaku dan/atau fisiologi yang diinginkan

18
seperti relaksasi, stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit.

8. TERMINASI:
1. Evaluasi hasil kegiatan (kenyamanan klien)
2. Beritahu klien bahwa tindakan sudah selesai
3. Bereskan alat-alat yang telah digunakan
4. Kaji respon responden (subyektif dan obyektif)
5. Berikan reinforcement positif pada klien
6. Kontrak pertemuan selanjutnya
7. Akhiri kegiatan dengan baik
8. Cuci tangan.

9. DOKUMENTASI
Catat hasil kegiatan di dalam catatan keperawatan
- Nama Px, Umur, Jenis kelamin, dll
- Keluhan utama
- Tindakan yang dilakukan (terapi musik)
- Lama tindakan
- Jenis terapi music yang diberikan
- Reaksi selama, setelah terapi pemberian terapi musik
- Respon pasien.
- Nama perawat
- Tanggal pemeriksaan

19
Lampiran 5. Materi

TERAPI MUSIK KLASIK PADA PASIEN HIPERTENSI

1. Definisi
Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya dalah suatu
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan
nutrisi yang dibawa oleh darah terlambat sampi ke jaringan tubuh. Hipertensi
sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer), karena termasuk
penyakit yang mematikan karena tanpa disertai dengan gejala-gejalanya
terlebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya. (Lanny Sustrani,dkk,
2004). Hipertensi adalah sebagia peningkatan tekanan darah sistolik
sedikitnya 140 mmHg atau tekanan darah diastolik sedikitnya 90 mmHg.
(Sylvia A. Price dalam Nuraif dkk, 2015).
Kenaikan tekanan darah sistolik >140 mmHg dan tekanan darah
diastolik >90mmHg. Jika tekanan darah anda adalah 140/90 mmHg maka
sistoliknya 140 mmHg dan diastoliknya 90 mmHg.

2. Penyebab
Obesitas
Stress
Merokok
Alkohol
Faktor keturunan
Faktor lingkungan: bising, gaduh

3. Klasifikasi
Hipertensi diklasifikasikan menjadi dua :
a. Hipertensi Ringan : jika tekanan darah diastoliknya 90-104 mmHg.
b. Hipertensi Sedang : jika tekanan darah diastoliknya 105-114 mmHg.
c. Hipertensi Berat : jika tekanan darah diastoliknya >115 mmHg.

20
4. Manifestasi Klinis
a. Sakit kepala
b. Pusing
c. Lemas
d. Sesak nafas
e. Lemas
f. Kesemutan
g. Kelelahan
h. Rasa berat di tengkuk
5. Pencegahan
Periksa tekanan darah
Kurangi kebiasaan merokok
Kontrol emosi
Kurangi makanan berkolesterol tinggi
Olah raga secara rutin
Menghindari strees
Hindari minuman beralkohol
Mengendalikan diabetes dan penyakit jantung

6. Penatalaksanaan
Pantau tekanan darah
Latihan gerak sendi anggota badan
Terapi bicara
Terapi obat-obatan
Kurangi aktifitas yang berlebih
Rujuk ke pelayanan kesehatan

7. Latihan Rentang Gerak


8. Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisikdan mental dengan
rangsangan suarayang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk

21
dan gaya yang diorganisirsedemikian rupa hingga tercipta musik yang
bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental. Setiap musik memiliki
potensi tertentu untuk mempengaruhi kondisi psikologis dan psikis
seseorang, baik musik itu adalah musik klasik maupun bukan musik
klasik. Tempo musik klasik menjadi faktor yang paling penting, jenis
musik yang direkomendasikan adalah non-lirik terdiri dari nada rendah
dengan beat 60-80 dB (Joana, 2009 dalam Romadoni, dkk, 2013).

22
Lampiran 6. Media

23