Anda di halaman 1dari 39

KONSEP PENJAMINAN DAN METODE AUDIT ETIK-DISIPLIN PROFESI

DALAM KOMITE KEPERAWATAN

Penyusun
Ns. Candra Dewi Rahayu, S. kep

Editor
Ns. Kusnadi Jaya, S. Kep

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015
A. KATA PENGANTAR

Mahasiswa Magister Keperawatan, Konsentrasi Manajemen Keperawatan,

Bermaksud mengadakan Seminar Ilmiah dan Pelatihan Pengembangan Komite

Keperawatan di Rumah Sakit dengan tema Pengembangan Profesionalisme

Berkelanjutan Melalui Penjaminan Mutu dan Etik-Disiplin Profesi dalam Praktek

Keperawatan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan

Sumber Daya Manusia (SDM) terutama dalam menyiapkan pembentukan dan

peningkatan komite keperawatan rumah sakit.

Untuk memperlancar kegiatan pelatihan tersebut, maka disusunlah buku pedoman

Penjagaan dan Audit Etik-Disiplin Profesi Dalam Komite Keperawatan. Harapan

kami, dengan tersedianya buku ini, mutu penyelenggaraan pelatihan dapat ditingkatkan.

Demikian dan selamat mengikuti pelatihan

Semarang, September 2014

Penyususn

1|MODUL ETIK - DISIPLIN


B. DAFTAR ISI

A. Kata Pengantar ----------------------------------------------------------------------- 1


B. Daftar Isi ------------------------------------------------------------------------------ 2
C. Daftar Gambar ------------------------------------------------------------------------ 3
D. Pendahuluan -------------------------------------------------------------------------- 4
1. Tujuan Instridksional Umum --------------------------------------------------- 6
2. Entry Behavior --------------------------------------------------------------------- 6
3. Pentingnya Pempelajari Modul -------------------------------------------------- 8
E Sajian Materi -------------------------------------------------------------------------- 9
1. Uraian Materi ---------------------------------------------------------------------- 9
a. Konsep Penjagaan Etik Dan Disiplin ------------------------------------- 9
1) Etika Profesi Keperawatan -------------------------------------------- 10
2) Disiplin Profesi Keperawatan ----------------------------------------- 14
b. Metoda Audit Etik dan Disiplin
1) Metoda FPPE ----------------------------------------------------------- 16
2) Metoda OPPE ----------------------------------------------------------- 22
2. Contoh dan Ilustrasi -------------------------------------------------------------- 24
3. Latihan ------------------------------------------------------------------------------ 30
F. Rangkuman --------------------------------------------------------------------------- 31
G. Glosarium ----------------------------------------------------------------------------- 35
H. Daftar Pustaka ------------------------------------------------------------------------ 37

2|MODUL ETIK - DISIPLIN


C. DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 format FPPE (Focused Professional Practice Evaluation) ---------- 17

Gambar 2 Evaluastin Report --------------------------------------------------------- 18

Gambar 3 Gambar estimasi time line depertemen review dalam minggu ----- 19

Gambar 4 Departemen review ------------------------------------------------------ 21

3|MODUL ETIK - DISIPLIN


D. PENDAHULUAN

Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan mempunyai fungsi

penyelenggaraan pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia,

serta penyelenggaraan penelitian, pengembangan dan penapisan teknologi bidang

kesehatan. Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit dalam pasal 13

ayat (3) mengamanatkan bahwa Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit

harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan Rumah Sakit, standar

prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, menghormati hak pasien dan

mengutamakan keselamatan pasien. Selanjutnya dalam Undang-Undang nomor 36

tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 63 dinyatakan bahwa penyembuhan penyakit dan

pemulihan kesehatan dilakukan dengan pengendalian, pengobatan dan/atau perawatan

serta dilakukan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang

dapat dipertanggungjawabkan kemanfaatan dan keamanannya. Pelaksanaan pengobatan

dan/atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat

dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.

Penyelenggaraan pelayanan keperawatan di Rumah Sakit ditentukan oleh tiga

komponen utama yaitu : a) jenis pelayanan keperawatan yang diberikan; b) sumber daya

manusia tenaga keperawatan sebagai pemberi pelayanan; dan c) manajemen tata kelola

pemberian pelayanan. Mengingat besarnya populasi tenaga keperawatan di Rumah Sakit

maka dibutuhkan tenaga keperawatan yang kompeten, mampu berpikir kritis, selalu

berkembang serta memiliki etika profesi sehingga pelayanan keperawatan dapat

diberikan dengan baik, berkualitas dan aman bagi pasien dan keluarganya, sebagaimana

diamanatkan Undang-Undang Nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan pasal 28

bahwa praktik keperawatan harus didasarkan pada kode etik, standar pelayanan, standar

profesi, dan standar prosedur operasional.

4|MODUL ETIK - DISIPLIN


Agar profesionalisme tenaga keperawatan dapat tumbuh dan terus berkembang

maka dibutuhkan suatu mekanisme dan sistem pengorganisasian yang terencana dan

terarah yang diatur oleh wadah keprofesian yang sarat dengan aturan dan tata norma

profesi sehingga dapat menjamin bahwa sistem pemberian pelayanan dan asuhan yang

diterima oleh pasien, memang diberikan oleh tenaga keperawatan dari berbagai jenjang

kemampuan atau kompetensi dengan benar (scientific) dan baik (ethical) serta dituntun

oleh etika profesi. Wadah pengorganisasian hal tersebut dikenal dengan Komite

Keperawatan.

Komite Keperawatan sendiri sebenarnya telah dikenal sejak lama berkat

Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 1 tahun 2002 tentang Pedoman Susunan

Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Daerah. Tetapi pelaksanaannya masih belum

memberikan kontribusi maksimal terhadap pengembangan profesionalisme keperawatan

dan tata kelola klinis yang bermutu, sehingga akhirnya diatur kembali melalui Peraturan

Menteri Kesehatan nomor 49 tahun 2013 tentang Komite Keperawatan Rumah Sakit.

Meskipun Permenkes ini lahir lebih dulu dari Undang-Undang Keperawatan, dan bukan

merupakan peraturan turunan dari Undang-Undang tersebut, namun kaidah-kaidahnya

sejalan dengan gagasan pengembangan profesionalisme yang diinginkan oleh Undang-

Undang Keperawatan. Bahkan hasil kerja Komite Keperawatan yang baik juga menjadi

salah satu daya ungkit Akreditasi Rumah Sakit Instrumen KARS versi 2012 edisi 1.

5|MODUL ETIK - DISIPLIN


1. Tujuan Instruksional Umum

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta mengenai penjagaan etik

dan disiplin perawat dalam konteks pengembangan keprofesian berkelanjutan dalam

wadah Komite Keperawatan.

2. Entry Behavior

Di Indonesia melalui perjuangan yang cukup panjang, maka pada tahun 1976

telah disepakati dan diterima kode etik perawat Indonesia yang merupakan salah satu

langkah maju demi pertumbuhan keperawatan profesional. Tujuan keperawatn adalah

memberikan asuhan keperawatn baik secara individu maupun berkelompok yang titik

sentralnya adalah manusia dengan memperhatikan harkat, martabat dan penghargaan

terhadap keluhuran insani.

Sebagai seorang profesional, perawat menerima tanggung jawab dan

mengemban tanggung jawab untuk memnbuat keputusan dan mengambil langkah-

langkah tentang asuhan keperawat yang diberikan. Perawat juga bekerja di berbagai

tatanan dan mengemban berbagai peran yang membutuhkan interaksi bukan saja

dengan klien/pasien, keluarga dan masyarakat tetapi juga dengan tim kesehatan lain.

Dalam melaksanakan tugasnya perawat akan sering mengalami konflik, baik

dengan klien/pasien beserta keluarganya maupun dengan tim kesehatan lain.

Disamping itu perawat harus mempertahankan dan meningkatkan kompetensinya

dalam praktek sesuai dengan perkembangan IPTEK keperawatan dan kesehatan,

terutama yang berkaitan dengan perpanjangan hidup yang sering menimbulkan

dilema etik. Etik keperawatan berkaitan dengan hak, tanggung jawab dan kewajiban

dari tenaga keperawatan profesional dan institusi pelayanan dimana klien/pasien

dirawat. Pernyataan kode etik perawat dibuat untuk membantu dalam pembuatan

standar dan merupakan pedoman dalam pelaksanaan tugas, kewajiban dan tanggung

6|MODUL ETIK - DISIPLIN


jawab perawat profesional. Kode etik merupakan ciri mutlak dari suatu profesi yang

memberi makna bagi pengaturan profesi itu sendiri meliputi bentuk pertanggung

jawaban dan kepercayaan yang dilakukan oleh masyarakat.

Saat seseorang mulai memasuki profesi keperawatan, maka ia sceara langsung

akan menerima tanggung jawab, kepercayaan dan kewajiban yang melekat pada kode

etik itu sendiri. Telaah tentang maslaah etik dan isu/konflik yang mungkin timbul

dalam praktek keperawatan dapat dipakai sebagai landasan kerja bagi perawat dalam

pendekatan yang sistematik terhadap perilaku etis. Hal ini juga akan memberikan

peningkatan kesadaran tentang bergam masalah etik dan pengambilan keputusan

dalam asuhan keperawatan.

Perawat dapat menjaga perspektif etis dengan jalan menyadari bahwa semua

keputusan yang diambil dalam praktek mempunyai dimensi etis. Hal ini disebabkan

karena perawat bekerja dengan berbagai urusan manusia yang berbeda dan membuat

pertimbangan-pertimbangan tentang apa yang perlu dilakukan untuk mereka.

Regulasi menjadi penting karena regulasi merupakan kebijakan/ketentuan yang

menagtur profesi keperawatan dalam melaksanakan tugas sprofesinya dan tekait

kewajiban dan hak. Pada saat ini regulasi dilakukan dengan mengacu pad keputusan

Menteri Kesehatan no. 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktek keperawatan

yang dibuat oleh konsil keperawatan serta per,enkes no. 49 tahun 2013 tentang

komite keperawatan Dengan adanya registrasi, lisensi dan sertifikasi, serta

penjaminan etik dan disiplin maka mutu pelayanan dan tingkat kepuasan klien

meningkat dan malpraktek dapat dicegah. Modul etik dan disiplin ini disusun dengan

maksud dan tujuan untuk memberikan landasan tentang mengapa perawat harus

mempelajari dan menghayati tentang etika profesi keperawatan.

7|MODUL ETIK - DISIPLIN


3. Pentingnya Mempelajari Modul

Setelah mempelajari modul ini perawat sebagai bagian dari tim sub komite etik dan

disiplin mampu untuk:

a. Menyusun Standar Etik Profesi, hak dan kewajiban perawat/ bidan, hak dan

kewajiban pasien, peraturan rawat inap dan mensosialisakannya.

b. Menyusun prosedur penanganan etik/ disiplin profesi dan sanksinya.

c. Mengevaluasi penerapan kode etik profesi keperawatan dan kebidanan.

d. Membantu ketua komite dalam memberikan rekomendasi/ masukan kepada

departemen keperawatan terhadap tenaga keperawatan yang melakukan

pelanggaran etik/ disiplin profesi.

e. Melakukan sosialisasi dan promosi tentang disiplin profesi kepada seluruh tenaga

keperawatan.

f. Melakukan pembinaan terhadap tenaga keperawatan yang melanggar etik/

disiplin profesi.

g. Bekerjasama dengan panitia K3RS dalam memantau ketertiban dan kepatuhan

peraturan rumah sakit serta rawat inap.

8|MODUL ETIK - DISIPLIN


E. SAJIAN MATERI

1. Uraian Materi

Komite keperawatan merupakan gabungan dari karakteristik terbaik beberapa

individu untuk menghasilkan hasil yang efektif, berfungsi mengumpulkan dan

memberikan informasi, memberikan masukan atau nasehat, membuat keputusan,

bernegosiasi, mengkoordinasi dan berpikir kreatif untuk menyelesaikan masalah

operasional dan maningkatkan mutu pelayanan. Komite keperawatan juga merupakan

sebuah wadah non struktural rumah sakit yang mempunyai fungsi utama

mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan melalui

mekanisme kredensial, penjagaan mutu atau profesi dan memelihara etika dan

disiplin profesi serta emiliki otonomi untuk mengatur diri sendiri dalam upaya

meningkatkan kerja profesionalnya (Hamid AY. 2000, Swansburg dalam Ernawati.

2010, Permenkes No 49 tahun 2013).

Dijelaskan dalam Permenkes No. 49 tahun 2013 tentang Komite Keperawatan

Rumah sakit dalam pasal 2 yang menegaskan bahwa penyelenggaraan komite

keperawatan dibentuk untuk dapat meningkatkan profesionalisme tenaga

keperawatan serta mengatur tata kelola klinis yang baik agar mutu pelayanan

keperawatan yang berorientasi pada keselamatan pasien di Rumah Sakit lebih

terjamin dan terlindungi. Dalam pasal 11 ayat 1(c) menjelaskan salah satu tugas

Komite Keperawatan perlu dilengkapi dengan sub Komite Etik dan Disiplin, yang

meiliki tugas utama dalam pembinaan etik dan disiplin tenaga keperawatan.

a. Konsep Penjagaan Etik dan Disiplin Profesi

Nilai etik sangat diperlukan bagi tenaga keperawatan sebagai landasan

dalam memberikan pelayanan yanng manusiawi berpusat pada pasien. Prinsip

caring merupakan inti pelayanan yang diberikan oleh tenaga keperawatan.

9|MODUL ETIK - DISIPLIN


Pelanggaran terhadap standar pelayanan, disiplin profesi keperawatan dan

kebidanan hampir selalu dimulai dari pelanggaran nilai moral-etik yang akhirnya

akan merugikan pasien dan masyarakat.

Beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah etik antara lain

tingginya beban kerja tenaga keperawatan, ketidakjelasan Kewenangan Klinis,

menghadapai keadaan pasien gawat-kritis dengan kompetensi yang rendah serta

pelayanan yang sudah berorientasi pada bisnis.

Kemampuan praktek yang etis hanya merupakan kemampuan yang

dipelajari pada saat masa pendidikan, belum merupakan hal yang penting

dipelajari dan diimplementasikan dalam praktek. Berdasarkan hal tersebut,

penegakan disiplin profesi dan pembinaan etika profesi perlu dilakukan secara

terencana, terarah dan dengan semangat yang tinggi sehingga pelayanan

keperawatan dan kebidanan yang diberikan benar-benar menjamin pasien akan

aman dan memberikan kepuasan.

1) Etika Profesi Keperawatan

Etik berasal dari kata ethics yang berarti prinsip moral atau aturan

beperilaku, aturan tersebut dihimpun dalam suatu pedoman yang disebut kode

etik. Sedangkan pengertian etika secara umum Menurut Bertens K (2000)

dalam Sumijatun 2011

a) Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi

seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

b) Kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud disini adalah Kode

Etik.

c) Ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh

berkaitan dengan moral filsafat moral.

10 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
Etika profesi adalah Sistem dari prinsip-prinsip moral atau aturan-

aturan perilaku yang diterapkan pada suatu profesi (misalnya : Profesi

Keperawatan). Etiket Profesi berarti perilaku yang diharapkan bagi setiap

anggota profesi untuk bertindak dengan kasitas profesionalnya (Tabbner,

1981). Contoh : Memenuhi kebutuhan pasien.

Etika dalam keperawatan mempunyai peranan penting dalam

menentukan perilaku yang beretika dan dalam pengambilan keputusan etis,

prinsip berfungsi secara spesifik apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan,

atau diijinkan dalam suatu keadaan yang diperlukan untuk membuat

keputusan etis (potter & perry, 2005)

Etika dan moral merupakan sumber dalam merumuskan standar dan

prinsip-prinsip yang menjadi penuntun berperilaku serta membuat keputusan

untuk melindungi hak-hak manusia. Etika diperlukan oleh semua profesi,

termasuk juga keperawatan, yang mendasari prinsip-prinsip suatu profesi dan

tercermin dalam standar praktek profesi (Donheny, Cook, Stoper, 1982).

Prinsip-Prinsip Moral / Etis dalam mengambil keputusan perawat hendaknya

senantiasa mendasarkan dan mempertimbangkan pada prinsip-prinsip moral

yang sifatnya universal.

Prinsip yang paling dasar adalah : Hormat terhadap pribadi manusia

.Pribadi manusia yang memiliki martabat yang begitu tinggi dan luhur,

karena manusia diciptakan oleh Allah sendiri sesuai dengan citranya. Dari

prinsip dasar inilah dikembangkan prinsip-prinsip lain yaitu : Menghargai

otonomi (Autonomy), tidak merugikan (non maleficence), berbuat baik

beneficence), adil (justice), jujur (Veracity), menjaga kerahasiaan

11 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
(Privacy/Confidentiality), setia/memegang teguh janji (fidelity) dan menjaga

kerahasiaan (confidentiality)

a) Menghargai otonomi :

Perawat wajib menyadari dan menghargai keunikan individu, yaitu

menghargai hak orang tersebut untuk menjadi dirinya sendiri, hak untuk

memutuskan tujuan bagi dirinya sendiri. Misalnya :

1) Meminta persetujuan setiap tindakan yang akan dilakukan pada

pasien.

2) Menghargai hak-hak pasien dalam mengambil keputusan.

3) Menerima keluhan-keluhan subyektif pasien.

4) Meminta informed consent bila akan dilakukan suatu pemeriksaan

dan tindakan-tindakan untuk terapi.

b) Tidak merugikan

Kewajiban untuk tidak berbuat yang merugikan / membahayakan.

Membahayakan ini bisa dengan sengaja, resiko dan tidak dimaksudkan.

Membahayakan dengan sengaja adalah tidak dapat diterima dan

dibenarkan secara etis. Tidak bermaksud membahayakan, resiko juga

harus dipertimbangkan tingkatannya, dimana kebaikannya dan

manfaatnya akan lebih besar dari pada bahaya atau kerugiannya.

c) Berbuat baik

Perawat wajib berbuat kebaikan yang menguntungkan pasien, dan disini

perawat sekaligus juga mempertimbangkan kerugian atau yang

membahayakan pasien. Misalnya : Perawat menganjurkan pasien dengan

penyakit jantung untuk mengikuti program latihan fisik secara intensif

dengan maksud meningkatkan kesehatannya secara umum, tetapi itu tidak

12 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
perlu dilakukan, karena dengan latihan intensif tersebut ada resiko bagi

pasien terkena serangan jantung.

d) Adil

Perawat wajib berlaku adil dalam membuat keputusan dan bertindak untuk

pasiennya. Misalnya :

1) Perawat seorang diri bertugas di IGD, menerima pasien 2 orang, mana

pasien yang harus diberi pengobatan dulu ? Apa pertimbangannya ?

2) Misalnya menolong dulu pasien yang lebih gawat dan kesakitan.

3) Bila peralatan atau tenaga terbatas, sedangkan kebutuhannya lebih,

bagaimana perawat membagi peralatan dan tenaga yang ada tersebut

dipertimbangkan dengan rasa keadilan sesuai dengan kebutuhan

obyektif.

e) Kesetiaan

Perawat berkewajiban memegang/menepati perjanjian/persetujuan yang

telah dibuat dan bertanggung jawab atas kesanggupannya sehingga dapat

dipercaya.Misalnya : Perawat yang sudah berjanji pada pasiennya akan

mengganti pembalut yang kotor setelah pasien makan, dan perawat

menepati janjinya itu.

f) Kejujuran

Perawat wajib mengatakan hal yang sebenarnya, dengan bijaksana demi

kebaikan pasiennya. Misalnya : Perawat memberitahukan keadaan

penyakit pasien yang sebenarnya kepada pasien yang ingin

mengetahuinya, dengan tetap mempertimbangkan situasi dan kesiapan

pasien untuk menerimanya.

g) Menjaga kerahasiaan

13 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
Hal ini dijelaskan dalam UU No 38 tahun 2014 tentang keperawatan pasal

38 huruf e yang kemudian diperjelas dalampasal 39 ayat 1 bahwa

pengungkapan rahasia kesehatan Klien dilakukan atas dasar: kepentingan

kesehatan Klien, pemenuhan permintaan aparatur penegak hukum dalam

rangka penegakan hukum, persetujuan Klien sendiri, kepentingan

pendidikan dan penelitian dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

2) Disiplin Profesi Keperawatan

Istilah ini dikembangkan dari latin yaitu disciplina (disciplus) yang

berarti instruktion, teaching. Dijelaskan juga dalam cassells new latin

dictionary disebutkan juga body of knowladge that which is touch, learning

science. Dalam arti yang lebih luas juga disebitkan sebagai training,

education dicipline of boys, of slaves, military training, dicipline, ordered

wau of life (Guwandi 2005).

Adapun disiplin profesi pada dasarnya adalah etika yang khusus

berlaku bagi orang atau kelompok orang tertentu yang melakukan praktik

profesi tertentu pula, namun dengan bentuk dan kekuatan sanksi yang lebih

tegas dibanding sanksi etika pada umumnya, meskipun tetap lebih lunak

dibandingkan sanksi hukum. Sanksi yang diancamkan oleh suatu disiplin

profesi relatif lebih keras dibandingkan sanksi etika pada umumnya, karena

sanksi disiplin berkaitan dengan dapat atau tidaknya pemegang profesi

tertentu untuk terus memegang atau menjalankan profesinya. Dalam UU No

38 tahun 2014 dalam keperawatan yang mengatur tentang disiplin profesi

adalah konsil keperawatan. Dijelaskan dalam pasal 50 huruf d bahwa konsil

keperawatan menetapkan dan memberikan sanksi disiplin profesi. Perawat

Jika kita merujuk pada UU No 29 tahun 2004 dapat diketahui bahwa arti

14 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
disiplin profesi adalah aturan-aturan dan/atau ketentuan penerapan keilmuan

dalam pelaksanaan pelayanan.

Dimasukkannya etika profesi dan disiplin profesi ke dalam suatu

Undang-Undang menurut Mahkamah harus dipahami bahwa pembentuk

Undang-Undang memberi penekanan pentingnya etika profesi dan disiplin

profesi untuk dilaksanakan sebagai pedoman bagi perilaku bidan mau[un

perawat. Hal yang harus digaris bawahi adalah meskipun etika profesi dan

disiplin profesi dimaksud diatur/dimuat di dalam sebuah Undang-Undang,

tidak dapat langsung diartikan bahwa etika dan disiplin profesi dimaksud

memiliki konsekuensi hukum yang sama dengan norma hukum yang berada

di dalam Undang-Undang yang sama. Jika etika profesi dan disiplin profesi

yang diatur dalam suatu Undang-Undang diberi kekuatan berlaku (dan

mengikat) yang sama dengan norma hukum di dalam Undang-Undang, maka

konsekuensinya adalah pelanggaran terhadap etika profesi dan disiplin profesi

akan dikenai sanksi hukum, terutama sanksi pidana dan sanksi perdata,

padahal pelanggaran atas etika profesi dan disiplin profesi hanya dapat

dikenai sanksi secara etika pula dan/atau secara administratif. Dengan kata

lain meskipun etika profesi, disiplin profesi, dan norma hukum dimaksud

ketiganya dimuat dalam Undang-Undang yang sama, namun secara normatif

tidak dapat saling meniadakan atau saling menggantikan.

b. Metode Audit Etik dan Disiplin Profesi

Audit dengan menggunakan FPPE (Focused Professional Practice

Evaluation) dan OPPE (Ongoing Professional Practice Evaluation) bertujuan

untuk membangun kompetensi profesi untuk memberikan pelayanan kesehatan

15 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
yang aman dan berkualitas bagi pasien sesuai dengan standar akreditasi (Tricia

Marriott, 2010)

1) Metode FPPE (Focused Professional Practice Evaluation)

Join Commission Acreditation mendefinisikan bahwa FPPE adalah

suatu bentuk evaluasi terbatas dalam melakukan pemantauan kinerja dan

kompetensi pemberi layanan kesehatan dalam melakukan kewenangan klinis

tertentu untuk mencapai sebuah pelayanan yang berkualitas dan aman bagi

pasien (The Join commission, 2011 and Tricia Marriott, 2010).

Evaluassi dengan FPPE sangat penting dilakukan keberhasilan

melakukan evaluasi ini menunjukan kemampuan rumah sakit dalam

menerapkan kebijakan dan aturan-aturan internal rumah sakit itu sendiri.

Evaluasi ini harus dilakukan dalam satu periode tertentu diisi oleh oleh kepala

bagian/kepala ruang dan harus dilaporkan kepada komite keperawatan,

bentuk evaluasi akan berbeda-beda sesuai dengan kewenangan klinis masing-

massing.

Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan FPPE menurut

Departement of Medicine di Northwestern University Feinberg School of

Medicine langkah yang pertama adalah perencanaan dimana dalam langkah

ini harus ditentukan terlebih dahulu jangka waktu yang akan digunakan dalam

evaluasi misal dibagi dalam tiga periode waktu dalam melakukan evaluasi

dengan FPPE yaitu:

1. Periode satu bulanan

Bisa dilakukan jika dokter/perawat telah memmiliki pengalaman minimal

lima tahun

16 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
2. Periode tiga bulanan

Jika dokter/perawat mempumyai pengalaman kurang dari lima tahun atau

klinisi tersebut tidak aktif selama enam bulan

3. Peride enam bulanan

Klinisi tidak aktif dalam jangka waktu lebih dari dua belas bulan

Contoh format FPPE (Focused Professional Practice Evaluation) sesuai

dengan lama waktu periode

Langkah kedua yaitu dengan melakukan evaluasi pada area evaluasi. Format

evaluasi harus terisi pada akhir jangka waktu yang telah ditetapkan dalam

perencanaan. Evaluasi harus sesuai dengan perencanaan awal. Semua sumber

17 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
data dalam perencanaan harus disertakan pada evaluasi. Seperti terlihat dalam

bagan berikut

18 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
19 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
Langkah terakhir pada evaluasi FPPE adalah departemen review atau

penilaian yang dilakukan oleh bagian-bagain terkait dengan evaluasi yang

dilakukan. Langkah ini harus dilakukan bersamaan dengan evaluasi ditahap

kedua dan tidak boleh dilakukan dalam jangka waktu lebih dari 2 minggu dari

jangka waktu yang telah ditentukan

Gambar estimasi time line depertemen review dalam minggu

Sumber : Departement of Medicine di Northwestern University Feinberg

School of Medicine

20 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
Format departemen review

21 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
2) Metode OPPE (Ongoing Professional Practice Evaluation)

OPPE (Ongoing Professional Practice Evaluation) merupakan review

atau evaluasi yang sedang berlangsung berdasarkan analisa data untuk

melakukan identifikasi masalah dalam kinerja profesional (Horty, Springer &

Mattern, P.C, 2011). Penelitian yang dilakukan oleh Ehrenfeld, Henneman JP

et all pada tahun 2012 OPPE ini dapat dilakukan secara otomatis pada saat

dilakukan tindakan sehingga dapat langsung diketahui kinerja atau

kompetensi dari pemberi layanan kesehatan tersebut.

Tujuan evaluasi dengan menggunakan motoda OPPE (Ongoing

Professional Practice Evaluation) adalah untuk membangun sebuah proses

yang sitematis untuk memastikan terdapat informasi yang cukup tersedia

dalam pemenuhan harapan pemberi pelayanan kesehatan, data yang yang

diperoleh dapat digunakan sebagai acuan dalam pemberian kewenangan klinis

(clinical previlage). Untuk melakukan identifikasi tren pelaynanan dan

dampaknya terhadap kualitas pelayan serta keselamatan pasien.

Menurut Join Commission, QHR (Continuing Cervices) dan William

K. Cors 2015 ada enam hal penting yang harus dilakukan eveluasi sesuai

dengan kinerja/ kmpetensinya yaitu

a) Medical/ clinical knowledge (memenuhi standar dan mempunyai lisensi

atau telah tersegistrassi dari profesi yang bersangkutan atau sertikat

pelatihan-pelatihan tertentu)

b) Practice-based learning, improvement and evidance

c) Interpersonal and communications skills (komunikasi efektif sesuai

dengan kebutuhan dan tertulis dalam rekam medik)

22 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
d) Professionalism (kesesuaian pemberian pelayanan sesuai dengan SPO/

kebijakan yang berlaku)

e) Systems-based practice

f) Ability to provide appropriate patient care

Dijelaskan oleh William K. Cors 2015 lima langkah dalam melakukan

peninjauan sistem klinis dengan menggunakan metoda OPPE (Ongoing

Professional Practice Evaluation)

a) Expectation/Harapan

Mendefinisikan kinerja yang diharapkan dan harus terlulis tegas dan jelas

berdasarkan evaluasi kinerja dan kompetensi dibulan sebelumnya.

Harapan yang dibuat harus sesuai atau melebihi dengan standar nasional.

Bisa diterapkan dengan menggnkan SPM (standar pelayanan munimal)

permenkes 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan minimal

dirumah sakit

b) Indikator

Indikator merupakan ukuran yang jelas dari harapan, misal dalam dalam

pemberian pelayanan keperawatan di UGD rumah sakit menggunkan

SPM sesuai permenkes 129 tahun 2008 maka pelayanan yang diberikan

harus sesuai dengan SPM tersebut. Penilaian dalam indikator tidak hanya

denga jawaban terpenenihi atau tidak terpenuhi akan tetapi dierlukan

identifikasi yang lebih terutama pada masalah-masalah yang komplek

sehingga penilaian lebih fleksibel.

c) Target

Target merupakan sebuah matriks yang digunakan untuk membandingkan

antara kinerja dan indikator

23 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
d) Feedback

Feedback yang teratur dan tepat waktu merpakan kunci utama dalam

rangka mendorong dan mempertahankan perbaikan sistem OPPE.

Feedback yang baik memungkinkan perbaikan yang diperlukan dalam

kinerja. Feedback harus dilaporkan secara tertulis, hal ini akan digunakan

sebagai penilaian dalam akreditasi rumah sakit.

e) Management of poor performance/ manajemen kerja yang buruk

Hal ini merupakan upaya upaya OPPE pada saat banyak tenaga medis

yang terpuruk sehingga tenaga medis tersebut dengan sadar melakukan

self assesment sehingga akan memperbaiki kenerjanya.

2. Contoh Dan Ilustrasi

Contoh kasus pelanggaran disiplin etik keperawatan beserta ilustrasi pelanggaran etik

dan disiplin

a. Kasus

Pelanggaran etika dan disiplin keperawatan pada saat melakukan perawatan luka

disebuah bangsal RS X di kota M, pasien sudah dilakukan perawatan 5 hari

dengan kondisi luka jahitan tidak menyatu dengan sempurna terlihat ada cairan

yang keluar dari luka. Hasil kultur jaringan positif pada K Pneumonia, S Kureus,

Entero Bakter, Aglomerans, E Coli, S Epidermidis, Proteus Vulgaris dan P

Aeruginosa.

Kasus ini berawal saat perawat Y melakukan perawatan luka pada pasien post op

caesaria perawat Y melakukan pelanggaran etika yaitu tidak memakai prisip steril

pada perawatan luka dan prosedur perawatan luka tidak sesuai dengan SOP

(Standar Operasional Prosedur) pada rumah sakit dimana perawat Y bekerja.pada

waktu itu perawat Y memakai handskon steril akan tetapi cara mengenakan

24 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
hanskon dan prosedur perawatan luka yang dilakukan perawat Y tidak steril

(tidak sesui dengan prosedur perawatan luka), sehingga mnyebabkan IDO

(Infeksi Daerah Operasi)

b. Pembahasan Kasus Terkait dengan Etika dan Hukum Kesehatan

Untuk mencegah terjadinya infeksi daerah operasi (IDO) maka perlu dilakukan

perawatan luka sesuai standar operasional prosedur perawatan luka.

Standar Operasional Prosedur Perawatan Luka

Alat steril (dalam tempat steri)

1) Pinset anatomis 1 buah

2) Pinset chirugis 2 buah

3) Gunting jaringan

4) Kasa steril secukupnya

5) Kom kecil 2 buah

Alat tidak steril (diletakkan dalam baki)

1) Gunting

2) Plaster

3) Kassa gulung secukupnya

4) NaCl 0,9 %

5) Bengkok

6) Kantong sampak infeksius

Menyiapkan pasien

1) Memperkenalkan diri

2) Menjelaskan tujuan

3) Meminta persetujuan klien

25 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
4) Menyiapkan pasien sesuai kebutuhan

Pelaksanaan

1) Menempatkan alat di dekat pasien

2) Mencuci tangan

3) Menggunakan sarung tangan bersih

4) Membuka balutan luka dengan menggunakan pinset dan buang verban pada

tempat sampah infeksius

5) Menggunkan sarung tangan steril

6) Membersihkan luka dengan menggunakan kasa steril dan NaCl 0,9 % dengan

gerakan satu arah atau sirkular dengan gerakan dari dalam ke luar.

7) Tutup luka dengan menggunkan kasa steril kering.

8) Merapikan alat

9) Mengevaluasi luka dan respon klien

10) Cuci tangan

Menurut Barbara kozier dalam Fundamental of nursing Tanggung

jawab perawat berarti keadaan yang dapat dipercaya dan terpercaya. Sebutan ini

menunjukan bahwa perawat professional menampilkan kinerja secara hati-hati,

teliti dan kegiatan perawat dilaporkan secara jujur. Menurut ANA (American

Nursing Assosiation) Penerapan ketentuan hukum (eksekusi) terhadap tugas-

tugas yang berhubungan dengan peran tertentu dari perawat, agar tetap kompeten

dalam Pengetahuan, Sikap dan bekerja sesuai kode etik (ANA, 1985).

Menurut pengertian tersebut, agar memiliki tanggung jawab maka

perawat diberikan ketentuan hukum dengan maksud agar pelayanan

perawatannya tetap sesuai standar. Tanggung jawab perawat ditunjukan dengan

26 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
cara siap menerima hukuman (punishment) secara etik, disiplin maupun hukum

jika perawat terbukti bersalah atau melanggar hukum.

Tanggung jawab perawat menurut Peraturan Menteri kesehatan No.269 pasal 12

1) Perawat wajib mematuhi semua peraturan institusi yang bersangkutan.

2) Perawat wajib memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai dengan

standar profesi dan batas kegunaannya.

3) Perawat wajib menghormati hak klien.

4) Perawat wajib merujuk klien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang

mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik bila yang

bersangkutan tidak dapat mengatasinya.

5) Perawat wajib memberikan kesempatan kepada klien untuk berhubungan

dengan keluarganya, selama tidak bertentangan dengan peraturan atau standar

profesi yang ada.

6) Perawat wajib memberikan kesempatan kepada klien untuk menjalankan

ibadahnya sesuai dengan agama atau kepercayaan masing-masing selama

tidak mengganggu klien yang lainnya.

7) Perawat wajib berkolaborasi dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan

terkait lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan dan pelayanan

keperawatan kepada klien.

Menurut UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan, pada pasal 4-8

disebutkan setiap orang berhak atas kesehatan; akses atas sumber daya;

pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau; menentukan sendiri

pelayanan kesehatan yang diperlukan; lingkungan yang sehat; info dan

edukasi kesehatan yg seimbang dan bertanggungjawab; dan informasi tentang

data kesehatan dirinya.

27 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
Dalam hal ini perawat telah mengesampingkan tugas perawat yaitu

memberikan pelayanan sesuai dengan standar pofesi sehingga dapat dikatakan

perawat melanggar disiplin profesi. Sedangkan klien pasien kehilangan hak

untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman. Walaupun pasien

tersebut tidak mengetahui tindakan itu benar atau tidak tetapi pasien berhak

memperoleh asuhan sesuai standar profesional dan perawat seharusnya tetap

memberikan pelayanan yang terbaik serta menghormati hak hak pasien

dalam hal ini perawat telah melanggar etika karena tindakan perawat

merugikan pasien sedangkan sesuai etika seharusnya perawata melakukan

tindakan tidak merugikan (non maleficence).

Pada kasus diatas perawat tidak menunjukkan profesionalnya. Sebagai

peran pelaksana seharusnya perawat dapat bertindak sebagai pemberi rasa

nyaman (comforter) dan pelindung (protector), bukan membahayakan pasien.

Dalam kasus ini perawat juga telah melakukan pelanggaran Undang-Undang

Kesehatan tahun 1992 Pasal 53 Ayat 2 yaitu perawat tidak mematuhi standar

profesi dan menghormati hak-hak pasien dimana perawat Y dalam

melaksanakan perawatan luka tidak memperhatikan atau mengabaikan prinsip

steril hal itu melanggar standart profesi perawat.

Bagi tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam

melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin yang ditentukan

oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan ( Vide: pasal 54 ayat 1 dan 2 dari UU

No.23 tahun 1992 tentang kesehatan Jo. PP. No.32 tahun 1996 tentang tenaga

kesehatan . Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (MDTK) inilah yang berhak

dan berwenang untuk meneliti dan menentukan ada-tidaknya kesalahan atau

kelalaian dalam menerapkan standard profesi yang dilakukan oleh Tenaga

28 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
Kesehatan terhadap mereka yang disebut sebagai pasien. (vide : pasal 5 dari

Kepres RI No.56 tahun 1995 tentang MDTK).

Menurut Permenkes Nomor 39 Tahun 2014 maka pelanggaran etik dan

disiplin ini adalah tugas dari sub komite keperawatan yaitu sub komite etik

dan disiplin. Dalam hal ini sub komite etik dan disilin merekomendasikan

penyelesaian masalah-masalah pelanggaran disiplin dan masalah-masalah etik

yang telah dilakukan oleh perawat, selanjutnya berdasarkan analisa yang telah

dilakukan oleh sub komite akan memberikan pertimbangan dan mengambil

keputusan yang selanjutnya merekomendasikan pencabutan Kewenangan

Klinis (clinical privilege) dan/atau surat Penugasan Klinis (clinical

appointment) sesuai dengan maslah.

Mekanisme kerja

Melakukan prosedur penegakan disiplin profesi dengan tahapan:

1) Mengidentifikasi sumber laporan kejadian pelanggaran etik dan disiplin di

dalam rumah sakit;

2) Melakukan telaah atas laporan kejadian pelanggaran etik dan disiplin

profesi.

3) Membuat keputusan. Pengambilan keputusan pelanggaran etik profesi

dilakukan dengan melibatkan panitia Adhoc.

Melakukan tindak lanjut keputusan berupa:

1) Pelanggaran etik direkomendasikan kepada organisasi profesi keperawatan

(PPNI) di Rumah Sakit melalui Ketua Komite

2) Pelanggaran disiplin profesi diteruskan kepada direktur medik dan

keperawatan/direktur keperawatan melalui Ketua Komite Keperawatan

29 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
3) Rekomendasi pencabutan Kewenangan Klinis (clinical privilege)

diusulkan kepada Ketua Komite Keperawatan untuk diteruskan kepada

kepala/direktur Rumah Sakit.

4) Melakukan pembinaan etik dan disiplin profesi tenaga keperawatan,

meliputi:

a) Pembinaan ini dilakukan secara terus menerus melekat dalam

pelaksanaan praktik keperawatan sehari-hari

b) Menyusun program pembinaan, mencakup jadwal, materi/topik dan

metode serta evaluasi.

c) Metode pembinaan dapat berupa diskusi, ceramah, lokakarya,

coaching, simposium, bedside teaching atau diskusi refleksi kasus

3. Latihan

Latihan ini berupa pemhasan kasus yang perupakan pelanggaran etik dan disiplin

keperawatan. Tim etik disiplin harus membahas terhait dengan pelanggaran etik

ataupun disiplin serta penyelesaian etik disiplin

KASUS 1

Seorang perawat di salah satu rumah sakit menangani seorang pasien yang bernama

Dody. Saat itu dody datang dengan keluhan sering merasa cemas,was-was dan takut.

Setelah melakukan pemeriksaan yang cermat bersama dokter, perawat berkesimpulan

bahwa dody menderita gejala gangguan kejiwaan sehingga dia meresepkan beberapa

obat kejiwaan.beberapa minggu kemudian perawat di datangi oleh seseorang yang

mengaku berasal dari bagian administrasi kantor dody. Orang yang mengaku

bertugas menangani administrasi pengobatan karyawan ini menanyakan jenis obat

yang pernah diberikan kepada dody. Karena mengira orang ini adalah perwakilan

kantor resmi perawat menyampaikan jenis obat kejiwaan yang pernah diberikan

30 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
kepada dody.Beberapa bulan kemudian Beberapa bulan kemudian perawat tersebut

dituntut oleh dody di Pengadilan. Dody menuntut dengan alasan bahwa perawat telah

membocorkan rahasia jenis obat kepada perusahaanya tanpa izin darinya.Karena

bocornya jenis obat tersebut perusahaan menjadi tahu bahwa dody menderita

ganggua kejiwaan dan akhirnya di berhentikan dari pekerjaannya.

KASUS 2

Seorang ibu dari 1 orang anak berusia 40 tahun mengeluh haid tidak teratur, sering

mengalami keputihan abnormal , setelah berhubungan dengan suaminya

mengeluarkan darah. Kemudian ibu tersebut datang ke rumah sakit ternama didaerah

tersebut untuk memeriksakan terkait dengan kondisi yang dialaminya. Klien

meminta kepada perawat untuk segera memberitahu hasil pemeriksaannya. Dari hasil

pemeriksaan yang dilakukan ternyata klien menderita kanker serviks. Dari hasil yang

disampaiakan ternyata klien belum bisa menerima dengan kondisinya yang

dialaminya, merasa tidak berguna, sering menangis dan klien Merasa takut ditinggal

suaminya.

Perawat yang merawat kebetulan perawat senior sudah bekerja selama 8 tahun di

rumah sakit tersebut. Klien meminta kepada perawat untuk tidak menyampaikan

tentang kondisi dirinya kepada suaminya. Perawat mengalami dilema etik dimana di

satu sisi Dia harus memenuhi permintaan klien, namun di sisi lain perawat

memahami tentang bahaya terkait dengan penyakit dan terkait dengan program

pengobatan yang akan di jalani oleh klien. Atas pertimbangan tersebut akhirnya

perawat memberitahukan kondisi klien kepada suaminya.

Respon suami klien terkejut dan tidak bisa menerima kenyataan, dia

mempersalahkan istrinya dan berniat untuk meninggalkan istrinya, jarang

31 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
menjenguk, tidak respek dengan program pengobatan yang akan dijalani oleh

istrinya. Dengan keadaan seperti ini klien merasa terpojok dan mempersalahkan

perawat yang telah memberitahu sakitnya kepada suaminya. klien tidak terima dan

ingin menuntut perawat yang tidak bisa menjaga rahasianya

KASUS 3

Laki-laki usia 30 tahun di rawat di bangsal penyakit dalam dengan diagnosa medis

apendisitis, klien di rawat di bangsal kelas 3 dengan menggunakan BPJS. Dokter

mengatakan bahwa pasien harus dilakukan tindakan operasi Apendiktomi. Karena

jumlah kapasitas pasien di bangsal sudah overload serta sedikitnya jumlah perawat,

keluarga mengeluhkan kurangnya perhatian perawat terhadap pasien, terutama ketika

keluarga pasien meminta perawat untuk segera mengganti infus karena sudah habis

dan darah sudah naik ke selang infus namun perawat tidak segera mengganti infus

tersebut melainkan perawat mendahulukan pelayanan pada pasien yang tidak

menggunakan BPJS. Padahal menurut keluarga, pasien yang menggunakan layanan

umum sebenarnya tidak harus segera di tangani. Keluarga pasien melaporkan kepada

kepala ruangan tentang kejadian tersebut, kemudian kepala ruang menegur perawat

yang bersangkutan, harapannya dengan teguran tersebut kejadian seperti itu tidak

terulang lagi. Pagi harinya ketika dokter yang di dampingi perawat melakukan

visitase ke pasien, dokter menyatakan kepada pasien tersebut bahwa penyakit yang di

derita pasien harus dilakukan operasi, dokter menyatakan tindakan operasi tersebut

akan menelan biaya sekitar Rp. 5.000.000.,00. Apabila pasien menggunakan BPJS

pasien harus menyelesaikan persyaratan administrasi sebelum tindakan operasi

dilaksanakan, kemudian keluarga pasien menanyakan mengenai tindakan operasi

yang akan di lakukan namun dokter dan perawat terburu-buru meninggalkan pasien

32 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
untuk melakukan visitasi pada pasien lain. Dokter dan perawat hanya membahas

terkait administrasi dan waktu pelaksanaan operasi pada klien dan keluarganya.

KASUS 4

Laki-laki umur 55 tahun, dirawat di ruang 206 perawatan neurologi Rumah Sakit

Kota, klien dirawat memasuki hari ketujuh perawatan. klien dirawat di ruang tersebut

dengan diagnosa medis stroke iskemic, dengan kondisi saat masuk tidak sadar, tidak

dapat makan, TD: 170/100, RR: 24 x/mt, N: 68 x/mt. Kondisi pada hari ketujuh

perawatan didapatkan Kesadaran compos mentis, TD: 150/100, N: 68, hemiparese

anggota gerak dextra atas dan bawah, bicara pelo, mulut mencong kiri. klein dapat

mengerti bila diajak bicara dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik tetapi

jawaban klien tidak jelas (pelo). Tetapi saat sore hari sekitar pukul 17.00 wib

terdengar bunyi gelas plastik jatuh dan setelah itu terdengar bunyi seseorang jatuh

dari tempat tidur, diruang 206 dimana tempat klien dirawat. Saat itu juga perawat

yang mendengar suara tersebut mendatangi dan masuk ruang 206, saat itu perawat

mendapati klien sudah berada dilantai dibawah tempat tidurnya dengan barang-

barang disekitarnya berantakan.

Ketika peristiwa itu terjadi keluarga klien sedang berada dikamar mandi, dengan

adanya peristiwa itu keluarga juga langsung mendatangi klien, keluarga juga terkejut

dengan peristiwa itu, keluarga menanyakan kenapa terjadi hal itu dan mengapa,

keluarga tampak kesal dengan kejadian itu. Perawat dan keluarga menanyakan

kepada klien kenapa bapak jatuh, klien mengatakan saya akan mengambil minum

tiba-tiba saya jatuh, karena tidak ada pengangan pad temapt tidurnya, perawat

bertanya lagi, kenapa bapak tidak minta tolong kami saya pikir kan hanya

mengambil air minum.

33 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
Dua jam sebelum kejadian, perawat merapikan tempat tidur dan perawat memberikan

obat injeksi untuk penurun darah tinggi (captopril) tetapi perawat lupa memasng side

drill tempat tidur kembali. Tetapi saat itu juga perawat memberitahukan pada pasien

dan keluarga, bila butuh sesuatu dapat memanggil perawat dengan alat yang tersedia.

F. RANGKUMAN

Nilai etik sangat diperlukan bagi tenaga keperawatan sebagai landasan dalam

memberikan pelayanan yang berpusat pada pasien. Prinsip caring merupakan inti

pelayanan yang diberikan oleh tenaga keperawatan. Pelanggaran terhadap standar

pelayanan, disiplin profesi keperawatan selalu dimulai dari pelanggaran nilai moral-etik

yang akhirnya akan merugikan pasien. Beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya

masalah etik antara lain tingginya beban kerja tenaga keperawatan, ketidakjelasan

Kewenangan Klinis, menghadapai keadaan pasien gawat-kritis dengan kompetensi yang

rendah serta pelayanan yang sudah berorientasi pada bisnis.

Dalam upaya meminimalisir pelanggaran disiplin etik harus dilakukan evaluassi secara

berkala, berkenajutan dan terus menerus. Audit disiplin etik salah satunya yaitu dengan

menggunakan FPPE (Focused Professional Practice Evaluation) dan OPPE (Ongoing

Professional Practice Evaluation) bertujuan untuk membangun kompetensi profesi untuk

memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas bagi pasien sesuai dengan

standar akreditasi.

Etika keperawatan dapat digunakan sebagai acuan bagi prilaku seseorang dalam

mengatur hubungan antar perawat, klien/pasien, teman sebaya, masyarakat, dan unsure

profesi lain. Merupakan standar untuk mengatasi masalah yang dilakukan oleh praktisi

keperawatan yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam pelaksanaan tugasnya

34 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
G. GLOSARIUM

1. Audit : Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu

organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang

kompeten, objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuannya adalah

untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau berjalan

sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan diterima.

2. Caring : sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi orang lain, pengawasan

dengan waspada, menunjukkan perhatian, perasaan empati pada orang lain dan

perasaan cinta atau menyayangi yang merupakan kehendak keperawatan

3. Disiplin : kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Disiplin memerlukan

integritas emosi dalam mewujudakan keadaan

4. Etika : peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku

seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan oleh

seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab moral.

5. Evaluasi : adalah suatu proses untuk menyediakan informasi tentang sejauh mana

suatu kegiatan tertentu telah dicapai, bagaimana perbedaan pencapaian itu dengan

suatu standar tertentu untuk mengetahui apakah ada selisih di antara keduanya, serta

bagaimana manfaat yang telah dikerjakan itu bila dibandingkan dengan harapan-

harapan yang ingin diperoleh.

6. Kode Etik : sekumpulan prinsip yang disetujui oleh semua anggota. Sedangkan kode

etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika

terhadap bidang pemeliharaan atau peyanan kesehatan masyarakat.

7. Komite : sejumlah orang yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas tertentu (terutama

dalam hubungan dengan pemerintahan)

35 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
8. Lisensi : izin yang diberikan oleh pemilik produk atau jasa kepada pihak lain melalui

suatu perjanjian berdasarkan pada pemberian hak (bukan pengalihan hak) untuk

menggunakan produk atau jasa tersebut, baik untuk seluruh atau sebagian jenis

barang dan/atau jasa yang didaftarkan dalam jangka waktu dan syarat tertentu.

9. Moral : merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang

beradab.

10. Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di

dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan

Peraturan Perundangundangan.

11. Klien : perseorangan, keluarga, kelompok, atau masyarakat yang menggunakan jasa

Pelayanan Keperawatan.

12. Regulasi : cara untuk mengendalikan manusia atau masyarakat dengan suatu aturan

atau pembatasan tertentu

13. Sanksi administratif : sanksi yang dikenakan terhadap pelanggaran administrasi atau

ketentuan undang-undang yang bersifat administratif.

14. Sanksi hukum : hukuman yang dijatuhkan pada seseorang yang melanggar hukum.

36 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
H. DAFTAR PUSTAKA

Departement of Medicine. 2008. Focused Professional Practice Evaluation (FPPE).


http://www.medicine.northwestern.edu/about/academic-affairs/regular-
faculty/fppe.html. Northwestern University Feinberg School of Medicine Di akses
tanggal 25 Juli 2015

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan

Direktorat Jendral Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan RI Jakarta Februari 2011

Ehrenfeld, Henneman JP et all. 2012. Ongoing professional performance evaluation


(OPPE) using automatically captured electronic anesthesia data. Jt Comm J Qual
Patient Saf. 2012 Feb;38(2):73-80. PubMed - indexed for MEDLINE

Ernawati T,2000 Hubungan Tugas Pokok Dan Fungsi Kepala Seksi Dan Komite
Keperawatan Dengan Efektifitas Pelayanan Keperawatan di RSUD Dr Soegarso
Pontianak

Guwandi. 2010. Hukum Medik (Medical Low). Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia

Hamid . A. Y. (2000). Pengenalan Konsep Komite Keperawatan dan Kedudukkanya di


Dalam Rumah Sakit Jiwa : Jurnal Menejemen dan Administrasi Rumah Sakit
Indonesia

Horty, Springer & Mattern, P.C, 2011. Professional Practice Evaluation Policy. Medical
Center Of Lewisville

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). 2015. Kamus versi online/daring (dalam
jaringan). http://kbbi.web.id/

Pedoman Penyelengaraan Komite Keperawatan Rumah Sakit

Peraturan Menteri Kesehatan No. 49 tahun 2013 tentang Komite Keperawatan Rumah
sakit

Potter, Patricia A. (2005). Fundamental of Nursing: Concepts, Proses adn Practice 1st
Edition. Jakarta: EGC.

37 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N
Quality Management Monthly Conference Call. 2011. Joint Commission Medical Staff
Standards: Ongoing Professional Practice Evaluation and Focused Professional
Practice Evaluation. QHR: Consulting service

Sumijatun, 2011, Membudayakan Etika dalam Praktik Keperawatan, Jakarta, Penerbit


Salemba Medika

Tricia Marriott, 2010, FPPE and OPPE Are More than Just Acronyms: But What Does It
Mean to ME? PA Professional. WWW. AAPA.ORG.

Undang-Undang No 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran


Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Undang-Undang No.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Undang-Undang No 38 Tahun 2014 tentang keperawatan

William K. Cors. 2015. Understanding OPPE, part 3: An OPPE system for clinical case
review. Medical Staff Briefing (ISSN: 1076-6022 [print]; 1937-7320 [online]) is
published monthly by HCPro

38 | M O D U L E T I K - D I S I P L I N