Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

Pitiriasis alba merupakan suatu penyakit kulit yang asimptomatik dengan ciri
khas berupa lesi kulit yang hipopigmentasi, skuama halus dengan batas yang kurang
tegas. kondisi seperti ini biasanya terletk pada wajah, lengan atas bagian lateral dan
paha. Jika terkena pada anak-anak biasanya lesi akan menghilang setelah dewasa.
umumnya dijumpai pada anak-anak dan dewasa muda dan sering didapatkan pada
wajah, leher, bahu. lesi menjadi jelas pada saat musim panas dimana hanya pada
bagian lesi, kulit tidak berubah menjadi gelap. ukuran lesi bervariasi antara 2-4 cm.

II. SINONIM
Pitiriasis simplek, pitiriasis makulata, impetigo sika, impetigo pitiroides

III. EPIDEMIOLOGI

Di amerika Serikat, pitiriasis alba umumnya terjadi pada anak-anak yang


berusia 3-16 tahun. dan 90 % terjadi pada usia 12 tahun. pitiriasis alba ini dapat
terjadi pada semua ras, tetapi memiliki prevalensi yang tinggi pada orang-orang yang
memiliki kulit berwarna. rasio wanita dan pria sana banyak.

IV. ETIOLOGI

Sampai saat ini belum ditemukan adanya etiologi yang definitif walaupun
beberapa usaha telah dilakukan untuk menemukan adanya mikroorganisme pada lesi
kulit. Namun dikatakan juga biasanya pitiriasis alba seringkali di dapati pada kulit
yang kering yang di picu oleh lingkungan yang dingin.

Pitiriasis alba juga telah diketahui sebagai suatu manifestasi dari dermatitis
atopik. Penelitian terakhir mengenai etiologi pitiriasis alba yang di lakukan pada
tahun 1992, dimana Abdallah menyimpulkan Staphylococcus Aureus merupakan
elemen penting dalam menimbulkan manifestasi klinis penyakit ini. Dia menemukan
bakteri ini ada pada 34% dalam plak pitiriasis alba dan 64% pada rongga hidung
pasien yang sama dan pada kelompok kontrol presentasinya 4% dan 10%.Faktor
lingkungan mungkin sangat berpengaruh walaupun bukan berupa agen etiologis
secara langsung. Paling tidak dapat memperburuk atau memperbaiki lesi.
V. PATOGENESIS

Dalam penelitian pada 9 pasien dengan pitiriasis alba yang luas, itemukan
densitas dari melanosit yang normal berkurang pada daerah lesi tanpa adanya aktivitas
sitoplasmik. Melanosom cenderung lebih sedikit dan lebih kecil namun pola distribusi
dalam keratinosit normal. Hipopigmentasi utamanya disebabkan oleh berkurangnya
jumlah melanosit aktif dan penurunan jumlah dan ukuran dari melanosomes pada
daerah lesi kulit. Transfer melanosom di keratinosit secara umum tidak terganggu.

VI. Gambaran Klinis


Pitiriasis alba umunya berdifat asimtomatis tetapi bisa juga didapatkan rasa
terbakar dan gatal. secara klinis, pitiriasis alba ditandai oleh makula berbentuk bukat
atau oval kadang irreguler yang pada awalnya berwarna merah muda atau coklat
ditutupi dengan skuama halus, yang kemudian menjadi hipopigmentasi. Lesi biasanya
multipel dengan diameter bervariasi antara 0,5-2 c, dan dapat tersebar secara simetris.
umumnya di dapatkan pada wajah (sekitar 50%-60% kasus) terutama pada daerah
dahi, sekitar mata dan mulut. Tetapi dapat juga ditemukan pada daerah yang lain
seperti pada leher, bahu, ekstremitas atas serta ekstremitas bawah.

Secara klinis pitiriasis alba bisa dibagi menjadi dua, yaitu :


1. bentuk lokal
bentuk yang sering ditemukan dan sering pada anak-anak. Umumnya lesi
didapatkan pada daerah wajah, bentuk ini memberikan respon yang baik
untuk pengobatan.
2. bentuk umum
jarang ditemukan dan sering pada usia remaja. secara klinis dibagi menjadi
dua varian, yaitu :
idiopatik : ditandai oleh lesi nonsquamous yang simetris berbatas
tegas dan berwarna putih dimana cenderung untuk merusak
permukaan kulit pada daerah tungkai dan lengan secara ekstensif.
Varian ini memberikan respon yang jelek terhadap pengobatan.
Riwayat dermatitis atopik : varian ini juga dikenali dengan
extensive pityriasis alba yang ditandai dengan rasa gatal pada
daerah lesi dan sering didapatkan pada daerah antecubital,
popliteal dan bisa mengenai seluruh badan. Varian ini memberikan
respon yang baik dalam pengobatan kortikosteroid.

VII. HISTOPATOLOGI

Perubahan histopatologi akan dijumpai akantolisis ringan, spongiosis dengan


hiperkeratosis sedang dan parakeratosis setempat. Tidak adanya pigmen di sebabkan
oleh karena efek penyaringan sinar oleh stratum korneum yang menebal atau oleh
kemampuan sel epidermal yang mengangkut granula pigmen berkurang.

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Potassium Hidroksida (KOH)


Pemeriksaan ini dapat menyingkirkan pitiriasis versikolor, tinea fasialis atau
tinea korporis.
Pemeriksaan histopatologi dari biopsi kulit
Pemeriksaan histopatologis kulit dari biopsi kulit tidak banyak membantu
karena tidak patognomonik untuk menegakkan diagnosis. Pada pemeriksaan
histopatologis didapatkan adanya akantosis ringan, spongiosis dengan
hiperkeratosis dan parakeratosis setempat, pigmentasi melanin yang irreguler
pada lapisan basal kulit. kadang ditemukan pula kelenjar sebum yang atrofi.
Pemeriksaan mikroskop elektron
Terlihat penurunan jumlah serta berkurangnya ukuran melanosom.

IX. DIAGNOSIS

Diagnosis pitiriasis alba dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis,


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Biasanya terjadi pada anak-anak usia
3-16 tahun.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan lesi berbentuk bulat, oval atau plakat tidak
teratur. Warna merah muda atau sesuai dengan warna kulit dengan skuama halus.
Setelah eritema menghilang, lesi yang dijumpai hanya depigmentasi dengan skuama
halus. bercak biasanya multipel 4 sampai 20 dengan diamter antara 0,5-2cm. Dengan
distribusi di wajah yaitu paling banyak di sekitar mulut, dagu dan pipi.

X. DIAGNOSIS BANDING

1. Pitiriasis versikolor

Pitiriasis versikolor adalah penyakit jamur superfisial yang kronis, pada


stratum korneum. Penyebabnya adalah jamur malassezia furfur . Biasanya tidak
memberikan keluhan subyektif, berupa bercak skuama halus yang berwarna putih
sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang dapat
menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala
yang berambut. Bercak-bercak tersebut akan berflouroresensi jika di lihat dengan
lampu wood dan berwarna kuning keemasan pada daerah yang berskuama. pada
sediaan langsung kerokan kulit dengan KOH 20% terlihat campuran hifa pendek
dan spora-spora bulat yang dapat berkelompok.

2. Vitiligo
Vitiligo merupakan hipomelanosis idiopatik dapat ditandai dengan adanya
makula putih yang dapat meluas. Dapat mengenai seluruh bagian tubuh yang
mengandung sel melanosit, misalnya rambut dan mata. gejala klinis berupa
makula berwarna putih dengan diameter beberapa milimeter sampai
centimeter, bentuknya bulat atau lonjong dengan batas tegas. di dalam makula
vitiligo dapat ditemukan makula dengan pigmentasi normal atau
hiperpigmentasi di sebut repigmentasi perifolikular. Daerah yang sering
terkena yaitu bagian ekstensor tulang terutama di atas jari, periofisial sekitar
mata, mulut dan hidung, tibialis anterior dan pergelangan tangan bagian
fleksor

3. Psoriasis
psoriasis merupakan penyakit kulit autoimun yang bersifat kronis residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritem yang meninggi (plak), eritema
sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan seringkali eritema
di tengah menghilang dan hanya terdapat pada tepi. terdapat skuama berlapis-
lapis di atasnya disertai fenomena tetesan lilin, fenomena auspitz dan kobner.

XI. PENGOBATAN

Tujuan penatalaksanaan yaitu mengeliminasi inflamasi dan infeksi,


mengembalikan barrier stratum korneum dengan menggunakan krim emolien. Dapat
di coba dengan preparat ter, misalnya likuor karbones detergens 3-5% dalam krim
atau salep, stelah dioleskan harus banyak terkena matahari. Antibiotik juga dapat
diberikan untuk mengatasi infeksi oleh staphylococcus aureus seperti cefadroxil,
cephalexin, dan dicloxacillin. Dapat diberikan kortikosteroid topikal dan untuk lesi
yang luas dapat digunakan PUVA.

XII. PROGNOSIS

Pitiriasis alba memiliki prognosis yang baik. Depigmentasi yang terjadi tidak
permanen dan biasanya sembuh dengan sendirinya dalam beberapa bulan sampai
beberapa tahun.

XIII. KESIMPULAN

Pitiriasis alba merupakan suatu keadaan yang umunya terdiri dari lesi
berbentuk bulat atau oval atau plakat tidak teratur. Warna merah muda atau sesuai
dengan warna kulit. Setelah eritema menghilang, lesi yang dijumpai hanya
depigmentasi dengan skuama halus. Penyakit ini biasanya sering terjadi pada anak-
anak dengan usia 3-16 tahun dengan frekuensi laki-laki dan wanita sama.
Patogenesinya belum diketahui secara pasti namun beberapa ahli percaya
bahwa penyakit ini merupakan bentuk dari dermatitis eksematosa dengan
hipomelanosis yang terjadi dari perubahan setelah inflamasi dan efek penyinaran
ultraviolet pada daerah epidermis yang hiperkeratotik dan parakeratotik yang
melibatkan hasil transfer blok melanosom.
Pemeriksaan penunjang yang di gunakan untuk mendiagnosis adalah
pemeriksaan histopatologi, pemeriksaan mikroskop elektron, dan pemeriksaan
laboraturium. Pengobatan pitiriasis alba dapat menggunakan krim emolien, namun
penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya.
anamnesis :
keluhan utama : bercak putih pada wajah sekitar 1 bulan yang lalu sebelum
datang ke RS.
rps : pasien datang ke poli kulit rsisa dengan keluhan bercak putih pada
wajahnya sejak 1 bulan yang lalu. Awalnya muncul bercak kemerahan pada pipi
kanan yang kemudian menghilang dan menjadi bercak berwarna putih yang semakin
menyebar di pipi kanan hingga sekitar mulut dan juga di pipi kiri hingga sekitar
mulut. Pasien merasa sedikit gatal, namun tidak pada saat berkeringat dan keluhan
gatal juga tidak terlalu hebat sehingga pasien tidak sampai menggaruknya. Bercak
tidak terasa panas.Pasien sebelumnya tidak pernah berenang
rpk : kakak penderita memiliki alergi terhadap debu dan sering bersin-bersin
terapi
non medikamentosa
menjelaskan kepada orangtua pasien bahwa pitiriasis alba bukan merupakan
penyakit yang berbahaya dan menular, tetapi dapat menggangu penampilan wajah
terutama bila berkulit gelap, sehingga pengobatan teratur diperlukan.
medikamentosa
krim atau salep carbons detergen 3-5%

- pitiriasis alba terjadi umumnya pada usia 3-16 tahun. 90% terjadi pada
anak berusia lebih muda dari 12 tahun. (anak umur 10 tahun)
- frekuensi yang sama pada pria dan wanita : anak pria
- pitiriasis alba umumnya bersifat asimtomatis tetapi bisa juga di dapatkan
rasa terbakar dan gatal : anak mengeluh sedikit gatal
- ditandai oleh makula berbentuk bulat atau oval atau plakat tidak teratur.
yang pada awalnya berwarna merah muda atau coklat muda di tutupi
dengan skuama halus yang kemudian menjadi lesi hipopigmentasi. Lesi
biasanya multipel dengan diameter 0,5-2 cm dan dapat tersebar secara
simetris. : anak ditemukan
- tempat predileksi pada daerah wajah (sekitar 50%-60% kasus) terutama
pada daerah dahi, pipi,sekitar mata dan mulut. tetapi dapat juga ditmukan
pada daerah leher, bahu. ekstremitas atas serta ekstremitas bawah. : pada
anak ditemukan di pipi kanan hingga sekitar mulut kanan dan juga sekitar
mulut dan pipi kiri.
teori status dermatologi : tempat predileksi pada daerah wajah (sekitar 50%-60% kasus)
terutama pada daerah dahi, pipi,sekitar mata dan mulut. tetapi dapat juga ditmukan pada
daerah leher, bahu. ekstremitas atas serta ekstremitas bawah. ditandai oleh makula berbentuk
bulat atau oval atau plakat tidak teratur. yang pada awalnya berwarna merah muda atau coklat
muda di tutupi dengan skuama halus yang kemudian menjadi lesi hipopigmentasi. Lesi
biasanya multipel dengan diameter 0,5-2 cm dan dapat tersebar secara simetris.

pada kasus regio fasialis : terdapat makula hipopigmentasi, multipel, ukuran lentikuler
sampai dengan numular tersebar dan ditutupi skuama halus.