Anda di halaman 1dari 6

BRUSELOSIS

DEFINISI

Merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri gram negatif dari genus brucellae. Penularan pada manusia terjadi setelah paparan di
lingkungan kerja atau kontaminasi produk makanan.

ETIOLOGI

Terdapat 4 spesies brucellae diketahui menyebabkan penyakit pada manusia. Brucella melitensis paling virulen dan menyebabkan bruselosis yang berat
dan akut, menyebabkan kecacatan. Brucella suis menyebabkan penyakit yang kronik, sering berupa lesi destruksi supuratif. Brucella abortus merupakan
penyakit sporadis bersifat ringan-sedang, dan jarang menyebabkan komplikasi. Bruccella canis mempunyai perjalanan penyakit yang sulit dibedakan
dengan Brucella abortus, perjalanan penyakitnya tersembunyi sering kambuh dan umumnya tiak menyebabkan penyakit kronik.

Tabel reservoir alami spesies Brucella

EPIDEMIOLOGI

Kasus bruselosis dilaporkan terjadi di Mediterania dan Arab, juga dilaporkan di India, Mexico, Amerika Selatan dan Tengah.

Angka mortalitas belum diketahui secara pasti tetapi 80% kematian pada kasus bruselosis disebabkan komplikasi enokarditis. Di aerah endemic kaum pria
lebih sering terkena bruselosis dibandingkan wanita dengan rasio 5 : 2-3. Banyak menyerang usia 30-50 tahun, 3-10% kasus dilaporkan terjadi pada anak-
anak, lebih berat pada daerah endemic. Pada usia lanjut ditemukan hanya pada kasus yang kronik.

Kasus bruselosis di NTT diduga masuk pada tahun 1975 melalui sapi import dari Australia dan hingga saat ini hampir sebagian besar kabupaten di NTT
yaitu Belu, TTU, TTS, Kupang, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, Sumba Timur, dan Sumba Barat telah tertular bruselosis. Berdasarkan data Dinas
Peterbakan NTT 2003-2005 kasus bruselosis masih terjadi dengan prevalensi tertinggi di Belu dan TTU.

PATOFISIOLOGI

Brucellosis merupakan penyakit sistemik yang mempengaruhi hampir semua organ tubuh. Kuman Brucella yang masuk ke dalam sel
epitel akan dimakan oleh neutrofil dan sel makrofag masuk ke limfoglandula. Bakteriemia muncul dalam waktu 1-3 minggu setelah
infeksi, apabila sistem kekebalan tubuh tidak mampu mengatasi. Kuman Brucella terlokalisir dalam sistem reticuloendothelial seperti
pada hati, limpa dan sumsum tulang belakang & membentuk granuloma.
Komponen dinding sel Brucella baik pada strain halus (smooth) seperti pada B. melitensis, B. abortus dan B. suis maupun pada strain kasar
(rough) seperti B. canis terdiri dari peptidoglikan, protein dan membrane luar yang terdisi dari lipoprotein dan lipopolisakarida (LPS). LPS inilah
yang menentukan virulensi kuman dan bertanggung jawab terhadap penghambatan efek bakterisidal di dalam sel makrofag. Kuman Brucella strain kasar
mempunyai virulensi lebih rendah pada manusia.
Kuman Brucella bersifat fakultatif intraseluler yaitu kuman mampu hidup dan berkembang biak dalam sel fagosit, memiliki 5-guanosin monofosfat
yang berfungsi menghambat efek bakterisidal dalam neutrofil, sehingga kuman mampu hidup dan berkembang biak di dalam sel neutrofil.
Strain B. abortus yang halus (smooth) pada LPS-nya mengandung komponen rantai O-perosamin yang merupakan antigen paling dominan
yang dapat terdeteksi pada hewan maupun manusia yang terinfeksi brucellosis. Uji serologis standar brucellosis adalah spesifik untuk
mendeteksi rantai 0-perosamin tersebut.
GEJALA KLINIS
Gejala bruselosis tidak cukup khas untuk diagnosis. Demam intermiten ditemukan pada 60% kasus dan disertai dengan bradikardi
relative. Adanya gejala anoreksia, asthenia, fatique, kelemahan dan malaise, dapat juga disertai gejala nyeri sendi, nyeri pu nggung pada
55% penderita. Gejala batuk dan sesak dijumpai pada 19% penderita tapi jarang mengenai paren kim paru, nyeri dada timbul berupa nyeri
pleuritik akibat adanya empiema. Gejala neuropsikiatri berupa akit kepala daan depresi. Keluhan gastrointestinal dijumpai pad a 51%
penderita berupa nyeri abdomen, mual, konstipasi dan diare.
Tabel Tanda dan Gejala Bruselosis
Secara klinis dapat dibagi menjadi subklinik, akut, ssubakut dan infeksi kronik.
Subklinik : biasanya asimptomatik, diagnose biasanya ditemukan secara kebetulan melalui skrining tes serologi pada daerah berisiko tinggi.
Akut atau Subakut : dapat ringan ssembuh dengan sendirinya (B. abortus)
Atau fulminan dengan komplikai (B.melitensis), gejala dapat timbul 2-3 bulan (akut) dan 3-12 bulan (subakut). Gejala dan tanda klinis yang paling sering
adalah demam, menggigil, berkeringat, malaise, fatique, sakit kepaa, atrhralgia, anoreksia, limfadenopati dan hepatomegali serta splenomegali
Kronik : diagnosis ditegakkan dengan gejala yang telah berlangsung 1 tahun atau lebih. Demam yang tidak tinggi dengan keluhan neuropsikiatri adalah
gejala yang sering dijumpai. Pemeriksaan serologi dan kultur sering negative. Banyak penderita menjadi persisten karena tidak adekuatnya terapi sejak
awal.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan hepatomegali, splenomegali, bengkak pada sendi, bursitis, berkurangnya range of motion (ROM) dan efusi. Gangguan
neurologi berupa meningoensefalitis akut, poliradikuloneuropati perifer, hiperrefleksi, klonus, gangguan saraf cranial. Gangguan kulit dijumpai eritema
nodosum, abses, erupsi papulonoduler, impetigo, psoriasis, eksim, lesi mirip pitiriasis rosea, erupsi berupa macular, makulopapular dan skarlantiniformis,
lesi vaskulitis seperti petekie, purpura, tromboplebitis. Gangguan pada mata berupa uveitis, keratokonjungtivitis, iridoskilitis, keratitis numularis,
koroiditis, neuritis optika, endophtalitis metastase dan katarak.
Pada wanita hamil yang terinfeksi Brucella dapat mengakibatkan terjadinya keguguran spontan pada kehamilan trimester pertama dan kedua
serta kematian janin dalam uterus, namun kasus kejadiannya sangat sedikit jika dibandingkan dengan brucellosis pada hewan. Hal
ini disebabkan pada manusia tidak ada kandungan erythritol dalam plasenta dan janin. Adanya aktivitas antibrucella dalam cairan
amnion juga dapat menghambat pertumbuhan kuman Brucella . Erythritol adalah konstituen normal yang ada pada fetus ungulate dan
jaringan plasenta yang berfungsi sebagai sumber energy untuk multiplikasi kuman Brucella.
DIAGNOSIS
Gambaran klinis dan lesi yang ditimbulkan oleh infeksi bruselosis pada manusia sering kali sulit dikenali sehingga peneguhan diagnois harus
didukung dengan uji laboratorium. Beberapa uji bruselosis mempunyai tingkat sensitivitas dan spesifitas yang berbeda-beda.

Pemeriksaan kultur sumsum tulang lebih sensitive dari kultur darah, sering memberikan hasil positif walaupun pada pemeriksaan kultur darah
member hasil negative. Hasil biopsy sumsum tulang memberikan gambaran granuloma.
Pada pemeriksaan kultur sputum jarang memberikan hasil positif walaupun telah terjadi komplikasi pada paru. Empiema akibat bruselosis jarang
terjadi dan pada pemeriksaan kultur cairan pleura sering member hasil positif, terutama bila dilakukan kultur sesuai masa ink ubasi, khususnya
strain B. melitensis dari hasil analisis cairan pleura dijumpai proses eksudasi, peningktan enzim LDH dan protein sedangkan glukoa bervariasi.
Tes serum aglutinasi berguna untuk brucella dengan dinding lipopolisakarida halus. Dianggap positif jika titer 1: 160 atau terjadi peningkatan
titer 4x selama perjalanan penyakit. Di daerah endemic, peningkatan 1:160 sering dijumpai dengan tanpa gejala.
Selain pemeriksaan lab, dapat pula dilakukan pemeriksaan radiologi untuk menilai thoraks, dan spinal.
Penegakan diagnosis juga dapat dibantu dengan pemeriksaan histopatologis yakti biopsy hati untuk menilai adanya proses inflamasi difus yang
menyeruapi hepatitis dengan agregasi sel-sel mononuclear.
TATALAKSANA
Pengobatan bruselosis bertujuan untuk mengurangi gejala, mencegah secepat mungkin terjadinya komplikasi dan terjadinya
kekambuhan. Antibiotika kombinasi lebih dianjurkan karena mengurangi tingginya angka kekambuhan dibandingkan hanya menggunakan
regimen obat tunggal. Regimen yang dianjurkan akhir-akhir ini dapat mempersingkat masa terapi.

Doksisiklin merupakan antibiotika yang menghambat sintesa protein dengan mengikat ribosom 30S dan 50S, dosis 100 mg per-
oral/i.v tiap12 jam atau 2-5 mg/kgBB/hari dengan dua kali pemberian selama 45 hari, tidak dianjurkan untuk wanita harnil kategori D dan anak
usia kurang dari 8 tahun. Efek sampingnya antara lain hipersensitivitas terhadap matahari, mual dan esofagitis. Penggunaannya baik untuk
neurobruselosis dibandingkan tetrasiklin.

Gentamisin diberikan i.v/i.m dengan dosis 5 mg/kgBB, terbagi 2 dosis selama 7 hari. Tidak boleh diberikan pada wanita hamil kategori
C, hipersensitivitas terhadap gentamisin atau aminoglikosida lainnya. Hati hati pada penderita dengan gangguan neuromuskular, seperti
rniastenia gravis, karena dapat memperberat penyakit. Efek samping gentamisin adalah gangguan vestibular dan pendengaran, bersifat
nefrotoksik, menimbulkan reaksi hipersensitivitas.

Trimetoprim-sulfametoksazol menghambat sintesa asam dihidrofolat bakteri, dosis 3 x 960 mg, lama pemberian obat 45 hari. Kontra
indikasi pemberian trimetoprim-sulfametoksazol yaitu pada wanita harnil kategori C, defisiensi G-6-PD (glukosa 6-fosfat-dehidrogenase), bayi
kurang dari 2 bulan, adanya riwayat hipersensitiv terhadap obat-obat golongan sulfa. Efek samping penggunaan obat ini berupa diare, mual,
muntah. Dapat menimbulkan reaksi alergi atau reaksi hipersensitivitas (sindroma Steven Johnson), seperti pada golongan sulfonarnid lainnya, juga
sitopenia. Dapat dipakai sebagai obat altematif pada wanita hamil dimana pemakaian tetrasiklin merupakan kontra indikasi. Tidak adekuat
sebagai monoterapi, sehingga direkomendasikan penggunaannya bersarna-sama dengan golongan arninoglikosida.

Rifampin menghambat sintesa DNA bakteri diberikan dengan dosis 600-900 mg/hari per-oral dalam 2 kali pemberian, selama 45 hari.
WHO merekomendasikan penggunaan kombinasi dengan doksisiklin, diberikan selama 6 rninggu sebagai terapi lini pertarna. Dapat juga diberikan
rifarnpin dengan doksisiklin ditambah dengan streptomisin atau gentamisin. Absorpsi rifampin berkurang 30% jika diberikan
bersamaan dengan makanan.

Kontra indikasi pemberian obat ini antara lain wanita hamil kategori C, hipersensitivitas terhadap rifampin. Hati-hati pada penderita dengan
penyakit hati. Efek samping penggunaan obat ini adalah urin, keringat dan air mata berwama kuning kemerahan, gangguan fungsi hati, gejala
seperti flu, Jeukopeni, trombositopeni, anemi dan gagal ginjal. Untuk orang dewasa dan anak lebih dari 8 tahun, menggunakan regimen kombinasi
rifampin dan doksisiklin selama 4-6 minggu, dengan angka kekambuhan 5- 10%, sedangkan anak kurang dari 8 tahun menggunakan rifampin dan
kotrimoksazol selama 6 minggu dengan angka kekambuhan kurang dari 5%.

Tetrasiklin 4 x 500 mg selama 45 hari. Pemberiannya dikombinasikan dengan obat lainnya, seperti rifampin, gentamisin, streptomisin atau
trimetoprim-sulfametoksazol. Tetrasiklin tidak boleh diberikan pada anak anak kurang dari 8 tahun, wanita ham.ii kategori D dan gangguan ginjal. Efek
samping tetrasiklin adalah fotosensitivitas, mual dan diare. Pada anak-anak dapat menyebabkan gangguan pewamaan gigi yang bersifat menetap.

Streptomisin l-2 gram sehari intraintramuskular (I gram setiap 12 atau 24 jam) selama 14-21 hari. Tidak boleh diberikan pada penderita yang
hipersensitiv terhadap streptomisin atau aminoglikosida lainnya juga pada wanita hamil kategori D karena bersifat ototoksik padajanin. Efek
samping penggunaan streptomisin antara Jain gangguan ginjal, ototoksik, timbul rash atau urtikaria, demam dan reaksi hipersensitivitas (anafilaksis).

Ofloksasin 400 mg dan Jevofloksasin 400 mg tablet sekali sehari selama 45 hari. Kontra indikasi obat ini antara lain pada wanita ham.ii kategori C,
riwayat hipersensitivitas terhadap ofloksasin atau golongan quinolon lainnya, obat-obat ini juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kejang. Efek
samping penggunaan ofloksasin dan levofloksasin antara lain foto sensitivitas, ruptur tendon, reaksi hipersensitivitas jarang terjadi, dan adanya
efek neurologi terutama pada penderita usia tua. Angka kekambuhannya tinggi bila penggunaannya tidak dikombinasikan dengan obat-obat yang
lain. Dapat dikombinasikan dengan rifampin selama 45 hari.

Penderita bruselosis dengan spondilitis direkomendasikan kombinasi rifampin, doksisiklin dan gentamisin selama 2-3 minggu. Sedangkan
komplikasi meningoensepalitis dianjurkan menggunakan regimen doksisiklin dikombinasikan dengan rifampin dan atau kotrimoksazol.
Pemakaian steroid dapat membantu mengontrol proses inflamasi. Penderita bruselosis dengan endokarditis dapat dberikan terapi agresif
dengan aminoglikosida dikombinasikan doksisiklin, rifampin dan kotrimoksazol selama kurang lebih 4 minggu dilanjutkan lagi 8-12 minggu
tanpa aminoglikosida.

Pengobatan bedah diperlukan untuk drainase abses dan tindakan bedah jantung bila terjadi lesi pada katup jantung
KOMPLIKASI

Komplikasi bruselosis dijumpai pada keadaan infeksi akut atau kronik yang tidak diobati. Paling sering terkena adalah osteoartikular, sistem genito-
urinari, hepar, lien. Komplikasi osteoartikular terjadi pada 20-60% penderita dan yang paling sering adalah sakroilitis. Dilaporkan juga adanya
spondilitis, artritis, osteomielitis, bursitis dan tendosinovitis. Piogenik paraspinal terjadi pada usia Ianjut. Sendi periferal yang biasanya terkena adalah
Jutut, siku, bahu, panggul dan dapat monorartikuler juga poliartikular.

Pada hepatobilier komplikasi dapat berupa hepatitis, abses hepatitis dan akut kolesistitis. Komplikasi gastrointestinal berupa ileitis, kolitis
dan peritonitis spontan jarang terjadi.

Pada genitourinaria : komplikasi yang paling sering adalah orkhitis atau epidedimo-orkhitis. Kelainan ginjal jarang terjadi, pemah dilaporkan
adanya glomerulonefritis dan pielonefritis. Infeksi pada wanita hamil biasanya terjadi abortus pada trimester pertama. Komplikasi biasanya
terjadi bila ada infeksi bakteri lainnya.

Neurobruselosis : komplikasi yang paling sering terjadi pada daerah endemis dan mendekati 5% kasus. Meningoensefalitis akut
dapat berkembang cepat. Dengan terapi agresif, gejala cepat membaik dan jarang terjadi gejala sisa.

Komplikasi kardiovaskuler : berupa endokarditis, terjadi 2% penduduk dunia, pada daerah endemis 7-IO%. Kelainan katup aorta terjadi
pada 75% penderita. Komplikasi lainnya adalah perikarditis, miokarditis. mikotik aneurisma dan endokarditis.

Komplikasi pulmonal : terjadi pada 0,3-1 % penderita, yaitu pneumonia dan efusi pleura, komplikasi ini jarang pada anak-anak.

Komplikasi hematologi : terjadi koagulasi intravaskular diseminata dan sindroma hematofagositik.

PROGNOSIS

Bila penatalaksanaannya baik dan pengobatan dilakukan pada bulan pertama penyakit, biasanya dapat sembuh dengan resiko yang
rendah, kambuh atau menjadi kronik. Prognosis buruk pada penderita dengan endokarditis, gagal jantung kongestif, angka kematian
mencapai 85%.

PENCEGAHAN

Pencegahan bruselosis dapat dilakukan dengan pemeliharaan sanitasi lingkungan, kebersihan perorangan dan eradikasi hewan reservoir.
Hindari susu yang tidak dipasteurisasi dan produknya, khususnya dari kambing dan biri-biri. Hati-hati bila berpergian ke daerah
endemik antara lain Mediterania, Afrika Utara, Asia Tengah dan Amerika Latin. Hindari kontak dengan hewan reservoir seperti kambing,
biri-biri dan unta.

Nama : Tirza Stephanie Pandie (1408010047)

Sumber :

1. Syaroni A. Bruselosis. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, K Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 4th ed.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; p. 18424.
2. Noor SM. Brucellosis: Penyakit Zoonosis Yang Belum Dikenal di Indonesia. 2004;(30):319.