Anda di halaman 1dari 15

1

STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PABRIK MINYAK GORENG KELAPA SAWIT DI


KABUPATEN BENGKULU UTARA DITINJAU DARI ASPEK EKONOMI

Oleh
Rozi Satria Utama

RINGKASAN

Jumlah konsumsi minyak goreng di Propinsi Bengkulu terus meningkat setiap tahunnya,
namun belum ada pabrik minyak goreng di Propinsi Bengkulu untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat, padahal bahan baku minyak goreng berupa CPO di Propinsi Bengkulu sangat
banyak bahkan produksinya meningkat setiap tahunnya. Tujuan dari Penelitian ini adalah
menentukan kelayakan pembangunan pabrik minyak goreng di Kabupaten Bengkulu Utara
Propinsi Bengkulu ditinjau dari aspek ekonomi. Parameter yang digunakan dalam
menentukan kelayakan pembangunan pabrik minyak goreng secara ekonomi pada
penelitian ini meliputi break even point, net present value, benefit cost ratio, payback
period dan analisa sensitifitas.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan nilai BEP unit yang dihasilkan adalah
sebesar 12.438.131,48 Kgsedangkan BEP harga sebesar 101.122.008.931,67. Nilai NPV yang
diperoleh adalah sebesar Rp. 3.762.055.581,10 dan Benefit Cost Ratio sebesar
1,269. Sedangkan Payback period yang diperoleh adalah selama 5 tahun 3 bulan. Pada
analisa sensitifitas proyek ini cukup sensitive terhadap kenaikan harga bahan baku, jika
harga bahan baku naik sebesar 5 % proyek masih layak, tetapi jika naik sebesar 10 % proyek
tidak layak lagi untuk dilaksanakan, sedangkan jika penurunan harga jual olein sebesar 2,5 %
proyek masih tetap layak, namun jika harga jual olein turun sebesar 5 %, proyek tidak layak
dilaksanakan lagi. Dari hasil penelitian ini disimpulkan pembangunan pabrik minyak goreng
layak secara ekonomi, dikarenakan nilai BEP yang mampu dijangkau, nilai NPV yang positif,
nilai Benefit Cost Ratio diatas 1, payback period yang cepat, serta sensitifitas proyek yang
bisa ditoleransi.

PENDAHULUAN

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Propinsi
Bengkulu, jumlah konsumsi minyak goreng dalam kurun waktu 5 tahun terakhir mulai dari
tahun 2006 hingga 2010 terus meningkat, Kebutuhan minyak goreng tersebut selama ini
hanya didatangkan dari luar daerah sebab di Propinsi Bengkulu belum ada pabrik yang
memproduksi minyak goreng padahal bahan baku yang tersedia sangat melimpah.

Saat ini produksi CPO Propinsi Bengkulu terus meningkat seiring dengan meningkatnya
jumlah pabrik dan luas perkebunan kelapa sawit di Propinsi Bengkulu. Berdasarkan data dari
Estimasi Dinas Perkebunan Propinsi Bengkulu, jumlah produksi CPO dari tahun 2007 hingga
2010 bisa dilihat dari table 2 berikut.
2

Tabel 1. Jumlah Produksi CPO Propinsi Bengkulu


Tahun Jumlah Produksi (Kg)
2007 571.100.000
2008 608.540.000
2009 617.760.000
2010 730.080.000
Sumber: Dinas Perkebunan Propinsi Bengkulu (2011)

Jumlah CPO yang dihasilkan memang sangat banyak, akan tetapi hingga saat ini belum ada
industri hilir CPO seperti pabrik minyak goreng dll yang beroperasi di Propinsi Bengkulu.
Padahal jika pabrik minyak goreng dapat didirikan di wilayah Propinsi Bengkulu setidaknya
diharapkan mampu menurunkan harga bahan pokok tersebut sehingga masyarakat tidak
kesulitan untuk membeli dan memperolehnya.

Sebagian besar pabrik CPO di propinsi Bengkulu berada di kabupaten Bengkulu Utara dan
Kabupaten-kabupaten pemekarannya, dari empat belas pabrik yang ada di Propinsi
Bengkulu, empat diantaranya berada di Kabupaten Bengkulu Utara, sedangkan pabrik yang
lain terdapat di kabupaten pemekaran dari Bengkulu Utara seperti Kabupaten Muko-Muko
terdapat enam pabrik, Bengkulu Tengah dua Pabrik dan dua pabrik lainnya di Kabupaten
Seluma. Disamping itu juga ibu kota kabupaten tidak terletak jauh dari ibukota propinsi
sehingga pemasaran juga akan lebih lancar. Oleh karena itu pembangunan pabrik minyak
goreng di Bengkulu Utara sangat potensial karena didukung oleh faktor-faktor tersebut.

Melihat besarnya potensi, peluang dan manfaat diatas, maka perlu dilakukan pengkajian
terhadap kelayakan dalam investasi pembangunan pabrik minyak goreng kelapa sawit di
Propinsi Bengkulu, terutama kelayakan ekonomi yang merupakan aspek yang sangat penting
untuk dikaji demi kelangsungan berjalannya perusahaan.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Bengkulu Utara pada bulan Juni-Juli 2011. Data yang diperlukan
untuk studi ini diperoleh dengan melakukan studi pustaka, studi lapang, dan pengumpulan
data sekunder dari instansi terkait. Data tersebut kemudian dianalisis secara sistematis
untuk kemudian disimpulkan sebagai suatu keputusan hasil dari analisis.

Untuk menganalisa kelayakan ekonomi suatu pabrik, maka dibutuhkan beberapa data atau
tinjauan dari aspek teknis. Oleh sebab itu, sebelum menganalisa kelayakan ekonomi pabrik
minyak goreng yang akan didirikan, maka dilakukan beberapa tinjauan terhadap aspek
teknis yang berkaitan dengan kelayakan aspek ekonomi antara lain.
a. Kapasitas Produksi Ekonomis
b. Metode Penentuan Jenis Teknologi dan Proses Produksi
c. Lokasi
3

Setelah dilakukan tinjauan terhadap aspek teknis, maka dilakukan studi keayakan ekonomi
yang menggunakan beberapa criteria kelayakan antara lain Break Even Point, Net Present
Value, Benefit Cost Ratio, Payback Period dan Analisa Sensitifitas.

A. Break Even Point


BEP adalah jumlah hasil penjualan dimana proyek tidak menderita rugi, tetapi juga tidak
memperoleh keuntungan (Sutojo, 2000). BEP dibedakan menjadi dua yaitu BEP unit dan BEP
harga.

BEP unit dapat dihitung menggunakan rumus berikut

Keterangan :

BEP : Break Even Point


FC : Fixed Cost
VC : Variabel Cost/ biaya variable
P : Price per unit
S : Sales Volume/ jumlah penjualan

Sedangkan BEP harga dihitung sebagaimana rumus berikut.

Dalam ilmu akuntansi dikenal namanya Break Event Point (BEP). BEP merupakan titik
dimana pendapatan dari usaha sama dengan modal yang anda keluarkan, dengan artian
anda tidak mengalami kerugian maupun keuntungan.
Dengan kondisi bunga deposito yang semakin menurun, tentunya tidak memberikan return
yang cukup baik bagi kita untuk meningkatkan daya beli kita akan dana yang kita miliki. Hal
ini bisa disebabkan oleh tingkat inflasi yang lebih besar dari bunga deposito.
Bila kita mencoba untuk memulai suatu usaha baru dalam rangka untuk
meningkatkan return kita (apapun usaha yang kita pilih seperti toko lampu, toko
komputer, usaha photo copy, usaha budidaya pembesaran bebek pedading, usaha budidaya
jamur tiram, dll), tentunya kita perlu :
1. Menghitung-hitung berapa dana yang diperlukan untuk menyewa tempat
usaha, membeli peralatan, mempekerjakan karyawan dan hal-hal lain
2. Membuat proyeksi :
1. Berapa volume penjualan yang perlu diperoleh agar dapat minimal
menutup seluruh biaya-biaya timbul. Ini dikenal dengan istilah Break Even
Point (Biasa disingkat BEP) dimana seluruh biaya yang timbul sama dengan
total penjualan yang diperoleh, sehingga perusahaan tidak memperoleh
keuntungan maupun kerugian
2. Berapa volume penjualan yang diperlukan agar kita dapat
memperoleh laba yang kita targetkan
4

Jenis Break Event Point (BEP)


1. BEP Unit : BEP yang dinyatakan dalam jumlah penjualan produk di nilai
tertentu.
2. BEP Rupiah : BEP yang dinyatakan dalam jumlah penjualan atau harga
penjualan tertentu.
Rumus / Cara Menghitung BEP
BEP Unit = (Biaya Tetap) / (Harga per unit Biaya Variable per Unit)
BEP Rupiah = (Biaya Tetap) / (Kontribusi Margin per unit / Harga per Unit)
Keterangan :
BEP Unit / Rupiah = BEP dalam unit (Q) dan BEP dalam Rupiah (P)
Biaya Tetap = biaya yang jumlahnya tetap walaupun usaha anda tidak sedang
berproduksi.
Biaya Variable = biaya yang jumlahnya meningkat sejalan peningkatan jumlah
produksi seperti bahan baku, bahan baku pembantu, listrik, bahan bakar, dan lain-lain
Harga per unit = harga jual barang atau jasa perunit yang dihasilkan.
Biaya Variable per unit = total biaya variable perunit (TVC/Q)
Margin Kontribusi per unit = harga jual per unit -biaya variable per unit (selisih)
Contoh BEP perhitungan
Dalam menyusun perhitungan BEP, kita perlu menentukan dulu 3 elemen dari rumus BEP
yaitu :
1. Fixed Cost (Biaya tetap) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyewa tempat
usaha, peralatan, komputer dll. Biaya ini adalah biaya yang tetap kita harus
keluarkan walaupun kita hanya menjual 1 unit atau 2 unit, 5 unit, 100 unit atau tidak
menjual sama sekali
2. Variable cost (biaya variable) yaitu biaya yang timbul dari setiap unit
penjualan contohnya setiap 1 unit terjual, kita perlu membayar komisi salesman,
biaya antar, biaya kantong plastik, biaya nota penjualan dll
3. Harga penjualan yaitu harga yang kita tentukan dijual kepada pembeli

Berikut adapun contoh penggunaan rumus untuk menghitung Break Even Point :
1. Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi
Break Even Point :
Total Fixed Cost
__________________________________
Harga jual per unit dikurangi variable cost
Contoh :
Fixed Cost suatu toko lampu : Rp.200,000,-
Variable cost Rp.5,000 / unit
Harga jual Rp. 10,000 / unit
Maka BEP per unitnya adalah
Rp.200,000
__________ = 40 unit
10,000 5,000
Artinya perusahaan perlu menjual 40 unit lampu agar terjadi Break Even Point. Pada
pejualan unit ke 41, baru mulai memperoleh keuntungan
2. Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima
agar terjadi BEP :
5

Total Fixed Cost


__________________________________ x Harga jual / unit
Harga jual per unit dikurangi variable cost
Dengan menggunakan contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang
harus diterima agar terjadi BEP adalah
Rp.200,000
__________ x Rp.10,000 = Rp.400,000,-
10,000 5,000

Berikut Contoh Kasus :


Diketahui PT. Gear Second memiliki usaha di bidang alat perkakas martil dengan data
sebagai berikut :
1. Kapasitas produksi yang mampu dipakai 100.000 unit mesin martil.
2. Harga jual persatuan diperkirakan Rp. 5000,- unit
3. Total biaya tetap sebesar Rp. 150.000.000,- dan total biaya variabel sebesar
Rp.250.000.000,-

Perincian masing-masing biaya adalah sebagai berikut :


1. Fixed Cost
Overhead Pabrik : Rp. 60.000.000,-
Biaya disribusi : Rp. 65.000.000,-
Biaya administrasi : Rp. 25.000.000,-
Total FC : Rp.150.000.000,-

2. Variable Cost
Biaya bahan : Rp. 70.000.000,-
Biaya tenaga kerja : Rp. 85.000.000,-
Overhead pabrik : Rp. 20.000.000,-
Biaya distribusi : Rp. 45.000.000,-
Biaya administrasi : Rp. 30.000.000,-
Total VC : Rp.250.000.000,-
Penyelesaian untuk mendapatkan BEP dalam unit maupun rupiah.
Penyelesaian :
Kapasitas produksi 100.000 unit
Harga jual per unit Rp. 5000,-
Total Penjualan 100.000 unit x Rp 5000,- = Rp. 500.000.000,-
Total Penjualan 100.000 unit x Rp 5000,- = Rp. 500.000.000,-

Untuk mencari BEP dalam unit adalah sebagai berikut :


6

Keterangan : Jadi perusahaan harus menjual 60.000 Unit perkakas martil agar BEP.
Kemudian, mencari BEP dalam rupiah adalah sebagai berikut :

Keterangan : Jadi perusahaan harus mendapatkan omset sebesar Rp. 300.000.000,- agar
terjadi BEP.
Untuk membuktikan kedua hasil tersebut dengan :
BEP = Unit BEP x harga jual unit
BEP = 60.000 unit x Rp.5000 = Rp.300.000.000,-

2) Pendekatan Grafik
Kemudian rumus BEP yang kedua yaitu
pendekatan grafik menggambarkan hubungan antara volume penjualan dengan biaya y
ang dikeluarkan oleh perusahaan serta laba. Selain itu juga untuk mengetahui biaya t
etap dan biaya variabel dan tingkat kerugian perusahaan. Asumsi
yang digunakan dalam analisis peulang pokok ini adalah bahwa harga jual, biaya variabel
per unit adalah konstan.
Dari grafik di bawah terlihat bahwa untuk tiap-tiap masing unit penjualan terdapat informasi
yang lengkap setiap rupiah penjualan, biaya tetap, biaya variabel, total biaya maupun laba
atau rugi. Jadi manajemen dapat melihat jika akan memproduksi sekian unit, akan terlihat
seluruh komponen di atas. BEP melalui grafik tampak jelas ditunjukkan baik dari segi unit
maupun rupiah yang diperoleh.

Pendekatan grafik dilakukan dengan menggambarkan unsur-unsur biaya dan penghasilan


kedalam sebuah gambar grafik. Dalam gambar tersebut akan terlihat garis-garis biaya tetap,
biaya total yang menggambarkan jumlah biaya tetap dan biaya variabel, dan garis
penghasilan penjualan. Besarnya volume produksi/penjualan dalam unit digambarkan pada
sumbu horizontal (sumbu X) dan besarnya biaya dan penghasilan penjualan digambarkan
pada sumbu vertikal (sumbu Y).
Untuk menggambarkan garis biaya tetap dalam grafik break even point dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu dengan menggambarkan garis biaya tetap secara horizontal sejajar
dengan sumbu X, atau dengan menggambarkan garis biaya tetap sejajar dengan garis biaya
7

variabel. Pada cara yang kedua, besarnya contribution margin akan tampak pada gambar
break even point tersebut.
Penentuan break even point pada grafik, yaitu pada titik dimana terjadi persilangan antara
garis penghasilan penjualan dengan garis biaya total. dan Apabila titik tersebut kita tarik
garis lurus vertikal ke bawah sampai sumbu X akan tampak besarnya break even point
dalam unit. dan Kalau titik itu ditarik garus lurus horizontal ke samping sampai sumbu Y,
akan tampak besarnya break even point dalam rupiah.

B. Net Present Value


Adapun criteria kelayakan investasi berdasarkan nilai NPV menurut Sutojo (2000), dapat
dirumuskan sebagai berikut.

NPV(rate, value 1, [value 2], [value 3],)

Keterangan,
PV = Nilai sekarang n = tahun periode
FV = Nilai mendatang r = suku bunga

Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa net present value (NPV)adalah selisih antara nilai saat
ini (present value) seluruh net cahs flow tahunan yang akan diterima investor selama umur
ekonomis proyek dan nilai (anggaran) investasi proyek (Sutojo, 2000).

C. Benefit Cost Ratio


Adapun untuk menghitung BCR menurut Iman Suharto (2002) rumus yang digunakan
adalah sebagaimana berikut.

Penilaian kelayakan finansial berdasarkan net B/C Ratio yaitu


Net B/C Ratio > 1, maka proyek layak atau dapat dilaksanakan
Net B/C Ratio = 1, maka proyek impas antara biaya dan manfaat sehingga terserah kepada
pengambil keputusan untuk dilaksanakan atau tidak.
Net B/C Ratio < 1, maka proyek tidak layak atau tidak dapat dilaksanakan.

Benefit Cost Ratio


Secara teoritis, benefit Cost Ratio merupakan sebuah perbandingan antara semua nilai
benefit terhadap semua nilai pengorbanan atau biaya. Secara matematis, dapat dituliskan
melalui persamaan sebagai berikut :
BCR = (Present Value dari Manfaat / Present Value dari Pengorbanan atau biaya)
Nilai sekarang atau present value adalah berapa nilai uang saat ini untuk nilai tertentu di
masa yang akan datang. Sebagai gambaran adalah jika anda ingin memiliki uang sebesar 100
juta tiga tahun mendatang dengan tingkat inflasi 7% per tahun, maka berapa uang yang
harus anda persiapkan dari sekarang?
Dengan menggunakan rumus present value, anda akan dapat menentukan berapa uang
yang harus anda tabung untuk mendapatkan uang sebesar Rp.100 juta tiga tahun ke depan.
Nilai present value ini dapat kita hitung menggunakan persamaan sebagai berikut :
PV = Fn/ ( 1 + r ) n
8

Dimana :
Fn = Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )
PV = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r = Suku bunga
n = Jumlah Waktu ( tahun )
Sedangkan pengambilan keputusan terhadap kelayakan dapat dilihat dari nilai BCR yang
ditentukan sebagai berikut :
Jika BCR 1, maka dikatakan bahwa benefit dari proyek tersebut lebih besar
daripada pengorbanan yang dikeluarkan. Sehingga proyek tersebut dapat diterima
atau layak (feasible).
Sebaliknya jika BCR <1 maka dikatakan bahwa benefit dari proyek tersebut lebih kecil
daripada pengorbanannya atau proyek tersebut tidak layak (not feasible).
Contoh Kasus :
Sebuah klinik sedang mempertimbangkan untuk membeli beberapa peralatan medis baru
dengan harga Rp.25.000.000. Dengan adanya peralatan medis tersebut diperkirakan klinik
tersebut dapat melakukan penghematan sebesar Rp.500.000 per tahun dengan jangka
waktu selama 5 tahun. Pada akhir tahun ke 5 peralatan tersebut memiliki nilai jual sebesar
40.000.000. Dengan tingkat pengembalian investasi sebesar 9% per tahun apakah
pembelian peralatan medis akan menguntungkan bagi klinik tersebut ataukah tidak?
Perhitungan :
Melalui persamaan berikut maka akan dapat kita input nilai-nilainya menjadi :
BCR = (Present Value dari Manfaat / Present Value dari Pengorbanan atau biaya)
= (500.000 (P/A, 9%,5) + 40.000.000 (P/F,9%,5) / 25.000.000
=((500.000(3,88966) + 40.000.000(0,64993))/25.000.000
BCR =1,17
Karena nilai BCR yang dihasilkan nilainya lebih dari 1 maka investasi pembelian peralatan
medis baru tersebut dianggap layak dan menguntungkan bagi klinik di masa yang akan
datang. Jika demikian, maka disimpulkan bahwa klinik dapat membeli peralatan medis
tersebut.
Contoh lainnya :
Sebuah perusahaan ingin merenovasi bangunan apartemen yang mereka miliki dengan
profit tahunan yang mereka harapkan sebesar $100.000 selama tiga tahun ke depan. Saat
ini mereka mengeluarkan dana $50.000 untuk menyewa peralatan. Jika tingkat inflasi adalah
2% maka apakah gedung tersebut layak untuk direnovasi?
Penyelesaian :
Pertama kita perhitungkan dulu nilai Present Value sebagai berikut :
= ($100,000 / (1 + 0.02)^1) + ($100,000 / (1 + 0.02)^2) + ($100,00 / (1 + 0.02)^3)
= $288,388
Sedangkan BCR = $288,388/$50,000
= 5,77
Karena nilai BCR memiliki angka 5,77 yang nilainya lebih besar dari 1 maka kegiatan
perusahaan untuk merenovasi apartemen dianggap dapat memberikan keuntungan di masa
yang akan datang sehingga proyek ini layak untuk dijalankan
9

D. Payback Period
Payback period adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal suatu
investasi, yang dihitung dari arus kas bersih (Suharto,2002).
Adapun untuk menghitung Payback period digunakan rumus sebagaimana berikut.
Rumus Payback Periode

Rumus periode pengembalian jika arus kas per tahun jumlahnya berbeda

Payback Period = n + (a-b) /(c-b) x 1 tahun

n = Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum bisa menutup investasi mula-mula.
a = Jumlah investasi mula-mula.
b = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n
c = Jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke n + 1

Rumus periode pengembalian jika arus kas per tahun jumlahnya sama

Payback Peiod = (investasi awal) /(arus kas) x 1 tahun

Periode pengembalian lebih cepat : layak


Periode pengembalian lebih lama : tidak layak
Jika usulan proyek investasi lebih dari satu, maka periode pengembalian yang lebih cepat yang
dipilih

Payback period memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus anda ketahui.
Kelebihan
Payback period akan memudahkan anda untuk bisa dihitung dengan menentukan lamanya waktu
pengembalian dana investasi.

Selain itu juga bisa memberikan informasi tentang lamanya break even project.
Bisa digunakan untuk membandingkan dua proyek yang punya resiko serta rate sama dengan cara
melihat jangka waktu pengembalian investasi jika payback period-nya lebih pendek itu dipilih.

Kekurangan
Dengan memakai metode diatas bisa mengabaikan penerimaan-penerimaan investasi atau proceeds
yang sudah diperoleh setelah payback periode terpenuhi.
Metode ini mengabaikan time value of money (nilai waktu uang) .

Tidak bisa memberikan informasi tentang tambahan value pada perusahaan.


Payback periods bisa untuk mengukur kecepatan kembalinya dana, namun tidak mengukur
keuntungan proyek pembangunan yang sudah direncanakan.

Contoh Perhitungan Payback Period


Contoh kasus arus kas setiap tahun jumlahnya sama :

PT. Semakin Jaya melakukan investasi sebesar $ 45.000, jumlah proceed per tahun adalah $ 22.500,
maka payback periodnya adalah :
Payback Period = (investasi awal) /(arus kas) x 1 tahun
Payback Period = ($ 45.000) /($ 22.500) x 1 tahun
Payback Period = 2 tahun
10

Payback Period dari investasi diatas yaitu dua tahun. Itu berarti uang yang tertanam dalam aktiva
sebesar $ 45.000 bisa kembali dalam jangka waktu dua tahun. Jika investor diberikan dua pilihan
investasi, maka memilih payback period yang paling kecil.

Contoh kasus arus kas setiap tahun jumlahnya berbeda :

PT. Jaya Mandiri melakukan investasi sebesar $ 100.000 pada aktiva tetap, dengan proceed sebagai
berikut :
Tahun Proceed Proceed Kumulatif
1. $ 50.000 $ 50.000
2. $ 40.000 $ 90.000
3. $ 30.000 $ 120.000
4. $ 20.000 $ 140.000

Maka payback periodnya adalah :


Payback Period = n+(a-b) /(c-b) x 1 tahun
Payback Period = 2 + ($ 100.000 $ 90.000) /($ 120.000 $ 90.000) x 1 tahun
Payback Period = 2 + ($ 10.000) /($ 30.000) x 1 tahun
Payback Period = 2,33 tahun atau 2 tahun 4 bulan

E. Analisa Sensitiftas
Analisis Sensitivitas ini dilakukan pada tahap perencanaan. Analisis ini bertujuan untuk
mengetahui kepekaan proyek atau usaha tehadap perubahan-perubahan yang terjadi pada
arus biaya dan manfaat pada saat proyek berlangsung. Perubahan-perubahan yang akan
diuji adalah peningkatan harga input produksi dan penurunan harga jual output yang terjadi
pada waktu penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Lokasi
Pada penelitian ini lokasi pabrik telah ditentukan yaitu di Desa Senali Kecamatan
Argamakmur Kabupaten Bengkulu Utara
2. Penentuan Kapasitas Produksi
- Kemampuan Pasar Menyerap Produk
Dari hasil survey yang telah dilakukan, kebutuhan minyak goring masyarakat Bengkulu
per bulan adalah sebesar 613.000 Kg/bulan
- Ketersediaan bahan baku
Junlah produksi CPO pada tahun 2010 mencapai 2.340.000 Kg.
- Kemampuan Teknis
Kemampuan teknis mesin yang tersedia mulai dari kapasitas 100 Kg/jam hingga 20.000
Kg/jam
Dari ketiga factor diatas maka kapasitas yang dipilih adalah sebesar 11.000 Kg/hari atau
500 Kg/jam

3. Analisa Ekonomi
11

3.1 Kebutuhan Dana Investasi


Dana investasi adalah dana yang dibutuhkan untuk membangun suatu proyek. Dari
perhitungan yang telah dilakukan, jumlah biaya investasi yang diperlukan adalah sebanyak
Rp. 13.938.000.000,-. Seluruh perhitungan biaya ini sudah termasuk biaya pengiriman mesin
dan peralatan serta pemasangan dan pembangunan pabrik.

3.2 Biaya Operasional


Pada penelitian ini biaya operasional dibagi menjadi dua yaitu biaya variable dan biaya
tetap. Biaya variable terdiri dari biaya pembelian bahan baku, pembelian bahan baku
penolong, pemurnian air, pembangkit tenaga, gaji/upah karyawan tidak tetap, laboratorium,
konsumsi karyawan selama jam kerja, administrasi dan umum, operasional kendaraan,
promosi dan bahan bakar boiler (Lampiran 3). Sedangkan biaya tetap terdiri dari gaji
karyawan tetap, depresiasi, asuransi, pajak bumi dan bangunan serta biaya pemeliharaan
mesin dan biaya pemeliharaan gedung (Lampiran 4).

Biaya operasional ini tergantung dari kapasitas operasi pabrik, jika beroperasi dengan
kapasitas maksimal maka biaya operasi yang dibutuhkan per bulan mencapai
Rp. 1.926.016.209.

3.3 Perkiraan Pendapatan Kotor dan Pendapatan Bersih


Pada penelitian ini diperkirakan pendapatan kotor per bulan adalah sebesar Rp.
2.325.180.000, sedangkan biaya operasional sebesar Rp 1.926.016.209, sehingga
pendapatan bersih sebelum pajak adalah sebesar Rp.399.163.790, setelah dikurangi pajak
penghasilan sebesar 12,5 % maka diperoleh pendapatan bersih setelah pajak sebesar Rp.
349.268.317.

3.4 Analisa Kelayakan Ekonomi


3.4.1 Break Even Point
Pada pabrik ini terdapat 3 produk yang dihasilkan yaitu olein sebagai produk utama, stearin
dan asam lemak bebas sebagai hasil sampingan. Ketiga produk tersebut mempunyai harga
berbeda-beda yaitu olein Rp.9.000, stearin Rp.7.000 dan asam lemak bebas Rp.3.000,
sehingga untuk menghitung BEP ketiga harga tersebut disatukan sehingga diperoleh harga
satuan yaitu Rp.8.130. Biaya satuan pada penelitian ini adalah sebesar Rp.6.908,78, biaya ini
diperoleh dari jumlah total biaya operasional dibagi dengan jumlah bahan baku. Setelah
didapatkan harga satuan dan biaya satuan, maka dilakukan perhitungan BEP unit dan
didapatkan hasil sebesar 11.413.196,70 Kg (8.844.174,56 Kg olein, 2.358.446,55 Kg
stearin, 210.575,58 Kg asam lemak bebas). Sedangkan untuk BEP harga diperoleh nilai
sebesar Rp. 92.789.289.170,58.

3.4.2 Net Present Value


Dari hasil penelitian didapatkan nilai present value pendapatan adalah
sebesar Rp. 19.190.170.931,54, sedangkan biaya investasi sebesar Rp.13.938.000.000,
sehingga nilai NPV yang didapat adalah sebesar Rp.5.252.142.379,25. Net Present Value
atau nilai sekarang bersih yang diperoleh bernilai positif, artinya proyek tersebut layak
untuk dilaksanakan.
12

3.4.3 Benefit Cost Ratio


Pada penelitian present value pendapatan yang diperoleh adalah sebesar
Rp. 19.190.170.931,54, sedangkan biaya investasi sebesar Rp.13.938.000.000, sehingga nilai
B/C ratio yang diperoleh adalah sebesar 1,376. Nilai B/C ratio yang diperoleh lebih besar
dari 1 sehingga proyek bisa dikatakan layak untuk dilaksanakan, selain itu nilai B/C ratio ini
berarti juga bahwa setiap penambahan pengeluaran sebesar Rp.1,0 akan memperoleh
keuntungan Rp. 1,376.

3.4.3 Payback Period


Pada penelitian ini, untuk menghitung periode pengembalian maka digunakan metode
sebagaimana tabel 5 berikut.
Tabel 5. Perhitungan Periode Pengembalian
Pendapatan
Tahun biaya investasi (RP) Pengembalian modal (Rp)
(Rp)
1 0 13,938,000,000 -13,938,000,000
2 1,761,313,703 13,938,000,000 -12,176,686,297
3 4,191,219,801 13,938,000,000 -7,985,466,496
4 4,191,219,801 13,938,000,000 -3,794,246,695
5 4,191,219,801 13,938,000,000 396,973,106
6 4,191,219,801 13,938,000,000 4,588,192,907

Dari perhitungan di atas, dapat dilihat bahwa modal akan kembali pada antara tahun ke 4
dan ke 5. Setelah dihitung dengan menggunakan metode interpolasi maka didapatkan nilai
sebesar 4,91, artinya periode pengembalian adalah selama 4,91 tahun atau 4 tahun 11
bulan.

3.4.4 Analisa Sensitifitas


3.4.4.1 Kenaikan Harga Bahan Baku
Pada kenaikan harga bahan baku, sensitifitas yang terjadi dapat dilihat sebagaimana tabel 6
berikut.

Tabel 6. Sensitifitas proyek terhadap kenaikan harga bahan baku


Parameter
Skenario
NPV (Rp) B/C ratio BEP (Kg)
1. Harga bahan baku naik sebesar 5 % 2.061.796.784 1,14 13.903.687
2. Harga bahan baku naik sebesar 10 % - 1.128.548.810 0,91 17.784.461

Dari perhitungan sensitifitas tersebut, dapat dilihat bahwa perubahan harga bahan baku
sensitif terhadap kelayakan proyek.

3.4.4.2 Penurunan Harga Jual Olein


13

Pada penurunan harga jual olein, sensitifitas yang terjadi dapat dilihat sebagaimana tabel 6
berikut.

Tabel 7. Sensitifitas proyek terhadap penurunan harga jual olein


Parameter
Skenario
NPV (Rp) B/C ratio BEP (Kg)
1. Harga jual olein turun sebesar 5 % 1.232.306.930 1,08 14.739.958
2. Harga jual olein turun sebesar 10 % -2.787.528.518 0,8 20.803.982

Dari perhitungan sensitifitas diatas, dapat dilihat bahwa penurunan harga jual olein sensitive
terhadap kelayakan proyek.

KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Berdasarkan analisis maka dapat disimpulkan bahwa proyek ini layak secara ekonomi, hal ini
dikarenakan dilihat dari berbagai parameter yang telah digunakan antara lain BEP, NPV, BC
ratio, Payback Period dan Analisa Sensitifitas. Break Even Point unit pada proyek ini adalah
sebesar 11.413.196,70 Kg ( 8.844.174,56 Kg olein, 2.358.446,55 Kg stearin, 210.575,58 Kg
asam lemak bebas). Sedangkan untuk BEP harga diperoleh nilai sebesar Rp.
92.789.289.170,58. Maka bisa dinyatakan bahwa proyek atau perusahaan akan tidak
mengalami kerugian jika memproduksi sebanyak 11.413.196,70 Kg atau setelah
memperoleh pendapatan kotor sebanyak Rp. 92.789.289.170,58. Sehingga untuk
mendapatkan keuntungan pabrik harus menghasilkan produk lebih banyak dari nilai BEP
unit atau memperoleh pendapatan diatas Rp. 92.789.289.170,58. Ditinjau dari pengamatan
terhadap Net Present Value dengan tingkat suku bunga 13%, maka proyek ini layak untuk
dilaksanakan karena memiliki nilai positif yaitu sebesar Rp. 5.252.142.379,25. sedangkan
tingkat suku bunga maksimum yang masih bisa ditoleransi dimana nilai NPV sama dengan
nol adalah 19,2179246 %.

Adapun dari perhitungan B/C ratio proyek ini juga layak untuk dilaksanakan karena memiliki
nilai lebih besar dari 1 yaitu sebesar 1,376. Sedangkan Pengembalian modal akan
berlangsung selama 4 tahun 11 bulan. Pengembalian modal tersebut cukup cepat sehingga
proyek layak untuk dilaksanakan. Dan dari analisa sensitifitas yang telah dilakukan, ternyata
proyek cukup sensitive terhadap perubahan harga bahan baku dan harga jual produk.
Kenaikan harga bahan baku sebesar 5 % masih bisa ditoleransi akan tetapi kenaikan harga
diatas 5 % sudah tidak bisa ditoleransi sehingga menyebabkan kerugian. Sedangkan
penurunan harga jual sebesar 5 % dapat ditoleransi akan tetapi jika mencapai 10 % tidak
dapat ditoleransi karena juga akan menyebabkan kerugian. Sehinggga ditinjau dari
keseluruhan aspek ekonomi, maka bisa dinyatakan bahwa proyek pembangunan pabrik
minyak goreng ini layak untuk dilaksanakan.
14

2. Saran
1. Hendaknya Pemerintah Propinsi Bengkulu membuat peraturan yang membatasi
penjualan CPO ke luar daerah, dengan adanya peraturan tersebut, maka kebutuhan
akan bahan baku pasti bisa terpenuhi.
2. Disarankan kepada Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara atau Pemerintah Propinsi
Bengkulu untuk mencari investor untuk membangun pabrik minyak goreng ini karena
dinilai layak secara ekonomis
3. Disarankan bagi peneliti lain untuk meneliti aspek-aspek lain terutama aspek teknis dan
ekologi.
4. Pembangunan pabrik minyak goreng akan lebih tepat jika diintegrasikan dengan pabrik
CPO, oleh karena itu disarankan juga kepada pengusaha pabrik CPO untuk
mengintegrasikan pabrik minyak goreng ke dalam perusahaannya.
15

DAFTAR PUSTAKA

Agustriana,Silvia.2005.Studi Kelayakan Pendirian Pabrik Minyak Goreng di Kabupaten


Bengkulu Utara Propinsi Bengkulu.Universitas Bengkulu (Skripsi:Tidak dipublikasikan)

Anonim.2005. Peta Komoditi Utama Sektor Primer dan Pengkajian Peluang Pasar serta
Peluang Investasinya di Indonesia

Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Bengkulu.2011.

Dinas Perkebunan Propinsi Bengkulu.2011

Direktorat Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan.2009.Unggulan Pertanian Indonesia


Untuk Dunia

Ketaren, S.1986.Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan.Jakarta:Penerbit


Universitas Indonesia.

Nasarudin,Indo Yama.2009.Analisis Kelayakan Ekonomi dan Finansial Usaha Ternak Ayam


Potong di Parung Hijau.Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Syarif Hidayatullah

Pujawan,I Nyoman.2003.Ekonomi Teknik.Surabaya : Guna Widya ITS

Rahayu,Kuswaryan,Firmansyah,Firman dan Fitriani.2010.Studi Kelayakan Bisnis


Peternakan.Universitas Padjajaran

Rosita,AF dan Widasari WA.2008.Peningkatan Kualitas Minyak Goreng Bekas Dari Kfc
Dengan Menggunakan Adsorben Karbon Aktif.Semarang:Universitas Diponegoro

Sugiarti,Sri.2008.Analisis Kelayakan Finansial Usaha Peternakan Ayam Broiler Abdul


Djawad Farm Di Desa Banyu Resmi Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. Bogor: IPB
(Skripsi:Tidak dipublikasikan)

Suharto,Iman.2002.Studi Kelayakan Proyek Industri.Jakarta:Erlangga

Sutiah,Firdausi,dan Setia Budi.2008.Studi Kualitas Minyak Goreng Dengan Parameter


Viskositas Dan Indeks Bias.Jurnal Berkala Fisika,Vol 11, No 2, April 2008 ISSN : 1410 9662

Sutojo, S.2000.Studi Kelayakan Proyek, Konsep, Teknik dan Kasus, Seri Manajemen Bank
No.66, Jakarta:Damar Mulia Pustaka.

Syahza,Almasdi dan Tarumun,Suardi.2003.Prospek Pembangunan Industri Minyak Goreng di


Riau.Bandung : Sosiohumaniora,Vol 5,No 1, Maret 2003