Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MAKALAH KIMIA IKATAN KIMIA

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
KETUA: ALYA RIZKI H. (NO. ABSEN 3)
ANGGOTA:
1. AFIF MUHLIH (NO. ABSEN 1)
2. AISYA ARRAYYANI (NO. ABSEN 2)
3. AMEL JIHANIA (NO. ABSEN 4)
4. ANASTASYA KINANTI (NO. ABSEN 5)
5. ANNISA DWI CAHYANI ( NO. ABSEN 6)

SMA NEGERI 13 PALEMBANG

TAHUN AJARAN 2017/2018


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 3

BAB I .................................................................................................................. 4

PENDAHULUAN .................................................................................................. 4

A. Latar Belakang ................................................................................. 4

B. Rumusan Masalah ............................................................................ 5

C. Tujuan ............................................................................................... 5

BAB II ................................................................................................................. 5

PEMBAHASAN .................................................................................................... 5

Pengertian Ikatan Kimia ................................................................................. 5

A. Jenis-Jenis Ikatan Kimia ....................................................................... 6

1. Ikatan antar atom ............................................................................... 7

2. Ikatan Antara Molekul............................................................................ 9

B. Teori Orbital Molekul ............................................................................ 9

1. Sejarah perkembangan ..................................................................... 11

2. Teori hibridisasi vs. Teori orbital molekul ........................................ 11

BAB III .............................................................................................................. 13

PENUTUP ......................................................................................................... 13

A. Kesimpulan .......................................................................................... 13

2|Ikatan Kimia
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah Kimia.

Makalah ini membahas segala hal yang berkaitan dengan ikatan kimia,
penulis sangat berharap karya tulis ini dapat membantu kita untuk
memahami pelajaran kimia.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam
penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan
orang tua, sehingga kendala-kendala penulis dapat teratasi.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para siswa. kami
sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.
Untuk itu, kepada guru pembimbing saya meminta masukannya demi
perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang dan
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Palembang, September 2017

Penulis

3|Ikatan Kimia
MAKALAH
IKATAN KIMIA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita menerima begitu saja
dunia sekitar kita beserta perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya
tanpa mempertanyakan misalnya, apa itu air, apa itu bensin, mengapa bensin
bias terbakar sedangkan air tidak? Apakah arti tarbakar? Mengapa besi
dapat berkarat sedangkan emas tidak? Apa itu karet dan bagaimana
membuat karet tiruan?
Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah sebagian dari masalah yang
dibahas dalam dalam ilmu kimia. Oleh karena itu, ilmu kimia dapat di
definisikan sebagai ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu
tentang materi, seperti hakekat, susunan, sifat-sifat, perubahan serta energi
yang menyertai perubahannya.
Suatu atom bergabung dengan atom lainnya melalui ikatan kimia
sehingga dapat membentuk senyawa, baik senyawa kovalen maupun
senyawa ion. Senyawa ion terbentuk melalui ikatan ion, yaitu ikatan yang
terjadi antara ion positif [atom yang melepaskan elektron] dan ion negative
[atom yang menangkap elektron]. Akibatnya, senyawa ion yang terbentuk
bersifat polar.
Dalam setiap senyawa, atom-atom terjalin secara terpadu oleh suatu
bentuk ikatan antaratom yang deiebut ikatan kimia. Seorang ahli kimia dari
Amerika serikat, yaitu Gilbert Newton Lewis ( 1875- 1946) dan Albrecht Kosel
dari Jerman ( 1853- 1972) menerangkan tentang konsep ikatan kimia.
- Unsur- unsur gas mulia ( golongan VIIA) sukar membentuk senyawa
karena konfigurasi electronnya memeliki susunan electron yang Stabil.
- Setiap unsur berusaha memeliki konfigurasi electron seperti yang di
meliki oleh unsure gas mulia, yaitu dengan cara melepaskan electron atau
menangkap electron.

4|Ikatan Kimia
- Jika suatu unsure melepaskan electron, artinya unsure itu electron pada
unsure lain. Sebaliknya, jika unsure itu menangkap elektron, artinya
menerima elektron dari unsure lain. Jadi susunan yang stabil tercapai jika
berikatan dengan atom unsure lain.
- Kecenderungan atom- atom unsure untuk memiliki delapan elektron di
kulit terluar di sebut kaida octet.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan keseluruhan kajian teoritis dan hasil Studi yang kami (
kelompok III )rangkup pada uraian latar belakang di atas, maka
permasalahan yang kami angkat adalah apakah kita biasa menerima begitu
saja perubahan-perubahan yang terjadi tanpa mempertanyakannya?

C. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin di capai dalam mengadakan tugas makalah ini
adalah :
- Agar mengetahui perubahan yang terjadi di sekitar kita
- Untuk lebih memahami Ilmu Kimia secara umum
- Lebih menyadari pentingnya pendidikan,melati kami dalam pembuatan-
pembuatan makala secara kelompok, sehingga menjadi bekal bagi masa
yang akan dating.

BAB II

PEMBAHASAN

IKATAN KIMIA

Pengertian Ikatan Kimia


Antara dua atom atau lebih dapat saling berinteraksi dan membentuk
molekul. Interaksi ini selalu disertai dengan pelepasan energi. Adapun gaya-
gaya yang menahan atom-atom dalam molekul merupakan suatu ikatan yang
dinamakan ikatan kimia. Ikatan kimia terbentuk karena unsure-unsur
cenderung membentuk struktur elektron stabil. Struktur elektron stbil yaitu
struktur elektron gas mulia ( Golongan VIII A ) Seperti dalam tabel 3.1
berikut.

Unsur No Atom K L N M O P

5|Ikatan Kimia
He 2 2
Ne 10 2 8
Ar 18 2 8 8
Kr 36 2 8 18 8
Xe 54 2 8 18 18 8
Rn 86 2 8 18 32 18 8

Walter Kossel dan Gilbert Lewis pada tahun 1916 menyatakan bahwa
terdapat hubungan antara stabilnya gas mulia dengan cara atom berikatan.
Mereka mengemukakan bahwa jumlah elektron terluar dari dua atom yang
berikatan, akan berubah sedemikian rupa sehingga susunan kedua elektron
kedua atom tersebut sama dengan susunan gas mulia. Kecenderungan atom-
atom untuk memiliki struktur atau konfigurasi elektron gas mulia atau 8
elektron pada kulit terluar disebut kaidah oktet
Contoh: Br + Br Br Br Atau Br - Br
Sementara itu,atom-atom yang mempunyai nomor atom kecil dari
hydrogen sampai dengan boron cenderung memiliki konvegurasi elektron gas
helium atau mengikuti kaidah Duplet.
Elektron yang berperan dalam reaksi kimia yaitu elektron pada kulit
terluar atau elektron valensi. Elektron valensi menunjukan kemampuan suatu
atom untuk berikan dengan atom lain. Contoh elektron valensi dari beberapa
unsur dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 3.2 Elektron Valensi Beberapa Unsur


Susunan Elektron
Unsur
elektron valensi
6C 2. 4 4
8O 2.6 6
12Mg 2.8.2 2
13Al 2.8.3 3
15P 2.8.5 5
17Cl 2.8.7 7

Unsnr unsnr dari golongan alkali dan alkali tanah , untuk menyapai
kestabilan cenderung melepaskan elektron terluarnya sehingga membentuk
ion positif . unsnr unsnr yang mempunyai kecendrungan membentuk ion
positif termasuk unsur elektro positif . unsnr unsur dari golongan halogen
dan khalkhogen mempunyai kecendrungan menangkap elektron untuk
mencapai kestabilan sehingga membentuk ion negative. Unsur - unsur yang
demikian termasuk unsurelektronnegative .

A. Jenis-Jenis Ikatan Kimia


Ikatan kimia merupakan sebuah proses fisika yang
bertanggungung jawab dalam gaya interaksi tarik menarik antara dua atom

6|Ikatan Kimia
atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa diatomik atau poliatomik
menjadi stabil. Secara umum, ikatan kimia dapat digolongkan menjadi dua
jenis, yaitu:

1. Ikatan antar atom

a. Ikatan ion = heteropolar


Ikatan ionik adalah sebuah gaya elektrostatik yang mempersatukan ion-ion
dalam suatu senyawa ionik. Ion-ion yang diikat oleh ikatan kimia ini terdiri
dari ka2tion dan juga anion. Kation terbentuk dari unsur-unsur yang memiliki
energi ionisasi rendah dan biasanya terdiri dari logam-logam alkali dan alkali
tanah. Sementara itu, anion cenderung terbentuk dari unsur-unsur yang
memiliki afinitas elektron tinggi, dalam hal ini unsur-unsur golongan halogen
dan oksigen. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ikatan ion sangat
dipengaruhi oleh besarnya beda keelektronegatifan dari atom-atom
pembentuk senyawa tersebut. Semakin besar beda keelektronegatifannya,
maka ikatan ionik yang dihasilkan akan semakin kuat. Ikatan ionik tergolong
ikatan kuat, dalam hal ini memiliki energi ikatan yang kuat sebagai akibat
dari perbedaan keelektronegatifan ion penyusunnya. Pembentukan ikatan
ionik dilakukan dengan cara transfer elektron. Dalam hal ini, kation
terionisasi dan melepaskan sejumlah elektron hingga mencapai jumlah oktet
yang disyaratkan dalam aturan Lewis
Sifat-Sifat ikatan ionik adalah:
a. Bersifat polar sehingga larut dalam pelarut polar
b. Memiliki titik leleh yang tinggi
c. Baik larutan maupun lelehannya bersifat elektrolit

b. Ikatan kovalen = homopolar


Ikatan kovalen merupakan ikatan kimia yang terbentuk dari pemakaian
elektron bersama oleh atom-atom pembentuk ikatan. Ikatan kovalen
biasanya terbentuk dari unsur-unsur non logam. Dalam ikatan kovalen, setiap
elektron dalam pasangan tertarik ke dalam nukleus kedua atom. Tarik
menarik elektron inilah yang menyebabkan kedua atom terikat bersama.
Ikatan kovalen terjadi ketika masing-masing atom dalam ikatan tidak mampu
memenuhi aturan oktet, dengan pemakaian elektron bersama dalam ikatan
kovalen, masing-masing atom memenuhi jumlah oktetnya. Hal ini mendapat
pengecualian untuk atom H yang menyesuaikan diri dengan konfigurasi atom
dari yang tidak terlibat dalam ikatan kovalen disebut elektron bebas.
Elektron bebas ini berpengaruh dalam menentukan bentuk dan geometri
molekul.
Ada beberapa jenis ikatan kovalen yang semuanya bergantung pada jumlah
pasangan elektron yang terlibat dalam ikatan kovalen. Ikatan tunggal
merupakan ikatan kovalen yang terbentuk 1 pasangan elektron. Ikatan
rangkap 2 merupakan ikatan kovalen yang terbentuk dari dua pasangan
elektron, beitu juga dengan ikatan rangkap 3 yang terdiri dari 3 pasangan

7|Ikatan Kimia
elektron. Ikatan rangkap memiliki panjang ikatan yang lebih pendek daripada
ikatan tunggal. Selain itu terdapat juga bermacam-macam jenis ikatan
kovalen lain seperti ikatan sigma, pi, delta, dan lain-lain.
Senyawa kovalen dapat dibagi mejadi senyawa kovalen polar dan non polar.
Pada senyawa kovalen polar, atom-atom pembentuknya mempunyai gaya
tarik yang tidak sama terhadap elektron pasangan persekutuannya. Hal ini
terjadi karena beda keelektronegatifan antara atom-atom penyusunnya.
Akibatnya terjadi pemisahan kutub positif dan negatif. Sementara itu pada
senyawa kovalen non-polar titik muatan negatif elekton persekutuan
berhimpit karena beda keelektronegatifan yang kecil atau tidak ada.
Gambar Ikatan Kovalen pada metana

c. Ikatan kovalen koordinasi = semipolar


Ikatan kovalen koordinat merupakan ikatan kimia yang terjadi apabila
pasangan elektron bersama yang dipakai oleh kedua atom disumbangkan
oleh sala satu atom saja. Sementara itu atom yang lain hanya berfungsi
sebagai penerima elektron berpasangan saja.
Syarat-syarat terbentuknya ikatan kovalen koordinat:
- Salah satu atom memiliki pasangan elektron bebas
- Atom yang lainnya memiliki orbital kosong

Susunan ikatan kovalen koordinat sepintas mirip dengan ikatan ion, namun
kedua ikatan ini berbeda oleh karena beda keelektronegatifan yang kecil
pada ikatan kovalen koordinat sehingga menghasilkan ikatan yang
cenderung mirip kovalen.

d. Ikatan Logam
Ikatan logam merupakan salah satu ciri khusus dari logam, pada ikatan
logam ini elektron tidak hanya menjadi miliki satu atau dua atom saja,
melainkan menjadi milik dari semua atom yang ada dalam ikatan logam
tersebut. Elektron-elektron dapat terdelokalisasi sehingga dapat bergerak
bebas dalam awan elektron yang mengelilingi atom-atom logam. Akibat dari
elektron yang dapat bergerak bebas ini adalah sifat logam yang dapat
menghantarkan listrik dengan mudah. Ikatan logam ini hanya ditemui pada
ikatan yang seluruhnya terdiri dari atom unsur-unsur logam semata

8|Ikatan Kimia
2. Ikatan Antara Molekul

a. Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen merupakan gaya tarik menarik antara atom H dengan atom
lain yang mempunyai keelektronegatifan besar pada satu molekul dari
senyawa yang sama. Ikatan hidrogen merupakan ikatan yang paling kuat
dibandingkan dengan ikatan antar molekul lain, namun ikatan ini masih lebih
lemah dibandingkan dengan ikatan kovalen maupun ikatan ion.
Ikatan hidrogen ini terjadi pada ikatan antara atom H dengan atom N, O, dan
F yang memiliki pasangan elektron bebas. Hidrogen dari molekul lain akan
bereaksi dengan pasangan elektron bebas ini membentuk suatu ikatan
hidrogen dengan besar ikatan bervariasi. Kekuatan ikatan hidrogen ini
dipengaruhi oleh beda keelektronegatifan dari atom-atom penyusunnya.
Semakin besar perbedaannya semakin besar pula ikatan hidrogen yang
dibentuknya.
Kekuatan ikatan hidrogen ini akan mempengaruhi titik didih dari senyawa
tersebut. Semakin besar perbedaan keelektronegatifannya maka akan
semakin besar titik didih dari senyawa tersebut. Namun, terdapat
pengecualian untuk H2O yang memiliki dua ikatan hidrogen tiap molekulnya.
Akibatnya, titik didihnya paling besar dibanding senyawa dengan ikatan
hidrogen lain, bahkan lebih tinggi dari HF yang memiliki beda
keelektronegatifan terbesar.

b. Ikatan van der walls


Gaya Van Der Walls dahulu dipakai untuk menunjukan semua jenis gaya tarik
menarik antar molekul. Namun kini merujuk pada gaya-gaya yang timbul dari
polarisasi molekul menjadi dipol seketika. Ikatan ini merupakan jenis ikatan
antar molekul yang terlemah, namun sering dijumpai diantara semua zat
kimia terutama gas. Pada saat tertentu, molekul-molekul dapat berada dalam
fase dipol seketika ketika salah satu muatan negatif berada di sisi tertentu.
Dalam keadaa dipol ini, molekul dapat menarik atau menolak elektron lain
dan menyebabkan atom lain menjadi dipol. Gaya tarik menarik yang muncul
sesaat ini merupakan gaya Van der Walls.

B. Teori Orbital Molekul


Teori Ikatan Valensi mampu secara kualitatif menjelaskan kestabilan
ikatan kovalen sebagai akibat tumpang-tindih orbital-orbital atom. Dengan
konsep hibridisasi pun dapat .sayangnya dalam beberapa kasus, teori ikatan
valensi tidak dapat menjelaskan sifat-sifat molekul yang tramati secara

9|Ikatan Kimia
memuaskan. Contohnya adalah molekul oksigen, yang struktur Lewisnya
sebagai berikut.

Menurut gambaran struktur Lewis Oksigen di atas, semua elektron pada


O2 berpasangan dan molekulnya seharusnya bersifat diamagnetik, namun
kenyataanya, menurut hasil percobaan diketahui bahwa Oksigen bersifat
paramagnetik dengan dua elektron tidak berpasangan. Temuan ini
membuktikan adanya kekurangan mendasar dalam teori ikatan valensi.
Sifat magnet dan sifat-sifat molekul yang lain dapat dijelaskan lebih baik
dengan menggunakan pendekatan mekanika kuantum yang lain yang disebut
sebagai teori orbital molekul (OM), yang menggambarkan ikatan kovalen
melalui istilah orbital molekul yang dihasilkan dari interaksi orbital-orbital
atom dari atom-atom yang berikatan dan yang terkait dengan molekul secara
keseluruhan.
Menurut teori OM, tumpang tindih orbital 1s dua atom hidrogen
mengarah pada pembentukan dua orbital molekul, satu orbital molekul ikatan
dan satu orbital molekul antiikatan. Orbital molekul ikatan memiliki energi
yang lebih rendah dan kestabilan yang lebih besar dibandingkan dengan
orbital atom pembentuknya. Orbital molekul antiikatan memiliki energi yang
lebih besar dan kestabilan yang lebih rendah dibandingkan dengan orbital
atom pembentuknya. Penempatan elektron dalam orbital molekul ikatan
menghasilkan ikatan kovalen yang stabil, sedangkan penempatan elektron
dalam orbital molekul antiikatan menghasilkan ikatan kovalen yang tidak
stabil.
Dalam orbital molekul ikatan kerapatan elektron lebh besar di antara inti
atom yang berikatan. Sementara, dalam orbital molekul antiikatan, kerapatan
elektron mendekati nol diantara inti. Perbedaa ini dapat dipahami bila kita
mengingat sifat gelombang pada elektron. Gelombang dapat berinteraksi
sedemikian rupa dengan gelombang lain membentuk interferensi konstruktif
yang memperbesar amplitudo, dan juga interferensi destruktif yang
meniadakan amplitudo.
Pembentukan orbital molekul ikatan berkaitan dengan interferensi
konstruktif, sementara pembentukan orbital molekul antiikatan berkaitan
dengan interferensi destruktif. Jadi, interaksi konstruktif dan interaksi
destruktif antara dua orbital 1s dalam molekul H2 mengarah pada
pembentukan ikatan sigma (1s) dan pembentukan antiikatan sigma (*1s).

C. Hibridisasi
Dalam kimia, hibridisasi adalah sebuah konsep bersatunya orbital-orbital
atom membentuk orbital hibrid yang baru yang sesuai dengan penjelasan
kualitatif sifat ikatan atom. Konsep orbital-orbital yang terhibridisasi
sangatlah berguna dalam menjelaskan bentuk orbital molekul dari sebuah
molekul. Konsep ini adalah bagian tak terpisahkan dari teori ikatan valensi.
Walaupun kadang-kadang diajarkan bersamaan dengan teori VSEPR, teori

10 | I k a t a n K i m i a
ikatan valensi dan hibridisasi sebenarnya tidak ada hubungannya sama
sekali dengan teori VSEPR.

1. Sejarah perkembangan
Teori hibridisasi dipromosikan oleh kimiawan Linus Pauling[2] dalam
menjelaskan struktur molekul seperti metana (CH4). Secara historis, konsep
ini dikembangkan untuk sistem-sistem kimia yang sederhana, namun
pendekatan ini selanjutnya diaplikasikan lebih luas, dan sekarang ini
dianggap sebagai sebuah heuristik yang efektif untuk merasionalkan struktur
senyawa organik.
Teori hibridisasi tidaklah sepraktis teori orbital molekul dalam hal
perhitungan kuantitatif. Masalah-masalah pada hibridisasi terlihat jelas pada
ikatan yang melibatkan orbital d, seperti yang terdapat pada kimia koordinasi
dan kimia organologam. Walaupun skema hibridisasi pada logam transisi
dapat digunakan, ia umumnya tidak akurat.
Sangatlah penting untuk dicatat bahwa orbital adalah sebuah model
representasi dari tingkah laku elektron-elektron dalam molekul. Dalam kasus
hibridisasi yang sederhana, pendekatan ini didasarkan pada orbital-orbital
atom hidrogen. Orbital-orbital yang terhibridisasikan diasumsikan sebagai
gabungan dari orbital-orbital atom yang bertumpang tindih satu sama lainnya
dengan proporsi yang bervariasi. Orbital-orbital hidrogen digunakan sebagai
dasar skema hibridisasi karena ia adalah salah satu dari sedikit orbital yang
persamaan Schrdingernya memiliki penyelesaian analitis yang diketahui.
Orbital-orbital ini kemudian diasumsikan terdistorsi sedikit untuk atom-atom
yang lebih berat seperti karbon, nitrogen, dan oksigen. Dengan asumsi-
asumsi ini, teori hibridisasi barulah dapat diaplikasikan. Perlu dicatat bahwa
kita tidak memerlukan hibridisasi untuk menjelaskan molekul, namun untuk
molekul-molekul yang terdiri dari karbon, nitrogen, dan oksigen, teori
hibridisasi menjadikan penjelasan strukturnya lebih mudah.
Teori hibridisasi sering digunakan dalam kimia organik, biasanya
digunakan untuk menjelaskan molekul yang terdiri dari atom C, N, dan O
(kadang kala juga P dan S). Penjelasannya dimulai dari bagaimana sebuah
ikatan terorganisasikan dalam metana.
Hibridisasi menjelaskan atom-atom yang berikatan dari sudut pandang
sebuah atom. Untuk sebuah karbon yang berkoordinasi secara tetrahedal
(seperti metana, CH4), maka karbon haruslah memiliki orbital-orbital yang
memiliki simetri yang tepat dengan 4 atom hidrogen. Konfigurasi keadaan
dasar karbon adalah 1s2 2s2 2px1 2py1.

2. Teori hibridisasi vs. Teori orbital molekul


Teori hibridisasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari kimia organik
dan secara umum didiskusikan bersama dengan teori orbital molekul dalam
buku pelajaran kimia organik tingkat lanjut. Walaupun teori ini masih
digunakan secara luas dalam kimia organik, teori hibridisasi secara luas
telah ditinggalkan pada kebanyakan cabang kimia lainnya. Masalah dengan

11 | I k a t a n K i m i a
teori hibridisasi ini adalah kegagalan teori ini dalam memprediksikan spektra
fotoelektron dari kebanyakan molekul, meliputi senyawa yang paling dasar
seperti air dan metana. Dari sudut pandang pedagogi, pendekatan hibridisasi
ini cenderung terlalu menekankan lokalisasi elektron-elektron ikatan dan
tidak secara efektif mencakup simetri molekul seperti yang ada pada teori
orbital molekul.

12 | I k a t a n K i m i a
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sehubungan dengan penulisan tugas makalaH kami (kelompok I ), maka


dapat kami simpulkan bahwa : Dengan adanya perubahan-perubahan yang
terjadi di sekitar kita,yang telah kita nikmati, yang mana tanpa kita sadari
kita telah melakukan perubahan-perubahan yang bersifat kimia, baik yang
menguntungkan maupun yang merugikan. Dan cara yang kita lakukan itu
semua tergantung pada diri kita masing-masing, sehingga kita dapat
menikmatinya secara bersama-sama, sebab dengan adanya perubahan-
perubahan usaha pemerintah dapat berjalan.

13 | I k a t a n K i m i a