Anda di halaman 1dari 6

1

KAK/TOR PER KELUARAN KEGIATAN


Kegiatan : Reboisasi/Rehabilitasi Kawasan Hutan
Target : 17 Ha
Lokasi Kegiatan : Desa Iwoimenggara Kecamatan Aere Kabupaten Kolaka
Timur Wilayah Kerja KPH Unit XII Ladongi
A. Latar Belakang
1. Dasar Hukum
a) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167,Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 41
Tahun1999 tentangKehutanan Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4412).
b) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5589).
c) Undang-Undang Nomor 37 tahun 2014 tentang konservasi tanah dan air (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 299, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5608).
d) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 146, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4452).
e) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004Nomor147, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4453).
f) Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2007 jo Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun
2008 Tata Hutan, Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22).
g) Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012Nomor 62, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5292).
h) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2016Nomor 114).
i) Peraturan Presiden RI No. 4 Tahun 2015 perubahan ke empat atas perpres 54 Tahun
2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
j) Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara No.13 Tahun 2016 tentang Pengelolaan

TOR KEGIATAN RHL TAHUN 2018


2

Hutan Produksi dan Hutan Lindung


k) Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.338/Menhut-VII/2009 tanggal 15 Juni 2009
tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPH) dan
Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Provinsi Sulawesi Tenggara)

Tugas dan Fungsi Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara adalah sebagai berikut :

a. Sebagai penyelenggara teknis kebijakan pembangunan kehutanan di Sulawesi Tenggara

b. Sebagai perencana strategik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara sehubungan


dengan Kebijakan bidang kehutanan untuk mencapai pembangunan kehutanan yang
berkelanjutan berdasarkan kelestarian fungsi hutan (ekologi-lingkungan, ekonomi-
produksi dan sosial budaya).

c. Mengemban amanah PP. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan


antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kab/Kota,
dimana Pemerintah Provinsi diamanahkan untuk menyelenggarakan urusan bidang
kehutanan(sebanyak 51 sub bidang) yang kesemuanya merupakan uraian pokok-pokok
pengelolaan hutan seperti yang disebutkan dalam UU No. 41 tahun 1999 yaitu sebagai
berikut :

a. Tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan

b. Pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan

c. Rehabilitasi dan reklamasi hutan

d. Perlindungan hutan dan konservasi alam.

d. Sebagai fasilitator dan katalisator sistem pembangunan kehutanan yaitu memfasilitasi


masyarakat, swasta dan hutan dalam rangka pengelolaan hutan lestari dengan
memperhatikan :
kawasan dan potensi hutan

strategi dan kebijakan kehutanan pusat-daerah

managemen hutan dan industri kehutanan.

e. Membantu terwujudnya keseimbangan pembangunan kehutanan di wilayah provinsi


Sulawesi Tenggara serta membantu terjangkaunya pelayanan secara merata pada sektor
kehutanan sesuai dengan tingkat kewenangan pengurusan kehutanan.
Sesuai dengan Undang-Undang No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,
penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Bidang Kehutanan dibagi antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Provinsi.

2. Gambaran Umum
Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di semenanjung Tenggara pulau Sulawesi dengan
ibukota di Kendari. Secara geografis terletak di bagian Selatan garis khatulistiwa, memanjang

TOR KEGIATAN RHL TAHUN 2018


3

o o o
dari utara ke selatan antara 3 6 LS dan memanjang dari Barat ke Timur antara 120
o
45 124 60 BT. Luas Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara adalah 3.814.000 Ha.
Dengan batas-batas daerah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Prov. Sulawesi Selatan dan Prov. Sulawesi Tengah
Sebelah Timur : Laut Banda,
Sebelah Selatan : Laut Flores dan
Sebelah Barat : Teluk Bone.

Secara administrative pemerintahan terdiri atas 15 (lima belas ) Kabupaten dan


2 (dua) Kota yaitu Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Timur,
Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Konawe Kepulauan, Kabupaten
Konawe Selatan, Kabupaten Bombana, Kabupaten Muna, Kabupaten Buton, Kabupaten
Buton Utara, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Muna Barat, Kabupaten Buton Tengah
dan Kabupaten Buton selatan sedangkan yang merupakan kota yaitu Kota Kendari dan
Kota Baubau. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 454/Kpts-II/1999
tentang penunjukkan Kawasan Hutan dan Perairan di wilayah Provinsi Sulawesi
Tenggara tanggal 17 Juni 1999, luas Kawasan Hutan Provinsi Sulawesi Tenggara adalah
2.600.137 Ha (68,17 % dari luas daratan), sedangkan Kawasan Pelestarian Alam Perairan
seluas 1.507.800 Ha. Kawasan hutan provinsi Sulawesi Tenggara tersebut terbagi dalam
kawasan Hutan Konsevasi (HK) seluas 274.069 Ha, Hutan Lindung (HL) seluas 1.061.270
Ha, Hutan Produksi (HP) seluas 633.431 Ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 419.244
Ha dan Hutan Produksi Konversi (HPK) seluas 212.123 Ha, sedangkan berdasarkan
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor :465/Kpts-II/2011 Tanggal 09 Agustus 2011 tentang
Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan seluas 110.105 Ha
dan Perubahan Antar Fungsi Kawasan Hutan seluas 115.111 Ha di Provinsi Sulawesi
Tenggara, luas kawasan hutan di Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi 2.490.032 Ha (65,25
% dari luas daratan).

B. Penerima Manfaat
Penerima manfaat dari pelaksanaan kegiatan Pembuatan Areal Agroforestry adalah :
1. Masyarakat di sekitar Kawasan Hutan
2. Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat
3. Stakeholder terkait yang berkompeten di bidang kehutanan

C. Strategi Pencapaian Keluaran


1. Metode Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan secara swakelola dengan melibatkan masyarakat yang berada
di sekitar lokasi, Penunjukan Langsung dan Lelang. Secara garis besar metode
pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sebagai berikut :
a) Menyusun rencana kerja pelaksanaan (tata waktu pelaksanaan, tim pelaksana, surat
perintah tugas, kuisoner/daftar isian, peta dll)
b) Menyusun Rancangan Teknis

TOR KEGIATAN RHL TAHUN 2018


4

c) Melaksanakan kegiatan pembuatan tanaman, Pembangunan sarana dan prasarana


operasional KPH (kantor resort KPH), Pembangunan sarana dan prasarana
operasional KPH, Tahura dan Hutan Wisata (Sarpras Wisata
Alam),pengembembangan sarana praarana usaha ekonomi produktif melalui KTH,
Pembangunan DAM Penahan dan Gully Plug
d) Melakukan kunjungan ke lapangan, pertemuan dengan instansi terkait, pihak terkait
lainnya
e) Menyusun Laporan dengan cara menghimpun data dan informasi yang telah diperoleh
dilapangan agar dapat dijadikan acuan dan sumber informasi bagi perencanaan
pembangunan kehutanan.

2. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan


a) Pembuatan Tanaman
Output : Rehabilitasi Hutan seluas 17 Ha
Pelaksanaan kegiatan :

Tahapan pelaksanaan pembuatan tanaman meliputi kegiatan-kegiatan persiapan,


penanaman dan pemeliharaan tanaman.

1) Persiapan terbagi atas : a). Kelembagaan : Kegiatan ini meliputi penyiapan


organisasi pelaksana dan koordinasi dengan pihak terkait untuk penyiapan lokasi,
bibit dan tenaga kerja yang akan melakukan penanaman, b). Sarana dan Prasarana.,
c.) Rancangan pembuatan tanaman untuk dipedomani dalam pembuatan tanaman
antara lain kesesuaian lokasi/blok/ petak sasaran pembuatan tanaman reboisasi., d.)
Dokumen-dokumen pekerjaan yang diperlukan untuk pembuatan tanaman, e) .Bahan
dan alat (gubuk kerja, papan nama, patok batas, ajir, GPS/alat ukur theodolit,
kompas, altimeter dan lain-lain) dan perlengkapan kerja. Pembuatan gubuk kerja dan
pemacangan papan nama sesuai tempat yang strategis, f). Bibit tanaman, g).Areal
penanaman yang terdiri atas : pembagian blok / petak Untuk memudahkan
pelaksanaan, lokasi dibagi menjadi blok dan petak. Dalam mendisain blok dan petak
mempertimbangkan kondisi fisik lapangan dan juga batas DAS mikro yang telah
dirancang saat menyusun UTP RHL. Untuk mempermudah pengawasan areal
penanaman dibuat blok seluas sekitar 300 ha yang dibagi kedalam beberapa petak
seluas sekitar 25 ha yang batasnya dimungkinkan batas alam. Untuk lokasi
penanaman yang luasnya kurang dari 300 Ha tetap dijadikan satu blok. Tetapi apabila
luas areal penanaman 50 ha dijadikan satu petak dan bloknya digabung dengan
lokasi yang terdekat. Apabila batas antar petak berupa batas buatan, sekaligus dapat
difungsikan untuk jalur rintisan. Lokasi-lokasi tertentu seperti jurang, sungai dan
sebagainya tidak termasuk dalam perhitungan luas efektif dan Pembuatan jalan
pemeriksaan Jalan pemeriksaan dibuat di antara blok satu dengan lainnya. Jalan
pemeriksaan selain dimanfaatkan untuk pemeriksaan juga sekaligus untuk jalan
pengangkutan alat dan bahan-bahan yang diperlukan. Teknik pembuatannya

TOR KEGIATAN RHL TAHUN 2018


5

mengikuti ketentuan pembuatan jalan yang berlaku dengan ukuran menyesuaikan


kondisi lapangan.
2) Pelaksanaan penanaman. Komponen pekerjaan penanaman meliputi :
a. pembersihan lahan
b. pembuatan / pengadaan dan pemancangan patok batas
c. pembuatan jalur tanaman
d. pembuatan dan pemasangan ajir
e. pembuatan lubang tanaman
f. distribusi bibit ke lubang tanaman
g. penanaman, Penanaman intensif dilaksanakan pada LMU Prioritas I minimal
1.600 batang/ha dan LMU Prioritas II minimal 1.100 batang/ha. Pelaksanaan
pengayaan tanaman pada LMU Terpilih paling sedikit 500 batang/hektar.
h. pemupukan (dasar dan lanjutan)
i. pembuatan gubuk kerja
j. pembuatan papan nama
k. pemeliharaan tahun berjalan yang meliputi penyiangan, pendangiran dan
penyulaman. Jumlah bibit untuk penyulaman minimal 10 % dari jumlah yang
ditanam. Pada akhir tahun berjalan (saat penyerahan pekerjaan), persen
tumbuh tanaman lebih besar 60 %. Persen tumbuh tanaman tersebut diketahui
berdasarkan evaluasi tanaman yang dilaksanakan pada akhir tahun ke-I.
Evaluasi dimaksud juga ditujukan untuk menentukan intensitas pemeliharaan
dan rancangan pemeliharaan pada pemeliharaan I.

Rencana tata waktu pelaksanaan kegiatan pada tabel dibawah ini :


Bulan
No Tahapan Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1

Dalam pelaksanaan kegiatan agar dapat mencapai keluaran yang diharapkan diperlukan
starategi pencapaian keluaran. Adapun yang strategi yang digunakan adalah sebagai
berikut :
1. Perencanaan yang baik dengan melibatkan pihak-pihak terkait
2. Pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dengan rencana kerja yang telah ditetapkan
3. Pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan secara berkala
4. Pelaporan yang tepat waktu dan tepat sasaran
5. Penentuan arah kegiatan selanjutnya

TOR KEGIATAN RHL TAHUN 2018


6

C. Kurun Waktu Pencapaian Keluaran


Waktu yang diperlukan dalam pencapaian kegiatan adalah 4 Bulan Tahun Anggaran.

D. Biaya Yang Diperlukan


Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan adalah sebesar Rp.204.000.000,-
( enam puluh enam milyar tiga ratus sembilan puluh tujuh juta tiga ratus tujuh puluh dua
ribu enam ratus rupiah) yang terdiri atas :
No. Kegiatan Anggaran ( Rp.)

Jumlah

dengan Rincian Anggaran Biaya (RAB) kegiatan sebagaimana terlampir.

Demikianlah Term Of Reference (TOR) kegiatan Reboisasi/Rehabilitasi Kawasan Hutan


ini dibuat, kiranya dapat bermanfaat dalam pelaksanaan kegiatan.

Penanggung Jawab
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan

UPTD KPH Unit XII Ladongi,

AHMAD LAKAY, SH
NIP. 19610222 199011 1 001

TOR KEGIATAN RHL TAHUN 2018