Anda di halaman 1dari 3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Perpindahan Kalor Konduksi


Perpindahan kalor secara konduksi adalah proses perpindahan kalor dimana kalor
mengalir dari daerah yang bertemperatur tinggi ke daerah yang bertemperatur
rendah dalam suatu medium (padat, cair atau gas) atau antara medium-medium
yang berlainan yang bersinggungan secara langsung sehingga terjadi pertukaran
energi dan momentum (Reynold dan Perkins, 1983)

Gambar . Perpindahan Kalor Konduksi


(Sumber: Holman, J.P. Heat Transfer 10th Edition)

Perpindahan kalor konduksi satu dimensi melalui padatan diatur oleh Hukum
Fourier, yang dapat dinyatakan sebagai berikut:

=

Di mana q adalah laju perpindahan kalor dan T/x merupakan gradien suhu ke arah
perpindahan kalor. Konstanta positif k disebut konduktivitas atau thermal
conductivity benda itu, sedangkan tanda minus diselipkan agar memenuhi hukum
kedua termodinamika, yaitu bahwa kalor mengalir ke tempat yang lebih rendah
dalam skala suhu. (Holman, 2009)

II. Konduktivitas Termal


Nilai kondukitivitas termal (k) suatu bahan menunjukkan laju perpindahan panas
yang mengalir dalam suatu bahan. Konduktivitas termal kebanyakan bahan
merupakan fungsi dari suhu dan bertambah sedikit jika suhu naik, akan tetapi
variasinya kecil dan sering kali diabaikan. Jika nilai konduktivitas thermal suatu
bahan makin besar, maka makin besar juga panas yang mengalir melalui benda
tersebut. Sehingga, bahan yang memiliki konduktivitas termal yang besar biasanya
dikategorikan sebagai penghantar panas yang baik dan begitu sebaliknya.
Konduktivitas termal mempunyai satuan Watt/mC atau BTU/jam.ftF.

= =


=

Jika perubahan nilai k merupakan fungsi linear terhadap perubahan suhu, maka
hubungan tersebut dapat dituliskan:
= +

III. Tahanan Kontak Termal


Tahanan kontak termal terjadi saat dua permukaan padatan disambungkan.
Adanya faktor kekasaran permukaan menyebabkan terbentuknya celah udara yang
sempit. Dua sisi batang yang diisolasi menyebabkan aliran kalor hanya terjadi pada
arah aksial (searah sejajar poros), yang membuat terjadinya penurunan suhu secara
tiba-tiba. Terdapat dua hal yang berkontribusi pada timbulnya tahanan kontak
termal, yaitu (1) konduksi padat padat pada titik kontak, serta (2) konduksi oleh gas
yang terperangkap pada ruang kosong akibat kontak antarmaterial.

Gambar . Tahanan Kontak Termal antara Dua Padatan


(Sumber: Holman, J.P. Heat Transfer 10th Edition)

Aliran kalor yang melintasi sambungan dapat dinyatakan sebagai berikut


2 2 2 2 2 2
= + =
1/
+
2 2
sehingga didapatkan hc, koefisien kontak sebesar:
1 2
= ( + )
+
Dimana:
Ac = bidang kontak
Av = bidang kosong
Lg = tebal ruang kosong
kf = konduktivitas termal fluida yang mengisi ruang kosong
A = Luas penampang total batangan

IV. Konduksi Tunak (Steady State)


Konduksi dalam keadaan tunak atau steady state digambarkan sebagai konduksi
ketika suhu yang dihantarkan tidak berubah atau distribusi suhu kosntan terhadap
waktu. temperatur tidak bergantung pada waktu. Persamaan dasar dari konsep
perpindahan kalor konduksi tunak satu dimensi adalah hukum Fourier.
(2 1 )
=

Dengan mengaplikasikan persamaan Fourier tersebut, pada dinding datar berlaku
persamaan:

= [(2 1 ) + (22 12 )]
2

Jika suatu aliran kalor dilewatkan pada bidang datar yang disusun berlapis secara
seri dengan bahan yang memiliki harga konduktivitas termal berbeda-beda, maka
persamaan dapat dituliskan sebagai berikut:
(1 4 )
=

+ +

Gambar . Perpindahan kalor konduksi satu dimensi pada dinding berlapis


(Sumber: Holman, J.P. Heat Transfer 10th Edition)

V. Konduksi Tak Tunak (Unsteady State)


Perpindahan kalor konduksi tak tunak memiliki perbedaan dengan konduksi
tunak di mana terdapat perubahan energi internal. Contoh aplikasi dari konduksi tak
tunak adalah proses pemanasan dan pendinginan makanan. Hal ini disebabkan
benda mengalami perubahan lingkungan dan terjadi aliran kalor yang tidak
langsung setimbang secara termal.
Sehingga, pada perpindahan konduksi tak tunak, temperatur merupakan fungsi
dari waktu dan jarak. Perpindahan konduksi tak tunak terjadi saat suhu berubah
terhadap waktu, yang mengakibatkan pada persamaan konduksi tak tunak

mengandung suku . Persamaan perpindahan kalor konduksi tak tunak dapat

dituliskan secara umum:
2 1
=
2

Di mana pada konduksi tidak tunak terdapat sumber kalor pada benda sehingga
diperlukan adanya neraca energi. Persamaan konduksi tak tunak satu dimensi dapat
dituliskan sebagai berikut:

( ) + =