Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-FARMASI BAHAN ALAM


SEMESTER III TAHUN AKADEMIK 2016/2017

PRODUK JADI SUSPENSI


GAVATIN
EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI
(Psidium guajava, L.)
Oleh :
Ketua :
Hammam H.S. (NPM. 260110160053)
Anggota :
Diah Siti Fatimah (NPM.260110160041)
Shella Widiyastuti (NPM.260110160042)
Dede Jihan Oktaviani (NPM.260110160044)
Quinzheilla Putri A. (NPM.260110160045)
Shinta Lestari (NPM.260110160046)
Saqila Alifa R. (NPM.260110160047)
Alia Resti Azura (NPM.260110160048)
Indah Pertiwi (NPM.260110160049)
Reza Laila Najmi (NPM.260110160050)
Kita Radisa (NPM.260110160051)
Ai Masitoh (NPM.260110160052)
Khoirina Nur S. (NPM.260110160054)

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FARMASI BAHAN ALAM


DEPARTEMEN BIOLOGI FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
ABSTRAK

Psidium guajava, L. merupakan salah satu tanaman tradisional yang digunakan


untuk pengobatan sebagai obat herbal tradisional. Hasil studi sebelumnya, telah dilaporkan
bahwa ekstrak dari psidii folium dapat digunakan sebagai pengobatan DBD untuk
meningkatkan jumlah trombosit di pasien DBD dan juga sebagai antidiare. Quersetin yang
didugan memiliki aktivitas terbsebut menjadi senyawa penanda. Metode yang digunakan
yaitu maserasi dan vaporasi menggunakan etanol 70% untuk mendapatkan ekstrak cair dan
juga ekstrak kental. Pengujian dari simplisia dan ekstrak daun jambu biji ini menggunakan
parameter spesifik dan non spesifik yang hasilnya sesuai dengan kriteria dalam Farmakope
Herbal Indonesia dan Materia Medika. Kemudian ektrak tersebut digunakan untuk
pembuatan suspensi dari ekstrak psidii folium 60 mL.

Kata Kunci: obat tradisional, Ekstrak, Parameter, Maserasi, Standarisasi

ABSTRACT

Psidium guajava, L. is one of traditional plant that used for medication as traditional
herbal medicines. The previous study has reported that extract of psidii folium could be used
to treat dengue hemorrhagic fever (DHF) proved that extract of guava (Psidium guajava L.)
leaf can increase the amount of thrombocyte in DHF patient and could be used as
antidiarrhea. Quercetin that suggest had activity to increase thrombosis used as a marker.
The method used is maceration multilevel and vaporation using 70% ethanol to get liquid
and viscous extract. Tests on the psidii folium leaf and extract psidii folium encompass
specific and non -specific parameter. The result is a suspension psidii folium extract meet
the criteria as stated in Farmakope Herbal Indonesia and Materia Medika. The extract
obtained is used in this experiment to make 60 ml of suspension from extract of psidii
folium.

Keywords: Traditional medicine, Extract, Parameter, Maceration, Standarisasasi

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum
Farmakognosi-Farmasi Bahan Alam mengenai Produk Jadi Suspensi Ekstrak Etanol Daun
Salam ini dengan tepat waktu.
Laporan Praktikum Farmakognosi dan Farmasi Bahan Alam ini diajukan untuk
memenuhi salah satu nilai dari Praktikum Farmakognosi dan Farmasi Bahan Alam, Fakultas
Farmasi, Universitas Padjadjaran.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa begitu banyak pihak yang telah turut
membantu dalam penyelesaian laporan praktikum ini. Melalui kesempatan ini, dengan
segala kerendahan hati, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ferry Ferdiansyah Sofian, M.Si., Apt selaku dosen yang telah membimbing
dalam penyusunan laporan akhir Farmakognosi dan Farmasi Bahan Alam.

2. Nur Shabrina Eka Putri dan Irbah Arifa selaku asisten laboratorium yang telah
mengarahkan dalam kegiatan praktikum di laboratorium Farmakognosi dan
Farmasi Bahan Alam dan penyusunan laporan akhir.

3. Teman-teman kelompok yang telah bekerjasama dalam penyusunan laporan


akhir praktikum Farmakognosi dan Farmasi Bahan Alam.

Kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan


laporan akhir praktikum Farmakognosi-Farmasi Bahan Alam ini, oleh sebab itu kritik dan
saran yang membangun sangat diharapkan guna perbaikan di kemudian hari. Semoga
laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jatinangor, 30 Oktober 2017

Tim Penulis

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tinjauan Farmakognosi 25

iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Makroskopik 5
Gambar 2.2 Epidermis bawah dengan stomata tipe parasitis 6
Gambar 2.3 Berkas Pengangkut 6
Gambar 2.4 Serabut Sklerenkim 7
Gambar 2.5 Epidermis Atas 7
Gambar 2.6 Kristal Kalsium Oksalat 7
Gambar 2.7 Struktur Kimia Kuersetin 7
Gambar 2.8 Biosintesis Senyawa Identitas 8

iv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Foto Simplisia, Ekstrak Kental dan Produk Jadi


Lampiran 2. Gambar Skema Tahapan Praktikum
Lampiran 3. Resume Praktikum
Lampiran 4. Uji Hedonik
Lampiran 5. Susunan Kelompok
Lampiran 6. Pertanyaan dan Jawaban Saat Presentase

v
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK (Indonesia dan Inggris) I
KATA PENGANTAR II
DAFTAR ISI III
DAFTAR TABEL IV
DAFTAR GAMBAR V
DAFTAR LAMPIRAN VI
I. PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 2
1.3. Tujuan Praktikum 2
1.4. Manfaat Praktikum 2
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Botani Tanaman 3
2.1.1 Klasifikasi Tanaman 3
2.1.2 Nama Daerah 3
2.1.3 Habitat 3
2.1.4 Morfologi 4
2.1.5 Makroskopik 4
2.1.6 Mikroskopik 5
2.2. Tinjauan Kimia Tanaman 6
2.2.1 Senyawa identitas 6
2.2.2 Kandungan senyawa kimia 6
2.2.3 Biosintesis senyawa identitas 6
2.3. Tinjauan Farmakologi Tanaman 7
2.3.1 Empiris 7
2.3.2 Uji Pra-Klinik 7
2.3.3 Uji Klinik 8
2.4. Tinjauan Farmakognosi Tanaman 8
2.5. Tinjauan Metode 9

vi
2.5.1 Ekstraksi 9
2.5.2 Parameter Standar Spesifik dan Non-Spesifik Tanaman 10
III. METODE PRAKTIKUM 13
3.1. Alat 13
3.2. Bahan 13
3.3. Tahapan Praktikum 13
3.3.1 Penyiapan Simplisia 14
3.3.2 Pemeriksaan Parameter Kualitas Spesifik dan Non-Spesifik 17
Simplisia
3.3.3 Ekstraksi 17
3.3.4 Pemeriksaan Parameter Kualitas Spesifik dan Non-Spesifik 18
Ekstrak
3.3.5 Pembuatan dan Evaluasi Produk Jadi Suspensi Ekstrak 20
Daftar Pustaka 21
Lampiran

vii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Daun jambu biji sudah sering kali digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk
mengobati penyakit diare karena mempunyai kandungan zat kimia sebagai zat aktif
yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, pektin, minyak atsiri, tanin yang dapat digunakan
sebagai anti bakteri, absorbent (pengelat atau penetral racun), astringent (melapisi
dinding mukosa usus terhadap rangsangan isi usus) dan antispasmolotik (kontraksi
usus). Ditinjau dari pemanfaatan dalam kesehatan daun jambu biji sering digunakan
sebagai bahan baku obat-obatan tradisional, sedangkan ditinjau dari kandungan kimia
yang terdapat pada daun jambu biji, daun jambu biji cukup layak jika dijadikan bahan
baku untuk dijadikan minuman penyegar seperti teh. Daun jambu biji tua mengandung
berbagai macam komponen seperti kuersetin (flavonoid) yang berkhasiat untuk
mengatasi penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Tanaman jambu biji pertama kali ditemukan di Amerika Tengah yang memiliki nama
latin Psidium guajava L., dengan suku Myrtaceae. Daun jambu biji mengandung
flavonoid total tidak kurang dari 0,20% dihitung sebagai kuersetin. Identitas simplisia
secara pemerian berupa lembaran daun, warna hijau; bau khas aromatic; rasa kelat.
Daun tunggal. Bertangkai pendek, panjang tangkai daun 0,5-1cm; helai daun berbentuk
bundar menjorong, pangjang 5-13 cm, lebar 3-6 cm; pinggir daun rata agak
menggulung ke atas; permukaan atas aagak licin, warna hijau kecokelatan; ibu tulang
daun dan tulang cabang menonjol pada permukaan bawah, bertulang menyirip. Secara
mikroskopik, fragmen pengenal adalah epidermis bawah dengan kristal kalsium
oksalat, rambut penutup, dan stomata tipe anomositis.
Dari simplisia daun jambu biji yang telah dilakukan dikumpulkan dan diolah,
kemudian dilakukan pemeriksaan kualitatif simplisia dan ekstrak, serta dilakukan
vaporasi untuk ekstrak cair kemudian didapatkan ekstrak kental yang kemudian dibuat
sediaan suspensi untuk ekstrak daun jambu biji sebagai obat antipasmodik dan
antidiare.

1.2. Rumusan Masalah


Dari latar belakang yang telah diuraikan, dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu :

1
1. Apa saja kandungan kimia dan manfaat yang terkandung dalam daun jambu biji?
2. Apa saja cara pengujian suatu mutu terhadap simplisia dan ekstrak?
3. Bagaimana metode pengolahan ekstrak untuk menjadi bahan baku suatu sediaan
obat?
4. Bagaimana cara pembuatan suatu sediaan obat herbal dari bahan baku ekstrak
daun jambu biji dengan kualitas yang baik dan sesuai parameter yang
terstandarisasi?

1.3. Tujuan Praktikum


Berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan, dapat diketahui
maksud dan tujuan yang akan dihasilkan sesuai dengan rencana kegiatan praktikum,
yaitu :

1. Mengetahui kandungan kimia dan manfaat yang terkandung dalam daun jambu biji.
2. Mengetahui cara pengujian mutu terhadap suatu eksktrak khususnya daun jambu
biji.
3. Mengetahui metode pengolahan ekstrak daun jambu biji untuk menjadi bahan
baku sediaan obat herbal.
4. Mengetahui cara pembuatan sediaan obat herbal dan bahan baku ekstrak daun
jambu biji dengan mutu dan kualitas yang baik sesuai dengan parameter yang telah
ditentukan.
1.4. Manfaat Praktikum

1. Praktikan diharapkan dapat memahami kandungan kimia serta manfaat yang


terkandung dalam daun jambu biji.

2. Praktikan diharapkan memahami cara pengujian mutu terhadap suatu ekstrak,


sehingga dapat mengetahui mutu ekstrak tersebut.

3. Praktikan diharapkan dapat memahami metode pengolahan ekstrak daun jambu biji
untuk menjadi bahan baku suatu sediaan obat herbal.

4. Praktikan dapat memahami cara pembuatan sediaan obat herbal dari bahan baku
ekstrak daun jambu biji dengan mutu dan kualitas yang bak sesuai dengan
parameter yang telah ditentukan.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Botani


Klasifikasi Tumbuhan
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Myrtaceae
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava L.
(Rochmasari, 2011)
2.1.2 Nama Daerah
Setiap daerah memiliki kekhasan dalam penyebutan nama jambu biji,
diantaranya, Sumatera: glima breueh (Aceh), glimeu beru (Guyo), galiman (Batak
Karo), masiambu (Nias), biawas, jambu biji, jambu batu, jambu klutuk (Melayu).
Jawa: jambu klutuk (Sunda), jambu klutuk, petokal, jambu krikil, jambu krutuk
(Jawa), jhambu bhender (Madura),. Nusa Tenggara: sotong (Bali), guawa
(Flores), goihawas (Sika). Sulawesi: Gayawas (Manado), boyawat
(Mongondow), koyamas (Tansau), dambu (Gorontalo), jambu paratugala
(Makassar), jambu paratukala (Bugis), jambu (Baree), Kujabas (Roti), biabuto
(Buol). Maluku: kayawase (Seram Barat), kujawase (Seram Selatan), laine
hatu, lutuhatu (Ambon), gayawa (Ternate, Halmahera) (Anggraini, 2010).
Bahkan dinegara lain, jambu biji memiliki berbagai sebutan lain, seperti
guava (Inggris), guayabo (Spanyol), babayas (Fillipina), dan fan shi liu gan (Cina).
(Puspaningtyas D, 2013)

2.1.3 Habitat
Psidium guajava L. merupakan tanaman yang berasal dari benua beriklim
tropis yakni Amerika Serikat Tengah,Peru, dan Bolivia. Lalu penyebaran
tanaman ini meluas ke kawasan Asia Tenggara dan ke wilayah Indonesia
melalui Thailand (Cahyono, 2010). Tanaman ini sangat adaptif dan dapat
tumbuh tanpa pemeliharaan. Di Jawa sering ditanam sebagai tanaman buah,

3
sangat sering hidup alamiah di tepi hutan dan padang rumput (Anggraini,
2010).

2.1.4 Morfologi
Jambu biji perdu atau pohon kecil, tinggi 2-10 m, percabangan banyak.
Batangnya berkayu, keras, kulit batang licin, mengelupas, berwarna cokelat
kehijauan. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan, daun muda
berambut halus, permukaan atas daun tua licin. Helaian daun berbentuk bulat
telur agak jorong, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi rata agak melekuk ke
atas, pertulangan menyirip, panjang 6-14 cm, lebar 3-6 cm, berwarna hijau.
Bunga tunggal, bertangkai, keluar dari ketiak daun, berkumpul 1-3 bunga,
berwarna putih. Buahnya buah buni, berbentuk bulat sampai bulat telur,
berwarna hijau sampai hijau kekuningan. Daging buah tebal, buah yang masak
bertekstur lunak, berwarna putih kekuningan atau merah jambu. Biji buah
banyak mengumpul di tengah, kecil-kecil. Keras, berwarna kuning kecoklatan
(Hapsoh, 2011).
2.1.5 Makroskopik
Lembaran daun, warna hijau; bau khas aromatic; rasa kelat. Daun tunggal,
bertangkai pendek, panjang tangkai daun 0,5-1cm; helai daun berbentuk bundar
memanjang, panjang 5-13cm, lebar 3-6cm; pinggir daun rat agak menggulung ke
atas; permukaan atas agak licin, warna hijaau kecoklatan; ibu tulang daun dan
tulang cabang menonjol pada permukaan bawah, bertulang menyirip. (Depkes
RI, 2008).

Gambar 2.1

4
Makroskopik Daun Jambu Biji

2.1.6 Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah epidermis bawah dengan kristal kalsium
oksalat, rambut penutup, stomata tipe anomositis, berkas pengangkut dan
mesofil dengan kelenjar minyak (Depkes RI, 2008).

Gambar 2.2. Gambar 2.3.


epidermis bawah dengan kristal rambut penutup
kalsium oksalat

Gambar 2.4. Gambar 2.5.


stomata tipe anomositis berkas pengangkut

Gambar 2.6.
mesofil dengan kelenjar minyak (Depkes RI, 2008)

5
2.2 Tinjauan Kimia
2.2.1 Senyawa Identitas
Kuersitrin

Struktur Kimia :

(Depkes RI, 2000).


2.2.2 Kandungan senyawa kimia
Kadar flavonoid total tidak kurang dari 0,20 % dihitung sebagai krusetin
(Depkes RI, 2008).
Ekstrak kental daun jambu biji adalah ekstrak yang dibuat dari daun
tumbuhan Psidium guajava L., suku Myrtaceae, mengandung flavonoid tidak
kurang dari 1,40 % dihitung sebagai krusetin Minyak atsiri mengandung sitral
dan eugenol; tanin; flavonoida (Depkes RI, 2008).

2.2.3 Biosintesis senyawa identitas


L-fenilalanin diubah menjadi asam sinamat oleh enzim phenylalanine
ammonia lyase dengan mengeliminasi gugus amina. asam sinamat diubah
menjadi asam 4-kumarat dengan penambahan gugus hidroksil oleh enzim
cinnamate 4-hydroxilase (C4H). 4-kumarat dikonversi menjadi 4-kumaroil-KoA
oleh enzim 4- coumarate ligase (4CL). 3 malonil-Ko-A berasal dari kondensasi 3
asetil Ko-A oleh enzim acetyl-CoA carboxylase (ACC), bergabung dengan 4-
kumaroil Ko-A oleh bantuan enzim chalcone synthase (CHS) menjadi naringenin
khalkon.
Naringenin khalkon diubah menjadi naringenin oleh enzim chalcone
isomerase .

6
Naringenin mengalami reaksi oksidasi menjadi apigenin dan luteolin oleh
enzim flavon syntase I (FNSI) dan flavone syntase II. Selain itu, naringenin
mengalami reaksi hidroksilasi menjadi dihidrokamferol atau dihidro kuersetin
oleh enzim flavanon sintase (E3).
Dihidrokaemferol atau dihidro kuersetin mengalami reaksi oksidasi menjadi
kaemferol dan kuersetin oleh enzim flavonol sintase (E4) (Dewick , 2009).

2.3 Tinjauan Farmakologi


2.3.1 Empiris
Secara empiris daun jambu biji digunakan untuk pengobatan : diare akut
dan kronis, disentri, perut kembung pada bayi dan anak, kadar kolesterol darah
meninggi, haid tidak lancar, sering buang air kencing (anyang anyangan), luka, 6
luka berdarah, dan sariawan. (Dalimarta,2003).

Beberapa tanama herbal yang telah banyak digunakan oleh masyarakat


sebagai anti diare terdiri dari Aegle marmelos, Cyperus rotundus, psidium guajava
L, dan zingiber officinale. Tanaman jambu biji atau psidium guajava L. Terutama
bagian daun, memiliki efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa
tanaman lain yang digunakan sebagai anti diare. Hal tersebut berkaitan dengan
beberapa kandungan metabolit sekunder pada daun Psidium guajava L (Tannaz,
2014).

2.3.2 Pengujian Pra Klinis


Pada tahap awal dilakukan penelitian praklinik di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga yang menggunakan hewan model mencit dengan
pemberian oral ekstrak daun jambu biji terbukti dapat menurunkan
permiabilitas pembuluh darah. Pada penelitian tersebut dilaporkan juga bahwa
ekstrak daun jambu biji terbukti dapat meningkatkan jumlah sel hemopoetik
pada kultur sumsum tulang tungkai tikus. Pada uji keamanan (toksisitas) ekstrak
daun jambu biji termasuk zat yang praktis tidak toksik (Ditjen, POM.2006).

Daun jambu biji mengandung berbagai macam komponen diantaranya yang


mungkin berkhasiat mengatasi DBD adalah kelompok senyawa tanin dan
kelompok flavonoid yang dinyatakan sebagai quersetin. Dilaporkan bahwa
senyawa tanin dalam ekstrak daun jambu biji dapat menghambat aktivitas enzim

7
reverse transcriptase yang berarti menghambat pertumbuhan virus yang berinti
RNA, dalam kaitan dengan itu telah dilakukan uji invitro ekstrak daun jambu biji
dimana ekstrak tersebut terbukti dapat menghambat pertumbuhan virus
dengue. Kelak setelah dilakukan penelitian lebih lanjut diharapkan ekstrak daun
jambu biji dapat digunakan sebagai obat antivirus
dengue (Ditjen, POM.2006)
2.3.3 Pengujian Klinis
Telah dilakukan uji klinik efek penggunaan suplemen ekstrak daun jambu
biji (Psidium guajava Linn.) dan angkak (Monascus purpureus) dalam
meningkatkan trombosit pada penderita Demam Berdarah Dengue (DBD).
Metode penelitian quasi eksperimen menggunakan desain pre-test dan post-
test. Subyek penelitian sebanyak 20 orang dan bersedia menandatangani
informed consent dilibatkan dalam uji klinik. Penderita dengan kelainan
hematologis, penyakit jantung dan paru,sedang mendapatkan pengobatan asam
salisilat, mengalami pendarahan berat, dan penurunan kesadaran tidak
dilibatkan dalam penelitian ini.Jumlah trombosit subyek penelitian diukur setiap
12 jam sekali. Selanjutnya perubahan jumlah trombosit di awal dan akhir
penelitian dianalisa dengan menggunakan uji t-independent dan uji chi-square.
Dalam studi ini, dari 20 subyek penelitian, jumlah trombosit kelompok uji
meningkat secara signifikan dibanding dengan kelompok kontrol p<0,05
(p=0,0120) dan banyaknya respon peningkatan jumlah trombosit pada kelompok
uji berbeda signifikan dibanding kelompok kontrol p<0,01 (p=0,0034). Dengan
demikian, hasil penelitian ini membuktikan bahwa pemberian ekstrak daun
jambu dan angkak dapat mengatasi terjadinya trombositopenia (Muharni, 2013).

2.4 Tinjauan Farmakognosi


Parameter Persyaratan
Spesifik
Identitas Psidium guajava
Nama Indonesia : Jambu Biji
Nama latin : Psidium guajava

8
Bagian tumbuhan : Daun (Folium)
yang digunakan
Senyawa identitas : kuersetin
Organoleptik Simplisia : Lembaran daun, warna hijau;
bau khas aromatic; rasa kelat.
Ekstrak : Ekstrak kental dengan warna
coklat tua, berbau khas, rasa kelat.
Kadar Sari Larut Air tidak kurang dari 18,2% (Depkes RI, 2008).
Kadar Sari Larut Etanol tidak kurang dari 15,0% (Depkes RI, 2008).
Kadar Kandungan Kimia Kadar flavonoid total tidak kurang dari
0,20% (Depkes RI, 2008).
Non-Spesifik
Susut Pengeringan Tidak lebih dari 10% (Depkes RI, 2000).
Bobot Jenis Tidak lebih dari 1 gr/ml (Kemenkes RI,
2011).
Kadar Air Tidak lebih dari 10% (Depkes RI,1995).
Kadar Abu Total Tidak lebih dari 0,8% (Depkes RI, 2008).
Cemaran Mikroba (ALT) 1 x 104 koloni/g (BPOM RI, 2006).
Tabel 2.1

Tinjauan Farmakognosi

2.5. Tinjauan Metode

2.5.1 Ekstraksi

Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan


menggunakan pelarut yang sesuai. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai
kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi
dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel
dengan penyaringan. Ekstrak awal sulit dipisahkan melalui teknik pemisahan
tunggal untuk mengisolasi senyawa tunggal. Oleh karena itu, ekstrak awal perlu
dipisahkan ke dalam fraksi yang memiliki polaritas dan ukuran molekul yang
sama (Ansel, 1989).

9
Metode ekstraksi yang digunakan pada praktikum ini adalah metode
maserasi. Metode maserasi bertujuan untuk menyari simplisia yang
mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari. Proses
maserasi ini dilakukan pada laboratorium farmakologi. Proses maserasi
dilakukan dengan menggunakan pelarut dengan cara perendaman dan beberapa
kali pengocokan atau pengadukan pada suhu ruangan. Proses ini berulang
hingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di dalam dan di luar sel
(Depkes RI, 2000).

2.5.2 Parameter Standar Spesifik dan Non-Spesifik Tanaman

Parameter spesifik merupakan parameter yang berfokus pada senyawa


atau golongan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologis
(Gandjar, 2007). Sedangkan parameter nonspesifik berfokus pada aspek kimia,
mikrobiologi, dan fisika yang dapat mempengaruhi keamanan konsumen dan
stabilitas (Tim Asisten, 2008).

2.5.2.1 Organoleptik

Penetapan organoleptik yaitu dengan pengenalan secara fisik


dengan menggunakan panca indera dalam mendeskripsikan bentuk,
warna, bau dan rasa (Depkes RI, 2000).

2.5.2.2 Makroskopik

Makroskopik merupakan pengujian yang dilakukan dengan


menggunakan kaca pembesar, alat ukur atau tanpa menggunakan alat
(Depkes RI, 2000).

2.5.2.3 Mikroskopik

Mikroskopik pada umumnya meliputi pemeriksaan irisan bahan


atau serbuk dan pemeriksaan anatomi jaringan itu sendiri. Kandungan
sel dapat langsung dilihat di bawah mikroskop atau dilakukan
pewarnaan. Sedangkan untuk pemeriksaan anatomi jaringan dapat
dilakukan setelah penetesan pelarut tertentu, seperti kloralhidrat yang

10
berfungsi untuk menghilangkan kandungan sel seperti amilum dan
protein sehingga akan dapat terlihat jelas di bawah mikroskop (Djauhari,
2012).

2.5.2.4 Susut Pengeringan

Susut pengeringan adalah pengukuran sisa zat setelah pengeringan


pada temperatur 105C selama 30 menit atau sampai berat konstan,
yang dinyatakan sebagai nilai prosen. Dalam hal khusus (jika bahan tidak
mengandung minyak menguap dan sisa pelarut organik menguap)
identik dengan kadar air, yaitu kandungan air karena berada di atmosfer
atau lingkungan udara terbuka.

Tujuan mengetahui susut pengeringan adalah memberikan batasan


maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses
pengeringan (Depkes RI, 2000).

2.5.2.5 Penetapan Kadar Abu Total

Parameter kadar abu adalah penentuan kandungan sisa pelarut


tertentu yang mungkin terdapat dalam ekstrak. Tujuannya adalah
memberikan jaminan bahwa selama proses tidak meninggalkan sisa
pelarut yang memang seharusnya tidak boleh ada (Depkes RI, 2000).

2.5.2.6 Penetapan Kadar Abu Tak Larut Asam

Suatu proses penetapan yang memberikan gambaran kandungan


mineral dan anorganik internal dan eksternal yang berasal dari proses
awal sampai terbentuknya ekstrak.

2.5.2.7 Kadar Sari Larut Air

Penetapan kadar sari larut dalam air digunakan untuk menentukan


kemampuan dari bahan obat tersebut apakah tersari dalam pelarut air
(Harbone, 1987).

2.5.2.8 Kadar Sari Larut Etanol

11
Kadar sari larut etanol merupakan indikator yang menunjukkan
kadar zat khasiat yang terkandung dalam tumbuhan obat yang
kemudian dapat tersari dengan baik dalam etanol (Harbone, 1987).

12
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum adalah bejana, botol timbang, cawan
penguap, gelas kimia, gelas ukur, kaca preparat, kurs, labu tersumbat, mikroskop,
oven, piknometer, timbangan, dan vial.

3.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah aquades, asam formiat,


aseton toluene, etanol, kloroform klorohidrat, dan kuarsetin.

3.3 Tahapan Praktikum

3.3.1 Penyiapan Simplisia

Pembuatan serbuk simplisia merupakan proses awal pembuatan


ekstrak. Serbuk simplisia dibuat dari simplisia utuh atau potongan-
potongan halus simplisia yang sudah dikeringkan melalui proses
pembuatan serbuk dengan suatu alat tanpa menyebabkan kerusakan atau
kehilangan kandungan kimia yang dibutuhkan dan diayak hingga diperoleh
serbuk dengan derajat kehalusan tertentu. Derajat kehalusan serbuk
simplisia terdiri dari serbuk sangat kasar, kasar, agak kasar, halus, dan
sangat halus (Depkes RI, 2008).

Pada prosesnya, sampel yang digunakan telah berupa simplisia


yang kering sehingga tidak perlu melewati tahap sortasi basah dan
pencucian. Tahap yang dilanjutkan adalah sortasi kering, yaitu pemisahan
benda asing yang tidak diinginkan atau pengotor-pengotor lain. Kemudian
simplisia dirajang untuk memisahkan bagian tumbuhan yang tidak
diperlukan serta mempermudah dalam proses ekstraksi.

13
3.3.2 Uji Parameter Standar Spesifik dan Non Spesifik Simplisia

3.3.2.1 Uji Parameter Standar Spesisik Simplisia

3.3.2.1.1 Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan zat untuk


analisis dan preparatif dengan melarutkan campuran dalam fase
gerak yang mengalir melalui fase diam. Salah satu jenis dari
kromatografi adalah kromatografi lapis tipis (KLT). KLT itu sendiri
merupakan kromatografi yang campuran bahan aktifnya
ditempatkan pada selaput tipis pada lempeng, dikeringkan, dan
kemudian kromatografi dilakukan dalam salah satu arah atau
lebih pada lempeng itu (Pudjaatmaka, 2002).

Sebelum dilakukan percobaan KLT, simplisia yang akan


digunakan harus diperkecil terlebih dahulu kemudian dimasukkan
ke dalam vial. Setelah itu, ditambahkan larutan etanol untuk
memisahkan ekstraknya sambil dipanaskan selama 10 menit.
Pembanding yang digunakan pada percobaan KLT ini adalah
kuersetin. Ekstrak cair dari simplisia ditotolkan pada pelat silikat
sebanyak 3 kali totolan, serta dilakukan hal yang sama pada
kuersetin tetapi diberi jarak antar totolan. Kemudian pelat silikat
dimasukkan ke dalam chamber yang berisi fase gerak dan
ditunggu sampai fase geraknya naik sampai batas atas pelat
silikat. Setelah itu, pelat silikat dikeringkan dan dilihat bercak
yang dihasilkan pada sinar UV dengan panjang gelombang 254
nm dan 366 nm. Untuk memperjelas bercak yang dihasilkan maka
pelat silikat disemprot dengan menggunakan AlCl3. Kemudian
dikeringkan dan dilihat lagi dibawah sinar UV 254 nm dan 366
nm. Setelah didapatkan jarak bercak antara simplisia dengan
kuersetin lalu dihitung Rf nya. Karena nilai Rf merupakan
perbandingan antara jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik
asal dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asal, maka
nilai Rf biasanya selalu lebih kecil dari 1. Semakin besar nilai Rf

14
yang diperoleh maka semakin rendah kepolarannya
(Pudjaatmaka, 2002).

3.3.2.1.2 Kadar Sari Larut Air

Simplisia sebanyak 5 gram ditimbang. Kemudian,


dimasukkan ke dalam labu bersumbat, kemudian dilarutkan
dalam 100 mL air jenuh kloroform. Lalu dikocok berkali-kali
selama 6 jam pertama, dan dibiarkan selama 18 jam. Kemudian
disaring. Filtrat yang didapat, diambil 20 ml lalu diuapkan hingga
kering dalam cawan penguap yang telah dipanaskan terlebih
dahulu pada 105C dan ditara. Kemudian residu yang didapat,
dipanaskan pada 105C hingga bobot tetap. Kadar sari larut air
ditetapkan dengan rumus sebagai berikut :

Kadar sari larut air = x 100%

Ket : Co = bobot cawan kosong

Ct = bobot cawan + simplisia

m = bobot simplisia

3.3.2.1.3 Kadar Sari Larut Etanol

Simplisia ditimbang sebanyak 5 gram, kemudian


dimasukkan ke dalam labu bersumbat dan dilarutan ke dalam 100
ml etanol 97%. Labu bersumbat dikocok berkali-kali selama 6 jam
pertama dan dibiarkan selama 18 jam. Setelah didiamkan,
simplisia disaring. Filtrat yang didapat diambil 10 ml lalu diuapkan
hingga kering dalam cawan penguap yang telah dipanaskan pada
suhu 105C dan ditara. Residu yang didapat dipanaskan pada
suhu 105C hingga bobot tetap. Kadar sari larut etanol ditetapkan
dengan rumus sebagai berikut :

Kadar sari larut air = x 100%

Ket : Co = bobot cawan kosong

15
Ct = bobot cawan + simplisia

m = bobot simplisia

3.3.2.1.4 Susut Pengeringan

Simplisia ditimbang seksama 1-2 gram dan dimasukkan ke


dalam botol timbang dangkal bertutup yang sebelumnya telah
dipanaskan 105C selama 30 menit dan ditara. Sebelum
ditimbang, ekstrak diratakan dengan menggoyangkan botol
hingga mendapat lapisan setebal 5-10 mm, lalu dimasukkan ke
dalam oven 105C hingga bobot tetap dengan keadaan tutup
terbuka. Dalam kedaan tertutup, botol didinginkan dalam
desikator hingga suhu ruang sebelum ditimbang. Susut
pengeringan ditetapkan dengan rumus sebagai berikut :

Susut pengeringan = x 100%

Ket : Co = bobot botol kosong

Ct = bobot botol + simplisia

m = bobot simplisia

3.3.2.2 Uji Parameter Standar Non Spesifik Simplisia

3.3.2.2.1 Kadar Abu Total Simplisia

2 gram simplisia ditimbang dengan seksama ke dalam kurs


yang telah ditara. Suhu dinaikan secara bertahap hingga 600
25oC sampai bebas karbon. Dinginkan dalam desikator serta
timbang berat abu. Dihitung kadar abu dalam persen terhadap
berat sampel awal, ditetapkan dengan rumus sebagai berikut :

Kadar abu total = x 100%

Ket : Co = bobot kurs kosong

Ct = bobot kurs + simplisia

16
m = bobot ekstrak

3.3.2.2.2 Kadar Abu Total Tak Larut Asam

Abu hasil penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25


ml HCl encer selama 5 menit. Kumpulkan bagian yang tidak larut
dalam asam. Lalu saring menggunakan kertas saring bebas abu,
cuci dengan air panas, saring dan timbang kembali. Dihitung
kadar abu yang tidak larut asam dalam persen terhadap berat
sampel, ditetapkan dengan rumus sebagai berikut :

Kadar abu tidak larut asam = x 100%

Ket : Co = bobot kurs kosong

Ct = bobot kurs + simplisia

m = bobot ekstrak

3.3.3 Ekstraksi

3.3.3.1 Maserasi

Dibuat ekstrak dari serbuk kering simplisia dengan cara


maserasi dengan pelarut sesuai. Digunakan pelarut yang data
menyari sebagian besar metabolit sekunder yang terkandung
dalam serbuk simplisia, jika tidak dinyatakan lain gunakan etanol
70%. Masukkan satu bagian serbuk kering simplisia ke dalam
maserator, tambahkan 10 bagian pelarut, rendam selama 6 jam
pertama sambil sesekali diaduk, kemudian diamkan selama 8 jam.
Pisahkan maserat dengan cara pengendapan, sentrifugasi,
dekantasi atau filtrasi (Depkes RI, 2008).

Pada praktikum metode ekstraksi yang digunakan adalah


maserasi. Simplisia dimasukkan ke dalam maserator dan
ditambahkan etanol 70% sebanyak 5 ml, kemudian direndam
selama 24 jam dan 6 jam pertama dilakukan pengadukan. Setelah
1 hari, dilakukan penyaringan antara maserat dan filtrat. Maserat

17
yang telah dipisahkan direndam kembali dengan etanol 70%
sebanyak 2,5 ml dan diberikan perlakuan yang sama seperti
sebelumnya.

3.3.3.2 Vaporasi

Kumpulan semua maserat, kemudian uapkan dengan


penguap vakum atau penguap tekanan rendah hingga diperoleh
ekstrak kental. Hitung rendemen yang diperoleh yaitu persentase
bobot (b/b) antara rendemen dengan serbuk simplisia yang
digunakan dengan penimbangan. Rendemen harus mencapai
angka sekurang-kurangnya sebagaimana ditetapkan pada masing-
masing monografi ekstrak (Depkes RI, 2008).

Pada praktikum metode vaporsi dilakukan dengan


memasukkan 600 ml ekstrak daun jambu biji ke dalam rotary flask
yang kemudian dipasang pada vacuum. Suhu diatur menjadi 60C
dan RPM sebesar 60 RPM. Kegiatan penguapan ekstrak ditunggu
hingga etanol yang terkandung menguap seluruhnya. Hasil
vaporasi yang didapat dimasukkan ke dalam cawan dan diuapkan
menggunakan water bath.

3.3.4 Uji Parameter Standar Spesifik dan Non Spesifik Ekstrak

3.3.4.1 Uji Parameter Standar Non Spesifik Ekstrak

3.3.4.1.1 Kadar Abu Total Ekstrak

2 gram ekstrak kental daun jambu biji ditimbang dengan


seksama ke dalam kurs yang telah ditara. Suhu dinaikan secara
bertahap hingga 600 25oC sampai bebas karbon. Dinginkan
dalam desikator serta timbang berat abu. Dihitung kadar abu
dalam persen terhadap berat sampel awal, ditetapkan dengan
rumus sebagai berikut :

Kadar abu total = (Ct-Co)/m x 100%

Ket : Co = bobot kurs kosong

18
Ct = bobot kurs + simplisia

m = bobot ekstrak

3.3.4.1.2 Kadar Abu Ekstrak Tak Larut Asam

Abu hasil penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25


ml HCl encer selama 5 menit. Kumpulkan bagian yang tidak larut
dalam asam. Lalu saring menggunakan kertas saring bebas abu,
cuci dengan air panas, saring dan timbang kembali. Dihitung
kadar abu yang tidak larut asam dalam persen terhadap berat
sampel, ditetapkan dengan rumus sebagai berikut :

Kadar abu tidak larut asam = (Ct-Co)/m x 100%

Ket : Co = bobot kurs kosong

Ct = bobot kurs + simplisia

m = bobot ekstrak

3.3.4.1.3 Bobot Jenis

Piknometer kosong serta piknometer berisi aquades


ditimbang beratnya, kemudian dihitung dan dicatat hasilnya.
Begitu juga dengan piknometer yang berisi simplisia dan
aquades.

3.3.4.1.4 Kadar Air

Ekstrak ditimbang 2 gram dan ditutup dengan alumunium


foil, kemudian dimasukkan ke dalam labu dan ditambahkan 200
ml toluene, 2 ml aquades untuk memudahkan membaca hasil,
dan batu didih untuk mencegah bumping. Labu dipasangkan
pada alat dan alat dinyalakan. Hasil didapatkan setelah jam dan
jumah kadar air dapat diamati.

3.3.4.1.5 Uji Patogen Ekstrak

19
3.3.5 Pembuatan dan Evaluasi Produk Jadi Suspensi Ekstrak Daun Jambu Biji

Dalam pembuatan produk jadi suspensi ekstrak, yang


pertama dilakukan adalah mencampurkan aquades 50 mL,
nipagin 0,756 gr, dan nipasol 0,084 gr di dalam liquid mixer
dengan kapasitas 5 Liter. Setelah itu dipanaskan sampai 70 C
sambil diaduk agar homogen lalu ditambahkan Na-CMC dan
diaduk sampai mengembang hingga terbentuk campuran yang
homogen (larutan 1). Setelah itu aquades 100 mL, ekstrak Psidii
folium 21 gr, dan gliserin 21 gr di masukkan ke dalam wadah
kapasitas 250 mL secara berturut-turut. Lalu, diaduk hingga
tercampur merata dan masukkan perlahan-lahan ke dalam
campuran aquades, nipagin, dan nipasol yang telah dibuat
diawal (larutan 2).

20
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Septia. 2010. Optimasi Formula Fast Disintegrating Tablet Ekstrak Daun Jambu
Biji (Psidium guajava L.) Dengan Bahan Penghancur Sodium Starch
Glycolate Dan Bahan Pengisi Manitol. Surakarta: Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
BPOM RI. 2006. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 2. Jakarta: Direktorat
Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen.
Dalimartha, Setiawan. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Jakarta : Puspa Swara
Depkes RI. 1980. Materia Medika Indonesia Jilid IV. Jakarta : Depkes RI.
Depkes RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta: Depkes RI.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia. Edisi 1. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Dewick, P.M., 2009. Medicinal Natural Products: A Biosynthetic Approach. Wiley.
Hapsoh dan Hasanah, Y. (2011). Budidaya Tanaman Obat dan Rempah. Medan: USU Press.
Muharni, S. 2003. Efek Penggunaan Suplemen Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava
Linn.) dan Angkak (Monascus purpureus) dalam Meningkatkan Trombosit pada
Demam Berdarah Dengue (DBD) di Instalasi Rawat Inap Ilmu Penyakit Dalam RSUP.
DR. M. Djamil Padang. Jurnal Penelitian Farmasi
Puspaningtyas, Desty. 2013. The Miracle of Fruits. Jakarta : AgroMedia Pustaka.
Rochmasari, Yulinar. 2011. Studi Isolasi Dan Penentuan Struktur Molekul Senyawa Kimia
Dalam Fraksi Netral Daun Jambu Biji Australia (Psidium guajava L.).
Depok: Universitas Indonesia.
Tannaz, JB., Brijesh S., Poonam GD.,2014. Bactericidal Effect of Selected Antidiarrhoeal
Medicinal Plants on Intracellular Heat-Stable Eterotoxin-Producing Escherichia
coli. Indian Journal Of Pharmaceutical Sciences. 76(3) : 229-35

21
LAMPIRAN
Lampiran 1. Foto Simplisia, Ekstrak Kental, dan Produk Jadi

Foto Simplisia Daun Jambu Biji

Foto Ekstrak Daun Jambu Biji

22
Lampiran 2. Gambar Skema Tahapan Praktikum

Proses Proses
Perajangan dan Perendaman Penyaringan
Penimbangan (Maserasi)

Pengujian susut Pengujian


pengeringan, kadar makroskopik
Evaporasi abu total, kadar sari dan
larut air dan etanol mikroskopik

Penentuan kadar
abu total ekstrak, Penentuan Pembuatan
kadar abu tidak Bobot Jenis Ekstrak Etanol
larut asam.

Pengujian
Pola
Penentuan Angka lempeng
Kromatografi
Kadar Flavonoid total dan angka
Lapis Tipis
kapang khamir

Uji cemaran Pengujian kadar


Uji Patogen
bakteri air

23
Lampiran 3. Resume Praktikum
KETERANGAN/TAHAPAN PENJELASAN ISI/HASIL
IDENTITAS 1 1
KELOMPOK 2 Senin
3 10.00-13.00
4 Hammam H.S.
5
1.Nur Shabrina Eka P.
2. Irbah Arifa

IDENTITAS 1 Daun Jambu Biji Psidium guajava, L.


BAHAN 2 Psidium guajava, L. Psidii folium

PEMERIKSAAN 1 Organoleptik
SIMPLISIA Warna Coklat
Rasa Pahit
Bentuk Serbuk kasar
Aroma Daun

EKSTRAKSI 1 Metode Maserasi


2 Berat Simplisia (gram) 1.410 gram
3 Pelarut Etanol 96%
4 Berat Ekstrak (gram)
5 Organoleptik
6 Rendemen (%)
7 Bobot Jenis Ekstrak
8 Kadar air (%)
9 Pola dinamolisis
KLT 1 Senyawa target Kuersetin
2 Fase Gerak fase gerak I = kloroform : asam format :
aseton (10 ml : 2 ml : 1 ml)
SIMPLISIA

3 Penampakan Bercak

24
Sinar Tampak bercak dapat dilihat
UV 254 bercak terdeteksi
UV 366 bercak tidak terdeteksi
Pereaksi Semprot : AlCl3
.
Rf 0,7

STANDARDISASI 1 Susut Pengeringan 10,5%


EKSTRAK 2 Bobot Jenis gr/ml
3 Kadar Air 6%
4 Kadar Sari Larut Air 18 %
5 Kadar Sari Larut Etanol 13 %
1 Kadar Abu Total 1,5%
2 Kadar Abu Tidak Larut Asam 0,5%
3 Kadar Total Kandungan Kimia
Flavonoid
4 Kadar Kandungan Kimia Kuersetin

KLT SEDIAAN 1 Fase Gerak Kloroform, Aseton, Asam Format


2 Penampakan Bercak
Sinar Tampak
UV 254
UV 366
Pereaksi Semprot : AlCl3

Rf =

25
Lampiran 4. Uji Hedonik

Lampiran 5. Susunan Kerja Kelompok


Nama Jabatan Tugas
Hammam H.S. Supervisor Produksi
Diah Siti Fatimah Anggota
Shella Widiyastuti Anggota
Dede Jihan Oktaviani Anggota
Quinzheilla Putri Arnanda Anggota
Shinta Lestari Anggota
Saqila Alifa Ramadhan Anggota
Alia Resti Azura Anggota
Indah Pertiwi Anggota
Reza Laila Najmi Anggota
Kita Radisa Anggota
Ai Masitoh Anggota
Khoirina N. S. Anggota

26