Anda di halaman 1dari 17

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN

PADA BRONCHOPNEUMONIA

A. PENGERTIAN

Bronchopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola


penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam
bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (Smeltzer &
Suzanne C, 2012 : 572)

Bronchopneumonia adalah suatu peradangan paru yang biasanya menyerang di


bronkeoli terminal. Bronkeoli terminal tersumbat oleh eksudat mokopurulen yang
membentuk bercak-barcak konsolidasi di lobuli yang berdekatan. Penyakit ini sering
bersifat sekunder, menyertai infeksi saluran pernafasan atas, demam infeksi yang
spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh.

Pneumonia adalah suatu peradangan paru yang disebabkan oleh bermacam-


macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing (IKA, 2007)

Jadi bronkopnemonia adalah infeksi atau peradangan pada jaringan paru terutama
alveoli atau parenkim yang sering menyerang pada anak anak.Bronkopneumonia
dimulai pada bronkiolus terminalis, yang tersumbat dengan eksudat mukoporulen
yang membentuk bidang yang terkonsolidasi pada lobus-lobus didekatnya.

B. ETIOLOGI

1. Bakteri : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiella.

2. Virus : Legionella pneumoniae

3. Jamur : Aspergillus spesies, Candida albicans


2

4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-paru

5. Terjadi karena kongesti paru yang lama.

C. PATOFISIOLOGI

Broncopneumonia dapat disebabkan oleh virus, Jamur, Bakteri, Aspirasi maupun


alergi yang juga dicetuskan oleh lingkungan yang tidak bersih dan daya tahan tubuh
yang rendah . Microorganisme pathogen masuk kedalam paru paru melalui saluran
nafas bagian atas, menuju saluran nafas bagian bawah dan akhirnya sampai
kejaringan interstitial parenkim paru. Penyebab lain dapat pula berasal dari focus
infeksi dalam tubuh yang sampai pada jaringan interstittial parenkim paru melalui
sirkulasi darah dan aliran limfe..Patogen yang masuk kedalam tubuh memperbanyak
diri dan melepaskan toksin yang bersifat merusak membrane mucosa bronchial dan
alveoli. Respon peradangan pada bronchus dan alveolus adalah Meningkatnya suhu
tubuh dan Nyeri. Terjadinya perubahan membran alveolus sehingga permukaan
efektif paru berkurang, menyebabkan Abnormalitas pertukaran gas . Peningkatan
skresi trakeobronchial yang menutup jalan nafas dengan skret sehingga menjadi
Bersihan jalan nafas tidak efektif. Kebutuhan metabolic meningkat bila tidak
diimbangi dengan nutrisi yang adekuat dapat menyebabkan Nutrisi kurang dari
kebutuhan. Terjadinya hiperventilasi menyebabkan suplay 02 dan kebutuhan tidak
seimbang sehingga toleransi terhadap aktivitas juga menurun dan IWL meningkat
sehingga individu beresiko mengalami kekurangan volume cairan .

Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang
disebabkan oleh bakteri staphylococcus, Haemophillus influenzae atau karena
aspirasi makanan dan minuman. Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman
tersebut masukl ke saluran pernafasan bagian bawah dan menyebabkan terjadinya
infeksi kuman di tempat tersebut, sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan
menginfeksi saluran pernafasan dengan ganbaran sebagai berikut:

1. Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh
darah alveoli, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan alveoli.
3

2. Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran


pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora
normal dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan
kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan
dan elektrolit.

D. MANIFESTASI KLINIS

Bronchopneumonia biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran pernafasan


bagian atas selama beberapa hari. Pada tahap awal, penderita bronchopneumonia
mengalami tanda dan gejala yang khas seperti menggigil, demam, nyeri dada
4

pleuritis, batuk produktif, hidung kemerahan, saat bernafas menggunakan otot


aksesorius dan bisa timbul sianosis.

Tanda-tanda umum Bronkopneumonia: (Wong, 2009).

1. Demam (Biasanya cukup tinggi)

2. Pernapasan:

a. Batuk(Tidak produktif sampai produktif dengan sputum berwarna


keputihan)

b. Bunyi napas (Ronki atau ronki kasar, pekak pada saat perkusi,
nyeri dada, pernapasan cuping hidung, pucat sampaisianosis(bergantung
pada tingkat keparahan).

c. Foto thorak (infiltrat difus atau bercak-bercak dengan distribusi


peribronkial)

d. Perilaku (sensitif, gelisah, letergik)

e. Gastrointestinal (anoreksial, muntah,diare, nyeri abdomen)

E. KOMPLIKASI

1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau


kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.

2. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam


rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.

3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang


meradang.

4. Infeksi sitemik
5

5. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.

6. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.

F. PENATALAKSANAAN

Asuhan keperawatan untuk anak yang menderita bronkopneumonia biasanya


bersifat suportif dan simtomatik namun memerlukan pengkajian pernapasan yang
menyeluruh dan pembeerian oksigen serta antibiotik ( Wong, 2009).

Pertimbangan keperawatan :

1. Frekuensi, status pernapasan, aktivitas harus sering dikaji.

2. Istirahat dan penghematan energi untuk mengurangi stres fisik dan


psikologik.

3. Jika batuk mengganggu, penggunaan antitusif dengan cermat.

4. Cairan intravena perlu diberikan untuk mencegah dehidrasi

5. Cairan oral diberikan secara hati-hati untuk mencegah terjadinya aspirasi.

6. Drainase postural dan fisiotrerapi dada umumnya diindikasikan setiap 4


jam atau lebih sering, bergantung pada kondisi anak

G. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
6

a. Riwayat kesehatan

Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek,


demam.

Anorexia, sukar menelan, mual dan muntah.

Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi.

Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan

Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernapasan cepat dan


dangkal, gelisah, sianosis

b. Pemeriksaan fisik.

Demam, takipnea, sianosis, pernapasan cuping hidung

Auskultasi paru ronchi basah

Laboratorium leukositosis, LED meningkat atau normal

Rontgent dada abnormal (bercak, konsolidasi yang tersebar pada kedua


paru)

c. Factor fsikologis / perkembangan memahami tindakan

Usia tingkat perkembangan

Toleransi / kemampuan memahami tindakan

Koping

Pengalaman terpisah dari keluarga / orang tua


7

Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya

d. Pengetahuan keluarga / orang tua

Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit saluran pernapasan

Pengalaman keluarga tentang penyakit saluran pernafasan

Kesiapan / kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya

2. Diagnosa keperawatan

a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas

b. Gangguan pertukaran gas

c. Defisit volume cairan

d. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

e. Intoleransi aktifitas

3. Intervensi

a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi


berlebihan dan kental
Definisi : Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari
saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas.
Batasan Karakteristik :
Dispneu, Penurunan suara nafas
Orthopneu
Cyanosis
Kelainan suara nafas (rales, wheezing)
Kesulitan berbicara
Batuk, tidak efekotif atau tidak ada
Mata melebar
Produksi sputum
Gelisah
Perubahan frekuensi dan irama nafas
8

2. Faktor-faktor yang berhubungan:


Lingkungan : merokok, menghirup asap rokok, perokok pasif-POK,
infeksi
Fisiologis : disfungsi neuromuskular, hiperplasia dinding bronkus,
alergi jalan nafas, asma.
Obstruksi jalan nafas : spasme jalan nafas, sekresi tertahan,
banyaknya mukus, adanya jalan nafas buatan, sekresi bronkus,
adanya eksudat di alveolus, adanya benda asing di jalan nafas.
NOC :
1. Respiratory status : Ventilation
2. Respiratory status : Airway patency
3. Aspiration Control

3. Kriteria Hasil :
a. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,
tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum,
mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
b. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik,
irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal (RR=12-20
x/menit / sesuai usia os, tidak ada suara nafas abnormal)
c. Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat
menghambat jalan nafas
NIC :
Airway suction
Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning
Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning.
Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning
Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan.
Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi
suksion nasotrakeal
Gunakan alat yang steril sitiap melakukan tindakan
Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah kateter
dikeluarkan dari nasotrakeal
Monitor status oksigen pasien
Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan suksion
Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila pasien menunjukkan
bradikardi, peningkatan saturasi O2, dll.
4. Airway Management
Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
9

Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan


Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Lakukan suction pada mayo
Berikan bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2

b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan


bronkospasme.
Definisi : Kelebihan atau kekurangan dalam oksigenasi dan atau
pengeluaran karbondioksida di dalam membran kapiler alveoli
Batasan karakteristik :
Gangguan penglihatan
Penurunan co2
Takikardi
Hiperkapnia
Keletihan
Somnolen
Iritabilitas
Hypoxia
Kebingungan
Dyspnoe
Nasal faring
Agd normal
Sianosis
Warna kulit abnormal (pucat, kehitaman)
Hipoksemia
Hiperkarbia
Sakit kepala ketika bangun
Frekuensi dan kedalaman nafas abnormal
Faktor faktor yang berhubungan :
10

Ketidakseimbangan perfusi ventilasi


Perubahan membran kapiler-alveolar
NOC :
Respiratory Status : Gas exchange
Respiratory Status : ventilation
Vital Sign Status

Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang
adekuat
Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda
distress pernafasan
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,
tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum,
mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
Tanda tanda vital dalam rentang normal (RR = 12-20 x/menit /
sesuai usia os ).

NIC :
Airway Management
Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Lakukan suction pada mayo
Berika bronkodilator bial perlu
Barikan pelembab udara
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
11

Monitor respirasi dan status O2


Respiratory Monitoring
Monitor rata rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan otot
tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
Monitor suara nafas, seperti dengkur
Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
Catat lokasi trakea
Monitor kelelahan otot diagfragma (gerakan paradoksis)
Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya
ventilasi dan suara tambahan
Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan
ronkhi pada jalan napas utama
auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya
c. Defisit Volume Cairan
Definisi : Penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intrasellular.
Ini mengarah ke dehidrasi, kehilangan cairan dengan pengeluaran sodium

Batasan Karakteristik :
Kelemahan
Haus
Penurunan turgor kulit/lidah
Membran mukosa/kulit kering
Peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah,
penurunan volume/tekanan nadi
Pengisian vena menurun
Perubahan status mental
Konsentrasi urine meningkat
Temperatur tubuh meningkat
Hematokrit meninggi
12

Kehilangan berat badan seketika (kecuali pada third


spacing)
Faktor-faktor yang berhubungan:
Kehilangan volume cairan secara aktif
Kegagalan mekanisme pengaturan
NOC:
Fluid balance
Hydration
Nutritional Status : Food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :
Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB,
BJ urine normal, HT normal ( Norma produksi urin 0,5-1 ml/Kg
BB/jam ).
Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal (TD
=120/70 mmHg / sesuai usia os, Nd =60-100 x/menit / sesuai usia
os, S = 36,5C-37,5 C ).
Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik,
membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
NIC:
Fluid management
Timbang popok/pembalut jika diperlukan
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi
adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
Monitor vital sign
Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
Lakukan terapi IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan
Berikan cairan IV pada suhu ruangan
13

Dorong masukan oral


Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi

d. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan anoreksia sekunder dipnea, kelemahan.
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme tubuh.
Batasan karakteristik :
Berat badan 20 % atau lebih di bawah ideal
Dilaporkan adanya intake makanan yang kurang dari RDA
(Recomended Daily Allowance)
Membran mukosa dan konjungtiva pucat
Kelemahan otot yang digunakan untuk menelan/mengunyah
Luka, inflamasi pada rongga mulut
Mudah merasa kenyang, sesaat setelah mengunyah makanan
Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan makanan
Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa
Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan
Miskonsepsi
Kehilangan BB dengan makanan cukup
Keengganan untuk makan
Kram pada abdomen
Tonus otot jelek
Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi
Kurang berminat terhadap makanan
Pembuluh darah kapiler mulai rapuh
Diare dan atau steatorrhea
Kehilangan rambut yang cukup banyak (rontok)
14

Suara usus hiperaktif


Kurangnya informasi, misinformasi
Faktor-faktor yang berhubungan :
Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau
mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis,
psikologis atau ekonomi.
NOC :
Nutritional Status : food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :
Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda tanda malnutrisi
Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
NIC :
Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli
gizi)
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
15

Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang


dibutuhkan
Nutrition Monitoring
BB pasien dalam batas normal
Monitor adanya penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor kalori dan intake nuntrisi
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.
Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

e. Intoleransi aktifitas
Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen
Definisi : Ketidakcukupan energi secara fisiologis maupun psikologis untuk
meneruskan atau menyelesaikan aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari
hari.
Batasan karakteristik :
melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas
Perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
16

Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.


Faktor factor yang berhubungan :
Tirah Baring atau imobilisasi
Kelemahan menyeluruh
Ketidakseimbangan antara suplei oksigen dengan kebutuhan
Gaya hidup yang dipertahankan.
NOC :
Energy conservation
Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan
darah, nadi dan RR
Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
NIC :
Energy Management
Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap
keterbatasan
Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat
Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara
berlebihan
Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik
dalammerencanakan progran terapi yang tepat.
Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi dan social
Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
17

Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda,


krek
Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai
Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas
Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual