Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Hiperglikemia adalah istilah untuk kadar gula darah yang melebihi batas normal.
Berdasarkan kriteria diabetes melitus yang dikeluarkan oleh International Society for
Pediatrics and Adolescent Diabetes (ISPAD) dan International Diabetic Federation (IDF),
hiperglikemia adalah kondisi dengan kadar gula darah sewaktu 11.1 mmol/L (200 mg/dL)
ditambah dengan gejala diabetes atau kadar gula darah puasa (tidak mendapatkan masukan
kalori minimal 8 jam sebelumnya) 7.0 mmol/L (126 mg/dL) (International Diabetic
Federation,2011). Definisi lain menurut PERKENI tahun 2006, hiperglikemia adalah
peningkatan kadar glukosa darah yang diperiksa secara enzimatik dengan bahan darah plasma
vena atau pun darah kapiler karena ada kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-
duanya. Hiperglikemia terjadi jika konsentrasi glukosa darah sewaktu 200 mg/dL atau
konsentrasi glukosa darah puasa 126 mg/dL (Purnamasari,2009).
Secara normal ketika gula darah di dalam tubuh meningkat, tubuh akan memberikan
sinyal kepada sel-sel pankreas untuk mensekresikan insulin. Insulin yang dihasilkan akan
membawa glukosa ke dalam sel untuk dimetabolisme. Kelebihan glukosa akan disimpan di
hati, otot, dan jaringan adiposa dalam bentuk glikogen. Pada penderita diabetes melitus tipe
1, terjadi destruksi sel-sel pankreas sehingga insulin yang dihasilkan sangat sedikit,
sedangkan pada penderita diabetes melitus tipe 2, terjadi penurunan sensitivitas jaringan
terhadap kerja insulin sehingga terjadi peningkatan sekresi insulin sebagai bentuk kompensasi
sel beta pankreas. Penyakit diabetes ini menyebabkan tubuh tidak mampu mengontrol kadar
glukosa di dalam darah sehingga kadar glukosa darah meningkat (Murray,dkk.,2012).
Jumlah penderita diabetes di dunia terus meningkat. Pada tahun 1990, jumlah
penderitanya baru mencapai angka 80 juta dan empat tahun kemudian melonjak menjadi
110,4 juta jiwa (Arisman,2011). Menurut International Diabetic Federation (IDF) pada
tahun 2010, angka penderita diabetes menjadi 284,8 juta jiwa dan satu tahun kemudian
tercatat 366,2 juta jiwa mengalami diabetes di dunia. Pada tahun 2013 bertambah lagi
menjadi 387 juta jiwa dan tahun 2035 IDF memperkirakan kasus diabetes akan meningkat
sebesar 55% yaitu mencapai 592 juta jiwa.
Indonesia termasuk dalam salah satu dari 10 besar negara dengan jumlah penderita
diabetes terbanyak dalam beberapa tahun terakhir ini (International Diabetic Federation,
2013). Pada tahun 1995, Indonesia menempati peringkat ke-7 dengan jumlah penderita
diabetes sebanyak 4,5 juta jiwa. Kemudian tahun 2010 turun ke peringkat 9 dengan 7 juta
jiwa. Satu tahun kemudian, Indonesia menempati peringkat ke-10 dengan jumlah penderita
diabetes sebanyak 7,3 juta jiwa. Pada tahun 2013 dengan 8,5 juta jiwa penderita diabetes,
Indonesia menempati urutan ke-7 setelah China, India, Amerika Serikat, Brazil, Russia, dan
Meksiko. Pada tahun 2030 diperkirakan penderita diabetes di Indonesia terus bertambah
menjadi 11,8 juta jiwa dan menempati peringkat ke-9 (International Diabetic
Federation,2013).
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2009 salah satu faktor resiko
mayor dari diabetes melitus adalah obesitas. Sunjaya (2009) menemukan bahwa individu
yang mengalami obesitas mempunyai risiko 2,7 kali lebih besar untuk terkena diabetes
melitus dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami obesitas. Di Indonesia, 11,5%
penduduk usia >18 tahun memiliki berat badan lebih dan 20,78% penduduk wilayah
Palembang mengalami obesitas. Rata-rata prevalensi kelebihan berat badan relatif tinggi
terdapat pada usia 35-59 tahun pada laki-laki maupun perempuan. Pada usia tersebut, sekitar
sepertiganya mengalami kelebihan berat badan di kelompok perempuan dan sekitar
seperlimanya di kelompok laki-laki (Riskesdas Kemenkes, 2013).
Berdasarkan Riskesdas 2013, 14,8% penduduk Indonesia dengan obesitas mengalami
diabetes melitus sehingga diduga bahwa untuk mendeteksi penyakit diabetes melitus secara
dini selain dengan melakukan pengukuran kadar gula darah, juga dapat dilakukan dengan
penegakan diagnosis obesitas karena lebih mudah, murah, dan bersifat non invasif.
Diagnosis obesitas dapat dilakukan dengan pengukuran antropometri seperti indeks massa
tubuh, rasio lingkar pinggang panggul, lingkar leher,dan lain-lain (Arisman,2011).
Penilaian obesitas yang paling populer dimasyarakat adalah indeks massa tubuh (IMT)
tetapi tidak dapat menggambarkan obesitas sentral secara tepat pada individu. Saat ini rasio
lingkar pinggang dan pinggul dianggap sebagai salah satu cara pengukuran antropometri
yang lebih sensitif, murah, dan mudah dalam menilai obesitas sentral dibandingkan IMT.
Sebuah studi menyatakan bahwa pengukuran lingkar leher juga dapat digunakan sebagai
skrining obesitas. Lingkar leher yang menggambarkan indeks distribusi lemak subkutan
pada tubuh bagian atas mempunyai hubungan erat dengan faktor risiko kardiovaskuler
(Sjostrom dkk., 2001). Hal tersebut mengindikasikan bahwa lingkar leher sebagai salah satu
indeks distribusi lemak tubuh bagian atas mungkin dapat digunakan untuk mengidentifikasi
individu dengan kelebihan berat badan dan obesitas.
Beberapa penelitian yang dilakukan di Nigeria menunjukkan bahwa indeks massa
tubuh, rasio lingkar pinggang panggul,dan lingkar leher berkorelasi positif dengan kadar
gula darah puasa maupun gula darah sewaktu 4,5 . Penelitian yang dilakukan oleh dr. Nur
Indrawaty Lipoeta FK Universitas Diponegoro di Semarang tahun 2014 juga menunjukkan
hasil yang positif. Hubungan IMT, lingkar pinggang, dan lingkar leher dengan kadar gula
darah puasa memiliki nilai kemaknaan p < 0,05, artinya setiap kenaikan IMT, lingkar
pinggang, dan lingkar leher juga akan meningkatkan kadar glukosa darah puasa6. Namun,
penelitian lain yang dilakukan oleh dr.Nur Indrawaty Lipoeto,dkk Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas tahun 2004 dan Hanifah Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Jakarta tahun 2013 menunjukkan nilai kemaknaan p > 0,05, artinya dari
penelitian tersebut tidak terdapat hubungan antara nilai antropometri dengan kadar glukosa
darah.
Korelasi suatu pengukuran antropometri dengan suatu parameter gangguan metabolik
pada suatu etnis atau ras tertentu dapat memiliki nilai korelasi yang berbeda dengan etnis
atau ras lainnya. Selain itu, penelitian mengenai hubungan antara indeks massa tubuh
(IMT), rasio lingkar pinggang panggul, dan lingkar leher terhadap kadar gula darah sewaktu
belum banyak dilakukan di Palembang. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis
bermaksud melakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan antara indeks
massa tubuh (IMT), rasio lingkar pinggang panggul (RLPP), dan lingkar leher terhadap
kadar gula darah sewaktu di Palembang

1.2. Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang muncul adalah sebagai berikut.
1.2.1 Apakah terdapat hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan kadar gula
darah sewaktu?
1.2.2 Apakah terdapat hubungan antara rasio lingkar pinggang panggul (RLPP)
dengan kadar gula darah sewaktu?
1.2.3 Apakah terdapat hubungan antara lingkar leher dengan kadar gula darah
sewaktu?

1.3. Hipotesis Penelitian


H 0 : Tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh (IMT), rasio lingkar pinggang
panggul (RLPP), dan lingkar leher terhadap kadar gula darah sewaktu.
H A: Ada hubungan antara indeks massa tubuh (IMT), rasio lingkar pinggang
panggul (RLPP), dan lingkar leher terhadap kadar gula darah sewaktu.
1.4. Tujuan Penelitian
1.4.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh (IMT), rasio
lingkar pinggang panggul (RLPP), dan lingkar leher terhadap kadar gula darah
sewaktu
1.4.2. Tujuan Khusus
1. Menghitung indeks massa tubuh (IMT), rasio lingkar pinggang panggul
(RLPP), dan lingkar leher pengunjung Kambang Iwak Fun Park.
2. Mengukur kadar gula darah sewaktu pengunjung Kambang Iwak Fun Park.
3. Menganalisis hubungan indeks massa tubuh (IMT), rasio lingkar pinggang
panggul (RLPP), dan lingkar leher terhadap kadar gula darah sewaktu
pengunjung Kambang Iwak Fun Park.

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Akademis
Manfaat penelitian ini bagi peneliti yaitu mendapatkan pengetahuan dan
pengalaman dalam melakukan penelitian serta berkontribusi dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan.
Manfaat penelitian ini bagi institusi yaitu hasil penelitian dapat dijadikan
sebagai bahan rujukan dan pembanding untuk penelitian selanjutnya dan
diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan mengenai hubungan
antara indeks massa tubuh (IMT), rasio lingkar pinggang panggul (RLPP), dan
lingkar leher terhadap kadar gula darah sewaktu.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat agar
mendapatkan informasi dan meningkatkan pemahaman mengenai hubungan
antara indeks massa tubuh (IMT), rasio lingkar pinggang panggul (RLPP), dan
lingkar leher terhadap kadar gula darah sewaktu sehingga masyarakat dapat
mendeteksi penyakit diabetes melitus secara dini. Selain itu, dengan penelitian ini
diharapkan masyarakat menyadari pentingnya mengatur pola hidup sehat dan
menjaga berat badan sehingga mengurangi risiko patologis, salah satunya
diabetes melitus.

1. Sudoyo,Aru W,dkk.2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V. Jakarta :
Interna Publishing
2. Murray,Robert K,dkk. 2012. Biokimia Harper Edisi 27. Jakarta : EGC
3. Arisman. 2011. Obesitas, Diabetes Mellitus,dan Dislipidemia. Jakarta : EGC
4. Pucarin-cvetkovil J, Mustajbegovic J, Jelinic JD, Senta A, Nola IA, Ivankovic D, et al.
Body mass index and nutrition as determinants of health and disease in population of
Croatian Adriatic islands. Croat Med J 2006;47:61926.
5. Turcato E, Bosello O, Di Francesco V, Harris TB, Zoico E, Bissow L, et al. Waist
circumference and abdominal sagittal diameter as surrogates of body fat distribution
in the elderly ;their relation with cardiovascular risk factors. Int J Obes Relat Metab
Disord 2000;24:100510
6. Journal of Nutrition College,Volume 3,Nomor 4,tahun 2014, halaman 473-481.
Hubungan Lingkar Leher dan Lingkar Pinggang dengan Kada Glukosa Darah Puasa
Orang Dewasa: Studi Kasus di SMA N 2 Semarang dan SMPN 9 Semarang. Nurlina
Mayasari, Yekti Wirawanni.