Anda di halaman 1dari 12

Laporan Tetap Praktikum

Kimia Analisis Dasar

Kelompok 1
Adhe Julian Pertananda (061540421929)
Andhika Sandi Panorama (061540421931)
Dinna Khoiruummah (061540421936)
Dita Indah Sari (061540421937)
Putu Yoga Andre S. (061540422263)
Tasya Athira Makaminan (061540422264)

Instruktur : Ir. Aisyah Suci Ningsih


Judul Percobaan : Titrasi Redoks (Penentuan Vitamin C)
Kelas : 1. KI B
Prodi : Teknologi Kimia Industri

Jurusan Teknik Kimia


Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang
Tahun Akademik 2015-2016
1. Tujuan Percobaan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menetapkan kadar vitamin C (asam askorbat)

pada minuman vitamin C dengan metode titrasi redoks.

2. Rincian Percobaan
a. Standardisasi larutan baku Iodin
b. Penentuan kadar vitamin C pada minuman vitamin C

3. Dasar Teori
a. Vitamin C (Asam Askorbat)
Vitamin C atau asam askorbat merupakan zat pereduksi dan dapat ditetapkan dengan

titrasi redoks yang menggunakan larutan iod sebagai titran.


O O
CH2OH-CHOH-CH-COH=COH-C=O + I2 CH2OH-CHOH-CH-C-C-C=O + 2H + 2I-
O O
Asam askorbat Asam dehidroaskorbat
Karena molekul itu kehilangan 2 elektron dalam titrasi ini, bobot ekivalennya adalah separuh

dari berat molekulnya yaitu 88,01 g/ek.

b. Larutan Iod

Iod hanya sedikit dapat larut dalam air. Namun sangat larut dalam larutan yang

mengandung ion iodida. Iod membentuk bentuk kompleks triiodida dengan iodida.
I2 + H2O I3-
Iod cenderung dihidrolisis dengan membentuk asam iodida dan hipoiodit.
I2 + H2O HIO + H+ + I-
Kondisi yang meningkatkan derajat hidrolisis haruslah dihindari. Titrasi tak dapat dilakukan

dengan larutan yang sangat basa. Dan larutan standar iod haruslah disimpan dalam botol

gelap untuk mencegah penguraian H2O oleh cahaya matahari.


2HIO 2H+ + 2I- + O2

Asam hipoiodit dapat juga diubah menjadi iodat dalam larutan basa
3HIO + 3OH- 2I- + IO3- + 3H2O

c. Standardisasi
Larutan iod standar dapat disiapkan dengan menimbang langsung iod murni dan

melarutkannya serta mengencerkannya dalam sebuah labu ukur. Iod itu dimurnikan dengan

sublimasi dan ditambah kedalam larutan KI pekat uang ditimbang dengan tepat sebelum dan
sesudah penambnahan iod. Tetapi larutan itu biasanya distandardisasi dengan standar primer

yaitu AgNO3

d. Indikator Kanji
Warna larutan iod 0,1 N cukup tua sehingga iod dapat bertindak sebagai indikatornya

sendiri. Iod juga memberikan suatu warna ungu atau lembayung pada pelarut seperti karbon

tetraklorida atau kloroform dan kadang kadang juga digunakan dalam mendeteksi titik akhir

titrasi. Tetapi t\lebih lazim digunakan suatu larutan kanji. Warna biru tua kompleks pati ion

berperan sebagai uji kepekaan terhadap iod. Kepekaan itu lebih besar dalam larutan sedikit

asam daripada dalam larutan netral lebih besar dengan adanya iodida. Larutan kanji mudah

terurai oleh bakteri, suatu proses yang dapat dihambat dengan sterilisasi atau dengan

penambahan suatu pengawet. Hasil uraiannnya mengonsumsi iod dan berubah kemerahan.

Merkurium(II) iodida,asam borat,atau asam fuorat dapat digunakan sebagai pengawet.

Kondisi yang menimbulkan hidrolisis atau koagulasi kanji hendaknya dihindari. kepekaan

indikator akan berkurang dengan naiknnya temperature dan oleh beberapa bahan organik

seperti metil dan metil alkohol.

Titrasi redoks adalah titrasi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi. Kedua

proses ini selalu terjadi secara bersamaan. Dalam titrasi redoks biasanya menggunakan

potensiometri untuk mendeteksi titik akhir. Untuk mengetahui kadar vitamin C metode titrasi

redoks yang digunakan adalah titrasi langsung yang menggunakan iodium. Iodium akan

mengoksidasi senyawa-senyawa yang mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil

dibanding iodium. Vitamin C mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil daripada iodium

sehingga dapat dilakukan titrasi langsung dengan iodium. Pendeteksian titik akhir pada titrasi

iodimetri ini adalah dilakukan dengan menggunakan indikator amilum yang akan

memberikan warna biru pada saat tercapainya titik akhir.

Vitamin C disebut juga asam askorbat, struktur kimianya terdiri dari rantai 6 atom C

dan kedudukannya tidak stabil (C6H8O6), karena mudah bereaksi dengan O2 di udara
menjadi asam dehidroaskorbat merupakan vitamin yang paling sederhana. Sifat vitamin C

adalah mudah berubah akibat oksidasi namun stabil jika merupakan kristal (murni). mudah

berubah akibat oksidasi, tetapi amat berguna bagi manusia.

Vitamin C adalah salah satu vitamin yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Vitamin C

mempunyai peranan yang penting bagi tubuh. Vitamin C mempunyai sifat sebagai

antioksidan yang dapat melindungi molekul-molekul yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.

Vitamin C juga mempunyai peranan yang penting bagi tubuh manusia seperti dalam sintesis

kolagen, pembentukan carnitine, terlibat dalam metabolism kolesterol menjadi asam empedu

dan juga berperan dalam pembentukan neurotransmitter norepinefrin

Pemberian kombinasi vitamin C dengan bioflavonoid dapat menghalangi dan

menghentikan pembentukkan superoksida dan hydrogen peroksida, sehingga dapat mencegah

terjadinya kerusakan jaringan akibat oksidan. Suplemen vitamin C diantaranya adalah

kombinasi vitamin C dan bioflavonoid, dipasaran diantaranya adalah Ester C. Bioflavonoid

berfungsi meningkatkan efektivitas kerja vitamin C sehingga dapat mengurangi konversi

asam askorbat menjadi dehidroaskorbat. Vitamin C juga mengandung likopen, likopen

merupakan senyawa potensial untuk antikanker dan mempunyai aktifitas antioksidan dua kali

lebih kuat dari beta karoten.

Asam askorbat terbukti berkemampuan memerankan fungsi sebagai inhibitor. Kristal

asam askorbat ini memiliki sifat stabil di udara, tetapi cepat teroksidasi dalam larutan dan

dengan perlahan-lahan berdekomposisi menjadi dehydro-ascorbic acid (DAA). Selanjutnya

secara berurutan akan berdekomposisi lagi menjadi beberapa molekul asam dalam larutan

sampai menjadi asam oksalat (oxalic acid) dengan pH di atas 4. Pengaruh perubahan

lingkungan asam askorbat tertentu tidak berfungsi sebagai inhibitor.

4. Alat yang digunakan


- Buret
- Kaca arloji
- Spatula
- Labu ukur
- Erlenmeyer
- Gelas kimia
- Pipet tetes
- Pipet ukur
- Neraca analitik
- Bola karet
- Hot plate
- Batang pengaduk
- Corong kaca

5. Gambar alat ( terlampir)


6. Bahan yang digunakan
- Minuman YouC1000 Orange Water
- Indikator kanji
- Iod mutu reagensia
- KI
- As2O3
- Akuades
- NaOH
- Indikator pp
- HCl 1:1
- Na2CO3 sebagai buffer

7. Keselamatan kerja
Menggunakan peralatan keselamatan kerja seperti sarung tangan dan masker dalam

menangani larutan asam pekat

8. Langkah kerja

a. Pembuatan larutan Iod

Menimbang 12,7 gram iod dan memasukkannya dalam gelas kimia


Menambahkan 40 gram kalium iodida dan 25 ml air, mengaduknya sampai larut
Memindahkan larutan ke dalam labu ukur 1 liter dan membilas gelas kimia dengan
akuades dan memasukkan kembali bekas bilasan kedalam labu ukur
Menambahkan akudes kedalam labu ukur sampai tanda batas
Menutup labu ukur dan menghomogenkan larutan dengan membolak balik labu ukur
dengan hati hati

b. Pembuatan larutan As2O3


Menimbang As2O3 sebanyak 1,25 gram, memasukkannya kedalam gelas kimia
Menambahkan 3 gram NaOH dan 10 ml air dan melarutkannya
Kemudian menambahkan 50 ml air dan 2 tetes indikator pp
Menambahkan HCl 1:1 sampai warna merah muda indikator hilang kemudian
menambahkan 1 ml HCl berlebih
Memindahkan larutan ke labu ukur 250 ml dan mengencerkannya hingga tanda batas.
dan menghomogenkan nya.

c. Pembuatan indikator kanji


Melarutkan 0,2 gram pati (kanji) dalam 5 ml air.
Menuangkan sedikit demi sedikit kedalamnya air mendidih.

d. Standardisasi larutan iod


Memipet 25 ml larutan arsenit kedalam erlenmeyer
Mengencerkannya dengan 50 ml air
Menambahkan sedikit NaHCO3 dengan hati hati
Setelah gelegak berhenti menambahkan 3 gram NaHCO3 untuk membuffer larutan
Menambahkan 5 ml indikator kanji
Mentitrasi dengan larutan iod sampai pertama kali muncul warna biru tua yang
bertahan kurang lebih 1 menit.

e. Penentuan vitamin C
Memipet 20 ml minuman vitamin c
Menambahkan 25 ml akuades
Menambahkan 5 ml indikator kanji
Mentitrasi dengan larutan iod sampai muncul warna biru tua pertama kali yang
bertahan kurang lebih 1 menit.
9. Data pengamatan

a. Standardisasi Larutan Iod

No. percobaan Volume Iodin


1 28,2 ml
2 28,8 ml
3 27,3 ml
Rata rata volume : 28,1 ml

b. Penentuan Vitamin C

No. percobaan Volume Iodin


1 7,5 ml
2 7,7 ml
3 7,6 ml
Rata rata volume : 7,6 ml

10. Perhitungan

a. Standardisasi larutan iod

gr. As2O3 / BE As2O3 = V. I2 x N. I2

( 1250 mg . 25ml/100ml ) / 49,46 mek/ml = 28,1 ml x N. I2

125 mg / 49,46 mek/ml = 28,1 ml x N. I2

N. I2 = 125 / 1389,826

= 0,0899 N

b. Penentuan Vitamin C

V. I2 x N. I2 = gr. Vitamin C / BE Vitamin C

7,6 ml x 0,0899 N = gr. Vitamin C / BE Vitamin C


gr. Vitamin C = 60,1729 mg

Dalam 1 botol minuman orange water you c 1000 = (350ml / 20ml) x 60,1729 mg

= 1053,025 mg

Persen kesalahan dalam standardisasi = ( 0,1 0,899 / 0,1 ) x 100 = 10,1 %

Persen kesalahan dalam penentuan vit. C = (1053,025 1000 / 1000) x 100 = 5,3025 %

11. Pertanyaan

1. Apakah perbedaan iodomertrik dan iodimetrik ?


Iodometrik (iodometri langsung), merupakan titrasi terhadap larutan analit
dengan larutan iodine sebagai larutan standar atau titran menggunakan indikator
amilum. Beberapa senyawa yang dapat dititrasi dengan iodine adalah tiosulfat (S2O32)
arsen(III), antimon(III), sulfida(S2-), sulfit(SO32-), dan ferosianida [Fe(CN)6]4+ .
Larutan iodin harus distandardisasi dahulu dengan larutan primer yaitu arsen trioksida
Iodimetri (iodometri tak langsung), merupakan titrasi terhadap larutan analit
dengan larutan natrium tiosulfat sebagai larutan standar atau titran menggunakan
indikator amilum.
2. Unsur atau senyawa apakah yang dapat ditentukan dengan iodimetrik?
H2S, Sn2+, Ag3+, N2H4, SO2-, Zn2+, Cd2+, Hg2+, Pb2+, Vitamin C,glukosa dan gula
pereduksi lainnya.

12. Analisis Percobaaan

Pada percobaan ini, dilakukan penetapan kadar vitamin C dengan metode iodimetri.

Iodimetri adalah titrasi langsung dan merupakan metode penentuan atau penetapan kuantitatif

yang dasar penentuannya adalah jumlah I2 yang bereaksi dengan sampel atau terbentuk dari
hasil reaksi antara sampel dengan ion iodida. Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I2 sebagai

pentiternya. Dalam reaksi redoks harus selalu ada oksidator dan reduktor , sebab bila suatu

unsur bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan elektron), maka harus ada suatu unsur

yang bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap elektron). Dalam bidang

farmasi penetapan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kadar yang terkandung di dalam

suatu sediaan, apakah sudah sesuai dengan aturan atau tidak.

Sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah minuman vitamin C dengan

merek You C 1000 Orange water. Indikator yang digunakan adalah indikator kanji. Kanji

digunakan karena akan membentuk kompleks iod amilum yang berwarna biru tua meskipun

konsentrasi I2 sangat kecil dan molekul iod terikat kuat pada permukaan beta amilosa seperti

amilum. Indikator kanji yang digunakan harus dalam keadaan panas agar mendapatkan hasil

titrasi yang maksimal dan juga karena kanji tidak dapat larut jika tidak dipanaskan. Tetapi,

dalam pemanasannya harus diperhatikan agar larutan kanji tersebut tidak berubah menjadi

encer.

Kemudian larutan vitamin C yang sudah ditambah akuades dititrasi secara perlahan-

lahan dengan larutan iodium. Ketika akan mencapai batas akhir titrasi larutan vitamin C

terkadang menimbulkan warna biru akan tetapi warna biru tersebut hilang lagi. Hal ini

dikarenakan masih ada vitamin C yang belum bereaksi dengan larutan iodium. Setelah

beberapa saat maka didapatkanlah hasil larutan yang berwarna biru mantap. Hal ini

menandakan bahwa vitamin C telah habis bereaksi dan titik akhir titrasi telah tercapai. Warna

biru terbentuk karena dalam larutan pati, terdapat unti-unit glukosa membentuk rantai heliks

karena adanya ikatan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati

dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya.,

sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut. Berikut ini reaksi yang terjadi

antara vitamin C dengan iodium :


C6H8O6 + I2 C6H6O6 + 2I- + 2H+

Konsentrasi larutan iodium yang digunakan untuk mencapai titik akhir titrasi tersebut

adalah sebesar 0,1N. Dalam titrasi ini, tidak dapat diketahui titik ekuivalennya, sehingga

untuk menentukannya dapat dilihat dari hantaran listrik, potensial, ataupun dengan

menggunakan pH. Kemudian setelah itu dihitung kadar vitamin C yang terkandung di dalam

sampel dan didapatkan hasil jika kadar sampel tersebut adalah sebesar 60,1729 mg.

13. Kesimpulan

Setelah melakukan praktikum, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :

- Normalitas larutan iodin setelah di standardisasi adalah 0,899 N

- Persen kesalahan pada standardisasi adalah 10,1 %

- Kadar vitamin C dalam sampel adalah 60,1729 mg

- Kadar vitamin C dalam 1 botol minuman vitamin c sampel adalah 1053,025 mg

- Persen kesalahan pada penentuan vitamin c adalah 5,3025 %

Daftar Pustaka

Kasie laboratorium kimia analisis dasar. 2015. Jobsheet penuntun praktikum kimia analisis

dasar titrasi redoks (penentuan vitamin c). Politeknik negeri sriwijaya : Palembang.

Lampiran :
Buret pipet ukur labu ukur

Bola karet pipet tetes corong kaca

Erlenmeyer gelas kimia kaca arloji


Neraca analitik

Pengaduk spatula