Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH MANAJEMEN PRODUKSI

BAB I
PENDAHULUAN

Perencanaan produksi, implementasi, proses dan inventory control (PPIC) adalah pusat dari proses
supply chain diberbagai jenis perusahaan trading dan manufacturing. Mengelola proses produksi
secara efektif bukan hanya memastikan operasional yang mulus dan efisien tetapi juga akan
menentukan dan membedakan suatu perusahaan sebagai komponen yang besar dalam keunggulan
kompetitif.

Manajemen semakin dibutuhkan setelah adanya pemisahan antara Rumah Tangga Konsumen (RTK)
dan Rumah Tangga Produsen (RTP), dalam hal ini adalah dua pihak yang paling membutuhkan, di
mana konsumen dapat memenuhi kebutuhannya dengan berbagai jenis barang yang disediakan
produsen, dan produsen dapat menjual barang-barangnya yang betul-betul dibutuhkan konsumen
sesuai dengan selera, mode dan daya belinya.

Produksi yaitu suatu kegiatan yang menciptakan atau meningkatkan kegunaan suatu barang.
Peningkatan atau penambahan kegunaan suatu barang bisa melalui kegunaan tempat, kegunaan
waktu, kegunaan bentuk atau gabungan dari beberapa kegunaan tersebut.

Untuk perusahaan-perusahaan saat ini cenderung dapat menggabungkan beberapa kegunaan


sekaligus suatu barang, baik kegunaan waktu, tempat, maupun kegunaan bentuk. Hal ini diciptakan
untuk dapat mengantisipasi kebutuhan konsumen yang bersifat heterogen (berbeda-beda).

Jadi manajemen produksi merupakan proses manajemen yang diterapkan dalam bidang produksi.
Proses manajemen produksi adalah penggabungan seluruh aspek yang terdiri dari produk, pabrik,
proses, program dan manusia.

BAB II
PEMBAHASAN

1. A. PENGERTIAN MANAJEMEN PRODUKSI


Manajemen produksi adalah salah satu cabang manajemen yang kegiatannya mengatur agar dapat
menciptakan dan menambah kegunaan suatu barang dan jasa. Untuk mengatur kegiatan ini, perlu
dibuat keputusan-keputusan yang berhubungan dengan usaha-usaha untuk mencapai tujuan agar
barang dan jasa yang dihasilkan sesuai dengan apa yang direncanakan.

Dengan demikian, manajemen produksi menyangkut pengambilan keputusan yang berhubungan


dengan proses produksi untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
1. B. PERKEMBANGAN MANAJEMEN PRODUKSI
Manajemen produksi berkembang pesat karena adanya factor :

1. Adanya pembagian kerja (division of labour) dan spesialisasi


Agar produksi efektif dan efisien, produsen hendaknya menggunakan metode ilmiah dan azas-azas
manajemen. Pembagian kerja memungkinkan dicapainya tingkat dan kualitas produksi yang lebih
baik bila disertai dengan pengolahan yang baik.dan akan mengurangi biaya produksi sehingga dapat
tercapainya tingkat produksi yang lebih tinggi.

1. Revolusi Industri
Revolusi Industri merupakan suatu peristiwa penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin.
Revolusi itu merupakan perubahan dan pembaharuan radikal dan cepat dibidang perdagangan,
industri,dan teknik di Eropa. Dampaknya pengusaha besar dapat meningkatkan perdagangannya,
sedangkan pengusaha kecil dengan peralatan kerja yang masih kuno,menjadi terdesak.

Perkembangan revolusi industri terlihat pada :

1. Bertambahnya penggunaan mesin


2. efisiensi produksi batu bara, besi, dan baja,
3. Pembangunan jalan kereta api,alat transportasi, dan komunikasi.
4. meluasnya system perbankan dan perkreditan.
Industialisasi ini meningkatkan pengolahan hasil produksi, sehingga membutuhkan kegiatan
pemasaran.

1. Perkembangan alat dan teknologi yang mencakup penggunaan computer


Sehingga pada banyak hal manajer produksi mengintegrasikan teknologi canggih kedalam bisnisnya.

1. Perkembangan ilmu dan metode kerja yang mencakup metode ilmiah, hubungan antar manusia,
dan model keputusan.
Penggunaan metode ilmiah dalam mengkaji pekerjaan memungkinkan ditemukannya metode kerja
terbaik dengan pendekatan sebagai berikut :

1. Pengamatan (observasi) atas metode kerja yang berlaku


2. Pengamatan terhadap metode kerja melalui pengukuran dan analisis ilmiah
3. pelatihan pekerja dengan metode baru
4. pemanfaatan umpan balik dalam pengelolaan atas proses kerja.

1. C. ASPEK-ASPEK MANAJEMEN PRODUKSI


Di dalam manajemen produksi melibatkan beberapa aspek yang harus diperhatikan , aspek-aspek
tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan produksi
Dengan dibuatnya perencanaan produksi ini bertujuan untuk dilakukanya persiapan yang sistematis
bagi produksi yang akan dijalankan. Keputusan yang harus dihadapi dalam perencanaan produksi
diantaranya yaitu:

1. Jenis barang yang diproduksi


2. Kualitas barang
3. Jumlah barang
4. Bahan baku
Urutan proses produksi harus dituangkan dalam sebuah dokumen yang disebut Rout Sheet
(Operation Sheet), yang dituangkan dalam bentuk gambar-gambar dan desain produk, yang
kemudian dianalisa bagaimana hubungannya antar komponen yang ada dan bagaimana proses
pemasangan (assemblingnya). Dengan demikian rancangan proses produksi terdiri dari desain
produk, perencana proses dan pengendalian produksi. Ada dua type proses produksi terdiri dari :
type produksi untuk persediaan dan type produksi berdasarkan pesanan.

1. Pengendalian produksi
Bertujuan agar mencapai hasil yang maksimal dengan biaya seminimal mungkin dengan melakukan
koordinasi dari material, peralatan dan sumber daya manusia. Adapun kegiatan yang dilakukan
antara lain :

1. Menyusun perencanaan
2. Membuat penjadwalan kerja
3. Menentukan kepada siapa barang akan dipasarkan.
Prinsip dalam perencanaan dan pengawasan produksi dalam berbagai macam industri tidak banyak
berbeda, demikian juga dengan tujuan yang akan dicapainya. Walaupun dalam hal metode,
organisasi maupun operasi masing-masing perusahaan akan berbeda.

1. Pengawasan produksi
Bertujuan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Kegiatanya meliputi :

1. Menetapkan kualitas
2. Menetapkan standar barang
3. Pelaksanaan produksi yang tepat waktu

1. D. PERBEDAAN PRODUKSI, MANUFAKTUR, DAN OPERASI


Setiap perusahaan yang menghasilkan barang atau jasa mempunyai fungsi produksi. Sehingga
setiap perusahaan memerlukan manajer operasi, adapun perbedaan dari definisi produksi,
manufaktur dan operasi adalah sebagai berikut:

1. Produksi
Merupakan keseluruhan proses yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan barang atau
jasa. Produksi tidak terbatas pada proses produksi barang tetapi juga perusahaan yang
menghasilkan jasa.

Contoh:

Produksi tidak hanya dilakukan oleh perusahaan sampo, tetapi salon juga melakukan proses produksi
untuk menghasilkan perawatan rambut.

1. Manufaktur
Merupakan proses fisik untuk memproduksi barang, dan tidak tergolong jasa. Contoh: perusahaan
sampo.
1. Operasi
Merupakan keseluruhan fungsi atau kegiatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana strategis
agar perusahaan dapat terus beroperasi. Fungsi operasi meliputi fungsi produksi dan manufaktur
yang terdiri dari fungsi pembelian, pengelolaan material, produksi, kontrol persedian dan kualitas,
serta pemeliharaan.

E.FUNGSI DAN SISTEM PRODUKSI DAN OPERASI


Dari hasil-hasil penemuan dapatlah diketahui bahwa teknik-teknik Manajemen Produksi dan Operasi
dapat dipergunakan secara efektif untuk mengurangi biaya dan memperbaiki hasil jasa yang
ditawarkan atau dijual.

Terdapat tiga pengertian yang penting mendukung pelaksanaan kegiatan Manajemen Produksi dan
Operasi, yaitu fungsi, sistem dan keputusan.
1. Fungsi : bertanggung jawab untuk mengelola bagian dalam organisasi yang menghasilkan barang
atau jasa. Sehingga produksi atau operasi sama halnya dengan pemasaran dan keuangan atau
pembelanjaan sebagai salah satu fungsi organisasi perusahaan dan merupakan salah satu fungsi
bisnis.

2. Sistem : Perumusan sistem transformasi yang menghasilkan barang atau jasa. Sebagai dasar
untuk perancangan dan penganalisisan operasi produksi, yang terdapat dalam proses
pengkonversian di dalam persahaan. Dalam hal ini sistem keseluruhan dalam perusahaan terkait
dengan bidang-bidang fungsi lain diluar produksi dan operasi.

3. Keputusan : unsur yang terpenting di dalam manajemen prosuksi dan operasi. Karena seluruh
manajer bertugas tidak terlepas dengan hal pengambilan keputusan.

F. MENGORGANISASIKAN PROSES PRODUKSI


Merupakan penetapan kegiatan produksi guna melaksanakan proses produksi yang berbeda antara
satu perusahaan dengan perusahaan lain. Pengorganisasian proses produksi dapat dikelompokan
menjadi:

1. Organisasi tradisional
Setiap manajer memiliki daerah otoritas dan kekuasaan tertentu. Terdapat alat ukur kinerja masing-
masing departemen. Contoh: kinerja manajer kualitas ditentukan dengan dasar biaya, tingkat
kesalahan dan biaya pengerjaan ulang.

1. Organisasi selular
Pekerja berada dan bekerja dalam satu tim yang disebut cell untuk menghasilkan suatu produk atau
satu bagian produk. Setiap cell bertanggung jawab pada kualitas dan kuantitas produk yang mereka
hasilkan. Perbedaanya dengan organisasi tradisional adalah semua pekerja dalam cell bertanggung
jawab terhadap produk yang dihasilkan. Cell dapat memonitor diri sendiri serta mengoreksi dengan
sendirinya.
1. Proses dan proyek manufaktur
2. Proses ekstraktif : menghasilkan barang dengan cara mengambilnya dari alam. Contoh
pertambangan batu bara, pertambangan timah.
3. Proses kontinu : teknik produksi yang digunakan secara terus menerus untuk menghasilkan satu
jenis produk dalam jumlah yang banyak. Contoh: perusahaan Coca cola.
4. Intermitten process : teknik produksi yang menggunakan satu proses untuk menghasilkan
sejumlah produk, kemudian mengubahnya untuk memproduksi sejumlah produk yang berbeda.
Contoh perusahaan tas dan ikat pinggang.
5. Proses analitik : proses untuk mendapatkan barang yang diinginkan dengan jalan memisahkanya
dari barang lain. Contoh minyak bumi diproses menjadi bensin, solar dan kerosin.
6. Proses sintetik : menghasilkan output dengan jalan menggabungkan beberapa jenis barang yang
berbeda. Contoh proses pembuatan obat, pengolahan baja.
7. Proses perakitan : proses peletakan bagian-bagian produk secara bersama-sama sehingga
menghasilkan produk yang utuh. Contoh perusahaan televisi, perusahaan industry mobil dan
motor.

1. G. PERENCANAAN LOKASI DAN LAYOUT PABRIK


Layout pabrik disebut juga tata letak atau tata ruang didalam pabrik. Layout pabrik adalah cara
penempatan fasilitas-fasilitas produksi guna memperlancar proses produksi yang efektif dan efisien.
Fasilitas pabrik dapat berupa mesin-mesin, alat-alat produksi, alat pengangkutan bahan, dan
peralatan pengawasan.

Perencanaan layout menurut James A Moore adalah rencana dari keseluruhan tata letak fasilitas
industri yang didalamnya, termasuk bagaimana personelnya ditempatkan, alat-alat operasi gudang,
pemindahan material, dan alat pendukung lain sehingga akan tercipta suatu tujuan yang optimum
dengan kegiatan yang ada dengan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada dalam perusahaan.

Tujuan penyusunan layout pada dasarnya untuk mencapai pemanfaatan peralatan pabrik yang
optimal, penggunaan jumlah tenaga kerja yang minimum, kebutuhan persediaan yang rendah dan
biaya produksi dan investasi modal yang rendah.

Jenis-jenis layout

1. Process layout : mengatur alur kerja diseputar proses. Produk akan bergerak dari satu stasiun ke
stasiun lainnya. Semua pekerja yang mempunyai tugas sama bekerja dalam satu kelompok.
Contoh: pabrik kosmetik, pabrik gula.
2. Product layout : mengatur stasiun kerja dalam satu garis, cocok untuk produk yang dihasilkan
dalam kuantitas cukup banyak dengan proses yang terus menerus. Contoh: pabrik mobil.
3. Fixed position : produk tetap pada suatu tempat atau tidak dapat dipindahkan, sedangkan pekerja
dan mesin-mesin yang akan datang sesuai dengan kebutuhan. Contoh: pembuatan gedung
olahraga.
Adapun perangkat lunak yang diperlukan bagi penyusunan layout adalah: CRAFT, COFAD, PLANET,
CORELAP dan ALDEF.

Dalam semua kasus yang terjadi, layout seharusnya mempertimbangkan bagaimana cara mencapai:
1. Pemanfaatan lebih tinggi atas ruang, fasilitas dan tenaga kerja.
2. Perbaikan aliran informasi, barang atau tenaga kerja.
3. Meningkatkan moral kerja dan kondisi keamanan yang lebih baik
4. Meningkatkan interaksi perusahaan dengan konsumen.
5. Peningkatan fleksibilitas.
Dari waktu ke waktu, desain layout perlu dipertimbangkan sebagai sesuatu yang dinamis dan punya
fleksibilitas.

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi


Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi pabrik, besar sekali pengaruhnya terhadap tingkat
kelancaran operasi perusahaan, faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor utama dan faktor bukan
utama.

Faktor utama yaitu: letak sumber bahan baku, letak pasar, masalah transportasi, supply tenaga kerja
dan pembangkit tenaga listrik.

Sedangkan faktor bukan utama yaitu: rencana masa depan perusahaan, kemungkinan adanya
perluasan perusahaan, kemungkinan adanya perluasan kota, terdapatnya fasilitas-fasilitas
pelayanan, terdapatnya fasilitas-fasilitas pembelanjaan, persediaan air, investasi untuk tanah dan
gedung, sikap masyarakat, iklim dan keadaan tanah.

1. H. PERALATAN PRODUKSI
Pada umumnya peralatan produksi ditujukan bagi peningkatan produktivitas buruh dalam rangka
memperbanyak produk, baik dari segi variasinya maupun jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Peralatan produksi akan mencakup berbagai sarana yang digunakan dalam proses
produksi, yang berupa mesin atau jenis-jenis perkakas lain yang dipergunakan untuk melakukan
pekerjaan dalam mengerjakan produk atau bagian-bagian produk.

Adapun jenis-jenis mesin yang digunakan dalam proses produksi terdiri dari:

1. Mesin yang bersifat umum atau mesin serba guna (General Purpose Machines). Mesin serba
guna ini yaitu mesin yang dibuat untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tertentu untuk berbagai
jenis barang produk atau bagian produk.
2. Mesin yang bersifat khusus (special purpose machines) yaitu mesin-mesin yang direncanakan
untuk mengerjakan satu atau beberapa jenis kegiatan yang sama.

Alasan diadakannya pembelian peralatan antara lain:

1. peralatan baru diperlukan untuk memproduksi produk dan jasa lebih hanya volume penjualan
yang terus meningkat.
2. Peralatan yang ada telah usang.
3. Peralatan yang ada telah memasuki masa aus serta harus diganti.
Untuk memutuskan membeli peralatan baru maka perlu dilaksanakan survei terlebih dahulu, yang
dilakukan melalui dua tahap, yaitu: pertama tahap pemakaian (penyaringan teknologi) yang meliputi
kapasitas, kedua perhitungan biaya atau analisis ekonomi yang akan menentukan sejumlah alternatif
teknis yang dipilih.

1. I. PEMELIHARAAN FASILITAS DAN PENANGANAN BAHAN (MATERIAL HANDLING)


Fungsi pemeliharaan dan penanganan bahan merupakan dua fungsi pelayanan yang sangat penting
dalam kegiatan produksi.

I.1. PEMELIHARAAN FASILITAS

Pemeliharaan fasilitas produksi jika dilaksanakan secara teratur akan beroperasi secara efektif.
Tanggung jawab pemeliharaan fasilitas biasanya ditugaskan kepada teknisi pabrik, yang berada di
bawah kepala teknisi.

Tujuan utama fungsi pemeliharaan adalah sebagai berikut:

1. Kemampuan produksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana produksi.


2. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh produk itu
sendiri dan kegiatan produksi yang tidak terganggu.
3. Untuk membantu mengurangi pemakaian dan penyimpangan yang diluar batas dan menjaga
modal yang diinvestaikan dalam perusahaan selama waktu yang ditentukan sesuai dengan
kebijaksanaan perusahaan mengenai investasi tersebut.
4. Untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah mungkin, dengan melaksanakan
kegiatan maintenance secara efektif dan efisien keseluruhannya.
5. Menghindari kegiatan maintenance yang dapat membahayakan keselamatan para pekerja.
6. Mengadakan suatu kerjasama yang erat dengan fungsi-fungsi utama lainnya dari suatu
perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaan. Yaitu tingkat keuntungan
atau return of investment yang sebaik mungkin dan total biaya yang rendah.

Jenis-jenis pemeliharaan diantaranya yaitu:

1. Preventive maintenance
Kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan-
kerusakan yang tidak terduga dan menemukan kondisi atau keadaan yang dapat menyebabkan
fasilitas produksi mengalami kerusakan pada waktu digunakan dalam proses produksi. Dalam
praktiknya, preventive maintenance yang dilakukan oleh suatu perusahan pabrik dapat dibedakan
atas:

1. Routine Maintenance : kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara rutin,
misalnya setiap hari. Sebagai contoh dari kegiatan ini adalah pembersihan fasilitas maupun
peralatan, pelumasan, serta pemeriksaan bahan bakarnya dan mungkin termasuk pemanasan
(warming-up) mesin-mesin selama beberapa menit sebelum dipakai beroperasi sepanjang hari
2. Periodic Maintenance : kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara periodik
atau dalam jangka waktu tertentu, misalnya setiap satu minggu sekali, lalu meningkat setiap
bulan sekali, dan akhirnya setiap setahun sekali. Sebagai contoh untuk kegiatan periodic
maintenance adalah pembongkaran karburator atau pembongkaran alat-alat dibagian sistem
aliran bensin, penyetelan katup-katup pemasukan dan pembuangan silinder mesin, dan
pembongkaran mesin ataupun fasilitas tersebut untuk penggantian bearing, serta service dan
overhaul kecil maupun besar.
3. Breakdown maintenance
Kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan setelah terjadinya suatu kerusakan atau
kelainan pada fasilitas maupun peralatan sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik dan benar.
Kegiatan breakdown maintenance yang dilakukan sering disebut dengan kegiatan perbaikan atau
reparasi.

I.2. PENANGANAN BAHAN (MATERIAL HANDLING)

Setiap perusahaan akan terlibat dalam masalah transportasi (pengangkutan) bahan atau penanganan
bahan. Karena dalam hal ini akan menyangkut proses pemindahan bahan, pemindahan produk
dalam proses dan pemindahan produk jadi.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penanganan bahan adalah: jalur pengangkutan,
sifat obyek yang diangkut, karakteristik bangunan, keadaan ruangan dan kapasitas peralatan.

Pembelian material secara teratur akan membawa efek yang positif terhadap proses produksi,
misalnya: hubungan dengan supplier bahan dapat berlangsung secara berkesinambungan, harga
bahan yang dipesan lebih murah, pengurusan pembelian bahan lebih mudah, karena bersifat rutin.

Selain itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pengadaan bahan yaitu:
standardisasi bahan baku, supplier bahan baku, syarat pembelian, cara penyimpanan,
kemasan/pembungkus, dan spesifikasi bahan.

Setelah membahas masalah pengadaan bahan, maka suatu hal yang penting mendapat perhatian
adalah pengendalian material, terutama masalah pemakaian bahan. Ketidakefisienan pemakaian
bahan akan berpengaruh terhadap tingginya harga pokok barang yang dihasilkan.

Adapun metode-metode yang digunakan dalam menilai bahan baku terdiri dari: metode FIFO, LIFO,
rata-rata, rata-rata bergerak, dan metode standar harga. Pertimbangan untuk membuat atau membeli
suku cadang dalam rangka memproduksi suatu barang didasarkan atas pertimbangan teknis dan
ekonomis.

1. J. PENINGKATAN KUALITAS
Berbicara mengenai produk maka aspek yang perlu diperhatikan adalah kualitas produk. Menurut
American Society for Quality Control, kualitas adalah the totality of features and characteristics of a
product or service that bears on its ability to satisfy given needs, artinya keseluruhan ciri dan
karakter-karakter dari sebuah produk atau jasa yang menunjukkan kemampuannya untuk
memuaskan kebutuhan yang tersirat.
Definisi tersebut merupakan pengertian kualitas yang berpusat pada konsumen sehingga dapat
dikatakan bahwa seorang penjual telah memberikan kualitas bila produk atau pelayanan penjual telah
memenuhi atau melebihi harapan konsumen.

Kualitas produk merupakan pemahaman bahwa produk yang ditawarkan oleh penjual mempunyai
nilai jual lebih yang tidak dimiliki oleh produk pesaing. Oleh karena itu perusahaan berusaha
memfokuskan pada kualitas produk dan membandingkannya dengan produk yang ditawarkan oleh
perusahaan pesaing. Akan tetapi, suatu produk dengan penampilan terbaik atau bahkan dengan
tampilan lebih baik bukanlah merupakan produk dengan kualitas tertinggi jika tampilannya bukanlah
yang dibutuhkan dan diinginkan oleh pasar.

Menurut Kotler and Armstrong (2004, p.283) arti dari kualitas produk adalah the ability of a product to
perform its functions, it includes the products overall durability, reliability, precision, ease of operation
and repair, and other valued attributes yang artinya kemampuan sebuah produk dalam
memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan,
kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya.
DIMENSI KUALITAS PRODUK

Menurut Mullins, Orville, Larreche, dan Boyd (2005, p.422) apabila perusahaan ingin
mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus mengerti aspek dimensi
apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut
dengan produk pesaing. Dimensi kualitas produk tersebut terdiri dari :

1. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah produk.
2. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan bertahan
sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap
produk maka semakin besar pula daya tahan produk.
3. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana karakteristik
operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak
ditemukannya cacat pada produk.
4. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi
produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
5. Reliability (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau
tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka
produk tersebut dapat diandalkan.
6. Serviceability (kecakapan pelayanan), kemudahan produk untuk direparasi misalnya
ketersediaan bengkel dan suku cadang sepeda motor Yamaha.
7. Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk bisa dilihat dari
tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk.
8. Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan pengukuran
yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak
mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi, persepsi konsumen
terhadap produk didapat dari harga, merek, periklanan, reputasi, dan Negara asal.

1. K. PENGAWASAN KUALITAS (QUALITY CONTROL)


Pengawasan kualitas merupakan salah satu aktivitas produksi perusahaan yang dapat digunakan
untuk mengidentifikasi masalah kualitas sedini mungkin dalam kesalahan proses operasi, keandalan
kualitas dan memberikan pemecahanya. Pengawasan diharapkan dapat memberikan bukti dan
jaminan pada konsumen bahwa produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang terkontrol.
TEKNIK PENGAWASAN KUALITAS

Beberapa cara atau teknik yang dapat dilakukan dalam melakukan pengawasan kualitas (Leonard
dan Hilgert,2004) adalah:

1. Inspeksi Total, berupa pengecekan menyeluruh terhadap seluruh unit kerja atau tugas yang
dilakukan oleh pegawai dan menjelaskan apakah standar kualitas minimum sudah tercapai, dan
bila belum, bagaimana memperbaikinya.
2. Pengecekan pada Area Tertentu, dilakukan melalui pengecekan kinerja pegawai di suatu
departmen atau divisi tertentu, seperti departemen produksi, yang dilakukan secara periodik.
3. Pengontrolan Kualitas dengan Statistik. Apabila inspeksi total belum diperlukan dan pengecekan
pada divisi tertentu tidak terlalu akurat, Manajer Administrasi dapat menggunakan teknik ini
dengan memakai data yang berbasis sampel yang dipilih untuk menjamin validitas dan reliabilitas
hasil pengukuran.
4. Kesalahan Nihil, merupakan teknik preventif terhadap potensi kesalahan yang dilakukan oleh
pegawai sejak pertama kali mengerjakan tugasnya. Hal ini juga dapat memotivasi pegawai untuk
selalu bebas dari kesalahan.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Pengertian manajemen produksi
Salah satu cabang manajemen yang kegiatannya mengatur agar dapat menciptakan dan menambah
kegunaan suatu barang dan jasa.

1. Perkembangan manajemen produksi


Manajemen produksi berkembang pesat karena adanya factor :

1. Adanya pembagian kerja (division of labour) dan spesialisasi


2. Revolusi Industri
3. Perkembangan alat dan teknologi yang mencakup penggunaan computer
4. Perkembangan ilmu dan metode kerja yang mencakup metode ilmiah, hubungan antar manusia,
dan model keputusan.
1. Aspek manajemen produksi
1. Perencanaan produksi
2. Pengendalian produksi
3. Pengawasan produksi
5. Perbedaan produksi, manufaktur dan operasi
1. Produksi: keseluruhan proses yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan barang
atau jasa.
2. Manufaktur: proses fisik untuk memproduksi barang, dan tidak tergolong jasa.
3. Operasi: keseluruhan fungsi atau kegiatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana
strategis agar perusahaan dapat terus beroperasi.
6. Fungsi dan sistem produksi dan operasi
Fungsi : bertanggung jawab untuk mengelola bagian dalam organisasi yang menghasilkan barang
atau jasa.

Sistem : Perumusan sistem transformasi yang menghasilkan barang atau jasa.

1. Mengorganisasikan proses produksi


Pemgorganisasian proses produksi dapat dikelompokan menjadi: organisasi tradisional, organisasi
selular, dan proses dan proyek manufaktur.

1. Perencanaan lokasi dan layout pabrik


Layout pabrik adalah cara penempatan fasilitas-fasilitas produksi guna memperlancar proses
produksi yang efektif dan efisien.

1. Peralatan produksi, jenisnya yaitu: general purpose machines, special purpose machines.
2. Pemeliharaan fasilitas dan penanganan bahan (material handling)
Jenis pemeliharaan fasilitas: preventive maintenance, breakdown maintenance.

Pembelian material secara teratur akan membawa efek yang positif terhadap proses produksi,
misalnya: hubungan dengan supplier bahan dapat berlangsung secara berkesinambungan, harga
bahan yang dipesan lebih murah, pengurusan pembelian bahan lebih mudah, karena bersifat rutin.

1. Dalam meningkatkan kualitas produk, manajer produksi harus mengetahui mengenai beberapa
dimensi produk, diantaranya yaitu: Performance (kinerja), Durability (daya tahan), Conformance
to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), Features (fitur), Reliabilty (reliabilitas),
Serviceability (kecakapan pelayanan), Aesthetics (estetika), Perceived quality (kesan kualitas),
2. Teknik dalam pengawasan kualitas produksi diantaranya yaitu: Inspeksi Total, Pengecekan pada
Area Tertentu, Pengontrolan Kualitas dengan Statistik, Kesalahan Nihil,

DAFTAR PUSTAKA
Kismono, Gugup. 2001. Pengantar Bisnis. Yogyakarta:BPFE
http://massofa.wordpress.com/2008/02/02/manajemen-produksi-dan-industri-kecil/
http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_produksi
http://zulidamel.wordpress.com/2008/01/14/perencanaan-produksi/
http://saefulbafri009.blogspot.com/2010/11/manajemen-produksi.html
http://blogdeta.blogspot.com/2009/03/manajemen-produksi.html
http://santaidisiniyuk.blogspot.com/2009/08/manajemen-produksi.html
http://labsistemtmip.files.wordpress.com/2010/08/manajemen-operasi-i-arti-dan-ruang-lingkup-
manajemen-produksi.pdf
http://id.shvoong.com/social-sciences/1995194-manajemen-produksi/
http://wungkar.wordpress.com/2009/11/13/layout/
http://kuliahitukeren.blogspot.com/2010/12/pengawasan-kualitas-administrasi.html
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/71066166.pdf