Anda di halaman 1dari 13

Referat

Osteoarthritis

Dokter Pembimbing:

dr. Widyaningsih, SpPD

Disusun Oleh:

Pamela Vasikha

112016358

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM

RUMAH SAKIT MARDI WALUYO KOTA METRO LAMPUNG

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

PERIODE 3 JULI 9 SEPTEMBER 2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

Osteoarthritis merupakan penyakit tipe paling umum dari arthritis, dan dijumpai
khusus pada orang lanjut usia atau sering disebut penyakit degeneratif.1 Osteoarthritis
merupakan penyakit persendian yang kasusnya paling umum dijumpai di dunia. Penyakit ini
menyebabkan nyeri dan disabilitas pada penderita sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gaya hidup juga mempengaruhi kehidupan seseorang yang menderita penyakit
osteoarthritis. Perubahan gaya hidup dan pengobatan yang dilakukan dapat membantu
mengurangi keluhan osteoarthritis. Perubahan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada
bagian sendi, terutamanya pada bagian lutut dan pinggul. Diet yang sehat diperlukan untuk
mengurangi berat badan. Pola makan yang sehat berserta olahraga dapat menurunkan
terjadinya osteoarthritis kurang aktifitas fisik dikenal sebagai faktor risiko untuk banyak
penyakit pada populasi manula dan peningkatan aktifitas fisik pada pasien osteoarthritis akan
menurunkan morbiditas dan mortalitas.

2
BAB II

PEMBAHASAN

Osteoarthritis adalah tipe dari arthritis yang disebabkan oleh kerusakan atau penguraian
dan akhirnya kehilangan tulang muda (cartilage) dari satu atau lebih sendi-sendi. Cartilage
adalah senyawa protein yang melayani sebagai "bantal" antara tulang-tulang dari sendi-sendi.
Biasanya terjadi pada orang yang sudah tua.

Etiologi1

Etiologi penyakit ini tidak diketahui dengan pasti. Hasil penelitian menunjukan 87%
adalah kasus OA primer, dan 13% kasus OA sekunder. Menurut klasifikasi rontgentography,
38% adalah jenis awal, 28,5% jenis patellofemoral dan 23,2% jenis medio-patellofemoral.
Klasifikasi radiologi itu terkait dengan manifestasi klinis jika varus dan deformitas valgus lebih
parah, penilaian X ray juga akan menjadi lebih parah.
Ada beberapa faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, yaitu:
Usia lebih dari 40 tahun, jenis kelamin, suku bangsa, genetik, kegemukan den penyakit
metabolik, cedera sendi, pekerjaan, olahraga, kelainan pertumbuhan kepadatan tulang dan lain-
lain.
Berdasarkan penyebabnya osteoarthritis dibedakan menjadi dua yaitu osteoarthritis
primer dan osteoarthritis sekunder:
Osteoarthritis primer atau dapat disebut osteoarthritis idiopatik, tidak memiliki penyebab
yang pasti ( tidak diketahui ) dan tidak disebabkan oleh penyakit sistemik maupun proses
perubahan lokal pada sendi.
Sedangkan Osteoarthritis sekunder disebabkan oleh penyakit atau kondisi lainnya.
Kondisi-kondisi yang dapat menjurus pada osteoarthritis sekunder termasuk kegemukan,
trauma atau operasi yang berulangkali pada struktur-struktur sendi, sendi-sendi abnormal
waktu dilahirkan (kelainan-kelainan kongenital), gout, diabetes, dan penyakit-penyakit hormon
lain.
Kegemukan menyebabkan osteoarthritis dengan meningkatkan tekanan mekanik pada
cartilago. Nyatanya, setelah penuaan, kegemukan adalah faktor risiko yang paling kuat untuk
osteoarthritis dari lutut-lutut. Perkembangan yang dini dari osteoarthritis dari lutut-lutut

3
diantara atlet-atlet angkat besi dipercayai adalah sebagian disebabkan oleh berat badan mereka
yang tinggi.
Trauma yang berulangkali pada jaringan-jaringan sendi (ligamen-ligamen, tulang-tulang,
dan cartilago) dipercayai menjurus pada osteoarthritis dini dari lutut-lutut pada pemain-pemain
bola. Endapan-endapan kristal pada cartilago dapat menyebabkan degenerasi cartilago dan
osteoarthritis. Kristal-kristal asam urat menyebabkan arthritis pada gout, sementara kristal-
kristal calcium pyrophosphate menyebabkan arthritis pada pseudogout.
Beberapa orang-orang dilahirkan dengan sendi-sendi yang terbentuk abnormal (kelainan-
kelainan congenital) yang rentan terhadap pemakaian/pengikisan mekanik, menyebabkan
degenerasi dan kehilangan cartilago (tulang rawan) sendi yang dini. Osteoarthritis dari sendi-
sendi pinggul umumnya dihubungkan pada kelainan-kelainan struktural dari sendi-sendi ini
yang telah hadir sejak lahir.
Gangguan-gangguan hormon, seperti diabetes dan penyakit-penyakit hormon
pertumbuhan, juga berhubungan dengan pengikisan cartilago yang dini dan osteoarthritis
sekunder.

Epidemiologi
Insidensi dan prevalensi osteoarthritis bervariasi pada masing-masing negara, tetapi
data pada berbagai negara menunjukkan, bahwa arthritis jenis ini adalah yang paling banyak
ditemui, terutama pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia. Prevalensinya meningkat sesuai
pertambahan usia. Prevalensi meningkat dengan meningkatnya usia dan pada data radiografi
menunjukkan bahwa osteoarthritis terjadi pada sebagian besar usia lebih dari 60 tahun, dan
pada hampir setiap orang pada usia 75 tahun. Osteoarthritis ditandai dengan terjadinya nyeri
pada sendi, terutamanya pada saat bergerak. OA lutut radiologis di Indonesia sekitar 15,5 %
pada pria dan 12,7 % pada wanita.1

Patofisiologi 2

Pada OA terdapat proses degenerasi, reparasi dan inflamasi yang terjadi dalam jaringan
ikat, lapisan rawan, sinovium dan tulang subkondral. Pada saat penyakit aktif, salah satu proses
dapat dominan atau beberapa proses terjadi bersama dalam tingkat intensitas yang berbeda. OA
lutut berhubungan dengan berbagai defisit patofisiologi seperti instabilitas sendi lutut,

4
menurunnya lingkup gerak sendi (LGS) lutut, nyeri lutut sangat kuat berhubungan dengan
penurunan kekuatan otot quadriceps yang merupakan stabilisator utama sendi lutut dan
sekaligus berfungsi untuk melindungi struktur sendi lutut. Pada penderita usia lanjut kekuatan
quadriceps bisa menurun 1/3 nya dibandingkan dengan kekuatan quadriceps pada kelompok
usia yang sama yang tidak menderita OA lutut. Penurunan kekuatan terutama disebabkan oleh
atrofi otot tipe II B yang bertanggungjawab untuk menghasilkan tenaga secara cepat.
Perubahanperubahan yang terjadi pada OA adalah sebagai berikut:

a. Degradasi rawan.
Perubahan yang mencolok pada OA biasanya dijumpai di daerah tulang rawan sendi
yang mendapatkan beban. Pada stadium awal, tulang rawan lebih tebal daripada normal, tetapi
seiring Dapat dengan perkembangan OA permukaan sendi menipis, tulang rawan melunak,
integritas permukaan terputus dan terbentuk celah vertikal (fibrilasi).
terbentuk ulkus kartilago dalam yang meluas ke tulang. Dapat timbul daerah perbaikan
fibrokartilaginosa, tetapi mutu jaringan perbaikan lebih rendah daripada kartilago hialin asli,
dalam kemampuannya menahan stres mekanik. Semua kartilago secara metabolis aktif, dan
kondrosit melakukan replikasi, membentuk kelompok (klon). Namun, kemudian kartilago
menjadi hiposeluler. Proses degradasi yang timbul sebagai akibat dari ketidakseimbangan
antara regenerasi (reparasi) dengan degenerasi rawan sendi melalui beberapa tahap yaitu
fibrilasi, pelunakan, perpecahan dan pengelupasan lapisan rawan sendi. Proses ini dapat
berlangsung cepat atau lambat. Yang cepat dalam waktu 10 15 tahun, sedang yang lambat 20
30 tahun. Akhirnya permukaan sendi menjadi botak tanpa lapisan rawan sendi.

b. Osteofit
Bersama timbulnya dengan degenerasi rawan, timbul reparasi. Reparasi berupa
pembentukan osteofit di tulang subkondral.

c. Sklerosis subkondral
Pada tulang subkondral terjadi reparasi berupa sclerosis (pemadatan/ penguatan tulang
tepat di bawah lapisan rawan yang mulai rusak).

d. Sinovitis
Sinovitis adalah inflamasi dari sinovium dan terjadi akibat proses sekunder degenerasi
dan fragmentasi. Matriks rawan sendi yang putus terdiri dari kondrosit yang menyimpan
5
proteoglycan yang bersifat immunogenik dan dapat mengaktivasi leukosit. Sinovitis dapat
meningkatkan cairan sendi. Cairan lutut yang mengandung bermacam-macam enzim akan
tertekan ke dalam celah-celah rawan. Ini mempercepat proses pengerusakan rawan. Pada tahap
lanjut terjadi tekanan tinggi dari cairan sendi terhadap permukaan sendi yang botak. Cairan ini
akan didesak ke dalam celah-celah tulang subkondral dan akan menimbulkan kantong yang
disebut kista subkondral.

Manifestasi Klinis

Persendian terasa kaku dan nyeri apabila digerakkan. Terutama dirasakan setelah
bangun tidur di pagi hari. Adanya pembengkakan/peradangan pada persendian. Persendian
yang sakit berwarna kemerah-merahan. Kelelahan yang menyertai rasa sakit pada persendian.
Kesulitan menggunakan persendian. Bunyi pada setiap persendian (crepitus). Gejala ini tidak
menimbulkan rasa sakit, hanya rasa tidak nyaman pada setiap persendian (umumnya lutut).
Perubahan bentuk tulang. Ini akibat jaringan tulang rawan yang semakin rusak, tulang mulai
berubah bentuk dan meradang, menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.2

Penatalaksaan3

Terapi Farmakologi
Terapi obat pada OA ditargetkan pada penghilangan rasa sakit karena OA sering terjadi
pada individu yang lebih tua yang memiliki kondisi medis lainnya, diperlukan suatu
pendekatan konservatif terhadap pengobatan obat.
Pendekatan individual untuk pengobatan adalah penting. Untuk sakit yang ringan atau
sedang, analgesik topikal atau asetaminofen dapat digunakan. Jika hal ini gagal atau terjadi
inflamasi, obat AINS dapat berguna. Ketika terapi obat dimulai, terapi non-obat yang cocok
harus diteruskan.

Obat-obatan yang digunakan untuk terapi osteoarthritis :


1. Golongan AINS
Pertimbangan farmakologi dalam pemilihan AINS sebagai antinyeri rematik secara
rasional adalah

6
a. AINS terdistribusi ke sinovium,
b. mula kerja AINS segera (dini),
c. masa kerja AINS lama (panjang),
d. bahan aktif AINS bukan rasemik,
e. bahan aktif AINS bukan prodrug,
f. efek samping AINS minimal,
g. memberikan interaksi yang minimal dan
h. dengan mekanisme kerja multifaktor
Secara kimiawi obat-obat AINS dibagi dalam berbagai kelompok, yaitu:
a. salisilat : asetosal, benorilat dan diflusinal
b. asetat : diklofenak, indometasin dan sulindac (Clioril).
indometasin termasuk obat yang terkuat daya antiradanganya, tetapi lebih sering
menyebabkan keluhan lambung-usus
c. propionat : ibuprofen, ketoprofen, flurbiprofen, naproksen, dan tiaprofenat
d. oxicam : piroxicam, tenoxicam, dan meloxicam
e. pirazolon : (oksi) fenilbutazon dan azapropazon (prolixan)
f. lainnya : mefenaminat, nabumeton, benzidamin, dan bufexamac (Parfenac).
Efek samping beragam tingkat keparahan dan kekerapannya. Kadang timbul
rasa tidak nyaman pada saluran cerna, mual, diare, dan kadang pendarahan dan
tukak, dispepsia bisa ditekan dengan meminm obat ini bersama makanan atau susu.
Efek samping lain termasuk reaksi hipersensitivitas (terutama ruam kulit,
angiodema, dan bronkospasme), sakit kepala, pusing, vertigo, gangguan
pendengaran seperti tinnitus, fotosensitivitas, dan hematuria. Juga terjadi gangguan
pada darah. Retensi cairan bisa terjadi (jarang sampai mempercepat gagal jantung
kongestif pada pasien usia lanjut). Gagal ginjal mungkin dipicu oleh AINS
khususnya pada pasien yang sebelumnya sudah mengidap gagal ginjal.

2. Kortikosteroid
Kortikosteroid berdaya menghambat fosfolipase, sehingga pembentukan prostaglandin
maupun leukotrien dihalangi. Keberatannya ialah efek sampingnya yang lebih berbahaya pada
dosis tinggi dan penggunaan lama yaitu bila digunakan kronis terjadi susut-tulang akibat
perombakan meningkat dan pembentukan tulang berkurang dengan efek bertambahnya resiko
fraktur.

7
Mekanisme kerja : kortikosteroid memiliki aktivitas glukokortikoid dan
mineralokortikoid sehingga memperlihatkan efek yang sangat beragam yang meliputi efek
terhadap metabolisme karbohidrat, protein, dan lipid. Efek terhadap kesetimbangan air dan
elektrolit; dan efek terhadap pemeliharaan fungsi berbagai sistem dalam tubuh. Kerja obat ini
sangat rumit dan bergantung pada kondisi hormonal seseorang. Namun, secara umum efeknya
dibedakan atas efek retensi Na, efek terhadap metabolism KH (glukoneogenesis), dan efek
antiinflamasi.
Kortikosteroid bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di
organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan
perubahan dalam sintesis protein lain. Protein yang terakhir inilah yang akan mengubah fungsi
seluler organ target sehingga diperoleh, misalnya efek glukoneogenesis, meningkatnya asam
lemak, meningkatnya reabsorpsi Na, meningkatnya reaktifitas pembuluh terhadap zat
vasoaktif, dan efek antiinflamasi
3. Golongan analgesik
a. Golongan Analgesik Non Narkotik
- Asetaminofen ( Analgesik Oral )
Mekanisme Kerja
Belum jelas,asetaminofen menghambat sintesis prostaglandin pada SPP.
Data Farmakokinetik
Asetaminofen diabsorpsi secara cepat dan sempurna di saluran GI pada
pemberian oral. Asetaminofen terdistribusi secara cepat dan merata pada
kebanyakan jaringan tubuh. Sekitar 25% asetaminofen di dalam darah terikat
pada protein plasma. Asetaminofen dimetabolisme oleh system enzim
mikrosomal di dalam liver. Asetaminofen mempunyai waktu paro plasma
1,25-3 jam,dan mungkin lebih lama mengikuti dosis toksik atau pada pasien
dengan kerusakan liver. Sekitar 80-85% asetaminofen di dalam tubuh
mengalami konjugasi terutama dengan asam glukuronat dan dengan asam
sulfat. Asetaminofen diekskresiksan lewat urine kira-kira sebanyak 85%
dalam bentuk bebas dan terkonjugasi.
Indikasi : Nyeri ringan sampai sedang ; demam
Kontaindikasi : Pasien dengan fenilketunoria (kekurangan homozigot
fenilalanin hidroksilase) dan pasien yang harus membatasi masukan
fenilalanin.

8
Peringatan : berkurangnya fungsi hati dan ginjal; ketergantungan pada
alkohol.
Interaksi obat:
Resin penukar anion: kolestiramin menurunkan absorpsi parasetamol.
Antikoagulan: penggunaan paracetamol secara rutin dalam waktu yang
lama mungkin meningkatkan warfarin.
Metoklopramid dan Domperidon : metoklopramid mempercepat absorpsi
paracetamol (meningkatkan efek).
Efek samping : efek samping jarang; kecuali ruam kulit; kelainan darah;
pancreatitis akut dilaporkan setelah penggunaan jangka panjang; penting
pada kerusakan hati (dan lebih jarang kerusakan ginjal) setelah
overdosis.
- Kapsaisin ( Analgesik Topikal )
Mekanisme kerja
Suatu eksrtak dari lada merah yang menyebabkan pelepasan dan
pengosongan substansi P dari serabut saraf
Indikasi : bermanfaat dalam menghilangkan rasa sakit pada OA jika
digunakan secara topical pada sendi yang dipengarugi. Kapsaisin dapat
digunakan sendiri atau kombinasi dengan analgesic oral atau AINS. Agar
efektif, kapsaisin harus digunakan secara teratur dan dapat membutuhkan
waktu hingga 2 minggu untuk bekerja.
Peringatan: pasien harus diperingatkan untuk tidak mengoleskan krim ini
pada mata atau mulut dan untuk mencuci tangan setslah penggunaan.
Efek samping: ditoleransi dengan baik, tetapi pada beberapa pasien
mengalami rasa terbakar atausengatan untuk sementara pada area yang
dioleskan.

- Glukosamin dan Kondroitin ( Analgesik Topikal )


Mekanisme kerja: Glukosamin mengurangi penyempitan ruang sendi.
Indikasi: Glukosamin dan kondroitin merupakan suplemen makanan
yang telah menunjukan hasil yang superior terhadao placebo dalam
meredakan rasa sakit pada OA lurut atau pinggul pada 17 studi double-
blind dengan control placebo.

9
Terapi Non Farmakologi
Langkah pertama adalah memberikan edukasi pada pasien tentang penyakit, prognosis,
dan pendekatan manajemennya. Selain itu, diperlukan konseling diet untuk pasien OA yang
kelebihan berat badan.
Terapi fisik dengan pengobatan panas atau dingin dan program olahraga membantu
menjaga dan mengembalikan rentang pergerakan sendi dan mengorangi rasa sakit dan spasmus
otot. Program olahraga dengan menggunakan teknik isometrik didesain untuk menguatkan
otot, memperbaiki fugsi sendi dan pergerakan, dan menurunkan ketidakmampuan, rasa sakit,
dan kebutuhan akan penggunaan analgestik.
Alat bantu dan ortotik seperti tongkat, alat pembantu berjalan, alat bantu gerak, heel cups,
dan insole dapat digunakan selama olahraga atau aktifitas harian.
Prosedur operasi (mis. osteotomi, pengangkatan sendi, penghilangan osteofit, artroplasti
parsial atau total, joint fusion) diindikasikan untuk pasien dengan rasa sakit parah yang tidak
memberikan respon terhadap terapi konservatif atau rasa sakit yang menyebabkan
ketidakmampuan fungsional substansial dan mempengaruhi gaya hidup.

Prognosis

Pada umumnya baik. Jika semakin lama tidak Semakin lama akan semakin memburuk,
tapi rasa nyeri yang ditimbulkan dapat ditangani oleh pemberian obat obatan, jika berat maka
perlu dilakukan tindakan operasi.1

Pencegahan

Pencegahan osteoarthritis yaitu mengubah gaya hidup, jika kegemukan berat badan
maka harus diturunkan, berolahraga, olahraga yang tidak banyak membebani lutut adalah
berenang dan sepeda statis. Dapat dengan cara mengonsumsi makanan yang bergizi. Beberapa
suplemen misalnya glukosamin dan kondroitin, tapi harus disetujui oleh Badan Pengawasan
obat.2

10
BAB III
KESIMPULAN

Osteoarthritis adalah peradangan sendi yang bersifat kronis dan progresif disertai
kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi (pecah) dan perlunakan progresif permukaan
sendi dengan pertumbuhan tulang rawan sendi (osteofit) di tepi tulang.
Hal utama yang menyebabkan osteoarthritis yaitu usia dan genetik. Hal lain yang merupakan
faktor resiko, mencakup kegemukan, jenis kelamin (perempuan cenderung lebih banyak terjadi
), trauma, kelemahan otot, sendi yang tidak stabil, meningkatnya pembebanan dinamik.
Individu dengan obesitas cenderung mengalami OA lutut.

11
Daftar Pustaka

1. Soeroso J, Isbagio H, Handono H, Broto R, Pramudiyo R. Osteoartritis. Dalam: Sudoyo


AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S, editor. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Edisi ke-4. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2006. Hal.1205-8.
2. Price SA, Wilson M. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi ke - 6.
Jakarta:EGC;2006. Hal.1380-3.
3. Tan, H.T. & Rahardja, K. Obat-obat Penting, Khasiat dan Penggunaannya. PT. Elek

Komputindo: Jakarta: 2006. Hal. 321 337.

12
13