Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Filsafat ilmu pengetahuan merupakan salah satu cabang yang
mempersoalkan mengenai masalah hakikat pengetahuan. Yang dimaksud dalam hal
ini adalah suatu ilmu pengetahuan ke filsafatan yang secara khusus hendak
memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan. Dalam filsafat ilmu
dipelajari mengenai ilmu dan matematika sebab, ilmu tanpa matematika tidak
berkembang serta, matematika tanpa ilmu tak ada keteraturan.
Peran matematika dewasa ini semakin penting, karena banyaknya informasi
yang disampaikan orang dalam bahasa matematika seperti, tabel, grafik,
diagram, persamaan dan lain-lain. Matematika digunakan di seluruh dunia sebagai
alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam, teknik, kedokteran atau medis,
ilmu sosial seperti ekonomi, dan psikologi. Dengan demikian, pendidikan
matematika mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas
yang ditandai memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan
informasi sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Namun kebanyakan orang ataupun
guru mengajarkan matematika tanpa pernah mengajarkan atau menjelaskan
mengenai hakikat matematika itu sendiri. Jadi siswa yang diajarkan juga kurang
mengetahui hakikat dari matematika tersebut.
Untuk lebih jelasnya kami akan mengkaji hakikat matematika tersebut dalam
makalah ini yang meliputi pengertian matematika, matematika sebagai ilmu
deduktif dan juga matematikan sebagai ilmu terstruktur.

2. Rumusan Masalah
a. Apa hakikat matematika itu?
b. Apakah ada arti pasti tentang matematika?

3. Tujuan Penulisan
a. Agar mengetahui tentang hakikat matematika.
b. Agar mengetahui arti pasti tentang matematika.

1
BAB II

PEMBAHASAN

MODUL 1

HAKIKAT MATEMATIKA

KEGIATAN BELAJAR 1

MATEMATIKA DAN PERADABAN MANUSIA

Mungkin Anda sudah tahu bahwa matematika lebih dari aritmetika, yakni
ilmu tentang kalkulasi atau perhitungan. Matematika lebih daripada aljabar, yang
merupakan bahasa lambing, relasi dan operasi. Matematika lebih daripada
geometri, yang merupakan pelajaran tentang bangun, ukuran dan ruang.
Matematika lebih daripada statistika, yaitu ilmu untuk menafsirkan data dan grafik-
grafik. Matematika lebih daripada kalkulus, yakni bidang studi tentang perubahan,
limit, dan ketakhinggaan. Matematika adalah semuanya itu bahkan lebih.

Matematika adalah cara atau metode berfikir dan bernalar. Matematika


dapat digunakan untuk membuat keputusan apakah suatu ide itu benar atau
salahatau paling tidak ada kemungkinan benar. Matematika adalah suatu medan
eksplorasi dan penemuan, disitu setiap hari ide-ide baru ditemukan. Matematika
adalah metode berfikir yang digunakan untuk memecahan semua jenis
permasalahan yang terdapat didalam sains, pemerintahan dan industri. Matematika
dalah bahasa lambang yang dapat dipahami semua bangsa berbudaya.bahkan
dipercaya bahwa matematika akan menjadi bahasa yang dipahami oleh penduduk
diplanet mars dan lain-lain (jika disana ada penduduknya!). matematika adalah seni
, seperti pada music, penuh dengan simetri, pola, dan irama yang dapat sangat
menghibur. Matematika dilukiskan pula sebagai pola. Pola adalah sejenis
keteraturan, baik dalam bentuk maupun dalam ide.

2
Jika Anda melihat sejarah peradaban manusia pada masa lalu, Anda akan
melihat bahwa matematika selalu memainkan peran utamanya. Matematika telah
menjadi wahan untuk :

1. Pengukuran perbatasan Negara;


2. Pengambaran peta-peta;
3. Peningkatan perdagangan;
4. Pembangunan ruman dan jembatan;
5. Pemahaman gerak benda langit;
6. Navigasi kapal laut;
7. Perencanaan perang dan damai;
8. Peramalan cuaca;
9. Pembangunan persenjataan;
10. Penarikan pajak.

Sedangkan apabila Anda melihat pada masa kini (abad ini XXI),
matematika telah menjadi wahana untuk :

1. Penemuan prinsip-prinsip sains baru;


2. Pengarahan lalu lintas dan komunikasi;
3. Penemuan bijih tambang baru;
4. Penemuan mesin-mesin baru;
5. Pembuatan vaksin dan obat baru;
6. Peramalan gerak benda langit;
7. Penciptaan computer;
8. Penggunaan energy atom;
9. Peramalan pertumbuhan penduduk;
10. Pengembangan strategi pemasaran;
11. Navigasi angkasa luar;
12. Peningkatan pajak.

3
A. ARCHIMEDES (287-212 SM)

Archimedes dikenal sebagai ilmuan yang banyak menemukan alat-alat


mekanik. Banyak diantara alat-alat itu adalah mesin militer. Ia juga menemukan
suatu prinsip (dalam fisika) yang menyatakan bahwa objek-objek yang dimasukkan
kedalam zat cair akan mendapat tekanan keatas dengan gaya yang sama
besarnyadengan berat zat cair yang didesaknya.

Dalam matematika, Archimedes dicatat bagi penentuannya nilai bilangan


(phi). Dengan membandingkan lingkaran dengan polygon (bangun segi-banyak)
dengan menaikan banyaknya sisi-sisi polygon, ia menghitung sedikit lebih dari
223 220
dan sedikit kurang dari . Salah satu idenya serupa dengan kalkulus yang
71 70

ditemukan oleh Newton dan Leibniz.

Archimedes dianggap telah mengatakan, Jika Anda memberiku


pengungkit yang cukup panjang, saya dapat menggerakkan dunia . Tetapi
sesungguhnyalah ia lebih Berjaya menggerakkan dunia kedepan dalam
matematika dan sains daripada menggerakkannya secara fisik.

B. PENALARAN DALAM MATEMATIKA

Salah satu metode yang digunakan oleh matematikawan untuk menemukan


ide-ide baru adalah melakukan eksperimen. Metode ini serupa dengan apa yang
dilakukan oleh ilmuan lain didalam laboratorium. Metode ini disebut metode
eksperimen atau penalaran induktif. Marilah kita ihat bagaimana metode ini
digunakan dalam memecahakan persoalan.

Sebuah roti berbentuk bulat, diiris beberapa kali dengan menggunakan


sebuah pisau sedemikian rupa sehingga garis pengiris tidak memotong garis
(maksimum) potongan roti yang akan diperoleh?

Anda dpat memecahkan persolan ini dengan metode eksperimen. Anda


dapat melakukanpemotongan dengan menggambar garis-garis. Mencatat table
pemotongan yang terjadi dalam daftar dibawah ini.

4
Banyak garis potong 0 1 2 3 4 5 ...

Banyak potongan 1 2 4 7 11 16 ...

Bertambahnya potongan - 1 2 3 4 5 ...

Anda periksa table itu baik-baik. Bertambahnya potongan adalah: 1,2,3,4,5,


. . . Pola ini memungkinkan Anda meramal banyaknya potongan. Dengan 6 garis
potong akan terdapat 22 potongan (yakni , 16 + 6). Dengan 7 garis potong akan
terdapat 29 potongan (yakni, 22 + 7) dan seterusnya.

Penalaran jenis ini, yakni membuat kesimpulan umum setelah melihat atau
memperhatikan contoh-contoh khiusus disebut penalaran induktif.

Metode berikutnya yang banyak digunakan dalam matematika adalah


penalaran deduktif. perhatikan contoh berikut ini. Gambarlah segi-6 konveks
(cembung). Pilihlah sebuah titik sudutnya. Banyaknya diagonalyang dapat ditarik
dari titik sudut ini adalah 4 buah dan banyaknya segitiga yang terbebyuk juga ada
4 buah. Jumlah semua sudut segitiga-segitiga yang terjadi adalah sama dengan
jumlah sudut-sudut segi-6 itu. Karena jumlah sudut-sudut sebuah segitiga adalah
1800, maka jumlah sudut-sudut segi-6 adalah 4 x 1800 = 7200.

Marilah kita analisis penalaran ini. Kita memulai dengan beberapa ide yang
diasumsikan atau dianggap benar atau terlebih dahulu diketahui kebenarannya.
Kemudian kita menggunakan kekuatan penalaran untuk memperoleh kesimpulan.
Tidak ada eksperimen apapun yang akan kita lakukan. Dengan melakukan asumsi
tentang banyaknya segitiga dalam gambar segi-6 konveks, kita peroleh kesimpuan
jumlah sudut-sudut segi-6 konveks. Metode penalaran yang demikian disebut
penalaran deduktif.

5
KEGIATAN BELAJAR 2

FILSAFAT MATEMATIKA

A. FILSAFAT UMUM

Ilmu berusaha menjawab pertanyaan Mengapa ia begitu?, sedangkan


filsafat berusaha menjawab Apa hakikat sesuatu. Dengan demikian ada filsafat
ilmu, filsafat bahasa, filsafat hokum, filsafat matematika, filsafat agama, dan
bahkan filsafat dari filsafat.

B. PENGERTIAN DAN DEFINISI FILSAFAT

Secara etimologis (arti menurut kata) istilah filsafat beraala dari bahasa
Yunani philosophia. Kata ini adalah kata majemuk philos yang berarti kekasih atau
sahabat pengetahuan, dan shopia yang berarti kearifan atau kebijaksanaan. Jadi
secara harfiah, filasafat berati yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat
pengetahuan.

Tetapi tentang defenisi filsafat tentu saja berbeda dari filsuf yang satu ke
filsuf yang lain. Berikut ini beberapa contohnya.

1. Plato mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan untuk meraih


kebenaran yang asli dan murni. Ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah
penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala
sesuatu yang ada.
2. Aristoteles (murid Plato)mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan
yang selalu berusaha mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyabab dari
realitas yang ada. Ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan
yang berupaya mempelajari ada dan tampilan dan ada dan realita
3. Rene Descartes, filsuf Perancis, mengatakan bahwa filsafat merupakan
himpunan yang pangkal penyelidikannya tentang Tuhan, alam, dan manusia.

6
4. William James, filsuf Amerika, tokoh pragmatism dan pluralism, mengatakan
bahwa filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebatnya untuk berfikir yang
jelas dan terang.

ada empat hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat ialah: ketakjuban,
ketidakpuasan, hasrat bertanya, dan keraguan. Sifat Dasar Filsafat adalah Berfikir
Radikal (sampai ke akar-akarnya); Mencari Asas (esensi realita); Memburu
Kebenaran; Mencari Kejelasan (kejelasan seluruh realita); Berfikir Rasional (logis
sistematis). Peran filsafat adalah sebagai pendobrak (mitos, kezaliman, penipuan),
sebagai pembebas (membebaskan dari segala penjuru), dan pembimbinguntuk
berfikir integral/utuh dan koheren/nyata).

C. CABANG-CABANG FILSAFAT

Sebenarnya setiap cabang filsafat itu memiliki kesamaan satu sama lain.

Aristoteles, membagi filsafat kedalam 3 cabang:

1. Filsafat Spekulatif/ Filsafat Teoretis


Filsafat ini bersifat objektif. Dalam bidang ini termaksudlah fisika metafisika,
biopsikologi, dan lainnya. Tujuan utama filsafat spekulatif adalah ilmu
pengetahuan demi ilmu pengetahuan itu sendiri.
2. Filsafat Praktika
Filsafat ini member petunjuk dan pedoman bagaimana manusia brtingkah laku
yang baik dan seterusnya. Termasuk disini adalah etika dan politik. Tujuan
terpenting dalam filsafat ini adalah membentuk sikap dan perilaku yang akan
memampukan manusia untuk bertindak dalam terang pengetahuan itu.
3. Filsafat Produktif
Filsafat ini bertujuan membimbing membimbimg dan menunutun manusia
menjadi produktif melalui suatu keterampilan khusus. Tujuan utamanya adalah
agar manusia sanggup menghasilkan sesuatu, baik secar teknis maupun secara
puitis dalam terang pengetahuan yang benar.

7
Aristoteles menyebut logika sebagai analitika (untuk meneliti argumentasi
yang berangkat dari proposisi-proposisi yang benar) dan dialektika (untuk meneliti
argumentasi yang diragukan kebenarannnya). Logika tidak dimasukkan kedalam
filsafat karena, menurut Aristoteles, logika adalah metode dasar bagi ketiga cabang
filsafat tersebut.

Masih banyak lagi cara pembagian ini. Pada umumnya, sekarang pembagian
cabang filsafat adalah sebagai berikut:

a. Epistemology
b. Metafisika yang dibagi kedalam: (1) Ontologi, (2)Kosmologi, (3) Teologi
Metafisik, dan (4) Antropologi.
c. Logika
d. Etika
e. Estetika
f. Filsafat tertang berbagai jenis ilmu.

a. Epistemology

Epistemologi adalah cabang filsafat yang bersangkut paut dengan ilmu


pengetahuan. Istilah epistemology berasal dari dua kata Yunani , Episteme
(pengetahuan) dan logos (kata, pikiran, percakapan, atau ilmu). Jadi
epistemology berarti kata, pikiran, percakapan tentang pengetahuan atau
ilmu pengetahuan.

Pengetahuan adalah suatu kata yang digunakan untuk menunjuk kepada


apa yang diketahui seseorang tentang sesuatu. Ada tiga jenis pengetahuan.
Pertama, pengetahuan biasa, pengetahuan ini hasil inderawi terhadap objek
tertentu yang dijumpai. Kedua, pengetahuan ilmiah, yakni pengetahuan
yang diperoleh melalui metode-metode ilmiah yang lebih menjamin
kebenaran atau kepastian yang dicapai. Pengetahuan ini disebut sains. Dan
ketiga, pengetahuan filsafati, yakni pengetahuan yang berkaitan dengan

8
hakikat,prinsip, dan asas dari seluruh realita yang dipersoalkan selaku objek
yang hendak diketahui.

b. Sumber pengetahuan

Disini banyak pendapat yang berbeda. Menurut Plato,


Descartes,Spinoza dan Leibniz, sumber pengtahuan adalah akal budi atau
rasio. Menurut Bacon, Hobbes dan Locke, sumber pengetahuan adalah
pengalaman inderawi.

c. Kesahihan atau validitas pengetahuan

Didalam epistemology, ada beberapa teori kesahihan pengetahuan,


yakni:

1) Teori Kesahihan Koherensi. Teori ini mengatakan bahwa suatu


pernyataan atau proposisi adalah sahih (valid)apabila proposisi itu
memiliki hubungan denga gagasan-gagasan dan proposisi yang juga
dapat dibuktikan secara logis sesuai dengan ketentuan-ketentuan logika.
2) Teori Kesahihan Korespondensi. Teori ini mengatakan bahwa suatu
pengetahuan adalah sahih (valid) apabila proposisi-proposisinya
bersesuaian dengan realitas yang menjadi objek pengetahuan itu.
3) Teori Kesahihan Pragmatis. Teori mengatakan bahwa suatu
pengetahuan adalah sahid (valid) apabila memiliki kosekuensi-
konsekuensi kegunaan atau benar-benar bermanfaat bagi yang memiliki
pengetahuan itu.
4) Teori Kesahihan Semantik. Teori ini menekan arti dan makna suatu
proposisi. Proposisi harus menunjukkan arti dan makna yang mengacu
pada realitas dengan menunjuk cirri khas yang nyata.
5) Teori Kesahihan Logik yang berlebihan. Teori ini mengatakan bahwa
suatu proposes yang memiliki term atau istilah yang berbeda tetapi
berisi informasi yang sama tak perlu dibuktikan lagi, atau ia telah
menjadi suatu bentuk logis yang berlebihan. Misalnya: lingkungan
adalah bulatan. Jadi: lingkungan itu bulat tak perlu dibuktikan lagi.

9
d. Metafisika atau ontology

Metafisika umum atau ontology, membahas segala sesuatu yang ada


secara menyeluruh atau sekaligus. Pembahasan ini dilakukan dengan
membedakan dan memisahkan ekstensi yang sesungguhnya drai
penampilan atau penampakan dari ekstensi itu.

Ada 3 teori ontology yang terkenal.

1) Idealisme. Teori ini mengajarkan bahwa ada yang sesungguhnya


berada di dalam dunia ide. Sesuatu yang tampak dan wujud nyata dalam
inderawi hanyalah merupakan gambran atau bayangan dari yang
sesungguhnya, ynag berada di dunia ide.
2) Materialisme. Bagi materialism, ada yang sesungguhnya adalah yang
keberadaannya semata-mata bersifat material. Jadi, realitas yang
sesungguhnya alam kebendaan, dan segala sesuatu yang mengatasi alur
kebendaan itu haruslah dikesampingkan.
3) Dualisme. Teori ini mengajarka bahwa subtansi individual terdiri dari
dua tipe fundamental yang berbeda dan tak dapat direduks kepada yang
lainnya. Kedua tipe fundamental dri subtansi itu ialah material dan
mental. Dengan demikian, dualism mengakui bahwa realitas terdiri dari
materi atau yang ada secara fisik dan mental atau yang keberadaannya
tidak kelihatab secara fisis.

e. Aksiologi
Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai,
pada umumnya dipandang dari sudut kefilsafatan. Nilai adal sesuatu yang
dijunjung tinggi.yang mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang. Nilai
lebih daripada keyakinan. Nilai selalu menyangkut tindakan. Nilai
seseorang diukur melalui tindakannya. Itulah sebabnya, etika menyangkut
dengan nilai.

10
Seorang psikolog, Louis Rath, dalam bukunya Values dan Teaching
(1996), menulis bahwa ada 7 hal yang membuat sesuatu itu merupakan nilai
dalam arti yang sebenar-benarnya. Yang pertama, nilai adalah sesuatu yang
kita hargai dan junjung tinggi.tetapi ini belum cukup. Langkah kedua,
bahwa kita bersedia mengakui dan menyatakan diri didepan orang lain.
Yang ketiga, nilai itu Anda pilih dengan bebas, tanpa paksaan, diantara
banyak pilihan yang tersedia. Yang keempat, nilai yang sesungguhnya
adalah nilai yang Anda pilih setelah Anda mempertimbangkan dengan
sadar. Yang kelima, nilai yang Anda pilih dengan bebasdan sadar itu bnayak
pilihan yang ada. Yang keenam, nilai itu Anda nyatakan dengan tindakan
Anda. Dan yang ketujuh, tindakan itu bukan sekali-kali, tetapi berulang-
ulang dan terus menerus.

f. Filsafat matematika
Bagi Phytagoras, matematika adalah yang sangat penting untuk
memahami filsafat.semboyan Phytagoras yang sangat terkenal adalah panta
aritmos yang berate segala sesuatu adala bilangan (kebenaran asersi ini akan
dibahas dalam Modul selanjutnya).
Plato berpendapat bahwa gometri dalah kunci untuk meraih
pengetahuan dan kebenaran filsafat. Menurut Plato, ada suatu dunia yang
disebutnya ide, yang dirancang secara matematis. Segala sesuatu yang
dapat dipahami oleh indra, hanyalah suatu representasi tidak sempurna dari
dunia ide tersebut.
Selanjutnya akan dipaparkan secara ringkas pandanganpara filsuf
matematika lama atau terdahulu. Pandangan para filsuf masa kini
akan dibahas pada modul-modul selanjutnya (5,6,8)

1) Pandangan Plato
Bagi Plato, yang penting bahkan yang terpenting adalah tugas akal
budi untuk membedakan tampilan (penampakan) dari realita (kenyataan
yang sebenar-benarnya). Plato melihat bahwa orang biasanya

11
membedakan apa yang tampak dengan apa realitanya tanpa keraguan.
Pertimbangan mereka semacam criteria yang kurang jelas. Maka Anda
memerlukan objek yang real yang keberadaannya kira-kira bebas dari
presepsi Anda dan cara bagaimna Anda menangkapnya.
Menurut Plato, ketetapan, abadi atau permanen, bebas untuk
difahami haruslah merupakan karakteristik pertanyaan-pertanyaan
matematika. Plato yakin bahwa terdapat objek-objek yang permanen,
tertentu, bebas dari pikir seperti yang Anda sebut satu, dua, tiga,
dan sebagainya, yaitu, Bangun Aritmetika. Hal yang sama untuk objek-
objek titik, garis, lingkaran, dan sebagainya yakni, bangun
geometri. Jadi terdapat dunia ide, permanen, tertentu, yang berlainan
dengan dunia cita rasa. Dunia ide dipahami tidak dengan cita rasa, tetapi
dengan nalar.
Menurut Plato, matematika bukanlah idealisasi aspek-aspek tertentu
dari dunia empiris akan tetapi sebagai deskripsi dari bagian realitanya.

2) Pandangan Aristoteles

Ia menolak perbedaan Plato antara dunia ide yang disebutnya


realita kebenaran, dan bahwa pengalaman cita rasa dikatakan hanya
sebagai pendekatan (aproksimasi) dari dunia ide. Bagi Aristoteles,
bangun atau esensi sebarang objek empiris, misalnya piring,
membangun dan sebagainya, seperti halnya dalam materinya.

Aristoteles membedakan dengan tajam antara kemungkinan


mengabstraksi bulatan dengan karakteristik matematis yang lain dan
objek-objek dan kebebasan keberadaannya dari karakteristik atau
contoh-contohnya, yakni lingkaran. Bidang studi matematika adalah
hasil abstraksi matematis yang ia sebut objek matematis.

Pandangan Aristoteles tentang hubungan matematika murni dan


terapan juga menjadi agak jelas. Pernyataan-pernyataan dalam

12
matematika adalah hasil abstraksi matematis yang ia sebut objek
matematis.

Aristoteles juga bnayak mencurahan perhatiannya pada struktur


keseluruhan teori dalam matematika. Ia membedakan dengan jelas
antara: (i) prinsip-prinsip yang berlaku bagi semua sains (dalam bahasa
sekarang prinsip-prinsip logika formal yang diduga berlaku dalam
pengembangan formulasi dan dedukasi sebarang sains), (ii) prinsip
khusus yang dianggap benar oleh matematikawan terhalang dalam
demonstrasi teori-teori, (iii) defenisi-defenisi, yang tidak
mengasumsikan apakah yang didefenisikan itu ada, dan (iv) hipotesis
keberadaan ini dalam matematika murni tidak diperlukan.

3) Filsafat Matematika Leibniz


Dalam bukunya Monandology, yang ditulis dua tahun sebelum
kematiannya, ia memberikan synopsis filsafatnya sebagai berikut:
Terdapatlah, juga dua macam kebenaran, yaitu kebenaran penalaran
dan kebenaran kenyataan (fakta). Kebenaran penalaran adalh perlu dan
lawanya adalah tidak mungkin. Apabila suatu kebenaran perlu,
alasannya dapat dicari dengan melalui analisis, menguraikannya
kedalam ide-ide kebenaran yang lebih sederhana, sampai Anda tiba
disini tempat yang Anda . . . Dengan demikian, kebenaran penalaran,
mendasarkan pada prinsip kontradiksi, yang diambilnya untuk
mengcover prinsip identitas dan prinsip tolak-tengah.
Konsepsi Leibniz tentang bidang studi matematika murni sangat
berbeda dengan pandanga Plato da Aristoteles. Bagi Palto, Proposisi
matematis adala serupa proposisi logis dan bahwa proposisi ini bukan
objek tertentu yang permanen atau idealisasi hasil abstraksi objek-objek
atau sebarang jenis objek. Proposisi-proposisi itu benar karena
penolkannya menjadi tak mengkin secara logis. Anda boleh mengatakan
bahwa proposisi-proposisi adalah perlu benar untuk semua objek, semua

13
kejadian yang mungkin, atau menggunakanphrase Leibniz, dalam
semua dunia yang mungkin.

4) Beberapa Pandangan Kant


Kant membagi preposisi kedalam 3 kelas. Pertama proposisi
analisis,seperti Leibniz (yakni preposisi yang negasinya kontradiksi).
Proposisi non-analisis disebutnya proposisisintesis. Kant
membedakannnya menjadi dua kelas, yakni: yang empiris atau
apostteori, dan non-empiris atau apriori.
Preposisi apostteori bergantung pada indera. Dalam sebarang
proposisi apriori, jika benar, harus melukiskan presepsi indera yang
mungkin (bolpoin saya hitam), atau secara logis berimplikasi
pendiskripsian presepsi indera (semua burung gagak adalah hitam).
Sebaliknya proposisi sintesis aprioritidak tergantung pada presepsi
indrawi. Proposisi-proposisi demikian perlu dalam arti bahwa sebarang
proposisi didunia fisis, meraka ini juga harus benar. Dengan akata lain,
proposisi sintesis apriori adalah syarat perlu bagi kemungkinan
pengalaman objektif.
Jadi, kant membagi propsosisi sintesis apriori kedalam dua
kelas: intuitif dan diskursif.intuitif terutama berkaitan dengan
struktur presepsi dan justifikasi perceptual. Diskursif dengan
penggurutan fungsi pengertian umum. Contoh dari diskursif, proposisi
sintetik apriori adalah prinsip sebab-akibat. Semua proposisi
matematika murni adalah masuk kedalam proposisi sintetis apriori.
Kant tidak setuju dengan pandangan matematika murni yang
menjadikan persoalan defenisi dn entitas terpostulatkan berada
dibawahnya. Baginya matematika murni bukanlah analisis, ia sintesis
apriori, sebab ia terkait (mendeskripsikan) ruang dan waktu. Jawaban
Kant terhadap sifat matematika murni dan terapan dapat secara kasar
dirumuskan sebagai berikut. Proposisi dalam aritmetika dan
geometrimurni adalah proposisi yang perlu, meskipun proposisi-

14
proposisi itu sintesis apriori, bukan analisis. Sintesis, sebab proposisi-
proposisi itu tentang struktur ruang dan waktu terlihat oleh apa yang
dapat dikonstruksi didalamnya. Dan apriori sebab ruang dan waktu
adalah kondisi invariant (tak berubah) dari sebarang presepsi objek fisik.
Proposisi-proposisi dalam matematika terapan, adalah apostteori
sepanjang proposisi-proposisi itu tentang presepsi materi empiris dan
apriori sepanjang proposisi-prosisi itu mengenai ruang dan waktu.
Matematika murni memiliki isi untuk dirinya sendiri struktur ruang dan
waktu dan bebas dari materi empiris. Matematika terapan memiliki isi
untuk dirinya sendiri struktur ruang dan waktu dengan materi yang
mengisinya.

Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716)

Leibniz adalah seorang matematikawan termasyhur, namun ia juga seorang


sarjana segala ilmu. Ia bekonstribusi pada hokum, agama, politik, sejarah,
filsafat, dan sains, sebaik seperti dalam matematika.

Salah satu minat terbesar dari Leibniz adalah perkembangan matematika


yang akan mampu menjawab semua pertanyaan dalam semua bidang. Ini
membawanya kedalam diskusi tentang logika yang sekarang telah menjadi basis
logika simbolik modern.

Leibniz menemukan kalkulus kira-kira bersamaan waktu dengan Newton


dan telah menjadi kontroversi siapakah yang lebih dulu menemukan. Leibniz juga
menemukan mesin hitung yang mampu menjumlah, mengurang, mengali,
membagi, dan menarik akar.

15
KEGIATAN BELAJAR 3

FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA

A. FILSAFAT PENDIDIKAN

Dalam arti yang luas dapat dikatakan bahwa filsafat pendidikan adalah
pemikiran-pemikiran filsafat tentang pendidikan. Ada beberapa yang berpendapat
bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat tentang proses pendidikan, dan pada sisi
yang lain ada yang berpendapat bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat tentang
disiplin ilmu pendidikan. Filsafat tentang proses pendidikanbersangkut paut dengan
cita-cita,bentuk, metode dan hasil dari proses pendidikan. Sedangkan filsafat
tentang displin ilmu pendidikan bersifat mendisiplin, dalam arti bersangkut paut
dalam ide-ide, konsep-konsep dan metode-metode ilmu pendidikan.

Ada beberapa aliran filsafat yang begitu mempengaruhi filsafat pendidikan.


Beberapa diantaranya diuraikan dibawah ini.

Filsafat Analitik. Filsafat pendidikan analitik tidak mengetengahkan dan


tidak membahas proposisi-proposisi substantive ataupun persoalan-persoalan
faktual dan normatife tentang pendidikan. Filsafat ini menganalisis dan
menguraikan istilah-istilah dan konsep-konsep pendidikan sperti pengajaran
(teaching), kemampuan (obility), pendidikan (education), dan sebagainya. Alat-alat
yang digunakan oleh filsafat pendidikan analitik untuk melaksanakan tugasnya
adalah logika dan linguistik serta teknik-teknik analisis yang berbeda-beda dari
filsuf yang satu dengan filsuf yang lain.

Progressivisme. Filsafat ini berpendapat ini berpendapat bahwa pendidikan


bukanlah sekedar mentransfer pengetahuan kepada anak-anak, melainkan melatih
kemampuan dan keterampilan berfikir dengan cara member rangsangan yang tepat.
John Dewey (tokoh pragmatimisme), termaksud dalam golongan progressivisme.
Ia mengatakan bahwa sekolah adalah institusi social. Selanjutnya, pendidikan
adalah proses kehidupan, bukan mempersiapkan anak untuk masa depan.

16
Pendidikan adalah proses kehidupan itu sendiri, maka kebutuhan individual anak-
anak harus diutamakan, bukan berorientasi mata pelajaran (subjeck matter
oriented).

Eksistensialisme. Filsafat ini menyatakan bahwa yang menjadi tujuan


utama pendidikan bukan agar anak didik dibantu bagaimana mengulangi masalah-
masalah eksistensial mereka, melainkan agar dapat mengalami secara penuh
eksistensi mereka. Para pendidik eksistensialis akan mengukur hasil pendidikan
bukan semata-mata pada apa yang telah dipelajari dan diketahui oleh si anak didik,
akan tetapi yang lebih penting adalah apa yang mampu mereka ketahui dan alami.
Para pendidik eksistensialis menolak pendidikan dengan sistemindoktrinasi.

Rokonstruksionisme. Filsafat ini berpendapat bahwa pendidikan


merupakan reformasi sosial yang menghendaki renaissance sivilisasi modern.
Para pendidik rekonstruksialis melihat bahwa pendidikan dan reformasi social itu
sesungguhnya adalah sama. Merka memandangkurikulum sebagai problem-
centered. Pendidikanpun harus berani menjawab peranyaan George S. Cout:
Beranikah sekolah-sekolah membangun suatu orde sosial baru?

B. FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA

Menurut Wein (1973), pendidikan matematika adalah suatu studi aspek-


aspek tentang sifat-sifat dasar dan sejarah matematika beserta psikologi belajar dan
mengajarnya yang akan berkonstribusi terhadap pemahan guru dalam tugasnya
bersama siswa, bersama-sama studi dan analisis kurikulum sekolah, prinsip-prinsip
yang mendasi pengembangan dan praktik penggunaanya dikelas.

Dengan demikian, filsafat pendidikan matematika mempersoalkan


masalah-masalah sebagai berikut:

a) Sifat dasar matematika


b) Sejarah matematika
c) Psikologi belajar matematika
d) Teori mengjar matematika

17
e) Psikologi anak dalam kaitannya dengan belajar matematika
f) Pengembangan kurikulum matematika sekolah
g) Pelaksanaan kurikulum matematika dikelas.

Pada tahun 1983, Resnick menerbitkan catatan tentang pengertian baru


belajar matematika. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang belajar itu
membentuk pengertian. Bettencount (1989) menuliskan bahwa orang belajar itu
tidak hanya meniru atau merefleksikan apa yang diajarkan atau yang ia baca,
melainkan menciptakan pengertian. Dalam penelitiannya tentang miskonsepsi,
Fisher dan Lipson (1986), mendapati bahwa dalam belajar matematika
Pengetahuan dan pengertian yang mencakup suatu proses aktiv dan konstruktif.

Konstruktivisme mempengaruhi banyak studi tentang salah pengertian


(misconceptions) dan pengertian alternative dalam belajar matematika. Di
Universitas Cornell, pada Konverensi Internasional terntang Miskonsepsi I (1983)
disajikan 69 makalah. Pada Koverensi II (1987) membengkak menjadi 160 makalah
dan Konverensi III (1993) lebih membengkak lagi menjadi 250 makalh. Ini
menunjukkan bahwa Konstruktivisme sedang naik daun.

C.FILSAFAT KONTRUKTIVISME

Ringkasnya, gagasan konstruktivisme tentang pengetahuan adalah sebagai


berikut (von Glaserfeld dan Kitchener, 1987).

1. Pengetahuan bukanlah gambaran kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan


konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
2. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu
untuk pengetahuan.
3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi
membentuk pengetahuan apabila konsepsi berlaku dalam berhadapan dengan
pengalaman-pengalaman seseorang dan disebut kosep itu jalan.

Dalam proses konstruksi, menurut Glaserfeld, diperlukan berbagai


kemampuan:

18
1) Kemampuan mengingat dan menangkap kembali pengalaman
2) Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai kesamaan
dan perbedaan
3) Kemampuan untuk lebih menyenangi pengalaman yang satu daripada
pengalaman yang lain.

D. IMPLIKASI KONSTRUKTIVISME DALAM PROSES BELAJAR

Cirri belajar adalah sebagai berikut:

1) Belajar berate membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa
yang dilihat, dirasakan dan dialami. Konstruksi makna dipengaruhi oleh
pengertian yang sudah dimilikinya.
2) Konstruksi makna itu adalah proses yang terus menerus. Setiap kali
berhadapan denga fenomena baru diadakanlah konstruksi.
3) Belajar bukanlah hasil pengembangan, melainkan pengembangan itu
sendiri, pengembangan menurut penemuan dan pengaturan kembali pikiran
siswa.
4) Proses belajar sesungguhnya terjadi pada proses skema seseorang dalam
keraguan,yang merangsang pikiran lebih lanjut.
5) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman siswa dalam dunia fisik dan
alam sekitarnya.
6) Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh apa yang telah diketahui siswa: konsep,
tujuan dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang
dipelajari.

E.PERAN SISWA

Menurut konstruktivisme, kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif.


Siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari makna sendiri dari apa
yang dipelajari. Proses mencari ini adalah proses menyesuaikan konsep dan ide-ide
baru dengan kerangkaberfikir yang telah ada dalam pikiran siswa. Siswa sndirilah,
yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. (Shymanski,1992).

19
F.MAKNA MENGAJAR

Mengajar berarti berpartisipasi dengan siswa dalam bentuk pengetahuan,


membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettencount, 1989).

Berfikir lebih penting daripada mempunyai jawaban yang baik terhadap


suatu persoalan yang sedang dipelajari. Mengajar dalam konteks ini, adalah
membantu siswa yang berfikir secara benar dengan membiarkannya berfikir
sendiri.

G. FUNGSI DAN PERAN GURU

Peran guru adalah sebagai mediator dan fasilitator yang membantu siswa
agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Penjabaran guru sebagai mediator
dan fasilitator adalah sebagai berikut:

1. Menyediakan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswa bertanggung jawab


dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian (bukan ceramah).

2. Menyediakan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan


membantu siswa mengungkapkan ide ilmiahnya. Menyediakan sarana yang
mendukung berfikir produktif. Menyediakan sarana yang mendukung proses
belajar.

3. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pikiran siswa jalan atau


tidak. Guru mempertanyakan apakah pengetahuan siswa berlaku untuk
menghadapi persoalan baru yang terkait. Guru membantu mengevaluasi
kesimpulan siswa.

20
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Metode yang digunakan adalah eksperimen atau penalaran induktif dan


penalaran deduktif. penalaran induktif adalah penarikan kesimpulan setelah melihat
kasus-kasus yang khusus dan penalaran deduktif adalah pnarikan kesimpulan dari
hal-hal yang umum kehal yang khusus.

Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat sesuatu. Sifat


dasar filsafat adalah: berfikir radikal, mencari asas, memburu kebenaran, mencari
kejelasan dan berfikir rasional.

Filsafat pendidikan adalah pemikiran-pemikiran filsafat tentang pendidikan.


Aliran-aliran yang berpengaruh dalam filsafat pendidikan antara lain: filsafat
analitik, progesivisme, eksistensialisme, rekonstruksionisme dan konstruktivisme.

B. SARAN

1. Untuk para mahasiswa agar dapat lebih memperdalam tentang ilmumatematika


khususnya untuk pembelajaran di sekolah.

2. Untuk mahasiswa agar lebih mengembangkan teori ilmu matematika


yangdidapat dan dikorelasikan dengan proses pembelajaran di sekolah.

21
DAFTAR PUSTAKA

Bell, E. T. (1996). The Development of Mathemathics. New York: Mc. Millan.

Boyer, C. B. (1967). A Concise History of Mathemathics. New York: Willey &


Son.

Eka Darmaputra. (1996). Etika Sederhana Untuk Semua. Jakarta: Gunung Mulva.

Hampel, C. G. (1966). University of New Mexico: Philosophical Series.

Johnson, D. A. (1970). Invitation to Mathemathics. London: John Murray.

Kattasoft, L. O. (1986). Pengantar Filsafat. Alih bahasa: Suyono Sumargono.


Yogyakarta: Tiara Wacara

Korne, Stephan. (1986). The Phylosophy of Mathematics. New York: Dover.

Newsom, C. W. (1966). Mathematical Monthly. Vol. 52. Pp 543-556.

Pujawijatna, I. I. (1963). Pembimbing ke Filsafat. Jakarta: Pembangunan.

Pujawijatna, I. I. (1982). Etika, Filsafat Tingkah Laku. Jakarta: Bina Aksara.

Rapar, J. H. (1996). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Schaaf, W. L. (1963). The Arithmatics Teacher. Vol.8.Pp 5-9.

Suparma. (1966). Ilmu, Teknologi dan Etika. Jakarta: Gunung Mulya.

Struik, D. J. (1967). A Concise History of Mathematics. New York: Dover.

Suseno, Franz Magnis. (1995). Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta:


Kanisius.

22
GLOSARIUM

Abstraksi : Sebuah proses yang ditempuh pikiran untuk sampai pada konsep yang
bersifat universal, proses ini berangkat dari pengetahuan mengenai
obyek individual yang bersifat ruang dan waktu.

Adjektiva : Kelas kata yang mengubah kata benda atau kata ganti, biasanya dengan
menjelaskannya atau membuatnya menjadi lebih spesifik.

Aksiologi : Kajian tentang nilai, khususnya etika.

Analitika : Metode atau ilmu untuk melakukan analisis logis.

Antropologi : Ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna


bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau.

Apostteori : Berpraanggapan setelah mengetahui (melihat, menyelidiki, dsb)


keadaan yang sebenarnya

Apriori : Berpraanggapan sebelum mengetahui (melihat, menyelidiki, dsb)


keadaan yang sebenarnya.

Berpikir radikal : Berpikir sampai keakar-akarnya, sampai pada hakekat atau


esensi yang dipikirkan

Biopsikologi : Pendekatan psikologi dari aspek biologi.

Dialektika : Berbahasa dan bernalar dengan dialog sebagai cara untuk menyelidiki
suatu masalah.

Diskursif : Berkaitan dng nalar.

Dualisme : Paham bahwa dalam kehidupan ini ada dua prinsip yg saling
bertentangan (seperti ada kebaikan ada pula kejahatan, ada terang ada
gelap).

23
Eksistensialisme : Aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu
yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa
memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang
tidak benar.

Empiris : Berdasarkan pengalaman (terutama yg diperoleh dr penemuan,


percobaan, pengamatan yg telah dilakukan).

Entitas : Satuan yg berwujud.

Epistemologi : Cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis
pengetahuan.

Estetika : Cabang filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan
keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya.

Fasilitator : Seseorang yang membantu sekelompok orang memahami tujuan


bersama mereka dan membantu mereka membuat rencana guna
mencapai tujuan tersebut tanpa mengambil posisi tertentu dalam
diskusi.

Filsafat Bahasa : Ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat.

Filsafat ilmu : Bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai
hakikat ilmu.

Filsafat matematika : Cabang dari filsafat yang mengkaji anggapan-anggapan


filsafat, dasar-dasar, dan dampak-dampak matematika.

Filsafat Praktis : Filsafat yang sifatnya berkaitan erat dengan kebahagiaan, sikap,
tatanan kehidupan dan pondasi sosial.

Filsafat Produktif : Pengetahuan yang membimbing dan menuntun manusia


menjadi produktif lewat suatu keterampilan khusus.

24
Filsafat Teoritis : Filsafat yang cara pandangnya terhadap segala sesuatu yang
berhubungan dengan dunia materi atau sesuatu yang tampak
nyata.

Fisis : Berhubungan dengan badan atau jasmani; ragawi.

Idealisme : Aliran ilmu filsafat yg menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-
satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami.

Indoktrinasi : Sebuah proses yang dilakukan berdasarkan satu system nilai untuk
menanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan
kepercayaan tertentu.

Intuitif : Bersifat (secara) intuisi, berdasar bisikan (gerak) hati.

Institusi Sosial : Suatu jenis lembaga yang mengatur rangkaian tata cara dan
prosedur dalam melakukan hubungan antar manusia saat mereka
menjalani kehidupan bermasyarakat dengan tujuan mendapatkan
keteraturan.

Justifikasi : Putusan (alasan, pertimbangan) berdasarkan hati nurani

Koherensi : Tersusunnya uraian atau pandangan sehingga bagian-bagiannya


berkaitan satu dengan yg lain.

Kontroversi : Keadaan pertikaian atau perdebatan awam berpanjangan, biasanya


mengenai perkara pendapat atau sedut pandangan berkonflik.

Konstruktif : Bersifat membina, memperbaiki, membangun.

Kontruktivisme : Pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta


sesuatu makna dari apa yang dipelajari.

Konveks : Cembung.

25
Korespondensi : Hubungan antara bentuk dan isi.

Kosmologi : Ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala
besar.

Linguistik : Ilmu bahasa, bergantun pada sudut pandang dan pendekatan seorang
peneliti.

Matematika murni : Matematika yang sepenuhnya termotivasi lebih pada sebab


dan akibat, alasan, berbandingkan sebagai sebuah aplikasi.

Matematika terapan : Ilmu yang diperlukan untuk manghitung segala sesuatu


yang memerlukan rumus.

Materialisme : Pandangan hidup yg mencari dasar segala sesuatu yg termasuk


kehidupan manusia di dl alam kebendaan semata-mata dengan
mengesampingkan segala sesuatu yg mengatasi alam indra.

Mediator : Pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna
mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa
menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.

Metafisika : Cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek
(fisik) di dunia.

Ontologi : Salah satu cabang ilmu filsafat yg berhubungan dng hakikat hidup dan
berasal dari Yunani.

Pluralisme : Keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan


politiknya);
berbagai kebudayaan yg berbeda-beda dlm suatu masyarakat.

26
Pragmatis : Bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi
kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau
bersangkutan dng nilai-nilai praktis.

Pragmatisme : Aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala
sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan
melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara
praktis.

Problematic : Masih menimbulkan masalah; 2 n hal yg masih belum dapat


dipecahkan; permasalahan.

Proposisi : Ungkapan yg dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan


benar-tidaknya.

Rasio : pemikiran menurut akal sehat; akal budi; nalar.

Reduksi : pengurangan, pemotongan (harga dsb).

Sahih : Sah; benar; sempurna; tiada cela (dusta, palsu); sesuai dengan hukum
(peraturan): kesaksiannya kurang -- krn tidak dikuatkan oleh sumpah.

Semantik : Ilmu tentang makna kata dan kalimat; pengetahuan mengenai seluk-
beluk dan pergeseran arti kata.

Sisilia : Sebuah daerah otonomi Italia dan pulau terbesar di Laut Tengah, dengan
wilayah seluas 25.703 km dan penduduk 4.968.991 jiwa.

Substantif : Berkaitan dengan sesuatu yang detail, rinci, mendalam dan bisa juga
diartikan sebagai bagian yang paling pokok/inti dari sebuah hal.

Validitas : Sifat benar menurut bahan bukti yg ada, logika berpikir, atau kekuatan
hukum; sifat valid; kesahihan: menentukan -- suatu tes dng tepat
memang sukar.

27
28