Anda di halaman 1dari 7

3.5.

1 Bentanglahan Asal Proses Struktural Lipatan


A. Genesis
Zona utara Jawa Tengah didominasi oleh proses struktural lipatan. Zona utara terdiri
dari rangkaian gunung lipatan berupa bukit-bukit rendah atau pegunungan dan diselingi oleh
beberapa gunung-gunung api, umumnya berbatasan dengan dataran aluvial. Lipatan yang
lebih tua terjadi sejak dari periode miosen atas. Lipatan ini nampak lebih jelas dari zona tengah
tetapi juga dapat dilihat di zona utara dari Jawa tengah. Di lain tempat pengendapan bahkan
mungkin berlangsung selama periode miosen tengah.
Bentuklahan asal proses struktural ini terbentuk karena adanya tenaga endogen yang
mendorong lempeng samudra menunjam lempeng benua. Bentuklahan struktural terbentuk
karena adanya proses endogen atau proses tektonik, yang berupa pengangkatan, pelipatan, dan
pensesaran. Gaya (tektonik) ini bersifat konstruktif (membangun), dan pada awalnya hampir
semua bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh kontrol struktural. Lipatan terjadi apabila
tenaga endogen tersebut lebih kecil dari besarnya daya tahan material tersebut.
Pada awalnya struktural antiklin akan memberikan kenampakan cekung, dan struktural
horizontal nampak datar. Umumnya, suatu bentuk lahan struktural masih dapat dikenali, jika
penyebaran struktural geologinya dapat dicerminkan dari penyebaran reliefnya. Daerah
Purwodadi menurut Bammelen (1949) termasuk ke dalam zona Randublatung. Kenampakan
fisiografi adalah zona depresi yang memisahkan antara zona Kendeng bagian selatan dan zona
Rembang bagian utara. Daerah Purwodadi juga termasuk endapan alluvial. Zona Randublatung
merupakan sinklinorium yang memanjang mulai dari Semarang disebelah barat sampai
Wonokromo disebelah timur. Zona ini berbatasan dengan zona Kendeng di bagian selatan dan
zona Rembang dibagian utara.

B. Lokasi Pengamatan
B.1 Jebakan airtanah asin di Dusun Jono Sinklinorium Randublatung Kabupaten
Grobogan
Desa Jono ini terletak di Kecamatan Tawangharjo,Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa
Tengah dengan koordinat 1100 58 941 BT dan 70 05 202 LS. Bentuk lahan pada desa ini
adalah bentuk lahan structural yang dihasilkan oleh proses perlipatan dengan batuan berjenis
sandstone. Morfologi berupa perlipatan dan pada dua . Desa Jono lokasinya tidak berbatasan
atau berdekatan langsung dengan pantai, namun di desa ini terdapat akitivitas penambangan
garam. Fenomena ini terjadi karena adanya proses diapirism garam dan gas akibat tertekan
Formasi Kalibeng, sehingga terjadinya penyusupan garam (lumpur) dan gas yang berada pada
sumur-sumur sebagian penduduk. Kegiatan penambangan garam ini bukan mata pencarian
utama penduduk di dasa ini, namun hanya sebagai mata pencarian sampingan. Desa Jono
berada di pinggir Jalan Raya Blora. Jono merupakan salah satu desa penghasil garam dan bleng.
Garam yang dihasilkan pada lembah Jono sebenarnya memiliki kadar Iodium yang lebih tinggi
daripada garam laut yang dihasilkan di pantai. Garam diolah dengan cara yang sangat
sederhana yaitu dengan hanya dijemur diatas terik matahari dengan menggunakan media
bambu sebagai wadahnya. Bambu-bambu tersebut didapatkan gratis untuk jumlah yang sedikit
dan banyak dengan cara membeli ke daearah lain. Pemanfaatan lahan sebagai lahan
persawahan dan pertanian garam. Mayoritas penduduk di Desa Jono adalah petani padi dan
petani garam dengan pendidikan yang tidak begitu tinggi. Dapat dikatakan bahwa petani di
Jono sangat tergantung pada kondisi musim. Ketika musim penghujan lahan pertanian akan
digunakan penduduk untuk ditanami tanaman semusim seperti padi dan palawija, sedangkan
ketika musim kemarau maka lahan pertanian tersebut akan ditinggalkan tanpa ditanami suatu
tanaman (bero).
Penduduk desa Jono cukup padat namun dengan arus migrasi keluar yang banyak pula
dikarenakan aktivitas terkonsentrasi pada pertanian, namun karena produktivitas sebagian
pertanian rendah, sebagian masyarakat di desa ini beralih menjadi pedagang atau bermigrasi
ke kota.Permukiman yang ada berpola linear sepanjang jalan dengan rata-rata bangunan
berbahan dasar kayu dan beraneka jenis ada yang modern dan ada yang tradisional. Relasi
ekonomi yang terjalin antar kota-kota besar dengan pendistribusian garam bleng sera batang
jagung untuk diolah menjadi kertas di pabrik kertas. Kawasan ini termasuk kawasan budidaya.
Asal mula atau genesis dari intrusi air laut di desa Jono adalah semula lembah Jono
adalah perairan laut, terletak di antara pegunungan Kendeng dan pegunungan Rembang.
Karena adanya proses sedimentasi dari Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Rembang,
maka lama kelamaan menjadi dangkal dan terbentuk rawa (ditumbuhi tumbuhan rawa). Proses
sedimentasi terus berlanjut sehingga daerah tersebut menjadi kering dan tumbuhan rawa mati.
Sisa-sisa tumbuhan rawa yang mati diendapkan oleh sedimen kemudian membentuk gas
metana. Selain itu sisa-sisa tumbuhan yang bercampur air laut dan tertutup oleh material
sedimen kemudian menjadi lumpur. Maka tidaklah mengherankan apabila pada daerah Jono
dapat ditemukan jebakan-jebakan air payau, lumpur, serta semburan gas metana di beberapa
lokasi. Gas metana ini sangat berbahaya karena mudah terbakar, sehingga biasanya pada
lubang di mana gas tersebut keluar pasti akan dibakar supaya gas tersebut tidak membahayakan
wargasetempat.
Karaketristik tanah pada daerah lembah Jono umumnya adalah tanah grumusol atau
tanah vertisol serta tanah alluvium, di mana tanah ini sebenarnya subur apabila terdapat sumber
air yang cukup pula. Namun tanah tersebut materialnya dominan lempung, sehingga
keberadaan air permukaan di daerah ini sangat jarang, terutama pada musim kemarau. Tanah
alluvium meiliki sifat permeabilitas tinggi. Air tanah disini dangkal .Namun simpanan air tanah
tetap ada walaupun rasanya asin dengan DHI yang cukup tinggi. Sebelum air tanah
tersebut dapat dikonsumsi sebagai air bersih, penduduk di Jono biasanya harus memisahkan
garam dari air tanah sebelum air tanah tersebut . Kegiatan ini biasanya dilakukan warga
setempat ketika musim kering. Lain halnya dengan musim kering, pada musim penghujan
daerah ini cenderung sering dilanda banjir dikarenakan oleh material lempung. Air pemukaan
yang ada berupa sungai Lusi yag memiliki debit yang tetap. Jenis hewan yang ada berupa
hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, ayam. Sedangkan tumbuhan berupa semak yaitu
rerumputan , pohon pisang.
Fenomena dan masalah yang terjadi di Desa Jono antara lain yaitu masalah lingkungan
fisik dan sosial. Fenomena lingkungan fisik yang dialami yaitu potensi pertambangan garam,
namun hanya dapat dilakukan pada saat musim kemarau. Masalah lingkungan sosial yang
dialami di desa ini yaitu aktivitas penduduk yang terkonsentrasi pada pertanian, namun
produktivitasnya msih rendah. Masalah fisik lainnya yang terjadi adalah air tanah yang asin
menyebabkan masyarakat tidak bisa menggunakan air tanah sebagai konsumsi sehari hari.
Jalan-jalan yang ada mudah hancur karena sifat tanah yang lempung. Masalah social yang
terjadi adalah pendapatan ekonomi masyarakat yang rendah. Dengan spesifikasi penjualan
garam seharga Rp 6000 untuk garam kering dan Rp 3000 untuk garam basah. Ada banyak
migrasi keluar yang dilakukan oleh penduduk muda sehingga usaha berkelanjutan garam bleng
tidak bisa diketahui dapat diteruskan apa tidak.
Penjemuran airtanah asin untuk pembuatan garam
(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Jebakan airtanah asin yang ada di Desa Jono


(Sumber : Kompasiana.com)

B.2 Bledug Kuwu Sinklinorium Randublatung Kabupaten Grobogan


Bledug Kuwu yang terletak pada posisi koordinat 70 0748; LS dan 1100 07295 BT
adalah sebuah kawah lumpur (mud volcano) yang terletak di Desa Kuwu,
Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa Tengah. Bleduk Kuwu merupakan
salah satu gunung lumpur yang sangat istimewa. Hal tersebut karena selain gunung lumpur ini
sudah aktif sejak lama, Bleduk Kuwu juga merupakan objek wisata andalan di daerah
Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah selain wisata sumber api abadi Mrapen, dan Waduk
Kedungombo. Hal istimewa lainnya adalah lokasi Bleduk Kuwu yang strategis dan mudah
untuk dijangkau, hal itu karena Bleduk Kuwu berada dipinggir jalan. Bledug Kuwu dapat
ditempuh kurang lebih 28 km ke arah timur dari kota Purwodadi.
Mud Flow
(Sumber : coal-seam-gas.com)
Menurut Sugianto (2015) definisi dari gunung lumpur adalah fenomena intrusi dan
ekstrusi material lempung yang berasal dari dalam Bumi. Material tersebut terdorong ke atas
melewati celah yang disebabkan karena rekahan atau patahan. Celah tersebut kemudian
menjadi jalur aliran lumpur vulkanik yang menimbulkan susunan litologi berupa sedimen
material lempung di permukaan. Kenampakan yang ada di Bledug Kuwu merupakan sejenis
atau serupa yang terjadi dengan di Lapindo karena formasi batuan yang ada dikedua daerah
tersebut adalah sama. Yang membedakan adalah hanya tekanan yang ada di dalamnya.
Fenomena yang menarik dari bledug kuwu ini adalah letupan-letupan lumpur yang
mengandung garam dan berlangsung terus-menerus secara berkala, antara dua hingga tiga
menit. Fenomena letupan lumpur tersebut diakibatkan oleh karena adanya proses diapirism
garam dan gas yang menembus tanah lempung atau retakan tanah lempung.
Letupan lumpur dan gas dari Bledug Kuwu
(Sumber : Dokumentasi Penulis)
Kawah lumpur Kuwu adalah aktivitas pelepasan gas dari dalam teras bumi. Gas ini
umumnya adalah metana. Letupan-letupan lumpur yang terjadi biasanya membawa pula
larutan kaya mineral dari bagian bawah lumpur ke atas. Lumpur dari kawah ini airnya
mengandung garam, oleh masyarakat setempat dimanfaatkan untuk dipakai sebagai bahan
pembuat garam bleng secara tradisional. Cara yang dilakukan masyarakat untuk dmanfaatkan
menjadi garam adalah dengan menampung air dari bledug itu ke
dalam glagah (batang bambu yang dibelah menjadi dua), lalu dikeringkan dibawah sinar
matahari. Pembuatan garam bleng ini hampir sama yang dilakukan oleh masyarakat Desa Jono.
Namun yang membedakan hanyalah bahan yang diperoleh untuk pembuatan garam tersebut.
Lokasi pengamatan di sekitar Bledug kuwu merupakan daerah perdesaaan. Mata
pencarian masyarakat umumnya pedagang dan pengelola wisata Bledug Kuwu. Selain itu,
terdapat pula masyarakat yang keluar kota yang bekerja dalam sector industry. Pemanfaatan
lahan yang ada antara lain sebagai pariwisata dan perdagangan. Kawasan sekitar Bledug Kuwu
merupakan kawasan budidaya.
Fenomena dan masalah yang terjadi di Bledug Kuwu antara lain yaitu masalah
lingkungan fisik dan sosial. Masalah lingkungan fisik yang dialami yaitu pembangunan
infrastruktur yang kurang memperhatikan kondisi lingkungan, yaitu keadaan fisik tanah. Tanah
yang berada di daerah ini yaitu tanah aluvium berupa lumpur. Pada saat hujan di sekitar daerah
Bledug Kuwu jalan kurang memadai untuk dilalui, karena tanah lumpur yang lunak dan keras
sulit dibedakan sehingga akan berbahaya bila orang salah menginjak, dimana kaki akan sulit
untuk dikeluarkan jika sudah terjebak di lumpur pada kedalaman tertentu. Airtanah di daerah
Bledug Kuwu sangat sulit diperoleh atau dapat dikatakan langka serta tanah pertanian yang
kurang subur.
Masalah lingkungan sosial yang dialami di kawasan ini yaitu belum adanya keterkaitan
wisata dengan obyek wisata lainnya. Bledug Kuwu yang dijadikan sebagai obyek wisata guna
menunjang perekonomian masyarakat seharusnya dikaitkan dengan obyek wisata lain. waktu
menuju lokasi ini cukup panjang dan melalui kondisi jalan yang kurang memadai, sehingga
memicu kurang berkembangnya Bledug Kuwu sebagai obyek wisata. Namun dengan adanya
keterkaitan dengan obyek wisata lain akan menjadi pendorong berkembangnya obyek wisata
ini.

Dafpus :
Sugianto, N.(2014). Analisis Polarisasi Gelombang Seismik Erupsi Bledug Kuwu
Menggunakan Seismometer 3 Komponen. Thesis. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Universitas Gadjah Mada.
Bammelen, R. W. V. (1949). The Geology of Indonesia Vol. 1A. The Huge :
Government Printing Office