Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU TERNAK UNGGAS


TINGKAH LAKU AYAM

Disusun oleh :
Aria Wiria Atmaja
16/395798/PT/07188
Kelompok I

Asisten : Janoko Rio Ganara

LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS


DEPARTEMEN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
PENDAHULUAN

Hewan liar yang telah didomestikasi masih memperlihatkan adanya


perbedaan dalam tingkah lakunya. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan
hidup yang berbeda, walaupun tetap ada naluri (instinct) yang identik
untuk hidup bersama (Suryana dan Yasin, 2013). Dwi (2004) menyatakan
bahwa ternak bertingkah laku dalam usahanya untuk beradaptasi dengan
lingkungan, dimana faktor genetik dan lingkungan terlibat didalamnya.
Lingkungan sekitar, mendorong ternak bertingkah laku untuk
menyesuaikan diri dan bahkan terjadi pula penyesuaian hereditas.
Pola tingkah laku atau behavior pada unggas adalah perilaku yang
terorganisir dengan fungsi tertentu berupa aksi tunggal atau aksi
berurutan yang terintegrasi dan biasanya muncul sebagai respon terhadap
stimulus dari lingkungannya. Ayam melakukan behaviour atau pola
tingkah laku adalah untuk menyesuaikan diri karena adanya dorongan dari
lingkungan sekitar. Jenis atau spesies ayam mempengaruhi reaksi dalam
beradaptasi dengan lingkungannya (Sulistyoningsih et al., 2013). Appleby
et al (2004) menyatakan bahwa yang termasuk tingkah laku ayam ialah
feeding, walking, perching, standing, foraging dan preening.
Tujuan dari praktikum tingkah laku ayam adalah untuk mengetahui
pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku ayam. Manfaat dari praktikum
tingkah laku ayam adalah untuk mengetahui bagaimana pengaturan
lingkungan yang tepat terhadap ayam.
MATERI DAN METODE
Materi
Alat. Alat yang digunakan saat praktikum sistem behavior ayam
adalah stopwatch (jam) dan alat pengukur suhu dan kelembapan.
Bahan. Bahan yang digunakan saat praktikum adalah tingkah laku
ayam yaitu ayam jantan dan ayam betina yang diamati tingkah laku ayam
jantan.

Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum sistem behavior unggas
adalah ayam yang berada didalam kandang diamati tingkah lakunya.
Tingkah laku ayam yang diamati meliputi walking, feading and drinking,
resting, foraging dan preening. Ayam yang diamati pada kandang litter
berjumlah 3 ekor dengan 2 ekor betina dan 1 ekor jantan. Ayam yang
diamati pada kandang wire berjumlah 3 ekor dengan 1 ekor betina dan 2
ekor jantan. Ayam yang diamati pada kandang litter dan wire adalah ayam
jantan. Pengamatan dilakukan pada pagi hari pukul 06.15-07.15 pada
kandang litter dan pukul 06.19-07.19 pada kandang wire, pengamatan
berlangsung selama satu jam. Waktu dan hasil pengamatan dicatat
dilembar kerja.
PEMBAHASAN
Tingkah laku ayam
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan saat praktikum
diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 1. Data persentase tingkah laku ayam

Tingkah laku ayam


Perlakuan Feeding Suhu Kelembaban
Walking and Resting Foraging Preening
Drinking
Litter 9,8% 1% 49,6% 27% 12,6% 26,3C 79%
Wire 11% 43,5% 9,4% 1,24% 34,8% 26,3C 77%
Pola tingkah laku atau behavior pada unggas adalah perilaku yang
terorganisir dengan fungsi tertentu berupa aksi tunggal atau aksi
berurutan yang terintegrasi dan biasanya muncul sebagai respon terhadap
stimulus dari lingkungannya. Pola tingkah laku dasar (Basic Behaviour
System) pada unggas terdiri dari 7 sampai 9 macam. Tingkah laku dasar
tersebut adalah; tingkah laku ingestif merupakan perilaku makan dan
minum, tingkah laku eliminative (mengeluarkan ekskreta), tingkah laku
seksual, tingkah laku sosial, tingkah laku care and giving, tingkah laku
agonistic (memepertahankan diri), tingkah laku allelomimetik (menirukan),
tingkah laku shelter seeking (mencari tempat berlindung), tingkah laku
investigative (keingintahuan mengeksplorasi lingkungan) (Sulistyoningsih
et al., 2013).
Ayam melakukan behaviour atau pola tingkah laku adalah untuk
menyesuaikan diri karena adanya dorongan dari lingkungan sekitar. Jenis
atau spesies ayam mempengaruhi reaksi dalam beradaptasi dengan
lingkungannya (Sulistyoningsih et al., 2013). Appleby et al (2004)
menyatakan bahwa yang termasuk tingkah laku ayam ialah feeding,
walking, perching, standing, foraging dan preening.
Walking merupakan kemampuan ayam untuk berjalan (Mishra et
al., 2005). Ayam melakukan behaviour walking dengan tujuan untuk
meningkatkan suhu tubuhnya. Hasil yang diperoleh pada saat praktikum
presentase ayam melakukan walking adalah 9,8% pada kandang litter,
dan 11% pada kandang wire. Efendi (2010) menyatakan bahwa tingkah
laku walking yang dilakukan ayam pada kandang litter pada suhu
nyamannya yaitu kisaran 24,6 sampai 25,6 0C memiliki presentase
sebesar 2,36%. Utami et al. (2015) menyatakan bahwa ayam yang
dipelihara pada kandang wire menunjukkan persentase tingkah laku
walking sebesar 12,13%. Hasil yang diperoleh saat praktikum
dibandingkan dengan literatur, tingkah laku walking ayam pada kandang
litter berada di atas kisaran literatur, sedangkan pada kandang wire
berada di bawah kisaran literatur. Perbedaan presentase tingkah laku
walking pada ayam dapat dipengaruhi oleh suhu, kelembapan, stress, dan
berat badan.
Tandiabang (2014) menyatakan bahwa presentase perilaku
berjalan pada ayam akan tinggi apabila ayam merasa terganggu dengan
keberadaan manusia dan menjadi lebih waspada dengan lingkungannya.
Pola tingkah laku walking pada kandang litter lebih aktif dipagi hari dan
sore hari, sedangkan pada siang hari ayam lebih mengurangi aktifitas
berjalan. Utami et al. (2015) menyatakan bahwa ayam juga akan memiliki
kecenderungan untuk berjalan apabila suhu dan kelembapan
lingkungannya lebih rendah, sedangkan akan cenderung diam saat
temperatur dan kelembapan tinggi.
Feeding merupakan tingkah laku ayam saat makan. Ayam mencari
dedaunan dan merumput dengan mengais-ngais dan menyeleksi partikel
makanan yang terkecil (Tandiabang, 2014). Drinking merupakan proses
masuknya air ke dalam tubuh ternak. Dringking bertujuan untuk mejaga
keseimbangan cairan diadalam tubuh ternak. Perilaku minum pada ayam
biasanya dilakukan sambil menenggelamkan paruh kedalam tempat
minum, kemudian dalam selang beberapa detik ketika ayam meminum air
biasanya ayam tersebut mengangkat kepala sambil membuka paruhnya
(Mishra et al., 2005).
Ayam akan makan pada jam-jam dingin dan tidak makan selama
keadaan panas, karena kebutuhan energi yang lebih tinggi
(Sulistyoningsih et al., 2004). Tandiabang (2014) menyatakan bahwa
behaviour feeding and drinking berfungsi untuk memenuhi kebutuhan
energi dalam tubuh. Hasil yang diperoleh pada saat praktikum presentase
ayam melakukan feeding and drinking adalah 1% pada kandang litter, dan
43,5% pada kandang wire. Efendi (2010) menyatakan bahwa ayam broiler
yang dipelihara di kandang litter melakukan aktivitas feeding and drinking
sebesar 11,43%. Setyaningrum (2007) menyatakan bahwa feeding and
drinking yang dilakukan ayam pada kandang wire dengan temperatur 25,9
0C adalah 39,9%. Hasil yang diperoleh pada saat praktikum dibandingkan
dengan literatur, presentase ayam melakukan tingkah laku feeding and
drinking berada di bawah kisaran literatur sedangkan pada kandang wire
presentase feeding and drinking berada di atas kisaran literatur.
Perbedaan persentase tingkah laku feeding and drinking pada ayam dapat
dipengaruhi oleh waktu pengamatan, tipe kandang, kepadatan kandang,
suhu dan kelembapan kandang, serta stress pada ayam. Widiastuti et al.
(2005) menyatakan bahwa ada pengaruh sistem alas kandang terhadap
konsumsi ayam. Sulistyoningsih et al. (2004) menyatakan bahwa
konsumsi pada ayam juga dipengaruhi oleh temperatur, kepadatan, dan
kelembapan kandang.
Resting pada ayam biasa dilakukan dengan berdiri diam dan
tenang untuk sejenak. Resting pada ayam kadang juga dilakukan dengan
cara duduk. Tingkah laku ini biasa dilakukan ayam ketika dalam situasi
yang sepi, dan ayam biasanya beristrahat lebih dari 2 menit (Mishra et al.,
2005). Tandiabang (2014) menyatakan bahwa resting berfungsi untuk
menjaga suhu tubuhnya. Hasil yang diperoleh pada saat praktikum
presentase ayam melakukan resting adalah 49,6% pada kandang litter,
dan 9,4% pada kandang wire. Efendi (2010) menyatakan bahwa
persentase tingkah laku resting pada ayam yang dipelihara pada kandang
litter adalah sebesar 27,38%. Setyaningrum (2007) menyatakan bahwa
persentase tingkah laku resting yang dilakukan ayam pada kandang wire
dengan temperatur 25,9 0C adalah sebesar 1,26%. Hasil yang diperoleh
pada saat praktikum dibandingkan dengan literatur, presentase tingkah
laku resting ayam pada kandang litter dan wire berada di atas kisaran
literatur. Perbedaan presentase tingkah laku resting pada ayam dapat
dipengaruhi oleh waktu pengamatan, tipe kandang, suhu dan kelembapan
kandang, serta kondisi tubuh. Tandiabang (2014) menyatakan bahwa
resting pada kandang litter lebih tinggi dari pada kandang wire, hal ini
dilakukan ayam untuk mengurangi panas dalam tubuh dengan tidak
melakukan aktifitas dan untuk melonggarkan ruang gerak. Pada kandang
litter resting lebih tinggi, hal ini disebabkan karena ayam telah melakukan
aktifitas lain seperti merumput, makan, dan memilih untuk istirahat berdiri,
akan tetapi kepadatan kandang juga mampu mempengaruhi ruang gerak.
Foraging adalah tingkah laku ayam untuk mencari pakan di alam
terbuka, pada keadaan di dalam kandang perilaku ini dilakukan dengan
mengais-ngais lantai kandang, dan mematuk sisa pakan yang berserakan
di lantai kandang. Tandiabang (2014) menyatakan bahwa foraging pada
ayam bertujuan untuk mencari tambahan makanan untuk memenuhi
kebutuhan energinya. Hasil yang diperoleh pada saat praktikum
presentase ayam melakukan foraging adalah 27% pada kandang litter,
dan 1,24% pada kandang wire. Appleby et al. (2004) menyatakan bahwa
persentase tingkah laku foraging ayam pada kandang litter adalah kisaran
7% sampai 25%. Setyaningrum (2007) menyatakan bahwa persentase
tingkah laku foraging ayam pada kandang wire pada temperatur 25,9 0C
adalah sebesar 5,29%. Hasil yang diperoleh pada saat praktikum
dibandingkan dengan literatur, persentase tingkah laku foraging ayam
pada kandang litter berada di atas kisaran literatur, sedangkan persentase
foraging ayam pada kandang wire berada di bawah kisaran literatur.
Perbedaan persentase tingkah laku foraging pada ayam dapat
dipengaruhi oleh tipe kandang, suhu dan kelembapan kandang,
kepadatan kandang, waktu pengamatan, serta stress pada ayam.
Tandiabang (2014) menyatakan bahwa tingkah laku ayam yang dipelihara
pada kandang litter lebih memilih untuk mengurangi aktifitas foraging,
berbeda dengan ayam yang dipelihara pada kandang wire dimana ayam
pada kandang wire tetap melakukan aktifitas foraging karena ayam tetap
berada pada kandang dan terlindungi dari terpaan sinar matahari secara
langsung.
Preening adalah aktifitas pembersihan bulu atau grooming yang
dilakukan oleh ayam. Tandiabang (2014) menyatakan bahwa behaviour
preening berfungsi untuk membersihkan bulu dari kotoran dan penyakit,
preening juga membantu ayam untuk menghilangkan parasit, menjaga
kulit dan bulu tetap dalam kondisi baik, dan menjaga suhu tubuh ayam
tetap nyaman. Hasil yang diperoleh pada saat praktikum presentase ayam
melakukan preening adalah 12,6% pada kandang litter, dan 34,8% pada
kandang wire. Efendi (2010) menyatakan bahwa presentase tingkah laku
preening yang dilakukan ayam pada kandang litter pada suhu nyamannya
kisaran 24,6 sampai 25,6 0C adalah sebesar 11,46%. Setyaningrum
(2007) menyatakan bahwa persentase tingkah laku preening yang
dilakukan ayam pada kandang wire dengan temperatur 25,9 0C adalah
sebesar 9,94%. Hasil yang diperoleh pada saat praktikum dibandingkan
dengan literatur, persentase tingkah laku preening ayam pada kandang
litter dan wire berada di atas kisaran literatur. Perbedaan persentase
tingkah laku preening pada ayam dapat dipengaruhi oleh tipe kandang,
suhu dan kelembapan kandang, serta waktu pengamatan. Tandiabang
(2014) menyatakan bahwa tingkat kesejahteraan ayam yang dipelihara
pada kandang litter lebih baik di banding pada kandang wire, hal ini
disebabkan karena pada kandang litter ayam lebih leluasa untuk bergerak.
Litter
walking

feeding and
drinking
resting

foraging

preening

Gambar 1. Diagram behavior ayam pada kandang litter

Wire
walking

feeding and
drinking
resting

foraging

preening

Gambar 1. Diagram behavior ayam pada kandang wire


KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum pengamatan tingkah laku ayam yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa fungsi ayam melakukan behaviour
adalah untuk menyesuaikan diri karena adanya dorongan dari lingkungan
sekitar. Intensitas cahaya, suhu, kepadatan, kelembapan dan tipe
kandang serta faktor lingkungan dan faktor genetik mempengaruhi
behavior pada ayam. Lingkungan sekitar dapat mendorong ayam untuk
melakukan penyesuaian lingkungan hingga penyesuaian hereditas.
DAFTAR PUSTAKA

Appleby M. C., Mench J. A., Hughes B. O. 2004. Poultry Behaviour and


Welfare. CABI Publishing. UK.
Efendi, D. 2010. Peforma dan Respon Fisiologi Ayam Broiler yang Diberi
Ransum Mengandung 1,5% Ampas Buah Merah (Pandanus
conoideus) Pada Waktu Pemberian dan Suhu Kandang yang
Berbeda. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Mishra, A., P. Kaone, W. Schouten, B. Sprujit, P. Van Beek, and J. H. M.
Metz,. 2005. Temporal and Sequential Structure of Behaviour and
Facility Usage of Laying Hens in an Enriched Environment. Poult.
Sci. 84:979-991.
Setyaningrum, S. D. 2007. Perilaku ayam wereng betina umur 13-18
minggu pada tingkat kepadatan kandang berbeda. Skripsi. Program
Studi Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Sulistyoningsih, Mei., D. Sunarti., E. Suprijatna., Isroli. 2013. Studi tingkah
laku : kajian perilaku makan dan minum ayam kampung berbasis
riset manajemen alas kandang. Semarang.
Suryana., dan M. Yasin. 2013. Studi Tingkah Laku Pada Itik Alabio (Anas
platyrhynchos Borneo) di Kalimatan Selatan. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian. Kalimantan Selatan.
Tandiabang, Budiman. 2014. Tingkah laku ayam ras petelur fase layer
yang dipelihara dengan sistem free-range pada musim kemarau.
Makasar.
Utami, I. P., W. Pakiding, A. Ako. 2015. Behavior of laying hen rearing in
free-range system with different times of natural shade. Kuala
Lumpur International Agriculture, Forestry and Plantation. ISBN 978-
967-11350-7-5.
Widiastuti, T., dan D. Garnida. 2005. Evaluasi Performans Ayam
Merawang Phase Pertumbuhan (12 Minggu) pada Kandang Sistem
Kawat dan Sistem Litter dengan Berbagai Imbangan Energi-Protein
di dalam Ransum. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi
Pengembangan Ayam Lokal.Peternakan. Litbang Deptan : 51-55.