Anda di halaman 1dari 21

AUDIT PROSES PEMBELIAN

A. FUNGSI PEMBELIAN

Fungsi pembelian sering dianggap fungsi yang paling penting dan berpengaruh pada unit-unit operasi yang ada di perusahaan. Pada banyak perusahaan, fungsi pembelian merupakan awal dari sebuah proses bisnis. Dengan tujuan memenuhi permintaan pelanggan, perusahaan harus membeli barang-barang kebutuhan dan bahan baku yang diminta, untuk mengumpulkan atau memproduksi produkproduk perusahaan. Ini adalah proses dalam mendapatkan barang-barang, bahan baku, komponen dan layanan yang merupakan tugas utana dn tanggung jawab departemen pembelian. Dalam sebuah perusahaan dimana terdapat sistem pembelian yang efektif pembelian material dapat menghemat biaya bagi perusahaan.

B. TUJUAN PEMBELIAN

Tujuan utama dalam audit manajemen fungsi pembelian adalah untuk menentukan efisiensi dan efektivitas perusahaan dalam membelanjakan sumber daya keuangan mereka. Pada beberapa perusahaan sedang, pembelian utama dilakukan oleh masing-masing departemen. Sebagai contohnya, fungsi kontrol persediaan membeli bahan-bahan kebutuhan dan bahan baku untuk memenuhi permintaan pelanggan langsung dari pemasok Sebuah audit manajemen dilakukan karena terdapat tanda-tanda bahaya yang ditemukan di perusahaan. Sebagai contoh, manajemen tingkat atas seharusnya menyadari adanya peningkatan biaya dalam proses bisnis, meskipun tak satupun kompetitor mengalami pengurangan yang sama pada marjin laba. Tanda-tanda bahaya tersebut mungkin mengindikasikan bahwa perusahaan mengalami “ketidakefisienan biaya” dalam aktivitas pembeliannya sehari-hari Proses audit manajemen menggambarkan bahwa fungsi pembelian dapat dimanfaatkan oleh perusahaan yang benar-benar memiliki fungsi pembelian (departemen pembelian). Asumsinya, bahwa semua peerusahaan, tidak peduli sebesar apa, seharusnya memiliki departemen pembelian (atau seseorang) yang terpusat dan independen untuk mengontrol pengeluaran perusahaan

C. RUANG LINGKUP FUNGSI PEMBELIAN DAN KONSEP AUDIT MANAJEMEN FUNGSI PEMBELIAN

Fungsi pembelian memiliki nilai dan arti penting bagi perusahaan karena sangat menunjang operasional perusahaan.Audit manajemen fungsi pembelian harus dilakukan dengan optimal untuk memastikan agar kegiatan operasional perusahaan tidak sampai terhenti yang akan berakibat negatif bagi perusahaan secara keseluruhan. Sasaran strategik fungsi pembelian merupakan ukuran atau patokan yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi fungsi pembelian pada perusahaan. Tujuh sasaran strategik fungsi pembelian yang harus dipahami meliputi hal-hal berikut.

Terjaminnya kesinambungan pasokan bahan mentah, bahan baku, dan bahan penolong lainnya yang diperlukan dalam proses produksi.

Mengupayakan terjaminnya persediaan bahan mentah dan suku cadang agar berada pada tingkat yang aman

Tersedianya peralatan dan bahan pendukung produksi lainnya yang diperlukan agar standar mutu dan ketepatan penggunaan dapat tercapai

Pengadaan bahan mentah, bahan baku, suku cadang, bahan lainnya, dan aneka jasa yang diperlukan harus dilaksanakan dengan biaya yang serendah mungkin

Pelaksanaan sistem pengawasan yang digunakan untuk memastikan bahwa nilai dan biaya pengadaan telah sesuai, dengan terus-menerus melakukan pengurangan biaya pembelian.

Komunikasi yang baik dengan pihak manajemen puncak dalam bentuk informasi yang paling akurat mengenai bahan dan aneka jasa yang dibutuhkan perusahaan.

Terwujudnya kerja sama dari unit kerja atau unit fungsional lain dalam perusahaan untuk menjalankan fungsi pembelian dengan baik.

Siklus normal fungsi pembelian meliputi berikut ini

Penentuan kebutuhan, melalui Skedul Produksi Manufaktur, Penentuan Penggantian Persediaan (Inventory Replenishment Requirement), Penentuan Pembelian secara Khusus (Specialized Purchase Requirements), dan Kebutuhan Operasional Sehari-hari

Otorisasi pembelian, yang dimulai dengan penerbitan Permintaan Barang (Purchase Requisition) atau Perintah Kerja (Work Order) sampai penerbitan Pesanan Pembelian (Purchase Order).

Prosedur tindak lanjut pemesanan.

Penyelesaian proses pengiriman.

Penyelesaian keuangan.

D. PENGAKUAN DAN PROSES PEMBELIAN

Pada bab ini akan membahas audit proses pembelian untuk audit atas laporan keuangan, konsep yang dicakup dengan review konsep pengakuan beban dan kewajiban dengan penekanan khusus pada kategori beban. Fokus utama dari bab ini adalah audit proses pembelian untuk audit atas laporan keuangan

1. Pengakuan Beban dan Kewajiban Beban adalah aliran keluar atau pemakaian lain aktiva suatu badan usaha atau

pelunasan utangnya (atau kombinasi keduanya) yang berasal dari pengiriman atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha. Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomis yang akan timbul di masa yang akan dating yang disebabkan oleh kewajiban-kewajiban saat ini dari suatu badan usaha yang akan dipenuhi dengan menstransfer aktiva atau memberikan jasa kepada badan usaha lain di masa depan sebagai akibat dari transaksi-transaksi yang terjadi di masa lalu. Topik-topik berikut yang terkait dengan proses pembelian :

Jenis-jenis transaksi dan akun laporan keuangan yang terpengaruh

Jenis-jenis dokumen dan catatan

Fungsi-fungsi utama

Pemisahan tugas fungsi

a) Jenis-jenis Transaksi dan akun laporan keuangan yang terpengaruh Tiga jenis transaksi yang khususnya terdapat dalam proses pendapatan adalah :

Pembelian barang dan jasa secara tunai atau kredit

Pembayaran kewajiban yang timbul dari transkasi pembelian

Retur barang kepada pemasok secara tunai atau kredit

b)

Jenis-jenis dokumen dan catatan

Dokumen dan catatan yang terdapat dalam proses pembelian :

1) Permintaan Pembelian (Purchase Requisition). Merupakan dokumen permintaan barang

atau jasa dari individual atau departemen yang berwenang dalam perusahaan. 2) Pesanan Pembelian (Purchase Order). Dokumen ini mencantumkan deskripsi, kualitas, dan kuantitas, atau informasi lain atas barang atau jasa yang hendak dibeli.

3)

Laporan Penerimaan (receiving report). Dokumen ini mencatat penerimaan barang.

4)

Faktur Vendor (Vendor Invoice). Dokumen ini merupakan tagihan dari vendor.

5) Voucher. Dokumen ini seringkali digunakan perusahaan untuk mengawasi pembayaran atas perolehan barang dan jasa. 6) Register Voucher/Jurnal pembelian ( voucher register/purchases journal). Register voucher digunakan untuk mencatat voucher barang dan jasa. 7) Buku besar pembantu utang usaha (Accounts payable subsidiary ledger). Jika jurnal

pembelian digunakan, buku besar pembantu mencatat transaksi dan saldo utang ke vendor. Laporan vendor (vendor statement)

8)

9) Cek (check). Dokumen ini, yang ditandatangani oleh pegawai yang berwenang merupakan alat pembayaran barang atas jasa. 10) Jurnal Pengeluaran kas/register cek ( cash disbursements journal/check register). Jurnal ini mencatat pengeluaran yang dilakukan dengan cek.

c) Fungsi fungsi utama Tujuan pokok proses pembelian adalah memperoleh barang dan jasa pada harga yang

terendah, dengan kualitas dan jasa yang sesuai dengan persyaratan dan menggunakan sumber dana kas untuk membayar barang dan jasa tersebut secara efektif.

a. Permintaan (Requisitioning) Fungsi pertama pada proses pembelian adalah permintaan barang atau jasa oleh pegawai yang memilikiwewenang dari berbagai departemen atau area fungsional dalam entitas.

b.

Pembelian (Purchasing) Fungsi pembelian melaksanakan pesanan pembelian yang sudah diotorisasi.

c.

Penerimaan (Receiving) Fungsi penerimaan bertanggung jawab atas penerimaan, perhitungan, dan pemeriksaan barang yang diterima dari vendor.

d.

Pemrosesan Faktur (Invoice Prosessing) Departemen utang usaha memproses faktur untuk memastikan barang dan jasa yang diterima di catat sebagai aktiva atau beban bersamaan dengan pengakuan kewajiban yang timbul.

e.

Pengeluaran (Disbursement) Fungsi pengeluaran bertanggungjawab untuk menyiapkan dan menandatangani cek yang akan di bayarkan ke vendor.

f.

Utang usaha ( Account Payable) Departemen utang usaha bertanggung jawab untuk memastikan bahwa seluruh faktur vendor, pengeluaran kas, dan penyesuaian telah di catat dalam catatan utang usaha.

g.

Buku Besar (General Ledger) Tujuan utama dari fungsi buku besar sehubungan dengan proses pembelian adalah untuk memastikan bahwa seluruh pembelian, pengeluaran kas dan utang telah diakumulasikan, diklasifikasikan, dan diringkas pada akun-akun yang tepat.

d)

Pemisahan Tugas Kunci

Salah-satu pengendalian yang terpenting dalam system akuntansi adalah pemisahan tugas yang memadai. Oleh karena itu setiap individu yang terlibat dalam fungsi fungsi permintaan, pembelian dan penerimaan harus terpisah dari fungsi-fungsi pemrosesan faktur,

utang usaha, dan buku besar.

II. PENENTUAN RISIKO BAWAAN Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat pengendalian yang terkait. Risiko salah saji demikian adalah lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu dibandingkan dengan yang lain. Sebagai contoh, perhitungan yang rumit lebih mungkin disajikan salah jika

dibandingkan dengan perhitungan yang sederhana. Uang tunai lebih mudah dicuri daripada persediaan batu bara. Akun yang terdiri dari jumlah yang berasal dart estimasi akuntansi cenderung mengandung risiko lebih besar dibandingkan dengan akun yang sifatnya relatif rutin dan berisi data berupa fakta. Faktor ekstern juga mempengaruhi risiko bawaan. Sebagai contoh, perkembangan teknologi mungkin menyebabkan produk tertentu menjadi usang, sehingga mengakibatkan sediaan cenderung dilaporkan lebih besar. Di samping itu, terhadap faktor-faktor tersebut yang khusus menyangkut saldo akun atau golongan transaksi tertentu, faktor-faktor yang berhubungan dengan beberapa atau seluruh saldo akun atau golongan transaksi mungkin mempengaruhi risiko bawaan yang berhubungan dengan saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Faktor yang terakhir ini mencakup, misalnya kekurangan modal kerja untuk melanjutkan usaha atau penurunan aktivitas industri yang ditandai oleh banyaknya kegagalan usaha.

III. PENENTUAN RISIKO PENGENDALIAN Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. Risiko ini merupakan fungsi efektivitas desain dan operasi pengendalian intern untuk mencapai tujuan entitas yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan entitas. Beberapa risiko pengendalian akan selalu ada karena keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern.

IV. PROSEDUR PENGENDALAIAN DAN PENGUJIAN PENGENDALIAN TRANSAKSI PEMBELIAN DAN TRANSAKSI TERKAIT Apabila auditor memahami aktivitas-aktivitas investasi dan sifat bisnis klien, maka aktivitas- aktivitas pembelian klien dapat diperkirakan. Tabel 4.1 menunjukan beberapa contoh prosedur analitis beserta penjelasan tentang problem yang dapat diidentifikasi oleh masing-masing prosedur.

Rasio

atau

Rumus

Manfaat dalam Audit

Informasi

Keuangan Lain

Aliran kas bebas

 

Aliran

kas

dari

Aliran kas bebas negatif menunjukan kebutuhan akan dan taksiran jumlah pembelian yang diperlukan untuk penurunan kas dan investasi.

 

operasi

dikurangi

pengeluaran modal

 

Utang

berbunga

Utang

berbunga:

Menunjukan kewajaran proporsi utang perusahaan yang bisa dibandingkan dengan pengalaman tahun lalu atau data industri.

terhadap

total

Total aktiva

 

aktiva

 

Ekuitas

pemegang

Ekuitas pemegang saham: Total aktiva

Menunjukan kewajaran proporsi ekuitas perusahaan yang bisa dibandingkan dengan pengalaman tahun lalu atau data industri.

saham

terhadap

total aktiva

   

Pembanding antara

Apakah ROA

>

Apabila perusahaan mampu untuk menghasilkan persentase tingkat laba bersih yang lebih tinggi daripada kenaikan cost pinjaman, maka hal ini merupakan petunjuk bahwa perusahaan bisa menggunakan pembelanjaan utang untuk menambah aktiva dan laba perusahaan.

persentase laba terhadap aktiva

tambahan cost utang?

ROA = [laba bersih +

(ROA :

return

of

{bunga x

(1

- tarif

asset) dengan kenaikan cost utang

pajak)}]

/ rata-rata

total aktiva.

 

Laba

bersih

(laba bersih - dividen preferen): rata-rata ekuitas saham biasa.

Menguji kewajaran ekuitas pemegang saham pada tingkat laba dan struktur keuangan saat ini.

terhadap

ekuitas

saham biasa

 

Aliran kas dari operasi terhadap bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu tidak lebih dari satu tahun

Aliran kas dari operasi: (bagian utang jangka panjang yang harus dilunasi dalam waktu yang tidak lebih dari satu tahun + dividen)

Merupakan pengujian tentang kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya. Rasio lebih kecil dari 1 memberi petunjuk adanya masalah likuiditas.

Perbandingan

laba

Laba sebelum

bunga

Merupakan pengujian tentang kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba guna menutup cost pinjaman. Rasio lebih kecil

terhadap bunga

dan

pajak:

(biaya

 

bunga

+

bunga

 

dikapitalisasi)

dari

1

memberi

petunjuk

bahwa

laba

perusahaan

tidak

cukup

untuk

menutup

biaya keuangan.

Biaya

bungan

(biaya bunga + bunga dikapitalisasi): rata- rata utang berbungan.

merupakan pengujian kewajaran tentang biaya bungan menurut pembukuan yang seharusnya tidak lebih besar dari rata-rata cost modal pinjaman.

terhadap

utang

bunga

Tabel 4.1: Prosedur analitis yang biasa digunakan dalam siklus pembelian

Prosedur analitis dapat memberi indikasi tentang kebutuhan pembelanjaan perusahaan klien,

kemampuan untuk melunasi utang-utangnya serta kewajaran biaya bunga (baik bunga yang diperlakukan sebagai biaya maupun yang dikapitalisasi). Fungsi-fungsi pembelian dan aktivitas pengendalian yang bersangkutan dengan siklus pembelian adalah sebagai berikut:

a) Pemberian otorisasi atas obligasi dan modal saham. Dewan komisaris biasanya memberi otorisasi berdasarkan atas perencanaan stratejik dan aktivitas investasi perusahaan.

b) Penerbitan obligasi dan modal saham. Penerbitan dilakukan sesuai dengan otorisasi yang diberikan dewan komisaris dan peraturan hokum yang berlaku dan hasil penerbitan disetorkan ke bank secara utuh; sertifikat obligasi dan saham harus diamankan secra khusus.

c) Pembayaran bunga obligasi dan dividen tunai. Pembayaran dilakukan terhadap penerima yang berhak sesuai dengan otorisasi dewan komisaris dan manajemen.

d) Pelunasan dan pembelian kembali obligasi dan modal saham. Transaksi-transaksi tersebut dilaksanakan sesuai dengan otorisasi dewan komisaris; saham yang dibeli kembali harus diamankan secara fisik.

e) Pencatatan transaksi pembelanjaan. Transaksi-transaksi dicatat dengan benar, beik mengenai jumlah, penggolongannya maupun periode akuntansinya sesuai dengan otorisasi dan dokumen pendukung.

Apabila auditor akan menerapkan strategi audit dengan penetapan tingkat risiko pengendalian pada tingkat maksimum atau tinggi maka auditor harus memiliki pemahaman yang cukup mengenai sistem pengendalian untuk merencanakan audit dengan strategi tersebut. Oleh karena itu, auditor harus mendapatkan dan mendokumentasikan pemahamannya tentang setiap

komponen pengendalian yang akan berpengaruh terhadap siklus pembelian seperti uraian di atas. Dengan pengetahuan itu, auditor harus bisa mengidentifikasi salah saji potensial atas asersi- asersi siklus pembelian, menentukan tingkat risiko deteksi bisa diterima dan merancang pengujian substantif.

Asersi

Kemungkinan

Prosedur Pengendalian

Pengujian

 

Salah Saji

 

Pengendalian

Keterjadian

Pembelian dicata

Pemisahan tugas

 

Amati

dan

evaluasi

diterimat, barang

 

pemisahan

tugas

atau

jasa

belum

yang memadai.

dipesan

atau

Pembelian tidak dicatat tanpa pesanan pembelian dan laboran penerimaan yang disetujui.

diterima.

Uji dsmpel voucheruntuk keberadaan pesanan pembelian dan dokumen penerimaan yang diotorisasi; jira aplikasi TI, periksa pengendlaian aplikasi. Review dan Uji prosedur klien atas perhitungan urutan nomor laboran penerimaan dan voucher; jika aplikasi TI, periksa pengendalian aplikasi Periksa voucheryang telah dibayar dan

 

Memperhitungkan

urutan

nomor

laboran

penerimaan

dan voucher.

Pembatalan dokumen

     

dokumen

pendukungnya

atas

indikasi pembatalan.

Kelengkapan

Pembelian

 

Memperhitungkan

urutan

Review

dan

uji

dilakukan

tetapi

nomor

pesanan

pembelian,

prosedur klien

atas

tidak dicatat

laporan

penerimaan,

perhitungan urutan

 

dan voucher.

nomor

pesanan,

 

pembelian, laporan

penrimaan,

 

Laporan penerimaan sesuai dengan faktur vendor dan dicatat dalam jurnal pembelian

dan voucher,

jika

aplikasi

TI

periksa

pengenalian aplikasi

 

Telusuri

sampel

laporan penerimaan

ke

faktur,

vendor,

dan voucher.

 

Otorisasi

Pembelian barang

Persetujuan atas perolehan sesuai dengan otorisasi batas dana.

Review otorisasi batas dana klien atas perolehan.

atau

jasa

tidak

diotorisasi.

 

Permintaan pembelian dan pesanan pembelian disetujui.

Periksa permintaan pembelian atau pesanan pembelian atas persetuuan yang pantas; jika aplikasi TI digunakan atas pesanan otomatis, periksa pengendalian aplikasi.

Pembelian atas

Prosedur penawaran kompetitif dilakukan

barang

dan

jasa

pada

harga

atau

 

persyaratan

yang

 

tidak diotorisasi.

Review prosedur

 

penawaran

kompetitif lain.

Tabel 4.2: Ringkasan Asersi, Kemungkinan Salah Saji, Prosedur Pengendalian, dan Pengujian Pengendalian untuk Transaksi Pembelian

Asersi

Kemungkinan

Prosedur Pengendalian

Pengujian Pengendalian

Salah Saji

Akurasi

Gaktur vendor

Akurasi matematis atas faktur vendor diverifikasi

Hitung kembali akurasi matematis faktur vendor Cocokkan informsi pada sampel paket voucher atas produk, kuantitas, dan harga

tidak

diberi

harga yang tepat

 

atu

ada

Pesanan pembelian sesuai dengan laporan penerimaan dan faktur vendor atas produk, kuantitas, dan harga

kesalahan

perhitungan.

Periksa rekonsiliasi voucher dengan laporan utang usaha harian; jika aplikasi TI, periksa pengendlaian aplikasi Periksa rekonsiliasi ayat- ayat dalam jurnal pembelian dengan ayat-ayat dalam catatn pembantu utang usaha; jika aplikasi TI, periksa pengendalian aplikasi Review rekonsiliasi catatn pembantu dnegan akun pengendali buku besa; jika aplikasi TI, periksa

Transaksi

Voucher direkonsiliasi daftar utang usaha harian

ke

pembelian tidak

 

dibukukan

ke

jurnal pembelian

atau

catatan

Pembukuan harian ke jurnal pembelian direkonsiliasi dengan pembukuan ke catatan pembantu utang usaha

pembantu utang

usaha

Nilai

dalam

jurnal pembelian tidak dibukukan

dengan benar ke buku besar

Register voucher atau catatan pembantu utang usaha direkonsiliasi ke akun

   

pengendali buku besar

pengendalian aplikasi

 

Uji

sampel

rekonsiliasi

Voucher direkonsiliasi

harian

dengan

daftar

utang

usaha

harian

Pisah Batas

Transaksi

Seluruh

dokumen

Bandingkan

tanggal

pada

pembelian

penerimaan

dikirm

ke

dokumen

penerimaan

dicatat

pada

departemen

utang

uaha

tanggal

periode

yang

secara harian

dengan pada voucher-nya.

 

salah

 

Keberadaan prosedur yang mensyaratkan pencatatan pembelian dengan segera setelah barang atau jasa diterima

Bandingkan tangal pada voucher dengan tanggal pencatatan transaksi tersebut di jurnal pembelian.

Klasifikasi

Transaksi

Bagan akun

Review jurnal

pembelian

pembelian

tidak

dan

buku

besar

atas

dikalsifikasikan

kebenarannya

 

dengnan benar

 

Persetujuan independen dan review akun

yang dibebani oleh perusahaan

Periksa sampel voucher untuk ketepatan klasifikasi.

Tabel 4.3: Ringkasan Asersi, Kemungkinan Salah Saji, Prosedur Pengendalian, dan Pengujian Pengendalian untuk Transaksi Pembelian (Terakhir).

Asersi

Kemungkinan

Prosedur Pengendalian

Pengujian Pengendalian

Salah Saji

Keterjadian

Pengungkapan kas dicatat tetapi tidak dilakukan

Pemisahan tugas

Amati dan evaluasi kememadaian pemisahan tugas Review prosedur klien atas rekonsiliasi laporan investor

Laporan vendor

di-

review secara independen dan

direkonsiliasi ke catatan utang rekonsiliasi.

Rekonsiliasi bank dibuat untuk di-review setiap bulan

Review

klien

rekonsiliasi bank bulan

 

untuk

indikasi

penelaahan independen

Kelengkapan

Pengeluaran

kas

Sama dengan di atas Memperhitungkan urutan nomor cek

Sama dengan di atas Review dan

 

dilakukan

tetapi

uji

tidak dicatat

prosedur

klien

atas

 

urutan nomor cek; jika

aplikasi

TI,

uji

pengendalian aplikasi

Pengeluaran kas harian direkonsiliasi dengan pembukuan di catatan pembantu utang usaha

Review prosedur rekonsiliasi harian pengeluaran kas dengna pembukuan di catatan pembantu utang usaha; jika aplikasi TI, uji pengendalian aplikasi

Otorisasi

Pengeluaran

kas

Pemisahan tugas

Evaluasi

pemisahan

tidak diotorisasi

tugas

Cek disiapkan hanya setelah seluruh dokumen sumber telah disetujui secara

Periksa

indikasi

persetujuan

dalma

paket voucher

 
independen
independen

independen

independen

Tabel 4.4: Ringkasan Asersi, Kemungkinan Salah Saji, Prosedur Pengendalian, dan Pengujian Pengendalian atas Transaksi Pengeluaran Kas

AUDIT HUTANG USAHA DAN AKUN TERKAIT Hutang usaha biasanya merupakan kewajiban lancar terbesar dalam laporan keuangan dan merupakan laporan yang signifikan dalam mengevaluasi solvabilitas jangka pendek suatu perusahaan. Utang usaha juga sangat dipengaruhi oleh volume transaksi yang tinggi dan oleh karenanya rentan terhadap salah saji. Audit terhadap utang biasanya lebih ditekankan pada asersi kelengkapan dan kurang pada asersi keberadaan atau keterjadian, karena bila manajemen berniat untuk memanipulasi utang, maka ia cenderung akan melaporkan utang dalam jumlah yang lebih kecil dari pada utang dari jumlah yang sesungguhnya agar laporan keuangan nampak lebih baik.

Prosedur Analitis Substantif Tingkat risiko deteksi bisa diterima untuk setiap asersi laporan keuangan yang signifikan dicapai dengan menggabungkan bukti yang diperoleh dari pengujian substantif yang dirancang dengan tepat, termasuk prosedur analitis dan pengujian detil. Semua pengujian audit selalu diawali dengan usaha mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan prosedur awal bidang usaha klien. Lakukan prosedur-prosedur awal terhadap saldo utang usaha dan catatan-catatan yang akan diuji, kemudian telusuri saldo awal utang usaha ke kertas kerja tahun lalu, review kegiatan dalam rekening buku besar utang usaha dan selidki semua ayat jurnal yang dibukukan ke rekening tersebut, dapatkan daftar utang usaha per tanggal neraca dan periksa apakah cocok dengan catatan akuntansi yang mendasarinya. Tujuan auditor melakukan prosedur analitis adalah untuk menaksir saldo utang usaha dan untuk menetapkan hubungan antara hutang dagang dengan rekening-rekening kunci lainnya seperti pembelian atau persediaan. Beberapa prosedur analitis yang dapat dilakukan untuk mendapatkan bukti atas utang usaha adalah prosedur analitis rasio jumlah dari utang usaha, prosedur analitis rasio harga pokok penjualan berbanding utang usaha serta prosedur analitis rasio persentase utang dari total utang. Suatu penurunan tidak normal pada kecepatan perputaran utang usaha atau kenaikan tak terduga dalam rasio lancar bisa menjadi indicator terjadinya kurang saji pada utang dagang. Prosedur analitis yang dilakukan pada tahap akhir penugasan

adalah untuk menjamin bahwa bukti yang dievaluasi dalam pengujian detil adalah konsisten dengan gambaran menyeluruh yang dilaporkan dalam laporan keuangan.

Konfirmasi Utang Usaha Berbeda dengan konfirmasi piutang usaha, pengiriman konfirmasi dalam audit terhadap utang usaha tidak merupakan prosedur yang harus dilakukan auditor. Prosedur ini bersifat opsional karena (1) konfirmasi tidak dapat menjamin bahwa utang yang tidak dicatat akan dapat dideteksi dan (2) bukti eksternal berupa faktur dan laporan bulanan dari penjualan biasanya sudah tersedia untuk sebagian besar utang. Konfirmasi utang usaha dianjurkan bila risiko deteksi rendah dan apabila terdapat saldo utang individual yang besar jumlahnya atau perusahaan mengalami kesulitan dalam hal memenuhi kewajibannya. Auditor harus mengawasi pembuatan dan pengiriman konfirmasi dan harus menerima jawaban secara langsung dari responden. Apabila prosedur konfirmasi akan dijalankan, maka dalam memilih sampel yang akan dikirim konfirmasi, auditor harus mengikutsertakan utang-utang bersaldo nol atau besaldo kecil, karena klien cenderung untuk melakukan kurang saji dan hal itu besar kemungkinan telah dilakukan pada pada utang yang dalam laporan terlibat yang bersaldo nol atau kecil. Selain itu, konfirmasi juga hendaknya dikirim kepada pemasok-pemasok besar yang (1) digunakan tahun lalu, tetapi tidak nampak pada tahun ini (2) tidak mengirim laporan bulanan. Dalam konfirmasi utang usaha, auditor menghendaki agar kreditur yang menyebutkan jumlah terutang karena jumlah itu akan direkonsiliasi dengan jumlah menurut catatan klien. Perlu diperhatikan pula bahwa auditor meminta informasi mengenai komitmen pembelian dari klien dan jaminan atas uang.

Prosedur Alternatif Dokumen-dokumen pendukung utang yang telah dicatat, tetapi masih belum dibayar sampai tanggal terakhir pekerjaan lapangan juga harus diperiksa dengan pengujian. Hal ini juga bisa membawa pada pembuktian akan adanya kewajiban tetapi tidak dicatat pada tanggal neraca. Prosedur-prosedur yang bisa membawa pada pembuktian adanya utang tidak dicatat meliputi (1) menyelidiki order pembelian yang tidak lengkap dokumen pendukung lainnya, laporan penerimaan dan faktur dari penjual per tanggal neraca (2) mengajukan pertanyaan pada personil

akuntansi dan pembelian tentang utang yang tidak dicatat (3) mereview anggaran aktiva tetap, perintah kerja dan kontrak pembangunan untuk mencari bukti adanya utang tidak dicatat

STUDI KASUS

PERUSAHAAN CENDANT

Cendant Corp.

Difasilitasi oleh Bull Market tahun 1990-an, HFS, Inc. mengalami pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 25 % melalui saham-untuk-saham akuisisi perusahaan seperti Avis, Travelodge, Days Inn, Ramada, Century 21, dan Coldwell Banker. Dengan Henry Silverman sebagai kepala, harga saham HFS, Inc. meningkat dari $ 4,75 pada 1992 menjadi $ 77 pada Desember 1997. Pada Januari 1998 perusahaan bergabung dengan CUC Internasional untuk membentuk Cendant Corp. CUC bergerak di bisnis selling travel, shopping, dan dining discount membership. Walter Forbes, mantan CEO CUC, menjadi CEO dari perusahaan gabungan.

Tidak lama setelah merger, kedua manajer mantan CUC yang tinggal setelah merger mendekati Michael Monako, CFO Cendant, dan memberitahukan bahwa CUC manajemen, termasuk CFO mantan, telah memanufaktur laba dalam rangka untuk meningkatkan harga saham perusahaan. Secara khusus perusahaan, untuk tujuan pelaporan triwulanan, telah menyiapkan akun piutang fiktif dan mengkredit rekening fiktif akun revenue untuk penjualan membership yang tidak ada. Sebelum akhir kuartal keempat, pencatatan revenue fiktif dibalik. Untuk mengkompensasi pembalikan revenue dan dengan demikian meningkatkan earning untuk tahun fiskal, manajemen memerintahkan staf akuntansi untuk mengenali semua penjualan membership baru sebagai revenue untuk tahun berjalan sementara menunda pengeluaran yang terkait selama satu hingga tiga tahun. Perusahaan juga mengurangi allowance untuk pembatalan membership di masa depan. Akhirnya, porsi besar cadangan yang dibuat untuk menutupi biaya yang berkaitan dengan akuisisi (misalnya, biaya pemecatan karyawan, penutupan fasilitas, dan perjalanan eksekutif) digunakan untuk membuat laba lebih.

Sebagai berita fraud (kecurangan) menembus komunitas keuangan, harga saham Cendant menurun dari $ 41 pada bulan April 1998 menjadi $ 13 pada bulan Agustus tahun itu. Komite audit Cendant Arthur Andersen terlibat melakukan fraud (kecurangan) audit khusus, yang menentukan bahwa 61 persen dari laporan CUC’s 1997 laba dibuat. Walter Forbes mengundurkan diri sebagai CEO Cendant dan pemegang saham mulai menuntut perusahaan.

Ernst & Young, auditor CUC’s, telah memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian pada laporan keuangan 1997. Cendant, oleh karena itu, menggugat auditor atas kelalaian karena mereka percaya pada audit perusahaan ketika mereka tidak diberi akses ke buku buku utama CUC’s sebelum merger. Selain itu, Ernst & Young yang diletakkan dalam dua kelas terpisah sesuai tindakan oleh pemegang saham Cendant. Perusahaan membantah kewajiban (hutang) atas dasar bahwa manajemen telah melakukan fraud (kecurangan) dalam kolusi, bahwa dokumen telah dibuat, dan bahwa akses ke dokumentasi yang menguatkan fiktif pencatan jurnal karena mereke menolak akses tersebut.

Diperlukan :

a. Diskusikan Tanggung Jawab Auditor Untuk Mendeteksi Jenis Kecurangan Laporan Keuangan ini!

b. Apakah Menurut Anda, Auditor Harus Bertanggungjawab Kepada Cendant? Untuk Pemegang Saham? Jelaskan.

c. Apa Prosedurnya, Jika Ada, yang Seharusnya diwaspadai Auditor Untuk kemungkinan Kecurangan?

Analisis Pertanyaan :

1. Ernst & Young harus bertanggung jawab terhadap misstatement yang materil, seharusnya E & Y tidak boleh memberikan opini Unqualified terhadap laporan keuangan perusahaan CUC’s tersebut, karena mereka mengetahui adanya fraudulent (kecurangan) dalam proses penyajian laporan keuangan tersebut. Jadi, mereka harus bertanggung jawab untuk mengungkapkan kesalahan yang materil tersebut, karena pada laporan audit di paragraf kedua auditor harus mencari misstatement. Pertanyaan diatas dihubungkan dengan Standar Akuntansi tentang AUDIT ATAS ESTIMASI AKUNTANSI, Sumber : PSAK NO. 37; SA SEKSI 342. Auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi kepantasan estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen dalam konteks laporan keuangan secara keseluruhan. Karena estimasi didasarkan atas faktor-faktor subjektif dan objektif, sulit bagi manajemen untuk menetapkan cara pengendalian untuk itu. Meskipun didalam proses estimasi manajemen melibatkan

karyawan kompeten yang menggunakan data relevan dan andal, terdapat kemungkinan masuknya faktor subjektif dalam estimasi tersebut. Oleh karena itu, pada waktu merencanakan dan melaksanakan prosedur untuk mengevaluasi estimasi akuntansi, auditor harus mempertimbangkan, baik faktor subjektif maupun objektif, dengan suatu sikap skeptisme professional. 2. Ernst & Young harus bertanggung jawab, karena laporan auditor untuk kepentingan

masyarakat luas termasuk pemegang saham, apalagi perusahaan tersebut listing, untuk itu perlu dilakukan konfirmasi oleh auditor kepada pihak ketiga terhadap asersi laporan

keuangan.

Pertanyaan diatas dihubungkan dengan Standar Akuntansi PROSES KONFIRMASI, Sumber : PSAK No. 07; SA SEKSI 330. Konfirmasi adalah proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi langsung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas suatu

permintaan informasi tentang unsur tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Proses konfirmasi mencakup:

a. Pemilihan unsur yang dimintakan konfirmasi.

b. Pendesainan permintaan konfirmasi.

c. Pengkomunikasian permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga yang bersangkutan.

d. Pemerolehan jawaban dari pihak ketiga.

e. Penilaian terhadap informasi, atau tidak adanya informasi, yang disediakan oleh pihak ketiga mengenai tujuan audit, termasuk keandalan informasi tersebut.

HUBUNGAN PROSEDUR KONFIRMASI DENGAN PENAKSIRAN RISIKO AUDIT OLEH AUDITOR

SA Seksi 312 [PSA No. 25] Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit menjelaskan model risiko audit. Seksi tersebut menggambarkan konsep penetapan risiko bawaan dan risiko pengendalian, penentuan tingkat risiko deteksi yang dapat diterima, dan pendesainan suatu program audit untuk mencapai tingkat risiko audit yang sedemikian rendah. Auditor menggunakan penentuan risiko audit dalam penentuan prosedur audit yang akan diterapkan, termasuk apakah prosedur audit tersebut meliputi konfirmasi.

Konfirmasi dilaksanakan untuk memperoleh bukti dari pihak ketiga mengenai asersi laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen. SA Seksi 326 [PSA No. 07] Bukti Audit menyatakan bahwa, pada umumnya, dianggap bahwa "Bukti audit yang diperoleh dari sumber independen di luar entitas memberikan keyakinan yang lebih besar atas keandalan untuk tujuan audit independen dibandingkan dengan bukti audit yang disediakan hanya dari dalam entitas tersebut."

3. Yang harus diwaspadai Auditor untuk kemungkinan kecurangan :

Adanya penjualan fiktif kepada membership yang tidak ada

Adanya transaksi jurnal pembalik terhadap pencatatan revenue fiktif

Adanya penundaan pengeluaran / expense

Adanya allowance untuk pembatalan membership di masa depan

Pertanyaan diatas dihubungkan dengan Standar Akuntansi SA Seksi 329 Sumber : PSA No. 22. Untuk beberapa entitas, prosedur analitik dapat terdiri dari review atas perubahan saldo akun tahun sebelumnya dengan tahun berjalan, dengan menggunakan buku besar atau daftar saldo (trial balance) tahap awal yang belum disesuaikan. Sebaliknya, untuk entitas yang lain, prosedur analitik mungkin meliputi analisis lapotan keuangan triwulan yang ekstensif. Pada kedua keadaan tersebut, prosedur analitik yang dikombinasikan dengan

pengetahuan auditor tentang bisnis, menjadi dasar dalam menentukan permintaan keterangan tambahan dan perencanaan yang efektif. Walaupun prosedur analitik yang diterapkan dalam perencanaan audit seringkali hanya menggunakan data keuangan, tetapi kadangkala informasi nonkeuangan yang relevan juga dipertimbangkan. Misalnya jumlah karyawan, luas ruang penjualan, jumlah barang yang diproduksi dan informasi serupa lainnya mungkin membantu dalam mencapai tujuan prosedur.

PROSEDUR ANALITIK YANG DIGUNAKAN SEBAGAI PENGUJIAN SUBSTANTIF

Kepercayaan auditor terhadap pengujian substantif untuk mencapai tujuan audit yang berhubungan dengan suatu asersil dapat berasal dari pengujian rinci, dari prosedur analitik, atau dari kombinasi keduanya. Keputusan mengenai prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan audit tertentu didasarkan pada pertimbangan auditor terhadap efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari prosedur audit yang ada.

Auditor mempertimbangkan tingkat keyakinan, jika ada, yang diinginkannya dari pengujian substantif untuk suatu tujuan audit dan memutuskan, antara lain prosedur yang mana, atau kombinasi prosedur mana, yang dapat memberikan tingkat keyakinan tersebut. Untuk asersi tertentu, prosedur analitik cukup efektif dalam memberikan tingkat keyakinan memadai. Namun, pada asersi lain, prosedur analitik mungkin tidak seefektif atau seefisien pengujian rinci dalam memberikan tingkat keyakinan yang diinginkan.

Efektivitas

dan

efisiensi

yang

diharapkan

dari

suatu

prosedur

analitik

dalam

mengidentifikasikan kemungkinan salah saji tergantung atas, antara lain:

a. Sifat asersi.

b. Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksikan suatu hubungan.

c. Ketersediaan dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan harapan.

d. Ketepatan harapan.