Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat allah swt. atas limpahan nikmat dan karunia-
Nya sehingga Makalah ini dapat tersusun dengan baik meskipun masih jauh dari
kesempurnaan. Selawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad
saw. Beserta keluarga dan pengikutnya. Semoga kita selaku pengikut setianya dapat
menegakkan nilai-nilai sunnah secara integral dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Hadirnya Makalah ini diharapkan dapat memotivasi terciptanya komunitas belajar.


Dengan judul KEGAWATDARURATAN MEDIK UMUM FRAKTUR PADA RAHANG
BAWAH semoga dapat memberikan referensi tambahan dan memberikan alternatif
penuntun belajar yang dapat diterapkan dan dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi,
kreativitas, kemandirian, dan integrasi prestasi belajar yang berorientasi pada tuntutan masa
depan.

Penyusun berharap semoga adanya Makalah ini dapat mengoptimalkan proses


pembelajaran.Akhirnya, kami menyadari segala kekurangan yang melekat pada penerbitan
makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak yang berkompeten merupakan suatu
hal berharga dan sangat berarti dalam menyempurnakan Makalah ini. Semoga segala iktikad
dan ikhtiar yang dilakukan mendapatkan rahmat dan ridho allah swt..

Makassar, Januari 2014

Penulis

i
DAFTAR ISI

Table of Contents
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i

DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 2

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 4

1. LATAR BELAKANG........................................................................................................................ 4

2. TUJUAN ....................................................................................................................................... 4

3. RUMUSAN MASALAH .................................................................................................................. 4

4. MANFAAT .................................................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................................... 5

1. PENGERTIAN FRAKTUR MANDIBULA .......................................................................................... 5

2. ANATOMI MANDIBULA ............................................................................................................... 6

3. PENYEBAB FRAKTUR PADA MANDIBULA .................................................................................... 8

4. FRAKTUR MANDIBULA DAPAT DISEBABKAN OLEH TRAUMA MAUPUN PROSES PATOLOGIK


ANTARA LAIN : .................................................................................................................................... 9

5. TANDA DAN GEJALA .................................................................................................................. 14

6. Diagnosis ................................................................................................................................... 15

7. PEMERIKSAAN LOKAL DAN PERAWATAN ................................................................................. 15

8. KOMPLIKASI .............................................................................................................................. 24

BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 27

1. KESIMPULAN ............................................................................................................................. 27

Mandibula merupakan tulang yang berperan kompleks dalam penampilan estetis wajah dan oklusi
fungsional. Karena letaknya yang menonjol, mandibula menjadi tulang wajah yang paling umum
mengalami fraktur. Fraktur mandibula dapat disebabkan oleh trauma maupun proses patologik.
Tanda klinis utama fraktur mandibula adalah rasa nyeri, perdarahan, trismus, gangguan oklusi,
gerakan abnormal, krepitasi tulang, dan mati rasa pada bibir bawah dan pipi. Diagnosis ditegakkan
dari anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan radiologis. Penatalaksanaan fraktur
mandibula terdiri atas perawatan pendahuluan dan perawatan defenitif. Hal yang diperhatikan

2
pada perawatan pendahuluan, adalah primary survey, yaitu airway, breathing, circulation,
sedangkan perawatan defenitifnya terdiri atas reduksi terbuka atau reduksi tertutup, imobilisasi
dan fiksasi.......................................................................................................................................... 27

2. SARAN ....................................................................................................................................... 27

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dari proses pembuatan makalah ini, ....................... 27

Olehnya itu kami berharap pembaca dapat memberikan saran yang membangun guna ............... 27

pengembangan ilmu pengetahuan secara akurat. ........................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 28

3
BAB 1 PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Kasus di bidang kegawatdaruratan medik umum akhir akhir ini sering terjadi di
Indonesia. Mobility dan aktivitas manusia sehari hari menyebabkan masyarakat Indonesia
belum menyadari pentingnya kesehatan bagi kelangsungan hidupnya. Selain itu,,, kesadaran
masyarakat akan pentingnya keselamatan diri masih sangat kurang. Hal ini terbukti dengan
banyaknya kasus kriminalitas dan kecelakaan yang disebabkan karena human eror. Kasus
yang terbanyak adalah kasus kecelakaan lalulintas yang dapat berdampak pada trauma
penderita itu sendiri. DI Rumah Sakit tak jarang masyarakat yang umumnya kecelakaan
mengalami Fraktur pada bagian wajah (Mandibula) olehnya itu sangat penting dalam
membahas kasus tersebut pada makalah ini.

2. TUJUAN
1. Mengetahui penyebab terjadinya Fraktur pada Rahang Bawah
2. Mengetahui tanda dan gejala fraktur mandibula
3. Cara menangani Fraktur Rahang Bawah

3. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana proses terjadinya Fraktur pada rahang bawah?
2. Bagaimana tanda dan gejalanya?
3. Komplikasi apa saja yang terjadi?
4. Bagaimana penanganannya?

4
4. MANFAAT
1. Mengetahui penyebab terjadinya Fraktur pada Rahang Bawah akibat Trauma.
2. Memahami tanda dan gejala saat terjadi fraktur pada rahang bawah.
3. Mengetahui cara menangani Fraktur pada Rahang Bawah.

BAB II PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN FRAKTUR MANDIBULA


Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun parsial, yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat
berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma pada wajah sering melibatkan
tulang-tulang pembentuk wajah, diantaranya mandibula. Mandibula merupakan bagian dari
tulang wajah yang sering mengalami cedera karena posisinya yang menonjol, dan
merupakan sasaran pukulan dan benturan. Trauma yang terjadi pada mandibula sering
menimbulkan farktur yang menganggu fungsi pengunyahan. Fraktur mandibula adalah salah
satu cedera wajah yang sering ditemukan dan biasanya disebabkan oleh trauma langsung.
Penyebab utama dari fraktur di seluruh dunia adalah kecelakaan lalu lintas dan kekerasan.

5
2. ANATOMI MANDIBULA
PICTURE: h6.ggpht.com

Mandibula merupakan tulang yang besar dan paling kuat pada daerah muka, terdapat
barisan gigi.

Mandibula dibentuk

Oleh dua bagian simetris,yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan. Tulang ini
terdiri dari korpus yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan
lebar, yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus.

Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut
prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. Prosesus kondiloideus terdiri dari kaput
dan kolum. Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median, didapatkan tonjolan
tulang halus yang disebut simfisis mentum, yang merupakan tempat pertemuan embriologis
dari dua buah tulang.

6
Bagian atas korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris, yang
mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Bagian bawah korpus mandibula mempunyai
tepi yang lengkung dan halus. Pada pertengahan korpus mandibula, kurang lebih 1 inci dari
simfisis, didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Permukaan
dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan
pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula. Angulus mandibula terletak subkutan dan

mudah diraba pada 2-3 jari di bawah lobulus aurikularis.

Prosesus koronoideus yang tipis dan tajam merupakan tempat insersio m.temporalis.
Prosesus kondiloideus membentuk persendian dengan fossa artikularis permukaan
infratemporalis dari skuama os temporalis. Kartilago artikuler melapisi bagian superior dan
anterior dari prosesus kondiloideus, sedangkan bagian posterior tidak. Permukaan lateral dari
prosesus kondiloideus ditutupi oleh kelenjar parotis dan terletak di depan tragus. Antara
prosesus koronoideus dan prosesus kondiloideus membentuk sulkus mandibula dimana lewat
vasa dan nervus. Kira-kira ditengah dari permukaan medial ramus mandibula didpatkan
foramen mandibula. Melalui foramen ini masuk kedalam kanal yang mengarah ke bawah
depan di dalam jaringan tulang, dimana dilalui oleh vasa pembuluh darah dan saluran limfe

7
Mandibula mendapat nutrisi dari a.alveolaris inferior cabang pertama dari
a.maksillaris yang masuk melalui foramen mandibularis, bersama vena dan n.alveolaris.
A.alveolaris inferior memberi cabang-cabang ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya,
kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a.mentalis. Sebelum keluar dari foramen
mentalis bercabang insisivus yang berjalan ke depan di dalam tulang. A.mentalis
beranastomosis dengan a.fasialis, a.submentalis, a.labii inferior. A.submentalis dan a.labii
inferior merupakan cabang dari a.facialis. a.mentalis memberi nutrisi ke dagu. Sedangkan
aliran balik dari mandibula melalui v.alveolaris inferior ke v.fasialis posterior. V.mentalis
mengalirkan darah ke v.submentalis yang selanjutnya mengalirkan darah ke v.fasialis
anterior. V. fasialis posterior dan v.fasialis comunis mengalirkan darah ke v.jugularis interna
Aliran limfe ,mandibula menuju ke limfe node submandibularis yang selanjutnya menuju ke
rantaijugularisinterna.

N.alveolaris inferior cabang dari n.mandibularis berjalan bersama arteri dan vena
alveolaris inferior masuk melalui foramen mandibularis berjalan di kanalis mandibularis
memberi cabang sensoris ke gigi bawah, dan keluar di foramen sebagai n.mentalis,
merupakan araf sensoris daerah dagu dan bibir bawah

3. PENYEBAB FRAKTUR PADA MANDIBULA


Sepertiga fraktur mandibula terjadi di daerah kondilar-subkondilar, sepertiga terjadi di
daerah angulus, dan sepertiga lainnya terjadi di daerah korpus, simfisis, dan parasimfisis.
Daerah-daerah tersebut merupakan daerah lemah pada mandibula. Angulus diperlemah oleh
adanya gigi molar ketiga dan ke anterior, daerah parasimfisis diperlemah oleh akar gigi

8
taring yang panjang, dan daerah subkondilar merupakan daerah yang tipis. Oleh karena
mandibula bagian tersering mengalami fraktur pada trauma dibagian wajah, penting untuk
mengetahui dengan tepat penanganan awal, tindakan perbaikan serta mewaspadai komplikasi
yang akan terjadi, dari teknik yang dipilih untuk kesembuhan yang sempurna baik dari segi
fungsi pengunyahan dan estetika wajah.

Gerakan mandibula pada waktu mengunyah mempunyai 2 arah, yaitu :


- Rotasi melalui sumbu horisontalyang melalui senteral dari kondilus
- Sliding atau gerakan ke arah lateral dari mandibula pada persendian temporomandibuler.

Mengunyah merupakan suatu proses terdiri dari 3 siklus, yaitu :


a. Fase membuka.
b. Fase memotong, menghancurkan, menggiling. Otot-otot mengalami kontraksi isotonic
atau relaksasi. Kontraksi isometric dari elevbator hanya terjadi bila gigi atas dan bawah rapat
atau bila terdapat bahan yang keras diantaranya akhir fase menutup.
c. Fase menutup. Pada akhir fase menutup dan fase oklusi didapatkan kenaikan tonus pada
otot elevator. Setelah makanan menjadi lembut berupa suatu bolus dilanjutkan dengan proses
menelan. Untuk fungsi buka, katub mulut, mengunyah dan menelan yang baik dibutuhkan :
Tulang mandibula yang utuh dan rigid
Oklusi yang ideal
Otot-otot pengunyah beserta persarafan serta
Persendian temporomandibular (TMJ) yang utuh

4. FRAKTUR MANDIBULA DAPAT DISEBABKAN OLEH TRAUMA MAUPUN


PROSES PATOLOGIK ANTARA LAIN :

1). Fraktur traumatic disebabkan oleh :


Kecelakaan kendaraan bermotor (43%)
Kekerasan atau perkelahian (34%)

9
Kecelakaan kerja (7%)
Terjatuh (7%)
Kecelakaan berolahraga (4%)
Kecelakaan lainnya (5%)
2). Fraktur patologik
Fraktur patologik dapat disebabkan oleh kista, tumor tulang, osteogenesis imperfecta,
osteomyeleitis, osteoporosis, atropi atau nekrosis tulang.
Insiden
Fraktur mandibula lebih umum dibandingkan cedera pada bagian sepertiga tengah.
Schuchordt et al (1966) dalam serangkaian 2901 fraktur, menemukan 1997 fraktur
terjadi pada mandibula itu sendiri, sedangkan 156 kasus terjadi baik pada mandibula
maupun pada bagian sepertiga tengah dari skeleton fasial, sehingga terdapat 2103
fraktur mandibula. Fraktur mandibula meliputi 40% 62% dari seluruh fraktur wajah,
perbandingan pria dan wanita, yaitu 3 : 1 7 : 1 tergantung dari penelitian dan Negara.
Fraktur subkondilar banyak ditemukan pada anak-anak, sedangkan fraktur angulus lebih
sering pada remaja dan dewasa muda.
Klasifikasi
1. Berdasarkan Tipe
a. Single fraktur
Pada kasus single fraktur, tulang hanya mengalami fraktur pada satu daerah. Fraktur
semacam ini bersifat unilateral. Pada mandibula, kasus ini paling sering terjadi
dibeberapa lokasi berikut :
- Angulus, khususnya jika ada gigi molar ke-3 yang tidak bererupsi.
- Foramen mentale, dan
- Leher kondilus.
b. Multiple fraktur
Pada multiple farktur, tulang mengalami fraktur pada dua daerah atau lebih. Multiple
fraktur biasanya bilateral. Tipe fraktur inilah yang paling sering terjadi pada mandibula.
Multiple fraktur dapat pula bersifat unilateral, dimana tulang yang mengalami fraktur
terbagi menjadi beberapa bagian pada salah satu sisi
c. Simple fraktur
Simple fraktur adalah fraktur ang tidak berhubungan dengan lingkungan luar intraoral
maupun ekstraoral. Fraktur semacam ini dapat terjadi dimana saja pada ramus
mandibula, mulai dari kondilus hingga angulus.

10
d. Compound fraktur
Compound fraktur merupakan fraktur yang memiliki hubungan dengan lingkungan luar
karena disertai dengan pembentukan luka terbuka. Fraktur ini paling sering terjadi
disebelah anterior angulus.
e. Comminuted fraktur
Comminuted fraktur paling sering terjadi didaerah simfisis mandibula. Pada kasus
fraktur ini tulang terbagi menjadi beberapa bagian atau hancur.
f. Complicated fraktur
Fraktur yang sekaligus terjadi pada maxilla dan mandibula, juga fraktur yang terjadi
pada keadaan dimana maxilla atau mandibula mengalami edentulisem, digolongkan
dalam complicated fraktur

2). Berdasarkan Lokasi


Lokasi fraktur
Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan pada letak anatomi dari fraktur
mandibula dapat terjadi pada daerah-daerah sebagai berikut :
a. Dentoalveolar
b. Kondilus
c. Koronoideus
d. Ramus
e. Sudut mandibula
f. Korpus mandibula
g. Simfisis
h. Parasimfisis

a. Fraktur dento-alveolar
Fraktur dento-alveolar terdiri dari afusi, subluksasi atau fraktur gigi dengan maupun
tanpa disertai fraktur alveolar. Fraktur ini dapat saja ditemukan sebagai satu-satunya
fraktur yang terjadi pada mandibula, dapat pula berkombinasi atau berhubungan
dengan fraktur dibagian lain pada mandibula.
b. Fraktur Kondilus

11
Fraktur condilus
dapat terjadi
secara intracapsul,
tetapi lebih sering
terjadi secara
ekstracapsul,
dengan atau tanpa
dislokasi kepala
kondilus. Fraktur
pada daerah ini
biasanya gagal terdeteksi melalui pemeriksaan sederhana.

c. Fraktur processus koronoid

Fraktur processus koronoid


jarang terjadi, dan biasanya
ditemukan saaat dilakukannya
operasi kista besar.

Fraktur ini sulit terdiagnosis secara pasti pada pemeriksaan klinis.

d. Fraktur ramus
Otot pterygiomasseter
menghasilkan efek splinting
yang kuat sehingga fraktur pada
daerah ramus jarang terjadi.
e. Fraktur angulus
Daerah ini umumnya mengalami
karena tulang pada daerah ini lebih tipis jika dibandingkan dengan tulang pada
daerah korpus. Relative tingginya insiden impaksi molar ke tiga menyebabkan
daerah ini menjadi lemah.

12
f. Fraktur korpus
Keberadaan gigi kaninus pada
kasus fraktur korpus
menyebabkan daerah ini menjadi
lemah. Tidak bererupsinya gigi
molar ke tiga juga berhubungan
dengan kejadian fraktur ini.

g. Fraktur simfisis dan parasimfisis

Fraktur pada daerah simfisis dan


parasimfisis jarang terjadi.
Ketebalan mandibula pada
daerah ini menjamin bahwa
fraktur pada daerah simfisis dan
para simfisis hanyalah berupa
keretakan halus. Keadaan ini akan menghilang jika posisi tulang tetap stabil dan
oklusi tidakterganggu.

13
5. TANDA DAN GEJALA

1. Nyeri
Rasa nyeri yang hebat dapat dirasakan saaat pasien mencoba menggerakkan rahang untuk
berbicara, mengunyah atau menelan.
2. Perdarahan dari rongga mulut.
3. Maloklusi
Keadaan dimana rahang tak dapat dikatupkan, mulut seperti keadaan sebelum trauma.
4. Trismus
Ketidakmampuan membuka mulut lebih dari 35 mm, batas terendah nilai normal adalah 40
mm.
5. Pergerakan Abnormal.
a. Ketidakmampuan membuka rahang membuat dugaan pergesekan pada prosesus koronoid
dalam arkus zygomatikcus.
b. Ketidakmampuan menutup rahang menandakan fraktur pada prosessus alveolar, angulus,
ramus dari simfisis.
6. Krepitasi tulang
Krepitasi tulang tulang adalah bunyi berciut yang terdengar jika tepian-tepian fraktur
bergesakan saat berlangsungnya gerakan mengunyah, bicara, atau menelan.
7. Mati rasa pada bibir dan pipi
Patognomonis untuk fraktur distal dari foramen mandibula.
8. Oedem daerah fraktur dan wajah tidak simetris.

14
6. Diagnosis

Diagnosis fraktur mandibula dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dari riwayat kejadian,
pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan radiologis.
I. Anamnesis
Pada anamnesis keluhan subyektif berkaitan dengan fraktur mandibula dicurigai dari adanya nyeri,
pembengkakan oklusi abnormal, mati rasa pada distribusi saraf mentalis, pembengkakan, memar,
perdarahan dari soket gigi, gigi yang fraktur atau tunggal, trismus, ketidakmampuan mengunyah.
Selain itu keluhan biasanya disertai riwayat trauma seperti kecelakaan lalu lintas, kekerasan,
terjatuh, kecelakaan olah raga ataupun riwayat penyakit patologis

7. PEMERIKSAAN LOKAL DAN PERAWATAN


1). Pemeriksaan local fraktur mandibula
Pemeriksaan klinis ekstraoral

Tampak diatas tempat terjadinya fraktur biasanya terjadi ekimosis dan


pembengkakan. Seringpula terjadi laserasi jaringan lunak dan bisa terlihat jelas
deformasi dari kontur mandibula yang bertulang. Jika terjadi perpindahan tempat dari
fragmen-fragmen itu pasien tidak bisa menutup geligi anterior, dan mulut
menggantung kendur dan terbuka. Pasien sering kelihatan menyangga rahang bawah
dengan tangan. Dapat pula air ludah bercampur darah menetes dari sudut mulut pasien
Palpasi lembut dengan ujung-ujung jari dilakukan terhadap daerah kondilus pada
kedua sisi, kemudian diteruskan kesepanjang perbatasan bawah mandibula. Bagian-
bagian melunak harus ditemukan pada daerah-daerah fraktur, demikian pula
terjadinya perubahan kontur dan krepitasi tulang. Jika fraktur mengenai saraf
mandibula maka bibir bawah akan mengalami mati rasa.

2). Pemeriksaan klinis intraoral

Setiap serpihan gigi yang patah harus dikeluarkan. Dari dalam mulut. Sulkus
bukal diperiksa adanya ekimosis dan kemudian sulkus lingual. Hematoma didalam
sulkus lingual akibat trauma rahang bawah hampir selalu patognomonik fraktur
mandibula. Dengan hati-hati dilakukan palpasi pada daerah dicurigai farktur ibu jari
serta telunjuk ditempatkan di kedua sisi dan ditekan untuk menunjukkan mobilitas
yang tidak wajar pada daerah fraktur.

15
3). Pemeriksaan Radiologis

Evaluasi radiografis dibutuhkan untuk mempertegas bukti dan memberikan


data yang lebih akurat.(5) Adapun pemeriksaan radiologist yang dapat dilakukan
yaitu:
a. Foto panoramic dapat memperlihatkan keseluruhan mandibula dalam satu foto.
Pemerikasaan ini memerlukan kerjasama pasien, dan sulit dilakukan pada pasien
trauma, selain itu kurang memperlihatkan TMJ, pergeseran kondilus medial dan
fraktur prosessus alveolar.
b. Pemeriksaan radiografik defenitif terdiri dari fotopolos mandibula, PA, oblik
lateral.
c. CT Scan baik untuk fraktur kondilar yang sulit dilihat dengan panorex.

4). Perawatan Pendahuluan


Pada penderita cedera wajah terlebih dahulu harus diperhatikan pernapasan,
peredaran darah umum dan kesadaran. Jika terdapat patah tulang dengan atau tanpa
perdarahan, jalan napas bagian atas mudah tersumbat akibat dislokasi, udem, atau
perdarahan. Dalam hal ini selalu harus diingat bahaya aspirasi darah atau isi alir balik
lambung (regurgitasi). Disamping itu lidah mudah menutup faring pada penderita
yang pingsan.
Resusitasi merupakan tindakan pertolongan terhadap seseorang yang terancam
jiwanya karena gangguan pernapasan yang kadang disertai henti jantung. Resusitasi
ditujukan untuk menjamin tersedianya zat dijaringan vital. Untuk itu dibutuhkan jalan
napas yang bebas (A : airway), pernapasan dan ventilasi paru (B : breathing) yang
baik, serta transport melalui peredaran darah (C : circulation) yang memadai..(1)
Jika pasien datang dengan persangkaan fraktur mandibula, hal yang terpenting adalah
mempertahankan jalan napas yang tetap bebas. Karenanya pasien harus dirawat
dengan posisi terbaring pada satu sisi atau dalam posisi duduk dengan kepala
menengadah, selain itu perlu pemberian antibiotic dan toksoid tetanus.(16)
5). Perawatan defenitif
Prinsip umum perawatan fraktur mandibula secara esensial tidaklah berbeda
dari perawatan fraktur-fraktur manapun saja di badan. Fragmen direduksi ke dalam
suatu posisi yang baik dan kemudian dilakukan immobilisasi sampai waktu tertentu

16
sehingga terbentuk penyatuan tulang. Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan
fraktur mandibula, yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif, dan
cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan. Pada cara tertutup imobilisasi
dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular.
Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur dibuka dengan pembedahan
dan segmen direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat
(wire osteosynthesis) atau plat (plat osteosynthesis). Kedua teknik ini tidak selalu
dilakukan tersendiri tetapi kadang-kadang dikerjakan bersama-sama atau disebut
dengan prosedur kombinasi. Pendekatan ketiga adalah merupakan modifikasi dari
teknik terbuka, yaitu metode fiksasi skeletal eksternal.

Fraktur ini diindikasikan untuk reduksi terbuka bila fragmen proksimal berubah
tempat ke arah posterior atau median dan reduksi tidak dapat dipertahankan tanpa
intraosseus wiring, skrew dan plat.
Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula atau daerah para simpisis
mandibula
Otot mylohyoid, digastrikus, geniohyoid dan genioglosus dapat menyebabkan
perpindahan fragmen lebih jauh. Ketika dilakukan perawatan reduksi
terbuka, fraktur parasimpisis cenderung membuka pada border inferior, dengan
aspek dari segmen mandibula berputar ke arah median pada titik fiksasi. Dengan
rotasi medial dari body mandibula, cusp lingual seluruh premolar dan molar bergerak
keluar dari kontak oklusal. Kalau konstriksi ini tidak diperbaiki, akan terjadi
inefisiensi pengunyahan dan perubahan periodontal yang buruk (Gambar 2).

17
PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
Pemeriksaan radiologis yang sangat membantu untuk
mendiagnosa fraktur mandibula adalah (Peterson, 1998):
- Panoramik
- Lateral oblique foto
- Posteroanterior foto
- Oklusal
- Periapikal
- Reverse Towne
- TMJ
- CT scan
- Transkranial / Transpharingeal foto
- MRI

PERAWATAN DENGAN REDUKSI TERBUKA


Ada banyak metode perawatan fraktur mandibula dengan reduksi terbuka diantaranya
(Keith, 1992: Peterson, 1998):
1. 1. Pendekatan Bedah
Sebelum melakukan operasi pada fraktur mandibula, operator harus memperhatikan
sudut mulut pada lapangan operasi untuk memonitor aktifitas nervous facialis dan
untuk meyakinkan anestesiologist tidak membuat pasien paralisis dalam waktu yang
lama.
Faktor yang harus diperhatikan adalah isolasi fraktur, garis wajah dan posisi nervous.
Pendekatan bedah sendiri antara lain (Gambar 3) (Fonseca, 1999) :
- Pendekatan submandibular

18
- Pendekatan retromandibular
- Pendekatan preauricular

Pendekatan Submandibular
Pendekatan ini dikenalkan tahun 1934 oleh Risdon. Panjang incisi 4 cm
sampai 5 cm, 2 cm dibawah angulus mandibularis. Incisi kulit harus diletakkan pada
lipatan kulit untuk menghindari jaringan parut dan dibuat pada sudut yang tepat.
Lemak subkutan dan superficial fascia dipisahkan untuk mencapai muskulus
platymus. Lalu muskulus platymus dipotong untuk mencapai lapisan superficialis
pada bagian dalam fascia cervicalis, cabang mandibula marginal dan nervus facialis
terletak pada lapisan ini, sehingga sangat penting untuk diketahui.
Baik anterior atau posterior arteri facialis, seluruh cabangnya berinervasi pada
depressor bibir bawah, bagian belakang batas inferior dari mandibula. Pemisahan ke
tulang melewati fascia cervicalis yang dalam dengan menggunakan nerve stimulator.
Pemotongan dilanjutkan antara fascia sampai kebatas inferior mandibula. Kelenjar
submandibular dan capsulnya, akan menjadi bukti dan kutub paling bawah dari parotis
dapat ditemukan. Pemotongan dilanjutkan pada muskulus masseter dan bagian atas
nervus diretraksi. Setelah otot dilewati lalu dipisahkan pada batas inferior untuk
melihat tulang. Otot, periosteum dan jaringan lunak dipisahkan untuk jalan melihat
body, ramus, dan sisi fraktur. Jika pembuluh darah facialis tidak dapat ditarik
sempurna dapat dipisahkan dan diikat.
Submandibular nodus lympaticus dapat diidentifikasi berdekatan dengan
pembuluh darah facial. Pembukaan dapat dikurangi dan penutupan dapat diperbaiki
dengan penarikan pterygoid medialis dan ligament stylomandibular dari batas interior
dan posterior. Pembukaan lebih jauh dapat dicapai dengan menarik sudut dan batas

19
inferior dengan kawat atau forcep tulang. Kelenjar submandibularis dan kapsulnya
biasanya berlokasi dibagian batas inferior dari mandibula. Kelenjar parotis biasanya
di posterior ramus tetapi bisa terletak mengelilingi sudut inferior. Kapsul keduanya
harus dipisahkan selama pemisahan. Kerusakan kelenjar dapat menyebabkan Sin
loceles atau fistula salivarius.

Pendekatan Retromandibular
Hinds dan Birroti pertama kali menerangkan pendekatan lekatan
retromandibular pada tahun 1967. Pada dasarnya pendekatan ini merupakan variasi
dari pendekatan submandibular kecuali incisinya kurang lebih 3 cm, diatas incisi
submandibular (Gambar 4) (Fonseca, 1999).
Incisinya juga digambarkan mengikuti sudut mandibula. Incisinya dibuat
untuk memasuki parotis, masseter dan fascia cervicalis bagian dalam. Pemisahan lalu
meluas ke anterior, melalui fascia cervicalis yang lebih dalam dengan menggunakan
stimulus otot. Insisi ketulang melewati muskulus masseter biasanya diantara margin
mandibular dan cabang buccal dari nervus facialis. Otot dan perios diinsisi melewati
sudut termasuk batas inferior. Jaringan lunak dan nervus kemudian ditarik ke
superior. Incisi ini memperlihatkan akses superior dari ramus dan regio subkondilus
mandibula.

Pendekatan Preauricular
Insisi ini digunakan untuk melihat daerah TMJ dan dengan mudah diperluas
melewati daerah temporal. Pada insisi ini ditemukan pembuluh darah temporalis
superfisialis, yang dapat dihindari dengan menginsisi sepanjang cartilago
preauricular. Insisi dibuat kira-kira sepanjang 2,5 3.5 cm pada daerah lipatan

20
preauricular. Lipatan preauricular didapat dengan menekan telinga dan tragus ke
depan. Insisi dibuat 45 pada zygoma dari arah superior telinga ke arah inferior
perlekatan antara dagu dan telinga (Gambar 5)(Fonseca, 1999).

1. Akses Intra Oral (Fonseca, 1999)


Simpisis dan Parasimpisis
Perawatan fraktur anterior mandibula dapat melalui incisi intraoral. Pertama
dilakukan anestesi
dengan lokal anestesi
dan vasokonstriktor.
Bibir ditarik dan
dibuat insisi
curvilinear tegak lurus
permukaan
mukosa. Musculus
mentalis terlihat dan
harus diinsisi tegak
lurus dengan tulang meninggalkan flap dari perlekatan otot ke tulang untuk penutupan
(Gambar 6).

Pemotongan diteruskan ke arah subperiosteal untuk mengidentifikasikan mental


neurovascular borde dibawah premolar kedua maka daerah fraktur terlihat. Setelah

21
selesai perawatan fraktur muskulus mentalis dijahit dengan jahitan terputus. Mukosa
lalu ditutup, dan penggunaan adhesif bandage pada dagu untuk mendukung musculus
mentalis.

- Pengawatan gigi-gigi (dental wiring) kemungkinan dapat :


(a) langsung atau (b) eyelet
- Bar lengkung
- Splint
b). Fiksasi langsung pada tulang
- Pengawatan lintas tulang kemungkinan dapat (a) pengawatan pada batas atas
atau (b) pengawatan batas bawah
- Pemasangan plat tulang
- Fiksasi pin eksternal
- fiksasi lintas dengan kawat Kirschner

6) Perawatan Lanjut
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien setelah dilakukan fiksasi
yaitu :
1. Pengawasan umum
Pasien yang telah mengalami trauma dan dirawat rumah sakit harus diperiksa
secara hati-hati, fiksasi harus dicek agar dapat melihat jangan sampai alat
fiksasi lepas dan fraktur diperiksa untuk memastikan akan diperolehnya
kemajuan memuaskan.
2. Postur
Pasien akan merasa lebih nyaman jika berada dalam posisi duduk dengan dagu
kearah depan dengan syarat tidak ada kontraindikasi terhadap postur ini.
Pasien keadaan koma atau kesadaran menurun paling baik ditidurkan pada
bagian sisinya sehingga air ludah dan darah dapat dikeluarkan melalui mulut.
3. Pencegahan Infeksi
Untuk pencegahan infeksi sebaiknya pasien diberikan antibiotic. Jika
penyembuhan berjalan baik antibiotic dapat diberikan 5 hari sesudah
dilakukan imobilisasi.
4. Kesehatan mulut
Kesehatan mulut yang dilakukan secara efektif merupakan hal penting dalam

22
mencegah infeksi. Pasien yang sadar hendaknya diberikan pencuci mulut
setiap kali sesudah makan. Dan bagi pasien dengan imobilisasi cara
pengawatan dapat menjaga fiksasi tetap bersih dengan menggunakan sikat
gigi.
5. pemberian makanan
Pada pasien yang dengan imobilisasi intermaksillaris diberikan diet yang
dihaluskan. Rata-rata pasien kehilangan berat badan 15 20 pon jika
dilakukan fiksasi maksillaris selama 4 6 minggu. Sedangkan dengan fiksasi
plat dapat diberikan diet normal

23
8. KOMPLIKASI

Secara umum komplikasi yang terjadi setelah perawatan fraktur mandibula adalah
sebagai berikut (Peterson, 1998):
Terjadinya infeksi bila:
- Tindakan debridemen yang kurang sempurna dan sterilisasi yang kurang
baik
- Pemberian obat-obatan yang kurang adekuat
- Pasien yang kurang koopertif
- Penyebaran infeksi dari jaringan sekitarnya
Non Union yaitu tidak bersambungnya ujung-ujung tulang yang fraktur karena :
- Fragmen-fragmen tulang tidak ditahan dengan rigid
- Fraktur dibiarkan terlalu lama
- Alat Fiksasi terlalu cepat dibuka
- Adanya jaringan lunak, serat oto, jaringan fibrous diantara fragmen tulang
- Gangguan sistemik atau penyakit kronis
Mal union yaitu terjadinya penyembuhan tulang yang tidak dalam hubungan anatomis
normal yang disebabkan karena:
- Reposisi yang kurang baik
- fiksasi yang kurang baik
- Alat fiksasi yang terlau cepat dibuka
Delayed union yaitu keterlambatan penyembuhan karena:
- Adanya interposisi diantara jaringan lunak diantara fragmen
- Fiksasi yang kurang baik
- Kurangnya reparatif vital dari tubuh karena gangguan sistemik
Trismus karena adanya fibrosis atau disfungsi atropi dari otot-otot pengunyahan.
o Kerusakan syaraf yang bisa disebabkan karena trauma yang hebat pada waktu
kecelakaan atau terputusnya syaraf oleh fragmen tulang.

24
25
26
BAB III PENUTUP

1. KESIMPULAN

Mandibula merupakan tulang yang berperan kompleks dalam penampilan estetis wajah
dan oklusi fungsional. Karena letaknya yang menonjol, mandibula menjadi tulang wajah
yang paling umum mengalami fraktur. Fraktur mandibula dapat disebabkan oleh trauma
maupun proses patologik.
Tanda klinis utama fraktur mandibula adalah rasa nyeri, perdarahan, trismus, gangguan
oklusi, gerakan abnormal, krepitasi tulang, dan mati rasa pada bibir bawah dan pipi.
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan radiologis.
Penatalaksanaan fraktur mandibula terdiri atas perawatan pendahuluan dan perawatan
defenitif. Hal yang diperhatikan pada perawatan pendahuluan, adalah primary survey, yaitu
airway, breathing, circulation, sedangkan perawatan defenitifnya terdiri atas reduksi terbuka
atau reduksi tertutup, imobilisasi dan fiksasi.

2. SARAN

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dari proses pembuatan makalah ini,

Olehnya itu kami berharap pembaca dapat memberikan saran yang membangun guna

pengembangan ilmu pengetahuan secara akurat.

27
DAFTAR PUSTAKA

- http://dubrit.blogspot.com/2013/01/fraktur-mandibula-makalah.html
di akses pada tanggal 07 january 2014 pkl 19.23
- Pederson,Gordon.1996.buku ajar praktis Bedah Mulut.Jakarta:EGC\
- http://www.bedahmulut.ariirnawan.com di akses tanggal 09 January pkl 21.20
- http://dentistlove.blogspot.com di akses tanggal 09 january pkl 22.05
- http://www.bedahmulut.ariirnawan.com di akses tanggal 09 january pkl 22.21

28
LAMPIRAN

29
30
31
32
33