Anda di halaman 1dari 47

PENERAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN ON JOB TRAINING

DI JATIMAS ESTATE

PT. JAYA MANDIRI SUKSES

(MAKALAH)

Oleh:

Teguh Setiawan

22 / FAT 14

DEPARTEMEN TRAINING CENTER

BATU BULAN ESTATE

EAGLE HIGH PLANTATIONS

KALIMANTAN SELATAN
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Training Center memiliki misi untuk menciptakan lulusan yang berkompetensi, memiliki

keunggulan kompetitif, departemen yang berperan dalam pembinaan kepribadian dan mental

manusia yang mengarah pada peningkatan daya pikir manusia dan penguasaan ilmu dan

teknologi. Untuk menghadapi hal tersebut maka diadakan kegiatan On Job Training (OJT)

bagi trainee yang bersifat intrakurikuler.

Kegiatan On Job Training ini merupakan sarana bagi trainee untuk dapat menerapkan teori-

teori yang didapatkan selama di bangku kuliah dan kelas training center serta juga sebagai

pengalaman kerja yang dapat melatih trainee untuk menemukan masalah-masalah yang

dihadapai di lapangan dan mencari jalan pemecahannya. Selama berlangsungnya kegiatan On

Job Training (OJT) ini, trainee tidak membatasi aktivitasnya berdasarkan latar belakang

disiplin ilmunya. Ini dimaksudkan untuk membiasakan trainee untuk bekerjasama dalam

sebuah tim, baik antar sesama peserta maupun dengan staff di lapangan dengan latar belakang

ilmu yang berbeda.

Dengan diciptakan pola seperti ini diharapkan trainee akan terbiasa untuk mampu beradaptasi

di lingkungan baru, dan mengurangi egoisme bahkan organisasi yang dilatar belakangi

disiplin ilmu berbeda. Kegiatan On Job Training (OJT) ini juga dirancang agar trainee bisa

mempraktikkan dan mendalami setiap aktivitas di unit-unit kegiatan usaha di lapangan.

Perkebunan kelapa sawit saat ini merupakan salah satu bidang usaha yang sangat berprospek

tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kegiatan pembukaan lahan perkebunan kelapa

sawit di berbagai lokasi di tanah air, khususnya daerah Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Kelapa sawit merupakan usaha yang sangat menjanjikan karena dapat digunakan sebagai

bahan baku berbagai produksi seperti, minyak goreng, margarine, bahan industri tekstil,

farmasi, kosmetika, sabun, gliserin, sepatu boot, dan sebagainya.

Eagle High Plantation sebagai perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit

termasuk salah satu perusahaan besar yang bergerak di bidangnya. Perusahaan ini telah

memiliki cukup banyak anak perusahaan, sehingga menyebabkan perusahaan ini maju dan

berkembang menjadi perusahaan multi agrobisnis. Dengan prospek perusahaan yang

demikian, diharapkan dalam kegiatan On Job Training (OJT) ini dapat memperoleh ilmu dari

dunia perkebunan kelapa sawit.

PT. Jaya Mandiri Sukses merupakan salah satu anak perusahaan dari Eagle High Plantation

yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Bidang kegiatan yang dilakukan meliputi

kegiatan budidaya dan pengolahan bahan mentah menjadi setengah jadi. Perusahaan ini

terbagi menjadi lima Estate yaitu Jatimas Estate (JMSE), Gaharu Estate (GHRE), Trembesi

Estate (TRBE), Angsana Estate (ASNE), Kulim Estate(KLIE) dan Bengkirai Estate (BKRE).

B. Tujuan On Job Training (OJT)

Tujuan umum kegiatan On Job Training (OJT) trainee ini antara lain :

1. Merupakan upaya penyelarasan antara status pencapaian pembelajaran di Training

Center dengan dinamika perkembangan kegiatan usaha di sektor pertanian.

2. Strategi peningkatan kompetensi lulusan, kegiatan On Job Training (OJT) trainee

sebagai usaha mendapatkan lulusan yang mempunyai kesiapan mental dan memiliki

bekal pengetahuan yang cukup.


3. Meningkatkan pemahaman kepada trainee mengenai hubungan antara teori dan

penerapannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga dapat menjadi

bekal bagi trainee dalam terjun ke masyarakat dan dunia kerja setelah lulus.

4. Trainee memperoleh pengalaman dan sikap yang berharga dengan mengenali

kegiatan-kegiatan di lapangan kerja yang ada di bidang pertanian secara luas.

5. Trainee memperoleh keterampilan kerja dan pengalaman kerja yang praktis yaitu

secara langsung dapat menjumpai, merumuskan serta memecahkan permasalahan

yang ada dalam kegiatan di bidang pertanian.

Tujuan khusus kegiatan On Job Training (OJT) ini adalah untuk meningkatkan pemahaman

antara teori dan aplikasi lapangan mengenai budidaya, pengelolaan pasca panen dan

pemasaran produk hasil olahan kelapa sawit. Selain itu, melalui kegiatan On Job Training

(OJT) ini trainee akan memperoleh keterampilan dan pengalaman kerja dalam merumuskan

dan memecahkan permasalahan yang ada di lapangan.

Melalui kegiatan ini akan memberikan dampak terhadap peningkatan aspek-aspek yang

berkaitan dengan pengembangan sikap dan dapat melatih kepekaan mengidentifikasi

permasalahan dan mencari alternatif solusi melalui pendekatan lintas disiplin ilmu guna

meningkatkan kemampuan intelektualnya.

3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan On Job Training (OJT) trainee ini dilaksanakan di Jatimas Estate, PT. Jaya Mandiri

Sukses, Desa Leka, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan

Timur, dari tanggal 2 Agustus 2015 17 Oktober 2015.


II. ISI

A. Profil Jatimas Estate PT. Jaya Mandiri Sukses, Kalimantan Timur

Jatimas Estate PT. Jaya Mandiri Sukses terletak di Kecamatan Muara Muntai Kabupaten

Kutai Kartanegara Kaltim. Wilayah kebun Jatimas Estate terletak di Kecamatan Muara

Muntai. Jatimas Estate memiliki wilayah dengan luas areal sebesar 2.146 Ha areal

perkebunan yang terdiri dari 3 divisi, yaitu :

- Divisi 1 : ( 743,33 Ha)

- Divisi 2 : (790,09 Ha)

- Divisi 3 : (612,63 Ha)

1. Struktur Organisasi Jatimas Estate

Jabatan dan Pekerjaan

Estate Manager (EM)

Merupakan jabatan tertinggi dalam sebuah estate, EM membawahi satu kebun yang terdiri

dari beberapa rayon dan divisi. EM merupakan pimpinan tertinggi di kebun tersebut. EM

bertanggung jawab penuh terhadap RC (Regional Controller) mengenai kondisi kebunnya.

Fungsi EM :

1. Bertanggung jawab penuh terhadap estate yang dipimpinnya.

2. Melakukan kebijakan dari RC.

3. Mengawasi dan memeriksa kegiatan administrasi dan operasional kebun yang telah

diinstruksikan.
4. Memeriksa dan menyetujui anggaran yang dibuat oleh asisten kepala dan asisten

divisi.

5. Memberikan petunjuk teknis dan non teknis terhadap asisten kepala dan asisten divisi.

Asisten Divisi

Bertanggung jawab terhadap EM terhadap divisinya. Tugas asisten divisi adalah :

1. Mengatur pemakaian budget/anggaran biaya divisi secara efisien dan efektif.

2. Melaksanakan tugas administrasi dan operasional di divisi sesuai dengan ketentuan

yang berlaku.

3. Mengelola SDM serta fasilitas divisi secara efektif dan efisien.

4. Memimpin lingkaran pagi.

5. Memeriksa BKM, kehadiran karyawan baik SKU maupun BHL.

6. Membuat reservasi/bon permintaan barang sesuai kebutuhan di lapangan.

7. Memeriksa dan menandatangani lembur karyawan.

Kepala Tata Usaha / KTU

Membantu estate manager dalam hal pengelolaan administrasi estate, keuangan dan

kepersonaliaan estate. Membantu dan memeriksa rencana anggaran kerja bulanan, triwulan

dan tahunan. Memeriksa dan menyetujui reservasi yang dibuat oleh asisten, membuat

permintaan pembelian berdasarkan permintaan dari asisten, membuat PO atau STO untuk

permintaan barang ke unit lain, posting data jurnal atau voucher, merekap PDO yag dibuat

asisten, dan memeriksa untuk pembayaran upah SKU dan BHL.


Mandor

Pekerjaan utama mengawasi pekerjaan dan bertanggung jawab atas terlaksananya pekerjaan

yang menjadi pengawasannya. Mandor tersebut terdiri dari :

1. Mandor 1, merupakan koordinator mandor lapangan, membantu asisten dalam hal

supervisi dan pengkoordinasian pekerjaan rutin.

2. Mandor panen, mengkoordinir anggota regunya untuk melakukan kegiatan panen

kelapa sawit dan pengendalian aspek lingkungan di lapangan.

3. Mandor perawatan, bertanggung jawab dalam supervisi kegiatan di luar kegiatan

produksi seperti semprot pasar pikul dan piringan, pemupukan, dongkel anak kayu,

tunas pokok dan rawat jalan.

Krani Divisi

Tugas Krani Divisi adalah :

1. Bertugas membantu asisten divisi dalam administrasi divisi.

2. Input data berdasarkan Buku Kegiatan Mandor (BKM), Buku Potong Buah (BPB) dan

Buku Kutib Brondol (BKB).

3. Input payroll, Stock barang divisi.

4. Membuat laporan monitoring produksi dan perawatan.

5. Mengarsipkan Rencana Kegiatan Harian (RKH), Buku Kegiatan Mandor (BKM),

daftar upah BHL/SKU dan kegiatan administrasi lainya.

Krani Panen

Merupakan pembantu asisten divisi dalam kegiatan produksi. Tugas yang dilaksanakan

mengisi buku potong buah sesuai hasil panen masing-masing pekerja. Pengisian data secara
detail tahun tanam, blok, TPH, jumlah hasil panen dan denda. Menandatangani buku potong

buah dan membuat SPB.

Krani Transport

Melakukan koordinasi dan pengawasan transport TBS di TPH guna terangkut ke PKS,

mengisi surat pengantar buah (SPB) ke PKS dan membuat laporan pengiriman TBS sesuai

hasil SPB dan kartu timbang dari PKS. Krani Transport berkewajiban dan memastikan TBS

yang terpanen hari itu terangkut semua dan sesegera mungkin dikirim ke PKS.

Karyawan

Merupakan semua orang yang terlibat dan terikat secara resmi dalam suatu hubungan kerja

dengan perusahaan, yang dibagi atas staff dan non staf. Karyawan non staf terikat dalam

perjanjian kerja atau SKU. Syarat Kerja Umum (SKU) adalah perjanjian kerja yang dibuat

oleh perusahaan dengan serikat pekerja perkebunan untuk karyawan harian tetap dan bulanan

yang berdomisili di perkebunan milik perusahaan atau yang mempunyai perjanjian

pengelolaan dengan perusahaan.

Keadaan Sumber Daya Manusia

Keadaan sumber daya manusia di kebun Jatimas Estate pada umumnya terdiri dari:

Buruh Harian Lepas (BHL)

Yaitu karyawan tidak tetap dan tidak memiliki ikatan kontrak dengan perusahaan yang

umumnya berasal dari perkampungan di sekitar kebun dan karyawan yang ada didalam

kebun. Sistem pengupahan disesuaikan dengan UMP (Upah Minimum Provinsi).


Karyawan SKU

Yaitu karyawan yang mempunyai ikatan hubungan kerja dengan perusahaan. Syarat Kerja

Umum (SKU) adalah perjanjian kerja yang dibuat oleh perusahaan dengan serikat pekerja

perkebunan untuk karyawan harian tetap dan bulanan yang berdomisili di perkebunan milik

perusahaan atau yang mempunyai perjanjian pengelolaan dengan perusahaan. Mereka

umumnya berasal dari daerah sekitar kebun dan pendidikan mereka rata-rata tamatan SMP

dan SMU.

Staff

Yaitu orang yang memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan perkebunan. Pendidikan

pada umumnya adalah sarjana (strata 1), juga sudah dibekali dengan berbagai pelatihan dan

training dari perusahaan.

Profil

Jatimas Estate dengan luas 2146 ha, terbagi atas tiga divisi dengan masing-masing luasan

yaitu divisi satu 743,33 ha, divisi dua 790,04 ha, dan divisi tiga 612,63 ha. Terbagi atas

beberapa tahun tanam yaitu tahun tanam 2005 seluas 114,96 ha, tahun tanam 2006 seluas

1052,89 ha, tahun tanam 2007 seluas 690,5 ha, tahun tanam 2008 seluas 77,83 ha, tahun

tanam 2009 seluas 66,01 ha, dan tahun tanam 2011 seluas 143,81 ha.

Jabatan dan staff yang ada di Jatimas Estate, yaitu :

1. Estate Manajer : Ahmad Johan

2. Asisten Kepala :-

3. Asisten Divisi : M. Pane, Yuono, Goklas Sianipar

4. Mandor 1 : Johan, Ramli, Junaidi


5. Mandor Panen : Roni, Jumadil

6. Mandor Perawatan : Eet Anwar, Lucas Bily, Iskandar

7. Krani Transport :-

8. Krani Panen : Jailani, Aziz

9. Krani Divisi : Nopi, Riska, Amilia

Inventarisasi yang ada di Divisi :

Almari : 1 buah

Meja : 2 buah

Kalkulator : 2 buah

Kursi : 2 buah

White Board : 3 buah

Radio Panggil (HT) : 1 buah

Trisula : 5 buah

Tangki semprot (Kap) : - buah

B. Jenis Kegiatan yang Dilakukan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama On Job Training (OJT) di Jatimas Estate PT. Jaya

Mandiri Sukses dari tanggal 2 Agustus 2015 17 Oktober 2015 adalah sebagai berikut :

1. Managerial

Merupakan kegiatan untuk mengkoordinasi setiap jenis kegiatan atau pekerjaan kepada

seluruh komponen yang terlibat dalam setiap kegiatan tersebut, sehingga jalannya suatu

kegiatan dapat terkontrol dengan baik dan pekerjaan berjalan lancar.

1. Memimpin check roll pagi (Lingkaran pagi)


Lingkaran pagi merupakan kegiatan yang pertama kali harus dilakukan seorang asisten divisi

dan mandor I untuk memimpin jalannya evaluasi hasil kerja hari kemarin dan

mengkoordinasikan pekerjaan yang akan dikerjakan hari itu kepada mandor panen, mandor

perawatan, karani panen, dan krani transport. Kegiatan ini dilakukan setiap hari mulai pukul

05.15 WIB selama hari kerja pada kantor divisi. Pada kegiatan ini asisten divisi

menyampaikan instruksi yang diberikan oleh atasan baik oleh Asisten Kepala, Estate

Manager maupun oleh pimpinan tertinggi lainnya. Pada lingkaran pagi juga dilakukan

evaluasi hasil kerja hari sebelumnya, prestasi kerja yang dicapai, kendala yang ditemui di

lapangan, mendengar masalah-masalah yang mandor hadapi di lapangan dan memberikan

masukan serta penjelasan tentang pekerjaan yang akan dilakukan. Setelah itu kegiatan

dilanjutkan dengan pembagian kerja dan jumlah tenaga yang dibutuhkan, kemudian

dilanjutkan dengan absensi karyawan serta pembagian tenaga dan penjelasan kegiatan yang

akan dilakukan.

2. Pengawasan pekerjaan lapangan

Pengawasan pekerjaan di lapangan dilakukan oleh semua asisten, semua mandor dan krani.

Apabila terjadi suatu kesalahan dalam pekerjaan maka mereka wajib memberi teguran dan

menjelaskan cara yang benar dalam melakukan pekerjaan itu. Pengawasan meliputi,

melaksanakan instruksi kerja hari ini terlaksana dengan baik, memastikan jam kerja efektif,

dan mengetahui dan menyelesaikan berbagai kendala di lapangan.

3. Hubungan sosial ke masyarakat sekitar kebun

Dalam melaksanakan pekerjaan di lapangan asisten dan semua mandor dan krani panen harus

selalu bersikap tegas dengan semua pekerja walaupun yang ditemui itu adalah tetangga

sendiri atau saudara sendiri. Apabila di luar lingkungan kerja kita harus menjaga rasa
kekeluargaan dan kebersamaan sehingga tercipta suasana yang harmonis. Dengan terciptanya

suasana demikian, maka dalam lingkungan kerja pun akan selalu terjaga keharmonisan,

sehingga akan menimbulkan semangat kerja yang berujung pada prestasi kerja yang

memuaskan dan minimalnya konflik yang terjadi.

4. Koordinasi dengan Rekan Sejawat, Atasan, dan Bawahan

Koordinasi sangat perlu dilakukan sebab akan mendukung kesesuaian komunikasi yang

berasal dari atasan hingga bawahan. Dengan adanya koordinasi ini maka akan meminimalisir

terjadinya kesalahan-kesalahan penyampaian informasi. koordinasi yang baik melaluin proses

interaksi dan komunikasi yang efektif sehingga tidak menimbulkan suatu ambigu atau

kerancuan.

2. Administrasi Divisi

Administrasi merupakan kegiatan yang berhubungan dengan surat-surat yang mendukung

kelancaran tugas-tugas lapangan. Beberapa laporan yang ada dan dikerjakan di kantor divisi,

meliputi :

1. Program kerja divisi (PKD)

Program kerja divisi ini dibuat oleh asisten divisi setiap tahunnya setelah ada budget yang

ditetapkan. Laporan ini berisi mengenai semua jenis kegiatan yang direncanakan selama 1

tahun anggaran yang dibuat pada akhir tahun dan harus mendapatkan persetujuan Askep, EM,

dan RC.

2. Permintaan dana operasional (PDO)


Dibuat oleh asisten divisi yang didasarkan atas rencana kerja bulanan (RKB). Laporan ini

terbagi atas 4 bagian, yaitu jumlah HK, penggunaan barang, produksi dan perawatan

tanaman.

3. Rencana kerja bulanan (RKB)

Merupakan pleksanaan atau penterjemahan berbagai jenis kegiatan yang berdasarkan PKD.

Dari PKD yang telah disetujui, maka semua jenis kegiatan tersebut dibagi berdasarkan

kepentingan kegiatan, waktu pelaksanaan, dan ketersediaan bahan atau barang. Laporan ini

juga harus mendapatkan persetujuan dari Askep dan EM.

4. Rencana kerja harian (RKH)

Merupakan rencana kegiatan yang akan dikerjakan keesokkan harinya. RKH ini dibuat oleh

asissten divisi yang secara berisi tentang rencana kegiatan untuk keesokkan harinya. RKH

berisi tentang no perkiraan, jenis pekerjaan, blok (no dan luas), volume kerja (jumlah dan

unit), HK, bahan (nama, jumlah, dan satuan) dan nama pengawasnya.

5. Memorial

Merupakan laporan yang dibuat kerani divisi yang berasal dari rekapan atau kumpulan LPT

selama satu bulan (dibuat akhir bulan) yang berisi tentang tahun tanam, HK (no dan luas),

jenis kegiatan, upah (satuan dan total), prestasi dan pemakaian bahan

6. Buku kegiatan mandor (BKM)

Buku kegiatan mandor ini harus dibuat oleh masing-masing mandor (mandor 1, mandor

panen, mandor brondol, dan mandor perawatan). buku ini berisi mengenai jenis pekerjaan,

jumlah HK, hasil kerja (jumlah dan unit), tahun tanam, blok (luas dan nomor), pemakaian
bahan (nama bahan, jumlah dan unit). Didalamnya juga berisi tentang: nama karyawan,

satuan, absensi, unit, prestasi kerja. Buku ini harus diperiksa oleh mandor 1. Dengan adanya

buku kegiatan mandor ini maka kita dapat mengontrol adanya pekerjaan tertentu (perawatan

tanaman) dan jumlah tenaga kerjanya.

7. Laporan pemeliharaan tanaman (LPT)

Laporan ini merupakan pemindahan data yang diperoleh dari BKM. Data dari BKM yang

dipindahkan ke LPT hanya data mengenai kegiatan yang dibayar secara harian maupun

borongan, misalnya pembuatan pungguhan, perawatan jalan, wiping lalang, dongkel anak

kayu, dan pemeliharaan tanaman lainnya yang khusus dibayar harian pekerjanya. Laporan ini

berisi mengenai: tahun tanam, blok (nomor dan luas), jenis pekerjaan, hasil kerja, hari kerja

(HK), dan pemakaian bahan (nama bahan, satuan,dan Hi). Laporan ini harus dibuat oleh

asisten, melalui krani divisi dan disetujui oleh Askep (asisten kepala).

8. Laporan pemungutan buah kelapa sawit (LPBKS)

Laporan pemungutan buah kelapa sawit merupakan laporan yang berisi pemindahan data dari

buku ancak panen dan buku potong buah. LPBKS didalamnya berisi informasi mengenai

tahun tanam, blok yang di panen (nomor dan luas), jumlah panen hari ini (janjang, jumlah

Kg, BJR), panen sampai dengan hari ini (HK, janjang, Kg.Of, BJR, pusingan, dan luas).

Dalam laporan ini juga ada rekapitulasi panenan per tahun tanam. Laporan ini dibuat oleh

asisten divisi, melalui krani divisi dan disetujui oleh Askep.

9. Buku inspeksi panen

Buku inspeksi panen ini berisi tentang tahun tanam, blok, jam, jumlah pohon inspeksi,

perhitungan sensus, jumlah sensus. Rumus untuk inspeksi panen ini adalah janjang rusak
dibagi jumlah janjang yang dipanen dikali 100%. Inspeksi panen ini dapat digunakan untuk

mengetahui jumlah buah yang rusak atau tandan kosong. Buku ini juga berisi mengenai

kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam panen kelapa sawit. Beberapa kesalahan yang catat

antara lain, jumlah pohon yang dipanen tidak dikutip brondolan, jumlah janjang yang layak

panen tapi tidak dipanen, jumlah buah mentah yang dipanen, jumlah buah dengan tangkai

panjang, bunga matahari, pelepah sengkleh, pokok under prunning, dan pokok over prunning.

10. Laporan pengiriman buah (LPB)

Merupakan laporan yang berisi pemindahan data dari SPB (surat pengiriman buah). Laporan

ini harus dibuat oleh asisten divisi, yang di dalamnya berisi: nomor urut, nomor SPB, nomor

polisi truck (pengangkut buah), tahuntanam, nomor blok yang dipanen, jumlah janjang, dan

timbangan off netto(kg). Apabila laporan untuk hari ini sudah dibuat, maka harus dibuat

rekapitulasi pengiriman buah, dimana kolom tabelnya jadi satu dengan LPB. Rekapitulasi ini

berisi mengenai pemilik kendaraan yang mengangkut buah (SKU/mobil kebun atau

kontraktor). Dalam rekapitulasi ini juga berisi total pengiriman yang dilakukan oleh truck

pengangkut hari ini dan total trip sampai dengan hari ini.

11. Buku potong buah

Buku potong buah ini dibuat oleh krani panen yang didalamnya berisi mengenai nama

pemanen, tahun tanam, blok, janjang di TPH, buah normal, salah panen (M = buah mentah, T

= tangkai panjang, L = buah tidak disusun di TPH, G = buah matahari, dan P = pelepah

sengkleh), sampah, pendapatan netto, dan basis.

12. Buku kutip brondolan


Buku ini dibuat oleh mandor brondol, yang berisi tentang nama pengutip, blok, jumlah

brondolan di TPH, hasil (kg), premi lebih, denda kesalahan (T = tinggal, K = kotor, dan L =

tidak beralas), premi rajin dan sisa premi atau pengawas. Buku kutib brondolan ini kemudian

digunakan untuk menghitung upah pengutip yang dimasukkan dalam daftar upah

pembrondol.

13. Surat pengantar buah (SPB)

Surat pengantar buah ini dibuat oleh krani panen yang di dalamya berisi mengenai identitas

kendaraan pengangkut (no polisi kendaraan), nama penegendara, jumlah janjang (berat

seluruh buah), berat brondolan, PKS yang dituju. Surat ini harus dibuat setiap akan

melakukan pengiriman buah, dimana setiap 1 truk pengangkut harus disertai surat ini.

14. Rotasi (pusingan) panen

Buku ini berisi mengenai data pelaksanaan panen yang harus diisi setiap ada kegiatan panen,

sehingga akan diketahui jangkauan luasan (blok) panen setiap kali panen dan mengetahui

rata-rata rotasi serta pusingan setiap bulan. Pusingan normal 6-7 hari/rotasi.

15. Daftar absensi karyawan BHL/SKU

Daftar absensi ini dibuat oleh masing-masing mandor, meliputi mandor 1, mandor

brondol,dan mandor perawatan. Data dari masing-masing mandor itu kemudian direkap oleh

karani divisi. Daftar ini berisi mengenai absensi atau kehadiran dari pekerja setiap hari

adanya pekerjaan. Dengan diketahuinya jumlah pekerja yang hadir, maka dapat ditentukan

jumlah HK dari masing-masing pekerja. Setelah dibuat oleh mandor maka daftar ini disetujui

oleh asisten divisi bila telah sesuai.


3. Pemeliharaan (Up Keep)

A. Jalan dan Jembatan

Jalan dan jembatan merupakan akses utama yang menunjang kelancaran seluruh aktifitas

perkebunan terutama dalam hal trasportasi pengankutan TBS. Berikut adalah jenis dari jalan

dan jembatan :

1. Main Road (MR)

Jalan yang memiliki arah Timur-Barat jalan ini memiliki panjang kurang lebih 300 meter

dengan lebar 9 meter. Biasanya di tepi jalan anatara perbatasan jalan dengan blok di pisahkan

oleh parit Main Drain (MD)

2. Collection Road (CR)

Jalan yang memiliki arah Utara-Selatan jalan ini memiliki panjang kurang lebih 1000 meter

dengan lebar 7 meter. Biasanya di tepi jalan anatara perbatasan jalan dengan blok di pisahkan

oleh parit Collection Drain (CD). Jalan ini juga berfungsi sebagai pemisah antar blok karena

jalan CR terletak diantara blok.

3. Key Road

Key Road atau di sebut jalan kunci karena jalan ini adalah jalan yang mudah atau sering

dilalui untuk evakuasi TBS menuju PKS.

4. Accses Road
Jalan yang menghubungkan kebun menuju jalan negara/ jalan raya. Pada daerah plasma jalan

ini merupakan jalan utama desa yang biasa digunakan masyarakat untuk mobilitas sehari-

hari.

5. Jalan pikul

Jalan pikul atau juga disebut pasar pikul merupakan jalan yang berbentuk lorong tiap blok

biasanya terletak setiap dua baris pokok sawit. Jalan ini merupakan jalan yang di gunakan

pemanen untuk mengeluarkan TBS dari dalam kebun ke TPH.

6. Gorong-gorong

Gorong-gorong merupakan saluran air yang berguna untuk mengalirkan air dari dalam ke luar

atau sebaliknya. Gorong-gorong berbentuk silinder beton dengan diameter bevariasi antara

30-100 cm dan panjang 1 meter.

7. Titi panen

Tujuan pemasangan pembuatan dan pemasangan titi panen adalah untuk menunjang aktivitas

panen dan pekerjaan lain (perawatan tanaman). Alat-alat yang digunakan untuk kegiatan

pemasangan titi panen yaitu tali tambang, pikulan (kayu bambu) ukuran 2 2,5 m. Beberapa

ukuran titi panen : 2, 4, 6, 8, dan 12 m.

Dasar penentuan jumlah dan ukuran titi panen :

1. Pemasangan titi panen pada parit di tengah blok dibuat setiap jalan rintis.

2. Pemasangan titi panen di pinggir CR yang ada paritnya diberikan setiap TPH, dengan

asumsi 3 jalan rintis 1 TPH.


3. Panjang titi panen disesuaikan dengan lebar parit dengan menambah 30 cm pada

masing-masing tepi parit.

B. Drainase

1. Field drain atau parit rajangan, parit yang mengalirkan air dari dalam blok ke

collection drain dengan ukuran 1 x 1 x 0,75 m. Arah Timur-Barat parit ini pada

umumnya berada di dalam blok untuk mengalirkan keluar air yang mengenangi blok.

Field drain ini dibuat dengan perbandingan 1 : 16, 1 : 8, 1 : 4 dan 1:2 dari jalur tanam.

2. Collection drain, parit yang mengumpulkan air dari field drain dengan ukuran 3 x 3 x

2,5 m letaknya sejajar dengan CR. Dengan arah Utara-Selatan.

3. Main drain, parit yang mengumpulkan air dari collection drain dengan ukuran 4 x 4 x

3 m dan letaknya sejajar dengan main road (MR).

4. Outlet drain, merupakan parit yang mengumpulkan air dari main drain dan

mengalirkannya ke sungai dengan ukuran 6 x 3,5 x 2,5 meter.

Perawatan Parit

Perawatan parit yang dilakukan adalah pekerjaan buang rumput. Buang rumput ini diartikan

sebagai kegiatan mencabut dan membabat daerah dinding parit dan pinggir parit (jalan

kontrol di tepi parit) selebar 1 meter dari gulma anak kayu maupun anak sawit. Selain itu,

kegiatan ini juga untuk memindahkan pelepah-pelepah kelapa sawit yang jatuh ke dalam

parit. Tujuan perawatan parit adalah untuk memperlancar aliran air dan untuk membersihkan

parit dari gulma anak kayu dan pelepah-pelepah. Alat yang digunakan adalah parang dan

cangkul.

Konservasi Tanah
Tujuan pembuatan adalah untuk mengantisipasi terendamnya pokok kelapa sawit bila terjadi

luapan air saat musim hujan dan untuk memudahkan panen dan perawatan tanaman kelapa

sawit.

a. Peninggian jalan pikul (pematang)

Pembuatan pematang atau peninggian jalan pikul ini hanya diterapkan di areal rendahan,

sebab areal rendahan ini setiap datangnya musim hujan akan terendam oleh air luapan dari

parit sekitarnya, sehingga akan memudahkan jalannya panen dan perawatan tanaman selama

musim hujan.

b. Pembuatan pungguhan dan tapak kuda

Untuk pembuatan pungguhan budgetnya 3 pungguhan/HK, dengan ukuran jari-jari atas 2m,

ketinggian 1m dan jari-jari bawah 2,3 m. Antara jalan pikul dan pungguhan ini dihubungkan

dengan jalan kecil untuk memudahkan akses menuju pokok tanaman kelapa sawit. Sedangkan

pada daerah dengan kemiringan 130-300 yang tidak memungkinkan dibuat teras kontur

dengan lebar 3 m harus dibuat tapak kuda dengan lebar 2,5 m.

c. Pembuatan atau penebalan stop blok

Bahan yang digunakan antara lain tanah, pelepah atau kayu, dan karung bekas pupuk.

Pembuatan ini dilakukan pada awal musim kemarau, dengan tujuan untuk mencegah

terjadinya kehilangan air akibat adanya rembesan atau kebocoran stok air dalam parit

(CD/MD) dan mempertahankan persediaan air untuk tanaman sawit. Untuk mengerjakan

penebalan stop block ini biasanya dikerjakan oleh 2-3 tenaga kerja. Biasanya untuk CD

(collection drain) membutuhkan sekitar 40-50 sak tanah, sedangkan untuk MD (Main Drain)

membutuhkan kurang lebih 1000 sak tanah. Dalam pembuatannya, ditengah-tengah stop
block diberi alur atau saluran air (over flow) untuk aliran air apabila terjadi luapan air akibat

hujan. Stop block ini dibuat dengan ketinggian yang sama dengan jalan disekitarnya. Apabila

musim hujan tiba maka permukaan air harus diatur pada level 60 70 cm dibawah permukaan

tanah. Ini dapat dilakukan dengan cara flushing, yaitu membuka sebagian tumpukan karung

berisi tanah yang ada di over flow, air keluar dan dipertahankan sampai ketinggian 60 70

cm.

d. Pembuatan Rorak

Tujuan pembuatan rorak adalah untuk menampung air hujan saat musim hujan tiba.

Pembuatan rorak ini dilakukan pada musim kemarau untuk mengantisipasi datangnya musim

hujan dimana kondisi air di lapangan berlebih. Ukuran rorak adalah 1 x 1 x 1m yang terletak

pada gawangan mati dan dibuat setiap 50 m, dengan jarak dari CR 6 8 meter dan dibuat

alur yang menghubungkan rorak dengan parit di CR.

Selain dilakukan secara mekanis, konservasi lahan juga bisa dilakukan dengan menanam

tanaman konservasi. Tanaman yang sering ditanam untuk konservasi lahan adalah kacangan

atau LCC (Leguminoceae Cover Crops). Campuran kacangan adalah Calopogonium

mucuinoides, Pueraria javanica dan Calopogonium caeruleum yang ditambah pospat dengan

perbandingan 6 kg/ha : 3 kg/ha : 0,5 kg/ha : 0,5 kg/ha. Pada areal replanting ditanami MC

(Mokuna coticinensis), MB (Mokuna bracteata) dengan ketentuan 100 gr/ha. Tanaman ini

berfungsi sebagai penutup tanah untuk mengurangi penguapan air tanah atau menjaga

kelembaban tanah, pengikat unsur nitrogen tanah, menghambat pertumbuhan gulma.

C. Maintenance prunning

Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan panen. Pada musim penghujan pelepah

harus timbang air dengan songgo 2 (dua), sedangkan pada musim kemarau hanya pelepah
kering saja yang boleh dipotong dan pemanen berkewajiban mempertahankan pelepah sesuai

standar.

Jumlah Pelepah yang Harus Dipertahankan

Umur Lingkaran Jumlah Rotasi/tahun


Tanaman Pelepah pelepah/pohon

(tahun)
34 8 56 1,0

58 7 48 1,0

9 12 6 40 44 1,3

> 12 5 32 36 1,3

Sumber : Data Sekunder

Penyusunan pelepah dilakukan secara L-shape yakni dengan meletakkan pelepah diantara

pokok dan gawangan mati, pangkal pelepah harus menghadap ke gawangan mati dan

ujungnya menghadap jalan pikul. Hal ini bertujuan untuk mencegah erosi tanah, menjaga

kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma, merangsang pertumbuhan akar, dan

memperlancar kegiatan operasional.

D. Semprot Piringan, Pasar Pikul, Jalan Kontrol dan TPH

Tujuan dari semprot piringan, pasar pikul dan jalan kontrol adalah untuk memberantas gulma

disekitar piringan, pasar pikul, dan jalan kontrol agar mempermudah dalam kegiatan panen

dan pengutipan brondolan, pemupukan, serta memperlancar akses masuk ke dalam blok.

Semprot TPH bertujuan agar TPH bersih sehingga pengutipan brondolan oleh pemuat

(loader) lebih optimal. Semprot piringan, pasar pikul, dan jalan kontrol dilakukan sebanyak 3

rotasi dalam setahun, sedangkan untuk semprot TPH sebanyak 6 rotasi yaitu pada tanggal 1-8

di setiap bulan genap. Peralatan dan bahan yang digunakan adalah kap Solo Sprayer 15,
jerigen, Herbisida Gramoxone (Paraquat dichlorida), Ally 20 WDG (Methyl metsulfuron)

dan Round Up (Glyphosate). Penyemprotan rotasi pertama dan ketiga dilakukan dengan

Gramoxone dosis 250 cc + 12,5 gr Ally, sedangkan penyemprotan rotasi kedua dilakukan

dengan campuran Round Up dan Ally dengan dosis yang sama. Hal ini bertujuan untuk

menghindari resistensi gulma. Yang harus diperhatikan dalam penggunaan alat adalah

kebocoran pada alat sprayer, handle, dan nozzle.

E. Pengendalian UPDKS (ulat pemakan daun kelapa sawit)

UPDKS merupakan hama yang berasal dari Ordo Lepidoptera, yang terdiri dari ulat api

(Limacodidae) dan ulat kantong (Psychidae). Namun, yang sering menyerang tanaman kelapa

sawit adalah ulat api jenis Thosea asigna dan Setora nitens. Tanda-tanda serangannya berupa

daun-daun berlubang, adanya daun yang hampir berlubang (terlihat transparan), dan adapula

pelepah yang tinggal lidinya.

1. Sensus UPDKS

2. Baris sensus

Sensus dimulai dari ujung utara-barat blok menuju ke selatan pada baris ke-3 dan selanjutnya

setiap selang 10 baris (13, 23, 33,dst).

1. Sensus dalam baris tanaman

1. Menentukan 2 titik sensus dalam 1 baris tanaman yang dipisahkan oleh jalan

kontrol, dimana setiap titik sensus dipilih serangan yang paling berat.

2. Mata lima atau dengan melihat 5 pokok tanaman kelapa sawit yang mengelilingi

titik sensus tersebut dan pengamatan pada 3 pokok yang terserang paling berat .

Pada setiap posisi pelepah diamati 1 contoh pelepah yang terserang paling berat, 1
pokok diambil pelepah atas (pelepah 1-9), 1 pokok diambil pelepah tengah (10-25),

dan 1 pokok diambil pelepah bawah (>25).

3. Mencatat pokok tanaman kelapa sawit yang digunakan sebagai titik sample pada

form sensus UPDKS.

4. Setiap pelepah dilihat ukuran larva (besar, sedang, dan kecil), letak larva (pelepah

bagian atas, tengah, dan bawah), dan jumlah larva sehingga dapat diketahui

persentase serangan UPDKS.

5. Laporan sensus

Sensus dilakukan mulai tanggal 1 setiap bulannya dan laporan sensus diterima di kantor

Region tanggal 15 bulan yang sama.

1. Tindakan pengendalian

1. Kutip Pupa

Dilaksanakan setiap sebulan sekali pada awal bulan dan harus sudah selesai 2 minggu

berikutnya (2 minggu pertama) pada blok-blok yang terserang, walaupun hanya sebagian saja

yang terserang. Setiap pekerja harus melakukan kutip pupa dengan alat berupa garukan dan

ember plastik. Cara pelaksanaannya :

1. Mencari pupa (berbentuk bulat berwarna coklat) di bagian pangkal pokok (piringan)

dengan menggunakan garukan.

2. Pupa yang ditemukan kemudian dikumpulkan dalam ember plastik dan kemudian

diletakkan di kantor divisi untuk dilihat waktu menetasnya, sehingga kita mengetahui

kapan waktu yang tepat untuk dilakukan light trap.

3. Hand picking
Merupakan tindakan pengendalian UPDKS yaitu melalui pengambilan secara langsung hama

ulat api yang menyerang pada pelepah sawit.

1. Light Trap

Merupakan tindakan pemerangkapan UPDKS yang berada pada stadia imago (kupu-kupu)

dengan perangkap cahaya lampu. Alat-alat yang digunakan berupa lampu petromak, bauah-

buahan (coklat, pisang, belimbing) yang digantung seperti pancing dan ember plastik yang

diisi air deterjen. Cara melakukannya :

1. Blok-blok yang terserang harus dilakukan light trap total.

2. Jumlah lampu untuk areal mineral per 30 Ha adalah 10 buah (1 lampu = 3 Ha).

3. Jumlah lampu untuk areal gambut per 30 Ha adalah 10 buah.

4. Light trap dihentikan apabila perolehan kupu-kupu rata-rata lebih kecil atau sama

dengan 5 ekor per lampu.

5. Apabila sampai tanggal 25 masih terdapat lebih dari 5 ekor per lampu, maka light trap

dilanjutkan sampai populasi kupu-kupu 5 ekor per lampu.

6. Light trap harus diselesaikan dalam waktu 6 hari untuk semua blok yang terserang

dan satu blok harus dikendalikan minimal 2 rotasi.

7. Melindungi dan melestarikan musuh alami(biologis)

Beberapa jenis musuh alami yang banyak ditemukan antara lain:

Predator : Sycanus Sp, Eocanthecona furcellata, Cantheconidea javana, parasitoid

Spinaria spinator, Chaetexorista javana, Chlorocrypsus purpuratus, Apanteles sp.

Entomopatogen :

1. Bakteri : Bacillus thuringiensis


2. Jamur : Cordiceps militaris, Beauveria bassiana

3. Virus : Nudaurelia, Granulosis virus.

F. Pengendalian Tikus di Tanaman Menghasilkan (TM)

Merupakan hama dari kelompok binatang pengerat, apabila menyerang TM akan

mengakibatkan rusaknya bunga jantan, bunga betina, tandan buah segar (TBS), dan

brondolan yang akan mengakibatkan hilangnya atau menurunnya produksi. Spesies tikus

yang menyerang antara lain adalah Rattus tiomanicus dan Rattus argentiventer.

1. Sistem Sensus Tikus

1. Sensus tikus dilaksanakan setiap bulannya yang dimulai dari tanggal 1.

2. Sensus dilakukan 10 % dari total pokok atau 1 baris per 10 baris tanaman yang

dimulai dari ujung utara-barat blok menuju ke selatan, start dari baris ke-3.

3. Kriteria serangan : serangan yang merusak bunga jantan, buah, brondolan, pada

satu pokok, maka satuan penghitungan serangannya adalah 1 serangan pada 1

pokok.

4. Perhitungan tingkat serangan : jumlah pokok terserang : jumlah pokok sample x

100 %.

5. Sistem pengendalian

Pengendalian dilakukan apabila tingkat serangan tikus berada sama dengan dan diatas

ambang ekonomi ( 5 %).

1. Pengendalian dengan rodentisida (Lamrat)

Kandungan bahan aktifnya adalah Coumarin. Lamrat ini diaplikasikan secara campaign.

Cara melakukan campaign :


1. Campaign dilakukan minimal 3 kali aplikasi, apabila pada aplikasi kedua jumlah

lamrat yang dimakan tikus dibawah 20 %, maka aplikasi dihentikan.

2. Pekerja yang melakukan aplikasi harus menggunakan sarung tangan karet.

3. Pengaplikasian harus urut barisan tanaman dengan Lamrat diletakkan pada tanah

dengan jarak 0,5 meter dari pokok tegak lurus dengan gawangan mati dan diberi tanda

bendera.

4. Aplikasi I : jumlah lamrat 100 % pada blok yang terserang.

5. Aplikasi II : pada hari ke-3 setelah aplikasi pertama, yang dilakukan adalah,

mengganti dan menghitung jumlah lamrat yang hilang atau dimakan tikus.

6. Aplikasi III : dilakukan apabila jumlah lamrat yang hilang pada aplikasi I lebih dari

20 %. Aplikasi dilakukan 3 hari setelah aplikasi ke-2.

7. Aplikasi di daerah banjir maka pemasangan lamrat dilakukan di atas tandan mengarah

kebagian dalam agar tidak jatuh sewaktu dikerat tikus.

8. Pengendalian dengan musuh alami (burung hantu / Tyto alba)

Tata cara penangkaran dan pelepasan Tyto alba di lapangan :

1. Identifikasi Tyto alba jantan dan betina

1. Burung jantan ditandai dari bulu dada berwarna kuning dengan bintik-bintik

hitam, sedangkan betina warna bulu dadanya putih dengan bintik-bintik hitam

2. Ukuran panjang 35 cm berat 500-600 gram, betina lebih berat.

3. Bertelur dan mengeram :

1. Burung akan bertelur pada umur 8 bulan dan biasanya burung bertelur

setiap 2 hari, sebanyak 6-7 telur sekali dan dua kali setahun pada

pertengahan dan akhir bulan.

2. Telur akan menetas setelah 28 hari dierami.


3. Biasanya 5 anak burung seklai menetas dan 9 anak burung per tahun.

Apabila makanan kurang maka anaknya akan dikanibal.

4. Penangkaran dan pemberian makan burung :

1. Anak burung yang ada di lapangan setelah umur 35 40 hari dapat

diambil dan ditangkarkan.

2. Anak burung tersebut diberi makan tikus yang telah dipotong menjadi

4 bagian yang telah dilumatkan tulangnya. Jika belum dapat makan

sendiri maka anak burung perlu disuapi. Jumlah makanan minimal 1

ekor tikus per hari sesuai dengan kebutuhan.

3. Pemberian makanan saat sore hari yaitu jam 4-5.

4. Setelah burung dapat makan sendiri maka tikus cukup dibagi 2

potong. Sesudah burung berumur 3 sampai 4 bulan, tikus tidak perlu

dipotong lagi tetapi sudah mati (tidak dalam keadaan busuk).

5. Burung diberi minuman dengan air bersih yang berukuran besar

karena biasanya burung minum sambil memasukkan tubuhnya.

6. Pemindahan burung dari penangkaran ke gupon di lapangan

1. Burung dapat dipindahkan jika telah berumur 3 sampai 4 bulan,

karena sudah dianggap dewasa dan dapat dipasangkan untuk

dipindahkan ke gupon di kebun.

2. Pada awal pemindahan gupon tidak dibuka selama 15 hari. Pada

waktu ini burung diberi makan minimal 2 ekor tikus setiap hari.

3. Setelah 15 hari gupon dibuka tetapi tetap diberi makan sampai 3

hari untuk antisipasi jika burung hantu belum mampu untuk

mencari tikus sendiri.

4. Kandang gupon di lapangan dan pemeliharaannya :


1. Gupon dipasang setiap 30 ha di pertengahan blok dan diberi

tanda lokasinya di CR. Atau dapat pula dipasang setiap 15

ha, lokasinya satu arah selatan dan satu ke arah utara tetapi

3-4 baris ke dalam dari MR.

2. Sepasang Tyto alba dapat memakan 1.500 s/d 1.800 ekor

tikus pertahun.

3. Setiap bulan dicek tiang dan kandang serta semua pelepah

yang bersandar dipotong untuk menghalangi hewan

pengganggu mendapatkan telur atau anak burung.

4. Setiap minggu yaitu dilakukan sensus untuk mengetahui

gupon aktif dan gupon yang ada telur atau anak burung.

5. Setahun sekali sebelum masa bertelur, semua kotoran yang

berupa tulang tikus maupun kotoran lainnya dikeluarkan.

G. Pengendalian Gulma

1. Mengembangkan dan melestarikan tanaman berguna atau inang secara terkendali.

Beberapa gulma berguna antara lain : Turnera subulata, Erechtites sp, Urena lobata,

Casia tora, Euphorbia heterophylla, Ageratum conyzoides, Nephrolepis bisserata

dan Diplazium asperum.

2. Memusnahkan gulma berbahaya (noxious weed). Beberapa gulma yang berbahaya

dan harus dimusnahkan adalah Imperata cylindrica, Clidemia hirta, Melastoma

malabathricum, Mikania micrantha, Dicranopteris linearis, Stenochlaena palustris.

3. Dongkel Anak Kayu (DAK)

Merupakan kegiatan untuk membersihkan atau mematikan anak-anak kayu (tumbuhan

mengandung kayu) yang tidak dikehendaki di dalam perkebunan kelapa sawit sekaligus
mencabut anak sawit dengan menggunakan trisula. Gulma anak kayu yang sering ditemui

adalah Clidemia hirta dan Melastoma malabathricum.

Selama kegiatan dongkel anak kayu ini juga dilakukan kegiatan cabutan anak sawit yang ada

di areal perkebunan. Untuk anak sawit, apabila sudah dicabut maka dikumpulkan dalam

karung yang dibawa oleh setiap pekerja untuk di keluaarkan dari blok perkebunan di jalan

CR. Hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan dongkel di lapangan adalah tidak

diperbolehkan membabat anak kayu karena akar yang tertinggal pada tanah akan sangat

mempercepat pertumbuhan vegetatif anak kayu yang baru, sehingga setiap pekerja wajib

mendongkel hingga tuntas ke akarnya. Tujuan dilakukannya pekerjaan ini adalah untuk

menghindari tumbuhnya kelapa sawit baru yang tidak dikehendaki yang dapat mengganggu

kelapa sawit pokok.

a. Wipping Ilalang (Imperata cylindrica)

Wipping Ilalang adalah kegiatan untuk mematikan gulma Ilalang (Imperata cylindrica)

dengan menggunakan herbisida Roundup dengan dosis 0,03 lt/Ha dan konsentrasi 1 %.

Dilakukan dengan 3 kali rotasi. Caranya dengan menyentuhkan atau membasuhkan cairan

herbisida tersebut dari pangkal hingga ujung ilalang, setelah itu ujung dari tanaman ini

diputus untuk menandai bahwa ilalang itu telah di wiping. Pekerja harus mengunakan sarung

tangan atau biasanya jari-jari tangan yang digunakan untuk wipping dibalut kain. Dalam

kegiatannya, wipping ilalang ini dilakukan bersama-sama dengan dongkel anak kayu.

Pekerjaan ini akan menampakkan hasilnya kira-kira 7 hari setelah aplikasi yang ditandai

dengan mengeringnya daun ilalang.

b. Pengembangan tanaman berguna


Selama ini pengembangan tanaman berguna yang dilakukan adalah tanaman Turnera

subulata dan Anti gonon. Tanaman ini ditanam di pinggir blok sepanjang jalan kebun.

Turnera subulata diperbanyak dengan cara stek nachtar bunga dari tanaman apabila di hisap

oleh kupu-kupu akan mangakibatkan kupu-kupu tesebut fertil sehingga tidak dapat

bereproduksi sehingga akan mengendalikan hama ulat api, sedangkan Anti gonon dengan

bijinya tanaman ini merupakan tanaman inang dari predator/musuh alami dari ulat api.

H. Pemupukan

Kegiatan yang dikerjakan sebelum dilakukannya pemupukan adalah kegiatan LSU (leaf

sampling unit). Kegiatan ini biasa dilakukan 2 3 bulan setelah dilakukannya pemupukan

semester I. Tujuan dilakukannya LSU adalah untuk mengidenfikasi tanaman kelapa sawit

mengalami suatu defisiensi unsur hara, sehingga dapat dilakukan rekomendasi pemupukan

pada tahun berikutnya.

Peralatan dan bahan yang digunakan adalah egrek, parang, plastik, meteran, aquades, dan

kapas. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 1 tenaga pencatat dan 2 tenaga pengambil

sample daun.

Cara pelaksanaan LSU adalah :

1. Pengambilan sample daun dilakukan mulai pukul 07.00 12.00.

2. Pengambilan sample dimulai dari ujung utara barat blok, dan dimulai dari 10 baris

ke arah selatan, kemudian masuk barisan tersebut, tentukan pokok ke-5 dari barisan

tersebut sebagai pokok sample 1 dan diberi nomor dengan cat warna biru (ditulis

angka 1) pada pokok sawit.

3. Pokok sample ke -2 adalah selang 10 pokok berikutnya dalam 1 baris. Bila pokok

yang akan ditetapkan sebagai sample ternyata pokok yang tidak normal, maka dapat
dilakukan penggantian sample yaitu dengan maju atau mundur 3 pokok dari pokok

yang diganti.

4. Mengambil pelepah yang akan digunakan sebagai sample yaitu pelepah ke-17 dari

pelepah paling muda yang membuka sempurna.

5. Daun dari pelepah tersebut yang diambil hanya daun yang berasal dari pertemuan

antara bagian runcing dan tumpul dari pelepah yang biasanya berada agak di ujung

pelepah. Daun yang diambil sebanyak 4 lembar, yang berasal dari sisi kanan 2 dan sisi

kiri 2.

6. Daun yang telah diambil kemudian dipotong yang bagian tengahnya kira-kira 25 cm.

7. Untuk sampel ganjil diukur tinggi tanaman (cm), panjang pelepah (cm), lebar petiole

(mm), dan tebal petiole (mm). Sedangkan untuk sampel genap yang diukur hanya

lebar petiole (mm) dan tebal petiole (mm).

8. Selain itu juga perlu diamati defisiensi unsur pada tanaman sampel, yaitu untuk :

-N : Daun pucat atau kaku

-K : Daun tua orange spot tembus pandang (ujung anak daun kering)

- Mg : Daun tua orange merata

-B : Daun berkerut, daun pancing, pelepah muda memendek

- Cu : Daun muda memendek, anak daun rapat dan ujung daun kering

9. Khusus untuk defisiensi Mg dan B, diamati pula 6 pohon di sekelilingnya.

10. Pengambilan sample daun harus selesai sebelum jam 12.00 siang, dan sebelum di

kirim ke riset terlebih dahulu dicuci dengan aquadest yang dibasuhkan dengan kapas.

Setelah dicuci sample daun harus segera dikirim ke riset pada hari tersebut.
Cara aplikasi pupuk pada TM dapat dilakukan secara manual maupun mekanis dengan

spreader dan pesawat. Penggunaan fertilizer spreader (FS) sesuai pada areal TM yang datar

sampai landai (kemiringan lereng 0-50) dengan umur tanaman > 6 tahun. Sedangkan aplikasi

pupuk dengan pesawat terbang diutamakan untuk TM remaja dan tua di areal berbukit dan

gambut.

Jenis pupuk yang digunakan adalah : Kaptan, Urea, Tsp, RP, KCL/MOP, Kiserid, Dolomit,

HgFB, CuSO4. Sedangkan urutan pemupukannya adalah HgFB, Kaptan, Urea, MOP/KCL,

Kiserid/Dolomit, Tsp/RP. Jarak pemupukan antara pupuk yang mengandung unsur N dengan

P adalah 4 minggu. Sedangkan pupuk K dengan Mg adalah 3 minggu. Adanya jarak aplikasi

pupuk tersebut disebabkan karena adanya antagonisme dari masing-masing.

I. Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan

Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pemeliharaan tanaman menghasilkan adalah

perawatan pasar pikul, piringan dan pasar kontrol. Tujuan kegiatan ini adalah memelihara

akses ke dalam blok dan ke pohon untuk mempermudah aktivitas panen, pemupukan,

penunasan dan pengawasan serta mengurangi persaingan dengan gulma dalam penyerapan

hara, air dan cahaya matahari.

Perawatan yang dilakukan adalah dengan cara penyemprotan herbisida yang dilakukan

dengan 3 kali rotasi dalam setahun. Sistem penyemprotan unutk mengendalikan gulam ini

perlu pemilihan jenis alat semprot dan nozel yang sesuai untuk setiap jenis pekerjaan, gulma

sasaran, herbisida dan dosis, kebutuhan larutan (air), dan efisiensi hasil kerja yang dicapai.

Alat yang digunakan bervariasi untuk setiap rotasi, yaitu CP-16 MHS CP-16. Untuk alat

CP-16 herbisida yang digunakan adalah Gramoxone dan Ally, sedangkan untuk MHS adalah
Round up dan Ally. Perbandingan pencampuran untuk Gramoxone/Round up : Ally adalah

20:1. Dosis yang digunakan yaitu 0,25 lt/Ha untuk kedua jenis alat.

Kegiatan perawatan yang saat itu dilaksanakan adalah dengan alat MHS dengan jenis nozel

polijet warna biru. Setiap MHS ini berkapasitas 5 lt, yang didalamnya ditambahkan 0,25 lt

campuran herbisida (air + Round up +Ally), sehingga dosis round up-nya 0,25 lt dan Ally-

nya 0,0125 Kg.

4. Panen (Harvesting)

A. Kegiatan Menjelang Panen

1. Sensus AKP

Sensus AKP (Angka Kerapatan Panen) merupakan penghitungan jumlah buah atau TBS yang

masak atau matang sempurna dan siap di petik. Kegiatan ini seharusnya dilakukan sore hari

dengan tujuan menentukan prediksi atau estimasi jumlah buah atau TBS yang siap di panen

besok.

2. Pengembangan serangga penyerbuk (Elaeidobius camerunicus)

Elaeidobius camerunicus merupakan serangga yang berguna untuk membantu terjadinya

pernyerbukan pada tanaman kelapa sawit. Standar populasinya dalam 1 Ha sekitar 25.000

30.000 ekor atau 34 tandan bunga jantan anthesis, dengan jumlah ini diharapkan

penyerbukan dapat berjalan sempurna. Apabila dalam 1 Ha jumlahnya kurang dari standar,

maka dilakukan introduksi bunga jantan dari blok lain yang memiliki bunga jantan lebih.
3. Sensus Elaeidobius camerunicus

Sensus ini dilakukan setiap sebulan dua kali, yaitu tanggal 10 dan tanggal 25. Tujuan sensus

adalah untuk mengetahui jumlah bunga jantan anthesis per Ha, mengetahui spiklet rata-rata

per janjang, dan mengetahui jumlah Elaeidobius camerunicus per spiklet, per bunga jantan

dan per Ha.. Alat-alat yang diperlukan dalam sensus antara lain, gergaji, pisau (golok),

plastik, kertas label dan pulpen.

Langkah-langkah dalam kegiatan sensus:

1. Sensus sebaiknya dilakukan pada pagi hari dari pukul 07.00 09.00.

2. Sensus dimulai dari ujung utara-barat mengarah ke selatan masuk mulai baris ke-5

3. Jarak antar baris sensus adalah 10 baris (baris 15, 25, 35, dst).

4. Setiap baris tersebut diamati pokok sawit yang memiliki bunga jantan anthesis (baru

mekar, berwarna kuning dan ada bau khas) dan dihitung.

5. Bila ternyata dalam 1 baris sama sekali tidak ada bunga jantan anthesis, diteruskan

mencari kebarisan seterusnya (kelipatan 10).

6. Cara pengambilan spiklet :

1. Menyungkup 3 spiklet atas (5 lingkaran spiklet teratas) dengan plastik.

2. Menyungkup 3 spiklet bawah (5 lingkaran spiklet terbawah) dengan plastik.

3. Menyungkup 3 spiklet tengah (antara spiklet atas dan bawah).

4. Menandai spiklet yang telah dikondomi sesuai posisinya.

5. Bunga jantan yang telah diambil contoh spikletnya, kemudian dihitung jumlah

spikletnya yang digunakan sebagai sample untuk menghitung rata-rata jumlah

spiklet per tandan.


6. Selain mengambil bunga jantan kita juga perlu menghitung jumlah pokok

sawit dalam satu barisan yang digunakan sebagai sample dan dalam pokok ke

berapa bunga jantan itu diambil sample.

7. Apabila dalam pengambilan sample kita telah mendapatkan bunga jantan 4

buah janjang sample tetapi jumlah sample barisan belum selesai, maka kita

tetap meneruskan penghitungan dan pengamatn bunga jantan anthesis namun

hanya dihitung jumlahnya dalam satu barisan sample.

8. Data serangga yang diperoleh dibuat rata-rata serangga per posisi spiklet dan

rata-rata serangga per spiklet.

9. Dihitung rata-rata spiklet per bunga jantan dan bunga jantan anthesis per Ha,

rata-rata spiklet per bunga jantan, serangga per bunga jantan anthesis,

serangga per Ha, dan bunga jantan anthesis per Ha.

B. Panen dan Pengangkutan

1. Organisasi Panen

Panen kelapa sawit dilakukan oleh tenaga kerja pemanen dan pembrondol, dimana seorang

pembrondol ini selalu mengikuti seorang pemanen secara tetap. Perlu diketahui bahwa ada

peraturan yang melarang pasangan suami-istri bekerja sebagai pemanen dan pembrondol,

sebab dapat menimbulkan tindakan-tindakan kecurangan dalam proses panen.

Pemanen bertugas memotong TBS dari pohon dan mengumpulkannya ke TPH sekaligus

menyusun pelepah yang dipotong pada gawangan mati secara L shape. Sedangkan,

pembrondol bertugas mengutip semua brondolan dari dalam blok dan mengumpulkannya di

TPH. Kedua tugas ini dilaksanakan secara bersamaan pada hari yang sama. Ketika

melaksanakan tugasnya kedua pekerja ini diawasi oleh mandor panen dan mandor brondol.
2. Standar Kematangan Buah

Standar kematangan buah untuk tandan yang layak panen adalah 2:1 yang artinya 2 butir

brondolan per Kg berat tandan. Untuk aplikasi di lapangan tandan layak panen dilihat dari

jumlah brondolan yang jatuh di piringan, dimana jumlahnya berdasarkan BJR (berat janjang

rata-rata) tahun lalu. Misalnya BJR tahun lalu 23 Kg (> 20 Kg), maka jumlah brondolan

minimal per janjang di piringan sebelum di panen adalah 10 brondolan.

3. Grading

Grading buah merupakan kegiatan menggolongkan buah berdasarkan tingkat kematangan

buah sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Grding dilakukan dua kalipada saat TBS

diangkut dan sesampainya TBS di PKS sebelum diolah

Penggolongan kematangan grading TBS :

1. Buah Normal :

1. Buah Mentah (BM), buah yang memiliki brondolan lepas < 3 butir per tandan.

2. Buah Kurang Matang (BKM), buah yang memiliki brondolan lepas lebih dari atau

sama dengan 3 butir per tandan dan kurang dari standar minimum buah matang (2

butir/Kg).

3. Buah Matang Memuaskan, memiliki brondolan lepas antara standar minimum buah

matang sampai 50% brondolan lepas dari total brondol per tandan.

4. Buah Lewat Matang, memiliki brondolan lepas > 50% dari total brondolan per tandan.

5. Janjang Kosong, memiliki beberapa brondolan yang tersebar sampai total brondolan

lepas habis sama sekali.


1. Buah Abnormal :

1. Parthenocarpi, memiliki labih dari 75 % total brondolan di permukaan merupakan

buah cengkeh yang tidak terbentuk secara sempurna (parthenocarpi). Buah berwarna

hitam dan tidak mempunyai kandungan minyak.

2. Buah matang yang retak atau buah keras (hard bunch), kematangan buah

memperlihatkan adanya keretakan atau pecah-pecah dan tampah hitam, memiliki

brondolan yang tidak mau lepas. Tandan dengan buah retak ini harus tetap dipanen.

4. Inspeksi Panen

Inspeksi panen merupakan kegiatan yang dilakukan oleh asisten divisi, mandor I, mandor

panen dan tenaga pemanen dengan tujuan untuk mengetahui kualitas atau prestasi kerja dan

kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pemanen pada hari sebelumnya pada ancak panen

hari sebelumnya juga. Kesalahan-kesalahan yang terjadi itu kemudian ditulis dalam laporan

inspeksi panen kelapa sawit. Beberapa kesalahan yang perlu diketahui saat inspeksi panen

antara lain, jumlah pohon yang dipanen tidak dikutip brondolan, jumlah janjang yang layak

panen tapi tidak dipanen, jumlah buah mentah yang dipanen, jumlah buah dengan tangkai

panjang, bunga matahari, pelepah sengkleh, pokok under pruning, dan pokok over pruning.

Apabila ada jenis kesalahan yang tidak dapat diamati pada saat inspeksi maka dapat

ditanyakan pada kerani panen untuk mengetahui beberapa kesalahan yang ada. Misalnya,

jumlah buah dengan tangkai panjang.

5. Rotasi, Pusingan, Sistem Panen, Basis panen, Berat Janjang Rata-rata (BJR) Buah

Rotasi panen adalah berapa kali panen masuk ke blok yang sama atau berapa kali dapat

menyelesaikan panen untuk semua blok dalam divisi, sedangkan pusingan merupakan jarak
waktu atau interval antara rotasi panen yang satu dengan rotasi panen berikutnya. Untuk

rotasi panen dalam satu bulan tidak boleh kurang dari 4 kali, dengan pusingan 6 7 hari.

Sistem panen merupakan suatu ketentun atau aturan yang membagi daerah atau wilayah dari

masing-masing pemanen. Sistem panen dibagi menjadi 2, yaitu :

1. Ancak tetap, yaitu setiap pemanen melaksanakan panen oada areal yang sama,

dikerjakan rutin dan pemanen bertanggung jawab menyelesaikan sesuai dengan luas

yang telah ditentukan setiap hari tanpa ada yang tertinggal. Apabila pemanen tidak

bekerja maka mandor harus mencari pengantinya.

2. Ancak giring, yaitu setiap pemanen melaksanakan panen pada ancak yang telah

ditetapkan setiap harinya oleh mandor panen. Pembagian areal panen selalu berubah

disesuaikan dengan kerapatan panen kehadiran pemanen.

Basis panen ini ditentukan oleh keadaan areal perkebunan yang bersangkutan (topografi) dan

tinggi tanaman kelapa sawit.

Basis panen pada beberapa tahun tanam, yaitu :

1. Tahun tanam 2005 : janjang, Harga : Rp. ,-/janjang.

2. Tahun tanam 2006 : janjang, Harga : Rp. ,-/janjang.

3. Tahun tanam 2007 : janjang, Harga : Rp. ,-/janjang.

4. Tahun tanam 2008 : janjang, Harga : Rp. ,-/janjang.

5. Tahun tanam 2009 : janjang, Harga : Rp. ,-/janjang.

Bagi pembrondol tidak ada ketentuan untuk mendapatkan basis brondolan, melainkan setiap

1 Kg brondolan dihargai Rp 473.-

BJR Buah tiap tahun tanam :


1. Tahun tanam 2005 kg

2. Tahun tanam 2006 kg

3. Tahun tanam 2007 kg

6. Pengawasan Panen

Penaggung jawab sebagai pengawas dalam kegiatan panen yaitu mandor panen dan krani

panen. Tugas pengawasannya :

1. Mandor panen : Mengatur dan mengarahkan pemanen serta memastikan bahwa panen

berjakan sesuai dengan standar penen mulai dari dalam blok sampai ke TPH.

Mengatur dan mengarahkan pembrondol serta memastikan bahwa semua brondolan

dikutip bersih mulai dari dalam blok sampai TPH.

2. Krani panen : Mencatat dan mengangkut hasil panen baik janjang maupun brondolan

dan menggrading buah.

7. Peralatan Panen

Peralatan yang harus dibawa oleh pemanen dibedakan atas umur tanaman, yaitu :

1. Peralatan panen tanaman umur kurang dari atau sama dengan 8 tahun :

1. Dodos, lebar mata dodos untuk tanaman umur 4 5 tahun adalah 8 12,5 cm,

sedangkan tanaman >5 8 tahun adalah 14 cm.

2. Gancu, untuk menaikkan atau mengangkat buah ke angkong.

3. Kampak sakti, untuk memotong tangkai buah yang masih panjang dengan bentuk V

cut/mulut kodok.

4. Angkong, untuk membawa TBS dari dalam areal menuju TPH.

5. Batu asah, untuk mempertajam dodos.


2. Peralatan panen tanaman umur > 8 tahun :

1. Egrek.

2. Galah bambu, untuk tanaman dengan tinggi < 6 m dan galah alumunium untuk tinggi

tanaman lebih dari atau sama dengan 6 m.

3. Gancu, untuk menaikkan TBS ke angkong.

4. Kampak sakti, untuk memotong tangkai buah yang masih panjang dengan bentuk V

cut.

5. Batu asah, untuk mempertajam egrek.

6. Angkong, untuk langsir TBS menuju TPH.

3. Peralatan yang harus dibawa dan digunakan oleh seorang pembrondol :

1. Ember, untuk menakar brondolan yang telah dikutip.

2. Cokeran, untuk mengutip brondolan yang tersangkut di ketiak pelepah.

3. Garukan, untuk membersihkan sampah-sampah di piringan kelapa sawit setelah

selesai panen.

4. Alas brondolan (karung bekas pupuk), untuk alat lapis brondolan di TPH.

5. Kartu brondol, untuk memberikan nomor dan hasil kutip brondolan yang telah ditakar

di TPH.

8. Cara Pelaksanaan Panen (potong TBS dan kutip brondolan)

Cara panen :

1. Semua tandan yang matang harus dipanen dan tidak ada yang tertinggal.
2. Tandan dipotong dengan menggunakan dodos atau egrek.

3. Buah matahari yang tersisa di pokok harus dipotong.

4. Tangkai tandan yang panjang dipotong mepet dengan menggunakan kampak sakti.

5. Pelepah yang dipotong karena aktivitas panen harus mepet dengan batang kelapa

sawit dan disusun L shape pada gawangan mati. Pemototngan harus mengikuti prinsip

songgo 2 dan tidak boleh over pruning.

6. Semua TBS yang dipanen diangkut dan disusun di TPH dengan aturan 1 baris ada 5

janjang TBS.

7. Pada salah atu tangkai tanadan ditulis nomor pemanen dan jumlah tandan yang

terpanen.

2. Cara pengutipan brondolan :

1. Semua brondol dikutip bersih dan tidak boleh ada yang tertinggal.

2. Untuk brondolan yang tersangkut di ketiak pelepah diambil dengan menggunakan

cokeran.

3. Mengambil brondolan yang masih masih menempel di sisa potongan tangkai tandan

dan buah matahari dengan mengunakan parang.

4. Pengutipan brondolan tidak boleh tercampur dengan sampah, pasir, batu, dan tanah

(brondolan diambil dengan cara dikutip bukan digaruk).

5. Semua brondolan yang dikutip diangkut ke TPH, kemudian di takar dengan ember

dan dialasi dengan karung.

6. Memasang kartu brondol sesuai dengan jumlah tumpukan brondolan.

9. Pemuatan dan Pengangkutan TBS

TBS yang sudah dipanen harus diusahakan diangkut ke PKS pada hari yang sama dan jangan

sampai ada buah restan yaitu buah yang tinggal dengan alasan apapun, guna mendapatkan
mutu minyak yang baik yaitu minyak dengan kadar lemak atau kolestrol yang kecil, apabila

buah restan maka kadar minyak dalam buah akan terus meningkat. Krani panen dalam hal ini

bertanggung jawab untuk memastikan semua TBS yang telah diperiksa, dicatat, dan siap

untuk dimuat dan telah memiliki identifikasi yang cukup sesuai dengan buku potong buah

dan pengangkutan ke PKS harus dilengkapi dengan SPB (surat pengriman buah) dan alat

trasport pengangkut harus disegel untuk menjaga ke amanan trasportasi buah sampai pada

PKS kegitan ini dilakukan oleh krani panen. Dalam buku potong buah identifikasi yang harus

diisi meliputi : nama pemanen, tahun tanam, blok, janjang di TPH, buah normal, kesalahan

panen (M = buah mentah, T = tangkai panjang, L = buah tidak disusun di TPH, G = buah

matahari, dan P = pelepah sengkleh), sampah, pendapatan netto, dan basis

Pemuatan TBS yang selama ini dilakukan adalah secara manual, dimana minimal dibutuhkan

2 orang per kendaran angkut. TBS dan brondolan harus diangkut secara bersamaan dan tidak

boleh tercampur dengan kotoran. Alat yang digunakan untuk pemuatan TBS ke kendaraan

adalah tojok. Pelaksanaan pengangkutan yang dilakukan oleh MSJA Estate selama ini

dilakukan oleh kontraktor (pengangkutan oleh pemborong). Biaya angkut ini dihitung

berdasarkan harga per kilogram TBS yang jumlahnya sesuai dengan hasil penimbangan PKS.
III. PENUTUP

1. Kesimpulan

Jatimas Estate (JMSE) merupakan salah satu unit kebun PT. Jaya Mandiri Sukses yang terdiri

dari 3 divisi dengan luas areal 2.146 Ha. Kegiatan yang ada di perkebuanan kelapa sawit

terdiri dari pemanenan, perawatan, administrasi dan manajerial.

Kegiatan On Job Training (OJT) trainee yang dilakukan di lingkungan JMSE merupakan

kegiatan untuk membekali dan mengenalkan kepada setiap trainee tentang pengetahuan dan

semua kegiatan yang dilakukan di lapangan oleh seorang Asistant lapangan.

Semua kegiatan yang dilakukan di perkebunan, khususnya di lapangan merupakan kegiatan

yang saling mendukung dan saling melengkapi. Apabila suatu jenis pekerjaan atau kegiatan

dalam perkebunan terganggu, maka akan mempengaruhi kegiatan yang lainnya sehingga

secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi

kebun.

2. Saran

1. Perlu adanya penambahan waktu On Job Training (OJT) karena banyak kegiatan yang

tidak dapat diikuti karena sempitnya waktu.

2. Perlu adanya rolling peserta On Job Training (OJT) antar estate agar peserta On Job

Training (OJT) dapat mengetahui berbagai kondisi di setiap estate (Kebun KKPA dan

Kebun Inti).

3. Perlu adanya perancangan dan penjadwalan kegiatan On Job Training (OJT) trainee

dengan baik.
Konsep Kegiatan Training

Konsep Harian

05.00-06.00 Lari Pagi dan Senam Pagi

06.00-06.30 Sarapan

06.30-08.00 Pre tes

08.00-12.00 Ke Lapangan

12.00-13.00 Istirahat

13.00-15.30 Kegiatan Belajar di kelas

15.30- 16.00 Ishoma

16.00-17.00 post tes

17.00-19.00 ishoma

19.00-21.00 evaluasi (belajar kelompok)

21.00 (istirahat)
Konsep Materi

1. Pembangunan Kebun Pola Kemitraan

2.Humas

3. Management Kebun

4. Stores Management

5. Machinery Maintenance

6. Estate Survey

7. Soil (tanah)

8. Land Clearing

9. Pembibitan

10. Field Panting ( Penanaman )

11. Legume Cover Crop

12. Field Operation in Immature Phase (penyiangan di areal TBM)

13. Field Operation in Mature Phase (Penyiangan di areal TM)

14. Pemupukan

15. Hama dan Penyakit

16. Harvesting (Panen)

17. Black Bunch Count

18. Processing

19. Field Audit, Monitoring dan Control

20. Keselamatan dan Keselamatan Kerja (K3)

21. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)

22. Cross Blokc Programe


Konsep Training FAT

Alternatif 1 = 1:2 (1 Bulan in class : 2 Bulan OJT)

25 Hari : In Class Center

10 Hari : Administrasi

10 Hari : Panen

10 Hari : Perawatan

15 Hari : PJS

5 Hari : Evaluasi

Alternatif 2 = 1:5 (1 Bulan in class : 5 Bulan OJT)

25 Hari : In Class Center

15 Hari : Administrasi

20 Hari : Panen

20 Hari : Perawatan

60 Hari : PJS

10 Hari : Evaluasi