Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Modal utama peningkatan sumber daya manusia adalah pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang
(Sofan, 2013).
Peningkatan kualitas pendidikan Indonesia dilakukan secara
berkesinambungan dan sampai saat ini terus dilaksanakan, upaya peningkatan mutu
pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat bangsa Indonesia,
tetapi pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu memberikan hasil yang
memadai karena mutu pendidikan di Indonesia masih rendah (Wena, 2011)
Secara empiris berdasarkan analisis penelitian Daryanto, (2010), rendahnya
mutu pendidikan berpengaruh kepada rendahnya hasil belajar siswa, hal ini
disebabkan oleh proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajaran
tradisional, yaitu pembelajaran cenderung teacher centered yang menyebabkan
siswa menjadi pasif. Upaya meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya
dapat dilakukan melalui perbaikan proses pembelajaran, oleh karena itu peranan
guru sangat penting untuk membangkitkan partisipasi siswa sehingga dapat
mengembangkan potensi individunya secara optimal. (Sumiati,Asra. 2013).
Menurut Arikunto (2013), dalam proses belajar mengajar, guru harus
mampu membantu sianak didik agar dapat meningkatkan pemahaman sehingga
memperoleh hasil yang lebih baik. Dalam hal ini guru diharapkan mampu
memberikan motivasi (baik berupa dukungan ataupun pengalaman orang-orang
sukses) kepada siswa pada saat pembelajaran. Menurut Wena (2011), tanpa adanya
motivasi belajar siswa yang tinggi akan sulit bagi guru untuk mencapai hasil
pembelajaran yang optimal. Mc. Donald dalam Sardiman (2012) menuliskan
bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan
munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Motivasi juga dapat dikatakan serangkaian usaha untuk menciptakan kondisi
tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan apabila ia tidak
2

suka, maka akan berusaha untuk meniadakan dan mengelakkan perasaan tidak suka
itu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar
sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Rendahnya hasil belajar siswa juga terlihat dari suatu tes terhadap sejumlah
siswa SMA dari berbagai kabupaten dan propinsi menunjukkan hasil belajar siswa
sangat rendah (Rena, 2014). Hasil wawancara dengan salah satu guru kimia di
SMAN 2 Binjai menunjukkan bahwa hasil belajar kimia di sekolah tersebut masih
ada yang belum mencapai KKM. Adapun target KKM yang ditetapkan untuk mata
pelajaran kimia disekolah tersebut adalah sebesar 80.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di SMA Negeri 2 Binjai pada
penerapan kurikulum 2013, terlihat belum sepenuhnya menerapkan pendekatan
saintific yang disarankan, dan metode pembelajarannya masih maksimal pada
metode ceramah dan diskusi antara guru dengan siswa. Hal tersebut dapat
memberikan dampak yang kurang baik pada siswa. Siswa menjadi pasif dan tidak
memiliki kesempatan untuk mengungkapkan ide maupun gagasannya. Untuk
beberapa materi yang kontekstual, maka metode ini kurang cocok diterapkan.
Tabel 1.1 Persentase Hasil Ujian Kimia Siswa Tahun Ajaran 2013/2014 - 2015/2016
Persentase hasil ujian kimia siswa
Semester KKM
Dibawah KKM KKM Diatas KKM
Semester Ganjil 25 % 30 % 45 % 75
T.A 2013/2014
Semester Genap 20 % 60 % 20 % 80
T.A 2014/2015
Semester Ganjil 18 % 52 % 30 % 80
T.A 2015/2016
(Arsip guru kimia SMAN 2 Binjai )
Berdasarkan data diatas, masih banyak siswa yang belum mencapai nilai
KKM. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran yang masih berorientasi pada guru
(teacher centered) sehingga berimbas pada rendahnya hasil belajar siswa yang
kerap kali berujung pada penolakan siswa untuk mengikuti pelajaran. Oleh karena
3

itu guru dituntut untuk lebih aktif dalam memahami kompetensi yang telah
ditetapkan
Dalam kegiatan pembelajaran peran guru sangat penting untuk menciptakan
kondisi atau suatu proses yang mengarahkan siswa itu dalam melakukan aktivitas
belajar, oleh karena itu guru perlu memberikan dorongan agar anak didiknya
mampu melakukan aktivitas belajar dengan baik, dorongan yang dimaksud berupa
motivasi belajar siswa. Menurut Sardiman (2012) motivasi sebagai pendorong
dalam pencapaian suatu prestasi seseorang. Hal ini berarti, dengan adanya motivasi
yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik sehingga dapat
menghasilkan pretasi yang baik.
Berdasarkan permasalahan rendahnya hasil belajar siswa tersebut, maka
diperlukan upaya untuk memperbaiki pembelajaran kimia menjadi menarik dan
menghasilkan hasil belajar siswa yang maksimal. Salah satu diantaranya adalah
keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran, sehingga siswa mampu untuk
menyelesaikan masalah konsep nyata melalui penerapan konsep-konsep dan fakta-
fakta yang mereka pelajari. Upaya yang dapat dilakukan guru dalam rangka
meningkatkan hasil belajar siswa perlu dikembangkan suatu model pembelajaran
yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam penelitian
ini adalah model pembelajaran Problem based Learning (PBL).
Dengan menggunakan model pembelajaran Problem based Learning (PBL)
siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan
mengembangkan keterampilan intelektualnya dalam pengalaman yang nyata. Selain
pengaruh model pembelajaran, tingginya motivasi dalam belajar siswa akan
menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal .(Wena, 2011 : 24). Penerapan
model pembelajaran Problem based Learning (PBL) dengan motivasi yang tinggi
diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar dan membantu meningkatkan
penguasaan konsep belajar siswa, sekaligus siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan
pembelajaran pada materi laju reaksi
Berdasakan penelitian yang dilakukan oleh Monalisa Pakpahan (2014)
penerapan pembelajaran Problem Based learning dengan menggunakan media Isis
Draw dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 62,5%. Penelitian lain oleh
4

Sivia Budianti (2012) menyatakan bahwa model pembelajaran PBL yang


diintegrasikan dengan media komputer dapat meningkatkan hasil belajar kimia
siswa sebesar 66,1%.
Selain penggunaan metode PBL, guru juga dapat menggunakan model DI
(Direct Interaction), berdasarkan penelitian yang dilakukan Asiyah Nur Hidayati
(2012 : 61) terjadi peningkatkan nilai rata-rata siswa yang dihasilkan 77,774
sebagai peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan dari model pembelajaran
Langsung (DI). Sedangkan penelitian tentang motivasi dilakukan oleh Setyowati
(2007), menunjukkan motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar siswa sebesar
29,766% sedangkan 71,344% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Model
pembelajaran yang monoton dapat mengurangi motivasi siswa untuk belajar karena
siswa merasa jenuh. Siswa dengan motivasi belajar tinggi, prestasinya akan lebih
baik dibandingkan dengan siswa dengan motivasi rendah. Sering dijumpai siswa
yang memiliki intelegensi yang tinggi tetapi prestasi belajar yang dicapainya
rendah, akibat kemampuan yang dimilikinya kurang berfungsi secara optimal.
Salah satu faktor pendukung agar kemampuan yang dimiliki siswa dapat berfungsi
optimal adalah adanya motivasi untuk berprestasi tinggi dalam diri (Pulungan,
2008).
Pemerintah juga telah berusaha memperbaiki pendidikan dengan
memperbaiki kurikulum dengan dikeluarkannya PP 32 Tahun 2013 berkaitan
dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yaitu kurikulum 2013. Kurikulum 2013
menekankan dalam penguatan proses pembelajaran. Proses pembelajaran
berpedoman menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik jika
dihubungkan dengan proses pembelajaran mencakup konteks dunia nyata, aktif
menyelidiki, kooperatif, kritis, terjadi pertukaran pengetahuan antara guru dan
siswa, siswa dan siswa lainnya, serta menutun siswa untuk mencari tahu bukan
diberitahu. Siswa berperan aktif tidak hanya dari segi eksplorasi, elaborasi dan
konfirmasi tetapi siswa juga aktif dalam kegiatan mengamati, menanya,
mengumpulkan data, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan dalam proses
pembelajaran.
5

Pokok bahasan Kecepatan Reaksi terdiri dari konsep-konsep yang saling


berhubungan membentuk suatu urutan sistematis dan perhitungan matematik dalam
penyelesaian soal dan eksprimen sehingga siswa dituntut untuk memiliki
pemahaman konseptual yang mencakup kemampuan dalam menggambarkan dan
menterjemahkan permasalahan laju reaksi menggunakan pola pikir terstruktur dan
sistematis serta siswa harus memiliki kemampuan logika-matematis yang baik
untuk menyelesaikan soal perhitungan. Sehubungan dengan pernyataan hal itu,
materi laju reaksi merupakan materi yang banyak perhitungan dan eksprimen di
dalamnya sehingga lebih baik bila digunakan dengan model pembelajaran berbasis
masalah yang dikombinasikan dengan .pendekatan saintifik Model pembelajaran
berbasis masalah dikombinasikan dengan pendekatan saintifik ini bertujuan agar
siswa dapat termotivasi belajar, tidak bosan karena biasanya belajar menghitung
lebih monoton.
Pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran yang mendorong
peserta didik untuk melakukan keterampilan- keterampilan ilmiah seperti
mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengorganisasi, dan
mengkomunikasikan. Model pembelajaran berbasis masalah dan pendekatan
saintifik dapat saling memperkuat dengan adanya ktrampilan dalam mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengorganesasi dan mengkomunikasikan. Hal
ini didukung dengan peneliti terdahulu oleh Sartika, dkk.,(2014) tentang
implementasi pendekatan scientifict yang menemukan kemampuan aspek afektif
dan psikomotorik yang sangat baik dengan rata- rata 87% pada aspek afektif dan
90% pada aspek psikomotorik setelah pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan scientifict berbasis lesson study.
Sedangkan hasil penelitian dari Majid, (2015) tentang efektivitas
pendekatan saintifik menemukan terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas
eksperimen dengan kelas kontrol, hal ini dilihat dari nilai Sig. (2- tailed) 0,031
(0.05), 2) pendekatan saintifik lebih efektif dilihat dari nilai effect size 0,62. Nilai
ini menunjukan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa cukup meningkat dengan
signifikan dengan menggunakan pendekatan saintifik.
6

Dalam kegiatan pembelajaran peran guru sangat penting untuk menciptakan


kondisi atau suatu proses yang mengarahkan siswa itu dalam melakukan aktivitas
belajar, oleh karena itu guru perlu memberikan dorongan agar anak didiknya
mampu melakukan aktivitas belajar dengan baik, dorongan yang dimaksud berupa
motivasi belajar siswa. Menurut Sardiman (2012) motivasi sebagai pendorong
dalam pencapaian suatu prestasi seseorang. Hal ini berarti, dengan adanya motivasi
yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik sehingga dapat
menghasilkan pretasi yang baik.
Berdasarkan permasalahan rendahnya hasil belajar siswa tersebut, maka
diperlukan upaya untuk memperbaiki pembelajaran kimia menjadi menarik dan
menghasilkan hasil belajar siswa yang maksimal. Salah satu diantaranya adalah
keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran, sehingga siswa mampu untuk
menyelesaikan masalah konsep nyata melalui penerapan konsep-konsep dan fakta-
fakta yang mereka pelajari. Upaya yang dapat dilakukan guru dalam rangka
meningkatkan hasil belajar siswa perlu dikembangkan suatu model pembelajaran
berbasis masalah yang dikombinasikan dengan pendekatan saintifik.yang tepat.
Dengan menggunakan model pembelajaran Problem based Learning (PBL)
dan kombinasi pendekatan saintifik siswa dapat mengembangkan kemampuan
berpikir, pemecahan masalah dan mengembangkan keterampilan intelektualnya
dalam pengalaman yang nyata. Selain pengaruh model pembelajaran, tingginya
motivasi dalam belajar siswa akan menghasilkan pembelajaran yang lebih optimal .
(Wena, 2011). Penerapan model pembelajaran Problem based Learning (PBL)
dengan motivasi yang tinggi diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar dan
membantu meningkatkan penguasaan konsep belajar siswa, sekaligus siswa dapat
lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran pada materi laju reaksi.
Berdasakan penelitian yang dilakukan oleh Monalisa Pakpahan (2014)
penerapan pembelajaran Problem Based learning dengan menggunakan media
terdapat peningkatan hasil belajar siswa sebesar 62,5%. Penelitian lain oleh Sivia
Budianti (2012) menyatakan bahwa model pembelajaran PBL yang diintegrasikan
dengan media komputer dapat meningkatkan hasil belajar kimia siswa sebesar
66,1%.
7

Selain penggunaan model PBL, guru juga dapat menggunakan model DI


(Direct Interaction), berdasarkan penelitian yang dilakukan Asiyah Nur Hidayati
(2012) terjadi peningkatkan nilai rata-rata siswa yang dihasilkan 77,774 sebagai
peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan dari model pembelajaran
Langsung (DI). Sedangkan penelitian tentang motivasi dilakukan oleh Setyowati
(2007), menunjukkan motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar siswa sebesar
29,766% sedangkan 71,344% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Model
pembelajaran yang monoton dapat mengurangi motivasi siswa untuk belajar karena
siswa merasa jenuh. Siswa dengan motivasi belajar tinggi, prestasinya akan lebih
baik dibandingkan dengan siswa dengan motivasi rendah. Sering dijumpai siswa
yang memiliki intelegensi yang tinggi tetapi prestasi belajar yang dicapainya
rendah, akibat kemampuan yang dimilikinya kurang berfungsi secara optimal.
Salah satu faktor pendukung agar kemampuan yang dimiliki siswa dapat berfungsi
optimal adalah adanya motivasi untuk berprestasi tinggi dalam diri (Pulungan,
2008).
Laju reaksi merupakan materi pokok yang dipelajari di kelas XI SMA
semester I pada Kurikulum 2013. Laju reaksi membahas hal hal abstrak yang
tidak dapat di lihat dan dirasakan secara langsung. Untuk mengatasi hal ini
diperlukan upaya upaya untuk memperjelas konsep konsep yang abstrak
tersebut. Salah satunya yang dapat dilakukan oleh guru dengan menerapkan model
pembelajaran berbasis masalah yang dikombinasikan pendekatan saintifik sehingga
mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dan memotivasi siswa agar
siswa dapat lebih memahami pelajaran Laju reaksi.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik melakukan suatu
penelitian untuk mengetahui hasil belajar kimia dengan menggunakan model PBL
(Problem Based Learning) dengan kombinasi pendekatan saintifik dan motivasi
pada materi Kecepatan reaksi. Adapun judul penelitian ini adalah Pengaruh
Model Pembelajaran PBL dikombinasikan dengan Pendekatan Saintifik dan
Motivasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Laju Reaksi.
8

1.2. Identifikasi Masalah


Didalam mengidentifikasi masalah penulis tertarik akan pengaruh model
pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar kimia siswa pada pokok
bahasan Laju Reaksi, karena saat ini dianggap:
a. Rendahnya hasil belajar kimia di SMA.
b. Guru belum efektif dalam penggunaan model pembelajaran dalam
pendekatan Saintific untuk menyampaikan materi pembelajaran.
c. Pembelajaran masih didominasi guru.
d. Motivasi belajar siswa yang masih belum maksimal.
e. Diperlukan model pembelajaran yang dikombinasikan pendekatan saintifik
dan motivasi belajar siswa dalam mencapai hasil belajar kimia khususnya
pada pokok bahasan Laju reaksi.

1.3. Batasan Masalah


Dari identifikasi masalah penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka
pembatasan masalah dititikberatkan pada:
a. Objek Penelitian adalah siswa kelas XI peminatan bidang IPA semester
ganjil SMAN 2 Binjai Tahun Pelajaran 2016/2017.
b. Model Pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran berbasis
masalah dengan kombinasi pendekatan saintifik dan model pembelajaran
langsung
c. Motivasi belajar siswa diukur melalui angket untuk melihat motivasi
belajar tinggi dan motivasi belajar rendah.
d. Materi yang diberikan dibatasi pada materi Laju reaksi.
1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas maka yang menjadi rumusan masalah


dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah ada pengaruh model pembelajaran berbasis masalah (PBL)
kombinasi pendekatan saintifik terhadap hasil belajar kimia siswa pada
materi laju reaksi?
2. Apakah ada pengaruh kemampuan motivasi tinggi dan motivasi rendah
terhadap hasil belajar kimia siswa pada materi laju reaksi?
9

3. Apakah ada interaksi antara model pembelajaran berbasis masalah dengan


kombinasi pendekatan saintifik dan motivasi terhadap hasil belajar kimia
siswa pada materi laju reaksi?

1.5. Tujuan Penelitian


1. Apakah ada pengaruh model pembelajaran berbasis masalah (PBL)
kombinasi pendekatan saintifik terhadap hasil belajar kimia siswa pada
materi laju reaksi?
2. Apakah ada pengaruh kemampuan motivasi tinggi dan motivasi rendah
terhadap hasil belajar kimia siswa pada materi laju reaksi?
3. Apakah ada interaksi antara model pembelajaran berbasis masalah dengan
kombinasi pendekatan saintifik dan motivasi terhadap hasil belajar kimia
siswa pada materi laju reaksi?

1.6 Manfaat Penelitian


Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah :
1. Bagi guru
Sebagai bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran yang
sesuai dalam proses belajar mengajar khususnya dalam pembelajaran materi
laju reaksi di kelas XI SMA.
2. Bagi siswa
Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman siswa serta meningkatkan
kemampuan berpikirnya sehingga prestasi belajar siswa meningkat.
3. Bagi guru bidang studi lain
Sebagai bahan rujukan untuk diterapkan pada bidang studi yang lain dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran.
4. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini akan menambah wawasan, kemampuan dan pengalaman
dalam meningkatkan kompetensinya sebagai calon guru.