Anda di halaman 1dari 55

UNIVERSITAS INDONESIA

KONVERSI KOTORAN SAPI MENJADI BIOGAS UNTUK


RUMAH TANGGA

KELOMPOK:

ADINDA PUTRI WISMAN (1006661185)

ALBERT SANTOSO (1006686364)

ANGGUN KURNIASARI (1006686383)

CITTA DEVI GUNTARI (1006661222)

MARYAM MARDIYYAH FARIZAL (1006686603)

MIRANDA HASANAH (1006775924)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK 2013
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Revisi

Perubahan kapasitas produksi dari 1 m3 /30 hari menjadi 50 m3 /30 hari (DONE)

Penambahan satuan (Partially done?)

Pemakaian dua angka dibelakang desimal (done tapi mohon dicek)

Perbaikan ilustrasi yang ngitung volume reaktor, dikasih warna katanyah

Kotoran sapi tidak dibeli/dianggap limbah (DONE)

Universitas Indonesia 2
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas kehendak-Nyalah, makalah dengan judul Konversi Kotoran Sapi menjadi
Biogas untuk Rumah Tangga ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Penulis
juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Heri Hermansyah yang telah
memberikan kesempatan untuk membuat makalah, serta memberikan pengarahan
dan bimbingannya kepada penulis.

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas penulisan makalah mata kuliah
Rekayasa Bioreaktor Semester Genap 2012/2013. Selain itu, tujuan penulisan
makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami konsep konversi biomassa
menjadi biogas dan perancangan bioreaktor agar reaksi tersebut dapat terjadi
dengan efektif dan efisien.

Penulis menyadari, sebagai mahasiswa yang pengetahuannya belum


seberapa dan masih perlu banyak belajar dalam penulisan makalah, bahwa makalah
ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif agar laporan ini menjadi lebih
baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.

Harapan penulis, laporan ini dapat menambah pengetahuan pembaca


mengenai perancangan bioreaktor untuk konversi biogas beserta penerapannya
dalam kehidupan rumah tangga, serta bermanfaat bagi rekan mahasiswa dan semua
kalangan masyarakat.

Depok, Mei 2013

PENULIS

Universitas Indonesia 3
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Daftar Isi

1 BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 7


1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 7
1.2 Analisis Kebutuhan Biogas ...................................................................... 8
1.2.1 Konsumsi Energi Sektor Rumah Tangga .......................................... 8
1.2.2 Konsumsi LPG .................................................................................. 9
1.2.3 Permintaan Energi Menurut Sektor ................................................. 10
1.3 Dasar Teori ............................................................................................. 12
1.3.1 Kotoran Ternak ............................................................................... 12
1.3.2 Biogas sebagai Sumber Energi Alternatif ....................................... 13
1.3.3 Pelestarian Alam dengan Biogas. .................................................... 28
1.3.4 Rekayasa dan Pengujian Reaktor Biogas Skala Rumah Tangga .... 29
2 BAB II DESAIN BIOREAKTOR ................................................................. 32
2.1 Karakteristik Bahan ................................................................................ 32
2.2 Neraca Massa ......................................................................................... 34
2.2.1 Kesetimbangan biomassa ................................................................ 34
2.2.2 Kesetimbangan Substrat .................................................................. 35
2.2.3 Volume bioreaktor .......................................................................... 36
2.2.4 Jumlah ternak yang dibutuhkan ...................................................... 38
2.3 Ukuran Bioreaktor .................................................................................. 38
2.4 Tahap Pembuatan Biogas ....................................................................... 43
3 BAB III ANALISIS EKONOMI DAN BAHAYA ....................................... 45
3.1 Analisis Ekonomi ................................................................................... 45
3.2 Analisis Bahaya ...................................................................................... 48
4 BAB IV KESIMPULAN ............................................................................... 53
5 Daftar Pustaka ................................................................................................ 54

Universitas Indonesia 4
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Daftar Tabel

Universitas Indonesia 5
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Daftar Gambar

Universitas Indonesia 6
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kotoran hewan ternak biasa dianggap sebagai sesuatu yang menjijikan dan
perlu dibersihkan. Nilai guna yang mungkin dapat terpikir oleh masyarakat adalah
menggunakannya untuk pupuk kandang. Namun, ternyata kotoran hewan ternak ini
apabila diproses dengan benar dapat menjadi sumber energi untuk masyarakat.
Dengan perangkat sederhana, bau busuk kotoran ternak akhirnya berhasil dijadikan
gas metan. Gas metan dapat diolah menjadi bahan bakar untuk memasak dan listrik
rumah tangga masyarakat.
Pengolahan kotoran hewan ternak menjadi gas metan sediri sebenarnya cukup
sederhana. Pipa paralon ukuran kecil ditancapkan ke dalam sampah dengan
kedalaman sekitar 3 meter dari permukaan tanah. Ini adalah tahap awal dengan
nama proses pengambilan gas dari sumbernya. Gas metan dimasukkan ke dalam
kompresor. Melalui kompresor ini, gas dipompakan ke tabung elpiji dengan
menggunakan pipa. Setelah itu, gas mengalir melalui pipa yang dihubungkan
dengan sistem pemisah gas. Dimana sistem pemisah gas ini terdiri dari tiga pipa
paralon berukuran betis orang dewasa sejumlah tiga buah. Dan masing-masing dari
ketiga pipa ini menjulang ke atas dengan ketinggian kurang lebih 5 meter.
Pada sistem pemisah tersebut, gas metan akan terpisah dengan air lindi atau
air kotoran dari kotoran hewan ternak yang mengandung bahan organik.
Selanjutnya, gas metan akan menuju ke terminal utama. Sedangkan airnya masuk
ke bak penampungan kecil yang terbuat dari tatanan batu bata dan semen.
Untuk terminal utama sendiri terdiri dari flaring gas, kompor Bahan Bakar
Minyak (BBM) metan, Genser Bahan Bahar Gas (BBG) metan dan blower. Khusus
pada blower, gas dibiarkan secara terbuka. Tujuannya untuk mengontrol produksi
gas dengan gas yang terdistribusi. Blower sangat perlu. Sebab, jika tiba-tiba
pengguna tidak memakai, sedangkan produksi gas terus-menerus terjadi, akan
sangat berbahaya. Oleh karena itu, letak kontrolnya ada di blower. Blower yang
dimaksud adalah pipa paralon seukuran betis orang dewasa yang terbuka. Gas yang
keluar dari blower agak berbau dan panas. Benda-benda kering yang diletakkan

Universitas Indonesia 7
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

diatasnya bisa langsung terbakar. Sementara melalui pipa paralon tersebut, gas
metan yang dihasilkan sampai kepada masyarakat.
Namun, tidak seluruh kotoran hewan ternak bisa diolah menjadi gas metan.
Volume kotoran harus dalam dalam jumlah yang banyak untuk dapat diolah.
Kemudian kotoran tersebut harus berada di lokasinya minimal satu bulan. Semakin
lama sampah didiamkan, semakin besar volume gas metan yang dihasilkan.

1.2 Analisis Kebutuhan Biogas


Kebutuhan energi di Indonesia dikategorikan menjadi beberapa sektor
pengguna energi, seperti industri, rumah tangga, transportasi, pemerintahan,
dan komersial. Energi yang digunakan tidak hanya sebatas pada energi bahan
bakar fosil dan listrik, tetapi juga mencakup gas dan LPG, serta BBN (Bahan
Bakar Nabati) atau dikenal dengan biofuel. Analisis kebutuhan ini didasarkan
pada beberapa indikator, yakni jumlah penduduk, produk domestik bruto
(PDB), Intensitas energi dan konsumsi energi per kapita, serta elastisitas
energi. Secara khusus, sektor rumah tangga akan lebih banyak dibahas pada
tulisan ini, terutama yang berkaitan dengan penggunaan dan kebutuhan gas
(LPG).

1.2.1 Konsumsi Energi Sektor Rumah Tangga


Selama kurun waktu 10 tahun terakhir konsumsi energi di sektor
rumah tangga tumbuh rata-rata 1,4% per tahun dari 272 juta SBM di tahun
1999 menjadi 315 juta SBM di tahun 2009. Pertumbuhan konsumsi tersebut
terkait dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan daya beli masyarakat
dan peningkatan akses terhadap energi. Dari segi jenisnya, konsumsi energi
rumah tangga masih didominasi oleh biomassa (Gambar 1.1) karena
sebagian besar rumah tangga Indonesia berada di perdesaan dengan daya
beli yang masih rendah. Konsumsi energi rumah tangga, selain minyak
tanah dan di luar biomassa, dalam 10 tahun terakhir mengalami peningkatan
tiap tahunnya.

Universitas Indonesia 8
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Gambar 1-1. Konsumsi Energi Rumah Tangga


Sumber : Pusdatin ESDM 2010. Handbook of Energy & Economic Statistic of Indonesia

Dalam hal pertumbuhan, jenis energi rumah tangga yang mengalami


pertumbuhan cepat adalah LPG, listrik dan gas bumi yang tumbuh dengan
rata-rata tahunan 20%, 7% dan 5%. Jenis energi yang mengalami penurunan
konsumsi adalah minyak tanah (turun rata-rata 2% per tahun). Peningkatan
cepat konsumsi LPG dan penurunan konsumsi minyak tanah terjadi pada
tahun 2007 dan 2008 sebagai hasil program subsititusi BBM dengan LPG.
Dari tahun 2007 ke 2008 konsumsi LPG meningkat sekitar 62% sementara
konsumsi minyak tanah turun 20%. Perkembangan konsumsi LPG dan
minyak tanah tersebut mengakibatkan terjadinya peningkatan pangsa LPG
dalam konsumsi energi rumah tangga dari 1,3% (1999) menjadi 7,4%
(2009) dan penurunan pangsa minyak tanah dari 18,6% (1999) menjadi
7,7% (2009). Permintaan LPG rumah tangga di masa datang diperkirakan
akan terus meningkat dengan terus dilaksanakannya program pengalihan
minyak tanah ke LPG.

1.2.2 Konsumsi LPG


Konsumsi LPG di Indonesia saat ini didominasi oleh sektor rumah
tangga (Gambar 1.2). Perkembangan pesat konsumsi energi terjadi dalam
perioda 2005-2009 sebagai hasil pelaksanaan program konversi minyak
tanah ke LPG. Pada perioda tersebut konsumsi LPG tumbuh rata-rata 31%
per tahun.

Universitas Indonesia 9
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Gambar 1-2. Konsumsi LPG di Indonesia Berdasarkan Sektor Pengguna


Sumber : Pusdatin ESDM 2010. Handbook of Energy & Economic Statistic of Indonesia

1.2.3 Permintaan Energi Menurut Sektor


Trend permintaan energi 2010-2030 menurut Skenario Dasar IEO
(Indonesia Energy Outlook) 2010 diperlihatkan pada Gambar 1.3.
Sebagaimana diperlihatkan pada gambar tersebut, permintaan energi final
masa mendatang akan didominasi oleh permintaan dari sektor industri
diikuti oleh transportasi dan rumah tangga. Pada perioda 2010-2030
permintaan energi final secara keseluruhan (termasuk biomassa rumah
tangga) diperkirakan tumbuh rata-rata 5,6% per tahun. Pada perioda tersebut
pertumbuhan permintaan energi rata-rata tahunan menurut sektor adalah
sebagai berikut: industri 6,3%, transportasi 6,7%, rumah tangga 2,1%,
komersial 5,0% dan PKP 3,0%. Dengan pertumbuhan tersebut, pada 2030
pangsa permintaan energi final akan didominasi oleh sektor industri (49%),
diikuti oleh transportasi (29%), rumah tangga (15%), komersial (4%) dan
PKP (3%).

Universitas Indonesia 10
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Gambar 1-3. Permintaan Energi Final Berdasarkan Sektor


Sumber : IEO (Indonesia Energy Outlook) 2010

Sektor rumah tangga merupakan sektor pengguna energi terbesar


ketiga setelah industri dan transportasi. Saat ini pangsa permintaan sektor
ini (di luar biomassa) mencapai 13,4% sedangkan sektor industri 48% dan
sektor transportasi 30%. Pemanfaatan energi sektor rumah tangga terkait
dengan kebutuhan akan tenaga listrik (untuk penerangan, pengkondisian
ruangan, peralatan elektronik lainnya) dan energi termal untuk memasak.
Kebutuhan energi termal dipenuhi dengan pembakaran BBM (minyak
tanah), LPG, gas bumi (beberapa daerah kota besar) dan kayu bakar
(pinggiran kota dan pedesaan). Di beberapa daerah yang belum memiliki
akses ke tenaga listrik, kebutuhan akan penerangan dipenuhi dengan lampu
minyak tanah. Saat ini permintaan energi rumah tangga (di luar biomassa)
didominasi oleh minyak tanah, disusul oleh listrik, dan LPG.
Dengan kebijakan subsitusi minyak tanah dengan LPG, permintaan
energi rumah tangga masa mendatang diperkirakan akan sangat berbeda
dengan kondisi saat ini. Berdasarkan Skenario Dasar, pada perioda 2010-
2030 permintaan energi sektor rumah tangga akan tumbuh rata-rata 8,5%
per tahun (Gambar 1.4). Faktor pendorong pertumbuhan permintaan energi
sektor rumah tangga adalah pertumbuhan populasi (jumlah rumah tangga)
dan daya beli (PDB/kapita). Permintaan energi per rumah tangga akan
meningkat sejalan dengan pertumbuhan PDB per kapita dan akses terhadap
energi. Semakin tinggi daya beli suatu keluarga, makin tinggi pula
kebutuhan energinya. Namun pada level tertentu, kebutuhan energi per

Universitas Indonesia 11
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

rumah tangga akan relatif konstan, tidak lagi dipengaruhi oleh peningkatan
daya belinya. Peningkatan daya beli juga akan berpengaruh pada jenis
energi yang digunakan. Makin mampu suatu keluarga, jenis energinya akan
bergeser ke arah jenis energi yang lebih modern (listrik, LPG atau gas
bumi).. Sejak tahun 2014, pemanfaatan minyak tanah di rumah tangga hanya
terbatas untuk keperluan penerangan di daerahdaerah yang masih sangat
terpencil yang tidak memilki akses terhadap jaringan listrik. Perkembangan
yang menonjol pada 2010-2030 adalah permintaan tenaga listrik yang
diperkirakan akan meningkat rata-rata 10,6% per tahun sejalan dengan
peningkatan populasi, daya beli dan meningkatnya akses terhadap tenaga
listrik.

Gambar 1-4. Permintaan Energi Sektor Rumah Tangga 2010-2030


Sumber : IEO (Indonesia Energy Outlook) 2010

1.3 Dasar Teori


1.3.1 Kotoran Ternak
Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber pupuk organik sangat
mendukung usaha pertanian tanaman sayuran. Dari sekian banyak kotoran
ternak yang terdapat di daerah sentra produksi ternak banyak yang belum
dimanfaatkan secara optimal, sebagian di antaranya terbuang begitu saja,
sehingga sering merusak lingkungan yang akibatnya akan menghasilkan bau
yang tidak sedap.

Tabel 1-1. Kandungan Unsur Hara pada Pupuk Kandang yang Berasal dari Beberapa Ternak
Jenis ternak Unsur hara (kg/ton)

Universitas Indonesia 12
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

N P K
Sapi perah 22,0 2,6 13,7
Sapi potong 26,2 4,5 13,0
Domba 50,6 6,7 39,7
Unggas 65,8 13,7 12,8
Sumber: http://www.disnak.jabarprov.go.id/data/arsip/

Satu ekor sapi dewasa dapat menghasilkan 23,59 kg kotoran tiap


harinya. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dapat
menghasilkan beberapa unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman, seperti
terlihat pada Tabel 1. Disamping menghasilkan unsur hara makro, pupuk
kandang juga menghasilkan sejumlah unsur hara mikro, seperti Fe, Zn, Bo,
Mn, Cu, dan Mo. Jadi dapat dikatakan bahwa, pupuk kandang ini dapat
dianggap sebagai pupuk alternatif untuk mempertahankan produksi
tanaman.

1.3.2 Biogas sebagai Sumber Energi Alternatif


Biogas adalah gas mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari
proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob
(http://www.majarikanayakan.com/). Pada umumnya, semua jenis bahan
organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas. Namun demikian, hanya
bahan organik (padat dan cair) homogen seperti kotoran dan urin hewan
ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Di samping itu, juga
sangat mungkin menyatukan saluran pembuangan di kamar mandi atau WC
ke dalam sistem biogas. Di daerah yang banyak memiliki industri
pemrosesan makanan, misalnya industri tahu, tempe, ikan pindang atau
brem, saluran limbahnya dapat disatukan ke dalam sistem biogas sehingga
limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini
memungkinkan karena limbah industri tersebut di atas berasal dari bahan
organik yang homogen. Jenis bahan organik yang diproses sangat
mempengaruhi produktivitas sistem biogas di samping parameter-parameter
lain seperti temperatur digester, pH, tekanan, dan kelembaban udara.

Universitas Indonesia 13
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Salah satu cara menentukan bahan organik yang sesuai untuk menjadi
bahan masukan sistem biogas adalah dengan mengetahui perbandingan
karbon (C) dan nitrogen (N) atau disebut rasio C/N. Beberapa percobaan
yang telah dilakukan oleh ISAT menunjukkan bahwa aktivitas metabolisme
dari bakteri metanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-20
(http://www.petra.ac.id/science/applied _technology/biogas98/biogas.htm).
Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara
(digester) sehingga bakteri anaerob akan
membusukkan bahan organik tersebut yang kemudian menghasilkan gas
(disebut biogas). Biogas yang telah terkumpul di dalam digester selanjutnya
dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau
langsung ke lokasi penggunaannya. Biogas dapat
dipergunakan dengan cara yang sama seperti gas-gas mudah terbakar
lainnya. Pembakaran biogas dilakukan melalui proses pencampuran dengan
sebagian oksigen (O2). Nilai kalori dari 1 meter kubik biogas sekitar 6.000
watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu,
biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang
ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batubara,
maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.
Namun demikian, untuk mendapatkan hasil pembakaran yang
optimal, perlu dilakukan prakondisi sebelum biogas dibakar yaitu melalui
proses pemurnian/penyaringan karena biogas mengandung beberapa gas
lain yang tidak menguntungkan. Sebagai salah satu contoh, kandungan gas
hidrogen sulfida yang tinggi yang terdapat dalam biogas jika dicampur
dengan oksigen dengan perbandingan 1:20 maka akan menghasilkan gas
yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilaporkan
terjadinya ledakan pada sistem biogas sederhana. Di samping itu, dari proses
produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung
dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman/budidaya pertanian.
Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry)
merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang
dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein,

Universitas Indonesia 14
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

selulose, lignin dan lain-lain ada di dalam slurry ini dan tidak dapat
digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari biogas telah dicobakan
pada tanaman jagung, bawang merah dan padi.
Komposisi gas yang terdapat di dalam Biogas dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 1-2. Komposisi Gas yang Terdapat dalam Biogas

Jenis Gas Volume (%)

Metana (CH4) 40 70
Karbondioksida
30 60
(CO2)
Hidrogen (H2) 01
Hidrogen Sulfida
03
(H2S)
Sumber: (http://www.energi.lipi.go.id)

1.3.2.1 Proses Pembentukan Biogas


Kotoran ternak merupakan bahan baku potensial dalam pembuatan
biogas karena mengandung pati dan lignoselulosa (Deublein et al., 200).
Biasanya, kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk dan sisanya
digunakan untuk memproduksi gas metana menggunakan proses anaerob.
Salah satu ternak yang kotorannya biasa dimanfaatkan sebagai pupuk dan
bahan baku biogas adalah sapi. Kotoran sapi adalah biomassa yang
mengandung karbohidrat, protein, dan lemak. Drapcho et al. (2008)
berpendapat bahwa biomassa yang mengandung karbohidrat tinggi akan
menghasilkan gas metana yang rendah dan CO2 yang tinggi, jika
dibandingkan dengan biomassa yang mengandung protein dan lemak dalam
jumlah yang tinggi. Secara teori, produksi metana yang dihasilkan dari
karbohidrat, protein, dan lemak berturut-turut adalah 0,37; 1,0; 0,58 m3
CH4 /kg bahan kering organik. Kotoran sapi mengandung ketiga unsur
bahan organik tersebut sehingga dinilai lebih efektif untuk dikonversi
menjadi gas metana (Drapcho et al., 2008).
Kotoran sapi adalah limbah dari usaha peternakan sapi yang bersifat
padat dan dalam proses pembuangannya sering bercampur dengan urin dan

Universitas Indonesia 15
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

gas, seperti metana dan amoniak. Kandungan unsur hara dalam kotoran sapi
bervariasi tergantung pada keadaan tingkat produksinya, jenis, jumlah
konsumsi pakan, serta individu ternak sendiri (Abdulgani, 1988).
Kandungan unsur hara dalam kotoran sapi, terdiri atas nitrogen (0,29%),
P2O5 (0,17%), dan K2O (0,35%) (Hardjowigeno, 2003). Kotoran sapi yang
tinggi kandungan hara dan energinya berpotensi untuk dijadikan bahan baku
penghasil biogas (Sucipto, 2009).
Proses pembentukan biogas dilakukan secara anaerob, bakteri
merombak bahan organik yang terdapat pada kotoran sapi yang telah
dijelaskan diatas menjadi biogas dan pupuk organik, proses pelapukan
bahan organik ini dilakukan oleh mikroorganisme dalam proses fermentasi
anaerob.
Proses pembentukan biogas ini memerlukan instalasi khusus yang
disebut dengan digester atau bioreaktor anaerobik. Barnett et al menyatakan
bahwa terdapat tiga keuntungan dari instalasi penghasil biogas yaitu:
1. Penggunaan bahan bakar yang lebih efisien
2. Menambah nilai pupuk
3. Menyehatkan lingkungan
Proses perombakan bahan organik pada kotoran sapi secara anaerob
yang terjadi di dalam digester terdiri dari 4 tahap proses yaitu hidrolisis,
fermentasi (asidogenesis), asetogenesis, dan metanogenesis. Pembentukan
Biogas melalui tiga tahap proses yaitu:
1. Hidrolisis
Pada tahap ini terjadi penguraian bahan bahan organik mudah
larut yang terdapat pada kotoran sapi dan pemecahan bahan organik
yang kompleks menjadi sederhana dengan bantuan air (perubahan
struktur bentuk polimer menjadi bentuk monomer). Senyawa
kompleks ini, antara lain protein, karbohidrat, dan lemak, dimana
dengan bantuan eksoenzim dari bakteri anaerob, senyawa ini akan
diubah menjadi monomer (Deublein et al., 2008).
Protein asam amino, dipecah oleh enzim protease
Selulosa glukosa, dipecah oleh enzim selulase

Universitas Indonesia 16
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Lemak asam lemak rantai panjang, dipecah oleh enzim lipase

2. Pengasaman
Pada tahap pengasaman, komponen monomer (gula sederhana)
yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan
bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari perombakan gula
gula sederhana tadi yaitu asam asetat, propionate, format, laktat,
alkohol dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan
ammonia. Monomer yang dihasilkan dari tahap hidrolisis akan
didegradasi pada tahap ini. Pembentukan asamasam organik tersebut
terjadi dengan bantuan bakteri, seperti Pseudomonas, Eschericia,
Flavobacterium, dan Alcaligenes (Hambali et al., 2007)

3. Asetogenesis
Asam organik rantai pendek yang dihasilkan dari tahap
fermentasi dan asam lemak yang berasal dari hidrolisis lemak akan
difermentasi menjadi asam asetat, H2, dan CO2 oleh bakteri
asetogenik (Drapcho et al., 2008). Pada fase ini, mikroorganisme
homoasetogenik akan mengurangi H2 dan CO2 untuk diubah menjadi
asam asetat (Deublein et al., 2008).

4. Metanogenesis
Pada tahap metanogenesis, terjadi pembentukan gas metan.
Bakteri pereduksi sulfat juga terdapat dalam proses ini yang akan
mereduksi sulfat dan komponen sulfur lainnya menjadi hidrogen
sulfida. Bakteri yang berperan dalam proses ini, antara lain
Methanococcus, Methanobacillus, Methanobacterium. Terbentuknya
gas metana terjadi karena adanya reaksi dekarboksilasi asetat dan
reduksi CO2

Universitas Indonesia 17
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Biogas terbentuk dari perombakan bahan organik kompleks. Bahan


ini akan mengalami perombakan secara anaerob melalui empat tahap.
Tahapan tersebut dapat dilihat secara lengkap pada Gambar berikut:

Gambar 1-5. Skema Proses Perombakan secara Anaerob

1.3.2.2 Parameter Proses Pembuatan Biogas


Laju proses pembuatan biogas sangat ditentukan oleh faktor-faktor
yang mempengaruhi mikroorganisme, diantaranya ialah temperatur, pH,
salinitas dan ion kuat, nutrisi, inhibisi dan kadar toksisitas pada proses,
serta konsentrasi padatan. Berikut ini adalah pembahasan tentang faktor-
faktor tersebut.
a. Temperatur
Temperatur sangat menentukan lamanya proses pencernaan di
digester. Bila temperatur meningkat, umumnya produksi biogas juga
meningkat sesuai dengan batas-batas skemampuan bakteri mencerna
sampah organik. Bakteri yang umum dikenal dalam proses fermentasi
anaerob, misalnya : Psychrophilic (< 15oC), bakteri Mesophilic (15o-

Universitas Indonesia 18
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

45oC), bakteri Thermophilic (45oC-65oC). Umumnya digester anaerob


skala kecil yang terdapat di sekitar bekerja pada suhu antara 25oC-37oC,
atau pada lingkungan tempat bakteri Mesophilic hidup.

b. Derajat keasaman ( pH )
Pada dekomposisi anaerob, faktor pH sangat berperan karena
pada rentang pH yang tidak sesuai, mikroba tidak dapat tumbuh dengan
maksimum. Bahkan dapat menyebabkan kematian yang pada akhirnya
dapat menghambat perolehan gas metana. Bakteri-bakteri anaerob
membutuhkan pH optimal antara 6,2 7,6, tetapi pH yang terbaik
adalah 6,6 7,5. Pada awalnya media mempunyai pH 6 selanjutnya
naik sampai 7,5. Bila pH lebih kecil atau lebih besar maka akan
mempunyai sifat toksik terhadap bakteri metanogenik. Bila proses
anaerob sudsah berjalan menuju pembentukan biogas, pH berkisar 7-
7,8. Pengontrolan pH secara alamiah dilakukan oleh ion NH4+ dan
HCO3-. Ion-ion ini akan menentukan besarnya pH (Yunus, 1991).

c. Nutrisi dan Penghambat bagi Bakteri Anaerob


Bakteri anaerobik membutuhkan nutrisi sebagai sumber energi
untuk menjalankan proses reaksi anaerob. Nutrisi tersebut dapat berupa
vitamin esensial dan asam amino yang dapat disuplai ke media kultur
dengan memberikan nutrisi tertentu untuk pertumbuhan dan
metabolismenya. Selain itu, juga dibutuhkan mikronutrien untuk
meningkatkan aktivitas mikroorganisme, misalnya besi, magnesium,
kalsium, natrium, barium, selenium, kobalt dan lain-lain (Malina,1992).
Bakteri anaerobik membutuhkan nutrisi sebagai sumber energi yang
mengandung nitrogen, fosfor, magnesium, sodium, mangan, kalsium
dan kobalt (Space and McCarthy, 1986). Di bawah ini tabel konsentrasi
kandungan kimia mineral-mineral yang diizinkan yang terdapat dalam
proses pencernaan/digestion limbah organik :

Tabel 1-3. Kandunga Kimia yang Diizinkan pada Proses Digestion Limbah Organik
Metal mg/Liter

Universitas Indonesia 19
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Sulfat 5000
Natrium klorida 40000
Tembaga 100
Krom 200
Nikel 200-500
Sianida 25
ABSS (Alkyl Benzene Sulfonate) 40 ppm
Amonia 3000
Natrium 5500
Kalium 4500
Kalsium 4500
Magnesium 1500
Sumber : Saragih, B. R., 2010

Level nutrisi harus sekurang-kurangnya lebih dari konsentrasi optimum


yang dibutuhkan oleh bakteri metanogenik, karena apabila terjadi
kekurangan nutrisi akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan
bakteri. Penambahan nutrisi dengan bahan yang sederhana seperti
glukosa, buangan industri, dan sisa sisa tanaman terkadang diberikan
dengan tujuan menambah pertumbuhan di dalam digester (Gunerson
and Stuckey, 1986).
Selain karena konsentrasi mineral yang melebihi ambang batas di
atas, polutan-polutan yang juga menyebabkan produksi biogas menjadi
terhambat atau berhenti sama sekali ialah ammonia, antibiotik,
pestisida, deterjen, dan logam-logam berat lainnya.

d. Faktor Konsentrasi Padatan (Total Solid Content/TS)


Total solid content adalah jumlah material padatan yang terdapat
dalam limbah pada bahan organik selama proses digester terjadi yang
mengindikasikan laju penghancuran/pembusukan material padatan
limbah organik. Konsentrasi ideal padatan untuk memproduksi biogas
adalah 7-9% kandungan kering. Kondisi ini dapat membuat proses

Universitas Indonesia 20
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

digester anaerob berjalan dengan baik. Nilai TS sangat mempengaruhi


proses pencernaan/digester bahan organik.

e. Volatile Solids (VS)


VS merupakan bagian padatan TS yang berubah menjadi fase gas
pada tahap asidifikasi dan metanogenesis sebagaimana dalam proses
fermentasi limbah organik. Dalam pengujian skala laboratorium, berat
saat bagian padatan bahan organik hilang terbakar pada proses
gasifikasipada suhu 538oC disebut volatile solid. Berikut ini adalah
tabel persentase potensi produksi gas untuk beberapa bahan organik:

Tabel 1-4. Persentase Potensi Produksi Gas untuk Bahan Organik


Produksi Biogas per kg waste (m3)
Tipe Limbah Organik
(%VS)
Sapi (lembu/kerbau) 0.023-0.040
Babi 0.040-0.059
Ayam 0.065-0.116
Manusia 0.020-0.028
Sampah sisa panen 0.037
Air bakau (water hyacinth) 0.045
Sumber : Saragih, B. R., 2010

f. Penentuan Kadar Metana Dengan BMP


Uji BMP (Biochemical Methane Potential) ditunjukan untuk
mengukur gas metana yang dihasilkan selama masa inkubasi secara
anaerob pada media kimia. Uji BMP dilakukan dengan cara
menempatkan cairan contoh, inokulan (biakan bakteri anaeorob) dan
media kimia dalam botol serum. Botol serum ini, diinkubasi pada suhu
35oC, lalu pengukuran dilakukan selama masa inkubasi secara periodik
(biasanya setiap 5 hari), sehingga pada akhir masa inkubasi (hari ke-30)
didapatkan akumulasi gas metana. Pengukuran dilakukan dengan
memasukkan jarum suntik (metode syringe) ke botol serum.

Universitas Indonesia 21
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

g. Rasio Carbon Nitrogen (C/N)


Proses anaerobik akan optimal bila diberikan bahan makanan
yang mengandung karbon dan nitrogen secara bersamaan. Karbon
dibutuhkan untuk mensuplai energi sedangkan nitrogen dibutuhkan
untuk membentuk struktur sel bakteri. C/N ratio menunjukkan
perbandingan jumlah dari kedua elemen tersebut. Pada bahan yang
memiliki jumlah karbon 15 kali dari jumlah nitrogen akan memiliki C/N
ratio 15 berbanding 1. C/N ratio dengan nilai 30 (C/N = 30/1 atau
karbon 30 kali dari jumlah nitrogen) akan menciptakan proses
pencernaan pada tingkat yang optimum, bila kondisi yang lain juga
mendukung. Bila terlalu banyak karbon, nitrogen akan habis terlebih
dahulu. Hal ini akan menyebabkan proses berjalan dengan lambat. Bila
nitrogen terlalu banyak (C/N ratio rendah; misalnya 30/15) maka
karbon habis lebih dulu dan proses fermentasi berhenti Sebuah
penelitian menunjukkan bahwa aktivitas metabolisme dari bakteri
methanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-20. Berikut
ini adalah tabel yang menunjukkan rasio C/N beberapa material organik
yang umum digunakan:

Tabel 1-5. Rasio C/N Material Organik


Bahan Mentah C/N Ratio
Kotoran manusia 8
Kotoran kambing 12
Kotoran domba 19
Air bakau 25
Limbah jagung 60
Limbah gandum 90
Kotoran bebek 8
Kotoran ayam 10
Kotoran babi 18
Kotoran sapi 24
Kotoran gajah 43

Universitas Indonesia 22
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Limbah padi 70
Serbuk gergaji Diatas 200
Sumber : Saragih, B. R., 2010

h. Lama Proses Pencernaan


Lama proses pencernaan (Hydraulic Retention Time/HRT) adalah
jumlah waktu (dalam hari) proses pencernaan/digesting pada tangki
anaerob terhitung mulai dari pemasukan bahan organik sampai dengan
proses awal pembentukan biogas dalam digester anaerob. HRT meliputi
70-80% dari total waktu pembentukan biogas secara keseluruhan.
Lamanya waktu HRT sangat tergantung dari jenis bahan organik dan
perlakuan terhadap bahan organik sebelum dilakukan proses
pencernaan/digester.

i. Pengadukan Bahan Organik


Pengadukan sangat bermanfaat bagi bahan yang berada di dalam
digester anaerob karena memberikan peluang material tetap bercampur
dengan bakteri dan temperatur sterjaga merata di seluruh bagian
digester. Dengan pengadukan, potensi material yang mengendap di
dasar digester semakin kecil, konsentrasi merata, dan potensi seluruh
material mengalami proses fermentasi anaerob besar.

j. Pengaruh Tekanan
Semakin tinggi tekanan di dalam digester maka semakin rendah
produksi biogas di dalam digester, terutama pada proses hidrolisis dan
asidifikasi. Tekanan dipertahankan di antara 1.15-1.2 bar di dalam
digester.
k. Penjernihan Biogas
Kandungan gas atau zat lain dalam biogas seperti air,
karbondioksida, dan asam sulfida merupakan polutan yang mengurangi
kadar panas pembakaran biogas bahkan dapat menyebabkan karat yang
merusak mesin.

Universitas Indonesia 23
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Banyak cara untuk memurnikan biogas, diantaranya dengan cara


Physical Absorption (pemasangan water trap di pipa biogas), Chemical
Absorption, pemisah membran permeabel, hingga penyemprotan air
atau oksigen untuk mengikat senyawa sulfur atau karbondioksida. Bila
biogas digunakan untuk bahan bakar kendaraan atau karbondioksida,
gas H2S yang berpotensi menyebabkan karat pada komponen mesin
harus dibuang melalui peralatan penyaring/filter sulfur.

1.3.2.3 Konversi Energi Biogas untuk Ketenagalistrikan


Biogas selain dapat digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat
digunakan sebagai sumber energi alternatif untuk penggerak generator
pembangkit tenaga listrik serta menghasilkan energi panas. Pembakaran 1
ft3 (setara dengan 0.028 m3) biogas menghasilkan energi panas sebesar 10
Btu (2.25 kcal) yang setara dengan 6 kWh/m3 energi listrik atau 0.61 L
bensin, 0.58 L minyak tanah, 0.55 L diesel, 0.45 L LPG (natural gas), 1.5
kg kayu bakar, dan 0.79 L bioetanol. Konversi energi biogas untuk
pembangkit tenaga listrik dapat dilakukan dengan menggunakan gas
turbine, microturbines, dan Otto Cycle Engine. Pemilihan teknologi ini
sangat dipengaruhi oleh potensi biogas yang ada, seperti konsentrasi gas
metan maupun tekanan biogas, kebutuhan beban, dan ketersediaan dana.

Universitas Indonesia 24
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Sistem PLTB secara lengkap terdiri dari digester anaerob, feedstock,


biogas conditioning untuk memurnikan kandungan metan dalam biogas,
microturbines, heat recovery use, dan engine heat recovery. Berikut ini
adalah gambar sistem penyaluran energi listrik dan panas PLTB :

Gambar 1-6. Sistem Penyaluran Tenaga Listrik dan PLTB (a) Feedstock (b) Digester (c) Biogas Tank
(d) Microturbines

a. Sumber Pasokan Limbah Organik (Feedstock)


Sumber pasokan limbah organik adalah tempat asal bahan organik,
seperti : peternakan, tempat sampah, atau tempat proses akhir dari
proses pengolahan bahan hasil pertanian. Di dalam feedstock terdapat
pula tangki pemasukan bahan organik (inlet feed substrate/feedstock)
yang merupakan wadah penampungan yang terhubung ke digester
melalui saluran dengan kemiringan tertentu. Peralatan crusher
(pencacah), proses pencampuran (mixing), dan pengenceran untuk
mempermudah penyaluran ke tangki digester juga terdapat dalam
feedstock.
b. Tangki Pencernaan (Digester)
Digester merupakan tempat reaksi fermentasi anaerob limbah organik
menjadi biogas. Berdasarkan bentuknya, reaktor biogas dapat
dikategorikan menjadi tipe balon (balloon type), tipe kubah tetap (fixed-
dome type), dan tipe kubah penutup (floating-drum type). Di bawah ini
merupakan gambar ketiga reaktor biogas tersebut :

Universitas Indonesia 25
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Gambar 1-7. Reaktor Biogas Berdasarkan Bentuknya (a) Balloon type (b) Fixed dome (c) Floating
drum type

Sedangkan berdasarkan proses pengolahan limbahnya, reaktor biogas


dapat dikategorikan menjadi beberapa digester, yakni : Batch digester
yang proses pengolahan limbahnya hanya dilakukan sekali proses yaitu
pemasukan limbah organik, digestion, dan penghasilan biogas serta
slurry kompos yang kaya nutrisi bagi tanah; Plug Flow digester dengan
proses daur ulang/pencernaan limbah organik beberapa kali; digester
pengadukan penuh (CFSTR) dan digester dengan pengadukan berkala
(CSTR) yang pengadukannya digunakan untuk mempercepat waktu
cerna (HRT).

Universitas Indonesia 26
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Gambar 1-8. Reaktor Biogas Berdasarkan Proses Pengolahan (a) Batch digester (b) Plug flow digester
(c) CSFTR (d) CSTR

Dalam beberapa kondisi, pada digester anaerob dilengkapi dengan


mesin pengaduk lumpur (slurry mixture machine) sehingga konsentrasi
material merata di setiap bagian digester. Dengan pengadukan, potensi
mengendapnya material di dasar digester menjadi kecil dan
memberikan kemungkinan bahwa seluruh material mengalami proses
fermentasi anaerob secara merata.
c. Katup penampung Gas (Biogas Tank)
Tangki penyimpanan biogas adalahg tangki yang digunakan untuk
menyimpan dan menyalurkan seluruh biogas hasil produksi dari biogas
digester. Tangki ini dapat terbuat dari plastik, semen, ataupun baja
stainless steel tahan karat yang dilapisi epoxy dan dilengkapi regulator
pengukur tekanan gas.
Untuk reaktor biogas skala kecil, penampung gas berada di bagian atas
digester biogas dan pada digester model floating drum plant, volum
biogas yang dihasilkan mendorong tutup atas digester dan menjadi
indikator apakah proses metanogenesis sudah terjadi atau belum.
d. Generator Pembangkit Tenaga Listrik (Microturbines Generator)
Microturbines adalah generator listrik kecil yang membakar gas atau
bahan bakar cair untuk menciptakan rotasi kecepatan tinggi untuk
mengubah energi mekanis menjadi energi listrik. Perkembangan energi
microturbines dewasa ini adalah hasil dari pengembangan pembangkit

Universitas Indonesia 27
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

stasioner skala kecil dan turbin gas otomotif peralatan utama


pembangkit listrik dan turbochargers yang sebagian besar
dikembangkan pada sektor industri otomotif dan pembangkit tenaga
listrik. Pemilihan teknologi pembangkit mikroturbin disebabkan karena
pembangkit ini sesuai dengan potensi sumber energi kecil, yakni untuk
daya keluaran berkisar 25kW sampai dengan 400 kW.

Gambar 1-9. Mikroturbin dengan Siklus Combine Heat Power - CHP

Siklus kombinasi daya dan panas merupakan proses pemanfaatan


energi yang dihasilkan dari pembakaran biogas. Dalam siklus pada
gambar diatas, dapat dilihat bahwa panas yang dihasilkan dari
pembakaran biogas digunakan untuk memutar turbin, turbin dikopel
dengan generator untuk menghasilkan energi listrik yang dialirkan ke
beban. Panas sisa yang dihasilkan setelah dimanfaatkan turbin
digunakan kembali oleh recuperator dan exhaust heat recovery sebagai
pemanas air, misalnya sistem air panas yang digunakan pada hotel.

1.3.3 Pelestarian Alam dengan Biogas.


Biogas memberikan solusi terhadap masalah penyediaan energi
dengan murah dan tidak mencemari lingkungan. Berdasarkan hasil temuan
mahasiswa KKN (1995) dan Penelitian Kecamatan Rawan di Magetan
(1995) di desa Plangkrongan, rata-rata di setiap rumah terdapat 1-3 ekor sapi
karena memelihara sapi merupakan pekerjaan kedua setelah bertani. Setiap
harinya rata-rata seekor sapi menghasilkan kotoran sebanyak 30 kg. Jika
terdapat 2.000 ekor lembu, maka setiap hari akan terkumpul 60 ton kotoran
(http://www.kompascetak.com/kompas-cetak/0712/15/jogja/1045892.htm)

Universitas Indonesia 28
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Kotoran yang menggunung akan terbawa oleh air masuk ke dalam


tanah atau sungai yang kemudian mencemari air tanah dan air sungai.
Kotoran lembu mengandung racun dan bakteri E. coli yang membahayakan
kesehatan manusia dan lingkungannya.
Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan karbon dioksida (CO2)
yang ikut memberikan kontribusi bagi efek rumah kaca (green house effect)
yang bermuara pada pemanasan global (global warming). Biogas
memberikan perlawanan terhadap efek rumah kaca melalui 3 cara.
Pertama, Biogas memberikan substitusi atau pengganti dari bahan bakar
fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan. Kedua,
metana (CH4) yang dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk
merupakan gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih
besar dibandingkan CO2. Pembakaran metana pada Biogas mengubahnya
menjadi CO2 sehingga mengurangi jumlah metana di udara. Ketiga, dengan
lestarinya hutan, maka akan CO2 yang ada di udara akan diserap oleh hutan
yang menghasilkan Oksigen yang melawan efek rumah kaca.
(http://www.majarikanayakan.com/).

1.3.4 Rekayasa dan Pengujian Reaktor Biogas Skala Rumah Tangga


Teknologi biogas telah berkembang sejak lama namun aplikasi
penggunaannya sebagai sumber energi alternatif belum berkembang secara
luas. Beberapa kendala antara lain karena kurangnya technical expertise,
tidak berfungsinya reaktor biogas akibat kebocoran atau kesalahan
konstruksi, desain reaktor yang tidak user friendly, penanganan masih
manual, dan biaya konstruksi yang cukup mahal
(http://www.energi.lipi.go.id). Untuk reaktor biogas skala rumah tangga
reaktor di desain dengan kapasitas 18 m3 untuk menampung kotoran sapi
sebanyak 10-12 ekor. Berdasarkan perhitungan desain, reaktor mampu
menghasilkan biogas sebanyak 6m3/hari. Produksi gas metana dipengaruhi
oleh C/N rasio input (kotoran ternak), residence time, pH, suhu dan
toksisitas. Suhu digester berkisar 25-27 oC dan pH 7-7,8 menghasilkan
biogas dengan kandungan metana (CH4) sekitar 77%.

Universitas Indonesia 29
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Untuk membuat reaktor biogas skala rumah tangga diperlukan


beberapa hal berikut:
1. Volume reaktor (plastik) : 4000 liter
2. Volume penampung gas (plastik) : 2500 liter
3. Kompor biogas : 1 buah
4. Drum pengaduk bahan : 1 buah
5. Pengaman gas : 1 buah
6. Selang saluran gas : 10 m
7. Kebutuhan bahan baku : kotoran ternak dari 2-3 ekor sapi/kerbau
8. Biogas yang dihasilkan : 4 m3 perhari (setara dengan 2,5 liter minyak
tanah).
Adapun cara pengoperasian reaktor biogas skala rumah tangga:
1. Buat campuran kotoran ternak dan air dengan perbandingan 1:1
(bahan biogas).
2. Masukkan bahan biogas ke dalam reaktor melalui tempat pengisian
sebanyak 2000 liter, selanjutnya akan berlangsung proses produksi
biogas ke dalam reaktor.
3. Setelah kurang lebih 10 hari reaktor gas dan penampung biogas akan
terlihat mengembung dan mengeras karena adanya biogas yang
dihasilkan. Biogas sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar,
kompor biogas dapat dioperasikan.
4. Sekali-sekali reaktor biogas digoyangkan supaya terjadi penguraian
yang sempurna dan gas yang terbentuk di bagian bawah naik ke atas,
lakukan juga pada setiap pengisian bahan bakar.
5. Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, yaitu
sebanyak 40 liter setiap pagi dan sore. Sisa pengolahan bahan biogas
berupa sludge (lumpur) secara otomatis akan keluar dari reaktor setiap
kali dilakukan pengisian bahan biogas. Sisa hasil pengolahan bahan
biogas tersebut dapat digunakan langsung sebagai pupuk organik, baik
dalam keadaan basah maupun kering.

Universitas Indonesia 30
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Gambar 1-10. Proses Produksi Biogas


Sumber: http://www.petra.ac.id/science/applied _technology/biogas98/biogas.htm

Cara Pengoperasian Kompor Biogas


1. Buka sedikit kran gas yang ada pada kompor.
2. Nyalakan korek api dan sulut tepat di atas tungku kompor.
3. Apabila menginginkan api yang lebih besar, kran gas dapat dibuka
lebih besar lagi, demikian pula sebaliknya. Api dapat disetel sesuai
dengan kebutuhan dan keinginan kita.

Pemeliharaan dan Perawatan Reaktor Biogas


1. Hindarkan reaktor dari gangguan anak, tangan jahil ataupun dari
ternak yang dapat merusak reaktor dengan cara memagar dan
memberi atap supaya air tidak dapat masuk ke dalam galian reaktor.
2. Isilah selalu pengaman gas dengan air sampai penuh. Jangan biarkan
sampai kosong karena gas yang dihasilkan akan terbuang melalui
pengaman gas.

Universitas Indonesia 31
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

2 BAB II DESAIN BIOREAKTOR


2.1 Karakteristik Bahan
Bahan baku yang digunakan dalam produksi biogas adalah kotoran sapi,
kotoran sapi merupakan salah satu dari bentuk limbah pertanian. Di daerah
pedesaan, kotoran sapi sangat banyak dijumpai. Sisa atau buangan senyawa
organik yang berasal dari tanaman ataupun hewan secara alami akan berurai
baik akibat pengaruh lingkungan fisik seperti panas matahari, lingkungan
kimia seperti karena pengaruh senyawa lain atau yang paling umum adalah
karena adanya jasad renik yang disebut mikroba, baik bakteri maupun jamur.
Akibat penguraian bahan organik yang dilakukan jasad renik tersebut, maka
akan terbentuk zat atau senyawa yang lebih sederhana, dan salah satu
diantaranya berbentuk CH4 atau gas methan (Nurhasanah et al., 2006).
Kotoran sapi segar mengandung banyak bakteri pembentuk asam dan metana,
hal inilah yang menjadi dasar kenapa kotoran sapi banyak digunakan sebagai
bahan fermentasi anaerobik.
Aktifitas normal dari mikroba yang membentuk gas methan
membutuhkan sekitar 80% air dan 20% kandungan kering dari bahan baku
fermentasi. Untuk mendapatkan kandungan kering sebanyak jumlah tersebut
maka, bahan baku terlebih dahulu harus diencerkan dengan air dengan
perbandingan 1:2 dan setelah itu dimasukan ke dalam digester atau bioreaktor.
Hal ini juga untuk memudahkan pengaliran slurry ke dalam bioreaktor serta
menghindari terbentuknya sedimentasi yang akan menyulitkan pengaliran
selanjutnya karena salurannya yang tersumbat (Paimin, 1999)
Bakteri yang terlibat dalam proses anaerobik membutuhkan beberapa
elemen penting sesuai dengan kebutuhan hidup mikroorganisme seperti
sumber makanan dan kondisi lingkungan yang optimum. Bakteri anaerob
mengkonsumsi karbon sekitar 30 kali lebih cepat dibanding nitrogen. Rasio
optimum untuk reaktor anaerobik berkisar 20 30. Jika C/N bahan terlalu
tinggi, maka nitrogen akan dikonsumsi dengan cepat oleh bakteri metanogen
untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhannya dan hanya sedikit yang bereaksi
dengan karbon, akibatnya gas yang dihasilkan menjadi rendah. Sebaliknya
jika C/N bahan baku terlalu rendah, nitrogen akan dibebaskan dan

Universitas Indonesia 32
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

berakumulasi dalam bentuk ammonia (NH4) yang dapat menyebabkan


peningkatan pH. Jika pH lebih tinggi dari 8,5 akan mengakibatkan pengaruh
yang negatif pada populasi bakteri metanogen, sehingga akan mempengaruhi
laju pembentukan biogas di dalam reaktor. Diketahui nilai rasion C/N pada
kotoran sapi adalah 24 (Waskito, 2004).
Menurut Endo et al. (2010), bakteri yang tinggal di sistem pencernaan
(gastrointestinal tract) dari herbivora, termasuk sapi di sini, umumnya
merupakan keluarga Escherichia coli, Lactobacillus johnson dan
Lactobacillus casei. Dalam beberapa kesempatan Zhu et al. (2010) meneliti
populasi bakteri pemicu metanogenesis dari biomassa di dalam reaktor biogas
anaerob. Menurutnya, metanogenesis yang nanti menjadi cikal bakal
pembentukan metana dikatalisasi oleh kerjasama sintrofik antar bakteri
anaeob, bakteri asetogenik sintrofik, dan archaebacteria metanogenik.
Walaupun memiliki komposisi yang berbeda-beda, rata-rata kotoran
memiliki koloni Methanobacteriales, Methanomicrobiales, dan
Methanosarcinales. Rata-rata bakteri dipostulasikan bersifat hidrogenotrofik
metanogen.
Dalam membuat reaktor skala rumah tangga, perlu dipertimbangkan
beberapa hal. Walaupun secara umum kita tidak memerlukan neraca massa,
karena ketidak mampuan untukmengetahui secara tepat komposisi di dalam
substrat (kotoran sapi ), oleh karenanya secara terus menerus, dan
ketidakekonomisan untuk melakukannya, maka dilakukan pendekatan rule of
thumb.
Melalui pengalaman, ditemukan beberapa rule of thumbs sebagai
berikut:
a. Bakteri membutuhkan suhu 380C 400C untuk tumbuh optimal (Zhu et
al., 2010)
b. Konversi 1 ton kotoran sapi (kapasitas penampung reaktor 6000 liter)
dapat membentuk 4500 5700 liter biogas ()
c. Waktu konversi 30 hari (Tchobanoglous et al., 2003)Bakteri
membutuhkan air 2 kali dari jumlah substrat yang ada untuk
melangsungkan proses metabolisme ()

Universitas Indonesia 33
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Dari rule of thumb tersebut, kemudian dibuat desain reaktor. Berikut


adalah neraca massa total dan karakteristik fisik dari bioreaktor yang ada,
namun perlu diperhatikan bahwa basis reaksi yang dipakai ialah reaksi
menurut rule of thumb, karena pada dasarnya kita tidak dapat
mengidentifikasi input secara terus menerus.

2.2 Neraca Massa


Menurut Tchobanoglous et al. (2003) perancangan bioreaktor dapat
diturunkan dari persamaan kesetimbangan biomassa, dan kesetimbangan
substrat. Penggunaan substrat dalam sistem biologi dapat dimodelkan pada
persamaan berikut. Karena substrat yang digunakan akan terus menurun,
maka nilai negative digunakan.

= (1)
+
dimana:
rs = laju penggunaan substrat
k = laju maksimum penggunaan substrat
X = biomassa, g/m
Ks = konstanta saturasi
S = konsentrasi substrat pembatas tumbuh

2.2.1 Kesetimbangan biomassa


Secara umum:

Laju akumulasi = laju pemasukan laju pengeluaran + laju generasi



= + (2)

dimana:
dX/dt = laju perubahan konsentrasi biomassa
V = volume reaktor,
Q = debit influen
X0 = konsentrasi biomassa influen
X = konsentrasi biomassa dalam reaktor

Universitas Indonesia 34
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

rg = laju pertumbuhan.
Jika pada keadaan steady state diasumsikan dX/dt = 0, persamaan
kesetimbangan dapat diubah menjadi:

= (3)

dimana ruas kiri pada persamaan diatas dapat dikenali sebagai waktu tinggal.
Waktu tinggal () dapat diartikan sebagai banyaknya padatan yang berada
dalam sistem dibagi banyaknya biomassa yang terdegradasi per hari, Dalam
konversi biogas, waktu penyimpanan dikenal sebagai HRT (hydraulic
retention time) adalah jumlah hari proses pencernaan/digesting pada tangki
bioreaktor anaerob terhitung mulai pemasukan bahan organik sampai proses
awal pembentukan biogas dalam digester anaerob. Waktu penyimpanan
tergantung pada temperatur lingkungan dan temperature bioreaktor. Dengan
kondisi tropis seperti Indonesia, asumsi waktu penyimpanan adalah 30 hari
(Waskito, 2004), maka dapat diperoleh volume larutan total kotoran sapi
adalahyang dapat ditulis sebagai berikut:
1
= (4)

dimana Y adalah koefisien Yield maksimum, jika persamaan laju
penggunaan substrat disubstisusikan ke persamaan diatas, maka akan
didapat:
1
= (5)
+

2.2.2 Kesetimbangan Substrat


(6)
= +

Jika pada keadaan steady state diasumsikan dX/dt = 0, persamaan
diatas dapat diubah menjadi:

= ( ) (7)
+

Universitas Indonesia 35
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Variabel S/Ks+S disubstitusikan ke persamaan kesetimbangan substrat


sebagai bentuk konsentrasi biomassa, maka didapat:
(0 )
=( )( ) (8)
/ 1 +

2.2.3 Volume bioreaktor


Persamaan sebelumnya diatas dapat disederhanakan menjadi:
[( )]
=( ) (9)
[1 + ()]
Volume bioreaktor disesuaikan dengan kapasitas produksi, kapasitas
produksi biogas yang diinginkan adalah sebanyak 1m3, maka volume
bioreaktor harus dapat menampung substrat yang akan mengkonversi
sebanyak 1m3 biogas. Dengan rule of thumb yang ada, berikut adalah
perhitungannya
6000 1
1 4500 5700
4500 + 5700
1 = = 5100
2

13 30
1 2
=
1 2
1 2
=
5100 50.000
2 = 9.80
Dengan asumsi bahwa slurry yang tersisa ialah 12.5% (non-volatile
solid), maka didapatkan neraca massa sebagai berikut
Input Output
Jenis Massa Jenis Massa
Kotoran sapi 9.80 ton Biogas 8.57 ton
Slurry 1.23 ton
Dengan pengetahuan akan neraca massa di atas, maka didapatkan volume
bioreaktor ialah:

Universitas Indonesia 36
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

1 2
=
1 2
1 9.80
=
6000 2
2 = 58,800
Maka volume bioreaktor sekitar 58,800 liter
Selanjutnya, untuk mengetahui laju alir debit larutan kotoran sapi (Q)
dapat ditentukan dari persamaan diatas dengan menggunakan trial and error.

=

1000
= = 0.85
1176
= 30 hari
= 0.132 (, 2004)

Dengan hasil trial and error pada persamaan, didapatkan

50,000
= = 1,666.67
30

Maka laju alir effluent kotoran didapatkan sekitar



= 1,960.00 = 326.67
Sementara laju keluar biogasnya ialah
= 1666.67
Perhitungan kasar diatas dapat didukung dengan percobaan yang
dilakukan di Institut Pertanian Bogor, sehingga didapat komposisi kotoran
berkisar dari tabel berikut (dengan kandungan karbon terbesar dikandung
dalam bentuk selulosa)

Tabel 2-1. Komposisi Kotoran


Komposisi Kotoran Sapi Secara Kasar
Komponen Kadar Massa dalam 9.80 ton
Air 84.2% 8.25 ton
Padatan 15.8% 1.55 ton
Dengan komposisi padatan

Universitas Indonesia 37
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Abu Padatan non uap Karbon


Nitrogen Padatan uap

2.2.4 Jumlah ternak yang dibutuhkan


1 ekor sapi kira kira menghasilkan 28 kg/hari kotoran per hari. Dari
perhitungan di atas, kotoran sapi yang diperlukan untuk investasi awal
adalah

=

28
9800
= = 350

28
Tiga ratus lima puluh ekor sapi ini akan mendapatkan 9.8 ton kotoran.
Sementara untuk memenuhi laju alir perhari, dibutuhkan hanya sekitat 1.67
ton

=

28

326.67
= = 11.67 12

28

2.3 Ukuran Bioreaktor


Ukuran tangki digester biogas tergantung dari jumlah bahan baku atau
kotoran sapi yang tersedia. Dibawah ini gambar bentuk penampang silinder
digester anaerob dengan penjelasan sebagai berikut:

Gambar 2-1. Penampung Digester Biogas Silinder

Keterangan:
Vc : Volume ruang penampung gas (gas collecting volume)

Universitas Indonesia 38
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Vgs : Volume ruang penyimpanan gas (gas storage volume)


Vf : Volume ruang fermentasi (fermentation volume)
VH : Volume ruang hidrolik (hydraulic volume)
Vs : Volume lapisan penampung lumpur (Sludge volume)
Total volume digester: V = Vc+Vgs+Vf+Vs
Untuk ukuran bioreaktor anaerob, kami mengikuti rule of thumb dari
sizing bioreaktor, berdasarkan gambar tangki digester di atas, berlaku
ketentuan ukuran ruangan ruangan digester sebagai berikut, dimana
ketentuan ketentuan dibawah ini diperoleh dari penlitian yang dilakukan
oleh Waskito pada tahun 2005.
Vc (gas collecting volume) 5%
Vs (sludge volume) 15%
Vgs + Vf (gas storage volume + fermentation volume) = 80% V (total
volume)
Vgs = 0.5 (Vgs + Vf + Vs ) K
Vgs = VH, hal ini berarti biogas akan menempati seluruh ruang
penyimpanan gas sesuai dengan volume gas yang dihasilkan.

K merupakan nilai laju produksi gas tiap m3 per hari. Berdasarkan literatur,
nilai K untuk kotoran sapi adalah 0.04 (Waskito, 2005).
Maka untuk bioreaktor dengan volume 9,8 ton atau setara dengan 58800
L, maka ukuran ruangan ruangan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
Vc = 2940 L
Vs = 8820 L
Vgs + Vf = 47040 L
Vgs = 0.5 (800 + 150 ) 0.04 = 1117,2 L
Vf = 800 99,75 = 45922,8 L
Dari perhitungan diatas, maka akan diketahui volume masing masing
bagian digester yaitu:

Universitas Indonesia 39
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

50 dm3

99,75 dm3
99,75 dm3

700,25 dm3
150 dm3

Setelah diketahui ukuran volume bagian bagian digester, maka dapat


ditentukan ukuran geometri digester berdasarkan gambar berikut:

Menghitung Diameter digester


D = 1,3078 x V1/3 = 1,3078 x (58800 dm3)1/3 = 50,85 dm = 5,09 m
F1 = D/5 = 1,02 m
F2 = D/8 = 0.64 m
R1 = 0.725 x D = 3,69 m
R2 = 1,0625 x D = 5,41 m
S1 = 0.911 x D2 = 23,60 m2
S2 = 0.8345 x D2 = 21,62 m2

Menghitung Tinggi efektif Digester


Dengan melakukan pendekatan dengan volume tabung, maka:
1 2
=
4

Vf = 45922,8 L, maka H = 45922,8 /( x 3,14 x 4,92) = 2436,5 dm =243,6 m

Universitas Indonesia 40
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Dengan rule of thumb kondisi operasi bioreaktor adalah sebagai berikut


(Waskito,2005):

Kondisi dalam reaktor (proses) Nilai pada referensi


Suhu (oC) 35
pH 7,0 8,0
Tekanan (bar) 1,15 1,2

Desain dan Konstruksi


Konstruksi instalasi reaktor biogas ini akan menggunakan bioreaktor dengan
tipe fixed dome atau kubah tetap. Fixed dome terdiri dari tiga bagian yaitu:
unit pencampur, bagian utama reaktor, dan bagian pengeluaran lumpur.
Disain dan konstruksi ini mengikuti penelitian yang dilakukan oleh Waskito
pada tahun 2005. Fungsi masing masing bagian adalah sebagai berikut:
a. Unit pencampuran
Berfungsi untuk menampung kotoran sapi yang terkumpul dari kandang
dan mencampur dengan air dengan perbandingan padatan dengan air
adalah 1:2 (Paimin,1999). Unit pencampuran disebut juga sebagai feed
stock berfungsi sebagai sumber pasokan larutan kotoran sapi untuk
kemudian akan dijadikan substrat dalam fermentasi anaerob. Proses
pencampuran dengan air bertujuan untuk mempermudah penyaluran ke
tangki digester. Ukurannya disesuaikan dengan jumlah kotoran sapi dan
air yang dibutuhkan. Campuran yang menyerupai bubur ini kemudian
dimasukkan ke dalam digester utama.
b. Tangki pencernaan (digester)
Digester merupakan tempat fermentasi anaerob kotoran sapi menjadi
biogas terjadi. Pada proses pengolahan kotoran sapi ini menggunakan
bioreaktor semi kontinyu atau fed batch dengan tipe kubah tetap dengan
menggunakan pengadukan. Pada tangki digester ini dilengkapi dengan
mesin pengaduk lumpur (slurry mixture machine) sehingga konsentrasi
material mengendap di dasar digester semakin kecil. Konsentrasi merata
akan memberikan kemungkinan seluruh material mengalami proses

Universitas Indonesia 41
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

fermentasi anaerob secara merata. Tangki digester ini juga dilengkapi


dengan lubang pemeliharaan (manhole) yang diberi penutup, fungsinya
adalah untuk pengaman apabila terdapat tekanan yang terlalu besar dari
biogas yang terbentuk sehingga tidak merusak konstruksi reaktor.
Digester jenis kubah tetap mempunyai kelebihan dan kekurangan seperti
pada tabel berikut:

Tabel 2-2. Kelebihan dan Kekurangan Digester Kubah


Kelebihan Kekurangan
1. Konstruksi sederhana dan 1. Bagian dalam digester tidak
dapat dikerjakan dengan terlihat, khususnya yang
mudah dibuat di dalam tanah
2. Biaya konstruksi rendah sehingga kebocoran tidak
3. Tidak terdapat bagian yang terdeteksi
bergerak 2. Tekanan gas berfluktuasi
4. Dapat dipilih dari material dan bahkan fluktuasinya
yang tahan karat sangat tinggi
5. Umurnya panjang 3. Temperature digester
6. Dapat dibuat di dalam rendah
tanah sehingga menghemat
tempat

c. Katup Penampung Gas


Tangki penampungan biogas adalah tangki yang digunakan untuk
menyimpan dan menyalurkan seluruh biogas hasil produksi dari biogas
digester. Tangki ini bisa terbuat dari plastik, semen atau baja stainless steel
tahan karat yang dilapisi epoxy dan dilengkapi regulator atau sensor
pengukur tekanan gas. Penampung biogas berada di bagian atas digester,
volume biogas yang dihasilkan mendorong tutup atas digester dan menjadi
indikator tahap metanogenesis.
d. Saluran Keluaran Residu
Saluran ini digunakan untuk mengeluarkan kotoran yang telah
difermentasi oleh bakteri. Saluran ini bekerja berdasarkan prinsip

Universitas Indonesia 42
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

kesetimbangan tekanan hidrostatik residu yang keluar pertama kali


merupakan slurry masukan pertama setelah waktu retensi.
e. Katup Pengaman Tekanan (control valve)
Katup pengaman tekanan ini digunakan sebagai pengatur tekanan gas
dalam biodigester. Katup pengaman ini menggunakan prinsip pipa T. bila
tekanan gas dalam saluran gas lebih tinggi dari kolom air, maka gas akan
keluar melalui pipa T, sehingga tekanan gas dalam digester akan turun.
Katup pengaman cukup penting dalam reaktor biogas yang besar dan
sistem kontinu, karena umumnya digester dibuat dari material yang tidak
tahan tekanan tinggi, semakin tinggi tekanan di dalam digester, semakin
rendah produksi biogas di dalam digester terutama pada proses hidrolisis
dan asidifikasi. Tekanan yang dipertahankan antara 1,15 1,2 bar.
f. Saluran Biogas
Tujuan dari saluran biogas adalah untuk mengalirkan biogas yang
dihasilkan digester. Bahan untuk saluran gas disarankan terbuat dari
polimer untuk menghindari korosi. Untuk pemanfaatan biogas sebagai
bahan bakar masak, pada ujung saluran pipa dapat disambung dengan pipa
yang terbuat dari logam supaya tahan terhadap temperatur pembakaran
yang tinggi.

2.4 Tahap Pembuatan Biogas

Gambar 2-2. Desain Reaktor Biogas

a. Penyaringan Bahan Baku

Universitas Indonesia 43
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Penyaringan ini dilakukan agar bahan baku tidak mengandung serat


yang terlalu kasar. Serat kasar tersebut berupa sampah atau kotoran lain
dari kandang selain kotoran ternak, misalnya serpihan kayu, akar, daun
keras, sisa batang rumput atau kotoran lainnya yang kebanyakan berupa
sisa sisa pakan ternak yang terlalu kasar
b. Pencampuran dengan air dan pengadukan
Air berguna bagi mikroorganisme di dalam pembangkit sebagai media
transpor saat pencampuran kotoran. Campuran tidak boleh terlalu encer
atau terlalu kental karena dapat mengganggu kinerja bioreaktor dan
menyulitkan saat penanganan hasil keluaran pembangkit biogas.
c. Memasukkan Bahan Baku ke dalam digester
Terlebih dahulu, harus dibuat keran sederhana agar dalam memasukkan
bahan organik ke dalam bioreaktor dapat dilakukan dengan mudah.
Digester harus terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinyu sehingga
dihasilkan biogas yang optimal.

Biogas mengandung unsur unsur yang tidak bermanfaat untuk


pembakaran khususnya H2O dan H2S dan diperlukan suatu pemurnian biogas,
tetapi karena biogas yang akan dimanfaatkan disini adalah untuk keperluan
bahan bakar kompor rumah tangga, maka kedua unsur tersebut praktis tidak
perlu dibersihkan. Hal ini disebabkan karena kompor hanya kontak dengan
biogas pada saat dipakai saja. Alasan lain adalah proses pencucian merupakan
kegiatan yang memerlukan biaya.

Universitas Indonesia 44
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

3 BAB III ANALISIS EKONOMI DAN BAHAYA


3.1 Analisis Ekonomi
Setelah dilakukan perancangan bioreaktor yang sesuai dengan
kebutuhan dari masyarakat, kemudian dilakukan perhitungan biaya alat dan
bahan serta pemeliharaan untuk melihat apakah bioreaktor ini dapat
diaplikasikan secara ekonomi.

Universitas Indonesia 45
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Tabel 3-1. Biaya Pembuatan Bioreaktor


Jumlah Satuan Harga per Total harga Keterangan
satuan
Beton 64 m3 Rp 540.000,00 Rp 34.560.000,00 satu kali beli di awal; 2m3 untuk tempat
penampungan kotoran, 60 m3 untuk bioreaktor, 2
m3 untuk tempat penampungan gas
Penutup 3 m3 Rp 540.000,00 Rp 1.620.000,00 satu kali beli di awal
(beton/semen, dapat
digerakan)
Pipa PVC 48' OD 4 m Rp 250.000,00 Rp 1.000.000,00 satu kali beli di awal
Pipa PVC 17.25' OD 10 m Rp 107.000,00 Rp 1.070.000,00 satu kali beli di awal
Selang karet 3/4 inch 40 buah Rp 10.000,00 Rp 400.000,00 satu kali beli di awal
Kayu (untuk molder) 10 m2 Rp 92.000,00 Rp 920.000,00 untuk cetakan dan penyangga sementara
Tukang 2 orang Rp Rp 3.000.000,00 Kerja 6 hari, satu hari Rp 250,000.00
1.500.000,00
Total Rp 42.570.000,00

Tabel 3-2. Biaya Pemeliharaan


Jumlah Satuan Harga per satuan Total harga Keterangan
Pembetulan Rp 200.000,00 per bulan

Universitas Indonesia
46
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Dengan mengambil rata-rata keluarga menggunakan tabung LPG 3 kg


dalam waktu 8 hari rata-rata (www.republika.co.id) maka, setiap keluarga
membutuhkan:


= 0,375
Jika dihasilkan 1666,67 liter biogas per hari, maka berat biogas
1 2
=
1 2

= 286,67
Maka, 285 kg biogas itu dapat digunakan untuk keluarga sebanyak 761,78
761 keluarga setiap harinya.
Keuntungan yang didapat ialah keluarga tersebut tidak perlu membeli
LPG, maka per harinya didapatkan keuntungan sebagai berikut.
Harga LPG 3 kg yang digunakan selama 8 hari ialah Rp14.500,00
Setiap harinya, satu keluarga menghemat Rp1.1812,50
Jika ada 761 keluarga, maka setiap harinya terjadi total penghematan
Rp1.379.312,50
Dalam satu bulan akan ada penghematan sebesar Rp41.379.375,00
Maka, dalam satu tahun ada penghematan Rp 496.552.500,00
IRR pada suku bunga 12%
Tabel 3-3. Perhitungan Future Value
tahun ke Future Value
0 - Rp 42.570.000
1 Rp 494.152.500
2 Rp 619.864.896
3 Rp 694.248.683,5
4 Rp 777.558.525,5
5 Rp 870.865.548,6
Didapatkan IRR sebesar 1185%, jauh sekali di atas MARR (12%)

Universitas Indonesia 47
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

3.2 Analisis Bahaya

Gambar 3-1. Rancangan Umum Reaktor Biogas Skala Rumah Tangga

Analisa bahaya dilakukan dengan dua tahapan, yaitu analisa bahaya


pada bahan baku dan analisa bahaya pada tahapan proses. Analisa bahaya
pada tahap proses dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi bahaya-
bahaya yang dapat timbul pada setiap tahap proses produksi biogas secara
berurutan. Analisis bahaya terdiri dari tiga tahap yaitu, identifikasi bahaya,
penetapan tindakan pencegahan (preventive measure), dan penentuan
kategori resiko atau signifikansi suatu bahaya. Dengan demikian, perlu
dipersiapkan daftar bahan mentah dan ingridient yang digunakan dalam
proses, diagram alir proses yang telah diverifikasi, serta deskripsi dan
penggunaan produk yang mencakup kelompok konsumen beserta cara
konsumsinya, cara penyimpanan, dan lain sebagainya.
Langkah pertama yaitu deskripsi bahaya-bahaya yang dapat timbul
pada setiap tahap proses produksi biogas secara berurutan, yang tertuang pada
tabel 3.1.

Universitas Indonesia 48
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Tabel 3-4. Deskripsi Bahaya

Tahap Bahaya Sumber Bahaya Resiko Cara Pencegahan

Persiapan reaktor dan - - - -


perangkatnya

Pengumpulan Bahan Baku - - - -


dan Penambahan Air

Penempatan bahan baku - - -


pada reaktor

Proses produksi Kebocoran gas Berlubang/ rusaknya reaktor Tinggi Mengecek tabung reaktor dengan
membasahi permukaan drum
bervolume 120 liter dengan air sabun.
Kebocoran akan terlihat dengan
adanya buih pada daerah yang bocor
tersebut.

Universitas Indonesia
49
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Terpaparnya Oksigen dan Udara Sedang Menutup tabung reaktor biogas


reaktor dengan lingkungan dengan rapat.
udara sehingga gas
CH4 tidak
terbentuk.

Penyaluran Biogas Kebocoran gas dan Berlubang/ rusaknya tabung Tinggi Penempatan tabung penampungan
terbentuknya api/ penampungan/ pipa biogas pada lokasi yang berada jauh
ledakan dari sumber api

Jenis bahaya lalu diperinci dengan deskripsi proses monitoring apa yang dapat dilakukan dan tindakan koreksinya.

Universitas Indonesia
50
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Tabel 3-5. Deskripsi Proses Monitoring

Monitoring
Jenis
No. Tahap Batas Kritis Tindakan Koreksi
Bahaya
Metode Frekuensi

1. Proses produksi Fisik Gas keluar dari reaktor Observasi fisik Setiap proses Menambal tabung reaktor
dengan cat atau aspal

2. Proses produksi Fisik Udara masuk ke tabung Observasi visual Setiap proses Menghentikan proses dan
(udara) reaktor mengulang kembali dengan
menutup tabung reaktor
biogas dengan rapat.

3. Penyaluran Fisik Gas keluar dari tabung Observasi visual Setiap proses Menambal tabung
Biogas penampungan/ pipa penampungan/pipa
penyaluran penyaluran dan menjauhkan
segala jennis sumber api dari
lokasi

Universitas Indonesia
51
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

Selain langkah diatas terdapat langkah pencegahan bahaya secara


umum yang dapat diterapkan pada proses produksi biogas berbahan baku
kotoran sapi
1. Menjauhkan reaktor dari gangguan anak-anak, tangan jahil, ataupun
dari ternak yang dapat merusak reaktor dengan cara memagar dan
memberi atap dan agar air tidak dapat masuk ke dalam galian reaktor.
2. Mengisi selalu pengaman gas dengan air sampai penuh. Pengaman gas
tidak boleh dibiarkan kosong karena gas yang dihasilkan akan terbuang
melalui pengaman gas.
3. Apabila reaktor tampak mengencang karena adanya gas tetapi gas tidak
mengisi penampung gas, maka dapat dilakukan upaya pelurusan selang
dari pengaman gas sampai reaktor, karena uap air yang ada di dalam
selang dapat menghambat gas mengalir ke penampung gas.
4. Melakukan pencegahan masuknya air ke dalam reaktor dengan
menutup tempat pengisian disaat tidak ada pengisian reaktor.
5. Memberikan pemberat di atas penampung gas (misalnya dengan
karung-karung bekas) agar mendapatkan tekanan di saat pemakaian
6. Membersihkan kompor dari kotoran saat memasak ataupun minyak
yang menempel.

Universitas Indonesia 52
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

4 BAB IV KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal:

a. Dengan meningkatnya jumlah penduduk, keperluan akan bahan bakar gas,


khususnya sebagai bahan pembakar kompor tingkat rumah tangga semakin
penting.
b. Kotoran sapi mengandung banyak karbon dalam bentuk selulosa yang
secara alami dapat didekomposisi oleh bakteri secara langsung dalam
waktu tertentu
c. Bioreaktor dibentuk hanya dengan mengisolasi kotoran sapi ke dalam
suatu drum dalam waktu 30 hari untuk menghasilkan gas metana dan
karbon dioksida yang dapat dialirkan secara langsung untuk dipakai
d. Volume kotoran yang dibutuhkan adalah 326,67 kghari, dengan total
biogas harian yang dihasilkan 1666,67 literhari
e. Terlihat bahwa pemanfaatan ini sangat murah, hanya memerlukan Rp
42.570.000,00 sebagai modal awal dan biaya pemeliharaan hanya Rp
200.000,00 per bulan
f. Bioreaktor dengan spesifikasi tertentu ini relatif aman untuk digunakan.

Universitas Indonesia 53
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

5 Daftar Pustaka

Anonim. Cara Membuat Biogas dari Kotoran Hewan dan Sampah. 2010.
http://rumahenergi.com/cara-membuat-biogas-dari-kotoran-hewan-dan-
sampah-21 (Diakses 28 April 2013)

Anonim. Pembuatan Biogas untuk Pengendalian Pencemaran.


http://www.tulungagung.go.id/index.php/beranda/seputar-
tulungagung/lingkungan-hidup/582-pembuatan-biogas-untuk-pengendalian-
pencemaran (Diakses 28 April 2013)

Ahmad, A. (2002). Penentuan Parameter Kinetika Proses Biodegradasi Anaerob


Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit. Riau: Universitas Riau.

Akhito Endo . (2010). Diversity of Lactobacilus and Biffidobacterium in Feces of


Herbivor, Omnivor, and Carnivor. Stellenbousch: University of
Stellenbousch.

al, A. S. (2002). Anaerostipes caccae gen. nov., sp. nov., a New Saccharolity
acetate utulising, Butyrate Producing Bacterium from Human Feses.
Bergholz Rehbrucke : German Instiute of Human Nutrition.

Ann C. Wilkie, P. S. (2004). An economical bioreactor for evaluating biogas


potential of particulate biomass. Elsevier.

Chengguang Zhu . (2010). Diversity of Methanogenic archaea in a biogas reactor


fed with swine feces as the mono substrate by mcrA analysis. Shanghai:
Shanghai University.

Guska, A. (2009). Pengembangan Model Bioreaktor Biogas dari Drum. Padang:


Universitas Andalas.

Hafni Zulaika Lubis, E. I. (2006). Perancangan Bioreaktor Pemanfaatan Limbah


Industri Rumah Tangga sebagai Energi Alternatif. Medan: Institut
Teknologi Medan.

Universitas Indonesia 54
Konversi Kotoran Sapi menjadi Biogas untuk Rumah Tangga

PDI KESDM. Indonesia Energy Outlook 2010. 2010. Pusat Data dan Informasi
Energi dan Sumber Daya Mineral: Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral.

Saragih, B. R. Analisis Potensi Biogas. 2010. Depok : FTUI

Waskito, D. (2009). Analisis Pembangkit Listrik Tenaga Biogas dengan


Pemanfaatan Kotoran Sapi di Kawasan Usaha Peternakan Sapi. Depok:
Universitas Indonesia.

Universitas Indonesia 55

Beri Nilai