Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA I

KESETIMBANGAN UAP-CAIR

Oleh:

Kelas B

KELOMPOK IV

RAHMAT ADE AGUSTIAS 1507036341

MAHMUD ROMADHAN ALFITRAH 1507037278

ALDONY ARMANSYAH 1507037844

KHAIRUNISAK 1507037679

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU

2016
Abstrak

Kesetimbangan mengandung pengertian bahwa suatu keadaan dimana


tidak terjadi lagi perubahan sifat makroskopis pada sistem terhadap waktu. Data
kesetimbangan uap cair merupakan data yang sangat diperlukan dalam
perancangan dan pengoperasian kolom destilasi. Praktikum ini bertujuan untuk
mempelajari data kesetimbangan etanol-air. Data yang diperoleh kemudian
dibandingkan dengan literatur untuk menganalisa kesalahan yang terjadi. Pertama
untuk menghitung konsentrasi etanol terlebih dahulu dibuat kurva satandarisasi
oBrix-etanol. Hasilnya semakin besar komposisi etanol maka nilai oBrix akan
semakin besar pula {(0,2:2,5), (0,3:4,0), (0,4:5,5), (0,5:6,0), (0,6:6,5)}. Selanjutnya
alat KUC dirangkai. Campuran etanol-air kemudian dimasukkan kedalam labu,
kemudian ditutup rapat agar etanol tidak menguap. Sebelumnya campuran etanol-
air ini telah ditetapkan perbandingannya, yaitu 0,2, 0,3, 0,4, 0,5, dan 0,6.
Kemudian kondensor dan ketel pemanas dihidupkan. Sampel kondensat dan fasa
cair diambil setelah temperatur konstan. Kedua sampel tersebut dianalisa
menggunakan hand refractometer dan dibandingkan dengan kurva standarisasi
o
Brix-etanol, sehingga diperoleh fraksi massa etanol fasa cair dan fasa uap. Hasil
kesetimbangan fraksi massa etanol akan mempengaruhi nilai konstanta
kesetimbangan (K). Dari hasil percobaan didapat harga K yang cukup jauh
berbeda dari harga K pada literatur. Hal ini disebabkan penanganan etanol yang
sulit karena mudah menguap, sehingga sebelum sampel dianalisa menggunakan
hand refractometer, etanol telah terlebih dahulu menguap.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tinjauan Pustaka
Komposisi uap yang berada dalam kesetimbanagn dengan suatu cairan yang
terdiri dari komponen-komponen dengan komposisi tertentu ditentukan secara
eksperimen.

Data komposisi uap ditampilkan pada diagram komposisi versus temperatur


seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 11.3

Tampilan data kesetimbangan uap-cair yang normal diperlihatkan oleh


Gambar 11.3a, kurva ABC menunjukkan suatu cairan dengan berbagai komposisi
yang mendidih pada berbagai temperatur, dan kurva ADC menunjukkan komposisi
uapnya pada berbagai temperatur yang bersangkutan.

Contoh, suatu cairan dengan komposisi x1 akan mendidih pada temperatur


T1, dan komposisi uap yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan tersebut
adalah y1 (ditunjukkan oleh titik D).

Berdasarkan kurva-kurva dalam Gambar 11.3a, b dan c dapat disimpulkan


bahwa untuk sembarang cairan dengan komposisi x1 akan menghasilkan uap
dengan komposisi tertinggi dimiliki oleh komponen (zat) yang lebih mudah
menguap (volatile). Di sini simbol-simbol x dan y menunjukkan fraksi mol
komponen yang lebih volatile di dalam cairan dan di dalam uap.

Pada Gambar 11.3b dan c terdapat suatu komposisi kritis (critical


composition) xg. Pada titik ini uap memiliki komposisi yang sama dengan cairan,
dengan demikian tidak ada perubahan yang terjadi pada proses pendidihan.
Campuran kritis itu disebut azeotrope.

Diagram-diagaram yang disajikan di atas berlaku untuk kondisi tekanan


konstan. Perlu diingat bahwa komposisi uap yang berada dalam kesetimbangan
dengan cairan berubah dengan berubahnya tekanan.

Untuk kegunaan proses distilasi, data kesetimbangan uap cair lebih


bermanfaat jika disajikan dalam bentuk grafik x versus y pada tekanan konstan, hal
ini disebabkan kebanyakan operasi distilasi dalam industri dilakukan pada tekanan
konstan. Grafik yang dimaksud ditunjukkan oleh Gambar 11.4. Perlu dicatat bahwa
temperatur bervariasi di sepanjang kurva.

1.1.1 Penguapan Dan Kondensasi Parsil


Mari kita tinjau suatu eksperimen tentang kesetimbangan uap-cair untuk
campuran benzen dan toluen. Campuran benzen dan toluen ditempatkan dan
dipanaskan dalam suatu bejana yang tertutup sedemikian rupa sehingga tekanan di
dalam bejana tetap konstan pada tekanan atmosfir, dan tidak ada komponen yang
lepas (hilang) dari bejana. Pada eksperimen ini, fraksi mol komponen yang lebih
volatile (benzen) dalam campuran (fasa cair) divariasikan, dan harga-harganya di
plotkan pada sumbu absis. Untuk setiap harga fraksi mol benzen yang berbeda
dalam campuran akan menghasilkan temperatur didih yang berbeda pula, dan
harga-harganya diplotkan pada sumbu ordinat. Dari data eksperimen dihasilkan
kurva-kurva seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 11.5. Kurva ABCJ menjelaskan
hubungan antara fraksi mol komponen dalam fasa cair dengan temperatur didih,
dan disebut sebagai kurva didih (boiling curve). Kurva ADEJ disebut sebagai kurva
titik embun (dew point). Kurva ini menjelaskan temperatur ketika uap dengan
komposisi y mulai mengembun.

Perhatikan Gambar 11.5, bila suatu campuran dengan komposisi x2 dan pada
temperatur T3 (titik G ) atau di bawah titik didihnya (T2) dipanaskan pada tekanan
konstan maka akan terjadi beberapa perubahan terhadap campuran tersebut:
1. Ketika mencapai temperatur T2 campuran akan mendidih (ditunjukkan oleh
titik B) dan sebagian uap dengan komposisi y2 akan terbentuk (ditunjukkan
oleh titik E).
2. Jika pada temperature T2 pemanasan campuran dilanjutkan, maka komposisi
cairan akan berubah karena sebagian komponen yang lebih volatile telah
berubah menjadi uap, akibatnya temperatur didih cairan meningkat ke suatu
temperature T . Pada temperatur ini cairan akan memiliki komposisi sebagai
ditunjukkan oleh titik L, dan uapnya memiliki komposisi sebagai
ditunjukkan oleh titik N. Oleh karena tidak ada sedikitpun bahan yang hilang
dari sistim, maka yang terjadi hanyalah perubahan fasa cair menjadi fasa
uap. Perbandingan (rasio) fasa cair terhadap fasa uap yang terbentuk
adalah:

Cair MN

Uap ML

3. Jika pemanasan dilanjutkan ke temperatur T1 maka seluruh cairan berubah


menjadi uap (titik D) yang komposisinya sama dengan y1.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa penguapan parsil (sebagian)


cairan akan menghasilkan uap dengan komposisi komponen lebih volatile lebih
tinggi dibandingkan dengan komposisi di dalam cairan. Jika uap yang mula-mula
terbentuk (sebagai contoh titik E) segera dipisahkan dengan cara
mengkondensasikan, maka diperoleh cairan dengan komposisi x3 (titik C). Langkah
BEC dapat dianggap mewakili tahapan (stage) ideal, karena cairan dengan
komposisi x2 berubah menjadi suatu cairan dengan komposisi x3. Jelaslah langkah
ini dapat memperkaya kandungan komponen lebih volatile di dalam cairan dengan
jumlah yang lebih besar jika dibandingkan dengan yang dapat dicapai oleh
penguapan secara tahapan tunggal (single stage).
Sekarang mari kita lihat perubahan apa yang terjadi bila uap lewat jenuh
(titik H) didinginkan sampai ke titik D. Ketika mencapai kondisi D uap mulai
terkondensasi, dan tetes cairan yang pertama terbentuk memiliki komposisi K.
Pendinginan seterusnya ke titik T menghasilkan cairan L dan uap N. Dengan
demikian, kondensasi parsil menghasilkan uap yang kaya dengan komponen lebih
volatile sebagai mana yang terjadi pada proses penguapan parsil. Pada kolum
distilasi industri kimia, proses penguapan parsil dan kondensasi parsil berlasung
secara simultan.

1.1.2 Tekanan Parsil, dan hukum-hukum Dalton, Raoult dan Henry

Tekanan parsil PA komponen A di dalam suatu campuran uap adalah sama


dengan tekanan yang akan ditimbulkan oleh komponen A tersebut jika ditempatkan
sendiri di dalam volume dan temperatur yang sama dengan campuran.

Menurut hukum Dalton, P PA , yaitu tekanan total adalah sama dengan

perjumlahan tekanan parsil. Untuk suatu gas (uap) ideal, tekanan parsil berbanding
lurus dengan fraksi mol konstituen, maka:

PA y A P (1.1)

Untuk suatu campuran ideal, tekanan parsil konstituen dikaitkan dengan


konsentrasi konstituen di dalam fasa cair, Raoult merumuskan hubungan tersebut
sebagai berikut:

PA PAo x A (1.2)

Di sini PAo adalah tekanan uap murni konstituen A pada temperatur yang
sama. Biasanya hubungan ini mendekati benar bila xA bernilai tinggi, atau xB
bernilai rendah. Beberapa campuran isomer organik dan beberapa senyawa
hidrocarbon hampir secara penuh mengikuti hukum ini.

Untuk xA dengan harga-harga yang rendah, hubungan linear antara PA dan


xA dirumuskan dengan menggunakan faktor perbandingan yaitu suatu konstanta
Henry H dan bukan tekan uap murni zat.
Untuk zat cair A yang terlarut dalam pelarut zat B, hukum Henry ditulis debagai
berikut:

PA = H xA (1.3)

Jika campuran mengikuti hukum Raoult, maka tekanan uap campuran dapat
diperoleh secara grafik dengan memanfaatkan data tekanan uap masing-masing
komponen. Mari kita perhatikan Gambar 11.6 yang menjelaskan hal terserbut. Garis
OA menunjukkan tekanan parsil komponen A di dalam campuran, dan garis CB
menunjukkan tekanan parsil komponen B, sedangkan tekan total ditunjukkan oleh
garis BA. Jika komponen A di dalam campuran memiliki komposisi D, maka
berdasarkan geometri Gambar 11.6 tekanan parsil PA diwakili oleh garis DE, PB
oleh DF, dan tekanan total P diwakili oleh DG.

Gambar 11.7 menunjukkan grafik tekanan parsil komponen A versus fraksi


mol komponen A dalam campuran yang tidak ideal. Dari grafik diketahui bahwa
pada rentang garis OC, campuran mengikuti hukum Henry, sedangkan pada rentang
garis BA mengikuti hukum Raoult. Walaupun kebanyakan campuran memiliki
divergensi yang cukup besar terhadap keidealan, namun pada konsentrasi yang
sangat tinggi atau rendah, campuran akan mengikuti salah hukum tersebut.
Bila suatu campuran mengikuti hukum Raoult, maka harga-harga yA untuk
berbagai komposisi xA dapat dihitung berdasarkan tekanan uap masing-masing
kedua komponen pada berbagai temperatur.

Berdasarkan Hukum Raoult:

PA PAo x A

PA Py A

Dari kedua persamaan ini diperoleh:

PAo x A Po x
yA dan y B B B (11.4)
P P

Jumlah fraksi dua komponen adalah:

y A yB 1

PAo x A PBo (1 x A )
1
P P
Dari persamaan ini dihasilakan:

P PBo
xA (11.5)
PAo PBo

1.1.3 Fugasitas difasa uap

Fugasitas di fasa uap dinyatakan dalam bentuk koefisien fugasitas yang


didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa uap dan tekanan parsial
komponen. Berdasarkan definisi ni, hubungan antara fugasitas dan koefisien
fugasitas difasa uap dinyatakan sebagai:
fiV = iV. yiP
dimana adalah koefisien fugasitas, y adalah fraksi mol komponen di fasa uap dan
Padalah tekanan total. Koefisien fugasitas dihitung berdasarkan data volumetrik
dengan cara sebagai berikut (Chang, 2005).

Dimana T adalah temperatur, v adalah volum parsial, n adalah jumlah mol, z


adalah faktor pemampatan (compressibility factor) dan R adalah konstanta gas.
Kedua persamaan di atas menunjukkan bahwa koefisien fugasitas dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan keadaan, persamaan yang menghubungkan
tekanan, temperatur, volum dan/atau komposisi. Persamaan dengan fungsi dP
dipakai apabila persamaan keadaan yang ada berupa fungsi eksplisit dalam volum,
temperatur, dan komposisi. Sedangkan persamaan dengan fungsi dv dipakai bila
persamaan keadaan yang ada berupa fungsi eksplisit dalam tekanan, temperatur,
dan komposisi. Berbagai persamaankeadaan dan persamaan matematika koefisien
fugasitasnya dapat dilihat di Walas.
1.1.4 Fugasitas difasa cair
Fugasitas di fasa cair umumnya dinyatakan dalam bentuk koefisien aktifitas
yang didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa cair dan hasil kali
antara fraksi mol komponen di fasa cair dan fugasitas komponen pada keadaan
standar dalam perhitungan-perhitungan koefisien aktifitas adalah kondisi cairan
murni.
1. Jika keadaan cairan murni dipakai sebagai keadaan standar, koefisien
aktifitas
dinyatakan sebagai: fiL = i . xi . fiOL
dimana adalah koefisien aktifitas, x adalah fraksi mol komponen di fasa cair, fOL
adalah fugasitas cairan murni.
2. Koefisien fugasitas dapat dihitung berdasarkan data energi bebas Gibs
berlebih (excess Gibbs energy). Persamaan-persamaan untuk menghitung koefisien
aktivitas antara lain Persamaan Van Laar, persamaan Margules, persamaan Wilson,
persamaan NRTL, dan sebagainya. Koefisien aktivitas juga dapat dihitung dengan
menggunakan metoda kelompok (group method) seperti dengan metoda UNIFAC
dan metoda ASOG. Sedangkan fugasitas cairan murni dapat dihitung dengan
persamaan (Suparni, 2009).

Dimana PS adalah tekanan uap jenuh cairan murni, VOL adalah volum molar
cairan murni dan SV adalah koefisien fugasitas uap murni pada keadaan jenuh
(saturated condition). Suku eksponen dalam persamaan di atas dinamakan faktor
koreksi Poynting (Poynting correction). Jika cairan bersifat tidak termampatkan
dan uap komponen pada keadaan jenuhnya dapat dianggap sebagai gas ideal,
persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi:

Jika faktor koreksi Poynting mendekati 1, maka:


fiOL ( T,P) = iSV . PiS
Fugasitas di fasa cair juga sering dinyatakan dalam bentuk koefisien fugasitas.
Dalam hal ini fugasitas dinyatakan sebagai:
fiL = i SV . Xi P
Cara di atas memungkinkan masalah kesetimbangan uap-cair dapat diselesaikan
dengan menggunakan sebuah persamaan keadaan.

Tabel 1.1 Data kesetimbangan untuk system etanol-air (Geankoplis, 1997)


Temperatur xA yA Temperatur xA yA
O O O O
C K C K
100 212 0 0 81,0 177,8 0,600 0,794
98,1 208,5 0,020 0,192 80,1 176,2 0,700 0,822
95,2 203,4 0,050 0,377 79,1 174,3 0,800 0,858
91,8 197,2 0,100 0,527 78,3 173,0 0,900 0,912
87,3 189,2 0,200 0,656 78,2 172,8 0,940 0,942
84,7 184,5 0,300 0,713 78,1 172,7 0,960 0,959
83,2 181,7 0,400 0,746 78,2 172,8 0,980 0,978
82,0 179,6 0,500 0,771 78,3 173,0 1,000 1,000

1.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari praktikum ini antara lain ialah :

1. Merangkai peralatan untuk percobaan kesetimbangan uap-cair.


2. Menggunakan alah hand refractometer untuk mengukur konsentrasi etanol
dalam campuran etanol-air.
3. Membuat grafik komposisi uap (yD) dan cair (xw) versus temperatur pada
kondisi kesetimbangan.
4. Menghitung konstanta kesetimbangan uap cair etanol-air hasil percobaan dan
membandingkan dengan kesetimbangan uap cair etanol-air literatur.
BAB II

METODOLOGI

2.1 Bahan-bahan yang digunakan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah etanol 96% dan
aquadest.

2.2 Alat-alat yang digunakan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain adalah :

1. Gelas ukur 25 mL dan 100 mL


2. Gelas piala 50 mL dan 800 mL
3. Labu ukur 100 mL
4. Labu leher dua
5. Thermometer
6. Pipet tetes
7. Hand refractometer
8. Erlenmeyer 50 mL
9. Corong
10. Kondensor
11. Statif dan klem

2.3 Prosedur Percobaan


1. Rangkaian peralatan KUC disusun.
2. Labu 100 mL diisi dengan 50 mL campuran etanol-air dengan komposisi
tertentu.
3. Labu tersebut ditutup dengan memasang rangkaian kondensor dengan
pengambil sampel kondensat dan pengambil sampel cairan.
4. Ketel pemanas dan aliran air pendingin dinyalakan sekaligus.
5. Kenaikan suhu diamati dan ditunggu hingga kondisi setimbang pada temperatur
tetap
6. Sejumlah sampel uap yang terkondensasi dan juga sampel cair diambil pada
waktu yang bersamaan.
7. Konsentrasi masing-masing sanpel tersebut dianalisa dengan hand
refractometer.
8. Percobaan tersebut dilakukan ulang pada setiap komposisi etanol yang berbeda.
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tebel dibawah ini adalah hasil pengukuran hubungan komposisi etanol,


nilai OBrix etanol fasa cair, dan nilai oBrix etanol fasa uap.

Tabel 3.1 Harga oBrix etanol fasa uap dan cair untuk setiap variasi etanol

Komposisi etanol umpan Xf Konsentrasi etanol fasa cair


(% berat) (oBrix)
0,2 2,5
0,3 4
0,4 5,5
0,5 6
0,6 6,5

Grafik Komposisi etanol fasa cair vs. oBrix


8
7
6
5
y = 10x + 0.9
oBrix

4 R = 0.9346
3
2
1
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
Komposisi etanol

Gambar 3.1 Hubungan komposisi etanol dengan oBrix etanol fasa cair

Pada kurva hubungan komposisi etanol dengan oBrix etanol fasa cair didapatkan
persamaan : y = 10x + 0,9, sehingga nilai fraksi massa etanol fasa cair (xw) dan fasa
uap (yD) dapat dicari. Dari kurva juga diperoleh R2 = 0,9346. Nilai R2 merupakan
gradien atau garis lurus yang menyatakan tingkat ketelitian dari data yang diperoeh.
Untuk standart penelitian, biasanya nilai R2 adalah berkisar antara 0,98 hingga 1,00.
Namun pada percobaan kali nilai R2 yang didapatkan hanya 0,9346, jauh dari nilai
standart. Kesalahan ini disebabkan terlalu lama kontak sampel dengan udara saat
pengukuran, sehingga sebagian etanol yang ada dalam sampel menguap yang
menyebabkan pembacaan oBrix berubah dari yang seharusnya.

Berdasarkan tabel 3.1 juga diperoleh adanya hubungan yang berbanding


lurus antara konsentrasi umpan dengan oBrix. Hal ini dikarenakan, oBrix itu snediri
merupakan satuan untuk mengukur konsentrasi etanol dalam campuran etanol-air.
Jadi, jika konsentrasi etanol dalam campuran etanol-air (umpan) semakin besar,
maka nilai dari oBrix juga akan semakin besar.

Tabel 3.2 Konsentrasi etanol (oBrix) dan temperatur saat kesetimbangan

Komposisi etanol Temperatur Konsentrasi Konsentrasi


umpan Xf (% kesetimbangan ( oK) etanol fasa cair etanol fasa
berat) (oBrix) uap (oBrix)
0,2 361 2,5 5
0,3 357 4 4,5
0,4 354 5,5 2,2
0,5 352 6 0,5
0,6 347 6,5 0,1

Tabel 3.2 di atas adalah data pengamatan percobaan kesetimbangan uap cair
(KUC) setelah etanol dalam fasa cair terkondensasi. Sampel fasa cair diambil dan
diukur konsentrasinya menggunakan alat hand refractometer. Berdasarkan tabel
tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar konsentrasi etanol dalam umpan akan
menyebabkan penurunan temperatur kesetimbangan. Hal ini dikarenakan titik didih
etanol lebih rendah dari titik didih air, sehingga temperatur kesetimbangan semakin
rendah (cepat tercapai). Selain itu, konsentrasi kondensat menurun dengan
bertambahnya komposisi umpan, sedangkan konsentrasi cairan meningkat dengan
bertambahnya komposisi umpan.
Tabel 3.3 Data kesetimbangan etanol-air percobaan

Komposisi etanol Temperatur Fraksi massa Fraksi massa


umpan Xf (% kesetimbangan etanol fasa cair etanol fasa uap
berat) (oK) (xw) (yD)
0,2 361 0,1306 0,1882
0,3 357 0,2615 0,3241
0,4 354 0,4018 0,4435
0,5 352 0,4507 0,4599
0,6 347 0,5010 0,4179

Berdasarkan tabel 3.3 terlihat adanya hubungan berbanding lurus antara


komposisi umpan dengan nilai xw dan yD dan hubungan terbalik antara komposisi
umpan dengan temperatur kesetimbangan. Semakin besar komposisi umpan, maka
nilai xw dan yD juga semakin besar. Selain itu, semakin besar nilai xw dan yD maka
temperatur kesetimbangan semakin kecil (menurun). Namun dalam percobaan,
pada temperatur kesetimbangan 74 OC nilai yD sedikit menurun dibanding pada
temperatur kesetimbangan 79 OC.

Kurva hubungan temperatur terhadap fraksi massa


x dan y pada percobaan dan literatur*
100

95
Temperatur (oC)

90

85

80

75

70
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
fraksi massa
fraksi xa fraksi ya fraksi xw fraksi yd

Gambar 3.2 Kurva hubungan temperatur terhadap fraksi massa x dan y


pada percobaan dan literatur*. (*Geankoplis, 1997)
Berdasarkan gambar 3.2 dapat dilihat adanya hubungan berbanding terbalik
antara fraksi massa etanol percobaan dan literatur, baik fasa uap maupun fasa cair,
terhadap temperatur. Semakin rendah temperatur maka fraksi massa etanol akan
semakin meningkat. Berdasarkan gambar 3.2 juga didapat hubungan bahwa nilai
fraksi massa etanol fasa uap, baik percobaan maupun literatur, selalu lebih besar
dibandingkan nilai fraksi massa etanol fasa cair pada temperatur yang sama. Untuk
perbandingan secara keseluruhan, nilai fraksi massa etanol percobaan berada
sedikit dibawah nilai fraksi massa etanol literatur. Sulit untuk mendapatkan nilai
fraksi massa yang sama dengan literatur, mengingat dibutuhkan ketelitian tinggi
serta keakuratan pengukuran dan pembacaan skala hand refractometer, yang secara
tidak langsung turut andil dalam menentukan harga fraksi massa etanol ini.

Tabel 3.4 Konstanta kesetimbangan (K) percobaan dan literatur*

Data Percobaan Data Literatur*


Temperatur K Temperatur K
Kesetimbangan Kesetimbangan
(OC) (OC)
88 1,4410 87,3 3,2800
84 1,2393 84,7 2,3766
81 1,1037 81,0 1,3233
79 1,0204 79,1 1,0725
74 0,8341 78,1 0,9989
*Geankoplis, 1997
Kurva Hubungan Nilai K Percobaan dan Literatur* dengan
Temperatur
3.3 K percobaan
K literatur
2.8
Konstanta (K)

2.3

1.8

1.3

0.8
73 78 83 88
Temperatur (OC)

Gambar 3.3 Kurva hubungan K percobaan dan liteeratur* dengan


temperatur. (*Geankoplis, 1997)

Fraksi massa etanol akan mempengaruhi konstanta kesetimbangan (K).


Berdasarkan tabel 3.4 dan gambar 3.3, semakin tinggi temperatur, maka nilai
konstanta K akan semakin besar. Dalam percobaan sudah didapatkan hasil yang
sesuai dengan hubungan tersebut. Namun nilai K percobaan cukup jauh berbeda
dengan nilai K pada literatur. Untuk temperatur 87,3 OC pada literatur memberikan
nilai K sebesar 3,2800. Nilai ini jauh berbeda dari nilai K yang didapatkan pada
O
percobaan yaitu pada temperatur 88 C hanya 1,4410. Penyimpangan ini
disebabkan karena penanganan etanol yang kurang baik sebelum dianalisa dengan
hand refractometer.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. oBrix merupakan satuan untuk mengukur konsentrasi etanol dalam campuran


etanol-air. Apabila konsentrasi etanol dalam umpan semakin besar, maka nilai
o
Brix juga akan meningkat.

2. Dari kurva komposisi etanol fasa cair dengan oBrix diperoleh persamaan y =
10x + 0,9 dengan R2 = 0,9346.

3. Semakin besar komposisi umpan, maka nilai oBrix fasa cair akan semakin besar,
sedangkan nilai oBrix fasa uap akan semakin kecil.

4. Semakin besar konsetrasi etanol pada umpan, maka temperatur kesetimbangan


akan semakin kecil, sedangkan fraksi massa etanol fasa cair dan fasa uap akan
semakin meningkat.

5. Harga fraksi massa etanol fasa cair dan fasa uap pada percobaan berada sedikit
dibawah fraksi massa etanol fasa cair dan fasa uap pada literatur.

6. Nilai K percobaan cukup jauh dari nilai K pada literatur. Hal ini disebabkan
karena penanganan etanol yang kurang baik sebelum dianalisa menggunakan
hand refractometer.

4.2 Saran

Praktikan harus teliti dalam dalam membaca skala oBrix pada alat hand
refractometer. Kesalahan dalam pembacaan skala oBrix akan mempengaruhi setiap
perhitungan dalam percobaan ini.
LAMPIRAN

PERHITUNGAN

1. Pembuatan Larutan Etanol Berbagai Konsentrasi

Untuk membuat etanol dengan konsetrasi 0,2 , 0,3 , 0,4 , 0,5 , dan 0,6 dalam 50
mL larutan dapat digunakan perhitungan :

Konsentrasi 0,2 = 20% berat dalam 100 mL larutan

V=m:

V = 20 gr : 0,789 gr/mL

V = 25,34 mL etanol untuk 100 mL larutan.

Volume etanol untuk 50 mL larutam adalah :

V = 25,34 mL : 100/50

V = 12,67 mL

Maka untuk membuat 50 mL etanol 0,2 dibutuhkan volume etanol sebanyak 12,67
mL. Kemudian aquadest ditambahkan hingga volume total 50 mL.

Perhitungan konsentrasi selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama


hingga diperoleh data seperti dibawah ini :

a. 0,2 V = 12,67 mL
b. 0,3 V = 19,01 mL
c. 0,4 V = 25,34 mL
d. 0,5 V = 31,68 mL
e. 0,6 V = 38,02 mL

2. Menghitung xw dan yD

Menghitung xw

xw merupakan fraksi massa etanol fasa cair. Dari kurva hubungan


komposisi etanol dengan oBrix diperoleh persamaan linear : y = 10x + 0,9.
Maka,

0,9
=
10

Dimana : y = konsentrasi etanol (oBrix)

x = komposisi etanol (% berat)

xw etanol 0,2 dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut :

2,5 0,9
=
10

x = 0,16

Jadi, volume etanol = 50 mL x 0,16 = 8 mL

Massa etanol = etanol . V etanol

= 0,789 gr/mL . 8 mL

= 6,312 gr

Massa air = air . V air

= 1 gr/mL . (50-8) mL

= 42 gr


=
+

6,312
=
6,312 + 42

Xw = 0,1306

Perhitungan xw untuk konsentrasi etanol lainnya dilakukan dengan cara yang sama
sehingga diperoleh data seperti pada tabel 3.3.
Menghitung yD

yD merupakan fraksi massa etanol fasa uap. Nilai yD dapat ditentukan


dengan memprediksi terlebih dahulu tekanan uap etanol. Satuan T (suhu) adalah OK
karena satuan Psat = mmHg, sehingga suhu dalam OC diubah dengan (OC+273).

3803,98
Ln Psat = 18,9119 41,68

yD etanol 0,2 dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

T = 88 OC = 361 OK

3803,98
Ln Psat = 18,9119 41,68

3803,98
Psat = [18,9119 41,68]

3803,98
Psat = [18,9119 36141,68]

Psat = [18,9119 11,9127]

Psat = [6,9992]

Psat = 1095,756

.
yD =

0,1306 . 1095,756
yD = 760

yD = 0,1882

Perhitungan yD untuk komposisi etanol lainnya dilakukan dengan cara yang sama
sehingga diperoleh data seperti yang terlihat pada tabel 3.3.

3. Menghitung Konstanta Kesetimbangan (K) Percobaan

Untuk menghitung konstanta kesetimbangan berlaku persamaan sebagai


berikut :

K = y/x
Harga K untuk etanol 0,2 dengan temperatur kesetimbangan 88 OC yaitu :

y = 0,1882 dan x = 0,1306 maka K = 1,4410 (K percobaan).

Harga K literatur untuk temperatur kesetimbangan 87,3 OC yaitu :

y = 0,656 dan x = 0,200 maka K = 3,2800 (K literatur).

Perhitungan harga K untuk komposisi etanol lainnya dilakukan dengan cara yang
sama sehingga diperoleh data seperti pada tabel 3.4.
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymod. 2005. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti. Jakarta : Erlangga

Geankoplis, CJ. 1997. Transport Processes and Unit Operations. 3rd editions.
Eastern Economy Edition. Prentice-Hall of India Private Ltd. New
Delhi, India.

Suparni, S. R. 2009. Dasar Kesetimbangan Uap-Cair. Jurnal Penelitian Teknik


Kimia. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia
industri/teknologi-proses/dasar-kesetimbangan uap cair/ Diakses pada
tanggal 12 Oktober 2016, pukul 15:25 WIB.

Syahiddin. 2011.doc.wordpress.[online]. Tersedia :


https://mtk2011.wordpress.com/ Diakses pada 13 Oktober 2016 pukul
20:16 WIB

Tim Laboratorium Dasar Proses dan Operasi Pabrik Program Studi D-III Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau. 2016. Penuntun Pratikum
Operasi Teknik Kimia I. Pekanbaru