Anda di halaman 1dari 3

1.

KPU merupakan salah satu lembaga besar di negara Indonesia yang dibentuk berdasarkan Pasal 22 E Undang - undang Dasar Tahun 1945. pada
saat menyelenggarakan pemilihan, KPU juga berhak untuk membentuk panitia pelaksana yang bersifat ad - hoc yang ada ditingkat kecamatan,
desa, dan RT/RW (PPDP dan KPPS).
2. Secara kelembagaan KPU terdiri dari 2 bagian besar yaitu Sekretariat KPU yang berasal dari unsur PNS dan Komisioner KPU yang berasal dari
masyarakat yang dipilih melalui seleksi (pansel) 5 tahun sekali, sekretariat KPU pada masing-masing tingkatan dipimpin oleh pejabat struktural
(PNS) dan Komisioner KPU yang berjumlah 5 atau 7 dimana semua keputusan bersifat kolektif kolegial yang diambil melalui rapat pleno terbuka
/ tertutup.
3. KPU RI dipimpin oleh 7 orang Komisioner KPU dan dibantu oleh Sekretaris jenderal pejabat esselon 1. Komisioner KPU RI dipilih melalui
sebuah seleksi yang ketat, dimana nama-nama yang terpilih (14 besar) diserahkan kepada Presiden, untuk kemudian Presiden menyerahkan
kepada DPR RI untuk dipilih 7 orang yang dianggap paling mampu untuk memimpin KPU untuk 5 tahun kedepan.
4. saat ini terdapat 34 kantor KPU provinsi dengan Provinsi Kalimantan Utara (kaltara) adalah provinsi yang paling muda. Seperti juga KPU RI,
KPU provinsi terdiri dari sekretariat dan komisioner, dimana komisioner KPU Provinsi berjumlah 5 orang yang dipilih melalui seleksi 5 tahun
sekali, diangkat dan ditetapkan oleh KPU RI dan sekretaris KPU provinsi merupakan pejabat esselon 2.
5. KPU Kabupaten/Kota dipimpin oleh 5 orang komisioner dengan 1 ketua merangkap anggota, Sekretariat KPU Kabupaten/kota dipimpin oleh
sekretaris KPU yang yang merupakan pejabat esselon 3. KPU kabupaten/kota memiliki tugas khusus untuk melaksanakan Pemilihan kepala
daerah dan wakil kepala daerah (Bupati/Walikota) setempat.
6. PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) Merupakan badan ad-hoc yang dibentuk dan dilantik oleh KPU Kabupaten/Kota pada saat pelaksanaan
pemilihan dari pilpres sampai pemilihan kepala daerah (pilkada).
7. PPK dibentuk paling lambat 6 (enam) bulan sebelum penyelenggaraan Pemilu dan dibubarkan paling lambat 2 (dua) bulan setelah pemungutan
suara dan dalam hal terjadi penghitungan dan pemungutan suara ulang, Pemilu susulan, dan Pemilu lanjutan, masa kerja PPK diperpanjang dan
PPK dibubarkan paling lambat 2 (dua) bulan setelah pemungutan suara.
8. PPS (Panitia Pemungutan Suara) dibentuk paling lambat 6 (enam) bulan sebelum penyelenggaraan Pemilu dan dibubarkan paling lambat 2 (dua)
bulan setelah pemungutan suara dan dalam hal terjadi penghitungan dan pemungutan suara ulang.
9. Setiap KPPS maksimal melayani 800 Pemilih.
10. Dalam Pasal 18 dan 19 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, KPU Kabupaten/Kota mempunyai tugas
kewenangan sebagai berikut :
A. KPU Kabupaten/Kota bertugas :
1. menjabarkan program dan melaksanakan anggaran.
2. melaksanakan semua tahapan penyelenggaraan di kabupaten/kota berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. mengordinasikan dan mengendalikan tahapan penyelenggaraan oleh PPK, PPS, dan KPPS dalam wilayah kerjanya.
4. menyampaikan daftar pemilih kepada KPU Provinsi.
5. memutakhirkan data pemilih berdasarkan data pemilu terakhir dengan memperhatikan data kependudukan yang disiapkan dan diserahkan oleh
Pemerintah dan menetapkannya sebagai daftar pemilih.
6. melakukan dan mengumumkan rekapitulasi hasil penghitungan suara Pemilu anggota DPR, anggota DPD, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden,
dan anggota DPRD Provinsi serta anggota DPRD kabupaten/kota yang bersangkutan berdasarkan berita acara hasil rekapitulasi suara di PPK.
7. membuat berita acara penghitungan suara dan sertifikat penghitungan suara serta wajib menyerahkannya kepada saksi peserta Pemilu, Bawaslu
Kabupaten/Kota, dan KPU Provinsi.
8. mengumumkan calon anggota DPRD Kabupaten/Kota terpilih sesuai dengan alokasi jumlah kursi setiap daerah pemilihan di kabupaten/kota yang
bersangkutan dan membuat berita acaranya.
9. menindaklanjuti dengan segera temuan dan laporan yang disampaikan oleh Bawaslu Kabupaten/Kota.
10. menyosialisasikan penyelenggaraan Pemilu dan/atau yang berkaitan dengan tugas dan wewenang KPU Kabupaten/Kota kepada masyarakat.
11. melakukan evaluasi dan membuat laporan setiap tahapan penyelenggaraan Pemilu.
12. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh KPU, KPU Provinsi, dan/atau ketentuan peraturan perundang - undangan.
B. KPU Kabupaten / Kota berwenang :
1. menetapkan jadwal di kabupaten / kota.
2. membentuk PPK, PPS, dan KPPS dalam wilayah kerjanya.
3. menetapkan dan mengumumkan rekapitulasi penghitungan suara Pemilu anggota DPRD kabupaten/kota berdasarkan rekapitulasi penghitungan
suara di PPK dengan membuat berita acara rekapitulasi suara dan sertifikat rekapitulasi suara.
4. menerbitkan keputusan KPU kabupaten/kota untuk mengesahkan hasil pemilu anggota DPRD kabupaten/kota dan mengumumkannya.
5. menjatuhkan sanksi administratif dan/atau menonaktifkan sementara anggota PPK dan anggota PPS yang terbukti melakukan tindakan yang
mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu berdasarkan putusan Bawaslu, putusan Bawaslu Provinsi, putusan Bawaslu
Kabupaten/Kota, dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan.
6. melaksanakan wewenang lain yang diberikan oleh KPU, KPU Provinsi, dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan.
11. UUD 1945 yang mengatur tentang PEMILU, adalah Pasal 22E yang berbunyi :
1. Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali.
2. Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
3. Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik.
4. Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota .
12. Dasar hukum penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah :
a. Pasal 18, 18 A, 18 B UUD 1945
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang
Pemerintahan Daerah.
13. Beberapa aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah (Pemerintahan Daerah) :
a. Undang - Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok - pokok Pemerintahan Di Daerah.
b. Undang - Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
c. Undang - Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
d. Undang - Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
e. Undang - Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
f. Perpu No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
g. Undang - Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
h. Undang - Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
i. Undang - Undang Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah,
Peraturan KPU Nomor 1 tahun 2017, tahapan Pilkada 2018 dimulai dengan perencanaan program dan anggaran. Kemudian dilakukan pembentukan
PPK, PPS, dan KPPS. Untuk pemuktahiran Daftar Pemilih sudah dilakukan dari Oktober 2017.Untuk pengumuman pendaftaran calon dilakukan
mulai 1-8 Januari 2018. Kemudian penetapannya 12 Februari 2018. Masa kampanye 15 Februari hingga 23 Juni 2018. Kemudian pada 27 Juni
2018 dilakukan pencoblosan.
2. Berdasarkan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 1 Tahun 2017, awal pembentukan PPK dan PPS akan dilakukan pada 12 Oktober 2017 hingga 13
November 2017.
3. Sesuai undang-undang, pembentukan PPK dan PPS hingga pembentukan KPPS merupakan tugas KPU kabupaten/kota.
4. Dalam UU Pilkada No 1 Tahun 2015 yang diubah menjadi UU No 10 Tahun 2016 menyebutkan jumlah PPK yang tersebar di masing-masing
kecamatan 5 orang dan anggota PPS berjumlah 3 orang dengan Usia minimal 25 Tahun.
Sedangkan di UU Pemilu No 7 Tahun 2017 disebutkan PPK di masing-masing kecamatan 3 orang dan anggota PPS berjumlah 3 orang dengan
usia minimal 17 tahun.
5. Surat Edaran (SE) KPU nomor 183/KPU/IV/2015 tentang Penjelasan anggota PPK, PPS dan KPPS belum pernah menjabat 2 kali periode.
2 (dua) kali periode adalah sebagai berikut :
a. Periode pertama dimulai dari tahun 2005 hingga tahun 2009.
b. Periode kedua dimulai pada tahun 2010 hingga tahun 2014, dan seterusnya.
Artinya, jika seseorang pernah sekali atau teru menerus menjadi Badan Penyelenggara adhoc (PPK,PPS, KPPS) pada rentang waktu periodesasi
diatas maka dihitung 1 periode dan seterusnya.
6. PKPU menyebutkan, hasil revisi membolehkan usia minimal 17 tahun sudah bisa mendaftar sebagai Calon Anggota PPK dan PPS. perubahan
tersebut dikarenakan terbitnya PKPU Nomor 12 Tahun 2017 sebagai pengganti PKPU Nomor 3 Tahun 2017 terkait syarat dan dokumen
pendaftaran PPK, PPS dan KPPS.
7. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), 29 September 2015, menentukan calon perorangan harus mengumpulkan KTP sebanyak
a. 10 persen di daerah dengan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) mencapai 2 juta orang.
b. 8,5 persen di daerah dengan DPT antara 2-6 juta,
c. 7,5 persen di daerah dengan DPT 6-12 juta,
d. 6,5 persen di daerah dengan DPT di atas 12 juta orang.
8. menurut UU Pilkada No. 10 tahun 2016, calon tunggal dinyatakan menang jika mendapatkan suara lebih dari 50 persen dari suara sah. Namun,
apabila kurang dari 50 persen dari suara yang sah, maka yang menang adalah kolom kosong.
9. Menurut Pasal 10 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011,KPU Kabupaten/Kota menyampaikan data hasil pemilu dari tiap-tiap TPS pada
tingkat kabupaten/kota kepada peserta pemilu paling lama 7 (tujuh) hari setelah rekapitulasi di kabupaten/kota.
10. Untuk anggota Aparatur Sipil Negara (ASN) sendiri dapat mendaftar menjadi PPS dan PPK dengan melampirkan surat ijin dari atasan langsung.
11. Untuk pengumuman pendaftaran calon dilakukan mulai 1-8 Januari 2018. Kemudian penetapannya 12 Februari 2018. Masa kampanye 15 Februari
hingga 23 Juni 2018. Kemudian pada 27 Juni 2018 dilakukan pencoblosan.
12. Penyelenggara di tingkat Ad Hoc adalah
a. Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK),
b. Panitia Pemungutan Suara (PPS),
c. Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).
13. Pembatasan dua periode dimaksud dimana penyelenggara yang pernah terlibat sebagai penyelenggara dalam kurun waktu pemilu tahun 2004-2009
dan 2009-2014 tidak dapat dipilih kembali sebagai penyelenggara,
14. Khusus gaji ketua PPK Rp. 1.850.000/bulan dan anggota PPK Rp. 1.800.000/bulan. Sementara gaji ketua PPS Rp 900 ribu/bulan, dan anggota PPS
Rp. 850 ribu/bulan.
15. Khusus untuk PPK, masa jabatannya sampai sembilan bulan lamanya atau setelah selesai tahapan Pilgub.
16. Pada September 2014 Pemerintah mengesahkan UU Pemerintah Daerah yang baru (UUPDB), UU No. 23/2014 untuk menggantikan UU
Pemerintahan Daerah yang lama (UUPDL), yakni UU No. 32/2004.
17. Dasar Hukum tentang Pemerintahan Daerah, diantaranya :
Pasal 18, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22D Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014. Pemerintahan Daerah UU No. 9 Tahun 2015.
18. Ambang batas parlemen atau parliamentary threshold yang disahkan adalah 4 persen. Artinya, naik 0,5 persen dari Pemilu 2014 lalu.
19. Pemilu 2019 nanti Metode Konversi Suara akan menggunakan Metode Sainte Lague Murni, yaitu membagi jumlah suara tiap partai di suatu dapil
dengan empat angka konstanta sesuai rumus. Konstanta awalnya dimulai dengan angka 1. Kemudian, akan dibagi sesuai dilanjutkan dengan
angka ganjil berikutnya. Setelah itu, hasilnya diperingkat sesuai dengan jumlah kursi dalam suatu dapil. Jika jumlah kursi di dapil tersebut 10,
maka akan dibuat 10 urutan.
20. Pada pemilu sebelumnya, metode yang digunakan adalah Metode Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Metode BPP adalah menentukan jumlah kursi
dengan mencari suara per kursi terlebih dahulu. Caranya, membagi total suara sah dengan total kursi yang ada di suatu daerah pemilihan (dapil).
Metode ini cenderung menguntungkan partai menengah dan kecil. Sebab, peluang mereka mendapatkan kursi sisa lebih terbuka. Sebaliknya,
partai besar akan cenderung dirugikan.
21. 14 JENIS FORMULIR PEMUNGUTAN SUARA DAN PENGHITUNGAN SUARA.
1. Model C-KWK.KPU. Berita acara pemungutan dan penghitungan suara Pemilihan Umum di Tempat Pemungutan Suara.
2. Model C1-KWK.KPU. Catatan pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara Pemilihan Umum di Tempat Pemungutan Suara.
3. Lampiran Model C1-KWK.KPU. Sertifikat hasil penghitungan suara untuk pasangan calon di Tempat Pemungutan Suara.
4. Model C2-KWK.KPU (Ukuran Besar / Plano). Hasil perolehan suara untuk tiap Pasangan Calon di Tempat Pemungutan Suara.
5. Model C3-KWK.KPU. Pernyataan keberatan saksi dan kejadian khusus yang berhubungan dengan hasil pemungutan dan penghitungan suara
Pemilihan Umum di Tempat Pemungutan Suara.
6. Model C4-KWK.KPU. Catatan pembukaan kotak suara, pengeluaran isi, identifikasi jenis dokumen, dan penghitungan jumlah setiap jenis
dokumen untuk pelaksanaan pemungutan suara Pemilihan Umum di Tempat Pemungutan Suara.
7. Model C5-KWK.KPU. Penggunaan surat suara cadangan dalam pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara.
8. Model C6-KWK.KPU. Surat pemberitahuan waktu dan tempat pemungutan suara.
9. Model C7-KWK.KPU. Surat pernyataan pendamping pemilih.
10. Model C8-KWK.KPU. Daftar nama pemilih yang memberikan suara dari TPS lain.
11. Model C9-KWK.KPU. Surat pengantar penyampaian berita acara pemungutan dan penghitungan suara di TPS.
12. Model C10 KWK.KPU. Tanda terima Berita Acara dan Sertifikat Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum di Tempat Pemungutan Suara
(untuk saksi dan PPL).
13. Model C11 KWK.KPU. Daftar nama pemilih tidak terdaftar dalam DPT tapi terdaftar dalam Data Pemilih/Daftar Penduduk Potensial Pemilih
Pemilu (DP4)/Daftar Pemilih Sementara/Daftar Pemilih Tambahan, yang menggunakan dan tidak menggunakan hak pilih.
14. Model C12 KWK.KPU. Rekapitulasi Catatan ketidakhadiran pemilih dalam pelaksanaan pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara.
22. Dalam lampiran PKPU Nomor 1 Tahun 2017 ada poin penting yang disebutkan, diantaranya :
a. Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat dimulai pada tanggal 14 Juni 2017.
b. Pembentukan PPK dan PPS akan dimulai 12 Oktober 2017.
c. Pengolahan DP4 akan dilakukan dari 24 November 2017 hingga 30 Desember 2017.
d. KPU akan mulai melakukan proses pemutakhiran data dan daftar pemilih pada 30 Desember 2017.
e. Penerimaan DAK2 akan dimulai 31 Juli 2017.
f. Pendaftaran pasangan calon akan dimulai pada 1 Januari 2018.
g. Masa kampanye sendiri akan dimulai pada 15 Februari 2018.
h. Masa tenang dan pembersihan alat peraga akan dimulai pada 24 Juni 2018.
i. Pemungutan dan penghitungan suara Pilkada Serentak 2018 akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018.
j. Rekapitulasi akan dilaksanakan pada 28 Juni 2018.
23. Tiga formulir yang wajib diisi secara cermat dan teliti pada saat pemungutan suara Pilkada 2018 oleh KPPS adalah :
a. Model C1 : adalah sertifikat hasil pemungutan suara. Pengisian C1 itu rumusnya jumlah pengguna hak pilih, harus sama dengan jumlah surat
suara yang digunakan. Harus sama dengan jumlah suara sah dan tidak sah.
b. Model C6 : adalah Surat undangan memilih / mencoblos kepada pemilih. C6 yang tidak terdistribusi harus dikembalikan oleh KPPS ke PPS pada
H-1. Direkap oleh PPS. Begitu seterusnya direkap secara berjenjang hingga KPU provinsi. "Jadi misalkan di DPT TPS 1 itu ada 500, dan sampai
H-3, C6 yang terdistribusi 400, maka 100 C6 yang tidak terdistribusi itu harus dikembalikan ke PPS disertai berita acara pada H-1. Kalau dulu
kan tidak. C6 yang tidak terdistribusi dibiarkan begitu saja oleh KPPS atau PPS. Sekarang wajib dikembalikan.
c. Model C7 : adalah absensi kehadiran pemilih. Di C7 itulah akan diketahui berapa pengguna hak pilih, baik itu pemilih DPT, DPTb, maupun
DPPh.
1. DPT adalah Daftar Pemilih Tetap.
2. DPTb adalah Daftar Pemilih Tambahan. Yakni pemilih yang tidak terdaftar di DPT tapi menggunakan hak pilih di TPS menggunakan KTP
Elektronik dan atau Surat Keterangan yang sesuai dengan alamat TPS.
3. DPPh adalah Daftar Pemilih Pindahan. Yakni pemilih yang terdaftar di TPS tertentu namun karena satu dan lain dia menggunakan hak pilih di
TPS lain.
24. Pasal 16 ayat 1a.
Seleksi anggota PPK dilaksanakan secara terbuka dengan memperhatikan kompetensi, kapasitas, integritas, dan kemandirian calon anggota PPK.
25. Pasal 19 ayat 1a.
Seleksi anggota PPS dilaksanakan secara terbuka dengan memperhatikan kompetensi, kapasitas, integritas, dan kemandirian calon anggota PPS.
26. Pasal 21 ayat 1a.
Seleksi anggota KPPS dilaksanakan secara terbuka dengan memperhatikan kompetensi, kapasitas, integritas, dan kemandirian calon anggota
KPPS.
27. Pasal 57 ayat (2).
Dalam hal WNI tidak terdaftar sebagai pemilih sebagaimana dimaksud di ayat (1), pada saat pemungutan suara menunjukkan KTP Elektronik.
28. Pasal 58 ayat (1).
Daftar Pemilih Tetap pemilu terakhir digunakan sebagai sumber pemutakhiran data pemilih dengan mempertimbangkan DP4.
29. Pasal 61.
Pemilih yang belum terdaftar dalam DPT yang bersangkutan dapat menggunakan hak pilihnya dengan menunjukkan KTP Elektronik di TPS yang
ada d RT RW yang tertera di KTP elektronik yang bersangkutan.
30. Pasal 85 ayat 1. Pemberian suara dapat dilakukan dengan :
a. Memberi tanda satu kali pada surat suara,
b. memberi suara melalui peralatan pemilihan secara elektronik.
31. TUGAS, WEWENANG, DAN KEWAJIBAN PPK.
Berdasarkan ketentuan Pasal 42 Undang - Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, Tugas, Wewenang,
dan Kewajiban PPK adalah sebagai berikut :
a. Membantu KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten / Kota dalam melakukan pemutakhiran data pemilih, daftar pemilih sementara, dan daftar
pemilih tetap.
b. Membantu KPU Kabupaten / Kota dalam menyelenggarakan Pemilu.
c. Melaksanakan semua tahapan penyelenggaraan Pemilu di tingkat kecamatan yang telah ditetapkan oleh KPU, KPU Provinsi, dan KPU
Kabupaten / Kota.
d. Menerima dan menyampaikan daftar pemilih kepada KPU Kabupaten / Kota.
e. Mengumpulkan hasil penghitungan suara dari seluruh PPS di wilayah kerjanya.
f. Melakukan rekapitulasi hasil penghitungan suara dalam rapat yang harus dihadiri oleh saksi peserta Pemilu.
g. Mengumumkan hasil rekapitulasi.
h. Menyerahkan hasil rekapitulasi suara kepada seluruh peserta Pemilu.
i. Membuat berita acara penghitungan suara serta membuat sertifikat penghitungan suara dan wajib menyerahkannya kepada saksi peserta Pemilu,
Panwaslu Kecamatan, dan KPU Kabupaten/Kota.
j. Menindaklanjuti dengan segera temuan dan laporan yang disampaikan oleh Panwaslu Kecamatan.
k. Melakukan evaluasi dan membuat laporan setiap tahapan penyelenggaraan Pemilu di wilayah kerjanya.
l. Melaksanakan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu dan/atau yang berkaitan dengan tugas dan wewenang PPK kepada masyarakat.
m. Melaksanakan tugas, wewenang, dan kewajiban lain yang diberikan oleh KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten / Kota sesuai dengan peraturan
perundang undangan.
n. melaksanakan tugas, wewenang, dan kewajiban lain sesuai ketentuan peraturan perundang - undangan.

Anda mungkin juga menyukai