Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN SEMINAR KASUS DAN JURNAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BY. NY. E DENGAN DIAGNOSA


MEDIS RESPIRATORY DYSTRESS SYNDROME (RDS)
DI RUANG PERINATOLOGI RSUD HADJI BOEJASIN PELAIHARI

Disusun oleh: Kelompok 1A.2


ADITYA RAHMAN, S. Kep
CITRA AYU SAFITRI, S. Kep
AULIA RANTIKA, S. Kep
ANA RAMAIDA FITRI, S. Kep

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN PROFESI NERS
2016/2017
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur terhadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi
rahmat dan hidayah-NYA. Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini tanpa
adanya rintangan yang berarti.

Atas rahmat Tuhan yang Maha Kuasa, penulis berharap semoga analisa jurnal ini
bermanfaat bagi pembaca. Serta saran dan kritik penulis harapkan, karena penulis
menyadari bahwa dalam penulisan analisa jurnal ini banyak kekurangannya dan
masih belum sempurna.

Pelaihari, Februari 2017

Kelompok 1A.2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sistem pernafasan merupakan salah satu sistem organ yang diperlukan manusia
untuk memberi suplai oksigen yang diperlukan dalam metabolisme tubuh untuk
menopang kehidupan. Namun tidak jarang kesehatan sistem pernafasan
mengalami gangguan terutama pada masa awal kehidupan manusia, salah satu
yang mungkin dialami adalah Respiratory Distress Syndrome.

Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membrane Disease


(HMD), merupakan sindrom gawat nafas yang disebabkan defisiensi surfaktan
terutama pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang.Surfaktan biasanya
didapatkan pada paru yang matur. Fungsi surfaktan untuk menjaga agar kantong
alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi prematur dimana
surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya berkembang paru kurang
dan bayi akan mengalami sesak nafas. Gejala tersebut biasanya muncul segera
setelah bayi lahir dan akan bertambah berat.Defisiensi surfaktan diperkenalkan
pertamakali oleh Avery dan Mead pada 1959 sebagai faktor penyebab terjadinya
RDS. Penyakit ini adalah penyebab terbanyak dari angka kesakitan dan kematian
pada bayi prematur.

Secara tinjauan kasus, di negara-negara Eropa sebelum pemberian rutin antenatal


steroid dan postnatalsurfaktan, terdapat angka kejadian RDS 2-3%, di USA 1,72%
dari kelahiran bayi hidupperiode 1986-1987. Sedangkan jaman modern sekarang
ini dari pelayanan NICU turun menjadi 1%.Di negara berkembang termasuk
Indonesia belum ada laporan tentang kejadianRDS.. Sekitar 5 -10% didapatkan
pada bayi kurang bulan, 50% pada bayi dengan berat 501-1500 gram (lemons et
al,2001).Angka kejadian berhubungan dengan umur gestasi dan berat badan dan
menurun sejak digunakan surfaktan eksogen ( Malloy & Freeman 2000). Saat ini
RDS didapatkan kurang dari 6% dari seluruh neonatus. Berdasarkan perkiraan 30
% dari kematian neonatus diakibatkan oleh RDS atau komplikasi yang
dihasilkannya (Behrman, 2004 didalam Leifer 2007).

Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya
zat yang disebut surfaktan. Surfaktan merupakan suatu campuran lipoprotein aktif
yang diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II dengan
permukaan yang melapisi alveoli dan mencegah alveoli kolaps pada akhir
ekspirasi.. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai
maksimum pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein
(10%). Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus
sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa
akhir ekspirasi.

Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi


hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.(Bobak, 2005). Sebagian besar kasus RDS
pada bayi dapat diperbaiki atau dicegah jika ibu yang hendak melahirkan prematur
dapat diberikan glukokortikoid , satu kelompok hormon. Ini akan mempercepat
produksi surfaktan . Untuk pengiriman yang sangat prematur , glukokortikoid
yang diberikan tanpa menguji kematangan paru janin . The American College of
Obstetricians dan Gynecologists ( ACOG ) , Royal College of Medicine , dan
organisasi besar lainnya telah merekomendasikan pengobatan glukokortikoid
antenatal untuk perempuan pada risiko kelahiran prematur sebelum 34 minggu
kehamilan. Beberapa program administrasi glukokortikoid , dibandingkan dengan
kursus tunggal, tampaknya tidak menambah atau mengurangi risiko kematian atau
gangguan perkembangan saraf anak. Dari kebanyakan kasus RDS, tindakan yang
paling efektif dalam pengobatan pasien ini adalah pemberian surfaktan eksogen
(surfaktan dari luar). Obat ini sangat efektif tapi biayanya sangat mahal.
1.2. Tujuan Pembahasan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi lebih jelas tentang Respiratory Distress Syndrome
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan Berat badan lahir rendah dengan Kejdian
Sindrom distress Respiratotr
b. Untuk mengetahui factor resiko Respiratory Distress Respiratory

1.3. Manfaat Pembahasan


Adapun manfaat dari pembasan ini yaitu :
1.3.1 Agar mengatahui lebih jelas tentang Respiratory Distress Syndrome
1.3.2 Agar mengetahui apakah ada hubungan Berat badan lahir rendah
dengan Kejdian Sindrom distress Respiratory
1.3.3 Untuk mengetahui factor resiko Respiratory Distress Respiratory
1.3.4 Untuk mengetahui keterkaitan jurnal dengan askep pada bayi dengan
Keluhan RDS
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)

I. Konsep Penyakit Respiratory Distress Syndrom


1.1 Definisi
Respiratory Distress of the Newborn (RDN) atau biasa juga disebut
Respiratory Distress Syndrome (RDS) biasa juga disebut Hyaline
Membrane Disease (HMD) Adalah gangguan pernafasan yang sering
terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnue (>60 x/mnt),
retraksi dada, sianosis pada udara kamar yang menetap atau memburuk
pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik, sekitar 60%
bayi yang lahir sebelum gestasi 29 minggu mengalami RDS.

Sindroma gagal nafas (respiratory distress syndrom, RDS) adalah istilah


yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan
perkembangan maturitas paru atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan
dalam paru (Suriadi dan Yuliani, 2001). Gangguan ini biasanya dikenal
dengan namahyaline membran desease (HMD) atau penyakit membran
hialin karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang
melapisi alveoli

1.2 Etiologi
Penyebab utama terjadinya RDN atau RDS adalah defesiensi atau
kerusakan surfaktan. Faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada
RDS yaitu:
a. Premature (Usia gestasi dibawah 32 minggu)
b. Asfiksia perinatal
c. Maternal diabetes,
d. Bayi prematur yang lahir dengan operasi caesar

1.3 Tanda dan gejala


Gejala utama Gawat napas / distress respirasi pada neonatus yaitu :
a. Takipnea : laju napas > 60 kali per menit (normal laju napas 40 kali
per menit)
b. Sianosis sentral pada suhu kamaryang menetap atau memburuk pada
48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik
c. Retraksi : cekungan pada sternum dan kosta pada saat inspirasi
d. Grunting : suara merintih saat ekspirasi
e. Pernapasan cuping hidung

1.4 Patofisiologi
Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan
kurangnya zat yang disebut surfaktan.Surfaktan adalah zat aktif yang
diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini
mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada
minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein
(10%).Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus
sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional
pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya
ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.

Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :


Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme anerobik dengan penimbunan
asam laktat asam organic>asidosis metabolic.

Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris>transudasi kedalam


alveoli>terbentuk fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang nekrotik>lapisan
membrane hialin.
Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantung,
penurunan aliran darah ke paru mengakibatkan hambatan pembentukan
surfaktan, yang menyebabkan terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat
sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal,
dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine seperti
hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar.

Secara singkat patofisiologinya dapat digambarkan sbb :


Atelektasis hipoksemia asidosis transudasi penurunan aliran
darah paru hambatan pembentukan zat surfaktan atelekstasis.Hal ini
berlangsung terus sampai terjadi penyembuhan atau kematian.

RDS merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan pada bayi


prematur, biasanya setelah 3 5 hari. Prognosanya buruk jika support
ventilasi lama diperlukan, kematian bisa terjadi setelah 3 hari penanganan.

1.5 Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan Penunjang pada Neonatus yang mengalami Distress
Pernafasan
Pemeriksaan Kegunaan
Kultur darah Menunjukkan keadaan
bakteriemia
Analisis gas darah Menilai derajat hipoksemia dan
keseimbangan asam basa
Glukosa darah Menilai keadaan hipoglikemia,
karena hipoglikemia dapat
menyebabkan atau memperberat
takipnea
Rontgen toraks Mengetahui etiologi distress
nafas
Darah rutin dan Leukositosis menunjukkan
hitung jenis adanya infeksi
Neutropenia menunjukkan
infeksi bakteri
Trombositopenia menunjukkan
adanya sepsis
Pulse oximetry Menilai hipoksia dan kebutuhan
tambahan oksigen

1.6 Komplikasi
Komplikasi jangka pendek ( akut ) dapat terjadi :
1. Ruptur alveoli : Bila dicurigai terjadi kebocoran udara ( pneumothorak,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada
bayi dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinis
hipotensi, apnea, atau bradikardi atau adanya asidosis yang menetap.
2. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang
memburuk dan adanya perubahan jumlah leukosit dan
thrombositopeni. Infeksi dapat timbul karena tindakan invasiv seperti
pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat respirasi.
3. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular : perdarahan
intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi
terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik.
4. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan
komplikasi bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan
terapi surfaktannya.

Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh toksisitas oksigen,


tekanan yang tinggi dalam paru, memberatnya penyakit dan kurangnya
oksigen yang menuju ke otak dan organ lain.
Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi :
1. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakit paru kronik
yang disebabkan pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36
minggu. BPD berhubungan dengan tingginya volume dan tekanan
yang digunakan pada waktu menggunakan ventilasi mekanik, adanya
infeksi, inflamasi, dan defisiensi vitamin A. Insiden BPD meningkat
dengan menurunnya masa gestasi.
2. Retinopathy premature
Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-70% bayi yang
berhubungan dengan masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi
intrakranial, dan adanya infeksi.

1.7 Penatalaksanaan
Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi,dkk (2003) tindakan
untuk mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi :
1. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.
2. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.
5. Mencegah hipotermia.
6. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.

Penatalaksanaan secara umum :


a. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling
sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus
dektrosa 5 %
Pantau selalu tanda vital
Jaga patensi jalan nafas
Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
b. Jika bayi mengalami apneu
Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
Lakukan penilaian lanjut
c. Bila terjadi kejang potong kejang segera periksa kadar gula darah
d. Pemberian nutrisi adekuat
Setelah menajemen umum, segera dilakukan menajemen lanjut sesuai
dengan kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas.
Menajemen spesifik atau menajemen lanjut:

Gangguan nafas ringan


Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan
pada waktu lahir tanpa gejala-gejala lain disebut Transient Tacypnea
of the Newborn (TTN). Terutama terjadi setelah bedah sesar.
Biasanya kondisi tersebut akan membaik dan sembuh sendiri tanpa
pengobatan. Meskipun demikian, pada beberapa kasus. Gangguan
napas ringan merupakan tanda awal dari infeksi sistemik.

Gangguan nafas sedang


Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila
masih sesak dapat diberikan o2 4-5 liter/menit dengan sungkup
Bayi jangan diberi minukm
Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan
gentamisin) untuk terapi kemungkinan besar sepsis.
- Suhu aksiler <> 39C
- Air ketuban bercampur mekonium
- Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau
ketuban pecah dini (> 18 jam)
Bila suhu aksiler 34- 36,5 C atau 37,5-39C tangani untuk masalah
suhu abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam:
- Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada
perbaikan, berikan antibiotika untuk terapi kemungkinan besar
seposis
- Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali
abnormal ulangi tahapan tersebut diatas.
Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi
setelah 2 jam
Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda
perburukan setelah 2 jam, terapi untuk kemungkinan besar
sepsis
Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan
kurangai terapi o2secara bertahap . Pasang pipa lambung,
berikan ASI peras setiap 2 jam. Jika tidak dapat menyusu,
berikan ASI peras dengan memakai salah satu cara
pemberian minum

Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik


dihentikan. Bila bayi kembali tampak kemerahan tanpa
pemberian O2 selama 3 hari, minumbaik dan tak ada alasan
bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi dapat dipulangkan

Penatalaksanaan medis:
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS
adalah:
Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan
menurunkan caiaran paru
Fenobarbital
Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
Metilksantin (teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan
untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan
dalam pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen
(derifat dari sumber alami misalnya manusia, didapat dari
cairan amnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk
surfaktan buatan).

1.8 Pathway

II. Rencana Asuhan Klien Dengan Gangguan Respiratory Distress Syndrom


2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat keperawatan
Riwayat maternal
a) Menderita penyakit seperti diabetes mellitus
b) Kondisi seperti perdarahan placenta
c) Tipe dan lamanya persalinan
d) Stress fetal atau intrapartus
Status infant saat lahir
a) Prematur, umur kehamilan
b) Apgar score, apakah terjadi aspiksia
c) Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar

2.1.2 Pemeriksaan fisik : data fokus


Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu,
pernafasan mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan
cuping hidung, sianosis dan pucat, hipotonus, apneu, gerakan tubuh
berirama, sulit bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara nafas
mungkin normal kemudian dengan menurunnya pertukaran udara,
nafas menjadi parau dan pernapasan dalam. Pengkajian fisik pada
bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat dari
penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler.
Penilaian fungsi respirasi meliputi:
a) Frekuensi nafas
Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi.
Takhipneu tanpa tanda lain berupa distress pernafasan
merupakan usaha kompensasi terhadap terjadinya asidosis
metabolik seperti pada syok, diare, dehidrasi, ketoasidosis,
diabetikum, keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal kronik.
Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering terjadi
pada hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang merupakan
tanda memburuknya keadaan klinik.
b) Mekanika usaha pernafasan
Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping
hidung, retraksi dinding dada, yang sering dijumpai pada
obtruksi jalan nafas dan penyakit alveolar. Anggukan kepala ke
atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang menandakan
terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan.
c) Warna kulit/ membran mukosa
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat
berbercak (mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan
teraba dingin.

2.1.3 Pemeriksaan penunjang


a) Foto rontgen thorak
Untuk mengetahui kemungkinan adanya kardiomegali bila sistim
lain bila terkena.
b) Pemeriksaan hasil analisa gas darah
c) Untuk mengetahui adanya hipoksemia, hipokapnia, dan alkalosis
respiratori ( pH>7,45) pada tahap dini.
d) Tes fungsi paru
Untuk mengetahui keadaan paru kanan dan paru kiri.

2.2 Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :


Diagnosa 1 :Gangguan pertukaran gas (00030)
2.2.1 Definisi
Kelebihan atau deficit oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada
membrane alveolar-kapiler
2.2.2 Batasan karakteristik
Diaphoresis
Dispnea
Gangguan penglihtan
Gas darah arteri abnormal
Gelisah
Hiperkapnia
Hipoksemia
Hipoksia
Iritabilitas
Konfusi
Napas cuping hidung
Penurunan karbon dioksida
pH arteri normal
pola pernapasan abnormal (mis., kecepatan, irama, kedalaman)
sakit kepala saat bangun
somnolen
takikardia
Warna kulit abnormal (mis., pucat, kehitaman)
2.2.3 Faktor yang berhubungan
ketidak eimbangan ventilasi perfusi
perubahan membrane alveoral kapiler

Diagnosa 2 :Risiko ketidakseimbangan volume cairan (00025)


2.2.4 Definisi
Kerentanan terhadap penurunan, peningkatan, atau
pergeseran cepat cairan intravascular, intertisial, dan/atau
intraselular lain, yang dapat menggangu kesehatan. Ini mengacu
pada kehilangan, penambahan cairan tubuh atau keduanya.
2.2.5 Faktor risiko
Asites
Berkeringat
Luka bakar
Obstruksi intestinal
Pancreatitis
Program pengobatan
Sepsis
Trauma
2.3 Perencanaan
Diagnosa 1 :Gangguan pertukaran gas (00030)
2.3.1 Tujuan dan criteria hasil (outcome criteria)
Tujuan :
Status pernapasan: pertukaran gas tidak akan terganggunya yang
dibuktikan oleh indicator gangguan sebagai berikut (1 5:
gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada
gangguan):
- Status kognitif
- paO2, PaCO2, pH arteri, dan saturasi O2
- tidal akhir CO2
Status pernapasan: pertukaran gas tidak akan terganggu yang
dibuktikan oleh indicator gangguan sebagai berikut (1 5:
gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada
gangguan):
- Dispnea saat istirahat
- Dispnea saat aktivitas berat
- Gelisah, sianosis, dan somnolen

2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional


- Manajemen asam basa
r/ meningkatkan keseimbangan asam basa dan
mencegah komplikasi akibat ketidakseimbnagan asam basa
- Manajemen jalan napas
r/ memfasilitasi kepatenan jalan napas
- Terapi oksigen
Memberikan oksigen dan memantau efektiviyasnya
- Pemantauan pernapadan
r/ mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk
memastikan kepatenan jalan napas dan adekuatnya pertukaran
gas.
- Pemantauan TTV
r/ mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskular,
pernapasan, dah suhu tubuh untuk menentukan dan mencegah
komplikasi

Diagnosa 2 :Risiko ketidakseimbangan volume cairan (00025)


2.3.3 Tujuan dan criteria hasil (outcome criteria)
Tujuan :
- Keseimbangan cairan: keseimbangan cairan dalam ruang intrasel
dan ekstra sel tubuh
- Hidrasi: jumlah air dalam kompartemen intrasel dan ekstra sel
tubuh yang adekuat
- Status nutrisi: asupan makanan dan cairan: jumlah makanan dan
cairan yang masuk kedalam tubuh selama periode 24 jam
Kriteria :kekurangan volume cairan akan dicegah, yang
dibuktikan oleh keseimbangan cairan, keseimbangan elektrolit
dan asam-basa, hidrasi, dan status nutrisi: asupan makanan dan
cairan.

2.3.4 Intervensi keperawatan dan rasional


- Manajemen cairan
r/ meningkatkan keseimbangan cairan dan pencegahan
komplikasi akibat kadar cairan yang abnormal atau diluar
harapan
- Pemantauan cairan
r/ mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk
mengukur keseimbangan cairan.
- Terpi intravena (IV)
r/ memberikan dan memantau cairan dan obat intravena
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BY. E


DENGAN DIAGNOSA MEDIS RESPIRATORY DYSTRESS SYNDROME
(RDS)

Ruang/Kamar : Perinatologi
Tgl. Masuk RS : 30 Januari 2017
Tgl. Pengkajian : 31 Januari 2017
Waktu Pengkajian : 21.00 wita

A. IDENTIFIKASI
1. BAYI
Nama Inisial : By. Ny. E
Tempat/Jam Lahir : Pelaihari/ 30 Januari 2017/09.40 wita
Jenis Kelamin : laki-laki

2. IBU
Nama Inisial : Ny. E
Umur : 31 tahun
Agama/Suku : Islam/ Jawa
Warga Negara : Indonesia
Bahasa yang digunakan : Indonesia
Daerah : Jawa, Banjar
Pendidikan : SMK
Alamat rumah : Bumi Jaya

3. AYAH
Nama Inisial : Tn. S
Umur : 33 tahun
Agama/Suku : Islam/ Jawa
Warga Negara : Indonesia
Bahasa yang digunakan : Indonesia
Daerah: Jawa & Banjar
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Alamat rumah : Bumi Jaya

4. PENANGGUNG JAWAB
Nama : Tn. S
Alamat : Bumi Jaya
Hubungan dengan Klien : Ayah kandung

B. DATA MEDIK
1. Dikirim oleh : VK
2. Diagnosa medik
a. Saat masuk : RDS
b. Saat pengkajian : RDS

C. RIWAYAT PERSALINAN
Jenis persalinan : spontan belakang kepala
Pertolongan persalinan : bidan
Usia kehamilan : Preterm
Anak ke : 2 (Hidup : 1)
Bayi lahir 30 detik : Menangis
Resusitasi : Dilakukan
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) : Tidak dilakukan
APGAR SCORE
NO KRITERIA 1 MENIT 5 MENIT 10 MENIT
1. Appearance 1 1 2
2. Pulse 2 2 2
3. Grimace 1 2 2
4. Activity 2 2 2
5. Respiratory 1 1 1
TOTAL 7 8 9

D. RIWAYAT KEHAMILAN
Antenatal Care : Bidan, 5 kali
Imunisasi TT : dilakukan
Tablet Fe : jarang dikonsumsi
Keluhan
Trimester I : mual muntah
Trimester II : tidak ada
Trimester III : tidak ada
Kebiasaan waktu hamil
Makan : makan nasi dengan ikan dan sayur
Minum : minum air putih dan setiap pagi minum teh manis
Obat-obatan : tidak ada
Jamu : tidak ada
Rokok : tidak
Penyulit kehamilan : tidak ada

E. RIWAYAT KESEHATAN
1. Penyakit yang diderita oleh ibu : tidak ada
Riwayat operasi ibu : tidak ada
2. Penyakit yang diderita oleh ayah : tidak ada
3. Penyakit yang diderita oleh keluarga : tidak ada
F. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Penerimaan ibu terhadap kehadiran bayinya :
() Menerima ( ) Menolak
Penerimaan suami & keluarga terhadap kehadiran bayinya :
() Menerima ( ) Menolak
Hubungan ibu dengan suami & keluarga :
( ) Kurang baik () Baik ( ) Tidak baik
Keluarga yang masih tinggal serumah : tidak ada

G. RIWAYAT SOSIAL KULTURAL


Adat istiadat yang dilakukan pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas :
Klien tidak menjalani adat apapun selama kehamilan, persalinan, dan
nifas.

H. NUTRISI
ASI, on demand : ( ) Ya () Tidak
Colostrums : ( ) Ya () Tidak, alasan bayi mengalami RDS
PASI : ( ) Ya () Tidak

I. ELEMINASI
Miksi : () Sudah 2x/24 jam
Mekonium : () Sudah 1 x/24 jam
Konsistensi : lembek
Warna : hitam

J. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum lemah.
TTV : R : 69 x/mnt HR : 137 x/mnt
S : 36,20C
Bayi tampak lebih sering tidur , gerak aktif, kulit normal, lanugo ada,
Vernik Caseosa tidak ada, dan tidak terdapat tanda lahir.

KEPALA
Kepala tampak bersih, bentuk kepala normal, sutura normal.

MATA
Sclera tidak ikterik, conjungtiva tidak anemis, palpebra tidak edema,
bentuk mata normal, dan tidak terdapat perdarahan.

HIDUNG
Bentuk hidung simetris dan tidak ada nafas cuping hidung

MULUT
Bentuk mulut normal, terdapat adanya monilia pada mulut, tidak
terdapat luka, lidah tampak bersih, ekspirasi pernafsan menggunakan
mulut.

LEHER
Tidak terdapat pembengkakan glandula thyroidea, tidak terdapat
struma, dan tidak terdapat torticolis.

DADA
Bentuk dada normal, terdapat retraksi dinding dada, clavikula normal,
bunyi nafas vesikuler, bunyi jantung normal, pola nafas tidak teratur
(ireguler).

ABDOMEN
Bentuk abdomen normal, saat diauskultasi terdengar bunti timpani,
bising usus tidak terdengar, saat diperkusi terdengar bunyi sonor.
Pangkal tali pusat berwarna kemerahan pada pangkalnya.
PUNGGUNG
Bentuk punggung normal, tidak terdapat spina bifida, tidak terdapat
meningocele, dan tidak terdapat dimple.

GENETALIA
Penis normal, scrotum ada, anus berlubang.

EKSTREMITAS ATAS DAN BAWAH


Jumlah jari tangan lengkap, jumlah jari kaki lengkap, akral dingin, dan
terdapat sianosis pada ujung ekstremitas.

2. Pemeriksaan Antropometri
Berat badan : 1350 gram
Panjang badan : 35 cm
Lingkar lengan atas : 6,5cm
Lingkar dada : 23,5 cm
Lingkar perut : 22 cm
Lingkar kepala : 26 cm

3. Pemeriksaan Reflek
Reflek rooting : () Ada ( ) Tidak ada
Reflek sucking : () Ada ( ) Tidak ada
Reflek graps : () Ada ( ) Tidak ada
Reflek babinski : () Ada ( ) Tidak ada

4. Pemeriksaan Profilaksis
Salf mata 1% : Tidak diberi
Vitamin K : Diberi
Imunisasi hepatitis : Tidak diberi
5. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium klinik
Darah : 30 Januari 2017/ 11.34

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

WBC 12,2 x 109/L 4,0-10,0


Lymph# 6,6 x 109/L 0.8-4,0
Mid# 1,0 x 109/L 0,1-1,5
Gran# 4,5 x 109/L 2.0-7,0
Lymph% 54,6 % 20,0-40,0
Mid% 7,9 % 3,0-15
Gran% 37,5 % 50,0-70,0
HGB 15,5 a/dl 11,0-16,0
RBC 4,20 x 1012/L 3.50-5,50
HCT 47,5 % 37,0-54,0
MCV 113,3 FL 80,0-100,0
MCH 36,9 Pa 27,0-34,0
MCHC 32,6 a/dl 32.0-36,0
RDW-CV 16,4 % 11,5-16,0
RDW-SD 32,3 FL 35,0-56,0
PLT 152 x 109/uL 150,0-350,0
MPV 8,2 FL 6,5-12,0
PDW 16,1 9,0-17,0
PCT 0,124 % 0,108-0,282
THERAPY SAAT INI

Nama Obat Komposisi Golongan Obat Indikasi/Kontaindikasi Dosis Cara Pemberian


Dextrose 10% Glukosa anhdrous Elektrolit Indikasi: 4 tpm IV
Hipoglikemia, intosikasi, dehidrasi, penyakit hati,
diatesis hemoragik, shock.

Kontraindikasi :
Koma diabetikum, pemberiam bersama produk
darah, anuria, perdarahan intraspinal &
intrakranial, delirium dehidrasi.
Cefotaxime Cefotaxime Sefalosforin generasi ke- Indikasi: 2x75 mg IV
3 Infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram negatif

Kontraindikasi :
Hipersensitivitas terhadap obat ini
Aminofilin Aminofilin Bronkodilator satin Indikasi : 2x2 mg IV
Asma & PPOK

Kontraindikasi :
Hipersensitifitas terhadap terhadap teofilin dan
ethylendiamine
O2 Oksigen 5 lpm CPAP
ANALISIS DATA

NO Tanggal/Jam Data Fokus Etiologi Problem


1 31-01-2017/ 22.30 DO : Surfaktan paru inadekuat Gangguan pertukaran gas
1. Bayi tampak lebih sering tidur (00030)
2. Tampak adanya retraksi dinding dada
3. Terdapat sianosis pada ujung ekstremitas atas dan bawah
4. Bayi terkadang mengalami apnea
5. RR : 69x/menit
6. SpO2 = 92%
7. Berat lahir : 1300 gr (BBLSR)
2 31-01-2017/ 22.30 DO : Hiperventilasi Ketidakefektifan pola nafas
1. irama nafas irreguler (00032)
2. Tampak adanya retraksi dinding dada
3. Ekspirasi pernafasan mengunakan mulut
4. RR : 69x/menit
3 31-01-2017/ 22.30 DO : Berat badan ekstrim Hipotermi (00006)
1. Berat lahir : 1300 gr (BBLSR)
2. Bayi dilahirkan kurang bulan (preterm)
3. S : 36,20C
4. RR : 69x/menit
5. Terdapat sianosis pada ujung ekstremitas atas dan bawah
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas b.d surfaktan paru inadekuat (00030)
2. Ketidakefektifan pola nafas b.d hiperventilasi (00032)
3. Hipotermi b.d berat badan ekstrim (00006)

PERENCANAAN KEPERAWATAN
NO No Diagnosa Diagnosa Nursing Outcome Nursing Intervention Rasional
Keperawatan
1 00030 Gangguan Setelah dilakukan intervensi selama 2x24 1. Monitor kedalaman, irama dan 1. Kedalaman, irama dan usaha
pertukaran gas b.d jam klien menunjukan status respirasi usaha respirasi respirasi yang abnormal
surfaktan paru pertukaran gas. menandakan distres
inadekuat pernafasan
Kriteria hasil: 2. Monitor suara nafas 2. Suara nafas abnormal
1. RR kurang dari 60x/menit menandakan distress
2. Tidak sesak pernafasan
3. Tidak ada sianosis 3. Monitor pola nafas 3. Pola nafas abnormal
4. Tidak ada retraksi dinding dada mempengaruhi stastu
5. Bayi tidak apnea oksigenasi dalam tubuh
4. Pantau tanda vital 4. Perubahan tanda vital yang
signifikan menandakan
keadaan klien
5. Kolaborasi pemberiam 5. Bronkodilator sebagai terapi
bronkodilator untuk membuka jalan nafas
2 00032 Ketidakefektifan pola Setelah dilakkan intevensi selama 2x24 1. Buka jalan nafas, gunakan 1. Membuka kepatenan jalan
nafas b.d jam bayi menunjukan pola nafas yang teknik head till chin lift nafas
hiperventilasi efektif. 2. Posisikan klien semi fower 2. Mempertahankan kepatenan
jalan nafas
Kriteria hasil: 3. Pantau tanda vital 3. Perubahan tanda vital yang
1. Menunjukan suara nafas yang bersih signifikan menandakan
dan tidak ada sianosis keadaan klien
2. Menunjukan jalan nafas yang paten 4. Monitor pemberian oksigen 4. Menambah kecukupan oksigen
3. Tidak terdapat retraksi dinding dada jaringan
4. Tanda vital dalam batas normal 5. Observasi adanya tanda 5. Hipoventilasi dapat
hipoventilasi menyebabkan kematian
jaringan
6. Kolaborasi pemberian 6. Sebagai terapi medis untuk
bronkodilator membuka jalan nafas
3 00006 Hipotermi b.d Setelah dilakukan intervensi 1. Pertahankan suhu ruangan diatas 1. Suhu ruangan dapat
berat badan ekstrim selama 2x24 jam suhu tubuh bayi dalam 22,2oC mempengaruhi suhu tubuh bayi
0
batas normal (36,5-37,2 C). 2. Pertahankan pakaian bayi tetap 2. Pakaian bayi yang basah dapat
kering, ganti pakaian yang basah menyebabkan suhu tubuh bayi
Kriteria hasil: segera mungkin menurun dan meningkatkan
o
1. Suhu tubuh klien 36,5-37,5 C resiko hipotermi
2. Kulit bayi tampak kemerahan 3. Pantau suhu bayi tiap 2 jam 3. Suhu tubuh bayi dalam batas
sekali normal menunujukkan bayi
tidak mengalami hipotermi
4. Letakkan bayi bayi dalam infant 4. Menjaga suhu bayi tetap stabil
warmer dalam batas normal

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Selasa/ 31-01-2017
NO Jam Nomor Tindakan Evaluasi Tindakan Paraf
Tindakan Diagnosa
NANDA
1. 22.30 00032 1. Membuka jalan nafas menggunakan teknik head till chin lift 1. Jalan nafas klien lebih terbuka
dengan cara meletakan bantalan pada bawah bahu klien
22.32 2. Memantau tanda vital 2. RR = 65x/mnt T= 36,50 C
22.37 3. Memonitor pemberian oksigen 3. Klien terpasang O2 5 lpm CPAP
22.30 4. Mengobservasi adanya tanda hipoventilasi 4. Terdapat sianosis pada ujung ekstremitas
bawah
2. 22.40 00030 1. Memonitor usaha respirasi 1. klien menggunakan otot bantu nafas
22.42 2. Memonitor suara nafas 2. Suara nafas vesikuler
22.45 3. Memonitor pola nafas 3. Pola nafas irreguler, klien kadang-kadang
mengalami apnea
00.00 4. Memantau tanda vital 4. RR = 69x/mnt T= 36,70 C

3. 22.30 00006 1. Meletakkan bayi bayi dalam incubator 1. Bayi telah berada dalam incubator
00.05 2. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti pakaian yang 2. Tidak terdapat BAB atau BAK bayi
basah segera mungkin dengan cara memeriksa apakah ada
BAB atau BAK bayi
02.00 3. Memantau tanda vital
04.00 4. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti pakaian yang 3. RR = 69x/mnt T= 36,70 C
basah segera mungkin dengan cara memeriksa apakah ada 4. Bayi BAK dan BAB
BAB atau BAK bayi
5. Memantau tanda vital
04.10 6. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti pakaian yang 5. RR = 66x/mnt T= 36,90 C
06.00 basah segera mungkin dengan cara memeriksa apakah ada 6. Tidak terdapat BAB dan BAK bayi
BAB atau BAK bayi
7. Memantau tanda vital
06.02 7. RR = 59x/mnt T= 36,70 C
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Kamis/ 02-01-2017
NO Jam Nomor Tindakan Evaluasi Tindakan Paraf
Tindakan Diagnosa
NANDA
1. 09.00 00032 1. Membuka jalan nafas menggunakan teknik head till chin 1. Jalan nafas klien lebih terbuka
lift dengan cara meletakan bantalan pada bawah bahu klien
09.10 2. Memantau tanda vital 2. RR = 62x/mnt T= 36,70 C
09.30 3. Mengauskultasi bunyi nafas 3. Klien terpasang O2 5 lpm CPAP
09.35 4. Memonitor pemberian oksigen 4. Suara nafas vesikuler
09.40 5. Mengobservasi adanya tanda hipoventilasi 5. Terdapat sianosis pada ujung ekstremitas
bawah
2. 09.45 00030 1. Memonitor usaha respirasi 1. klien menggunakan otot bantu nafas
09.50 2. Memonitor pola nafas 2. Pola nafas irreguler, klien kadang-kadang
mengalami apnea
10.00 3. Memantau tanda vital 3. RR = 64x/mnt T= 36,70 C

3. 10.06 00006 1. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti pakaian 1. Tidak terdapat BAB atau BAK bayi
yang basah segera mungkin dengan cara memeriksa apakah
ada BAB atau BAK bayi
12.00 2. Memantau tanda vital 2. RR = 65x/mnt T= 36,60 C
12.05 3. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti pakaian 3. Bayi BAK dan BAB
yang basah segera mungkin dengan cara memeriksa apakah
ada BAB atau BAK bayi
14.00 4. Memantau tanda vital 4. RR = 64x/mnt T= 36,50 C
14.05 5. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti pakaian 5. Tidak terdapat BAB dan BAK bayi
yang basah segera mungkin dengan cara memeriksa apakah
ada BAB atau BAK bayi

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Jumat/ 03-02-2017
NO Jam Nomor Tindakan Evaluasi Tindakan Paraf
Tindakan Diagnosa
NANDA
1. 08.45 00032 1. Memantau tanda vital 1. RR = 65x/mnt T= 36,50 C
08.50 2. Memonitor pemberian oksigen 2. Klien terpasang O2 5 lpm CPAP
09.00 3. Mengobservasi adanya tanda hipoventilasi 3. Tidak terdapat sianosis pada bayi

2. 09.30 00030 1. Memonitor usaha respirasi 1. klien menggunakan otot bantu nafas
09.35 2. Memonitor suara nafas 2. Suara nafas vesikuler
09.40 3. Memonitor pola nafas 3. Pola nafas irreguler, klien kadang-kadang
10.00 4. Memantau tanda vital mengalami apnea
4. RR = 69x/mnt T= 36,70 C
3. 10.10 00006 1. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti pakaian 1. Tidak terdapat BAB atau BAK bayi
yang basah segera mungkin dengan cara memeriksa apakah
ada BAB atau BAK bayi
12.00 2. Memantau tanda vital 2. RR = 69x/mnt T= 36,70 C
12.10 3. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti pakaian 3. Bayi BAK dan BAB
yang basah segera mungkin dengan cara memeriksa apakah
ada BAB atau BAK bayi
14.00 4. Memantau tanda vital 4. RR = 66x/mnt T= 36,90 C
14.10 5. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti pakaian 5. Tidak terdapat BAB dan BAK bayi
yang basah segera mungkin dengan cara memeriksa apakah
ada BAB atau BAK bayi

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Sabtu/ 04-02-2017
NO Jam Nomor Tindakan Evaluasi Tindakan Paraf
Tindakan Diagnosa
NANDA
1. 15.00 00032 1. Memantau tanda vital 1. RR = 67x/mnt T= 36,90 C
15.10 2. Memonitor pemberian oksigen 2. Klien terpasang O2 5 lpm CPAP
15.15 3. Mengobservasi adanya tanda hipoventilasi 3. Tidak terdapat sianosis pada bayi

2. 15.30 00030 1. Memonitor usaha respirasi 1. klien menggunakan otot bantu nafas
15.40 2. Memonitor suara nafas 2. Suara nafas vesikuler
15.50 3. Memonitor pola nafas 3. Pola nafas irreguler, klien kadang-
16.00 4. Memantau tanda vital kadang mengalami apnea
4. RR = 69x/mnt T= 36,70 C
3. 16.10 00006 1. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti 1. Tidak terdapat BAB atau BAK bayi
pakaian yang basah segera mungkin dengan cara
memeriksa apakah ada BAB atau BAK bayi
18.00 2. Memantau tanda vital 2. RR = 65x/mnt T= 36,50 C
18.10 3. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti 3. Bayi BAK dan BAB
pakaian yang basah segera mungkin dengan cara
memeriksa apakah ada BAB atau BAK bayi
20.00 4. Memantau tanda vital 4. RR = 64x/mnt T= 36,60 C
20.10 5. Mempertahankan pakaian bayi tetap kering, ganti 5. Tidak terdapat BAB dan BAK bayi
pakaian yang basah segera mungkin dengan cara
memeriksa apakah ada BAB atau BAK bayi

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Senin/ 06-02-2017

NO Jam Nomor Tindakan Evaluasi Tindakan Paraf


Tindakan Diagnosa
NANDA
1. 08.00 00032 1. Memantau tanda vital 1. RR = 0 x/mnt T= 36,10 C
08.03 2. Memonitor pemberian oksigen 2. Terpasang O2 6 lpm CPAP

2. 08.05 00030 1. Melakukan resusitasi jantung paru (RJP) 1. Bayi mengalami apnea
EVALUASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Rabu/ 1-02-2017
NO Jam Nomor Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Masalah Perencanaan Selanjutnya (P) Paraf
Evaluasi Daignosa (A)
NANDA
1 07.00 00032 Bayi masih tampak sesak, Masalah belum Intervensi dilanjutkan:
terdapat retraksi dinding teratasi 1. Pantau tanda vital
dada, pola nafas irreguler 2. Monitor pemberian oksigen
3. Observasi adanya tanda hipoventilasi
4. Kolaborasi pemberian aminofilin 2 mg
2 07.00 00030 Bayi masih tampak sesak, Masalah belum Intervensi dilanjutkan
terdapat sianosis pada ujung teratasi 1. Monitor kedalaman, irama dan usaha
ekstremitas bawah, bayi respirasi
terkadang mengalami apnea 2. Monitor suara nafas
3. Monitor pola nafas
4. Pantau tanda vital
5. Tetap lakukan pemberian O2
6. Kolaborasi pemberiam aminofilin 2 mg
3 07.00 00006 Bayi masih mengalami Masalah teratasi Intervensi dilanjutkan:
takipnea, suhu tubuh bayi sebagian 1. Pertahankan pakaian bayi tetap kering,
dalam batas normal (36,70C) ganti pakaian yang basah segera
BB = 1300 gr mungkin
2. Pantau tanda vital bayi tiap 2 jam sekali
CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP
Hari /Tanggal: Kamis/ 2-02-2017

NO Jam Nomor Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Masalah Perencanaan Selanjutnya (P) Paraf
Evaluasi Daignosa (A)
NANDA
1 14.00 00032 Bayi masih tampak sesak, Masalah belum Intervensi dilanjutkan:
terdapat retraksi dinding teratasi 1. Pantau tanda vital
dada, pola nafas irreguler 2. Monitor pemberian oksigen
3. Observasi adanya tanda hipoventilasi
4. Kolaborasi pemberian aminofilin 2 mg
2 14.00 00030 Bayi masih tampak sesak, Masalah belum Intervensi dilanjutkan
bayi terkadang mengalami teratasi 1. Monitor kedalaman, irama dan usaha
apnea respirasi
2. Monitor suara nafas
3. Monitor pola nafas
4. Pantau tanda vital
5. Tetap lakukan pemberian O2
6. Kolaborasi pemberiam aminofilin 2 mg
3 14.00 00006 Bayi masih mengalami Masalah teratasi Intervensi dilanjutkan:
takipnea, suhu tubuh bayi sebagian 1. Pertahankan pakaian bayi tetap kering,
dalam batas normal (36,50C) ganti pakaian yang basah segera
mungkin
2. Pantau tanda vital bayi tiap 2 jam sekali
CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP
Hari /Tanggal: Jumat/ 3-02-2017

NO Jam Nomor Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Masalah Perencanaan Selanjutnya (P) Paraf
Evaluasi Daignosa (A)
NANDA
1 14.00 00032 Bayi masih tampak sesak, Masalah belum Intervensi dilanjutkan:
terdapat retraksi dinding teratasi 1. Pantau tanda vital
dada, pola nafas irreguler 2. Monitor pemberian oksigen
3. Observasi adanya tanda
hipoventilasi
4. Kolaborasi pemberian aminofilin 2
mg
2 14.00 00030 Bayi masih tampak sesak, Masalah belum Intervensi dilanjutkan
bayi terkadang mengalami teratasi 1. Monitor kedalaman, irama dan usaha
apnea respirasi
2. Monitor suara nafas
3. Monitor pola nafas
4. Pantau tanda vital
5. Tetap lakukan pemberian O2
6. Kolaborasi pemberiam aminofilin 2
mg
3 14.00 00006 Bayi masih mengalami Masalah teratasi Intervensi dilanjutkan:
takipnea, suhu tubuh bayi sebagian 1. Pertahankan pakaian bayi tetap
dalam batas normal (36,90C) kering, ganti pakaian yang basah
segera mungkin
2. Pantau tanda vital bayi tiap 2 jam
sekali

CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP
Hari /Tanggal: Sabtu/ 4-02-2017

NO Jam Nomor Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Masalah Perencanaan Selanjutnya (P) Paraf
Evaluasi Daignosa (A)
NANDA
1 20.15 00032 Bayi masih tampak sesak, Masalah belum Intervensi dilanjutkan:
terdapat retraksi dinding teratasi 1. Pantau tanda vital
dada, pola nafas irreguler, 2. Monitor pemberian oksigen
tidak terdapat sianosis 3. Observasi adanya tanda hipoventilasi
4. Kolaborasi pemberian aminofilin 2
mg
2 20.15 00030 Bayi masih tampak sesak, Masalah belum Intervensi dilanjutkan
bayi terkadang mengalami teratasi 1. Monitor kedalaman, irama dan usaha
apnea respirasi
2. Monitor suara nafas
3. Monitor pola nafas
4. Pantau tanda vital
5. Tetap lakukan pemberian O2
6. Kolaborasi pemberiam aminofilin 2
mg
3 20.15 00006 Bayi masih mengalami Masalah teratasi Intervensi dilanjutkan:
takipnea, suhu tubuh bayi sebagian 1. Pertahankan pakaian bayi tetap
dalam batas normal (36,60C) kering, ganti pakaian yang basah
segera mungkin
2. Pantau tanda vital bayi tiap 2 jam
sekali

CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP
Hari /Tanggal: Senin/ 06-02-2017
NO Jam Nomor Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Masalah Perencanaan Selanjutnya (P) Paraf
Evaluasi Daignosa (A)
NANDA
1 09.40 00032 Bayi mengalami apnea, Masalah tidak Intervensi dihentikan.
tidak terdapat denyut teratasi
jantung bayi
2 09.40 00030 Bayi mengalami apnea, Masalah tidak Intervensi dihentikan
tidak terdapat denyut teratasi
jantung bayi
BAB IV
ANALISA JURNAL

HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH


DENGAN KEJADIAN SINDROM DISTRESS RESPIRASI PADA BAYI

A. SUBSTANSI PENELITIAN
1. Judul Penelitian
Hubungan Berat Badan Lahir Rendah Dengan Kejadian Sindrom Distress
Respirasi Pada Bayi
2. Tahun Penelitian
Tahun 2011
3. Nama Peneliti
Nurhanifah Tamad, Supriyanto, Tutik Ida Rosanti
4. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD. PROF. MARGONO SOEKARJO
5. Alamat Jurnal
andala of Health. Volume 5, Nomor 2, Mei 2011 Tamad, Berat Badan
Lahir dan Distress Respirasi.
6. Pendahuluan
Berat badan lahir rendah merupakan salah satu penyebab angka
morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi pada neonatus. Berat badan
lahir rendah menyumbang sebesar 51% sebagai penyebab kematian
neonatal di dunia. Pada tahun 2000, angka kejadian BBLR di dunia
sekitar 1,4% dari seluruh kelahiran. Jumlah tersebut meningkat secara
signifikan pada tahun 2004 menjadi 8,1% meskipun telah diupayakan
peningkatan asupan gizi, pelayanan antenatal dan penurunan jumlah
BBLR.

Salah satu masalah pada bayi dengan berat badan lahir rendah preterm
yaitu sindrom distres respirasi. Sindrom ini merupakan penyebab
terbanyak angka kesakitan dan kematian pada bayi BBLR di dunia. Di
Amerika Serikat, sindrom ini terjadi sekitar 20.000 - 30.000 pada bayi
baru lahir tiap tahunnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan berat
badan lahir rendah dengan kejadian sindrom distress respirasi pada bayi
di RSUD. Prof. Margono Soekarjo. Penelitian ini dilakukan karena
prevalensi sindrom distress respirasi masih cukup tinggi dan belum ada
penelitian tentang hubungan berat badan lahir rendah dengan kejadian
sindrom distress respirasi pada bayi di RSUD. Prof. Margono
Soekarjo.Pemilihan RSUD Prof. Margono Soekarjo karena merupakan
salah satu rumah sakit rujukan kasus sindrom distress respirasi di
Kabupaten Banyumas dan sekitarnya.

7. Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional - analitik
dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah bayi BBLR yang
dirawat di RS Prof. Margono Soekarjo dari 1 Agustus 2008 sampai 2
Januari 2010. Subyek penelitian yang digunakan adalah bayi dengan berat
bada lahir 1.000 gram - 2.500 gram, preterm dan aterm, berusia 0-3 hari,
dengan skor APGAR menit kelima lebih dari 6, dan tidak mengalami
ensefalopati hepatik. Teknik sampling yang digunakan adalah total
sampling, dan didapatkan 744 kasus BBLR. Data berat badan lahir dan
sindrom distress respirasi didapatkan dari data rekam medik.

Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis deskriptif
untuk mengetahui frekuensi berat badan lahir rendah yang didiagnosis
sindrom distress respirasi, asfiksia neonatorum, ensefalopati hipoksik
iskemik, sepsis neonatorum dan pneumonia aspirasi. Pengujian hipotesis
dilakukan dengan analisis bivariat yaitu uji kai kuadrat dengan tingkat
kepercayaan minimal 95%.

8. Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukan kejadian sindrom distress respirasi
menempati urutan kedua sebagai penyakit penyerta distress respirasi pada
bayi BBLR di RSUD. Prof. Margono Soekarjo. Dengan prevalensinya
yaitu 32,5%. Hasil ini sesuai dengan data di RS. Sardjito Yogyakarta
tahun 2004, yang menunjukan bahwa sindrom distress respirasi
menempati urutan kedua sebagai penyebab morbiditas dan mortalitas
pada bayi BBLR.

Hasil uji kai kuadrat didapatkan nilai p = 0,67 (p > 0,05) yang berarti
tidak terdapat hubungan antara BBLR preterm dengan kejadian sindrom
distress respirasi pada bayi. Sebanyak 5,8% bayi (6/104) BBLSR dan
5,5% bayi (35/640) BBLR yang didiagnosis sindrom distress respirasi,
menunjukan kejadian sindrom distress respirasi pada bayi yang semakin
menurun seiring meningkatnya berat badan lahir bayi.

9. Pembahasan
Pada bayi BBLR terjadi immaturitas sistem neurologi dan
ketidakoptimalan fungsi motorik dan autonom pada awal bulan
kehidupannya. Hal ini mengakibatkan ketidakoptimalan kemampuan
untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan adaptasi dengan
lingkungan sekitarnya. Pada bayi baru lahir, kemampuan beradaptasi
dengan lingkungan sekitarnya dan mempertahankan kelangsungan
hidupnya berkembang lebih baik pada bayi BBLR dibandingkan bayi
BBLSR.

Faktor risiko sindrom distress respirasi pada bayi yaitu berat badan lahir
rendah, bayi kurang bulan, usia maternal lebih dari sama dengan 32
tahun, ibu yang menderita gangguan perfusi darah uterus selama
kehamilan yaitu ibu penderita diabetes mellitus, hipertensi, toksemia,
hipotensi atau perdarahan antepartum, sebelumnya melahirkan bayi
dengan sindrom distress respirasi, metode persalinan dengan seksio
sesarea dan bayi laki -laki. Sindrom ini diperberat dengan asfiksia
perinatal, infeksi dan bayi kembar.

Manifestasi klinis sindrom distress respirasi yaitu pucat, dispnea, takipnea


(frekuensi pernafasan di atas 60 kali per menit), pernafasan cuping
hidung, retraksi interkostal/subxiphoid, grunting ekspiratoar, penurunan
suara pernafasan, bradikardi (pada sindrom distress respirasi yang berat),
hipotensi, tonus otot menurun, jumlah urin menurun, sianosis dan edema
perifer. Gejala klinis biasanya mulai terlihat pada beberapa jam pertama
setelah lahir terutama pada umur 6 8 jam. Gejala karakteristik mulai
timbul pada usia 24 72 jam dan setelah itu keadaan bayi mungkin
memburuk atau mengalami perbaikan. Apabila membaik gejala biasanya
menghilang pada akhir minggu pertama.

Perbaikan sering ditunjukan dengan dieresis spontan dan kemampuan


oksigenasi bayi dengan kadar oksigenasi bayi yang lebih rendah.
Kelemahan jarang terjadi pada hari pertama sakit biasanya terjadi antara
hari ke-2 dan ke-3 disertai dengan kebocoran udara alveolar (emfisema
intersisial, pneumotoraks), perdarahan paru atau interventrikuler.

B. ANALISIS JURNAL (PICO)


1. Patient and Clinical Problem (P):
Populasi dalam penelitian ini adalah Bayi BBLR yang dirawat di RS
Prof. Margono Soekarjo dari 1 Agustus 2008 sampai 25 Januari 2010.
Sampel penelitian yang digunakan adalah bayi dengan berat badan
lahir 1.000 gram - 2.500 gram, preterm dan aterm, berusia 0-3 hari,
dengan skor APGAR menit kelima lebih dari 6, dan tidak mengalami
ensefalopati hepatik.

2. Intervention (I)
Teknik sampling yang menggunakan total sampling, dan didapatkan
744 kasus BBLR. Data berat badan lahir dan sindrom distress respirasi
didapatkan dari data rekam medik. Analisis data yang digunakan pada
penelitian ini yaitu analisis deskriptif untuk mengetahui frekuensi berat
badan lahir rendah yang didiagnosis sindrom distress respirasi, asfiksia
neonatorum, ensefalopati hipoksik iskemik, sepsis neonatorum dan
pneumonia aspirasi. Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis
bivariat yaitu uji kai kuadrat.

3. Comparator (C)
Penelitian yang dilakukan oleh Marfuah, dkk (2013) dengan judul
Faktor Resiko Kegawatan Nafas pada Neonatus di RSD. DR. Haryono
Kabupaten Lumajang Tahun 2013. Didapatkan hasil usia kehamilan
merupakan faktor resiko yang signifikan pada kegawatan neonatus.
4. Outcome (O)
Berdasarkan hasil tabel distribusi subjek penelitian dengan distress
respirasi menyatakan bahwa kejadian sindrom distress respirasi
menempati urutan kedua sebagai penyakit penyerta distress respirasi
pada bayi BBLR di RSUD. Prof. Margono Soekarjo. Dengan
prevalensinya yaitu 32,5%. Hasil ini sesuai dengan data di RS. Sardjito
Yogyakarta tahun 2004, yang menunjukan bahwa sindrom distress
respirasi menempati urutan kedua sebagai penyebab morbiditas dan
mortalitas pada bayi BBLR.

Dari hasil analisis data hubungan BBLR preterm dengan kejadian


sindrom distress respirasi pada bayi tidak terdapat hubungan antara
BBLR preterm dengan kejadian sindrom distress respirasi pada bayi.

C. KRITIK JURNAL
1. Substansi
Kelebihan : Jurnal ini sudah mencantumkan substansi dengan
lengkap.
Kekurangan : Tidak ditemukan kekurangan atau pelanggaran etik
pada jurnal ini.

2. Teori
Kelebihan : Dalam pembahasan sudah menyertakan teori-teori yang
Kekurangan : Dalam setiap pembahasan peneliti tidak mencantumkan
teori-teori yang mendukung sehingga menyulitkan untuk mencari
sumber teori.

3. Metodologi
Kelebihan : Sudah dicantumkan dengan jelas jenis, metode, waktu,
populasi , sampel, teknik sampling, instrumen, dan analisis data dalam
penelitian ini
Kekurangan : Tidak ditemukan kekurangan atau pelanggaran etik
pada jurnal ini.
4. Interpretasi
Kelebihan : Penyajian data sudah disertakan tabel dan keterangannya.
Tabel yang dibuat secara terpisah dari masing-masing variabel,
sehingga lebih memudahkan dalam mengetahui hasil.
Kekurangan : Tidak ditemukan kekurangan untuk interpretasi pada
jurnal ini.

5. Etika
Kelebihan : Dalam jurnal ini responden yang diteliti dirahasiakan
identitasnya.
Kekurangan : Tidak ditemukan kekurangan atau pelanggaran etik
pada jurnal ini.

6. Abstrak
Kelebihan :
a) Menurut Hidayat (2014) hal yang harus dicantumkan pada abstrak
yaitu terdapat hasil utama yang telah diperoleh dari penelitian.
Pada jurnal ini telah dicantumkan hasil utama penelitian
b) Menurut Hidayat (2014) hal yang harus dicantumkan pada abstrak
yaitu abstrak dituliskan satu spasi dalam satu paragraf, dengan
menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan menarik.
Pada jurnal ini sudah menuliskan abstrak dengan satu spasi
dalam satu paragraf dan dengan menggunakan kata yang
mudah dimengerti.

Kekurangan :
Menurut Hidayat (2014) hal yang harus dicantumkan pada abstrak
yaitu memaparkan secara ringkas metode penelitian, meliputi desain
penelitian, populasi, sampel, teknik sampling, variabel yang diukur,
teknik pengumpulan data, alat ukur, dan metode analisis data.
Pada jurnal ini hanya mencantumkan metode penelitian, meliputi
desain penelitian dan sampel.
7. Hasil dan Pembahasan
Kelebihan :
a) Menurut Nursalam (2014), salah satu hal yang ada pada bagian
penulisan hasil adalah mencantumkan interpretasi hasil penelitian
Pada jurnal ini sudah mencantumkan hal tersebut.
b) Menurut Nursalam (2014), salah satu hal yang ada pada bagian
penulisan hasil adalah mencantumkan hasil dalam bentuk tabel atau
gambar atau diagram
Pada jurnal ini sudah mencantumkan hal tersebut.
c) Menurut Nursala\m (2014), salah satu hal yang ada pada bagian
penulisan pembahasan adalah literatur atau tinjauan pustaka yang
mendukung.
Pada jurnal ini sudah mencantumkan hal tersebut.
c) Menurut Nursalam (2014), salah satu hal yang ada pada bagian
penulisan pembahasan adalah mencantumkan opini dari peneliti
Pada jurnal ini sudah mencantumkan hal tersebut.

Kekurangan :
Menurut Nursalam (2014), salah satu hal yang ada pada bagian
penulisan hasil adalah mencantumkan gambaran lokasi penelitian
yang meliputi karakteristik tempat penelitian dan karakteristik subjek
penelitian.
Pada jurnal ini tidak memuat hal tersebut.

8. Gaya Penulisan
Kelebihan : Gaya penulisan sudah baik, terdapat keterangan table dan
penjelasnnya masing-masing, dan terdapat daftar pustaka.
Kekurangan : Masih banyak pengetikan kata yang salah dan kurang
serta penggunaan kata yang tidak konsisten.
HUBUNGAN JURNAL DENGAN KASUS YANG TERJADI DI
LAPANGAN

Kasus yang terjadi di lapangan adalah bayi yang mengalami RDS tersebut
memiliki faktor resiko usia kehamilan yang preterm. Hal tersebut sesuai dengan
penelitian Marfuah, dkk (2013) dengan judul Faktor Resiko Kegawatan Nafas
pada Neonatus di RSD. DR. Haryono Kabupaten Lumajang Tahun 2013.
Didapatkan hasil usia kehamilan merupakan faktor resiko yang signifikan pada
kegawatan neonates.
BAB V
KESIMPULAN & SARAN
DAFTAR RUJUKAN

Hermansen C, Lorah K. Respiratory distress in the newborn. Am Fam


Physician. 2007;76:987-94.

Hidayat, A.A., (2014). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik


Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika

Indrasanto, Eriyanti., dkk. 2008. Paket Pelatihan Pelayanan Obsetri Dan


Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).

Kosim. M.S., 2010. Deteksi Dini Dan Manajemen Gangguan Napas Pada
Neonatus Sebagai Aplikasi P O N E K (Pelayanan Obstetri
Neonatal Emergency Komprehensif). Bagian Ilmu Kesehatan Anak
RSUP Dr. Kariadi/ FK UNDIP Semarang

Markum, A.H, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I, Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, 1991, hal. 303-306.

Nursalam, (2014). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi 3.


Jakarta : Salemba Medika

Nur .A ., dkk. 2010. Pemberian Surfaktan Pada Bayi Prematur Dengan


Respiratory Distress Syndrome. Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak
FK. Unair/RSUD Dr. Soetomo

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I,
Editor : Rusepno Hassan & Husein Alatas, Bagian IKA FKUI,
Jakarta 1985, hal.

Surasmi,Asrining,dkk.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta: EGC

Suriadi dan Yuliani, R. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak, edisi 1


Jakarta : CV Sagung Seto
Winarno, dkk, Penatalaksanaan Kegawatan Neonatus, dalam Simposium
Gawat Darurat Neonatus, Unit Kerja Koordinasi Pediatri Darurat
IDAI, Badan Penerbit UNDIP, Semarang, 1991, hal. 151-153.