Anda di halaman 1dari 5

Artritis Gout

a. Diagnosis

Subkomite The American Rheumatism Association menetapkan bahwa kriteria diagnostik


untuk gout adalah:
1. Adanya kristal urat yang khas dalam cairan sendi.
2. Tofi terbukti mengandung kristal urat berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan mikroskopik
dengan sinar terpolarisasi.
3. Diagnosis lain, seperti ditemukan 6 dari beberapa fenomena klinis, laboratoris, dan
radiologis sebagai tercantum dibawah ini:
Lebih dari sekali mengalami serangan arthritis akut.
Terjadi peradangan secara maksimal dalam satu hari.
Serangan artrtis monoartikuler.
Kemerahan di sekitar sendi yang meradang.
Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau membengkak.
Serangan unilateral pada sendi tarsal (jari kaki).
Serangan unilateral pada sendi MTP 1.
Dugaan tophus (deposit besar dan tidak teratur dari natrium urat) di kartilago
artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula sendi.
Hiperurikemia.
Pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja).

Diagnosis pasti dari artritis gout ditentukan hanya dengan membuktikan adanya kristal
asam urat dalam cairan sinovia/bursa atau tophus.

Gout arthritis meliputi 3 stadium:

1. Gout Arthritis Stadium Akut


Radang sendi timbul sangat cepat dalam waktu singkat. Pasien tidur tanpa ada gejala apa-
apa. Pada saat bangun pagi terasa sakit yang hebat dan tidak dapat berjalan. Biasanya
bersifat monoartikuler dengan keluhan utama berupa nyeri, bengkak, terasa hangat, merah
dengan gejala sistemik berupa demam, menggigil dan merasa lelah. Lokasi yang paling
sering pada MTP-1 yang biasanya disebut podagra. Apabila proses penyakit berlanjut,
dapat terkena sendi lain yaitu pergelangan tangan/kaki, lutut, dan siku. Faktor pencetus
serangan akut antara lain berupa trauma lokal, diet tinggi purin, kelelahan fisik, stress,
tindakan operasi, pemakaian obat diuretik dan lain-lain.
2. Stadium Interkritikal
Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut dimana terjadi periode interkritik
asimptomatik. Walaupun secara klinik tidak dapat ditemukan tanda-tanda radang akut,
namun pada aspirasi sendi ditemukan kristal urat.

3. Stadium Gout Arthritis Kronik


Stadium ini umumnya terdapat pada pasien yang mampu mengobati dirinya sendiri (self
medication). Sehingga dalam waktu lama tidak mau berobat secara teratur pada dokter.
Artritis gout menahun biasanya disertai tofi yang banyak dan poliartikular. Tofi ini sering
pecah dan sulit sembuh dengan obat, kadang-kadang dapat timbul infeksi sekunder. Lokasi
tofi yang paling sering pada aurikula, MTP-1, olekranon, tendon achilles dan distal digiti.
Tofi sendiri tidak menimbulkan nyeri, tapi mudah terjadi inflamasi disekitarnya, dan
menyebabkan destruksi yang progresif pada sendi serta dapat menimbulkan deformitas.
Pada stadium ini kadang-kadang disertai batu saluran kemih sampai penyakit ginjal
menahun.

b. Diagnosis Banding

Artritis gout memiliki diagnosis banding seperti artritis septik, psoriasis, calcium
pyrophosphate deposition disease(CPPD), dan artritis rematik. Untuk diagnosis definitif
artritis gout dikonfirmasikan dengan analisis cairan sendi dimana pada penderita artritis
gout mengandung monosodium urat yang negatif birefringent (refraktif ganda) yang juga
ditelan oleh neutrofil (dilihat dengan mikroskop sinar terpolarisasi)

Analisis cairan sinovial dan kultur sangat penting untuk membedakan artritis septik dengan
artritis gout. Artritis gout cenderung tidak simetris dan faktor reumatoid negatif, sedangkan
pada artritis rematik cenderung terjadi simetris dan lebih dari 60% kasus memiliki faktor
reumatoid positif. Hiperurisemia juga sering terjadi pada penderita psoriasis dan adanya lesi
kulit membedakankasus ini dengan artritis gout (Depkes, 2006).

c. Tatalaksana
Secara umum penanganan artritis gout adalah memberikan edukasi, pengaturan diet, istirahat
sendi dan pengobatan.

Edukasi

Edukasi mengenai diet rendah purin penting dilakukan. Diet normal biasanya
mengandung 600-1.000 mg purin per hari. Namun bagi penderita gout, asupan purin
harus dibatasi sekitar 100-150 mg purin per hari. Penderita gout harus menjalani diet
rendah protein karena protein dapat meningkatkan asam urat, terutama protein
hewani. Sangat disarankan untuk membatasi konsumsi lemak karena dapat
menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Batasi makanan yang digoreng,
penggunaan margarin, mentega, dan santan. Ambang batas lemak yang boleh
dikonsumsi adalah 15% dari total kalori/hari dan disarankan untuk banyak minum air
putih, minimal 2.5 liter/hari. Konsumsi cairan yang banyak dapat membantu
mengeluarkan asam urat melalui urin, sedangkan alkohol, tape, dan brem harus
dijauhi karena bahan pangan mengandung alkohol dapat meningkatkan asam laktat
plasma yang dapat menghambat pengeluaran asam urat.

Terapi farmakologi

NSAID
NSAID merupakan terapi lini pertama yang efektif untuk pasien yang mengalami
serangan gout akut. dosis sepenuhnya (full dose) pada 2448 jam pertama atau sampai
rasa nyeri hilang. Indometasin banyak diresepkan untuk serangan akut artritis gout,
dengan dosis awal 75100 mg/hari. Dosis ini kemudian diturunkan setelah 5 hari
bersamaan dengan meredanya gejala serangan akut. Efek samping indometasin antara
lain pusing dan gangguan saluran cerna, efek ini akan sembuh pada saat dosis obat
diturunkan.
NSAID lain yang umum digunakan untuk mengatasi episode gout akut adalah:
Naproxen awal 750 mg, kemudian 250 mg 3 kali/hari
Piroxicam awal 40 mg, kemudian 1020 mg/hari
Diclofenac awal 100 mg, kemudian 50 mg 3 kali/hari selama 48 jam, kemudian 50 mg
dua kali/hari selama 8 hari.

Colchicine
Merupakan terapi spesifik dan efektif untuk serangan gout akut. Namun, dibanding
NSAID kurang populer karena mula kerjanya (onset) lebih lambat dan efek samping lebih
sering dijumpai.

Agar efektif, kolkisin oral harus diberikan sesegera mungkin pada saat gejala timbul
karena pada perkembangan gejala berikutnya colchicinekurang efektif. Biasanya, dosis
awal 1 mg yang kemudian diikuti dengan 0.5 mg setiap 23 jam selama serangan akut
sampai nyeri sendi mereda, pasien mengalami efek samping gastrointestinal atau jika
dosis maksimum 6 mg telah diberikan.

Untuk menghindari efek toksik, pemberian colchicine tidak boleh diulang dalam 3 hari
jika sebelumnya telah digunakan. Efek samping colchicine per oral adalah mual dan
muntah, diare dan nyeri abdomen yang terjadi pada 80% pasien.

Steroid
Strategi alternatif selain NSAID dan kolkisin adalah pemberian steroid intraartikular.
Cara ini dapat meredakan serangan dengan cepat ketika hanya 1 atau 2 sendi yang
terkena. Namun, harus dipertimbangkan dengan cermat diferensial diagnosis antara
arthritis sepsis dan gout akut karena pemberian steroid intraartikular akan
memperburuk infeksi. Pada beberapa pasien, misalnya yang mengalami serangan yang
berat atau poliartikular atau pasien dengan penyakit ginjal atau gagal jantung yang tidak
dapat menggunakan NSAID dan kolkisin, dapat diberi prednisolon awal 2040 mg/hari.
Obat ini memerlukan 12 jam untuk dapat bekerja dan durasi terapi yang dianjurkan
adalah 13 minggu. Alternatif lain, metilprednisolon intravena 50150 mg/hari atau
triamsinolon intramuskular 40100 mg/hari dan diturunkan (tapering) dalam 5 hari.

Allopurinol
Obat hipourisemik pilihan untuk gout kronik adalah allopurinol. Selain mengontrol
gejala, obat ini juga melindungi fungsi ginjal. Allopurinol menurunkan produksi asam
urat dengan cara menghambat enzim xantin oksidase. Pada pasien dengan fungsi ginjal
normal dosis awal allopurinol tidak boleh melebihi 300 mg/24 jam. Pada praktisnya,
kebanyakan pasien mulai dengan dosis 100 mg/hari dan dosis dititrasi sesuai kebutuhan.
Dosis pemeliharaan umumnya 100600 mg/hari dan dosis 300 mg/hari menurunkan urat
serum menjadi normal pada 85% pasien. Respon terhadap allopurinol dapat dilihat
sebagai penurunan kadar urat dalam serum pada 2 hari setelah terapi dimulai dan
maksimum setelah 710 hari. Kadar urat dalam serum harus dicek setelah 23 minggu
penggunaan allopurinol untuk meyakinkan turunnya kadar urat.

d. Komplikasi
Bila Diobati, Artritis Gout jarang menimbulkan ancaman kesehatan jangka panjang. Bila
tidak diobati, asam urat bisa berkembang menjadi gangguan kronis menyakitkan dan
melumpuhkan. Serangan gout kronis dapat merusak tulang rawan dan tulang,
menyebabkan disfungsi sendi ireversibel dan cacat.
Jika gout tidak diobati, tophi (gumpalan kristal urat) dapat tumbuh sampai berukuran
sebesar bola golf dan menyebabkan berbagai masalah pada sendi dan organ. Batu ginjal
terjadi pada 10-40 persen pasien gout dan sekitar 25 persen dari mereka dengan
hyperuricemia kronis mengembangkan penyakit ginjal, yang kadang-kadang berujung pada
gagal ginjal.

e. Prognosis
Rata rata, setelah serangan awal, diramalkan 62 % yang tidak diobat akan mendapat
serangan ke 2 dalam 1 tahun, 78 % dalam 2 tahun, 89 % dalam 5 tahun serta 93 % dalam 10
tahun. Seiring perjalanan waktu, pasien yang tidak diobati dengan serangan berulang akan
mempunyai periode interkritikal yang lebih pendek, meningkatnya jumlah sendi yang
terserang, dan meningkatkan disability. Diperkirakan 10-20 % pasien dengan pengendalian
yang jelek atau tidak diobati akan mengalami perkembangan tofi dan 29 % nefrolitiasis
pada kurang lebih 11 tahun setelah serangan awal.