Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ASUHAN PENYULUHAN (SAP)

KANKER PAYUDARA DAN CARA PERIKSA PAYUDARA SENDIRI (SADARI)

DI DESA KEBEN KECAMATAN TURI KABUPATEN LAMONGAN

OLEH :

MAHASISWA PROFESI NERS


KEPERAWATAN KOMUNITAS DESA KEBEN

PRAKTEK KOMUNITAS DAN KELUARGA


PROGRAM PROFESI NERS SI KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN

2017

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


Topik : Kanker Payudara dan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
Hari/tanggal : April 2017
Waktu : Jam 18.00 sampai selesai
Tempat : Rumah Warga Desa Keben

1. Tujuan
1.1. Tujuan Umum
Setelah diadakan penyuluhan kesehatan di desa Keben diharapkan masyarakat dalam
mengetahui tentang penyakit kanker payudara dan cara periksa payudara sendiri sehingga
dapat mengenali gelaja sedini mungkin.
1.2. Tujuan Khusus
a. Setelah diadakan penyuluhan masyarakat memahami pengertian kanker payudara.
b. Setelah diadakan penyuluhan masyarakat memahami factor-factor yang menyebabkan
kanker payudara.
c. Setelah diadakan penyuluhan masyarakat memahami gejala apa saja yang timbul
pada kanker payudara itu.
d. Setelah diadakan penyuluhan masyarakat bisa memahami pencegahan sendiri kanker
payudara.
e. Setelah diadakan penyuluhan masyarakat memahami pemeriksaan sendiri terhadap
payudara mereka.
2. Sasaran
Sasaran penyuluhan kesehatan ini adalah masyarakat desa Keben kecamatan Turi
kabupaten Lamongan.
3. Materi
Terlampir

4. Metode
a. Ceramah
b. Tanya jawab
5. Media
a. Lembar balik
b. Leaflet
6. Pelaksanaan dan Kontrak Waktu Penyuluhan
Tahap
NO Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta Waktu
Kegiatan
1 Pembukaan Mengucapkan Salam Menjawab salam 5 menit
Memperkenalkan diri Mendengarkan dan
Menyampaikan maksud dan tujuan
penyuluhan. Memperhatikan
Penyampaian materi penyuluhan: Menyimak dan15 menit
1. Definisi dari kankermendengarkan,
payudara. Memperhatikan
2. Factor-faktor penyebab
kanker payudara.
3. Gejala apa saja yang timbul
pada kanker payudara.
4. Strategi pencegahan pada
2 Isi kanker payudara.
5. Pemeriksaan sendiri
payudara.
Demonstrasi :
Cara pemeriksaan payudara
sendiri.

Penyaji memberikan kesempatan Peserta mengajukan10 menit


peserta untuk bertanya. pertanyaan.
Menjawab pertanyaan dari peserta.
Melakukan evaluasi dengan Menyimak
memberikan beberapa pertanyaan
3 Penutup kepada peserta. Mendengarkan dan
Menyimpulkan hasil darimemperhatikan
penyuluhan. Menjawab pertanyaan.
Menutup sesi acara dengan Menyimak
mengucapkan salam
Mejawab salam
7. Kriteria Evaluasi
7.1. Evaluasi Struktur
a. Penyelenggaraan penyuluhan kesehatan mengenai kanker payudara dan cara sadari
dilakukan di rumah warga desa Keben
b. Pelaksanaan penyuluhan kanker payudara dan cara sadari sudah dirundingkan dengan
rekan mahasiswa.
c. Peserta hadir tepat waktu di tempat pelaksanaan penyuluhan kesehatan .
d. Penyaji menguasai materi.
e. Penyaji mampu melakukan komunikasi dua arah.
7.2. Evaluasi Proses
a. Peralatan penyuluhan telah dipersiapkan sebelum acara dimulai.
b. Peserta aktif bertanya dan penyaji menjawab pertayaan dengan benar.
c. Tidak ada peserta yang meninggalkan penyuluahan kesehatan tanpa alasan yang tidak
jelas.
7.3. Evaluasi Hasil
Setelah penyuluhan diharapkan sekitar 80% peserta penyuluhan mampu mengerti dan
memahami penyuluhan yang diberikan sesuai dengan tujuan khusus.

a. Mengetahui definisi dari kanker payudara.


b. Factor-faktor penyebab kanker payudara.
c. Gejala apa saja yang timbul pada kanker payudara.
d. Strategi pencegahan pada kanker payudara.
e. Pemeriksaan sendiri payudara.
8. Pengorganisasian
Kondisional

Materi Penyuluhan
1. Definisi Kanker Payudara
Kanker payudara adalah kanker pada jaringan payudara. Ini adalah jenis kanker paling
umum yang diderita kaum wanita. Kaum pria juga dapat terserang kanker payudara,
walaupun kemungkinannya lebih kecil dari 1 di antara 1000. Pengobatan yang paling lazim
adalah dengan pembedahan dan jika perlu dilanjutkan dengan kemoterapi maupun radiasi.
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan
mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak
terkendali. Selain itu, kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu
penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh Word Health
Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD)
dengan kode nomor 17.
2. Faktor-Faktor Penyebab
2.1. Faktor risiko
Menurut Moningkey dan Kodim, penyebab spesifik kanker payudara masih belum
diketahui, tetapi terdapat banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap
terjadinya kanker payudara diantaranya:
1) Faktor Reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker payudara
adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan
kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya
umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan
pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara. Secara anatomi dan
fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur. Kurang dari 25%
kanker payudara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diperkirakan awal
terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan klinis.
2) Penggunaan Hormon
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan dari Harvard
School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker payudara yang
signifikan pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu metaanalisis menyatakan
bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral,
wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi untuk
mengalami kanker payudara sebelum menopause. Sel-sel yang sensitive terhadap rangsangan
hormonal mungkin mengalami perubahan degenerasi jinak atau menjadi ganas.
3) Penyakit Fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada peningkatan risiko
terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5
sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.
4) Obesitas
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker
payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di negara-
negara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.
5) Konsumsi Lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara.
Willet dkk. melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi lemak dan serat
dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34 sampai 59 tahun.
6) Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan terjadinya
risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa risiko
kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.
2.2. Riwayat keluarga dan faktor genetik:
Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat penderita yang akan
dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat peningkatan risiko keganasan pada
wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa
kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen
kerentanan terhadap kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar
60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun. Faktor Usia sangat
berpengaruh -> sekitar 60% kanker payudara terjadi di usia 60 tahun. Resiko terbesar usia 75
tahun.
Faktor Genetik
Kanker peyudara dapat terjadi karena adanya beberapa faktor genetik yang diturunkan
dari orangtua kepada anaknya. Faktor genetik yang dimaksud adalah adanya mutasi pada
beberapa gen yang berperan penting dalam pembentukan kanker payudara gen yang
dimaksud adalah beberapa gen yang bersifat onkogen dan gen yang bersifat mensupresi
tumor.
Gen pensupresi tumor yang berperan penting dalam pembentukan kanker payudara
diantaranya adalah gen BRCA1 dan gen BRCA2.
2.3. Faktor Terkait Gaya Hidup & Resiko Kanker Payudara.
1) Tidak Memiliki Anak Atau Hamil Diusia Tua
Wanita yang tidak memiliki anak atau memiliki anak pertama diatas usia 30 tahun
memiliki resiko terkena kanker payudara sedikit lebih tinggi daripada yang bukan. Sering
hamil pada usia muda, menurunkan resiko terkena kanker payudara. Mengapa ? Karena
kehamilan menurunkan jumlah total siklus menstruasi wanita dalam hidupnya, inilah
alasannya.
2) Pengunaan Pil KB
Studi menemukan bahwa wanita yang menggunakan pil KB dalam jangka panjang
memiliki resiko agak lebih besar terkena kanker payudara daripada yang bukan. Resiko ini
kelihatannya menurun ke normal ketika penggunaan Pil KB tersebut dihentikan.
3) Menggunakan Terapi Hormon pasca Menopause
Terapi hormon pasca menopause (PHT) atau dikenal sebagai terapi pengganti
hormone (HRT) dan terapi hormone menopause(MHT), telah banyak digunakan dalam kurun
waktu lama untuk membantu meringankan gejala menopause dan mencegah timbulnya
osteoporosis.
Pada dasarnya ada 2 jenis utama terapi hormone:
Untuk wanita yang masih memiliki rahim, biasanya dokter meresepkan hormone
estrogen dan progresteron (PHT). Untuk yang sudah diangkat rahimnya, dokter meresepkan
hanya estrogen (ERT).
Penggunaan kombinasi hormone (PHT) diatas dapat meningkatkan resiko terkena kanker
payudara maupun resiko kematian akibat kanker payudara tersebut. Peningkatan resiko ini
dapat terjadi secepat 2 tahun sesudah penggunaan terapi hormone tersebut. Selain itu,
biasanya kanker payudara ini juga cenderung ditemukan pada stadium lanjut.
Penggunaan terapi estrogen sendiri agaknya tidak meningkatkan resiko terkena kanker
payudara secara signifikan (bila digunakan dalam jangka pendek), tetapi penggunaan dalam
jangka panjang (diatas 10 tahun), ditemukan dapat meningkatkan resiko terkena kanker
ovarium dan payudara. replacement therapy is the same for "bioidentical" and "natural"
hormones as it is for synthetic hormones.
4) Tidak Menyusui Anak
Beberapa studi menemukan bahwa menyusui anak dalam jangka panjang (1.5-2 tahun),
terutama dapat agak menurunkan resiko terkena kanker payudara. Penjelasan yang mungkin
adalah karena menyusui menurunkan jumlah total siklus menstruasi wanita.

5) Alkohol
Penggunaan minuman berallohol amat jelas terkait dengan meningkatnya resiko terkena
kanker payudara. Resiko semakin meningkat dengan jumlah allohol yang dikonsumsi. Wanita
yang minum 2 hingga 5 gelas minuman beralkohol setiap harinya memiliki resiko 1.5 kali
lipat lebih tinggi daripada yang bukan. Penggunaan alkohol secara berlebihan juga dapat
meningkatkan resiko terkena kanker mulut, kerongkongan, esophagus dan liver. Minuman
beralkohol yang disarankan hanya 1 gelas saja sehari.
6) Kurangnya Aktivitas Fisik
Berolahraga dapat mengurangi resiko kanker payudara. Pertanyaannya adalah berapa
banyak latihan yang diperlukan ? Dalam sebuah penelitian dari Women's Health Initiative
(WHI), sedikitnya jalan cepat 1.25 -2.5 jam per minggu dapat mengurangi 18% resiko
terkena kanker payudara. Berjalan 10 jam seminggu dapat mengurangi lebih sedikit lagi
resiko tersebut. Olahraga fisik yang disarankan adalah selama 45-60 menit, minimum 5 hari
dalam seminggu.
3. Tanda Umum Kanker Payudara
Tanda paling umum kanker payudara adalah benjolan atau massa baru. Benjolan yang
tidak menyakitkan, keras, dan memiliki batas tepi tidak merata lebih cenderung kanker.
Tetapi beberapa kanker lunak, lembut, dan bulat. Jadi, penting untuk segera memeriksakan
diri ke dokter bila Anda menemukan sesuatu gejala yang tidak biasa di payudara Anda.
Tanda-tanda lain dari kanker payudara adalah sebagai berikut:
a. Bengkak pada seluruh atau sebagian payudara
b. Kulit iritasi
c. Payudara terasa nyeri
d. Puting susu nyeri atau putting melesak ke dalam
e. Kulit pada payudara atau putting susu berwarna : kemerahan, kulit bersisik, atau
menebal
f. Keluarnya cairan/darah dari puting (selain ASI)
Kadang-kadang kanker payudara dapat menyebar ke kelenjar getah bening di bawah
lengan dan menyebabkan benjolan atau pembengkakan di daerah ketiak, bahkan sebelum
tumor/benjolan pada payudara jelas terlihat/teraba.

4. GEJALA KLINIS
Gejala klinis kanker payudara dapat berupa:
1) Benjolan Pada Payudara
Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan itu mula-mula
kecil, semakin lama akan semakin besar, lalu melekat pada kulit atau menimbulkan
perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu.
2) Erosi Atau Eksema Puting Susu
Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda
atau kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk
(peau d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara.
Borok itu semakin lama akan semakin besar dan mendalam sehingga dapat
menghancurkan seluruh payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah.
3) Keluarnya Cairan (Nipple discharge)
Nipple discharge adalah keluarnya cairan dari puting susu secara spontan dan tidak
normal. Cairan yang keluar disebut normal apabila terjadi pada wanita yang hamil,
menyusui dan pemakai pil kontrasepsi. Seorang wanita harus waspada apabila dari puting
susu keluar cairan berdarah cairan encer dengan warna merah atau coklat, keluar sendiri
tanpa harus memijit puting susu, berlangsung terus menerus, hanya pada satu payudara
(unilateral), dan cairan selain air susu.
5. STRATEGI PENCEGAHAN
Pada prinsipnya, strategi pencegahan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu
pencegahan pada lingkungan, pada pejamu, dan milestone. Hampir setiap epidemiolog
sepakat bahwa pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit tidak menular adalah
promosi kesehatan dan deteksi dini. Begitu pula pada kanker payudara, pencegahan yang
dilakukan antara lain berupa:
5.1. Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi
kesehatan karena dilakukan pada orang yang "sehat" melalui upaya menghindarkan diri dari
keterpaparan pada berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat. Pencagahan
primer ini juga bisa berupa pemeriksaan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) yang
dilakukan secara rutin sehingga bisa memperkecil faktor risiko terkena kanker payudara ini.
5.2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena
kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal merupakan
populasi at risk dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan
deteksi dini. Beberapa metode deteksi dini terus mengalami perkembangan. Skrining melalui
mammografi diklaim memiliki akurasi 90% dari semua penderita kanker payudara, tetapi
keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada wanita yang sehat merupakan salah satu
faktor risiko terjadinya kanker payudara.
Karena itu, skrining dengan mammografi tetap dapat dilaksanakan dengan beberapa
pertimbangan antara lain:
a. Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer risk
assessement survey.
b. Pada wanita dengan faktor risiko mendapat rujukan untuk dilakukan mammografi
setiap tahun.
c. Wanita normal mendapat rujukan mammografi setiap 2 tahun sampai mencapai usia
50 tahun.
5.3. Pencegahan tersier
Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita kanker
payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya akan
dapat mengurangi kecatatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tertier
ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit
dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa operasi walaupun tidak
berpengaruh banyak terhadap ketahanan hidup penderita. Bila kanker telah jauh
bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi dengan sitostatika. Pada stadium tertentu,
pengobatan yang diberikan hanya berupa simptomatik dan dianjurkan untuk mencari
pengobatan alternatif.

6. Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari)


Pada wanita normal, wanita yang berusia diatas umur 20 tahun amat disarankan untuk
melakukan SADARI setiap tiga bulan.
Berikut ini adalah langkah-langkah dalam melakukan SADARI:
Langkah 1: Mulai dengan melihat payudara anda di cermin dengan posisi pundak
tegap dan kedua tangan di pinggang.
Anda harus melihat:

a. payudara, dari ukuran, bentuk, dan warna yang biasa anda ketahui.
b. payudara denganbentuk sempurna tanpa perubahan bentuk dan pembengkakan.

Jika anda melihat perubahan berikut ini, segera anda ke dokter untuk berkonsultasi :

a. kulit mengkerut, terjadi lipatan, ada tonjolan.


b. puting berubah posisi biasanya seperti tertarik ke dalam.

c. Kemerahan, nyeri, ruam-ruam, atau bengkak.

Langkah 2: Sekarang, angkat tangan anda dan amati jika ada perubahan-perubahan
yang telah disebut pada langkah pertama.
Langkah 3: Saat anda bercermin, anda cermati apakah ada cairan yang keluar dari
kedua putting (baik itu cairan bening, seperti susu, berwarna kuning, atau bercampur darah).
Langkah 4: Berikutnya, rasakan payudara anda dengan cara berbaring. Gunakan
pijatan pelan namun mantap (tapi bukan keras) dengan tiga ujung anda (telunjuk, tengah, dan
manis). Jaga posisi ujung jari datar terhadap permukaan payudara. Gunakan gerakan
memutar, Pijat seluruh payudara anda dari atas sampai bawah, kiri kanan, dari tulang pundak
sampai bagian atas perut dan dari ketiak sampai belahan payudara. Anda juga dapat membuat
gerak naik turun. Gunakan pijatan ringan untuk kulit dan jaringan tepat dibawah kulit, pijatan
sedang untuk bagian tengah payudara, dan pijatan kuat untuk jaringan bagian dalam. Saat
anda mencapai jaringan bagian dalam, anda harus dapat merasakan tulang iga anda.
DAFTAR PUSTAKA

Lincoln Jackie,wilensky.2008. kanker payudara dan diagnosanya.jakarta : PT. Prestasi


Pusakarya.