Anda di halaman 1dari 33

REFERAT

FRAKTUR OS. NASAL

Pembimbing :
dr. Yozyta Rachman, Sp.THT

Disusun oleh:

Argia Anjani

NPM 110 2013 041

KEPANITERAAN KLINIK ILMU TELINGA, HIDUNG, TENGGOROKAN


RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK.I R. SAID SUKANTO
PERIODE 7 AGUSTUS 8 SEPTEMBER 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
BAB I
PENDAHULUAN

Hidung merupakan bagian penting pembentuk wajah manusia. Letaknya yang menonjol,
hidung yang berupa kerangka yang halus menjadi rentan dan sering mengalami fraktur dan
trauma jaringan lunak.
Fraktur nasal adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh trauma yang ditandai dengan
patahnya tulang hidung baik sederhana maupun kominunitiva. Fraktur nasal pada anak-anak
sering disebabkan karena bermain dan olahraga, sedangkan pada usia dewasa dijumpai pada
kasus kelahi, trauma akibat olahraga, jatuh dan kecelakaan lalu lintas.
Fraktur nasal disebabkan oleh trauma dengan kecepatan rendah, dan jika disebabkan oleh
trauma kecepatan tinggi biasanya berhubungan dengan fraktur wajah: Le Fort tipe 1 dan 2.
Cedera nasal juga berhubungan dengan cedera leher atau kepala.
Fraktur nasal dapat ditemukan dan berhubungan dengan fraktur tulang wajah yang lain.
Oleh karena itu fraktur nasal sering tidak terdiagnosa dan tidak mendapat penanganan karena
pada beberapa pasien sering tidak menunjukan gejala klinis. Lokasi hidung di tengah dan
kedudukan dibagian anterior wajah merupakan salah satu faktor predisposisi yang menyebabkan
terjadinya fraktur jika terdapat trauma pada wajah. Tipe fraktur nasal tergantung pada arah
pukulan yang mengenai hidung. Fraktur lateral biasanya merupakan fraktur nasal tertutup yang
mencapai tulang frontalis dan maksilaris. Fraktur nasal sering menyebabkan deformitas septum
nasal karena adanya pergeseran septum dan fraktur septum.
Fraktur dapat diklasifikasikan sebagai fraktur terbuka atau tertutup, tergantung pada
integritas mukosa. Identidikasi awal dan penanganan cedera di awal periode juga penting untuk
menghindari komplikasi potensial dari patah tulang dan septum hidung. Dengan memastikan
tidak adanya hematom penting untuk menghindari kerusakan lebih lanjut serta menghindari
komplikasi antara lain kompresi jaringan serta infeksi yang berbahaya. Selain itu, penting untuk
ahli bedah menilai gejala sisa pada awal dan akhir dari luka untuk terapi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomi Hidung

Hidung adalah organ sederhana yang sebenarnya berfungsi sangat vital dalam kehidupan
kita.Selain sebagai indera penghidu, hidung juga ternyata berguna sebagai saringan (filter)
terhadap debu yang masuk bersama udara yang kita hirup. Hidung juga menjadi air conditioning
sistem dengan cara menghangatkan atau melembabkan udara yang masuk ke tubuh kita 1
Hidung merupakan bagian wajah yang paling sering mengalami trauma karena
merupakan bagian yang berada paling depan dari wajah dan paling menonjol. Hidung secara
anatomi dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Hidung bagian luar (Nasus eksterna)
2. Rongga hidung (Nasus interna atau kavum nasi) 7

1.1 Hidung Bagian Luar (Nasus Eksterna)

Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah :

1) Pangkal hidung (bridge)

2) Batang hidung (dorsum nasi)

3) Puncak hidung (tip)

4) Ala nasi

5) Kolumela

6) Lubang hidung (nares anterior)

3
Gambar 1 Anatomi hidung bagian luar Gambar 2 Anatomi hidung

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi melebarkan atau menyempitkan lubang
hidung 7
Kerangka tulang terdiri dari :
Tulang hidung ( os nasalis)
Prosesus frontalis os maksila
Prosesus nasalis os frontal
Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di
bagian bawah hidung, yaitu :
Sepasang kartilago nasalis lateralis superior
Sepasang kartilago nasalis inferior yang disebut sebagai kartilago ala mayor
Tepi anterior kartilago septum

4
Gambar 3. Anatomi hidung bagian luar

1.2 Rongga Hidung (Nasus Interna/ Kavum Nasi)

Rongga hidung dibagi dua bagian, kanan dan kiri di garis median oleh septum nasi yang
sekaligus menjadi dinding medial rongga hidung. Kerangka septum dibentuk oleh :
a. Lamina perpendikularis tulang etmoid (superior)
b. Kartilago kuadrangularis (anterior)
c. Tulang vomer (posterior)
d. Krista maksila dan Krista palatina (bawah) yang menghubungkan septum dengan dasar
rongga hidung.3,7

Dibagian anterior septum nasi terdapat bagian yang disebut Area Little, merupakan
anyaman pembuluh darah yaitu Pleksus Kiesselbach. Tempat ini mudah terkena trauma dan
menyebabkan epistakis. Di bagian antrokaudal, septum nasi mudah digerakkan. 3,7
Ke arah belakang rongga hidung berhubungan dengan nasofaring melalui sepasang
lubang yang disebut koana berbentuk bulat lonjong (oval), sedangkan ke arah depan rongga
hidung berhubungan dengan dunia luar melalui nare. 3,7
Atap rongga hidung berbentuk kurang lebih menyerupai busur yang sebagian besar
dibentuk oleh lamina kribosa tulang etmoid. Disebelah anterior, bagian ini dibentuk oleh tulang
frontal dan sebelah posterior oleh tulang sfenoid. 3,7
Melalui lamina kribosa keluar ujung-ujung saraf olfaktoria menuju mukosa yang melapisi
bagian teratas dari septum nasi dan permukaan kranial dari konka nasi superior. Bagian ini
disebut regio olfaktoria. 3,7
Dinding lateral rongga hidung dibentuk oleh konka nasi dan meatus nasi. Konka nasi
merupakan tonjolan-tonjolan yang memanjang dari anterior ke posterior dan mempunyai rangka

5
tulang. Meatus nasi terletak di bawah masing-masing konka nasi dan merupakan bagian dari
hidung. 3,7

Konka Nasi
Di dalam kavum nasi terdapat tiga pasang konka nasi, yaitu konka nasi inferior, konka
nasi medius, dan konka nasi superior. Konka nasi inferior merupakan konka yang terbesar
diantara ketiga konka nasi. Mukosa yang melapisinya tebal dan mengandung banyak pleksus
vena dan membentuk jaringan kavernosus. Rangka tulangnya melekat pada tulang palatina,
etmoid, maksila, dan lakrimal. 3,7
Konka nasi media adalah yang kedua setelah konka nasi inferior. Terletak diantara konka
inferior dan konka superior. Mukosa yang melapisinya sama dengan yang melapisi konka nasi
inferior. Rangka tulangnya merupakan bagian dari tulang etmoid. Kadang-kadang di dalam
konka media terdapat sel sehingga konka menjadi besar dan menutup meatus nasi media yang
disebut konka bulosa. 3,7
Konka nasi superior merupakan konka konka yang paling kecil. Mukosa yang
melapisinya jauh lebih tipis dari kedua konka lainnya.Rangka tulangnya juga merupakan
bagian dari tulang etmoid. Kadang-kadang didapatkan konka nasi suprema yang merupakan
konka nasi yang keempat.Jika ada, konka suprema ini sangat kecil dan sebenarnya merupakan
bagian dari konka superior yang membelah menjadi dua bagian. 3,7

Meatus Nasi
Meatus nasi inferior merupakan celah yang terdapat dibawah konka inferior.Dekat
ujungnya terdapat ostium (muara) duktus nasolakrimalis. Muara ini seringkali dilindungi oleh
lipatan mukosa yang disebut katup dari Hasner (Plika lakrimalis Hasner). 3,7
Meatus nasi media terletak diantara konka inferior dan konka media. Ostium sinus
merupakan lubang penghubung sinus paranasal dan kavum nasi, berfungsi sebagai ventilasi
dari sinus paranasal sebagian terletak di meatus media. 3,7
Sinus frontal bermuara di bagian anterior, sedangkan muara dari sinus maksila terdapat
kira-kira di bagian tengah, tempat muara dari sinus etmoid anterior. Struktur-struktur yang
ada di dalam meatus nasi media disebut kompleks ostiomeatal.Kompleks ini penting artinya
secara klinis dalam menimbulkan gangguan drainase sinus paranasal. Kelainan dalam
kompleks ini akan mempengaruhi potensi ostium sinus sehingga berperan besar dalam
patofisiologi sinus paranasal.7

6
Meatus nasi superior terletak diantara konka media dan konka superior dan merupakan
meatus yang terkecil.Disinalah bermuara sinus etmoid posterior. Resesus sfeno-etmoid
terdapat pada dinding lateral rongga hidung diantara atap rongga hidung dan konka nasi
superior. Di sini terdapat muara sinus sphenoid. 3,7

Sinus Paranasal
Di sekitar rongga hidung terdapat rongga-rongga yang terletak di dalam tulang yang
disebut sinus paranasal. Terdapat empat sinus paranasal, yaitu sinus maksila kanan dan kiri,
sinus frontal kanan dan kiri, sinus etmoid kanan dan kiri serta sinus sfenoid kanan dan kiri.3
Sinus maksila disebut juga Antrum Higmori atau lebih sering disebut antrum saja.
Rongga sinus paranasal berhubungan dengan rongga hidung melalui suatu lubang yang
disebut ostium. Selula etmoid dikelompokan menjadi selula etmoid anterior dan selula etmoid
posterior. Salah satu sel etmoid paling besar dan terletak paling medial disebut ostium.Sinus
maksila dan selula etmoid sudah terbentuk sejak lahir dalam ukuran kecil dan bertambah
besar sampai ukuran maksimal pada dewasa.Sinus frontal merupakan ekstensi dari selula
etmoid anterior dan mencapai pertumbuhan penuh antara umur 8 sampai 15
tahun.Pertumbuhan sinus frontal kanan dan kiri besarnya sering tidak simetris dan pada
sekitar 5% populasi, sinus frontal hanya tumbuh pada satu sisi. 3,7

Mukosa Rongga Hidung


Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histiologik dan fungsional dibagi atas
mukosa pernapasan (mukosa respiratori) dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius). Mukosa
pernapasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaanya dilapisi oleh epitel
torak berlapis semu yang mempunyai silia (ciliated pseudostratified collumner epithelium)
dan diantaranya terdapat sel-sel goblet.1 Sel goblet yang menghasilkan lendir, lendir ini
mempunyai pH 6,5 dan mengandung lisozim yang mempunyai efek antiseptik. Tiap sel
mukosa rongga hidung mempunyai silia yang jumlahnya dapat mencapai 25 sampai 100
buah.Silia bergerak sekitar 250 gerakan permenit.Pergerakan ini dipengaruhi oleh suhu,
kelembaban dan paparan zat anestetik atau gas. Gerakan silia akan mendorong selimut lendir
diatasnya ke belakang dengan kecepatan 5-10 mm permenit.3,7
Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga atas
septum.Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu tidak bersilia (pseudostratified
collumner non ciliated epithelium).Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel

7
penunjang, sel basal, dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat
kekuningan.1
Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukoasanya lebih tebal dan kadang-kadang
terjadi metaplasia, menjadi sel epitel skuamosa.Dalam keadaan normal mukosa respiratori
berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket)
pada permukaanya.Di bawah epitel terdapat tunika propria yang banyak mengandung pebuluh
darah, kelenjar mukosa, dan jaringan limfoid.
Rongga hidung seluruhnya dilapisi oleh mukosa, kecuali nares dan vestibulum nasi
dilapisi oleh kulit tempat tumbuh rambut yang disebut vibrissea.1

Gambar 4 Rongga Hidung 10

1.3 Vaskularisasi Hidung


Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a.etmoid anterior dan posterior
yang merupakan cabang dari a.oftalmika dari a.karotis interna.
Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksilaris interna, di
antaranya ialah ujung palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen
sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung
posterior konka media.8
Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian
depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina. a.etmoid anterior,
a.labialis superior dan a.palatine mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (Littles area).1
Pleksus Kiesselbach letaknya superficial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering

8
menjadi sumber epistaksis (pendarahan hidung), terutama pada anak. Vena-vena hidung
mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di
vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus
kavernosus. Vena-vena hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan factor predisposisi
untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intracranial.1,8

Gambar 5 Vaskularisasi hidung

1.4 Persarafan Hidung


Bagian depan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior,
yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus (N.V-1). Rongga
hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion
sfenopalatina. Ganglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan sensoris, juga
memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung.1,8
Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila (N.V-2), serabut
parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut- serabut simpatis dari n.petrousus
profundus. Ganglion sfenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior
konka media.8
Fungsi penghidu berasal dari n.olfaktorius. N.Olfaktorius turun melalui lamina kribosa
dari permukaan bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada
mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.8

2. Fisiologi Hidung
2.1 Mekanisme Respirasi Hidung
Hidung merupakan jalur alami udara untuk bernafas. Pernapasan mulut diperoleh
melalui pembelajaran. Selama berlangsung proses respirasi, udara inspirasi masuk ke hidung
menuju sistem respirasi bawah melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media

9
dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring. Aliran udara di hidung ini berbentuk
lengkungan atau arkus. Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh palut lendir.
Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, sehingga terjadi sedikit penguapan
udara inspirasi oleh palut lendir, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
Selama ekspirasi, udara mengikuti jalur yang sama seperti saat inspirasi, tetapi seluruh arus
udara tidak dikeluarkan secara langsung melalui nares anterior, melainkan terjadi gesekan
udara ekspirasi di cavum nasi yang mengubahnya menjadi pusaran di sekitar konka media
dan konka inferior dan hal ini dapat mengakibatkan terjadinya pertukaran udara pada sinus
paranasalis. 1,2,4

Gambar 6. Fisiologi aliran udara respirasi dalam hidung : (A) Inspirasi. (B) Ekspirasi.

Suhu udara yang melalui hidung diatur sehingga berkisar 37C. Fungsi pengatur suhu ini
dimungkinkan oleh banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan
konka dan septum yang luas. Ujung anterior konka inferior yang merupakan organ erektil
mengalami pembengkakan dan penyusutan, sehingga dapat mengatur aliran udara. Ketika
salah satu ruang hidung bekerja, jumlah respirasi yang terjadi di hidung adalah sama dengan
yang terjadi pada kedua ruang hidung. 1,2,4

2.2 Fungsi Hidung


Hidung dan sinus paranasal memiliki fungsi diantaranya :
a) Fungsi Penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indera penghidu dan pengecap dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum.
Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila
menarik napas dengan kuat.Fungsi hidung untuk membantu indra pengecap adalah

10
untuk membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai macam bahan, seperti
perbedaan rasa manis strawberi, jeruk, pisang, atau coklat. Juga untuk membedakan rasa
asam yang berasal dari cuka dan asam jawa.

b) Fungsi Penyaring Udara (Air Filtration)


Hidung dapat disebut juga sebagai "Pengatur Udara" untuk paru-paru. Organ ini
melakukan penyaringan dan memurnikan udara yang terinspirasi sebelum dibagikan
pada paru-paru. Filtrasi dan pemurnian. Rambut hidung (vibrissae) pada liang atau pintu
masuk hidung bertindak sebagai filter untuk menyaring partikel yang lebih besar.
Partikel halus seperti debu, serbuk sari dan bakteri akan menempel pada lembaran lendir
yang tersebar di seluruh permukaan membran mukosa hidung. Bagian depan hidung
dapat menyaring partikel yang berukuran hingga 3 m, sedangkan mukus dapat
menangkap partikel yang berukuran 0,5 - 3 m. Debu dan bakteri yang melekat pada
mukus dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Partikel
yang berukuran lebih kecil dari 0,5 m tampaknya dapat melewati hidung ke saluran
saluran pernafasan bagian bawah tanpa kesulitan.

c) Fungsi Pengaturan Suhu


Pengontrolan suhu udara yang terinspirasi diatur oleh permukaan yang luas dari mukosa
hidung yang secara struktural diadaptasi untuk menjalankan fungsi ini. Lapisan mukosa
ini, khususnya di wilayah konka media dan inferior dan bagian yang berdekatan dengan
septum memiliki vaskularisasi yang sangat banyak dengan sinusoid yang mengontrol
aliran darah, dan ini dapat meningkatkan atau mengurangi ukuran konka. Hal ini
merupakan mekanisme "radiator" yang efisien untuk menghangatkan udara yang dingin.
Udara yang terinspirasi mungkin bersuhu 20 C atau O C atau bahkan di bawah nol,
dapat dipanaskan sampai mendekati suhu tubuh normal (37 C) dalam seperempat detik,
lalu kemudian udara tersebut dapat melewati lubang hidung ke nasofaring. Demikian
pula, udara panas didinginkan sampai mendekati tubuh suhu.

d) Fungsi Humidikasi
Fungsi ini berlangsung secara bersamaan dengan pengontrolan suhu udara yang
terinspirasi. Kelembaban udara atmosfer relatif bervariasi tergantung pada kondisi iklim.
Udara yang kering terdapat pada musim dingin dan lembab di musim panas. Lapisan
mukosa hidung mengatur kelembaban relatif dari udara yang terinspirasi hingga 75%

11
atau lebih. Air yang digunakan untuk melembabkan udara yang terinspirasi, disediakan
oleh sekresi kelenjar selaput lendir hidung yang kaya mukus dan serosa. Sekitar 1000 ml
air diuapkan dari permukaan mukosa hidung dalam 24 jam. Kelembaban sangat penting
untuk integritas dan fungsi epitel silia. Pada 50% kelembaban relatif, fungsi silia
berhenti dalam 8-10 menit. Dengan demikian, udara yang kering dapat menyebabkan
infeksi pada saluran pernapasan. Humidifikasi juga memiliki dampak yang signifikan
terhadap pertukaran gas di saluran pernafasan yang lebih rendah. Pada obstruksi hidung,
pertukaran gas berefek terhadap paru-paru, yang menyebabkan kenaikan pCO2, dan juga
dapat menurunkan pO2 sehingga menyebabkan apneu saat tertidur (sleep apnea).

e) Fungsi Proteksi
Hidung memiliki sistem pertahanan berupa mekanisme mukosiliar, enzim dan
immunoglobulin, serta refleks bersin.
Mekanisme mukosiliar. Mukosa hidung kaya akan sel piala (goblet cell), pada
kelenjar sekresi baik berupa mukus dan serous. Sekresi tersebut membentuk sebuah
lembaran yang kontinu disebut selimut mukus yang menyebar menutupi mukosa
normal. Selimut mukus terdiri dari lapisan lendir (mukus) pada superfisial dan
lapisan serous yang lebih dalam, selimut ini mengambang di atas silia. Bakteri, virus
dan partikel debu yang terinspirasiakan terperangkap pada selimut mukus kental dan
kemudian dibawa ke nasofaring untuk ditelan. Gerakan silia dipengaruhi oleh
pengeringan, obat-obatan (adrenalin), panas atau dingin berlebihan, merokok, infeksi
dan asap berbahaya seperti sulfur dioksida dan karbon dioksida.

Gambar 7. Mekanisme selimut mukus dan serous untuk menangkap dan membawa
partikel debu atau organisme mikroskopis.

Enzim dan imunoglobulin. Sekresi nasal juga mengandung enzim yang disebut
muramidase (lisozim) yang membunuh bakteri dan virus. Imunoglobulin A dan E

12
(IgA dan IgE), dan interferon juga terdapat dalam sekresi hidung dan memberikan
kekebalan terhadap infeksi saluran pernapasan atas.
Bersin. Merupakan salah satu refleks protektif. Partikel asing yang mengiritasi
mukosa hidung dapat dikeluarkan oleh refleks bersin. Tingkat keasaman sekresi
hidung hampir konstan pada pH 7. Silia dan lysozim yang bekerja baik pada pH ini.

f) Fungsi Fonetik
Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi.
Sumbatan hidung kan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar
suara sengau (rinolalia). Hidung membantu proses pembentukan kata-kata. Kata
dibentuk oleh lidah,bibir, dan palatum mole. Pada pembentukan konsonan nasal (m, n,
ng) rongga mulut tertutup dan hidung terbuka, palatum mole turun untuk aliran udara.
g) Refleks Nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna,
kardiovaskular dan pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan reflek bersin
dan napas berhenti. Rangsangan bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur,
lambung, dan pankreas.

3. Fraktur Os. Nasal


3.1 Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar daripada yang
diabsorpsinya. Fraktur tulang hidung adalah setiap retakan atau patah yang terjadi pada
bagian tulang di organ hidung.5

3.2 Etiologi
Penyebab dari fraktur tulang hidung berkaitan dengan trauma langsung pada
hidung atau muka. Pada trauma muka paling sering terjadi fraktur hidung.3
Penyebab utama dari trauma dapat berupa :
Cedera saat olahraga
Akibat perkelahian
Kecelaaan lalu lintas
Terjatuh

13
Masalah kelahiran
Kadang dapat iatrogenik5,6

Dari kausa diatas, yang paling sering adalah terjadi karena mendapat serangan
misalnya dipukul dan kebanyakan pada remaja. Jenis olah raga yang dapat
menyebabkan cedera nasal misalnya sepak bola, khususnya ketika dua pemain
berebut bola diatas kepala, olah raga yang menggunakan raket dan jenis olahraga
lainnya seperti karate atau tinju. Trauma nasal yang disebabkan oleh kecepatan yang
tinggi juga dapat menyebabkan fraktur wajah.

3.3. Patifisiologi

Tulang hidung dan kartilago rentan untuk mengalami fraktur karena hidung
letaknya menonjol dan merupakan bagian sentral dari wajah, sehingga kurang kuat
menghadapi tekanan dari luar. Pola fraktur yang diketahui beragam tergantung pada
kuatnya objek yang menghantam dan kerasnya tulang. Seperti dengan fraktur wajah
yang lain, pasien muda cenderung mengalami fraktur kominunitiva septum nasal
dibandingkan dengan pasien dewasa yang kebanyakan frakturnya lebih kompleks.3
Daerah terlemah dari hidung adalah kerangka kartilago dan pertemuan antara
kartilago lateral bagian atas dengan tulang dan kartilago septum pada krista maksilaris.
Daerah terlemah merupakan tempat yang tersering mengalami fraktur atau dislokasi
pada fraktur nasal.3
Kekuatan yang besar dari berbagai arah akan menyebabkan tulang hidung remuk
yang ditandai dengan deformitas bentuk C pada septum nasal. Deformitas bentuk C
biasanya dimulai di bagian bawah dorsum nasal dan meluas ke posterior dan inferior
sekitar lamina perpendikularis os ethmoid dan berakhir di lengkung anterior pada
kartilago septum kira-kira 1 cm di atas krista maksilaris. Kebanyakan deviasi akibat
fraktur nasal meliputi juga fraktur pada kartilago septum nasal.3,7,12
Fraktur nasal lateral merupakan yang paling sering dijumpai pada fraktur nasal.
Fraktur nasal lateral akan menyebabkan penekanan pada hidung ipsilateral yang
biasanya meliputi setengah tulang hidung bagian bawah, prosesus nasi maksilaris dan
bagian tepi piriformis. Trauma lain yang sering dihubungkan dengan fraktur nasal adalah
fraktur frontalis, ethmoid dan tulang lakrimalis, fraktur nasoorbital ethmoid; fraktur

14
dinding orbita; fraktur lamina kribriformis; fraktur sinus frontalis dan fraktur maksila Le
Fort I, II, dan III.3,7,12

3.4. Klasifikasi
Trauma nasal yang dihasilkan dari suatu pukulan bervariasi tergantung pada :12
o Usia pasien yang sangat berpengaruh pada fleksibilitas jaringan dalam meredam
energi dari pukulan
o Besarnya tenaga pukulan, arah pukulan dimana akan menentukan bagian nasal yang
rusak. Kondisi dari obyek yang menyebabkan trauma nasal dan trauma jaringan lunak
yang umum terjadi meliputi: laserasi, ekimosis, hematom di luar dan di dalam rongga
hidung. Trauma pada kerangka hidung meliputi fraktur (putusnya hubungan, lebih
sering pada usia lanjut), dislokasi (pada anak-anak), dan fraktur dislokasi. Trauma
dislokasi dapat mengenai artikulasi kerangka hidung luar atau pada septum nasi.
o Waktu kejadian

Fraktur tulang hidung terbuka


Fraktur tulang hidung terbuka menyebabkan perubahan tempat dari tulang hidung
tersebut yang juga disertai laserasi pada kulit atau mukoperiosteum rongga hidung.
Kerusakan atau kelainan pada kulit dari hidung diusahakan untuk diperbaiki atau
direkonstruksi pada saat tindakan.1

Fraktur tulang nasoorbitoetmoid kompleks


Jika nasal piramid rusak karena tekanan atau pukulan dengan beban berat akan
menimbulkan fraktur hebat pada tulang hidung, lakrimal, etmoid, maksila dan frontal.
Tulang hidung bersambungan dengan prossesus frontalis os maksila dan prossesus nasalis
os frontal. Bagian dari nasal piramid yang terletak antara dua bola mata akan terdorong
ke belakang. Terjadilah fraktur nasoetmoid, fraktur nasomaksila dan fraktur nasoorbita. 1

Trauma lain yang sering dihubungkan dengan fraktur nasal adalah fraktur frontalis,
ethmoid dan tulang lakrimalis, fraktur nasoorbital ethmoid; fraktur dinding orbita; fraktur
lamina kribriformis; fraktur sinus frontalis dan fraktur maksila Le Fort I, II, dan III.11
Terdapat beberapa jenis fraktur nasal antara lain :12

15
o Fraktur lateral
Adalah kasus yang paling sering terjadi, dimana fraktur hanya terjadi pada salah satu sisi
saja, kerusakan yang ditimbulkan tidak begitu parah.

Gambar 8. Fraktur lateral12


o Fraktur bilateral
Merupakan salah satu jenis fraktur yang juga paling sering terjadi selain fraktur lateral,
biasanya disertai dislokasi septum nasal atau terputusnya tulang nasal dengan tulang
maksilaris.

Gambar 9. Fraktur bilateral12

16
o Fraktur direct frontal
Yaitu fraktur os nasal dan os frontal sehingga menyebabkan desakan dan pelebaran
pada dorsum nasalis. Pada fraktur jenis ini pasien akan terganggu suaranya.

Gambar 10. Fraktur direct frontal12


o Fraktur comminuted
Adalah fraktur kompleks yang terdiri dari beberapa fragmen. Fraktur ini akan
menimbulkan deformitas dari hidung yang tampak jelas.

Gambar 11. Fraktur comminuted, 1: tulang hidung, 2: frontal dan 3 septum nasi12

1) Berdasarkan Arah Trauma


a) Cedera Frontal
Cedera frontal umumnya terjadi karena terkena oleh sejumlah besar tenaga dari
arah depan dan dibagi menjadi tiga bidang (plane), dengan tingkatan tergantung
pada kekuatan trauma dan luas daerah yang cedera.
i. Plane I, yaitu hanya terbatas pada ujung hidung (nasal tip) dan tidak
melampaui garis anatomi yang memisahkan bagian bawah tulang hidung dari
spina nasal. Dengan mayoritas dampak diserap oleh tulang rawan hidung,
cedera biasanya melibatkan avulsi dari kartilago lateralis superior. Dislokasi

17
posterior septum dan kartilago alar juga mungkin terjadi, tapi kecil
kemungkinannya.
ii. Plane II, yaitu mencakup spina nasalis serta dorsum nasi dan septum hidung.
Cedera jenis ini mengakibatkan tulang hidung menjadi rata (fraktur depresi)
disertai dengan deviasi septum, robeknya mukosa, dan fraktur spina nasalis.
Fraktur dan dislokasi pada septum nasi menandakan suatu cedera yang parah,
dengan kolapsnya permukaan dorsal septum. Septum hidung dapat terlibat
pada sekitar 20% dari semua fraktur traumatik hidung.
iii. Plane III, yaitu cedera yang diakibatkan kekuatan yang besar dan dampaknya
dapat melibatkan fraktur orbita atau bahkan meluas sampai ke struktur dalam
di dasar tengkorak. Pada cedera frontal parah akan menyebabkan "open-book
fracture", di mana septum nasi menjadi kolaps dan tulang hidung terentang
keluar. Namun, kekuatan yang lebih besar akan menyebabkan fraktur
kominutif pada tulang hidung dan bahkan bagian depan prosesus maxillaris
akan menjadi rata dan dorsum nasi melebar.

b) Cedera Lateral
Jenis tersering pada cedera ini adalah tidak adanya dukungan struktural di kedua
sisi piramida hidung setelah terkena sejumlah besar tenaga dari arah samping. Pada
cedera jenis ini dapat pula dibagi menjadi tiga bidang (plane), dengan tingkatan
tergantung pada kekuatan trauma dan luas daerah yang cedera.
i. Plane I, yaitu hanya fraktur tulang hidung ipsilateral, ini adalah kejadian yang
paling umum, yang biasanya menghasilkan tampak adanya depresi dari dua
pertiga permukaan tulang hidung.
ii. Plane II, yaitu dapat disebabkan oleh kekuatan yang cukup dimana cedera pada
jenis kedua ini akan melibatkan fraktur tulang hidung yang kontralateral dan
juga fraktur pada septum nasi. Pada cedera lateral, fraktur septum hidung
biasanya memanjang secara posterior pada tulang ethmoid.
iii. Plane III, yaitu jenis cedera ketiga, dengan kekuatan yang lebih besar akan
mengakibatkan fraktur maksila dan tulang lakrimal, dapat pula mengakibatkan
dislokasi total pada arsitektur hidung, atau bahkan cedera pada aparatus
lakrimal.

18
Gambar 12. Derajat kerusakan pada fraktur nasal berdasarkan arah trauma (A) Trauma
dari arah frontal dan (B) Trauma dari arah lateral atau oblik.

2) Berdasarkan Pola Fraktur Hidung dan Septum 17

Tipe Deskripsi Karateristik

Simple straight Fraktur unilateral atau


I
bilateral tanpa deviasi
midline

Simple deviated Fraktur unilateral atau


II
bilateral dengan deviasi
midline

Comminution of nasal Fraktur nasal


III
bones comminutive bilateral
dengan septum bengkok
(septum tidak menggangu
reduksi tulang)

Severely deviated nasal Fraktur nasal unilateral


IV
and septal fracture atau bilateral comminutive

19
dengan deviasi midline
yang berat. (Septum
berhubungan dengan
reduksi tulang)

Complex nasal and septal Cedera berat, termasuk


V
fractures laserasi dan trauma
jaringan lunak,
pendarahan hidung akut,
luka di luka terbuka, dan
avulsi jaringan.

20
3.5. Gejala Klinis
Tanda yang mendukung terjadinya fraktur tulang hidung dapat berupa :14
o Depresi atau pergeseran tulang tulang hidung.
o Terasa lembut saat menyentuh hidung.
o Adanya pembengkakan pada hidung atau muka.
o Memar pada hidung atau di bawah kelopak mata (black eye).
o Deformitas hidung.
o Keluarnya darah dari lubang hidung (epistaksis).
o Saat menyentuh hidung terasa krepitasi.
o Rasa nyeri dan kesulitan bernapas dari lubang hidung.
Tanda-tanda berikut merupakan saat dimana sebaiknya meminta pertolongan dokter
meliputi:
o Nyeri dan pembengkakan tidak menghilang 3x24 jam
o Hidung terlihat miring atau melengkung
o Sulit bernapas melalui hidung meskipun reaksi peradangan telah mereda
o Terjadi demam
o Perdarahan hidung berulang 14,15
Tanda-tanda berikut dimana sebaiknya meminta pertolongan ke unit gawat darurat :
o Perdarahan yang berlangsung lebih dari beberapa menit pada satu atau kedua lubang
hidung
o Keluar cairan berwarna bening dari lubang hidung
o Cedera lain pada tubuh dan muka
o Kehilangan kesadaran
o Sakit kepala yang hebat
o Muntah yang berulang
o Penurunan indra penglihatan
o Nyeri pada leher
o Rasa kebas, baal, atau lemah pada lengan.14

21
3.6. Diagnosis
Diagnosis fraktur tulang hidung dapat dilakukan dengan inspeksi, palpasi dan
pemeriksaan hidung bagian dalam dilakukan dengan rinoskopi anterior, biasanya ditandai
dengan pembengkakan mukosa hidung terdapatnya bekuan dan kemungkinan ada robekan
pada mukosa septum, hematoma septum, dislokasi atau deviasi pada septum.1
Pemeriksaan penunjang berupa foto os nasal, foto sinusparanasal posisi Water dan
bila perlu dapat dilakukan pemindaian dengan CT scan. CT scan berguna untuk melihat
fraktur hidung dan kemungkinan terdapatnya fraktur penyerta lainnya.1
Pasien harus selalu diperiksa terhadap adanya hematoma septum akibat fraktur,
bilamana tidak terdeteksi. Dan tidak dirawat dapat berlanjut menjadi abses, dimana terjadi
resorpsi kartilago septum dan deformitas hidung pelana ( saddle nose ) yang berat.3

Anamnesis
Rentang waktu antara trauma dan konsultasi dengan dokter sangatlah penting untuk
penatalaksanaan pasien. Sangatlah penting untuk menentukan waktu trauma dan menentukan
arah dan besarnya kekuatan dari benturan. Sebagai contoh, trauma dari arah frontal bisa
menekan dorsum nasal, dan menyebabkan fraktur nasal. Pada kebanyakan pasien yang
mengalami trauma akibat olahraga, trauma nasal yang terjadi berulang dan terus menerus,
dan deformitas hidung akan menyebabkan sulit menilai antara trauma lama dan trauma baru
sehingga akan mempengaruhi terapi yang diberikan. Informasi mengenai keluhan hidung
sebelumnya dan bentuk hidung sebelumnya juga sangat berguna. Keluhan utama yang sering
dijumpai adalah epistaksis, deformitas hidung, obstruksi hidung dan anosmia.3 Jika pasien
mengeluhkan adanya perubahan bentuk hidung dan adanya riwayat obstruksi jalan nafas,
fraktur nasal selalu terjadi. Harus dicari riwayat terjadinya trauma, menggunakan alat apa,
arah pukulan dan akibatnya. Beberapa pertanyaan umum yang perlu dilontarkan saat
menerima pasien yang diduga mengalami fraktur nasal, meliputi :
(1) Adakah perubahan penampakan bentuk hidung setelah trauma?
(2) Berapa lama sejak terjadinya trauma?
(3) Pernahkah terdapat riwayat rusaknya bentuk hidung sebelumnya?
(4) Pernahkah menjalani operasi hidung sebelumnya?
(5) Dapatkah bernafas dengan lancar melalui kedua lubang hidung sebelum
mengalami trauma nasal?
(6) Dengan apa hidung anda terbentur?
(7) Apakah mempunyai riwayat alergi hidung atau sinusitis?

22
(8) Apakah mempunyai foto diri yang baik sebelum terjadinya trauma?
(9) Apakah ada riwayat penggunaan obat intranasal, kokain, atau alkohol sebelum
mengalami trauma nasal? 3,6,7

Pemeriksaan Fisik
Penegakan diagnosa trauma nasal memerlukan pemeriksaan fisik yang baik, oleh karena
separuh dari pasien trauma nasal yang datang ke ruang emergensi tidak terdiagnosa karena
edema sering menutupi trauma pada daerah piramid nasal.
Inspeksi sisi luar dan dalam dicari adanya perubahan bentuk, pergeseran (deviasi) atau
bentuk yang tidak normal. Adanya hematom, laserasi dan robekan mukosa sangat
mencurigakan adanya fraktur. Edema kelopak mata, ekimosis periorbita, ekimosis sklera, dan
perdarahan subkonjungtiva, trauma lakrimal merupakan tanda-tanda klinis tambahan.
Intranasal didapatkan adanya dekongesti mukosa dan terdapatnya bekuan darah yang perlu
diangkat dengan hati-hati. kebocoran cairan serebrospinal, penyimpangan atau tonjolan
septum nasal.
Palpasi dilakukan secara sistematik untuk menilai adanya nyeri dan gangguan stabilitas.
Adanya depresi tulang nasal, perubahan posisi tulang (displacement), pergerakan palsu
tulang (false movement), dan krepitasi, dapat didiagnosa adanya fraktur nasal. Dengan
meletakkan elevator di dalam hidung dan ujung jari di sisi luar dapat mengetahui mobilitas
tulang hidung.. Tulang rawan nasal dan septal harus diperiksa terhadap terjadinya dislokasi
dari perlekatannya. Ujung hidung harus didorong ke arah occiput untuk memeriksa integritas
penyokong septal. Adanya nyeri pada palpasi bimanual dan adanya pukulan dari arah lateral
spina maksilaris dicurigai adanya trauma septal. Keterlambatan dalam mengidentifikasi dan
penanganan akan menyebabkan deformitas bentuk pelana (Saddle nose), yang membutuhkan
penanganan bedah segera. Pemeriksaan dalam harus didukung dengan pencahayaan, anestesi,
dan semprot hidung vasokonstriktor. Spekulum hidung dan lampu kepala akan memperluas
lapangan pandang. Pada pemeriksaan dalam akan nampak bekuan darah dan/atau deformitas
septum nasal. 3,6,7,8

23
Gambar 15 Deformitas septum nasal

Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium.
Dalam kasus dengan ditemukannya jumlah perdarahan yang signifikan, dimana pasien
mungkin memerlukan suatu tindakan intervensi operatif, maka beberapa pemeriksaan
darah berikut harus diperoleh 7:
a. Hitung sel darah lengkap (CBC count). Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa
kadar hemoglobin dan trombosit pasien.
b. Pemeriksaan koagulasi darah : Protrombin Time (PT) / Activated Partial
Thromboplastin Time (APTT).
c. Pencocokan silang (Crossmatch) untuk sel darah merah (Packed Red blood Cell) :
Untuk keperluan transfusi jika dibutuhkan.
d. Pemeriksaan sampel sekret hidung yang cair (watery rhinorrhea) dengan 2
transferin, jika dicurigai terdapat kebocoran cairan serebrospinal (LCS) pada cedera
cedera maksilofasial, terutama fraktur hidung.

2) Pemeriksaan Radiologi.
Diperkirakan 10 - 47% diagnosa pasien dengan fraktur nasal, sudah cukup jelas
ditetapkan berdasarkan gejala klinisnya, namun pemeriksaan radiologis dapat dilakukan
untuk menunjang penegakan diagnosis, yaitu 3,6,7,8,9:
a. Foto polos kepala. Pemeriksaan yang dipilih adalah foto polos nasal gambaran lateral
(memakai film oklusi gigi), frontal, dan Water. Pada gambaran lateral (lateral view)
digunakan untuk melihat adanya separasi dan depresi dari tulang dan tulang rawan
hidung beserta tulang wajah disekitarnya. Sedangkan pada gambaran frontal (frontal

24
view) dapat memperlihatkan permasalahan alignment dari tulang septum dan bentuk
dari rima piriformis. Pada foto polos dengan gambaran Waters (Waters view) dapat
memperlihatkan simetris atau tidak simetrisnya tulang wajah, pergeseran dari
prosessus frontalis maksila, pergeseran tulang rawan septal, dan fraktur orbita. Garis
sutura dan pola vaskuler terkadang dapat mengaburkan atau menyulitkan diagnosis
dan menghasilkan banyak positif-palsu dan negatif-palsu, kecuali jika gambaran
radiologi dihubungkan dengan informasi klinis yang diperoleh secara langsung dari
pasien.

A B

Gambar 16. (A) Foto lateral view, (B) Foto frontal view, dan (C) Foto Waters view,
tampak fraktur hidung (panah putih)

b. CT-Scan (Computed Tomography Scan). Saat ini standar pemeriksaan radiografi


sebagai penunjang dalam penegakan diagnosis pada kasus trauma maksilofasial pada
bagian tengah sampai bagian atas adalah pemeriksaan CT-Scan tanpa menggunakan
media kontras. Penilaian pada pemeriksaan CT-Scan ini dapat dilakukan pada
potongan aksial maupun potongan koronal dari kepala pasien. Pada pemeriksaan ini,

25
dapat diperoleh berbagai informasi diantaranya cedera tulang nasal, deviasi septum
nasi, dan fraktur pada tulang hidung yang dapat terlihat dengan jelas. Selain itu luas,
dan derajat trauma, serta kondisi dari jaringan di sekitar daerah cedera dapat dinilai
pada pemeriksaan ini.

Gambar 17. CT-Scan potongan koronal dan axial tampak fraktur hidung (panah putih)

3.7. Tatalaksana
Tujuan Penangananan Fraktur Hidung :
o Mengembalikan penampilan secara memuaskan
o Mengembalikan patensi jalan nafas hidung
o Menempatkan kembali septum pada garis tengah
o Menjaga keutuhan rongga hidung
o Mencegah sumbatan setelah operasi, perforasi septum, retraksi kolumela, perubahan
bentuk punggung hidung
o Mencegah gangguan pertumbuhan hidung 6

3.7.1 Konservatif
Penatalaksanaan fraktur nasal berdasarkan atas gejala klinis, perubahan
fungsional dan bentuk hidung, oleh karena itu pemeriksaan fisik dengan dekongestan
nasal dibutuhkan. Dekongestan berguna untuk mengurangi gejala yang timbul pada
fraktur hidung misalnya pembengkakan mukosa, atau terjadinya obstruksi hidung karena
hipersekresi. Pasien dengan perdarahan hebat, biasanya dikontrol dengan pemberian
vasokonstriktor topikal. Jika tidak berhasil bebat kasa tipis, dan dilakukan kateterisasi

26
balon. Bebat kasa tipis merupakan prosedur untuk mengontrol perdarahan setelah
vasokonstriktor topikal. Biasanya diletakkan dihidung selama 2-5 hari sampai
perdarahan berhenti. Pada kasus akut, pasien harus diberi es pada hidungnya dan kepala
sedikit ditinggikan untuk mengurangi pembengkakan. Antibiotik diberikan untuk
mengurangi resiko infeksi, komplikasi dan kematian. Analgetik berperan simptomatis
untuk mengurangi nyeri dan memberikan rasa nyaman pada pasien. 3,6

3.7.2. Operatif
Fraktur nasal jika dibiarkan tanpa dikoreksi, akan menyebabkan perubahan
struktur hidung dan jaringan lunak sehingga akan terjadi perubahan bentuk dan fungsi.
Karena itu, ketepatan waktu terapi akan menurunkan resiko kematian pasien dengan
fraktur nasal. Penatalaksanaan terbaik seharusnya dilakukan segera setelah fraktur
terjadi, sebelum terjadi pembengkakan pada hidung. Namun, jarang pasien dievaluasi
secara cepat. Reposisi nasal dapat dikerjakan di ruang emergensi, sebaiknya dilakukan
sebelum mulai timbulnya kelainan bentuk dan pembengkakan, sehingga reposisi dapat
dilakukan dengan akurasi hasil yang baik secara anatomis. Hal ini dapat dilakukan
dalam 4 6 jam setelah kejadian trauma nasal. Pembengkakan pada jaringan lunak dapat
mengaburkan apakah patah yang terjadi ringan atau berat dan membuat tindakan reduksi
tertutup menjadi sulit dilakukan. Jika edema menjadi permasalahan, penanganan ditunda
5 10 hari untuk orang dewasa dan 4 7 hari untuk anak-anak, serta jika terdapat
hematom septum nasal, dan adanya kebocoran cairan serebrospinal. Jika tindakan
ditunda setelah 7-10 hari maka akan terjadi kalsifikasi. Pada kasus ini ahli bedah harus
siap melakukan refrakturasi (pematahan ulang tulang nasal) atau osteotomi untuk
memobilisasi hidung. Pada anak-anak fibrosis terjadi setelah 3 5 hari tergantung pada
usia anak tersebut. Bagaimanapun fraktur ini harus tetap direposisi. Untuk fraktur nasal
yang tidak disertai dengan perpindahan fragmen tulang, penanganan bedah tidak
dibutuhkan karena akan sembuh dengan spontan. Deformitas akibat fraktur nasal sering
dijumpai dan membutuhkan reduksi dengan fiksasi adekuat untuk memperbaiki posisi
hidung. 3,4,6,7,8,9

a. Teknik reduksi tertutup


Reduksi tertutup adalah tindakan yang dianjurkan pada fraktur hidung akut yang
sederhana dan unilateral. Teknik ini merupakan satu teknik pengobatan yang
digunakan untuk mengurangi fraktur nasal yang baru terjadi. Namun, pada kasus

27
tertentu tindakan reduksi terbuka di ruang operasi kadang diperlukan. Penggunaan
analgesia lokal yang baik, dapat memberikan hasil yang sempurna pada tindakan
reduksi fraktur tulang hidung. Jika tindakan reduksi tidak sempurna maka fraktur
tulang hidung tetap saja pada posisi yang tidak normal. Tindakan reduksi ini
dikerjakan 1-2 jam sesudah trauma, dimana pada waktu tersebut edema yang terjadi
mungkin sangat sedikit, atau dilakukan pada hari ke 4 7 pada anak anak dan hari
ke 5 10 pada orang dewasa. Namun demikian tindakan reduksi secara lokal masih
dapat dilakukan sampai 14 hari sesudah trauma. Setelah waktu tersebut tindakan
reduksi mungkin sulit dikerjakan karena sudah terbentuk proses kalsifikasi pada
tulang hidung sehingga perlu dilakukan tindakan rinoplasti osteotomi. 3,7,8,10,11
Alat-alat yang dipakai pada tindakan reduksi adalah :
1. Elevator tumpul yang lurus (Boies Nasal Fracture Elevator)

2. Cunam Asch

3. Cunam Walsham

4. Spekulum hidung pendek dan panjang (Killian)

5. Pinset bayonet.

Gambar 18. Reduction instruments. (kiri) Asch forceps, (tengah) Walsham forceps,
dan (kanan) Boies elevator.

Deformitas hidung yang minimal akibat fraktur dapat direposisi dengan tindakan
yang sederhana. Reposisi dilakukan dengan cunam Walsham. Pada penggunaan
cunam Walsham ini, satu sisinya dimasukkan ke dalam kavum nasi sedangkan sisi
yang lain di luar hidung dia atas kulit yang diproteksi dengan selang karet. Tindakan
manipulasi dilakukan dengan kontrol palpasi jari. Jika terdapat deviasi piramid

28
hidung karena dislokasi karena dislokasi tulang hidung, cunam Asch digunakan
dengan cara memasukkan masing-masing sisi (blade) ke dalam kedua rongga hidung
sambil menekan septum dengan kedua sisi forsep. Sesudah fraktur dikembalikan
pada posisi semula dilakukan pemasangan tampon di dalam rongga hidung. Tampon
yang dipasang dapat ditambah dengan antibiotika. Perdarahan yang timbul selama
tindakan akan berhenti, sesudah pemasangan tampon pada kedua rongga hidung.
Fiksasi luar (gips) dilakukan dengan menggunakan beberapa lapis gips yang
dibentuk seperti huruf T dan dipertahankan hingga 10-14 hari, atau dengan
menggunakan Splint Nasal, lalu difiksasi dengan Hipafix.

Gambar 19. Fiksasi luar dengan menggunakan gips berbentuk huruf T.

b. Teknik reduksi terbuka


Reposisi terbuka dipertimbangkan untuk dikerjakan bila :
(1) Telah terjadi fraktur septal terbuka
(2) Fraktur dislokasi luas tulang hidung dan septum nasal
(3) Terjadinya dislokasi fraktur septum kaudal
(4) Deviasi piramid lebih dari setengah lebar nasal bridge
(5) Perubahan bentuk menetap setelah dilakukan reposisi tertutup
(6) Karena reposisi perubahan bentuk septal yang tidak adekuat
(7) Terjadinya hematoma septal
(8) Kombinasi perubahan bentuk septal dan tulang rawan alar

29
(9) Terjadinya fraktur displace spina nasi anterior dan adanya riwayat operasi
intranasal.
Reposisi terbuka dikerjakan jika harus melakukan reposisi bagian pyramid nasal
akibat terjadinya fraktur tulang nasal dan tulang rawan septal nasal yang saling
mengait. Septum dapat dicapai melalui incisi hemitranfixion pada sisi yang
mengalami dislokasi, berikutnya garis fraktur nasal dapat dicapai melalui incisi
interkartilago bilateral. Kulit dorsal diangkat di atas tulang rawan lateral atas dan
periosteum tulang nasal diangkat. Incisi apertura piriformis memudahkan mencapai
garis fraktur lateral. Paling sering ditemukan dislokasi tulang rawan kuadrangular
crest maxila atau fraktur bentuk C dari tulang dan tulang rawan septum, segmen
tulang rawan dibuka dan direposisi. Kadang segmen kecil tulang rawan harus
direseksi dekat fraktur, memakai elevator Cottle. Reseksi radikal tulang rawan dan
tulang nasal harus dihindari karena berfungsi sebagai penyokong, selain itu juga
mengurangi fibrosis dan kontraktur. Dengan melakukan prosedur operasi septal
seperti ini reposisi yang maksimal akan selalu didapatkan. 3,7,8,9

Gambar 20. Bentuk incisi tindakan reduksi terbuka pada fraktur nasal. A. Incisi
transeptal (hemitransfixion dapat diperluas sampai dengan interkartilago, B. Variasi
incisi kulit untuk mencapai tulang nasal, C. Teknik rhinoplasti terbuka, D. Incisi
intraoral transbuccal, bilateral maupun unilateral.

30
Skema 1. Pendekatan penatalaksanaan fraktur nasal17
3.8 Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi berkaitan dengan kejadian fraktur tulang hidung
antara lain 3,6,8,9 :
1. Hematom septi
Merupakan komplikasi yang sering dan serius dari trauma nasal. Septum hematom
ditandai dengan adanya akumulasi darah pada ruang subperikondrial. Ruangan ini akan
menekan kartilago di bawahnya, dan mengakibatkan nekrosis septum irreversible.
Deformitas bentuk pelana dapat berkembang dari jaringan lunak yang hilang. Prosedur
yang harus dilakukan adalah drainase segera setelah ditemukan disertai dengan
pemberian antibiotik setelah drainase.

31
2. Fraktur dinding orbita
Fraktur pada dinding orbita dan lantai orbita akibat pukulan dapat terjadi.
Gejala klinis yang muncul adalah disfungsi otot ekstraokuler.
3. Fraktur septum nasal / perforasi septum
Sekitar 70% fraktur nasal dihubungkan dengan fraktur septum nasal. Trauma
pada hidung bagian bawah akan menyebabkan fraktur septum nasal tanpa
adanya kerusakan tulang hidung. Teknik yang dilakukan adalah teknik
manipulasi reduksi tertutup dengan menggunakan forceps Asch.
4. Epistaksis
Fraktur yang melibatkan kompleks nasoethmoidal dapat menyebabkan
laserasi arteri ethmoidalis anterior, hal ini menghasilkan suatu perdarahan
yang signifikan, cepat dan dapat berulang. Hal ini hanya dapat berhenti ketika
fraktur telah direduksi.
5. Obstruksi nasal
Obstruksi nasal post operasi biasa terjadi, dan penyebabnya antara lain ;
deviasi septum, obstruksi katup (kolaps kartilago lateral), pelebaran septum
(hematoma), dan ptosis ujung hidung (tip of nose).
6. Deformitas nasal (Poor Cosmetic Result of The Nasal)
Percobaan untuk mereduksi deformitas tidak selalu berhasil. Tercatat adanya
deformitas residual pada 14% 50% setelah reduksi tertutup. Beberapa
faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah ; luasnya daerah yang cedera,
terlambatnya mendapatkan penanganan bedah, fraktur septal yang tidak
diketahui, teknik bedah yang kurang baik, gangguan penyembuhan luka
(terbentuknya jaringan parut dan fibrosis), dan trauma post operatif.

Fraktur tulang nasoorbitoetmoid kompleks dapat menimbulkan komplikasi


atau sekuele di kemudian hari. Komplikasi yang terjadi tersebut ialah :1
A. Komplikasi neurologik :1
1. Robeknya duramater
2. Keluarnya cairan serebrospinal dengan kemungkinan timbulnya
meningitis
3. Pneumoensefal
4. Laserasi otak
5. Avulsi dari nervus olfaktorius
6. Hematoma epidural atau subdural
7. Kontusio otak dan nekrosis jaringan otak
B. Komplikasi pada mata :
1. Telekantus traumatika
2. Hematoma pada mata
3. Kerusakan nervus optikus yang mungkin menyebabkan kebutaan
4. Epifora
5. Ptosis
6. Kerusakan bola mata

C. Komplikasi pada hidung :


1. Perubahan bentuk hidung
2. Obstruksi rongga hidung yang disebabkan oleh fraktur,dislokasi, atau
hematoma pada septum
3. Gangguan penciuman (hiposmia atau anosmia)
4. Epistakis posterior yang hebat yang disebabkan karena robeknya arteri
etmoidalis
5. Kerusakan duktus nasofrontalis dengan menimbulkan sinusitis frontal
atau mukokel

3.8. Prognosis
Kebanyakan fraktur nasal tanpa disertai dengan perpindahan posisi akan
sembuh tanpa adanya kelainan kosmetik dan fungsional. Dengan teknik
reduksi terbuka dan tertutup akan mengurangi kelainan kosmetik dan
fungsional pada 70 % pasien.6,16

33