Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Trauma masih merupakan penyebab kematian paling sering di empat

dekade pertama kehidupan dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat

yang utama disetiap negara. Sepuluh persen dari kematian di seluruh dunia

disebabkan oleh trauma yang salah satunya adalah trauma tumpul. Pada suatu

studi di Kanada selama 5 tahun terhadap pasien yang mengalami trauma

menunjukkan 96,3% disebabkan oleh trauma benda tumpul dan sisanya 3,7%

disebabkan oleh trauma akibat benda tajam. Trauma tumpul adalah suatu trauma

yang mengakibatkan luka pada permukaan tubuh oleh benda-benda tumpul. Hal

ini disebabkan oleh benda-benda yang mempunyai permukaan tumpul seperti

batu, kayu, martil, terkena bola, ditinju, jatuh dari tempat tinggi, kecelakaan lalu

lintas dan sebagainya. Trauma tumpul dapat menyebabkan 3 macam luka yaitu :

luka memar (contusion), luka lecet (abrasion) dan luka robek (vulnus laceratum).1

Kekerasan tumpul dapat terjadi karena 2 sebab yaitu alat atau senjata yang

mengenai atau melukai orang yang relatif tidak bergerak dan orang yang bergerak

ke arah objek atau alat yang tidak bergerak. Dalam bidang medikolegal terkadang

hal ini perlu dijelaskan, walaupun terkadang sulit dipastikan. Sekilas akan tampak

sama dalam hasil lukanya namun, jika diperhatikan lebih lanjut lagi maka akan

dapat perbedaan hasil pada kedua mekanisme tersebut. Oleh karena itu, pada

referat ini akan dibahas mengenai deskripsi luka trauma benda tumpul,

mekanisme luka akibat trauma benda tumpul dan aspek medikolegal yang

1
diharapkan dapat membantu dalam proses pemeriksaan untuk kepentingan di

bidang ilmu kedokteran forensik dan medikolegal.2

1.2 Batasan Masalah

Referat ini membahas mengenai aspek medikolegal korban mati akibat

trauma tumpul.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulisan referat ini adalah :

a. Mengetahui dan memahami aspek medikolegal korban mati akibat trauma

tumpul.

b. Meningkatkan kemampuan penulisan ilmiah kedokteran khususnya bagian

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.

c. Memenuhi salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di bagian

Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran

Universitas Riau.

1.4 Manfaat Penelitian

Referat ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis untuk menambah

pengetahuan tentang aspek medikolegal korban mati akibat trauma tumpul.

1.5 Metode Penelitian

Referat ini disusun dengan menggunakan metode tinjauan pustaka yang

merujuk dari berbagai literatur.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Trauma Benda Tumpul


Trauma benda tumpul adalah luka yang diakibatkan karena persentuhan
tubuh dengan benda yang permukaannya tumpul. Benda tumpul yang sering
mengakibatkan luka antara lain batu, besi, sepatu, tinju, lantai, jalan, dan lain-lain.
Definisi benda tumpul yaitu tidak bermata tajam, konsistensi keras/kenyal, dan
permukaan halus/kasar.3 Luka akibat trauma benda tumpul dapat terjadi karena
dua sebab, yaitu benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam dan korban
yang bergerak pada benda tumpul yang tidak bergerak.1

2.2 Jenis Luka Akibat Trauma Benda Tumpul


Luka akibat trauma benda tumpul dapat berupa luka lecet, memar, dan
luka terbuka.4
a. Luka Lecet (Abrasi)
Luka lecet atau abrasi adalah luka yang superfisial disebabkan oleh
rusaknya atau lepasnya lapisan paling luar kulit/kulit ari, yang ciri-cirinya
adalah :4
- Bentuk luka tidak teratur
- Batas luka tidak teratur
- Tepi luka tidak rata
- Kadang-kadang ditemukan sedikit perdarahan
- Permukaan tertutup oleh krusta
- Warna coklat kemerahan
- Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat adanya beberapa bagian yang
masih tertutup epitel dan reaksi jaringan.

3
Sesuai dengan mekanisme terjadinya luka lecet dapat diklasifikasikan
sebagai:5

a. Luka lecet gores

Diakibatkan oleh benda runcing, misal kuku jari, yang menggeser lapisan
permukaan kulit (epidermis) dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat
sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.

b. Luka lecet serut

Variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan


permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak
tumpukan epitel.

c. Luka lecet tekan

Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul terhadap kulit. Karena kulit


adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka belum tentu sama dengan
permukaan benda, tetapi masih mungkin untuk mengidentifikasi benda penyebab
yang mempunyai bentuk khas, misal kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan, dan
sebagainya. Gambaran yang ditemukan adalah daerah kulit yang kaku dengan
warna lebih gelap dari sekitarnya.

d. Luka lecet geser

Disebabkan oleh tekanan linier kulit disertai gerakan bergeser, misalnya


pada kasus gantung atau jerat. Luka lecet geser yang terjadi semasa hidup sulit
dibedakan dari luka lecet geser yang terjadi segera pasca mati.

4
Perbedaan luka lecet ante motem dan post mortem1

ANTE MORTEM POST MORTEM


1. Coklat kemerahan 1. Kekuningan
2. Terdapat sisa sisa-sisa epitel 2. Epidermis terpisah
1. Tanda intravital (+) sempurna dari dermis
2. Sembarang tempat 3. Tanda intravital (-)
4. Pada daerah yang ada
penonjolan tulang

b. Memar (Kontusio)

Memar adalah suatu keadaan dimana terjadi pengumpulan darah dalam


jaringan yang terjadi sewaktu orang masih hidup, dikarenakan pecahnya
pembuluh darah kapiler akibat kekerasan benda tumpul. Pada saat timbul memar
berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam setelah 4-5 hari
akan berwarna hijau yang kemudian akan menjadi kuning dalam 7-10 hari, dan
akhirnya menghilang dalam 14-15 hari. Perubahan warna tersebut berlangsung
mulai dari tepi.5
c. Luka Terbuka (Laserasi)
Luka terbuka (vulnus laceratum) adalah luka yang disebabkan karena kekerasan
benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan
jaringan di bawahnya, yang ciri cirinya sebagai berikut :4

- Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata
- Bila ditautkan tidak dapat rapat
- Terdapat jembatan jaringan
- Di sekitar garis batas luka ditemukan luka lecet atau memar

Laserasi dapat menyebabkan perdarahan hebat. Sebuah laserasi kecil tanpa


adanya robekan arteri dapat menyebabkan akibat yang fatal bila perdarahan terjadi
terus menerus. Laserasi yang multipel yang mengenai jaringan kutis dan sub kutis
dapat menyebabkan perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan sampai
dengan kematian.4

5
Laserasi juga dapat terjadi pada organ akibat dari tekanan yang kuat dari
suatu pukulan seperi pada organ jantung, aorta, hati dan limpa. Hal yang harus
diwaspadai dari laserasi organ yaitu robekan yang komplit yang dapat terjadi
dalam jangka waktu lama setelah trauma yang dapat menyebabkan perdarahan
hebat.4

2.3 Deskripsi Luka Akibat Benda Tumpul


Luka-luka yang ditemukan harus dideskripsikan dengan jelas, lengkap dan
baik, hal ini penting untuk mengetahui jenis kekerasan yang telah dialami korban.5
Cara mendeskripsikan luka akibat benda tumpul sama dengan deskripsi luka
secara umum. Dalam mendeskripsikan luka harus mencakup jumlah, lokasi,
bentuk, ukuran, dan sifat luka.3
Jumlah luka dapat berupa tunggal ataupun multiple. Lokasi luka yang
meliputi lokasi berdasarkan regio anatomi, garis koordinat atau bagian-bagian
tertentu dari tubuh. Bentuk luka yang meliputi bentuk sebelum dan sesudah
dirapatkan. Ukuran luka ditulis dalam bentuk panjang x lebar dalam satuan
sentimeter. Sifat-sifat luka yang meliputi batas tegas atau tidak tegas, tepi rata
atau tidak rata, sudut luka runcing atau tumpul, ada atau tidaknya jembatan
jaringan, dasar luka, dan daerah disekitar garis batas luka. Untuk luka tertutup
tidak perlu dideskripsikan sifatnya.3

2.4 Kematian Akibat Trauma Benda Tumpul


Luka akibat trauma benda tumpul dapat berupa salah satu atau kombinasi
dari memar, luka lecet, dan luka terbuka. Derajat luka, perluasan luka, dan
penampakan luka yang disebabkan oleh trauma benda tumpul bergantung pada
kekuatan benda yang mengenai tubuh, waktu dari benda mengenai tubuh, bagian
tubuh yang terkena, perluasan terhadap bagian tubuh yang terkena, dan jenis
benda yang mengenai tubuh. Penyebab kematian akibat trauma benda tumpul
sering terjadi karena kerusakan organ vital dan perdarahan.6

a. Kerusakan Organ Vital


Organ atau jaringan tubuh mempunyai beberapa cara menahan kerusakan
yang disebabkan objek atau alat, daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe

6
luka. Luka-luka tersebut dapat menyebabkan dampak kerusakan jaringan maupun
organ yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, bahkan bisa menyebabkan
kematian.6
Semua organ dapat terjadi kontusio. Kontusio pada setiap organ memiliki
karakteristik yang berbeda. Pada organ vital seperti jantung dan otak jika terjadi
kontusio dapat menyebabkan kelainan fungsi bahkan kematian.3
Hampir seluruh kontusio otak superfisial hanya mengenai daerah abu-abu.
Beberapa dapat lebih dalam, mengenai daerah putih otak. Kontusio pada bagian
superfisial atau daerah abu-abu sangat penting dalam ilmu forensik. Rupturnya
pembuluh darah dengan terhambatnya aliran darah menuju otak menyebabkan
adanya pembengkakan dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, lingkaran
kekerasan dapat terbentuk apabila kontusio yang terbentuk cukup besar, edema
otak dapat menghambat sirkulasi darah yang menyebabkan kematian otak, koma,
dan kematian total.4
Yang harus dipertimbangan adalah lokasi kontusio tipe superfisial yang
berhubungan dengan arah kekerasan yang terjadi. Hal ini bermakna jika pola luka
ditemukan dalam pemeriksaan kepala dan komponen yang terkena pada trauma
sepeti pada kulit kepala, kranium, dan otak. Anamnesis yang cukup mengenai
keadaan saat kematian, ada atau tidaknya tanda trauma kepala, serta adanya
penyakit penyerta dapat membedakan trauma dengan kasus lain yang
menyebabkan perdarahan.4
Jantung juga sangat rentan jika terjadi kontusio. Kontusio yang mengenai
daerah yang mengatur hantaran impuls dapat menyebabkan gangguan pada irama
jantung atau henti jantung. Kontusio yang mengenai kerja otot jantung dapat
menghambat pengosongan jantung dan menyebabkan gagal jantung.4

b. Perdarahan
Luka terbuka dapat menyebabkan perdarahan hebat. Sebuah luka terbuka
kecil tanpa adanya robekan arteri dapat menyebabkan akibat yang fatal bila
perdarahan terjadi terus menerus. Luka terbuka yang multipel yang mengenai
jaringan kutis dan subkutis dapat menyebabkan perdarahan yang hebat hingga
kematian.3

7
Kecepatan perdarahan terjadi tergantung pada ukuran dari pembuluh darah
yang terpotong dan jenis perlukaan yang mengakibatkan terjadinya perdarahan.
Apabila terjadi robekan pada arteri yang besar terjadi kehilangan darah yang
banyak dan dapat menyebabkan syok sampai meninggal.3
Perdarahan pada kepala dapat terjadi pada ketiga ruang yaitu ruang
epidural, subdural atau ruang subarakhnoid, atau pada otak itu sendiri. Perdarahan
epidural berhubungan erat dengan fraktur pada tulang tengkorak. Apabila fraktur
mengenai jalinan pembuluh darah kecil yang dekat dengan bagian dalam
tengkorak, dapat menyebabkan robekan pada arteri dan terjadi perdarahan yang
cepat. Kumpulan darah akhirnya mendorong lapisan dura menjauh dari tengkorak
dan ruang epidural menjadi lebih luas. Akibat dari lapisan dura yang terdorong ke
dalam, otak mendapatkan tekanan yang akhirnya menimbulkan gejala-gejala
seperti nyeri kepala, penurunan kesadaran bertahap mulai dari letargi, stupor dan
akhirnya koma. Kematian akan terjadi bila tidak dilakukan terapi dekompresi
segera. Waktu antara timbulnya cedera kepala sampai munculnya gejala-gejala
yang diakibatkan perdarahan epidural disebut sebagai lucid interval.4,7
Perdarahan subdural timbul apabila terjadi bridging vein yang pecah dan
darah berkumpul di ruang subdural. Perdarahan ini juga dapat menyebabkan
kompresi pada otak yang terletak di bawahnya. Karena perdarahan yang timbul
berlangsung perlahan, maka lucid interval juga lebih lama dibandingkan
perdarahan epidural, berkisar dari beberapa jam sampai beberapa hari. Jumlah
perdarahan pada ruang ini berkisar dibawah 120 cc, sehingga tidak menyebabkan
perdarahan subdural yang fatal.4,7
Perdarahan subarakhnoid dapat disebabkan karena trauma dan yang tidak
berhubungan dengan trauma. Penyebab yang berhubungan dengan trauma antara
lain:4
a. Trauma langsung pada daerah fokal otak yang akhirnya menyebabkan
perdarahan subarakhnoid
b. Trauma pada wajah atau leher dengan fraktur pada tulang servikal yang
menyebabkan robeknya arteri vertebralis
c. Robeknya salah satu arteri berdinding tipis pada dasar otak yang
diakibatkan gerakan hiperekstensi yang tiba-tiba dari kepala.

8
2.5 Aspek Medikolegal Korban Mati Akibat Benda Tumpul
Sebagai seorang dokter, hendaknya dapat membantu pihak penegak
hukum dalam melakukan pemeriksaan terhadap korban perlukaan. Dokter
sebaiknya dapat menyelesaikan permasalahan mengenai jenis luka yang
ditemukan, jenis kekerasan/senjata yang menyebabkan luka dan kualifikasi dari
luka.3 Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal luka
kelalaian atau karena yang disengaja. Luka yang terjadi ini disebut Kejahatan
Terhadap Tubuh atau Misdrijven Tegen Het Lijf. Kejahatan terhadap jiwa ini
diperinci menjadi dua yaitu kejahatan doleuse (yang dilakukan dengan sengaja)
dan kejahatan culpose (yang dilakukan karena kelalaian atau kejahatan).2
Jenis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja diatur dalam Bab XX,
pasal 351 sampai dengan 358. Jenis kejahatan yang disebabkan karena kelalaian
diatur dalam pasal 359, 360, dan 361 KUHP. Dalam pasal-pasal tersebut dijumpai
kata-kata mati, menjadi sakit sementara, atau tidak dapat menjalankan pekerjaan
sementara yang tidak disebabkan secara langsung oleh terdakwa, akan tetapi
karena salahnya diartikan sebagai kurang hati-hati, lalai, lupa dan amat kurang
perhatian.2
Pasal 361 KUHP menambah hukumannya sepertiga lagi jika kejahatan ini
dilakukan dalam suatu jabatan atau pekerjaan. Pasal ini dapat dikenakan pada
dokter, bidan, apoteker, supir, masinis kereta api dan lain-lain. Dalam pasal-pasal
tersebut tercantum istilah penganiayaan dan merampas dengan sengaja jiwa orang
lain, suatu istilah hukum semata-mata dan tidak dikenal dalam istilah medis.2
Yang dikatakan luka berat pada tubuh pada pasal 90 KUHP adalah
penyakit atau luka yang tidak bisa diharapkan akan sembuh lagi dengan sempurna
atau yang dapat mendatangkan bahaya maut, terus menerus tidak cakap lagi
memakai salah satu panca indera, lumpuh, berubah pikiran atau akal lebih dari
empat minggu lamanya, menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan
ibu.2
Disinilah dokter berperan besar sebagai saksi ahli di depan pengadilan.
Hakim akan mendengarkan keterangan spesialis kedokteran forensik maupun ahli
lainnya (setiap dokter) dalam tiap kejadian kasus demi kasus.2

9
2.6 Contoh Kasus
Kasus kematian akibat kekerasan benda tumpul terbanyak ditemukan pada
kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas didefinisikan sebagai serangkaian
peristiwa dari kejadian yang tidak diduga sebelumnya, dan selalu mengakibatkan
kerusakan benda, luka, atau kematian. Dapat juga diartikan sebagai peristiwa di
jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau
tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan atau kerugian
harta benda.8
Pada kecelakaan lalu lintas, tersangkut beberapa pihak, yaitu pejalan kaki,
pengemudi kendaraan, penumpang, dan sebagainya. Pada pejalan kaki, luka-luka
dapat terjadi akibat benturan pertama (benturan yang pertama terjadi antara
korban dengan kendaraan), benturan kedua (benturan kedua antara korban dan
kendaraan), dan luka sekunder (akibat benturan dengan objek lain, misalnya jalan,
kaki-lima). Cedera pertama berupa patah tulang lutut atau kaki karena bumper,
kemudian pejalan kaki tersebut akan terlempar ke atas dan kepala mengenai
bagian luar bingkai kaca dan dapat terjadi cedera kepala dan patah tulang leher.
Jika mengenai truk, bus, atau mini bus, cedera dapat mengenai seluruh badan dari
kepala sampai kaki, termasuk organ-organ dalam tubuh (paru, toraks, hati, limpa,
pancreas, usus, dan ginjal). Setelah tertabrak kendaraan, korban akan terlempar
dan cedera lagi karena tubuh membentur jalan, trotoar, pohon, tiang listrik, atau
terlindas mobil, bahkan terkena kendaraan lain.8

10
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Trauma benda tumpul adalah luka yang diakibatkan karena persentuhan
tubuh dengan benda yang permukaannya tumpul. Luka akibat trauma benda
tumpul dapat berupa luka lecet, memar, dan luka terbuka. Dalam mendeskripsikan
luka harus mencakup jumlah, lokasi, bentuk, ukuran, dan sifat luka. Trauma
akibat benda tumpul dapat menyebabkan dampak kerusakan jaringan maupun
organ yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, bahkan bisa menyebabkan
kematian. Dokter hendaknya dapat membantu pihak penegak hukum dalam
melakukan pemeriksaan terhadap korban perlukaan.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Apuranto Hariadi. Luka Akibat Benda Tumpul. Diunduh dari

www.fk.uwks.ac.id/elib/arsip/departemen/luka%tumpul.pdf.

2. Satiyo AC. Majalah Kedokteran Nusantara. Aspek Medikolegal Luka pada

Forensik Klinik.2006;39(4):430-432.

3. Idries, AM. Sistematik pemeriksaan ilmu kedokteran forensik khusus pada

korban perlukaan. 2008. Jakarta: Sagung Seto.

4. Mahardika A, dkk. Trauma Tumpul. Universitas Islam Sultan Agung.

Semarang.2014.

5. Budiyanto A, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. 1st ed. . Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia; 1997

6. Vincent JD, Dominick D. 2001. Blunt Trauma Wounds. Forensic Pathology

Second Edition, Chapter 4. Pp.1-26.

7. Tasmono H. Trauma Kepala pada Kecelakaan Sepeda Motor.

2011;7(14):71-77.

8. Afifah NH. Patologi Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Jakarta. 2012.

12