Anda di halaman 1dari 13

Referat Kecil

DORSAL COLUMN-MEDIAL LEMNISCUS


(DC-ML)

Disusun oleh:

Anggelina Effendi
1408465574

Pembimbing:

dr. Agus Tri Joko, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
2016
DORSAL COLUMN-MEDIAL LEMNISCUS (DC-ML)

I. Definisi
Dorsal Column-Medial Lemniscus (DC-ML) adalah traktus sensoris yang
bertanggung jawab untuk mentransmisikan diskriminasi raba, sensasi getar,
tekanan, modalitas aferen kinestetik ke korteks serebri. Melalui traktus ini, kita
dapat mengapresiasikan kesan raba dengan perbedaan intesitas yang halus,
lokalisasi yang tepat, dan diskriminasi dua titik. Sensasi getar dan posisi berbagai
bagian tubuh dapat disadari dengan tepat.1,2

II. Fungsi
Jalur DC-ML memediasi sentuhan ringan (termasuk diskriminasi taktil) dan
getaran dari tubuh. Selain itu, jalur DC-ML juga memediasi kesadaran
propioseptif, dimana kita dapat merasakan posisi anggota badan dan rasa tingkat
ketegangan ototnya. Kita dapat merasakan berat tubuh bertumpu pada telapak kaki
dan juga dapat merasakan gerakan pada sendi. Jadi, beberapa impuls proprioseptif
harus mencapai kesadaran. Impuls tersebut berasal dari reseptor yang terdapat
pada otot, tendon, fasia, kapsul sendi, dan jaringan ikat (korpuskulum Vater
Pacini dan Meissner), serta reseptor yang tersebar di kulit.3,4

III. Anatomi dan Fisiologi


a. Reseptor
Reseptor merupakan organ sensoris khusus yang mengenal perubahan
fisik dan kimia dari lingkungan eksternal dan internal pada organisme dan
mengkonversikan perubahan tersebut menjadi impuls yang akan diproses
oleh sistem saraf. Reseptor dapat ditemukan pada ujung serabut saraf aferen.
Beberapa reseptor memberikan informasi tentang perubahan pada
lingkungan luar yang dekat (eksteroseptor) atau lingkungan luar yang jauh
(teleseptor, seperti mata dan telinga). Propioseptor, seperti labirin di telinga
dalam, menyampaikan informasi tentang posisi dan pergerakan kepala,
tekanan pada otot dan tendon, posisi sendi, tenaga yang dibutuhkan untuk
pergerakan khusus, dan lain-lain. Yang terakhir, proses di dalam tubuh
dilaporkan oleh enteroseptor, yang disebut juga viseroseptor (termasuk
osmoseptor, kemoseptor, dan baroseptor). Masing-masing reseptor
bertanggungjawab terhadap stimulus yang sesuai, jenis yang spesifik,
dengan syarat intensitas dari stimulus tersebut di atas ambang batas.4
Reseptor pada kulit (Gambar 1) yang meneruskan rangsangan ke traktus
DC-ML adalah korpuskulum Meissner dan Vater-Pacini. Korpuskulum
Meissner terletak di papilla dermis kulit yang tidak berambut, seperti
telapak tangan dan telapak kaki. Korpuskulum Meissner juga banyak
ditemukan pada kulit papilla mammae, bibir, ujung lidah dan genitalia
eksterna. Reseptor ini sangat peka terhadap rasa raba dan tekanan ringan.
Reseptor ini merupakan mekanoreseptor yang beradaptasi cepat. Reseptor
ini memungkinkan seseorang membedakan dua struktur berujung tajam
yang diletakkan berdekatan pada kulit (diskriminasi taktil dua titik).1,4
Korpukel berlapis Vater-Pacini terdapat di lapisan kulit yang lebih
dalam, khususnya pada daerah antara kutis dan subkutis, dan peka terhadap
getaran dan sensasi tekanan.1,4

Gambar 1. Mekanoreseptor pada kulit7


Kelompok reseptor kedua yang terletak lebih dalam di kulit, otot,
tendon, fasia, dan sendi yang juga meneruskan rangsangan ke DCML adalah
gelendong otot (muscle spindle) dan organ tendon golgi. Pada otot,
contohnya, gelendong otot (Gambar 2), yang peka terhadap peregangan
otot. Gelendong otot terdapat pada otot rangka dan paling banyak ditempat
perlekatan tendon otot. Gelendong otot memberikan informasi sensorik
kepada susunan saraf pusat untuk mengontrol aktivitas otot. Masing-masing
gelendong otot biasanya terdiri dari 310 serat otot lurik halus, yang disebut
serat otot intrafusal. Kedua ujung dari gelendong otot yang terdiri dari
jaringan ikat, terikat pada jaringan ikat antara fasikula otot, jadi mereka
bergerak dalam hubungannya dengan otot. Terdapat sebuah serat saraf
aferen yang disebut ujung annulospiral disekitar bagian tengah dari
gelendong otot. Serat aferen ini mempunyai selubung mielin yang sangat
tebal dan merupakan kelompok serat saraf dengan konduksi paling cepat
pada tubuh, dan disebut serat Ia.4

Gambar 2. Muscle spindle1

Organ golgi tendon (Gambar 3) terdiri dari ujung saraf halus, berasal
dari cabang dari serat saraf mielin yang tebal, yang mengelilingi sebuah
kelompok serat tendon kolagen. Organ golgi tendon ini tertutup dalam
kapsul jaringan ikat, terletak pada hubungan antara tendon dan otot, serta
berhubungan secara seri terhadap serat otot yang berdekatan. Seperti
gelendong otot, mereka bertanggungjawab terhadap peregangan tapi pada
ambang batas yang lebih tinggi.4

Gambar 3. Organ golgi tendon4

Informasi umum dari ujung ujung saraf sensorik perifer dihantarkan


melalui sistem saraf oleh serangkaian neuron. Dalam bentuk paling
sederhana, jaras asendens untuk kesadaran terdiri dari tiga neuron, yaitu:1,4

Neuron pertama: badan sel dari neuron pertama terletak di ganglion


radiks dorsalis (atau ganglion aferen somatis dari saraf kranial).
Menghantarkan informasi sensoris dari perifer ke medula spinalis
(untuk refleks) dan nukleus kolum dorsalis (nukleus grasilis dan
nukleus kuneatus)

Neuron kedua: memiliki akson yang menyilang garis tengah


(menyilang ke sisi kontralateral) dan naik ke tingkat susunan saraf
yang lebih tinggi, yaitu dimana akson tersebut bersinaps dengan
neuron tingkat ketiga.

Neuron ketiga: sel neuron ketiga terletak di talamus dan


memproyeksikan rangsangan ke korteks somatosensorik. Lalu otak
akan memproses informasi yang dihantarkan oleh neuron ini,
menginterpretasikan lokasi, kualitas dan intensitas lalu memberikan
respon yang sesuai.

Perjalanan serabut saraf aferen yang menghantarkan modalitas sensorik


di dalam medula spinalis terdiri atas traktus spinoserebellaris posterior dan
anterior, kolumna posterior, traktus spinotalamikus anterior dan lateral, serta
traktus aferen lainnya yaitu spinoretikular, spinotektal, spino-olivari dan
traktus spinovestibular.4

b. Thalamus
Jauh di dalam otak dekat dengan nukleus basal terdapat diensefalon,
suatu struktur garis tengah (midline) yang membentuk dinding-dinding
rongga ventrikel ketiga, salah satu ruang tempat lewatnya cairan
serebrospinalis. Diensefalon terdiri dari dua bagian utama, talamus dan
hipotalamus.5
Talamus (Gambar 4) berfungsi sebagai stasiun penyambung dan pusat
integrasi sinaps untuk pengolahan pendahuluan semua masukan sensorik
dalam perjalanannya ke korteks. Bagian ini menyaring sinyal-sinyal yang
tidak bermakna dan mengarahkan impuls-impuls sensorik penting ke daerah
somatosensorik yang sesuai, serta ke daerah-daerah lain. Talamus, bersama
dengan batang otak dan daerah asosiasi korteks, penting untuk kemampuan
kita mengarahkan perhatian ke rangsangan yang menarik. Sebagai contoh,
orang tua dapat tidur nyenyak walaupun diluar rumah bising karena lalu
lintas ramai, tetapi cepat terbangun mendengar rengekan kecil bayi mereka.
Talamus juga mampu menentukan kesadaran kasar berbagai jenis sensasi
tetapi tidak dapat membedakan lokasi atau intensitasnya. Kesadaran dengan
derajat tertentu juga terdapat di sini. Selain itu, talamus juga berfungsi
penting dalam kontrol motorik dengan secara positif memperkuat perilaku
motorik volunter yang dimulai oleh korteks.4
Gambar 4. Talamus4

IV. Perjalanan Traktus DC-ML


Perjalanan modalitas sensorik pada traktus DC-ML adalah sebagai berikut,
rangsangan yang muncul pada reseptor di permukaan kulit dan dalam otot, sendi,
dan fasia dihantarkan melalui serabut saraf aferen ke sel ganglion radiks dorsalis,
dan kemudian melalui radiks posterior ke dalam medula spinalis. Didalam
funikulus posterior medula spinalis, serat saraf aferen yang berasal dari anggota
tubuh bagian bawah menempati posisi paling medial. Serat aferen dari anggota
tubuh bagian atas masuk ke medula pada level cervikal dan membentang lebih ke
lateral, jadi funikulus posterior terdiri dari dua kolom (Gambar 5) : bagian medial,
fasikulus grasilis dan lateral adalah fasikulus kuneatus. Fasikulus grasilis terdapat
disepanjang medula spinalis dan berisi serabut panjang asendens dari nervus
spinalis sakralis, lumbalis, dan enam torakal bagian bawah. Fasikulus kuneatus
berisi serabut panjang asendens dari enam nervus spinalis torakal bagian atas dan
nervus spinalis servikalis.1,3
Gambar 5. Fasikulus grasilis dan fasikulus kuneatus4

Serat ini akan berjalan ke atas medula spinalis hingga mencapai medula
oblongata paling bawah (kaudal) kemudian bersinaps di nukleus grasilis dan
nukleus kuneatus. Nukleus kolumnal posterior ini merupakan neuron kedua, yang
akan memproyeksikan aksonnya ke talamus. Kemudian seluruh serat itu
menyilang pada garis tengah, dan membentuk lemniskus medial, yang akan
berjalan lagi ke atas menuju medula, pons dan midbrain dan berakhir dan
bersinaps pada nukleus ventral posterolateral dari talamus (VPL). Serat tersebut
lalu memasuki kapsula interna (sebelah posterior traktus piramidal) dan melalui
korona radiata berjalan ke korteks somatosensori primer pada girus
postsentralis.1,4
Gambar 6. Traktus Dorsal Column Medial Lemniscus5
V. Pemeriksaan sistem sensorik diskriminatif dan propioseptik
Pemeriksaan sensori propioseptik berupa pemeriksaan getar, tes romberg,
tes rasa gerak atau posisi sendi, dan nyeri tekan dalam.6
a. Pemeriksaan getar
Pemeriksaan menggunakan garpu tala 128 Hz (dapat mengaktifkan
reseptor di kulit paling banyak) dan garpu tala 256 Hz yang khusus
dapat merangsang korpuskulum Pacini. Garpu tala digetarkan
kemudian diletakkan pada daerah dengan tulang yang menonjol seperti
pergelangan tangan, pergelangan kaki, ruas ruas jari tangan dan kaki,
bagian lateral klavikula, lutut, tibia, panggul, prosesus spinosus
vertebra. Kemudian bandingkan antara kanan dan kiri pada area yang
sama. Cara lain dapat menghitung lamanya pasien masih merasa
getaran tersebut.
b. Pemeriksaan nyeri tekan dalam (deep pain)
Pemeriksaan dengan cara menekan tendo achiles dan testis.
c. Tes rasa gerak atau posisi
Mata pasien dalam keadaan tertutup. Beberapa persendian akan
diperiksa untuk tes posisi, biasnaya pada persendian metatarsal/carpal-
phalangeal ibu jari dan telunjuk. Pemeriksa memegang bagian sisi
samping dari jari pasien yang akan diperiksa, kemudian jari-jari
tersebut digerakkan ke atas dan ke bawah. Pasien diminta mengenal
gerakan jarinya tersebut.
d. Tes Romberg
Pasien diminta berdiri dengan tumit kaki kanan dan jari-jari kaki kiri
berada pada satu garis lurus dan kedua lengan ekstensi ke depan.
Kemudian pasien diminta menutup matanya. Bila ada gangguan
propioseptik pada kaki maka penderita akan jatuh pada satu sisi.

Pemeriksaan sistem sensorik diskriminatif dapat berupa pemeriksaan two


point tactile discrimination, stereognosis, graphesthesia dan barognosis.6
a. Pemeriksaan two point tactile discrimination
Pemeriksaan dilakukan perangsangan dengan 2 rangsangan tumpul
(jangka/jari tangan) secara bersamaan. Pasien diminta untuk
membedakan 2 rangsangan tersebut. Pemeriksaan dilakukan pada
kedua sisi bagian tubuh. Pada orang normal dapat membedakan 2 titik
rangsangan yang berbeda lokasinya.
b. Pemeriksaan graphesthesia
Pasien diperiksa dengan mata tertutup. Pemeriksaan dilakukan dengan
cara menulis beberapa angka pada kulit bagian tubuh yang berbeda-
beda. Pasien diminta untuk menyebutkan angka yang digoreskan
tersebut. Pemeriksaan dilakukan pada kedua sisi yang sama bagian
tubuh pasien.
c. Pemeriksaan stereognosia
Pasien disuruh menutup matanya, lalu letakkan benda yang telah
dikenalnya seperti kunci atau koin di tangannya dan minta ia untuk
menyebutkan benda tersebut.
d. Pemeriksaan barognosia
Kemampuan untuk mengenal berat benda. Pasien diminta menutup
mata. Pemeriksaan dilakukan dengan benda yang bentuk dan
ukurannya sama, terbuat dari berat yang sama namun beratnya
berbeda. Lalu pasien diminta untuk membedakannya

VI. Lesi pada traktus DC-ML


DC-ML terutama mentransmisikan impuls yang datang dari propioseptor
dan reseptor kutaneus. Jika traktus ini mengalami disfungsi, seseorang tidak dapat
merasakan posisi badannya, juga tidak bisa mengenali objek yang berada di
tangan melalui sentuhan atau mengidentifikasi angka atau huruf yang
digambarkan jari pemeriksa pada telapak tangan. Kemampuan untuk membedakan
dua rangsangan yang dihantarkan secara simultan pada tubuh tidak dapat lagi
dilakukan. Rasa tekan juga terganggu, lantai tidak lagi terasa terinjak pada kaki,
sehingga baik sikap dan gait jadi terganggu (gait ataxia), khususnya dalam gelap
atau dengan mata tertutup. Tanda-tanda dari kelainan kolumnal posterior biasanya
terjadi jika ada lesi pada kolumnal posterior tersebut, tapi bisa juga lesi pada
nukleus kolumnal posterior, medial lemniskus, talamus, dan girus post sentralis.
Lesi pada dorsal column di medula spinalis akan menyebabkan gangguan pada
sisi yang sama dengan lesi; setelah penyilangan di bagian bawah medula
oblongata, setiap lesi pada medial lemniscus akan menimbulkan defisit pada
bagian tubuh yang berlawanan.3,4

Tanda-tanda klinis lesi pada DC-ML:4


1. Hilangnya rasa tentang posisi dan pergerakan (sensasi kinestetik) : pasien
tidak dapat menentukan posisi tubuhnya tanpa melihat.
2. Astereognosis : pasien tidak dapat mengenali dan menyebutkan objek dari
bentuk dan beratnya dengan menggunakan sensasi sentuhan saja.
3. Agraphesthesia : pasien tidak dapat mengenali dengan sentuhan sebuah
angka atau huruf yang digambarkan di telapak tangannya oleh pemeriksa.
4. Kehilangan diskriminasi dua titik.
5. Kehilangan sensasi getaran : pasien tidak dapat merasakan getaran garpu
tala yang ditempatkan di tulang.
6. Tanda Romberg positif : pasien tidak dapat berdiri untuk beberapa saat
dengan kaki rapat dan mata tertutup tanpa bergoyang-goyang atau terjatuh.
DAFTAR PUSTAKA

1. Snell RS. Neuroanatomi Klinik. Edisi kelima. Jakarta: EGC ; 2006. p 150-
210.

2. Schneck C. Neuroanatomy. The Osler Institute. 2005. p 1-6.

3. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi kedua. Jakarta:


EGC; 2001. p 149-155.

4. Frotscher M, Baehr M. Duus. Topical Diagnosis in Neurology. 4th


completely revised edition. Stuttgart: Thieme ; 2005. p.18-53.

5. Noback CR, Strominger NL, Demarest RJ, Ruggiero DA. The Human
Nervous System Structure and Function. 6th Ed. Humana Press Totowa, New
Jersey ; 2005. p.178.

6. Bickley LS. Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan.
Edisi kedelapan. Jakarta : EGC ; 2009. p 545-604.