Anda di halaman 1dari 61

STRUKTUR BAJA DASAR

DESAIN STRUKTUR KOMPONEN TARIK

Didalam modul ini yang dibahas adalah komponen struktur yang menahan gaya aksial
tarik dengan titik tangkap gaya pada titik berat penampang

KELANGSINGAN :
SNI pasal D1 :
Tidak ada batasan kelangsingan maksimum untuk komponen struktur tarik.
Disarankan rasio kelangsingan :
L
300
r
dimana :
L = panjang komponen
r = jari-jari kelembaman (girasi)

Saran ini tidak berlaku untuk batang atau gantungan yang mengalami gaya tarik

KEKUATAN :
SNI pasal D2 :
Kekuatan tarik desain t * Pn dan kekuatan tarik tersedia Pn / t dari komponen
struktur merupakan nilai terendah yang diperoleh dari keadaan batas leleh tarik pada
penampang bruto dan keruntuhan tarik pada penampang neto, yaitu :
1). Leleh tarik pada penampang bruto :
Pn = Fy * Ag
DFBK : t = 0,90
DKI : t = 1,67
2). Keruntuhan, putus atau fraktur pada penampang neto efektif :
Pn = Fu * Ae
DFBK : t = 0,75
DKI : t = 2,00

KOMPONEN TARIK 1
STRUKTUR BAJA DASAR

dimana :
Pn = kekuatan nominal komponen tarik (N)
Ag = luas penampang bruto komponen struktur (mm2)
Ae = luas penampang neto efektif (mm2)
Fy = tegangan leleh minimum yang disyaratkan (MPa)
Fu = kekuatan tarik minimum yang disyaratkan (MPa)

LUAS PENAMPANG :
SNI pasal B4.3 :
- Luas penampang bruto Ag dari komponen struktur adalah luas penampang
melintang total.
- Luas penampang neto An dari komponen struktur adalah jumlah hasil kali
ketebalan dan lebar neto dari setiap elemen yang dihitung sebagai berikut :

KOMPONEN TARIK 2
STRUKTUR BAJA DASAR

Dalam penghitungan luas penampang neto untuk tarik dan geser lebar lubang baut
1
harus diambil sebesar in ( 2 mm) lebih besar dari dimensi nominal lubang,
16
yaitu :

Lebar lubang baut = diameter nominal lubang + 2 mm

Sedangkan besarnya dimensi nominal lubang tergantung dari diameter baut yang
digunakan, yaitu sebagai berikut : (SNI pasal J3.2)
Diameter nominal lubang = diameter baut + 2 mm
untuk baut dengan diameter 22
= diameter baut + 3 mm
untuk baut dengan diameter 24

Tabel Diameter Nonimal Lubang (SNI tabel J3.3M)

KOMPONEN TARIK 3
STRUKTUR BAJA DASAR

wn = wg lebar lubang baut


An = wn * t
atau : An = Ag Ah
dimana :
wn = lebar neto
wg = lebar bruto
t = tebal elemen
An = luas neto
Ag = luas bruto

KOMPONEN TARIK 4
STRUKTUR BAJA DASAR

Ah = luas lubang perlemahan akibat baut


= lebar lubang baut * t
= n * (dnominal lubang + 2 mm) * t
n = jumlah (banyaknya) lubang
untuk gambar a di atas : n = 1
untuk gambar b :n=2

Untuk rangkaian lubang diagonal (zig-zag) :

s (= stagger) = pusat-ke-pusat longitudinal dari setiap dua lubang berurutan


g (= gage) = pusat-ke-pusat transversal antara garis sarana penyambung

s2
wn = wg lebar lubang baut +
4*g

s2 * t
An = Ag Ah + 4*g
Untuk komponen struktur tanpa lubang An = Ag
- Luas penampang neto pada profil :
Penampang profil diekuivalenkan menjadi satu pelat rata vertikal

g1

g
g2

tebal = t g = g1 + g2 - t

KOMPONEN TARIK 5
STRUKTUR BAJA DASAR

g1
g = g1+ g2 - tw
g2

tw

g1
g1 t
g= + g2 w
g2 2 2

tw

SHEAR LAG FACTOR (U) :


Baut dan las mentransfer gaya pada luasan yang lebih kecil pada sambungan
sehingga akan menimbulkan konsentrasi tegangan pada beberapa titik di dalam
penampang. Disamping itu eksentrisitas pada sambungan juga akan menimbulkan
tegangan tambahan yang diakibatkan adanya momen.
Jauh di luar sambungan tegangan yang terjadi pada penampang berupa tegangan
yang terbagi merata.

KOMPONEN TARIK 6
STRUKTUR BAJA DASAR

Untuk memperhitungkan adanya tambahan tegangan ini yang diakibatkan oleh


konsentrasi tegangan dan eksentrisitas pada sambungan maka digunakan suatu
koefisien yaitu U (shear lag factor), yang dinyatakan dengan rasio antara luas neto
efektif (Ae) dan luas neto (An).
Ae
U=
An
Selanjutnya ditulis :
SNI pasal D3 :
Ae = U * An
untuk komponen tarik dengan sambungan baut : Ae = U * An
untuk komponen tarik dengan sambungan las : Ae = U * Ag

Besarnya U :
- SNI pasal D3 :
Untuk profil melintang terbuka dan siku tunggal dan siku ganda, faktor shear lag U
tidak perlu lebih kecil dari rasio luas bruto elemen yang disambung terhadap luas
bruto komponen struktur.
Ketentuan ini tidak berlaku pada penampang tertutup, misalnya profil struktur
berongga (PSB) atau untuk pelat.
- SNI tabel D3.1 :

KOMPONEN TARIK 7
STRUKTUR BAJA DASAR

KOMPONEN TARIK 8
STRUKTUR BAJA DASAR

KOMPONEN TARIK 9
STRUKTUR BAJA DASAR

CONTOH SOAL :

1). Hitunglah An dan Ae pada pelat dengan lebar 360 mm dan tebal 12 mm yang
mengalami gaya tarik dengan lubang-lubang baut berseling di bawah ini :

65

55
75

100

75 Baut M20
55

Solusi :
- Perhitungan diameter lubang baut :
db = 20 mm dnominal lubang = dh = db + 2 mm
untuk baut dengan diameter 22
= 20 + 2
= 22 mm
Diameter (lebar) lubang baut = de = dh + 2 mm
= 22 + 2
= 24 mm
- Perhitungan luas neto untuk seluruh pola potongan melintang :
Karena konfigurasi simetri maka beberapa pola memiliki lebar efektif yang
identik sehingga tidak perlu dihitung.
b = 360 mm
tp = 12 mm
s = 65 mm
g1 = 75 mm
g2 = 100 mm

KOMPONEN TARIK 10
STRUKTUR BAJA DASAR

lebar netto :
wn = wg lebar lubang baut
= b - de
s2
untuk lubang diagonal (zig zag) : wn = wg lebar lubang baut +
4*g

s2
= b - de +
4*g
Pola 1 : A-B-E-F : wn1 = b 2 * de
= 360 2 * 24
= 312 mm

65

55
75

100

75

55

s2
Pola 2 : A-B-C-D-E-F : wn2 = b 4 * de + 2 *
4 * g1

65 2
= 360 4 * 24 + 2 *
4 * 75
= 292,167 mm

KOMPONEN TARIK 11
STRUKTUR BAJA DASAR

65

55
75

100

75

55

s2
Pola 3 : A-B-C-D-G : wn3 = b 3 * de +
4 * g1

65 2
= 360 3 * 24 +
4 * 75
= 302,083 mm

65

55
75

100

75

55

s2 s2
Pola 4 : A-B-D-E-F : wn4 = b 3 * de + +
4 * g1 4(g 1 + g 2 )

65 2 65 2
= 360 3 * 24 + +
4 * 75 4(75 + 100)
= 308,119 mm

KOMPONEN TARIK 12
STRUKTUR BAJA DASAR

65

55
75

100

75

55

Dari keempat harga wn tersebut maka nilai wn yang digunakan = wn min (wn1, wn2,
wn3, wn4) = 292,167 mm pola 2
An = wn min * tp
= 292,167 * 12
= 3506,004 mm2
Atau menggunakan rumus :
An = Ag Ah
= Ag lebar lubang baut * t
untuk lubang diagonal (zig zag) :
s2 * t
An = Ag Ah +
4*g

s2 * t
= Ag de * t + 4*g
Ag = b * tp
= 360 * 12
= 4320 mm2
Pola 1 : A-B-E-F : An1 = Ag 2 * de * t
= 4320 2 * 24 * 12
= 3744 mm2
s2 * t
Pola 2 : A-B-C-D-E-F : An2 = Ag 4 * de * t + 2 *
4 * g1

65 2 * 12
= 4320 4 * 24 * 12 + 2 *
4 * 75
= 3506 mm2

KOMPONEN TARIK 13
STRUKTUR BAJA DASAR

s2 * t
Pola 3 : A-B-C-D-G : An3 = Ag 3 * de * t +
4 * g1

65 2 * 12
= 4320 3 * 24 * 12 +
4 * 75
= 3625 mm2
s2 * t s2 * t
Pola 4 : A-B-D-E-F : An4 = Ag 3 * de * t + +
4 * g 1 4(g 1 + g 2 )

65 2 * 12 65 2 * 12
= 4320 3 * 24 * 12 + +
4 * 75 4(75 + 100)
= 3697,429 mm2
Dari keempat harga An tersebut maka nilai An yang digunakan = An min (An1,
An2, An3, An4) = 3506 mm2 pola 2

- Perhitungan luas neto efektif :


SNI tabel D3.1 kasus 1 :

Beban tarik disalurkan oleh seluruh elemen melalui baut.


Karena komponen terdiri dari satu elemen saja maka berarti beban tarik
disalurkan oleh seluruh elemen, maka U = 1
SNI Pasal D3 :
Ae = U * An
= 1 * 3506
= 3506 mm2

2). Suatu profil siku 100x100x13 dengan Fy = 250 MPa dan Fu = 410 MPa digunakan
untuk menahan gaya tarik sebesar 90 kN akibat beban mati dan 270 kN akibat
beban hidup.

KOMPONEN TARIK 14
STRUKTUR BAJA DASAR

L 100x100x13

35 3 @ 80

Lubang standar baut M20

Periksalah kekuatan komponen tarik tersebut dengan metode DFBK dan DKI, jika
pada ujung komponen terdapat sambungan baut seperti terlihat pada gambar.
Hitung pula panjang maksimum komponen tersebut agar memenuhi persyaratan
kelangsingan.
Diasumsikan jumlah baut mencukupi untuk memikul beban yang bekerja.
Solusi :
Data penampang profil siku 100x100x13 :

Dari tabel profil didapat : Ag = 2431 mm2


t = 13 mm
ix = iy = 30 mm
iu = 37,8 mm
iv = 19,4 mm (= imin)
cx = cy = 29,4 mm (= x )

KOMPONEN TARIK 15
STRUKTUR BAJA DASAR

a. Perhitungan kombinasi pembebanan :


Kombinasi pembebanan untuk menghitung kekuatan tarik perlu adalah :

DFBK DKI

Pu = 1,2 * PD + 1,6 * PL Pa = PD + PL
= 1,2 * 90 + 1,6 * 270 = 90 + 270
= 540 kN = 360 kN

b. Pemeriksaan kekuatan leleh tarik pada penampang bruto :


Pny = Fy * Ag
= 250 * 2431
= 607750 N
= 607,750 kN

DFBK DKI

ty * Pny = 0,90 * Fy * Ag Pny / ty = Fy * Ag / 1,67


= 0,90 * 607,750 = 607,750 / 1,67
= 546,975 kN > Pu = 363,922 kN > Pa
> 540 ok > 360 ok

c. Pemeriksaan kekuatan putus tarik pada penampang neto :


Nilai shear lag factor (= U) diambil nilai yang terbesar dari harga-harga
berikut ini :
- SNI pasal D3 :
Untuk profil melintang terbuka dan siku tunggal dan siku ganda, faktor shear
lag U tidak perlu lebih kecil dari rasio luas bruto elemen yang disambung
terhadap luas bruto komponen struktur.
Karena penampang berupa siku sama kaki yang disambung pada salah satu
kaki, maka : U = 0,50 (= U1)
- SNI tabel D3.1 kasus 2 :

KOMPONEN TARIK 16
STRUKTUR BAJA DASAR

x
U=1-

29,4
=1-
3 * 80
= 0,8775 (= U2)
- SNI tabel D3.1 kasus 8 :

Siku tunggal dengan 4 atau lebih sarana penyambung per baris dalam arah
pembebanan, maka U = 0,80 (= U3)

Dari ketiga harga U tersebut maka nilai shear lag factor U yang digunakan =
Umaks (U1, U2, U3) = 0,8775
Menghitung harga An :
db = 20 mm dnominal lubang = dh = db + 2 mm
untuk baut dengan diameter 22

KOMPONEN TARIK 17
STRUKTUR BAJA DASAR

= 20 + 2
= 22 mm
Untuk perhitungan An untuk memikul tarik dan geser :
Lebar lubang baut = de = dh + 2 mm
An = Ag (dh + 2) * t
= 2431 (22 + 2) * 13
= 2119 mm2
Ae = An * U
= 2119 * 0,8775
= 1859,423 mm2
Pnr = Fu * Ae
= 410 * 1859,423
= 762363,43 N
= 762,363 kN

DFBK DKI

tr * Pnr = 0,75 * Fu * Ae Pnr / tr = Fu * Ae / 2,00


= 0,75 * 762,363 = 762,363 / 2,00
= 571,772 kN > Pu = 381,182 kN > Pa
> 540 ok > 360 ok

d. DFBK : kekuatan leleh tarik = 546,975 kN


kekuatan putus tarik = 571,772 kN
> kekuatan tarik perlu = 540 kN
DKI : kekuatan leleh tarik = 363,922 kN
kekuatan putus tarik = 381,182 kN
> kekuatan tarik perlu = 360 kN
Jadi komponen kuat menahan beban aksial tarik
Karena kekuatan leleh tarik < kekuatan putus tarik maka yang menentukan
adalah kekuatan leleh tarik.
e. Panjang batang maksimum Lmaks :
SNI pasal D1 :
L
300
r

KOMPONEN TARIK 18
STRUKTUR BAJA DASAR

Lmaks = 300 * rmin (= imin) = iv = 19,4 mm


= 300 * 19,4
= 5820 mm

3). Profil IWF 200x100x5,5x8 dengan Fy = 250 MPa dan Fu = 410 MPa digunakan
untuk menahan gaya tarik sebesar 90 kN akibat beban mati dan 270 kN akibat
beban hidup. Panjang batang tarik 6,5 m.

Lubang standar baut M16 30 3@80

IWF 200x100x5,5x8

Periksalah kekuatan komponen tarik tersebut dengan metode DFBK dan DKI, jika
pada ujung komponen terdapat sambungan baut seperti terlihat pada gambar.
Periksalah pula apakah profil tersebut memenuhi persyaratan kelangsingan.
Diasumsikan jumlah baut mencukupi untuk memikul beban yang bekerja.
Solusi :
Data penampang profil IWF 200x100x5,5x8 :

KOMPONEN TARIK 19
STRUKTUR BAJA DASAR

Dari tabel profil didapat : Ag = 2716 mm2


d = 200 mm
bf = 100 mm
tf = 8 mm
tw = 5,5 mm
ix = 82,4 mm
iy = 22,2 mm (= imin)
a. Perhitungan kombinasi pembebanan :
Kombinasi pembebanan untuk menghitung kekuatan tarik perlu adalah :

DFBK DKI

Pu = 1,2 * PD + 1,6 * PL Pa = PD + PL
= 1,2 * 90 + 1,6 * 270 = 90 + 270
= 540 kN = 360 kN

b. Pemeriksaan kekuatan leleh tarik pada penampang bruto :


Pny = Fy * Ag
= 250 * 2716
= 679000 N
= 679 kN

KOMPONEN TARIK 20
STRUKTUR BAJA DASAR

DFBK DKI

ty * Pny = 0,90 * Fy * Ag Pny / ty = Fy * Ag / 1,67


= 0,90 * 679 = 679 / 1,67
= 611,1 kN > Pu = 406,587 kN > Pa
> 540 ok > 360 ok

c. Pemeriksaan kekuatan putus tarik pada penampang neto :


Nilai shear lag factor (= U) diambil nilai yang terbesar dari harga-harga
berikut ini :
- SNI pasal D3 :
Untuk profil melintang terbuka dan siku tunggal dan siku ganda, faktor shear
lag U tidak perlu lebih kecil dari rasio luas bruto elemen yang disambung
terhadap luas bruto komponen struktur.
Karena penampang berupa penampang I yang disambung pada kedua
sayapnya, maka :
2 * bf * t f
U=
Ag

2 * 100 * 8
=
2716
= 0,589 (= U1)
- SNI tabel D3.1 kasus 2 :

KOMPONEN TARIK 21
STRUKTUR BAJA DASAR

(rumus pendekatan mencari x apabila jari-jari kelengkungan profil


diabaikan).
Dalam hal ini untuk mencari x bisa dipandang setengah profil IWF, yaitu
berupa profil T , dimana d = 200 / 2 = 100

x =dy
= 100 71,7
= 28,3 mm
x
U=1-

28,3
=1-
3 * 80
= 0,882 (= U2)
- SNI tabel D3.1 kasus 7 :

Sayap disambungkan dengan 3 atau lebih sarana penyambung per baris di


arah pembebanan.
bf = 100 mm

KOMPONEN TARIK 22
STRUKTUR BAJA DASAR

2 2
* d = * 200
3 3
= 133,333 mm
2
bf < * d U = 0,85 (= U3)
3
Dari ketiga harga U tersebut maka nilai shear lag factor U yang digunakan =
Umaks (U1, U2, U3) = 0,882
Menghitung harga An :
db = 16 mm dnominal lubang = dh = db + 2 mm
untuk baut dengan diameter 22
= 16 + 2
= 18 mm
Untuk perhitungan An untuk memikul tarik dan geser :
Lebar lubang baut = de = dh + 2 mm
An = Ag 4 * (dh + 2) * tf
= 2716 4 * (18 + 2) * 8
= 2076 mm2
Ae = An * U
= 2076 * 0,882
= 1831,032 mm2
Pnr = Fu * Ae
= 410 * 1831,032
= 750723,12 N
= 750,723 kN

DFBK DKI

tr * Pnr = 0,75 * Fu * Ae Pnr / tr = Fu * Ae / 2,00


= 0,75 * 750,723 = 750,723 / 2,00
= 563,042 kN > Pu = 375,362 kN > Pa
> 540 ok > 360 ok

d. DFBK : kekuatan leleh tarik = 611,1 kN


kekuatan putus tarik = 563,042 kN
> kekuatan tarik perlu = 540 kN

KOMPONEN TARIK 23
STRUKTUR BAJA DASAR

DKI : kekuatan leleh tarik = 406,587 kN


kekuatan putus tarik = 375,362 kN
> kekuatan tarik perlu = 360 kN
Jadi komponen kuat menahan beban aksial tarik
Karena kekuatan putus tarik < kekuatan leleh tarik maka yang menentukan
adalah kekuatan putus tarik.
e. Pemeriksaan kelangsingan :
SNI pasal D1 :
L
300
r
Lmaks = 300 * rmin (= imin) = iy = 22,2 mm
= 300 * 22,2
= 6660 mm > L = 6500 mm
komponen memenuhi syarat kelangsingan

4). Suatu profil siku ganda 2L 100x100x13 dengan Fy = 250 MPa dan Fu = 410 MPa
digunakan untuk menahan gaya tarik sebesar 180 kN akibat beban mati dan 540
kN akibat beban hidup. Panjang batang tarik 7,5 m.

Pelat buhul
10 mm
2L 100x100x13
35 5 @ 70

Periksalah kekuatan komponen tarik tersebut dengan metode DFBK dan DKI, jika
pada ujung komponen terdapat sambungan baut berdiameter 20 mm dengan
susunan seperti terlihat pada gambar. Periksalah pula apakah profil tersebut
memenuhi persyaratan kelangsingan.
Diasumsikan kekuatan pelat buhul dan jumlah baut mencukupi untuk memikul
beban yang bekerja.

KOMPONEN TARIK 24
STRUKTUR BAJA DASAR

Solusi :
Data penampang profil siku 100x100x13 :
Dari tabel profil didapat : Ag = 2431 mm2
Ix = Iy = 2200000 mm4
t = 13 mm
ix = iy = 30 mm
cx = cy = 29,4 mm (= x )
Dobel siku 2L 100x100x13 dengan s = 10 mm :
Ag = 2 * 2431 mm2
= 4862 mm2
Ix = 2 * 2200000 mm4
= 4400000 mm4
Ix
ix =
Ag

4400000
=
4862
= 30,083 mm (= ix untuk L 100x100x13)
s
Iy = 2 * [Iy L 100x100x13 + Ag L 100x100x13 * ( + cy)2]
2
10
= 2 * [2200000 + 2431 * ( + 29,4) 2 ]
2
= 10153496,32 mm4

Iy
iy =
Ag

10153496,32
=
4862
= 45,698 mm
imin = ix = 30 mm

a. Perhitungan kombinasi pembebanan :


Kombinasi pembebanan untuk menghitung kekuatan tarik perlu adalah :

KOMPONEN TARIK 25
STRUKTUR BAJA DASAR

DFBK DKI

Pu = 1,2 * PD + 1,6 * PL Pa = PD + PL
= 1,2 * 180 + 1,6 * 540 = 180 + 540
= 1080 kN = 720 kN

b. Pemeriksaan kekuatan leleh tarik pada penampang bruto :


Pny = Fy * Ag
= 250 * 4862
= 1215500 N
= 1215,500 kN

DFBK DKI

ty * Pny = 0,90 * Fy * Ag Pny / ty = Fy * Ag / 1,67


= 0,90 * 1215,500 = 1215,500 / 1,67
= 1093,95 kN > Pu = 727,844 kN > Pa
> 1080 ok > 720 ok

c. Pemeriksaan kekuatan putus tarik pada penampang neto :


Nilai shear lag factor (= U) diambil nilai yang terbesar dari harga-harga
berikut ini :
- SNI pasal D3 :
Untuk profil melintang terbuka dan siku tunggal dan siku ganda, faktor shear
lag U tidak perlu lebih kecil dari rasio luas bruto elemen yang disambung
terhadap luas bruto komponen struktur.
Karena penampang berupa siku ganda sama kaki yang masing-masing
disambung pada salah satu kaki, maka : U = 0,50 (= U1)
- SNI tabel D3.1 kasus 2 :

KOMPONEN TARIK 26
STRUKTUR BAJA DASAR

x
U=1-

29,4
=1-
5 * 70
= 0,916 (= U2)
- SNI tabel D3.1 kasus 8 :

Siku ganda dengan 4 atau lebih sarana penyambung per baris dalam arah
pembebanan, maka U = 0,80 (= U3)

Dari ketiga harga U tersebut maka nilai shear lag factor U yang digunakan =
Umaks (U1, U2, U3) = 0,916
Menghitung harga An :
db = 20 mm dnominal lubang = dh = db + 2 mm
untuk baut dengan diameter 22
= 20 + 2
= 22 mm
Untuk perhitungan An untuk memikul tarik dan geser :
Lebar lubang baut = de = dh + 2 mm
An = Ag 2 * (dh + 2) * t
= 4862 2 * (22 + 2) * 13
= 4238 mm2

KOMPONEN TARIK 27
STRUKTUR BAJA DASAR

Ae = An * U
= 4238 * 0,916
= 3882,008 mm2
Pnr = Fu * Ae
= 410 * 3882,008
= 1591623,28 N
= 1591,624 kN

DFBK DKI

tr * Pnr = 0,75 * Fu * Ae Pnr / tr = Fu * Ae / 2,00


= 0,75 * 1591,624 = 1591,624 / 2,00
= 1193,718 kN > Pu = 795,812 kN > Pa
> 1018 ok > 720 ok

d. DFBK : kekuatan leleh tarik = 1093,95 kN


kekuatan putus tarik = 1193,718 kN
> kekuatan tarik perlu = 1018 kN
DKI : kekuatan leleh tarik = 727,844 kN
kekuatan putus tarik = 795,812 kN
> kekuatan tarik perlu = 720 kN
Jadi komponen kuat menahan beban aksial tarik
Karena kekuatan leleh tarik < kekuatan putus tarik maka yang menentukan
adalah kekuatan leleh tarik.
e. Pemeriksaan kelangsingan :
SNI pasal D1 :
L
300
r
Lmaks = 300 * rmin (= imin) = ix = 30 mm
= 300 * 30
= 9000 mm > L = 7500 mm
komponen memenuhi syarat kelangsingan
atau :

KOMPONEN TARIK 28
STRUKTUR BAJA DASAR

L L
=
r ix

7500
=
30
= 250 300
komponen memenuhi syarat kelangsingan

5). Suatu profil T 100x200x8x12 dengan Fy = 250 MPa dan Fu = 410 MPa digunakan
untuk menahan gaya tarik sebesar 110 kN akibat beban mati dan 330 kN akibat
beban hidup. Panjang batang tarik 6 m.

300 mm
T 100x200x8x12

pelat buhul

320 mm

Periksalah kekuatan komponen tarik tersebut dengan metode DFBK dan DKI, jika
pada ujung komponen terdapat sambungan las sepanjang 300 mm seperti terlihat
pada gambar. Periksalah pula apakah profil tersebut memenuhi persyaratan
kelangsingan.
Diasumsikan kekuatan pelat buhul dan sambungan las mencukupi untuk memikul
beban yang bekerja.
Solusi :
Data penampang profil T 100x200x8x12 :

KOMPONEN TARIK 29
STRUKTUR BAJA DASAR

Dari tabel profil didapat : Ag = 3177 mm2


d = 100 mm
bf = 200 mm
tf = 12 mm
ix = 24,1 mm (= imin)
iy = 50,2 mm
y = 82,7 mm

a. Perhitungan kombinasi pembebanan :


Kombinasi pembebanan untuk menghitung kekuatan tarik perlu adalah :

DFBK DKI

Pu = 1,2 * PD + 1,6 * PL Pa = PD + PL
= 1,2 * 110 + 1,6 * 330 = 110 + 330
= 660 kN = 440 kN

b. Pemeriksaan kekuatan leleh tarik pada penampang bruto :


Pny = Fy * Ag
= 250 * 3177
= 794250 N
= 794,250 kN

KOMPONEN TARIK 30
STRUKTUR BAJA DASAR

DFBK DKI

ty * Pny = 0,90 * Fy * Ag Pny / ty = Fy * Ag / 1,67


= 0,90 * 794,250 = 794,250 / 1,67
= 714,825 kN > Pu = 475,599 kN > Pa
> 660 ok > 440 ok

c. Pemeriksaan kekuatan putus tarik pada penampang neto :


Nilai shear lag factor (= U) diambil nilai yang terbesar dari harga-harga
berikut ini :
- SNI pasal D3 :
Untuk profil melintang terbuka dan siku tunggal dan siku ganda, faktor shear
lag U tidak perlu lebih kecil dari rasio luas bruto elemen yang disambung
terhadap luas bruto komponen struktur.
Karena penampang berupa penampang T yang disambung pada sayapnya,
maka :
bf * t f
U=
Ag

200 * 12
=
3177
= 0,755 (= U1)
- SNI tabel D3.1 kasus 2 :

x =dy
= 100 82,7
= 17,3 mm
x
U=1-

KOMPONEN TARIK 31
STRUKTUR BAJA DASAR

17,3
=1-
300
= 0,942 (= U2)
Dari kedua harga U tersebut maka nilai shear lag factor U yang digunakan =
Umaks (U1, U2) = 0,942
Untuk komponen tarik dengan sambungan las :
SNI pasal B4.3 :
Komponen struktur tanpa lubang An = Ag
Ae = Ag * U
= 3177 * 0,942
= 2992,734 mm2
Pnr = Fu * Ae
= 410 * 2992,734
= 1227020,94 N
= 1227,021 kN

DFBK DKI

tr * Pnr = 0,75 * Fu * Ae Pnr / tr = Fu * Ae / 2,00


= 0,75 * 1227,021 = 1227,021 / 2,00
= 920,266 kN > Pu = 613,511 kN > Pa
> 660 ok > 440 ok

d. DFBK : kekuatan leleh tarik = 714,825 kN


kekuatan putus tarik = 920,266 kN
> kekuatan tarik perlu = 660 kN
DKI : kekuatan leleh tarik = 475,599 kN
kekuatan putus tarik = 613,511 kN
> kekuatan tarik perlu = 440 kN
Jadi komponen kuat menahan beban aksial tarik
Karena kekuatan leleh tarik < kekuatan putus tarik maka yang menentukan
adalah kekuatan leleh tarik.

KOMPONEN TARIK 32
STRUKTUR BAJA DASAR

e. Pemeriksaan kelangsingan :
L L
=
r ix

6000
=
24,1
= 248,963 300
komponen memenuhi syarat kelangsingan

6). Suatu profil tabung persegi panjang 180x100x10 dengan Fy = 250 MPa dan Fu =
410 MPa digunakan untuk menahan gaya tarik sebesar 150 kN akibat beban mati
dan 450 kN akibat beban hidup. Panjang batang tarik 7,5 m.

300 mm
PSB 180x100x10

320 mm
pelat buhul

Periksalah kekuatan komponen tarik tersebut dengan metode DFBK dan DKI, jika
pada ujung komponen terdapat sambungan las sepanjang 300 mm pada pelat
buhul dengan tebal 10 mm seperti terlihat pada gambar. Periksalah pula apakah
profil tersebut memenuhi persyaratan kelangsingan.
Diasumsikan kekuatan pelat buhul dan sambungan las mencukupi untuk memikul
beban yang bekerja.
Solusi :
Data penampang profil PSB 180x100x10 :

KOMPONEN TARIK 33
STRUKTUR BAJA DASAR

Dari tabel profil didapat : Ag = 4857 mm2


H = 180 mm
B = 100 mm
t = 10 mm
ix = 61,9 mm
iy = 38,9 mm (= imin)
a. Perhitungan kombinasi pembebanan :
Kombinasi pembebanan untuk menghitung kekuatan tarik perlu adalah :

DFBK DKI

Pu = 1,2 * PD + 1,6 * PL Pa = PD + PL
= 1,2 * 150 + 1,6 * 450 = 150 + 450
= 900 kN = 600 kN

b. Pemeriksaan kekuatan leleh tarik pada penampang bruto :


Pny = Fy * Ag
= 250 * 4857
= 1214250 N
= 1214,250 kN

KOMPONEN TARIK 34
STRUKTUR BAJA DASAR

DFBK DKI

ty * Pny = 0,90 * Fy * Ag Pny / ty = Fy * Ag / 1,67


= 0,90 * 1214,250 = 1214,250 / 1,67
= 1092,825 kN > Pu = 727,096 kN > Pa
> 900 ok > 600 ok

c. Pemeriksaan kekuatan putus tarik pada penampang neto :


Nilai shear lag factor (= U) diambil berikut ini :
- SNI tabel D3.1 kasus 6 :

B2 + 2 * B * H
x=
4(B + H)

100 2 + 2 * 100 * 180


=
4(100 + 180)
= 41,071 mm
= 300 mm
x
U=1-

41,071
=1-
300
= 0,863
Dengan adanya celah sebesar 2 mm antara profil tabung persegi dan pelat
buhul :
tp = 10 mm
An = Ag 2 * (tp + 2 mm) * t
= 4857 2 * (10 + 2) * 10
= 4617 mm2
Ae = An * U
= 4617 * 0,863
= 3984,471 mm2

KOMPONEN TARIK 35
STRUKTUR BAJA DASAR

Pnr = Fu * Ae
= 410 * 3984,471
= 1633633,11 N
= 1633,633 kN

DFBK DKI

tr * Pnr = 0,75 * Fu * Ae Pnr / tr = Fu * Ae / 2,00


= 0,75 * 1633,633 = 1633,633 / 2,00
= 1225,225 kN > Pu = 816,817 kN > Pa
> 900 ok > 600 ok

d. DFBK : kekuatan leleh tarik = 1092,825 kN


kekuatan putus tarik = 1225,225 kN
> kekuatan tarik perlu = 900 kN
DKI : kekuatan leleh tarik = 727,096 kN
kekuatan putus tarik = 816,817 kN
> kekuatan tarik perlu = 600 kN
Jadi komponen kuat menahan beban aksial tarik
Karena kekuatan leleh tarik < kekuatan putus tarik maka yang menentukan
adalah kekuatan leleh tarik.
e. Pemeriksaan kelangsingan :
L L
=
r ix

7500
=
38,9
= 192,802 300
komponen memenuhi syarat kelangsingan

KOMPONEN TARIK 36
STRUKTUR BAJA DASAR

KEKUATAN RUNTUH GESER BLOK (BLOCK SHEAR) PADA


SAMBUNGAN UJUNG KOMPONEN STRUKTUR TARIK
(SNI pasal J4.3)
Pada komponen tarik tahanan komponen tersebut tidak selalu ditentukan oleh
kekuatan leleh tarik (Fy * Ag) atau putus tariknya (Fu * Ae) tetapi kadang ditentukan
oleh kondisi batas sobek pada daerah sambungan.

Geser blok pada komponen tarik profil I yang disambungkan pada kedua sayapnya :

KOMPONEN TARIK 37
STRUKTUR BAJA DASAR

KOMPONEN TARIK 38
STRUKTUR BAJA DASAR

Geser blok pada komponen tarik berupa pelat :

Kekuatan nominal blok ujung :


SNI pasal J4.3 :

Rn = 0,60 * Fu * Anv + Ubs * Fu * Ant 0,60 * Fy * Agv + Ubs * Fu * Ant

Fu = kekuatan tarik minimum yang disyaratkan (MPa)


Fy = tegangan leleh minimum yang disyaratkan (MPa)
Agv = luas bruto penahan geser
Anv = luas neto penahan geser
Ant = luas neto penahan tarik

Agv = L * t

Anv = (L 2,5 * de) * t

Ant = (H 0,5 * de) * t


H
de
t
L

KOMPONEN TARIK 39
STRUKTUR BAJA DASAR

Tegangan tarik yang terjadi pada penampang neto tidak selalu seragam (terbagi
merata). Oleh sebab itu dalam persamaan geser blok disisipkan faktor Ubs yang
gunanya untuk mengantisipasi timbulnya tegangan tarik tidak seragam pada luas
neto penahan tarik.
Ubs = 1 apabila tegangan tarik yang timbul bersifat seragam (terbagi rata)
Ubs = 0,5 apabila tegangan tarik yang timbul bersifat tidak seragam

(Ubs = 1) (Ubs = 0,5)

(untuk lebih lengkapnya lihat AISC Fig. C-J4.2. Block shear tensile stress
distributions)

DFBK : Ru * Rn
= 0,75
Rn
DKI : Ra

= 2,00

KOMPONEN TARIK 40
STRUKTUR BAJA DASAR

CONTOH SOAL :
Suatu komponen tarik dari profil siku L 150x90x12 dengan Fy = 250 MPa dan Fu
= 410 MPa disambung pada pelat buhul pada kaki panjangnya dengan 3 buah baut
M20.

90

60

50 2 * 100

Periksalah kekuatan geser blok komponen tarik tersebut dengan metode DFBK
dan DKI. Periksalah pula kekuatan leleh tarik dan putus tariknya.
Solusi :
Data penampang profil siku 150x90x12 :

Dari tabel profil didapat : Ag = 2750 mm2


t = 12 mm
ix = 47,7 mm
iy = 24,9 mm
iu = 50,2 mm
iv = 19,3 mm (= imin)
cx = 50,8 mm
cy = 21,1 mm (= x )

KOMPONEN TARIK 41
STRUKTUR BAJA DASAR

d. Pemeriksaan kekuatan geser blok :


Menghitung harga An :
db = 20 mm dnominal lubang = dh = db + 2 mm
untuk baut dengan diameter 22
= 20 + 2
= 22 mm
Untuk perhitungan An untuk memikul tarik dan geser :
Lebar lubang baut = de = dh + 2 mm
= 22 + 2
= 24 mm

Agv = L * t

Anv = (L 2,5 * de) * t

Ant = (H 0,5 * de) * t


H = 60
de = 24 t = 12
L = 50 + 100 + 100 = 250

Agv = luas bruto penahan geser


= 250 * 12
= 3000 mm2
Anv = luas neto penahan geser
= [250 (2,5 * 24)] * 12
= 2280 mm2
Ant = luas neto penahan tarik
= [60 (0,5 * 24)] * 12
= 576 mm2
Rn = 0,60 * Fu * Anv + Ubs * Fu * Ant
= 0,60 * 410 * 2280 + 1,0 * 410 * 576
= 796960 N
= 796,960 kN

KOMPONEN TARIK 42
STRUKTUR BAJA DASAR

Dengan syarat Rn :
0,60 * Fy * Agv + Ubs * Fu * Ant = 0,60 * 250 * 3000 + 1,0 * 410 * 576
= 686160 N
= 686,160 kN
dipakai Rn = 686,160 kN

DFBK DKI

* Rn = 0,75 * 686,160 Rn / = 686,160 / 2,00


= 514,620 kN = 343,080 kN

e. Pemeriksaan kekuatan leleh tarik pada penampang bruto :


Pny = Fy * Ag
= 250 * 2750
= 687500 N
= 687,500 kN

DFBK DKI

ty * Pny = 0,90 * Fy * Ag Pny / ty = Fy * Ag / 1,67


= 0,90 * 687,500 = 687,500 / 1,67
= 618,750 kN = 411,677 kN

f. Pemeriksaan kekuatan putus tarik pada penampang neto :


Nilai shear lag factor (= U) diambil nilai yang terbesar dari harga-harga
berikut ini :
- SNI pasal D3 :
Untuk profil melintang terbuka dan siku tunggal dan siku ganda, faktor shear
lag U tidak perlu lebih kecil dari rasio luas bruto elemen yang disambung
terhadap luas bruto komponen struktur.
Karena penampang berupa siku tidak sama kaki yang disambung hanya pada
salah satu kaki, yaitu pada kaki panjangnya maka :
150 * 12
U=
2750
= 0,655 (= U1)
- SNI tabel D3.1 kasus 2 :

KOMPONEN TARIK 43
STRUKTUR BAJA DASAR

x
U=1-

21,1
=1-
2 * 100
= 0,895 (= U2)
- SNI tabel D3.1 kasus 8 :

Siku tunggal dengan 3 sarana penyambung per baris dalam arah


pembebanan, maka U = 0,60 (= U3)

Dari ketiga harga U tersebut maka nilai shear lag factor U yang digunakan =
Umaks (U1, U2, U3) = 0,895

An = Ag (dh + 2) * t
= 2750 (22 + 2) * 12

KOMPONEN TARIK 44
STRUKTUR BAJA DASAR

= 2462 mm2
Ae = An * U
= 2462 * 0,895
= 2203,490 mm2
Pnr = Fu * Ae
= 410 * 2203,490
= 903430,9 N
= 903,431 kN

DFBK DKI

tr * Pnr = 0,75 * Fu * Ae Pnr / tr = Fu * Ae / 2,00


= 0,75 * 903,431 = 903,431 / 2,00
= 677,573 kN = 451,716 kN

DFBK : kekuatan geser blok = 514,620 kN


kekuatan leleh tarik = 618,750 kN
kekuatan putus tarik = 677,573 kN
DKI : kekuatan geser blok = 343,080 kN
kekuatan leleh tarik = 411,677 kN
kekuatan putus tarik = 451,716 kN
Dari hasil perhitungan kekuatan tersebut (baik dengan metode DFBK maupun
DKI) maka kekuatan tarik batang tersebut ditentukan oleh kekuatan geser blok.

KOMPONEN TARIK 45
STRUKTUR BAJA DASAR

KOMPONEN STRUKTUR DENGAN SAMBUNGAN SENDI (PIN)


(SNI pasal D5)

- PERSYARATAN DIMENSI :
1
dh d + in
32
( d + 1 mm) d = diameter sendi
dh = diameter lubang
be = 2 * t + 0,63 in
(= 2 * t + 16 mm)
b be = lebar efektif pada masing-masing sisi lubang sendi
t = tebal pelat
b = jarak aktual dari tepi lubang ke tepi pelat yang
diukur pada arah tegak lurus terhadap gaya yang
digunakan
w 2 * be + d w = lebar pelat
a 1,33 * be jarak terpendek dari tepi lubang sendi ke tepi komponen struktur
yang diukur paralel terhadap arah gaya
ca

KOMPONEN TARIK 46
STRUKTUR BAJA DASAR

- KEKUATAN TARIK :
SNI pasal D5 :
Kekuatan tarik desain t * Pn dan kekuatan tarik tersedia Pn / t dari komponen
struktur terhubung sendi merupakan nilai terendah yang diperoleh dari keadaan
batas keruntuhan tarik, keruntuhan geser, tumpuan dan pelelehan.
1). Keruntuhan tarik pada luas neto efektif :
Pn = Fu * 2 * t * be
DFBK : t = 0,75
DKI : t = 2,00

2). Keruntuhan geser pada luas efektif :


Pn = 0,60 * Fu * Ast Asf = luas pada alur kegagalan geser
d
= 2 * t (a + )
2
DFBK : t = 0,75
DKI : t = 2,00

KOMPONEN TARIK 47
STRUKTUR BAJA DASAR

3). Tumpuan daerah terproyeksi dari sendi : (SNI pasal J7)


Rn = 1,80 * Fy * Apb Apb = luas penumpu terproyeksi
=t*d
DFBK : t = 0,75
DKI : t = 2,00

4). Leleh tarik pada penampang bruto : (SNI pasal D2)


Pn = Fy * Ag Ag = t * w
DFBK : t = 0,90
DKI : t = 1,67

KOMPONEN TARIK 48
STRUKTUR BAJA DASAR

CONTOH SOAL :
Sebuah batang tarik terhubung sendi dengan mutu bahan Fy = 250 MPa dan Fu = 410
MPa digunakan untuk menahan gaya tarik 12 kN akibat beban mati dan 36 kN akibat
beban hidup. Tebal batang 10 mm dengan pin berdiameter 25 mm dan diameter
lubang 26 mm. Periksalah kekuatan tarik batang tersebut dengan metode DFBK dan
DKI apabila diasumsikan kekuatan pin mencukupi !

Asf

dh
a+ a = 57
2

dh = 26
c = 63

b = 57
t = 10

w = 140

Solusi :
Besaran-besaran penampang :
w = 140 mm
d = 25 mm
dh = 26 mm
b = 57 mm
t = 10 mm
a = 57 mm
c = 63 mm
Check persyaratan dimensi :
Berdasarkan SNI pasal D5 :
dh d + 1 mm
26 mm 25 + 1
26 mm ok

KOMPONEN TARIK 49
STRUKTUR BAJA DASAR

be = 2 * t + 16 mm b
= 2 * 10 + 16
= 36 mm 57 mm ok
w 2 * be + d
140 mm 2 * 36 + 25
97 mm ok
a 1,33 * be
57 mm 1,33 * 36
47,88 mm ok
c a
63 mm 57 mm ok

g. Perhitungan kombinasi pembebanan :


Kombinasi pembebanan untuk menghitung kekuatan tarik perlu adalah :

DFBK DKI

Pu = 1,2 * PD + 1,6 * PL Pa = PD + PL
= 1,2 * 12 + 1,6 * 36 = 12 + 36
= 72 kN = 48 kN

h. Pemeriksaan keruntuhan tarik pada pada luas neto efektif :


Pn = Fu * 2 * t * be
= 410 * 2 * 10 * 36
= 295200 N
= 295,200 kN
DFBK : t = 0,75
DKI : t = 2,00

DFBK DKI

ty * Pny = 0,75 * Fu * 2 * t * be Pny / ty = Fu * 2 * t * be / 2,00


= 0,75 * 295,200 = 295,200 / 2,00
= 221,400 kN > Pu = 147,600 kN > Pa
> 72 ok > 48 ok

KOMPONEN TARIK 50
STRUKTUR BAJA DASAR

i. Pemeriksaan keruntuhan geser pada luas efektif :


Pn = 0,60 * Fu * Ast Asf = luas pada alur kegagalan geser
d
= 2 * t (a + )
2
25
= 2 * 10 (57 + )
2
= 1390 mm2
= 0,60 * 410 * 1390
= 341940 N
= 341,940 kN
DFBK : t = 0,75
DKI : t = 2,00

DFBK DKI

ty * Pny = 0,75 * 0,60 * Fu * Ast Pny / ty = 0,60 * Fu * Ast / 2,00


= 0,75 * 341,940 = 341,940 / 2,00
= 256,455k N > Pu = 170,970 kN > Pa
> 72 ok > 48 ok

d. Pemeriksaan kekuatan tumpu daerah terproyeksi dari sendi : (SNI pasal J7)
Rn = 1,80 * Fy * Apb Apb = luas penumpu terproyeksi = t * d
= 10 * 25
= 250 mm2
= 1,80 * 250 * 250
= 112500 N
= 112,500 kN
DFBK : t = 0,75
DKI : t = 2,00

DFBK DKI

ty * Rny = 0,75 * 1,80 * Fy * Apb Rny / ty = 1,80 * Fy * Apb / 2,00


= 0,75 * 112,500 = 112,500 / 2,00
= 84,375 kN > Pu = 56,250 kN > Pa
> 72 ok > 48 ok

KOMPONEN TARIK 51
STRUKTUR BAJA DASAR

e. Pemeriksaan kekuatan leleh tarik pada penampang bruto : (SNI pasal D2)
Pn = Fy * Ag Ag = t * w
= 10 * 140
= 1400 mm2
= 250 * 1400
= 350000 N
= 350 kN
DFBK : t = 0,90
DKI : t = 1,67

DFBK DKI

ty * Pny = 0,90 * Fy * Ag Pny / ty = Fy * Ag / 1,67


= 0,90 * 350 = 350 / 1,67
= 315 kN > Pu = 209,581 kN > Pa
> 70 ok > 48 ok

f. DFBK : kekuatan runtuh tarik = 221,400 kN


kekuatan runtuh geser = 256,455 kN
kekuatan tumpu = 84,375 kN
kekuatan leleh tarik = 315 kN
> kekuatan tarik perlu = 70 kN
g. DKI : kekuatan runtuh tarik = 147,600 kN
kekuatan runtuh geser = 170,970 kN
kekuatan tumpu = 56,250 kN
kekuatan leleh tarik = 209,581 kN
> kekuatan tarik perlu = 48 kN
Jadi komponen kuat menahan beban aksial tarik
Karena kekuatan tumpu merupakan kekuatan yang paling kecil maka yang
menentukan adalah kekuatan tumpu.

KOMPONEN TARIK 52
STRUKTUR BAJA DASAR

EYEBAR
(SNI pasal D6)

- PERSYARATAN DIMENSI :
Eyebar harus memiliki ketebalan yang merata tanpa penambahan ketebalan pada
lubang sendi dan memiliki lingkaran kepala dengan batas luar konsentris dengan
lubang sendi.
1
t in t = tebal pelat
2
( 13 mm)
w 8 * t w = lebar eyebar
7
d * w d = diameter sendi
8
1
dh d + in dh = diameter lubang
32
( d + 1 mm)
(untuk baja dengan Fy > 70 ksi (= 485 MPa) : dh 5 * t )
2
b * w b = jarak aktual dari tepi lubang ke tepi pelat
3
3
(untuk tujuan perhitungan : be * w)
4
R D R = radius transisi lingkaran kepala dan tubuh eyebar
D = diameter kepala
= 2 * b + dh

KOMPONEN TARIK 53
STRUKTUR BAJA DASAR

Syarat-syarat pendimensian ini dibuat untuk menjamin bahwa kegagalan yang


menentukan adalah leleh tarik, sehingga kondisi batas lainnya tidak perlu
diperiksa.

- KEKUATAN TARIK :
SNI pasal D2 :
Leleh tarik pada penampang bruto :
Pn = Fy * Ag Ag = luas penampang tubuh eyebar
DFBK : t = 0,90
DKI : t = 1,67

KOMPONEN TARIK 54
STRUKTUR BAJA DASAR

CONTOH SOAL :
Sebuah eyebar tebal 16 mm dengan pin berdiameter 75 mm, mutu bahan F y = 250
MPa dan Fu = 410 MPa digunakan untuk menahan gaya tarik 120 kN akibat beban
mati dan 50 kN akibat beban hidup.
D

b = 56

d = 75

dh = 76
R = 200
t = 16

w = 75

Periksalah kekuatan tarik batang tersebut dengan metode DFBK dan DKI !
Solusi :
Besaran-besaran penampang :
w = 75 mm
b = 56 mm
t = 16 mm
d = 75 mm
dh = 76 mm
R = 200 mm

Check persyaratan dimensi :


Berdasarkan SNI pasal D6 :
t 13 mm
16 mm 13 mm ok
w 8*t
75 mm 8 * 16
128 mm ok

KOMPONEN TARIK 55
STRUKTUR BAJA DASAR

7
d *w
8
7
75 mm * 75
8
65,625 mm ok
dh d + 1 mm
76 mm 75 + 1
76 mm ok
2
b *w
3
2
56 mm * 75
3
50 mm ok
3
(untuk tujuan perhitungan : be *w
4
3
* 75
4
56,25 mm) ok
R D D = diameter kepala
= 2 * b + dh
= 2 * 56 + 76
= 188 mm
200 mm 188 mm ok

Ag = luas penampang tubuh eyebar


=w*t
= 75 * 16
= 1200 mm2
a. Perhitungan kombinasi pembebanan :
Kombinasi pembebanan untuk menghitung kekuatan tarik perlu adalah :

DFBK DKI

Pu = 1,2 * PD + 1,6 * PL Pa = PD + PL
= 1,2 * 120 + 1,6 * 50 = 120 + 50
= 224 kN = 170 kN

KOMPONEN TARIK 56
STRUKTUR BAJA DASAR

b. Pemeriksaan kekuatan leleh tarik pada penampang bruto :


Pny = Fy * Ag
= 250 * 1200
= 300000 N
= 300 kN

DFBK DKI

ty * Pny = 0,90 * Fy * Ag Pny / ty = Fy * Ag / 1,67


= 0,90 * 300 = 300 / 1,67
= 270 kN > Pu = 179,641 kN > Pa
> 224 ok > 170 ok

DFBK : kekuatan leleh tarik = 270 kN


> kekuatan tarik perlu = 224 kN
DKI : kekuatan leleh tarik = 179,641 kN
> kekuatan tarik perlu = 170 kN
Jadi eyebar kuat menahan beban aksial tarik

KOMPONEN TARIK 57
STRUKTUR BAJA DASAR

BATANG BULAT BERULIR


(SNI pasal J3)

Kekuatan nominal tarik ditentukan sesuai dengan keadaan batas keruntuhan tarik,
yaitu :
Rn = Fnt * Ab SNI persamaan J3-1
dimana :
Ab = luas penampang melintang nominal pada bagian tidak berulir
merupakan fungsi dari diameter bagian tanpa ulir dan banyaknya ulir per
satuan panjang.
Fnt = tegangan tarik nominal
= 0,75 * Fu SNI tabel J3.2
DFBK t = 0,75
Pu t * Rn
0,75 * 0,75 * Fu * Ab
Pu
Ab
0,75 * (0,75 * Fu )
ASD t = 2,00
Rn
Pa
t

0,75 * Fu * A b

2,00

KOMPONEN TARIK 58
STRUKTUR BAJA DASAR

Apabila kedua ruas dibagi dengan Ab maka didapat tegangan ijin :


Ft = 0,375 * Fu
Pa
Ab
Ft
5
Untuk keperluan praktis digunakan batang bulat dengan diameter (d) minimum in
8
(segui, 2013 dan cormack, 2012).

KOMPONEN TARIK 59
STRUKTUR BAJA DASAR

CONTOH SOAL :
Rencanakan suatu batang berulir dengan Fy = 250 MPa dan Fu = 410 MPa yang
digunakan sebagai breising apabila menahan beban mati 8,9 kN dan beban hidup 26,7
kN !
Solusi :
a. Perhitungan kombinasi pembebanan :
Kombinasi pembebanan untuk menghitung kekuatan tarik perlu adalah :

DFBK DKI

Pu = 1,2 * PD + 1,6 * PL Pa = PD + PL
= 1,2 * 8,9 + 1,6 * 26,7 = 8,9 + 26,7
= 53,4 kN = 35,6 kN

b. Diameter penampang yang dibutuhkan :


Pu
DFBK : Ab =
0,75 * (0,75 * Fu )
53,4 * 1000
=
0,75 * (0,75 * 410)
= 231,54 mm2
Ab = 0,25 * * d2
Ab
d=
0,25 *

231,54
=
0,25 * 3,14
= 17,17 mm

DKI : Tegangan tarik yang diijinkan :


Ft = 0,375 * Fu
= 0,375 * 410
= 153,75 MPa
Pa
Ab =
Ft
35,6 * 1000
=
153,75

KOMPONEN TARIK 60
STRUKTUR BAJA DASAR

= 231,54 mm2
Ab = 0,25 * * d2
Ab
d=
0,25 *

231,54
=
0,25 * 3,14
= 17,17 mm
Dipakai batang berulir d = 18 mm

KOMPONEN TARIK 61

Anda mungkin juga menyukai