Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap proses pekerjaan di perusahaan beresiko mengakibatkan kecelakaan
kerja dari mulai ringan sampai dengan berat. Kecelakaan tersebut bisa terjadi karena
kondisi tempat kerja yang tidak aman (Unsafe Condition) maupun karena kelalaian
pekerja (Unsafe Action). Kecelakaan kerja yang terjadi tentu sangat merugikan
perusahaan. Hal ini karena setiap kecelakaan mengancam terjadinya korban jiwa dan
kerusakan property atau fasilitas perusahaan.
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) adalah upaya pertolongan dan
perawatan sementara yang sangat penting terhadap korban kecelakaan sebelum
mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. Ini berarti
pertolongan tersebut bukan sebagai pengobatan atau penanganan yang sempurna,
tetapi hanyalah berupa pertolongan sementara yang dilakukan oleh petugas P3K
(petugas medik atau orang awam) yang pertama kali melihat korban. Pemberian
pertolongan harus secara cepat dan tepat dengan menggunakan sarana dan prasarana
yang ada di tempat kejadian. Tindakan P3K yang dilakukan dengan benar akan
mengurangi cacat atau penderitaan dan bahkan menyelamatkan korban dari kematian,
tetapi bila tindakan P3K dilakukan tidak baik malah bisa memperburuk akibat
kecelakaan bahkan menimbulkan kematian.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) ?

2. Apa saja peraturan perundang-undangan mengenai P3K ?

1
3. Apa saja prinsip dasar pertolongannya ?

4. Apa saja syarat-syarat menjadi petugas P3K ?

5. Apa saja fasilitas P3K ?

6. Apa saja persyaratan kotak P3K ?

7. Apa saja alat evakuasi dan alat transportasi pada P3K ?

8. Apa saja ketentuan P3K ?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di Tempat Kerja

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengertian P3K

b. Untuk mengetahui peraturan perundang-undangan mengenai P3K

c. Untuk mengetahui prinsip dasar pertolongan P3K

d. Untuk mengetahui syarat-syarat menjadi petugas P3K

e. Untuk mengetahui fasilitas P3K

f. Untuk mengetahui persyaratan kotak P3K

2
g. Untuk mengetahui alat evakuasi dan alat transportasi pada P3K

h. Untuk mengetahui ketentuan P3K

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) di tempat kerja adalah upaya


memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja atau orang
lain yang berada di tempat kerja yang mengalami kecelakaan di tempat kerja. P3K
dimaksudkan untuk memberikan perawatan darurat pada korban, sebelum
pertolongan yang lebih lengkap diberikan oleh dokter atau petugas kesehatan lainnya.
P3K diberikan untuk :

a) Menyelamatkan nyawa korban

b) Meringankan penderitaan korban

c) Mencegah cedera atau penyakit menjadi lebih parah

d) Mempertahankan daya tahan korban

e) Mencarikan pertolongan yang lebih lanjut.

3
B. Peraturan Perundang-undangan Mengenai P3K

Adapun peraturan perundang-undangan P3K yaitu sebagai berikut :

1. Undang-undang No. 1 tahun 1970

2. Permennakertrans No.Per.03/Men/1982

3. Permennakertrans No. Per. 15/Men/VIII/2008

4. Kepdirjen Binwasnaker No. Kep.

5. 53/DJPPK/VIII/2009

C. Prinsip Dasar Pertolongan

1. Pedoman tindakan Prinsip P-A-T-U-T

P = Penolong mengamankan diri sendiri lebih dahulu sebelum bertindak

A = Amankan korban dari gangguan di tempat kejadian, sehingga bebas dari


bahaya.

T = Tandai tempat kejadian sehingga orang lain tahu bahwa di tempat itu ada

kecelakaan.

U = Usahakan menghubungi ambulan, dokter, rumah sakit atau yang berwajib.

T = Tindakan pertolongan terhadap korban dalam urutan yang paling tepat.

2. Ciri-ciri gangguan

Mengenali ciri-ciri gangguan pada korban

1) Gangguan Umum

4
a. Gangguan pernafasan (sumbatan jalan nafas, menghisap asap atau gas
beracun, kelemahan atau kekejangan otot pernafasan).

b. Gangguan kesadaran (gegar atau memar otak, sengatan matahari


langsung, kekurangan zat asam atau oksigen).

c. Gangguan peredaran darah (perdarahan hebat, luka bakar yang luas, rasa
nyeri yang hebat, kekurangan cairan tubuh secara cepat, keadaan allergi
atau tidak tahan obat).

2) Gangguan Lokal

a. Perdarahan atau luka yang disebabkan karena adanya pembuluh darah


terputus atau robek.

b. Patah tulang yang disebabkan karena adanya benturan atau pukulan.

c. Luka bakar yang disebabkan karena panas kering, kontak dengan aliran
listrik, gesekan dari roda yang berputar, asam dan basa kuat, panas yang
basah.

3. Kesiapan Fasilitas Pertolongan

1) Personil.

2) Buku petunjuk atau buku pedoman P3K

3) Kotak P3K

4) Ruang P3K

5) Alat angkut dan transportasi

6) Alat perlidungan diri (APD)

5
7) Peralatan khusus atau darurat

D. Petugas P3K

Pekerja atau buruh yang ditunjuk oleh pengurus atau pengusaha dan diserahi
tugas tambahan untuk melaksanakan P3K di tempat kerja

Syarat Petugas P3K:

1) Memiliki lisensi dan buku kegiatan P3K dari Instansi yang bertanggung jawab di
bidang Ketenagakerjaan setempat

Syarat mendapatkan lisensi :

a. Bekerja pada perusahaan bersangkutan

b. Sehat jasmani dan rohani

c. Bersedia ditunjuk menjadi petugas P3K

d. Memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar di bidang P3K di tempat kerja


yang dibuktikan dengan sertifikat pelatihan

2) Petugas P3K ditentukan berdasarkan jumlah pekerja atau buruh dan potensi
bahaya.

3) Petugas P3K dalam melaksanakan tugasnya dapat meninggalkan pekerjaan


utamanya untuk memberikan pertolongan bagi pekerja atau buruh dan/atau orang
lain yang mengalami sakit atau cidera di tempat kerja.

4) Petugas P3K di tempat kerja dapat menggunakan tanda khusus yang mudah
dikenal oleh pekerja atau buruh yang membutuhkan pertolongan.

Syarat jumlah petugas P3K di tempat kerja :

6
1) Untuk tempat kerja dengan faktor resiko rendah seperti toko, kantor, perpustakaan
dan lain-lain dengan jumlah pekerja 150 > 150 harus memiliki petugas P3K
minimal 1 orang.

2) Untuk tempat kerja dengan faktor resiko tinggi seperti konstruksi, industri kimia,
galangan kapal dan lain-lain dengan jumlah pekerja 100 > 100 harus memiliki
petugas P3K minimal 1 orang

3) Apabila tempat kerja dengan unit kerja berjarak 500 meter atau lebih, masing-
masing unit kerja harus terdapat Petugas P3K di tempat kerja sesuai jumlah
pekerja dan tingkat faktor risiko di tempat kerja.

4) Apabila tempat kerja pada lantai yang berbeda di gedung bertingkat, maka masing-
masing unit kerja harus terdapat Petugas P3K di tempat kerja sesuai jumlah
pekerja dan faktor risiko di tempat kerja.

5) Apabila tempat kerja dengan jadwal kerja shif, maka masing-masing unit kerja tiap
shif harus terdapat Petugas P3K di tempat kerja sesuai jumlah pekerja dan tingkat
faktor risiko di tempat kerja

Kategori resiko jumlah tenaga kerja petugas P3K :

1) Risiko Rendah

a. Toko, kantor atau office, perpustakaan

b. < 50 pekerja

c. diantara 50 dan 200 pekerja

d. 200 pekerja Orang yang ditunjuk paling sedikit 1 (satu) orang. Paling tidak 1
(satu) orang untuk 200 pekerja.

2) Risiko Menengah

7
a. Teknik ringan, Gudang atau warehouse, Proses Makanan

b. < 20 pekerja

c. diantara 20 dan 100 orang pekerja

d. > 100 pekerja Orang yang ditunjuk paling sedikit 1 (satu) orang. Sedikitnya 1
(satu) orang untuk 100 pekerja.

3) Risiko Tinggi

a. Industri berat, industri kimia, slaughter houses < 5 pekerja

b. diantara 5 dan 50 pekerja

c. > 50 pekerja Orang yang ditunjuk paling sedikit 1 (satu) orang. Sedikitnya 1
(satu) orang untuk 50 pekerja.Sedikitnya 1 (satu) orang petugas P3K telah
dilatih untuk kondisi darurat.

Petugas P3K di tempat kerja mempunyai tugas :

1) Melaksanakan tindakan P3K di tempat kerja;

2) Merawat fasilitas P3K di tempat kerja

3) Mencatat setiap kegiatan P3K dalam buku kegiatan; dan

4) Melaporkan kegiatan P3K kepada pengurus.

E. Fasilitas P3K

Fasilitas P3K adalah semua peralatan, perlengkapan, dan bahan yang digunakan
dalam pelaksanaan P3K di tempat kerja. Fasilitas P3K di tempat kerja:

1) Ruang P3K

8
2) Kotak P3K dan isi

3) Alat Evakuasi dan alat tranportasi

4) Fasilitas tambahan berupa APD dan/atau peralatan khusus di tempat kerja yang
memiliki potensi bahaya yang bersifat khusus.

F. Ruang P3K

Pengusaha wajib menyediakan ruang P3K dalam hal:

1) Mempekerjakan pekerja atau buruh 100 orang atau lebih;

2) Mempekerjakan pekerja atau buruh kurang dari 100 orang dengan potensi bahaya
tinggi.

Persyaratan ruang P3K meliputi :

1) Lokasi ruang P3K :

a. Dekat dengan toilet atau kamar mandi;

b. Dekat jalan keluar;

c. Mudah dijangkau dari area kerja; dan

d. Dekat dengan tempat parkir kendaraan.

2) Mempunyai luas minimal cukup untuk menampung satu tempat tidur pasien dan
masih terdapat ruang gerak bagi seorang petugas P3K serta penempatan fasilitas
P3K lainnya;

9
3) Bersih dan terang, ventilasi baik, memiliki pintu dan jalan yang cukup lebar untuk
memindahkan korban;

4) Diberi tanda dengan papan nama yang jelas dan mudah dilihat;

5) Sekurang-kurangnya dilengkapi dengan :

a. Wastafel dengan air mengalir;

b. Kertas tissue atau lap;

c. Usungan atau tandu;

d. Bidai atau spalk;

e. Kotak P3K dan isi;

f. Tempat tidur dengan bantal dan selimut;

g. Tempat untuk menyimpan alat-alat, seperti : tandu dan/atau kursi roda;

h. Sabun dan sikat;

i. Pakaian bersih untuk penolong;

j. Tempat sampah; dan

k. Kursi tunggu bila diperlukan.

G. Persyaratan Kotak P3K

Persyaratan kotak P3K sebagaimana yang telah diatur dalam Peraturan Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. PER.15 / MEN / VIII / 2008
adalah sebagai berikut :

10
1) Terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibawa, berwarna dasar putih dengan
lambang P3K berwarna hijau.

2) Isi kotak P3K sebagamana tercantum dalam lampiran II Peraturan Menteri ini
(lihat di bawah) dan tidak boleh diisi bahan atau alat selain yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan P3K di tempat kerja.

Penempatan Kotak P3K, yaitu ditempatkan pada :

1) Pada tempat yang mudah dilihat dan dijangkau, diberi tanda arah yang jelas, cukup
cahaya serta mudah diangkat apabila digunakan.

2) Dalam hal tempat kerja dengan unit kerja berjarak 500 meter atau lebih masing-
masing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai jumlah pekerja atau buruh.

3) Dalam hal tempat kerja pada lantai yang berbeda di gedung bertingkat, maka
masing-masing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai jumlah pekerja
atau buruh.

4) Disesuaikan dengan jumlah pekerja atau buruh, jenis dan jumlah kotak P3K
sebagaimana tercantum dalam lampiran III Peraturan Menteri ini (lihat di bawah).

Daftar Isi Kotak P3K menurut bentuknya masing-masing:

1) Kotak Bentuk I berisi:

a. 10 gram kapas putih

b. 1 rol pembalut gulung lebar 2.5 cm

11
c. 1 rol pembalut gulung lebar 5 cm

d. 1 pembalut segitiga (mitella)

e. 1 pembalut cepat steril/snelverband

f. 10 buah kassa steril ukuran 5x5 cm

g. 1 rol plester lebar 2.5 cm 10 buah plester cepat (mis. Tensoplast, dll.)

h. 1 buah gunting

i. 1 buku catatan

j. 1 buku pedoman P3K

k. 1 daftar isi kotak P3K

Obat-obatan untuk Kotak P3K Bentuk I:

a. Obat pelawan rasa sakit (mis. Antalgin, Acetosai, dll)

b. Obat sakit perut (mis. Paverin, enterovioform, dll)

c. Norit

d. Obat anti alergi

e. Obat merah

f. Soda Kue

g. Obat tetes mata

h. Obat gosok

2) Kotak Bentuk II berisi:

12
a. 50 gram kapas putih

b. 100 gram kapas gemuk

c. 3 rol pembalut gulung lebar 2.5 cm

d. 2 rol pembalut gulung lebar 5 cm

e. 2 rol pembalut gulung lebar 7.5 cm

f. 2 pembalut segitiga (mitella)

g. 2 pembalut cepat steril/snelverband

h. 10 buah kassa steril ukuran 5x5 cm

i. 10 buah kassa steril ukuran 7.5x7.5 cm

j. 1 rol plester lebar 1 cm

k. 20 buah plester lebar 1 cm

l. 20 buah plester cepat (mis. Tensoplast) 1 bidal

m. 1 gunting pembalut

n. 1 buah sabun

o. 1 dos kertas pembersih (cleansing tissue)

p. 1 pinset

q. 1 lampu senter

r. 1 buku catatan

s. 1 buku pedoman P3K

13
t. 1 daftar isi kotak P3K

Obat-obatan untuk Kotak P3K Bentuk II

a. Obat pelawan rasa sakit (mis. Antalgin, Acetosai, dll)

b. Obat sakit perut (mis. Paverin, enterovioform, dll)

c. Norit

d. Obat anti alergiSoda Kue, garam dapur

e. Merculochrom

f. Obat tetes mata

g. Obat gosok

h. Salep anti histamimka

i. Salep sulfa atau S.A. powder

j. Boor zalif

k. Sofratulle

l. Larutan rivanol 1/10 500 cc

m. Amoniak cair 25% 100 cc

3) Kotak Bentuk III berisi:

a. 300 gram kapas putih

b. 300 gram kapas gemuk

c. 6 rol pembalut gulung lebar 2.5 cm

14
d. 8 rol pembalut gulung lebar 5 cm

e. 2 rol pembalut gulung lebar 10 cm

f. 4 pembalut segitiga (mitella)

g. 2 pembalut cepat steril/snelverband

h. 20 buah kassa steril ukuran 5x5 cm

i. 40 buah kassa steril ukuran 7.5x7.5 cm

j. 1 rol plester lebar 1 cm

k. 20 buah plester cepat (mis. Tensoplast)

l. 1 rol plester lebar 2.5 cm

m. 3 bidal

n. 1 gunting pembalut

o. 1 buah sabun

p. 2 dos kertas pembersih (cleansing tissue)

q. 1 pinset

r. 1 lampu senter

s. 1 buku catatan

t. 1 buku pedoman P3K

u. 1 daftar isi kotak P3K

Obat-obatan untuk Kotak P3K Bentuk III sama dengan obat-obatan untuk Kotak P3K
Bentuk II

15
4) Kotak Khusus Dokter berisi:

1. 1 set alat-alat minor surgery lengkap

2. 1 botol Alcohol 70% isi 100 cc

3. 1 botol Aquadest isi 100 cc

4. 1 botol Betadine solution 60 cc

5. 1 botol Lysol isi 100 cc

6. 5 spnit injection diskosable 2 cc

7. 5 spnit injection diskosable 5 cc

8. 20 lidi kapas

9. 2 flakon ATS injection isi 100 cc (disimpan ditempat sejuk)

10. 5 flakon P.S. 4: atau 4:1 atau PP injectie

11. Ampul morphine injectie

12. 3 ampul pethridine injectie

13. 2 flakon antihistamine injectie

14. 2 flakon anti panas injectie

15. 5 ampul adrenaline injectie

16. 1 flakon cartison injectie

17. 2 ampul cardizol injectie

18. 2 ampul aminophyline injectie

16
19. 10 sulfas atropine injectie 0.25 g

20. 10 sulfas atropine injectie 0.5 g

21. 5 ampul anti spascodik injectie

22. 2 handuk

23. 1 tempat cuci tangan

24. 1 mangkok bengkok

25. 1 buku catatan

26. 1 buku pedoman P3K

27. 1 daftar

H. Alat Evakuasi dan Alat Transportasi

Alat evakuasi dan alat transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat
(1) huruf c meliputi :

1) Tandu atau alat lain untuk memindahkan korban ke tempat yang aman atau
rujukan; dan

2) Mobil ambulance atau kendaraan yang dapat digunakan untuk pengangkutan


korban

I. Ketentuan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)


1) Dasar Dasar Pertolongan Pertama

Pertolongan pertama yang mutlak dilakukan untuk keselamatan adalah

17
a. Usaha menyadarkan kembali

b. Menghindari pendarahan

Penderita luka parah membutuhkan pertolongan segera oleh tenaga P3K yang terlatih,
juga tenaga medis tidak cepat didapat. Paling baik, jika mempunyai tenaga medis
yang profesional, atau tenaga P3K yang terlatih. Jika tidak mempunyai sedikitnya
harus mengetahui tindakan yang harus dilakukan sampai pertolongan datang.

Mengetahui letak kotak P3K atau ruang tempat pertolongan pertama

Aturan terpenting pada P3K adalah :

a. Pelajari apa yang tidak boleh dilakukan

tidak ditolong lebih baik daripada pertolongan yang salah

b. Pelajari dengan benar apa yang harus dilakukan

lakukan dengan segera bila hidupnya terancam

c. Kirimkan kepada ahli P3K dan kepada dokter dengan segera setiap terjadi
kecelakaan gawat

18
2) Jenis Kecelakaan Pada Waktu Kerja

Suatu saat, ada kemungkinan kontraktor harus melakukan pertolongan pertama,


apabila terjadi peristiwa sebagai berikut :

a. pendarahan,

b. kejutan ( shock ),

c. keracunan,

d. luka bakar api atau luka bakar karena cairan kimia,

e. luka pada mata,

f. luka kecil karena benda benda tajam, dan

g. sengatan listrik.

3) Pendarahan Dan Bagaimana Cara Menghentikannya

Penghentian pendarahan, pada umumnya dapat dilakukan dengan menekan luka


berdarah tersebut. Jika pada kasus tertentu pendarahan tidak bisa dihentikan
dengan cara ini, panggil segera tenaga medis, dokter.

Pendarahan hidung

a. Dudukan korban dengan tenaga dengan kepala menunduk


b. Cegahlah korban memaksa darah keluar dari hidungnya

c. Pijit, atau mintalah korban untuk memijit cuping hidungnya keras keras

19
d. Jika pendarahan tidak berhenti selama 5 10 menit usahakan agar mendapat
perawatan medis

Pendarahan karena luka

a. Mintalah pertolongan medis


b. Perlihatkan semua luka

c. Tutup dan tekanlah luka dengan tangan atau pencet tepi luka bersama sama
agar menutup, jika sempat tutuplah luka dengan sapu tangan, atau kain yang
bersih sebelum ditekan

d. Penekanan dapat dilakukan dengan memberi bantalan tipis pada luka kemudian
diikat erat erat dengan perban. Bantalan harus cukup lebar menutupi seluruh
luka dan seluruh bantalan harus trtutup perban.

e. Jika penderita merasakan kesakitan karena ikatan perban terlalu kencang,ikatan


perban

f. Jika pendarahan masih berlangsung, beri bantalan dan perbanlah lagi,tanpa


melepas ikatan bantalan yang pertama.

g. Bahan yang dipakai untuk menekan pendarahan terbuat dari bahan kayu, atau
logam. Cara seperti ini dapat pula digunakan untuk menolong korban yang
patah tulang.

20
Pendarahan : angkat lukanya dan Pendarahan : beri bantal tipis diatas tekan
sampai lukanya menutup luka dan perban erat-erat

4) Kejutan

Hampir setiap kecelakaan,cedera atau luka-luka,selalu diikuti oleh kejutan.


Keadaan penderita pucat,dingin dan lunak kulitnya,lemas badan,dan denyut nadi
makin cepat,mungkin juga tidak sadarkan diri.

a. Pindahkan korban di tempat yang nyaman dan tenang.


b. Jaga korban agar tenang dan tetap hangat badannya.

c. Longgarkan baju.

d. Usahakan agar korban merasa tenang dan yakinkan bahwa pertolongan segera
datang

5) Keracunan

Untuk semua peristiwa keracunan, Kirimkan kepada tenaga medis secepat


mungkin.

a. Pindahkan ketempat yang segar.

21
b. Lakukan seperti merawat shock.

c. Buat pertolongan pernafasan,jika pernafasan berhenti. Jangan melakukan


pertolongan pernafasan melalui kontak mulut ke mulut,bila terjadi racun
terminum melalui mulut (asam,alkali,dan lain-lain)

d. Amankan dan simpan cairan yang diduga racun untuk contoh

e. Ambil dan muntahkan korban untuk pemeriksaan dokter/klinik

6) Luka Bakar Api

Penanganan segera secara medis tergantung pada sejauh mana tingkat


penderitanya.

a. Penanganan terbaik luka bakar adalah dengan mengucurkan air dingin dan
bersih kebagian yang terbakar.
b. Jangan menarik,atau menyobek baju dari luka bakarnya.

c. Jangan mencoba memindah benda-benda yang menempel pada kulit yang


terbakar.

d. Lakukan perawatan seperti menangani kejutan(shock).

e. Tutuplah luka bakar dengan bahan-bahan steeril seperti perban kering,handuk


atau kertas,jika ada.

f. Jangan sentuh bagian luka bakar yang menggelembung, atau bagian otot-otot
yang terbakar.

22
7) Kecelakaan dan Luka Pada Mata

Janganlah menggosok-gosok mata jika ada benda-benda yang masuk didalamnya.

a. Usahakan agar mata tetap dibuka

b. Jangan sentuh mata dengan apapun juga

c. Usahakan mendapat perawatan medis

d. Longgarkan perban pada mata

e. Bimbinglah korban ketempat perawatan medis

Luka mata:

23
a. Perbanlah matanya longgar-longgar
b. Bimbinglah korban untuk perawatan

c. Jangan menyentuh mata

8) Luka Goresan dan Memar

Setiap luka meskipun ringan harus diobati dan dicatat kejadiannya.Setiap luka
akan berakibat infeksi dan membusuk jika tidak segera diobati.

a. Pada luka goresan,biarkan darah mengalir beberapa menit,untuk membuang


kemungkinan infeksi.
b. Jangan membalut luka dengan baju-baju lusuh,atau sapu tangan yang kotor
pada luka.

c. Bersihkan luka dengan bahan-bahan yang lunak.

d. Berilah obat anti septic,steril,atau bahan aid untuk luka-luka ringan.

e. Panggilkan tenaga medis jika lukanya parah dan terlalu dalam

f. Luka memar yang berat memerlukan perawatan medis segera jangan ditunda.

9) Kecelakaan Sengatan Listrik

Kecelakaan karena sengatan listrik dapat mengakibatkan kebakaran,jatuh,dan


kejutan listrik.Masing-masing menyebabkan gejala yang berbeda pada
korban.Penderita bias disebabkan oleh salah satu atau kombinasi membedakan
ejala-gejala yang muncul.

Meskipun keterlambatan pertolongan dan penyadaran kembali dapat berakibat


fatal, namun kejutan listrik umumnya dapat tidak langsung mematikan,hanya

24
mungkin menyebabkan kepekaannya menurun, pernafasan terganggu atau
berhenti, dan kerja jantungnya terganggu.Karena itu,yang terpenting adalah
memeriksa kondisi pernafasan dan jantung penderita,jika berhenti harus segera
dibantu dan dinormalkan kembali.

Kecelakan listrik sering

Menimbulkan luka sampingan

Bila menghadapi kecelakaan karena listrik,kerjakanlah segera tindakan


dengan urutan sebagai berikut:

a. Matikan aliran listri,atau jika tidak mungkin,usahakan agar korban


terbebas dari sengatan listrik
b. Beri pertlongan pertama sesuai gejalanya.

10) Cara Membebaskan Korban Dari Aliran Listrik

Begitu melihat korban terkena aliran listrik, cepat perhatikan keadaan


sekitar.Tentukan cara terbaik untuk melepaskannya tanpa korban menderita lebih
lanjut,karena jatuh dan lain-lain.Jika mungkin matikan aliran listrik,dan jasikan

25
ini sebagai tindakan utama.Jika tidak mungkin anggap korban masih tetap terkena
aliran listrik.

Jangan sekali-sekali menganggap korban telah terbebas dari aliran listrik

Matikan aliran listrik

Dorong atau tarik korban dengan bahan-bahan yang tidak menghantar arus
listrik(tidak konduktif)agar terbebas dari sengatan listrik. Hendaknya
seseorang selalu mengetahui letak dan daerah pelayanan setiap tombol listrik
didaerah kerja masing-masing.

Untuk tegangan rendah(240 v,atau kurang), bila aliran listrik tidak dapat
segera dimatikan,gunakan benda yang tidak konduktif, dan kering untuk
melepaskan korban (jangan gunakan logam atau benda-benda yang basah).

a. Tariklah dengan menggunakan tali kering,kain kering,karet,atau plastic.


b. Tariklah baju korban,pada tempat yang longgar dan kering.

c. Berdirilah diatas papan kering ketika mendorong atau menarik korban

d. Doronglah dengan kayu kering

Jika mendorong korban hendaknya dilakukan dalam sekali gerak,agar


selekas mungkin terbebas dari aliran listrik. Siapkan tenaga yang cukup

26
untuk melepaskan,Korban yang menggenggam konduktor berarus listrik.
Dengan memakai sarung tangan anda dapat memukul pergelangan
tangan,atau punggung telapak tangan korban sampai ia terbebas.

Untuk tegangan tinggi(650 v,atau lebih) Dan aliran listrik tidak dapat segera
dimatikan jangan mendekat dalam radius 1,5 m. Gunakan tongkat yang
panjangnya lebih dari 1,5 m terbut dari material yang tidak konduktif dan
kering, untuk melepas korban.

Catatan :

Ingat bahwa korban karena listrik, badannya juga berarus listrik, karena itu
jangan sekali-sekali memegang tubuh korban, baju yang melekat atau
sepatunya,tanpa sarung pelindung tangan.

11)Awal Penyadaran Yang Perlu Segera Dilakukan

Luka bisa semakin parah karena memindahkan korban. Pemindahan hanya dilakukan
jika :

a. Korban dalam bahaya akan terkena api, kejatuhan benda, karena aliran listrik atau
penyebab yang lain.
b. Letak korban menyulitkan pemberian pertolongan dasar, misalnya untuk :

27
1) Melancarkan saluran pernafasan

2) Melakukan penyadaran korban

3) Penghentian pendarahan

Jika korban harus dipindah, lakukan bersama sama oleh 3 4 orang,

a. Mungkin perlu untuk tetap melakukan penyadaran, sementara korban dipindah.


b. Usahakan agar badan tetap lurus jangan sampai leher atau punggung tertekuk.

c. Buat agar korban tetap lurus, muka menghadap keatas, agar terlihat wajahnya.
Penyadaran tetap dapat dilakukan dan di usahakan saluran pernafasan tetap
lancar.

d. Tolonglah kaki dan tangan bila terluka.

Penyadaran kembali akan lebih besar hasilnya, jika dimulai dalam selang waktu
satu menit setelah pernafasan terhenti.

Jangan ditunda usaha penyadaran kembali tersebut.

Kirimlah tenaga medis dan beri pertolongan secepat mungkin.

12)Sadar Atau Tidak Sadar

Jika korban bernafas normal, dan jantungnya berdenyut normal, ia tidak memerlukan
usaha penyadaran. Berikan perawatan sebagai berikut :

Jika korban tidak sadar, darah/muntahan di mulut, gigi yang lepas, pecahan
gigi dapat masuk ke saluran pernafasan dan menyumbat. Jika korban
terlentang lidah dapat turun dan menyumbat saluran pernafasan, demikian
juga bila leher korban tertekuk. Penanganan yang benar pada korban yang

28
tidak sadarkan diri, dapat mencegah tersumbatnya pernafasan yang bisa
menyebabkan kematian.

13) Penyadaran Kembali Adalah Mutlak

Ingatlah urut urutan dan cara menangani korban pada setiap terjadi kecelakaan.

a. saluran pernafasan Lancarkan !


b. pernafasan Periksa atau bantulah !

c. Aliran darah Periksa atau bantulah !

Hentikan bila kemudian terjadi pendarahan atau perhatikan luka-luka yang lain.

a. Lancarkan dengan cepat saluran pernafasan dan usahakan tetap lancar.


b. Perhatikan apakah dia bernafas atau tidak.

c. Perhatikan naik turunnya dada atau perut.

d. Dengarkan pernafasannya jika ternyata tidak ada gerakan.

e. Rasakan apakah pernafasannya lemah, dengan cara dengan medekatkan


punggung tangan anda ke mulut korban.

29
Jika korban bernafas normal,

a. Ubah posisi korban pelan-pelan dan hati-hati ke posisi coma seperti berikut
b. Ubah posisi korban dengan satu sisi badan sebagai tumpuan.

c. Ubah posisi tangan dan paha pada sisi badan yang lain agar tegak lurus
terhadap badan.

d. Gerakkan siku tangannya sehingga telapak tangan dekat pada wajah

e. Tariklah lengannya ke belakang pelan-pelan sehingga ia dalam posisi


tengkurap.

f. Pastikan bahwa kepalanya sedikit miring.

Pada posisi ini, lidah akan terdorong kemuka, dan membu ka saluran
pernafasan. Darah dan muntahan akan keluar dari mulut, kemudian usaplah
dengan tangan atau sapu tangan untuk membuang muntahan atau pecahan gigi
yang keluar.

30
Catatan :

Nafas yang berisik adalah tanda bahaya bahwa saluran pernafasan agak
tersumbat, cepat lakukan pembersihan jangan sekali-kali memberi bantalan di
bawah kepala pada korban yang tidak sadarkan diri.

Jika korban tidak bernafas, atau pernafasan sangat lambat :

a. Lakukan pertolongan pernafasan ( Expired Air Resuciation EAR )

1. metode ini dikenal juga sebagai pernafasan buatan, pertolongan


pernafasan paru-paru, pertolongan pernafasan dari mulut ke mulut,
pengalian udara buatan.

2. ini harus dilakukan pertama kali, untuk menjamin tersedianya


cukup oksigen dalam darah.

b. Periksa sirkulasi darah, rasakanlah melalui denyut jantung pada leher


sebelah atas disamping jakun.

c. Gunakanlah telapak telunjuk jari tengan, jangan gunakan ujung jari.

d. Luka pelupuk mata dan perhatikan pembesaran pupil mata.

e. Jika pupil tidak berkontraksi ketika diberi sinar, ini menunjukkan


bahwa otak sudak kekurangan oksigen.

31
Jika denyut nadi masih ada, lanjutkan EAR, jika denyut tidak ada, lakukan
pertolongan darurat pemompaan ke rongga jantung. Ini disebut pertolongan
gabungan EAR dengan pemompaan.

14) Pertolongan Darurat Pemompaan Rongga Jantung

Ada dua cara yng harus dilaksanakan bersama sama. Jika pernafasan korban
berhenti dan denyut jantung tidak ada. Metode tersebut adalah :

a. EAR untuk memperbaiki pernafasan

b. EEC ( External Cadiac Compression ) untuk memperbaiki peredaran darah.

a. Pertolongan Pernafasan E.A.R.

Lakukan pada korban yang tidak bisa bernafas tetapi denyut nadinya masih baik. Ada
hal penting yang dilakukan untuk pertolongan ini, yaitu :

a. Tindakan cepat

b. Pembersihan saluran pernafasan

32
c. Usahakan agar udara tidak bocor.

Prosedur :

a. Bersihkan mulut dari muntahan atau darah


b. Baringkan korban terlentang

c. Angkat leher dan gerakkan kepala agar dagu mengarah ke atas

d. Tutup hidung dan memijitnya

e. Ambillah nafas yang dalam

f. Buka mulut lebar-lebar dan letakkan diatas mulut korban, pastikan bahwa udara
tidak bocor

g. Tiup mulutnya keras keras.

Ingat :

33
Lihatlah, sementara anda meniup bahwa dadanya akan naik, ini menunjukkan
bahwa udara masuk ke paru paru. Jika dada tidak naik berarti saluran
pernafasan masih tersumbat bila terjadi demikian miringkan kepalanya lebih
kebelakang dan naikkan dagunya lebih atas, periksa kembali apakah mulut
dan tenggorokannya bersih. Perhatikanlah bahwa tidak ada udara yang lolos
pada pertolongan mulut ke mulut. Jika anda tidak bisa dengan cara initutuplsh
mulutnya dan letakkan mulut anda pada hidungnya, dan tiup keras-keras.

a. Lepaskan mulutnya dan biarkan udara keluar dari dada korban. Untuk orang
dewasa, lakukan 12 kali tiap menit yang berarti 2 kali tiupan tiap 15 detik.

b. Ulangi, tiuplah mulut/ hidungnya keras-keras dan lepaskan sampai korban


bernafas sendiri, atau sampai dokter datang.

c. Putar posisi korban ke posisi koma, segera setelah ia bernafas, sebab


muntahan sering terjadi pada saat ini. Mutlak mengusahakan bahwa tidak ada
yang masuk ke saluran pernafasan. Jika orban berhenti bernafas lagi, ulani
pertolongan pernafasannya.

Catatan :

Setelah saluran pernafasan lancar, korban mungkin akan bernafas sendiri.

34
E.A.R. dan E.C.C.

Kedua cara ini harus dipakai apabila korban tidak bernafas dan nadinya tidak
berdenyut :

a. Lakukan segera EAR seperti yang sudah dijelaskan


b. Pastikan bahwa korban terlentang pada permukaan yang keras

c. Tentukan tempat titik penekanan pada tulang dada

Cara :

1. letakkan kedua ujung jari telunjuk di atas tulang dada korban.


2. bagi daerah tersebut menjadi dua bagian atas dan bawah dengan
menggunakan kedua ibu jari, sehingga kedua ibu jari bertemu tepat pada
titik tengah tulang dada (lihat gambar).

3. tempat penekan adalah titik tengah antara ibu jari dan telunjuk bagian
bawah.

4. lokasi penekan juga dapat diperkirakan pada pertemuan tulang dada


dengan garis yang menghubungkan kedua puting susu.

d. Tempatkan salah satu telapak tangan pada titik tekan tersebut, dengan jari

jari sejajar tulang rusuk.

35
e. Tindihkan telapak tangan yang lain di atas telapak tangan yang pertama
(seperti terlihat pada gambar ). Ibu jari dan telunjuk dapat berpegang pada
pergelangan tangan yang pertama.
f. Atur tangan tetap lurus, dan dengan gerakan yang kuat dan sepenuh tenaga
tekan daerah tersebut sampai turun 40 50 mm.

g. Lepaskan tekanan dan tekan lagi

1. sampai rata-rata 60-80 kali permenit.

2. hati-hati, harap tidak menekan tulang rusuk paling bawah. Pastikan


bahwa tekanan dilakukan pada arah tegak lurus ke bawah untuk mencapai
efek maksimal.

Pertolongan ini bergantung pula pada jumlah orang yang menanganinya, satu
atau dua orang pada uraian berikut :

Metode pertolongan satu orang :

Hal ini dikenal dengan metode 2 : 15, yang berarti penolongan secara
bergantian melakukan tindakan sebagai berikut :

a. 2 kali tiupan pada paru-paru sebagai pernafasan buatan (EAR)

b. 15 kali penekanan pada dada (ECC)

36
Rangkaian tersebut dilakukan penuh 4 kali permenit.

Metode pertolongan 2 orang

Kadang-kadang ini disebut metode perbandingan 1 : 5

a. Menekan dada 5 kali dalam satu detik


b. Hentikan satu detik dan saat berhenti, penolong kedua memberikan satu
kali tiupan udara yang ada dalam paru-paru.

Rata-rata rangkaian tersebut dilakukan 12 kali permenit. Jika pertolongan ini


berlangsung lama, penolong dapat pindah posisi untuk menghindari kelelahan.
Pertolongan harus tetap dilanjutkan sampai tenaga medis yang ahli datang dan
mengganti menangani korban, atau sampai pernafasan spontan, dan denyut
jantung pulih kembali.

Untuk memastikan apakah denyut jantung telah pulih kembali :

a. Hentikan tekanan pada jantung

b. Periksa denyut nadi

37
Tanda awal pertolongan berhasil , jika mata mulai berkonstraksi ketika
disinari, warna kulit bibir dan gusi kembali normal. Gejala tersebut adalah
tanda positif ia akan kembali normal.

Jika denyut jantung belum kembali, lanjutkan pertolongan. Jika denyut mulai
muncul, hentikan penekanan jantung, tetapi denyutnya diperiksa terus, jika
perlu EAR harus dilanjutkan sampai korban bernafas kembali.

Catatan:

Meskipun penanganan yang terlihat pada gambar hanya dari satu sisi,
penolong dapat pula berhadapan pada sisi yang berlawanan, untuk
memperoleh ruang gerak yang lebih luas.

38
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) adalah upaya pertolongan dan
perawatan sementara yang sangat penting terhadap korban kecelakaan sebelum
mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. Ini berarti
pertolongan tersebut bukan sebagai pengobatan atau penanganan yang sempurna,
tetapi hanyalah berupa pertolongan sementara yang dilakukan oleh petugas P3K
(petugas medik atau orang awam) yang pertama kali melihat korban. Pemberian
pertolongan harus secara cepat dan tepat dengan menggunakan sarana dan prasarana
yang ada di tempat kejadian. Tindakan P3K yang dilakukan dengan benar akan
mengurangi cacat atau penderitaan dan bahkan menyelamatkan korban dari kematian,
tetapi bila tindakan P3K dilakukan tidak baik malah bisa memperburuk akibat
kecelakaan bahkan menimbulkan kematian.

B. Saran

39
Melalui pembahasan diatas maka diharapkan kepada pembaca agar bisa dan
mampu melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat kerja. Sebab
pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat kerja sangat penting untuk mencegah
korban jiwa yang banyak dalam kecelakaan kerja.

40